
Lily sedang menunggu lift ketika Rani memanggilnya. Rani adalah resepsionis junior. Tadi Lily ada keperluan mengambil paket dokumen kiriman notaris yang harus dia ambil sendiri dari kurir.
"Mbak Lily, ada yang cari" Lily menoleh. Rakha nampak sedang berdiri di depan meja resepsionis.
Seharusnya Rani tidak bersikap seperti itu jika ada tamu. Sebaiknya biarkan Lily naik ke ruangannya dulu. Nanti Rani bisa menginformasikan lewat telepon ke ruangannya bahwa ada tamu. Tapi Mungkin Rani berpikir Rakha adalah teman Lily, karena beberapa bulan lalu Rani melihat Rakha pernah datang ke kantor menjemput Lily pulang kerja.
Rakha nampak terkejut melihat Lily dengan hijabnya. Lily terlihat sangat cantik. Wajahnya nampak bersinar.
"Lily?" seru Rakha seraya menatap Lily tak berkedip, membuat Lily jengah ditatap Rakha.
"Silahkan duduk, waktuku hanya lima menit. Ada meeting sebentar lagi" Lily berucap seraya mempersilakan Rakha duduk di kursi tamu di bagian timur lobby gedung.
"Kamu cantik sekali, Ly" Rakha kembali memandang Lily.
"Kamu ada keperluan apa?" tanya Lily lalu melirik jam tangannya.
"Aku mau kita bicarakan soal uang yang aku pakai, Ly" jawab Rakha
Lily menghela nafas pelan.
"Soal itu. Kita tidak perlu buang waktu untuk membicarakannya. Kamu hanya perlu membayarnya saja Rakha. Lagipula aku sudah minta tolong pengacaraku menemui kamu." sahut Lily tegas.
"Aku maunya kamu tidak perlu pakai pengacara segala. Kamu kan bisa bicara ke aku langsung, Ly" ucap Rakha
"Itukan maunya kamu. Aku maunya ya pakai pengacara. Karena aku tidak punya banyak waktu untuk bicara dengan kamu soal itu" jawab Lily. Rakha nampak kesal tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Di lobby ini banyak sekali security bertugas. Jika dia emosi dan berbuat macam-macam, bisa-bisa dilempar keluar.
"Aku harus meeting sekarang, Rakha. Jika ada hal lainnya bisa langsung chat di whatsapp ke nomor pengacaraku ya" Ucap Lily seraya memanggil salah satu petugas keamanan.
"Bapak ini mau pulang. Tolong diantar menuju pintu keluar, Terimakasih" Lily bergegas menuju lift tanpa menoleh lagi ke arah Rakha yang sudah dipersilakan menuju pintu keluar lobby oleh petugas keamanan.
Rakha nampak geram, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu pergi keluar dari lobby gedung dengan perasaan penuh kemarahan.
Sementara Lily yang sudah sampai di ruangannya terduduk dengan perasaan campur aduk. Berusaha menenangkan diri sebelum masuk ke ruangan meeting. Meeting nanti mengenai pengunduran Lily dan serah terima tugas ke Mba Astri, pengganti Lily.
***
Meeting berjalan lancar. Lily secara resmi sudah tidak bekerja lagi di PT. Raja Bumi. Suasana haru meliputi acara perpisahan itu. Para senior yang selalu bersikap baik kepada Lily menyayangkan keputusan Lily berhenti disaat karir Lily sedang bagus di perusahaan. Karena sulit menjadi orang kepercayaan Pak Bram. Menurut mereka selama ini pak Bram tidak pernah mau memiliki sekretaris. Namun sejak Lily masuk ke PT Raja Bumi sebagai internal Auditor, Pak Bram justru meminta Lily bekerja langsung di bawah kepemimpinannya sebagai sekretaris. Agak aneh memang tugasnya. Tapi permintaan Pak Bram disetujui oleh Direktur Utama Bapak Raja Budi Hasmi.
