Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
25. Di Rumah Sakit


__ADS_3

Lily masih terbaring di IGD, dengan infus dan selang oksigen terpasang. Rico menemaninya di kursi di sebelah Lily. Tadi dia sudah menghubungi Angga dan Ran. Angga segera menyusul, jaraknya sudah lumayan dekat. Ran sepertinya akan mempercepat kepulangannya ke Indonesia. Perjalanan bisnisnya akan digantikan oleh Papanya.


Papanya Lily belum diberitahu mengenai Lily. Angga khawatir Papanya akan kaget yang berpengaruh ke kesehatannya. Teh Yuni yang sedari sore menunggu Lily dan chatnya tidak dibaca Lily merasa khawatir. Setelah Angga meneleponnya dan mengabarinya untuk segera ke Bandung menjaga Lily di rumahsakit, dia sangat merasa bersalah atas kejadian itu. Gara-gara mobil mogok, dia tidak bisa jemput Lily.


"Kamu apakan gadis itu? Dia pingsan karena stress dan menahan rasa sakit di perutnya"Rachel bertanya di luar ruangan IGD kepada Rico. Rachel sudah selesai jam tugasnya, dia sudah berganti pakaian. Dia di sana menemani Rico menunggu Lily sadar. Rico menceritakan kejadiannya.


"Jahat sekali mantan kekasihnya" gumam Rachel prihatin.


"Tapi kenapa dia kesakitan di perutnya?" Rico sudah berpikiran tidak-tidak kepada Rakha.


"Lambungnya bermasalah. Sepertinya dia memang ada riwayat sakit di lambungnya. Mungkin perutnya juga kosong. Ditambah rasa ketakutan dan stress akhirnya dia pingsan" Rachel menjelaskan secara umum.


"Aaaahh..i see"Rico mencoba mengerti walaupun sebenarnya tidak. Dia merasa tidak enak hati saja jika Rachel nanti menjelaskan panjang lebar tentang kondisi Lily yang kemungkinan menderita penyakit lain kepadanya. Itu bukan ranahnya.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Rico


"Dia hanya perlu istirahat cukup dan suasana tenang. Kemungkinan besok dia sudah segar kembali" jawab Rachel.


"Bukankah dia gadis yang fotonya ada meja kerjamu di kantor? Tapi sekarang dia berkerudung?"Rachel memandang Rico penuh tanya. Rico mengangguk.


"Laki-laki playboy seperti kamu ternyata cintanya berlabuh pada gadis shalihah. Rejeki banget buatmu" gumam Rachel sekenanya.


"Calon istrimu kah?" tanya Rachel


"Ssstt...jangan berisik" Rico meletakan telunjuknya di bibirnya menyuruh Rachel diam.


"Dia bulan depan akan menikah dengan orang lain"ucap Rico


"Iish kamu yaaa...calon istri orang kamu sukai?" Rachel melotot


"Aku suka dia sejak lama. Sebelum dia punya calon suami" Rico membela diri.


"Aaah Cinta tak sampai" Rachel terkekeh


"Terserah kamu bilang apa" Sahut Rico bersandar dipunggung kursi.


Dia baru ingat dia memajang foto Lily di meja kerjanya di kantor. Sewaktu Rachel mampir ke kantornya beberapa bulan lalu mungkin sempat melihatnya. Dia letakkan menghadap ke arahnya duduk. Jadi sebenarnya tamu yang datang tidak bisa melihat foto tersebut. Kecuali tamunya adalah Rachel yang selalu selonong saja masuk dan duduk di kursi Rico seenaknya.

__ADS_1


"Dia adik temanku, Angga." ucap Rico lagi.


"Oooh Angga yang tampan dan berkharisma itu ya?" Rachel antusias. Rico menscroll bola matanya.


"Teman SMU mu yang ketua OSIS kan. Sering main ke rumah kakek"


"iyaaaa...iyaaa..betuul" ucap Rico


"Yang pernah menampungmu di rumahnya dan menolongmu waktu kamu sengsara dan dicuekin Papimu?" tanya Rachel lagi. Rico menghela nafas . Sepupunya ini memang kalau bicara tidak memakai filter. Tapi apa yang dikatakan Rachel memang benar.


"Dia tampan sekali, Co. Sumpah deh belum pernah aku bertemu laki-laki se-berkharisma dia di circle kita" Rico melihat sekeliling. Rachel seorang dokter di sini, Jangan sampai keluar kelakuan pecicilannya di sini. Rachel menyadari itu. Lalu duduk dengan manis di samping Rico.


"Iya, tapi dia sudah menikah sekarang. Istrinya sedang hamil" Ucapan Rico membuat Rachel bengong. Rico puas melihatnya.


