
"Kau sepertinya sangat tertekan dengan masalahmu, Rakha" Jamie lihat Rakha yang nampak salah tingkah sejak tadi.
"Masalah bisnismu yang sepi? atau masalahmu dengan Dina?"tanya Jamie.
"Semuanya, Jam" sahut Rakha mengusap wajahnya dengan gelisah. Sesekali dia melirik Lily dan Ran yang tengah asik berbincang.
"Usahaku sepi. Hampir tidak ada pemasukan" Rakha meneguk air putih.
"Berbisnis memang harus siap dengan resiko itu. Makanya kalau kita tidak punya kesiapan secara modal dan mental yang mumpuni. Lebih baik jangan deh" kata Jamie.
"Ini sih pengalaman pribadiku. Aku tidak bisa meneruskan usaha orangtuaku, karena aku tidak mampu mengelola. Makanya aku membiarkan adikku yang meneruskan bisnis keluarga. Aku lebih memilih bekerja sebagai profesional saja"
"Lalu rencanamu apa sekarang? Kalau kau minta bantuan modal dariku. Terus terang aku tidak bisa bantu. Aku tidak mau ambil resiko juga" Jamie menatap Rakha.
Sementara itu, Lily dan Ran bersiap pergi. Mereka sudah menyelesaikan makan malamnya.
"Kami pulang duluan, Jamie" ucap Ran kepada Jamie.
Jamie berdiri "Oke, pak Ran...bu Lily. Hati-hati di jalan" sahut Jamie.
Ran dan Lily segera pergi keluar kafe menuju mobil mereka.
Rakha hanya diam mematung di kursinya. Ran dan Lily bersikap seolah tidak mengenalnya. Mereka mengabaikannya. Dia tadi mengira Ran atau Lily akan mempermalukannya. Ternyata tidak. Atau mungkin Ran tidak terlalu mengenalinya, karena mereka hanya pernah bertemu dua kali. Itupun dalam waktu yang sebentar.
Sepertinya Lily juga tidak bercerita mengenai kejadian waktu dia membawa lari Lily dan memaksanya tandatangan surat lunas. Lily memang terlalu baik, sangat mudah dimanfaatkan. Dia mungkin melupakan kejadian itu dan merahasiakannya dari suaminya. Rakha merasa tenang dan senang. Dia sekarang berpikir untuk meminta pertolongan kepada Jamie.
"Aku harus bekerja, Jam. Kalau kau ada lowongan kerja, ajaklah aku" pinta Rakha.
__ADS_1
"Nanti kucoba pastikan dulu. Sepertinya memang kantor kami ada beberapa posisi yang masih kosong" Jamie mencoba mengingat.
"Besoklah kukabari. Harus kupastikan dengan HRD kantor" lanjut Jamie.
Rakha merasa gembira. Dia tahu bahwa Jamie adalah anak buah dari suaminya Lily. Tapi seorang direktur pasti tidak akan ikut mengurusi penerimaan karyawan di level staff biasa.
***
"Kita biarkan saja dulu dia. Jangan diberi perhatian. Yang pasti aku tidak akan diam saja atas perbuatannya selama ini kepada kamu" kata Ran saat mereka sudah sampai di apartemen.
"Lily tidak habis pikir. Kenapa Rakha seperti tidak punya rasa bersalah sedikitpun? Apakah dia tidak merasa kalau tindakan dia ke Lily sangat merugikan?" gumam Lily.
Ran menghela nafas. "Karena dia egois dan serakah, Ly. Mau punya uang banyak, tapi memanfaatkan kebaikan dan kelemahan orang lain. Tidak mau bekerja keras" sahut Ran.
"Kita boleh bercita-cita menjadi sukses. Tapi harus dengan cara yang baik. Sesuaikan dengan kemampuan kita"
"Alhamdulillah. Saat kita terlahir ke dunia, orangtua kita mampu memberikan materi yang sangat cukup. Tapi bukan berarti kita dibiarkan untuk berhura-hura juga oleh orangtua. Aku misalkan. Papa dan Mama selalu mengajariku disiplin. Sekolah dari pagi sampai sore. Les ini dan itu. Malam selepas isya belajar mengaji sampai jam delapan. Hari libur, aku belajar ilmu agama. Mama dan Papa mendatangkan ustadz ke rumah" ucap Ran.