__ADS_1
Pak Bram sering mengajak Lily pergi meeting dengan rekan bisnis perusahaan. Lily diperlakukan seperti anak sendiri oleh pak Bram. Bahkan Ibu Yosi istri Pak Bram pun begitu, seringkali menitipkan oleh-oleh jika pulang dari perjalanan ke luar kota atau luar negeri.
Seisi kantor tidak ada yang berpikiran negatif terhadap Lily. Karena Lily gadis yang dengan penampilan sangat sopan dan sederhana. Setiap yang melihatnya merasa sayang dan menganggapnya gadis manis nan baik hati. Tak heran jika seluruh karyawan PT. Raja Bumi kenal dengan Lily. Gadis muda dengan karir dan posisi sangat bagus di perusahaan, ramah dan kenal dengan semua karyawan, mulai dari petugas keamanan, staff hingga komisaris.
Lily sedang menunggu taksi online. Hari ini Teh Yuni tidak bisa jemput karena tadi saat mau jemput Lily mobilnya mogok dan harus dibawa ke bengkel.
Karena jarak hanya dekat saja ke apartemen Shapire, Lily merasa tidak masalah naik taksi online. Ran menelepon. Lily memakai bluetooth handsfree di telinga di dalam kerudungnya.
"Hati-hati ya, Ly. Jangan matikan teleponnya selama kamu di dalam perjalanan ya"ucap Ran.
"Iya, Kak Ran"ucap Lily
"sebentar aku ke toilet ya. Tidak usah matikan" Ran berpesan
"Iya, Kak. ini taksi online sudah datang. Lily jalan ya Kak" ucap Lily segera masuk ke dalam mobil taksi online yang sudah tiba di depan lobby kantor.
"Apartemen Saphire sesuai aplikasi ya Pak" Lily duduk di kursi tengah.
"Baik, Bu" Suara pengemudi agak terbatuk. Dia memakai sweater tebal dan wajahnya memakai masker.
Syukurlah pengemudi memakai masker jadi meskipun sedang kurang sehat dan batuk, tidak terlalu khawatir menularkan. Gumam Lily dalan hati.
"Bapak salah jalur. Kita seharusnya tidak masuk toll. Apartemennya sudah terlewat pak, di luar jalur toll" ucap Lily sedikit khawatir.
"Kenapa, Ly? sopirnya masuk jalan toll? minta ke pintu keluar saja lalu putar balik lagi lewat jalur bawah" Kak Ran kembali terdengar di ujung telepon.
Belum sempat Lily menjawab ucapan Ran, pengemudi taksi online melihat Lily dari kaca spion depan. Lily terkesiap.
"Kamuuu...Rakhaaa???" pekik Lily. Ran yang mendengar di sana terkejut.
"Ternyataaa kamu pindah ke apartemen ya, Ly? pantas saja setiap hari kutungguin di dekat rumah kosmu, kamu tidak pernah terlihat lagi." ucap Rakha, sangat menyeramkan bagi Lily.
"Rakha, sekarang keluar pintu tol terdekat. Tolong jangan berbuat yang aneh-aneh" ucap Lily berusaha tidak terlihat panik. Padahal hatinya sangat ketakutan.
"Lily, share lokasi kamu. Kirimkan ke Angga dan Rico. Aku yang akan hubungi mereka dan jelaskan di ponsel satu lagi. Tetap berusaha tenang ya, Ly. aku sayang kamu, Ly" Ran memberi pesan pada Lily.
"Apa yang kamu mau, Rakha?" tanya Lily. Masih berpikir untuk mencari cara bagaimana bisa keluar dari mobil. Dia tidak mungkin melompat keluar karena mobil sedang berada di jalur toll dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Aku hanya mau kamu tandatangani surat pernyataan bahwa hutangku senilai satu milyar lebih ini sudah lunas, Ly. Dan suruh pengacaramu berhenti mencariku" Rakha berteriak. Lily merinding.
"Hanya itu? baik aku tandatangani. Aku akan anggap hutang kamu lunas. Tapi tolong keluar dari jalur toll dan hentikan kendaraan ini" Lily melihat sekeliling. Dia sudah berada di jalur menuju bogor.