"Serius dia sudah menikah?"Rachel nampak tak bersemangat lagi. Rico mengangguk.


"Cinta tak sampai, ya?" ucap Rico.


Rachel memukul Rico. Lalu keduanya tertawa. Rachel memang menyukai Angga sejak mereka masih SMU. Rico sering mengajaknya main ke rumah Kakek, Rachel sering bertemu di sana.


***


"Yang kuat ya, Ly."Angga mengelus kepala Lily. Lily tersenyum.


"Papa bagaimana ka?" tanya Lily.


"Kakak akan beritahu Papa besok. Tunggu keadaan kamu membaik dulu. Supaya pada saat Papa lihat kamu sudah dalam keadaan baik. Mencegah Papa shock" jawab Angga. Lily mengangguk.


Rico dan Rachel masuk menemui Angga dan Lily. Mereka berbincang. Rachel nampak tak mampu menghindari pesona Angga. Rico yang menyadari itu hanya bisa memaklumi saja. Bagaimana pun Angga memang sangat berkharisma. Wajah tampan dengan kearifan lokal. Badan tegap tinggi, kulit kuning cenderung putih dengan sikap dan pembawaan yang tenang namun tegas.


"Lily harus minum obat dan habiskan makanan yang sudah disediakan di sini, ya. Supaya lekas pulih" Kata Rachel ke Lily.


"Baik, Kak Rachel" jawab Lily.


"Lily sekarang merasa perut Lily sangat sakit tidak bisa digerakkan rasanya"ucap Lily.


"Setelah minum pereda sakit ini, nanti sakitnya berkurang. Besok ada dokter penyakit dalam yang memeriksamu, Ly. Kemungkinan lambungmu memang bermasalah" sahut Rachel.

__ADS_1


Lily mengangguk.


Rachel dan Rico keluar ruangan. Rico mengurus administrasi untuk mendapatkan kamar perawatan untuk Lily.


"Lily malu dan sedih Kak. Tadi Rakha menghinaku. Katanya tidak ada yang menarik dari Lily kecuali uangku"Lily tertunduk .


"Itu kan pendapat orang yang tidak waras, Ly" Angga menahan rasa geramnya, dia juga mendengar hinaan Rakha ke Lily.


"Kamu cantik, kamu baik, kamu pintar. Buktinya selain Ran, ada kan laki-laki yang mencintai kamu sejak lama walaupun tidak pernah mengatakannya ke kamu?"Angga menatap Lily seraya tersenyum. Lily mengangguk. Mengerti siapa orang yang dimaksud Angga.


"Kamu tahu kan berapa banyak perempuan yang pernah dekat dengan dia? Tapi hatinya jatuh padamu, Ly. Menurut dia, kamu sangat cantik"


"Kamu lihat calon suamimu. Seperti apa Ran? Tampan dan sangat lebih dari berkecukupan soal materi. Dia sangat sayang ķe kamu dengan tulus. Kalau menurut Rakha, Ran hanya akan memanfaatkanmu, untuk apa? Ran punya semuanya." ucap Angga.


"Sudah ya, kamu jangan ingat kata-kata dia yang tidak benar itu. Dia hanya ingin menyakitimu saja"


"Bersyukur kamu selamat dan sudah terlepas dari dia"Angga mengusap tangan Lily dengan sayang.


"Iya, Kak" jawab Lily pelan..


"Sekarang kamu minum obat lalu istirahat. Supaya kamu lekas pulih" Angga menyodorkan 4 butir obat dan segelas air ke Lily. Lily meminumnya.


"sebentar lagi pindah ke kamar perawatan. Aku sudah urus semuanya" Rico muncul lalu berdiri di sebelah Angga. Rachel juga.


"Terimakasih, Bang Rico. Sudah banyak menolong Lily" ucap Lily menatap Rico dengan tatapan lembutnya. Rico gelagapan.


"Sama-sama, Ly. Kamu kan adikku. sudah semestinya menolongmu" jawab Rico yang ditatap Rachel dengan senyum yang entah apa artinya.


Sesaat kemudian, Lily dipindahkan ke kamar perawatan. Angga dan Rico berjalan berdampingan.


"Terimakasih, Co. Kamu sudah bergerak cepat tadi menolong Lily" ucap Angga.


"Sama-sama. Aku senang bisa ada untuk Lily"sahut Rico seketika dirangkul pundaknya oleh Angga.


Rachel yang berjalan di belakang mereka menatap kedua laki-laki itu bergantian. Seandainya saja di dunia ini ada laki-laki yang sayang kepadanya seperti mereka sayang ke Lily. Dia juga seperti melihat sisi lain dari Rico.


***

__ADS_1


__ADS_2