"Mama misalkan, selalu menyuruhku membereskan kamarku sendiri. Meskipun di rumah ada asisten rumah tangga"
"Mama dan Papa pun selalu mengajarkan untuk berbelanja atau membeli sesuatu itu sesuai kebutuhan. Bukan karena kita suka walaupun tidak membutuhkan lantas dibeli."
"Jika ingin membeli suatu barang. Papa akan menyuruhku membantunya contohnya membereskan perpustakaan di ruangan kerja Papa. Membersihkan semua buku dari debu, dan menata ulang semua buku dengan rapi. Setelah pekerjaanku selesai, barulah aku akan mendapatkan apa yang kumau"
"Meskipun Papa dan mama mampu membelikan semua barang yang aku mau, tapi mereka selalu mengajarkan bahwa sesuatu tidak akan bisa didapatkan jika tanpa ada usaha"
"Karena suatu saat aku akan jadi penerus bisnis Papa dan Mama. Kalau aku tidak dididik untuk bekerja keras, bertanggung jawab dan disiplin sejak kecil, maka aku bisa saja menghancurkan bisnis yang sudah mereka rintis bertahun-tahun dalam waktu sekejap"
__ADS_1
"Sewaktu kuliah di Inggris, teman-teman kuliahku banyak yang jauh lebih kaya dariku. Tapi aku tidak pernah sekalipun berpikir bahwa aku harus selalu sama dengan mereka. Misalkan apa yang mereka punya, akupun harus punya. Tidak pernah sekalipun terbersit dalam pikiranku seperti itu. Intinya bersyukur dengan apa yang kita miliki, menjaganya dengan baik dan tidak sombong" Ran berhenti bicara. Dia meminum susu hangatnya.
Dia menatap Lily.
"Aku rasa, Papa dan Mamamu juga mendidikmu sama seperti Mama dan Papaku mendidikku" ucap Ran.
Lily mengangguk.
"Betul. Aku sebagai anak perempuan, sejak kecil sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah. Meskipun ada Bu Lim dan Bik Ijah. Tapi Mama mengajarkanku memasak, mencuci piring, menyapu, mengepel sampai menyetrika. Meskipun sudah ada penanak nasi listrik, Mama mengajarkanku cara memasak menggunakan dandang"
"Sekali-kali Mama mengajakku memasak makanan kesukaan kami. Atau mengajakku merapikan pot-pot bunga" Lily mengenang kebersamaannya dengan mendiang Mama. Rasanya kangen sekali pada Mama.
"Maaf ya, sayang. Tidak bermaksud membuatmu sedih" Ran merengkuh kepala Lily ke dadanya. Dia bisa melihat rasa sedih di mata istrinya.
Lily hanya diam. Dia membenamkan kepalanya ke dada Ran dan menemukan rasa tenang disana. Ran mengusap kepalanya dengan lembut. Tidak lama Lily terlelap.
Ran memindahkan Lily ke kamar dan meletakkannya di tempat tidur lalu menyelimutinya. Lily sangat pulas. Dia nampak lelah. Mungkin seharian ikut kegiatan Ran ke beberapa tempat. Hari ini memang jadwal kegiatan lumayan padat.
Ran menuju meja kerjanya meraih ponselnya.
"Jamie, besok pagi meeting dengan saya jam sembilan pagi" Ran mengirimkan pesan kepada Jamie.
Lalu dia membuka laptopnya. Dia memeriksa beberapa laporan dari anak buahnya mengenai outlet keagenan JNI yang dia buka tidak jauh dari outlet milik Rakha. Dia membuka outlet dengan bangunan yang luas dan nyaman untuk pelanggan. Dia juga memberikan reward kepada para pelanggan setianya. Itulah yang membuat outlet JNI milik Rakha menjadi sepi. Karena kalah bersaing dengan outlet milik Ran.
Dia juga membuka usaha penjualan suku cadang kendaraan bermotor di kawasan yang sama dengan toko suku cadang milik Rakha. Harga jual di tokonya sangat bagus karena dibawah harga jual di toko Rakha. Dan dia juga memiliki beberapa staf pemasaran yang handal.
"Dia sudah memperlakukan Lily dengan tidak baik bahkan menculik dan memerasnya. Ini belum seberapa dibanding yang dia lakukan dan kata-kata penghinaannya kepada Lily" gumam Ran seraya menutup laptopnya. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dan menghina istrinya. Ditatapnya Lily yang tertidur pulas, wanita berhati baik, cantik dan lembut itu adalah istrinya. Akan dia jaga selamanya.
__ADS_1
***