"Iya, aku hanya ingin kamu tandatangani surat ini. Tidak ada yang lain" Rakha melemparkan sebuah amplop ke arah Lily duduk.
Tangan Lily gemetar. Dia sudah sangat ketakutan.
"Kamu pikir aku serius meminta kamu menungguku bercerai? tidak, Ly. Aku hanya masih perlu kamu dan uang kamu yang banyak itu" Teriak Rangga lagi seraya tertawa.
"Kamu pikir aku sesuka itu sama kamu? Aku tidak tertarik dengan kamu, Ly. Selama ini aku hanya berpura-pura, karena kamu punya jabatan di tempat kamu kerja, berharap aku bisa bekerja di kantormu. Juga karena kamu punya banyak uang. Hanya itu" Kata-kata Rakha membuat Lily semakin gemetar.
"Darimana kamu tahu aku punya uang?" Tanya Lily memberanikan diri.
"Ini...aku melihat rekening koranmu yang terjatuh di mobilku" Rakha mengambil sebuah amplop dari dalam tas yang ada di kursi sebelahnya. Lalu melemparkan amplop itu ke arah Lily. Lily terkejut. Itu adalah rekening koran dua tahun lalu yang sempat hilang. Lily waktu itu sempat bertanya perihal amplop itu kepada Rakha. Tapi Rakha mengatakan tidak melihatnya.
"Jadi hanya karena uang kamu dekati aku ?" tanya Lily merasa jijik kepada Rakha.
"Memang ada hal lain yang menarik dari kamu selain uang kamu?" Rakha kembali tertawa.
"Kamu tidak sedikitpun membuatku tertarik Ly. Kamu terlalu biasa. Aku rasa lelaki yang sedang dekat dengan kamu juga hanya berniat memanfaatkan kamu saja" Rakha melirik Lily yang hanya terdiam di kursinya. Dia hanya ingin membuat Lily takut dan sedih. Padahal dalam hatinya dia sangat terpesona dengan Lily yang sekarang.
"Penampilan dan cara berpakaian kamu tidak bisa membuatku bangga di depan teman-temanku saat pergi ke club" ucap Rakha lagi. Dia ingin terus membuat Lily merasa malu. Karena Lily sudah jelas menolaknya. Dan memilih laki-laki lain.
"Apalagi sekarang kamu berhijab. Walaupun kuakui kamu sekarang nampak lebih cantik. Tapi tetap saja jauh dari seleraku" Rakha melanjutkan mengeluarkan kata-kata yang tidak baik didengar di telinga.
"Ly, kamu jangan dengarkan dia. Buatku kamu yang tercantik dan terbaik. Aku selalu sayang kamu" ucap Ran mencoba membuat Lily tenang. Walaupun dirinya sudah sangat gusar atas kata-kata Rakha ke Lily.
"Kamu tunggu Rico menyusul kamu"Ran lanjut berbicara di telepon. Rakha tidak menyadari bahwa Lily sedang terhubung dengan Ran. Dan kali ini bergabung dengan sambungan telepon group bersama Angga dan Rico.
Angga, Ran dan Rico emosi mendengar kata-kata Rakha yang menghina Lily. Namun mereka berusaha tenang agar Lily tidak semakin sedih dan panik.
"Cepat tandatangan, Ly. Nanti aku akan turunkan kamu"Rakha berteriak lagi membuat Lily terlonjak.
Lily melihat jalanan di sekitar. keadaan sudah gelap. Lily harus benar-benar fokus memperhatikan posisi dirinya sekarang ada dimana.
"Orangku sedang mencoba mengejar mobil yang kamu tumpangi, Ly" Rico berucap. "Aku juga sedang berusaha menyusul kebetulan aku sedang di Jakarta" Ucap Rico.
__ADS_1
"Lily tetap sadar ya, Kuat ya Ly. Kaka juga menuju ke sana sekarang" Angga berucap sambil menahan airmatanya tidak tumpah. Dia sangat panik. Tidak mau terjadi sesuatu hal yang menakutkan terjadi pada adik kesayangannya.
***