
Lily duduk dihadapan Ran. Mereka baru saja melaksanakan shalat shubuh dan mengaji. Lalu bersiap untuk sarapan. Makanan sudah diantar ke kamar oleh layanan hotel.
Mama Hana menelepon Lily, bertanya apakah sudah bangun atau belum. Karena mama mau mampir ke kamar, khawatir mengganggu.
Ternyata Mama menelepon di depan pintu kamar mereka.
"Alhamdulillah kalau kalian tidak bablas tidur sampai siang. Biasanya kan pengantin baru jika setelah resepsi merasa kecapekan jadi enggan bangun pagi" ucap Mama begitu masuk dan melihat Lily masih mengenakan mukena dan Ran masih memakai sarung dan peci. Ran tertawa
"Aku tahu, Mama mau ngecek ya?"tanya Ran. Lily tersenyum malu.
"Kami tetap bangun shubuh Ma. Tenang saja" lanjut Ran.
Mama tertawa pelan. Karena Ran bisa menebak tujuannya.
"O iya. Ini sprei mau mama bawa pulang ya. Karena ini mama bawa dari rumah. Mama belikan khusus untuk kalian. Kemarin Mama meminta ke pihak WO dan hotel untuk dipasangkan" Mama menyibakkan selimut di atas tempat tidur. Ada bercak di atas sprei. Lily menutup wajahnya karena malu. Lalu Lily bersembunyi di balik punggung Ran. Sedangkan Mama tersenyum bahagia. Ran hanya tertawa kecil melihat ekspresi mama dan Lily. Dia juga tidak menyangka jika mama sampai merencanakan soal sprei ini.
Lily tidak menyadari jika ada bercak di atas sprei. karena tadi sebelum mandi, Lily langsung menutup tempat tidur dengan selimut saja. Supaya tidak kesiangan untuk shalat.
__ADS_1
"Mama angkat ya spreinya. Khawatir nanti diangkut petugas hotel" Mama melepaskan sprei dengan senyum yang masih mengembang.
Lily segera membantu. Walaupun wajahnya masih memerah karena malu. "Biar Lily yang cuci nanti,Ma. Jangan merepotkan Mama" ucap Lily mencoba meraih sprei di pegangan Mama.
"Mama tidak repot. Justru Mama senang. Nanti kalau sudah bersih dan wangi, spreinya mama kasih ke kalian"ucap Mama dengan wajah bahagia. Wajah Lily kembali merona.
Ran tergelak melihat tingkah Mama dan istrinya yang rebutan sprei.
"Terimakasih ya, sayang. Semoga kalian segera diberikan momongan dan mama punya cucu" Mama memeluk Lily. Lily memejamkan matanya. Menikmati hangatnya pelukan mama Hana. Mamanya pasti bahagia di 'sana' melihat kebahagiaan Lily saat ini.
"Aamiin" Ran dan Lily mengaminkan bersamaan.
"Jangan bergosip soal sprei kami ya, Ma" ucap Ran seraya tertawa. Lily mencubit pinggang Ran. Mama tertawa melihat anak-anaknya.
Mama Hana mengecup pipi Lily dan Ran. Lalu bergegas keluar kamar.
"Jangan malu. Justru itu membuat Mama senang"Ucap Ran memeluk Lily.
__ADS_1
Lily membenamkan wajahnya di dada Ran. Ran tergelak. Lalu mengelus rambut Lily dengan penuh rasa sayang.
"Sebaiknya kita sarapan dulu. Kalau dilanjutkan, bisa-bisa kita tidak ingat makan" ucap Ran.
"Kak Ran yang mulai" gumam Lily.
" iya Maaf, sayaaang. " ucap Ran seraya mengajak Lily duduk untuk sarapan.
"Ternyata begini ya menikah. Sangat bahagia." Ran menatap Lily.
"Aah, ayo kita makan. Aku takut tidak bisa menahan diri jika terus memandang kamu. Jadi harus dialihkan dengan makanan" Ran berbicara menahan pandangannya dari Lily.
Lily hanya tersenyum. Dia sendiri merasaka letih dan lapar.
Lily mengambilkan sandwich roti gandum ikan tuna dan segelas susu hangat untuk Ran dan juga dirinya. Serta beberapa buah berry di mangkuk.
Mereka makan tanpa bicara. Hanya sesekali Ran menyuapi potongan buah berry ke mulut Lily. Lily membantu menyeka sisa susu dipinggiran bibir Ran. Keduanya menikmati sarapan pertama mereka sebagai suami istri.
__ADS_1
***