Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
45. Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Dua orang wanita berpakaian minim baru saja keluar dari salon kecantikan di sebuah mall. Penampilan mereka sangat cetar membahana.


"Sejak kamu tinggal di surabaya, aku tidak ada teman ke salon lagi. Aku juga malas datang ke Blue Planet jika tidak ada kamu" Dina merapikan rambutnya dengan jemari ketika dia melihat di dinding kaca rambutnya nampak kurang rapi.


"Aku juga sebenarnya lebih suka di Jakarta. Di Surabaya aku tidak punya teman seasik kamu. Makanya ini aku ajukan pindah tugas lagi. Semoga saja bisa" Angel sesekali melihat wajahnya di layar ponsel. Dia memastikan bulu matanya aman. Karena dia baru saja melakukan sambung bulu mata atau eyelash extension.


Mereka masuk ke dalam kafe Ex****so.


Saat di meja kasir hendak memesan minuman, Dina dan Angel terperangah melihat Lily dan Wini.


"Heemmmmhhh...rupanya ada wanita muda yang kaya sedang pesan minuman di sini" Dina berdiri di samping Lily. Dia menatap Lily dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Lily menoleh sebentar. Lalu kembali berbicara dengan kasir yang sedang membacakan pesanannya.


"Hei..dengar ya. Gara-gara kamu, Rakha pergi meninggalkan aku" Dina melotot ke arah Lily.


"Kamu pasti tahu dia dimana sekarang" Dina mengintimidasi Lily.


Namun Lily tidak menggubrisnya. Sangat tidak tahu malu bersikap seperti itu, pikir Lily. Kalau dia meladeni, berarti dia sama saja tidak tahu malu seperti perempuan itu.


"Dina, kamu apa-apaan, sih. Jangan memalukan seperti ini" Angel berucap. Sementara Angel menyuruh Dina diam, dia juga menatap Wini tidak suka. Tapi dia tidak berani bikin ulah, jaminannya karirnya di hotel Hoover bisa hancur mengingat calon suami Wini adalah bossnya dan Dina.


"Dina, lihat ada pak Rico di sana..sudah hentikan" Angel mencoba menarik Dina. Tapi Dina malah menepisnya.


"Sudah punya suami masih saja ganggu suami orang" hardik Dina kesal karena Lily mengabaikannya sejak tadi. Dia melayangkan tangannya ke wajah Lily. Namun Lily dengan sigap mencekal pergelangan tangan Dina.


"Tolong jaga sikap dan bicaranya, mba. Kalau seperti ini justru mba terlihat tidak tahu malu. Tuduhan yang mba lontarkan ke saya, bisa saya tuntut sebagai pencemaran nama baik. Jadi berhenti bersikap seperti ini" Lily melepaskan cekalan tangannya dari tangan Dina. Dina meringis. Dia tidak menduga kalau perempuan imut-imut itu punya tenaga kuat.


Ran bergegas menghampiri ketika terdengar kegaduhan di meja kasir. Begitu dia melihat ada Dina di sana, Ran khawatir wanita itu akan menyakiti Lily. Tapi ternyata dia justru terpukau menyaksikan cara Lily menangani Dina dengan sikap yang tenang. Dan cara Lily menangkap tangan Dina hingga memelintirnya membuat Ran kagum. Rico menyaksikan semuanya seraya tersenyum senang dengan cara Lily menghadapi Dina.


Jamie juga terkejut melihat Angel ada di sana. Setelah hampir dua minggu wanita itu menghilang, akhirnya bertemu di sini.


"Dina, stop. Kita pergi saja dari sini" Angel berbisik begitu melihat Ran dan Jamie menghampiri mereka. Juga Rico yang masih duduk di kursinya tetap mengamati dengan seksama. Namun Dina tidak mendengarkannya. Dia sudah terbakar rasa marah melihat Lily. Dia tidak melihat ada Ran di belakangnya.


Jamie menarik tangan Angel lalu membawanya duduk di salah satu meja kosong.


Meskipun Angel sebal kepada Jamie, tapi itu lebih aman dibandingkan harus berhadapan dengan bossnya.

__ADS_1


"Ada apa sayang?" Ran menghampiri Lily. Dina terperangah kaget melihat kedatangan Ran.


"Dia mencari suaminya. Katanya gara-gara aku suaminya meninggalkan dia" jawab Lily dengan tenang.


"Sebaiknya anda menjauh dari istri saya. Atau anda akan malu sendiri" ucap Ran pelan namun penuh penekanan. Lalu menggandeng Lily meninggalkan Dina.


Seketika Angel berlari meninggalkan Jamie lalu menarik tangan Dina keluar dari kafe.


"Aku tidak tahu kalau dia bersama suaminya" umpat Dina.


"Yang lebih parah, ada boss kita di sana" sahut Angel masih bergegas menarik tangan Dina. Dina menghentikan langkahnya.


"Maksudmu apa? siapa boss kita?" tanya Dina


"Tadi ada pak Rico Hoover juga bersama mereka. Dan kamu tahu, kalau bu Lily yang kamu maki-maki tadi adalah adiknya pak Rico Hoover" ucap Angel kesal. Terus terang dia juga tadi malu dengan sikap Dina yang urakan.


"Rico Hoover tadi ada di sana? kenapa kamu tidak memberitahuku?" Dina menatap kesal pada Angel.


"Cih, kamu saja yang tidak mau mendengarkan aku tadi. Kamu sibuk marah, sangat memalukan" Angel berdecak seraya menggelengkan kepalanya.


"Kamu menuduh orang sembarangan. Bukan aku merendahkan Rakha. Tapi Rakha itu tidak ada seujung kukunya suami bu Lily. Mana mungkin dia mau dengan Rakha. Mungkin suamimu saja yang memang tergila-gila padanya"


"Rakha memang pergi meninggalkan aku gara-gara dia tidak terima Lily menikah dengan Ran Curtis. Dia mengatakan aku tidak sebaik Lily"


"Itu Rakha saja yang memang suka dengan Bu Lily. Bu Lily tidak mungkin suka dengan Rakha" Anggel menggelengkan kepala tidak faham dengan kelakuan Dina.


"Tapi Bagaimana bisa, Lily adalah adik dari Rico Hoover?" Dina bergumam.


"Mungkin sepupu. Menurut Jamie begitu, bu Lily adalah adik pak Rico. Jamie teman SMAnya Pak Rico dulu" Sahut Angel.


"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" Dina mulai ketakutan. Dia membayangkan karirnya di hotel Hoover akan terpengaruh. Padahal baru saja dua bulan ini dia bekerja di sana. Itupun karena Angel yang menolongnya bisa bekerja di sana.


"Mungkin kamu harus meminta maaf kepada bu Lily. Semoga saja pak Rico bermurah hati" sahut Angel.


Sekarang Angel terpikir tentang Jamie. Ternyata dia ada di sini. Berarti dia sudah kembali tinggal di Jakarta. Entah sementara atau seterusnya. Angel pikir Jamie masih di Surabaya. Dan sepertinya sekarang Jamie berhubungan baik dengan Wini dan pak Rico. Karena tadi ternyata mereka duduk bersama di kafe.


Mereka sudah duduk di dalam taksi menuju apartemen yang disewa selama beberapa hari oleh Angel. Dia sedang cuti selama 4 hari. Dia juga sedang menunggu pengajuan perpindahan tugas ke Jakarta atau sekitarnya disetujui oleh kantor.

__ADS_1


Sedangkan Dina, dia memang sedang libur hari ini.


Keduanya terdiam dalam lamunan masing-masing.


***


"Angel, aku dipanggil manajer nih. Kira-kira ada hubungannya dengan kejadian kemarin atau tidak ya?" Dina menelepon Angel yang masih menikmati sarapan paginya di apartemen.


"Bisa jadi. Yaaa kamu siapkan saja kata-kata permohonan maaf dengan sungguh-sungguh. Karena kamu memang salah sih. Cara kamu tuh norak banget tahu. Memalukan...Iiisssh" Angel mengoceh.


"Kamu bukannya tolongin, malah mengoceh lagi. Dari kemarin, semalam sampai sekarang masih saja bilang aku norak, memalukan" Dina merutuk.


"Memang kamu memalukan. Lagipula tadi sudah kukasih solusi. Kamu harus minta maaf. Karena kamu memang salah. Ya sudah, nanti kabari aku ya. Aku mau selesaikan sarapanku dulu" Angel mengakhiri sambungan teleponnya.


"Iish, dia matikan teleponnya" Dina mendengus kesal. Dia merapikan pakaiannya lalu bergegas menuju ruangan manajernya. Sepanjang melangkah dia menebak-nebak alasan dia dipanggil.


***


"Dia adalah karyawan bagian guest relation officer di front office departement, Pak" jawab bagian HRD.


"Minta manajernya untuk panggil dia dan temui saya di ruangan meeting jam sepuluh pagi ini" Rico menutup sambungan teleponnya.


Kemarin dia, Ran dan Lily sepakat untuk bertemu di kantornya pagi ini. Mereka akan berbicara dengan Dina. Supaya perempuan itu tidak mengganggu Lily lagi. Awalnya Rico bermaksud untuk memecatnya. Namun Lily melarangnya mematikan rejeki orang lain. Menurut Lily, Dina begitu karena dia tidak tahu duduk permasalahannya. Lebih baik diberikan penjelasan kepada Dina. Dan Lily meminta bantuan Rico untuk bisa bertemu Dina di kantor Rico.


Barusan Ran dan Lily mengabari bahwa mereka sudah sampai di kantornya.


"Nanti aku ikut hadir atau tidak, bang?" tanya Wini yang duduk di sebelahnya.


"Iya, kamu hadir. Kamu kan sahabat Lily" jawab Rico. Mobil mereka sudah memasuki hotel. Rico turum dari mobil lalu memutar ke arah Wini dan berjalan bersama Wini. Semua orang yang melihat pasti akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih, bukan direktur dan asistennya. Begitupun kabar yang disebarkan Aryo kepada seluruh karyawan. Bahwa yang menemani Rico adalah calon istrinya. Tentu saja itu atas perintah Rico.


Ran dan Lily sudah menunggu di ruang tunggu di depan ruangan kerja Rico.


"Maaf kalian jadi menunggu" Rico melihat jam tangannya.


"Kami memang sengaja datang lebih awal, daripada kamu yang menunggu kami. Lagipula kan kami jadi menyita waktu kerjamu, Co" Ran berbicara.


"Tidak mengganggu. Lily kan adikku, aku juga harus membantu selesaikan masalah ini" Rico mempersilahkan Ran dan Lily masuk ke ruangannya. Ran berjalan di belakang Rico. Lily bersama Wini berjalan berdampingan.

__ADS_1


"Kita nanti mulai jam sepuluh di ruang meeting. Masih tiga puluh menit lagi" Rico meletakan tasnya di meja. Membuka laptopnya lalu meminta sekretaris membawakan minuman untuk mereka.


***


__ADS_2