
Seharusnya tadi malam Wini sudah kembali ke Bandung. Karena jadwal pekerjaan Rico setiap Kamis dan Jumat di Bandung. Tapi kali ini pulang ke Bandung diundur menjadi nanti malam, karena hari ini masih rapat mengenai proyek pembangunan apartemen Hoover Diamond. Rapat dimulai sejak jam delapan pagi dan baru selesai jam dua belas, saat makan siang. Rapat yang lumayan panjang.
"Kita makan siang di Diamond mall saja sekalian aku mau ambil jas untuk acara peresmian hotel Ferien hari sabtu" ucap Rico pada Wini saat rapat usai. Aryo yang berjalan di belakang wini langsung info ke sopir melalui ponselnya bahwa Rico dan Wini sedang menuju mobil dan Diamond mall adalah tujuan mereka.
"Dari sana kita langsung ke Bandung" ucap Rico lagi. Mereka bergegas menuju mobil di tempat parkir.
Sepanjang perjalanan menuju mall, Wini menyalin rekaman suara saat meeting tadi menjadi teks di ipadnya. Kemudian mengeditnya dengan rapi. Lalu menyimpan dalam folder pekerjaan di iPadnya.
Selama Wini bekerja di sampingnya, Rico dengan asik memperhatikannya dengan detail. Wini bekerja dengan sangat cekatan dan rapi. Dia juga kreatif dan melek tekhnologi. Anak muda jaman sekarang memang harus seperti itu. Dan Rico merasa beruntung mengangkat Wini jadi asisten pribadinya. Apalagi nanti kalau Wini jadi istrinya, lebih beruntung lagi. Rico terkekeh dengan lamunannya sendiri.
Wini masih berkutat dengan iPadnya. Dia mengecek email yang masuk sejak tadi pagi. Email yang masuk kadang jumlahnya sampai ratusan.
"Kamu tidak capek?" tanya Rico, karena Wini sangat asik dengan pekerjaannya.
Wini menoleh "Tidak, bang. Aku lagi semangat banget ini" jawab Wini seraya tersenyum.
"Kamu senang dengan pekerjaanmu?" tanya Rico.
"Sangat senang" jawab Wini singkat lagi-lagi menoleh seraya tersenyum. Membuat lesung pipinya pun kembali terbit.
Rico meringis. Kenapa dia sangat manis, pikirnya. Aryo yang melihat dari kaca spion depan hanya menghela nafas melihat tingkah Rico.
"Kita sudah sampai. Kamu bisa teruskan nanti pekerjaanmu" ucap Rico saat mobil memasuki pintu masuk mall.
Mereka turun di lobi utama mall. Rico dan Wini berjalan berdampingan. Sementara Aryo berjalan sekitar lima meter di belakang mereka. Penampilan Aryo memang tidak nampak seperti seorang pengawal. Dia terlihat seperti seorang eksekutif muda yang tampan dengan wajah tegap. Penampilam rapi dan wangi.
Saat hendak memasuki butik langganan Rico, Aryo melihat seorang wanita yang mengikuti Rico dan Wini seraya berjingkat seperti detektif amatir. Wanita itu lalu mengintip dari luar jendela butik ke arah Rico dan Wini. Begitu wanita itu berbalik dan berjalan menuju kafe tidak jauh dari butik, Aryo bisa mengenali siapa wanita itu, Luisa.
"Hhmmmh dasar kurang cerdas...." pikir Aryo kemudian mengabaikannya. Karena tidak membahayakan untuk saat ini.
"Pak Rico, ini pesanan anda. Silahkan diperiksa dan dicoba dulu" seorang wanita berusia sekitar 40 tahun memberikan dua paperbag kepada Rico.
__ADS_1
"Oke, Mbak Lusi. Kami coba dulu ya" sahut Rico. Lalu dia memberikan satu paperbag kepada Wini. Wini membelalakan matanya, isyarat dia bertanya 'apa ini?'.
"Untuk acara hari Sabtu. Kamu coba dulu. Kalau kurang pas, masih ada waktu untuk diperbaiki" bisik Rico seraya menuntun Wini ke arah ruang ganti.
"Kamu cobalah di sini. Aku di ruangan sebelah sana" ucap Rico.
Wini masuk ke ruang ganti dengan perasaan campur aduk. Lalu membuka paperbag yang dia letakan di atas meja kayu di dalam ruangan ganti. Ada dua pakaian. Yang paling atas adalah setelan blazer modern berwarna peach. Satu lagi di bagian bawah adalah sebuah gaun panjang berwarna hitam yang sangat cantik. Wini sampai terharu melihatnya.
Dia mencoba setelan blazernya. Sangat pas di badannya. Bagaimana bisa Rico memesankan pakaian untuknya dengan ukuran yang pas dan model serta warna yang Wini sukai. Wini tidak bisa berkata apa-apa.
Lalu dia mencoba gaunnya. Rasanya dia ingin menangis karena bahagia. Gaun itu sangat cantik melekat di tubuhnya. Rasanya seumur hidup dia belum pernah mempunyai gaun secantik dan semahal ini.
"Wini...kamu sudah coba pakaiannya?" tanya Rico dari luar.
"Ehh...iya sudah, bang" Wini bergegas merapikannya dan memakai lagi pakaian kerjanya.
"Bagaimana? apakah pas atau ada yang perlu diubah lagi?" tanya mbak Lusi.
"Sangat pas, mbak" jawab Wini dengan senyum senang.
"kamu mau makan apa , Wini?" tanya Rico. Dia meraih paperbag yang dipegang Wini. Wini tidak sempat menahannya. Ada rasa tidak enak karena Rico yang membawakan paperbagnya.
"Aku yang mudah saja, bang. Mungkin pasta dan teman-temannya" jawab Wini.
Rico terkekeh.
"Oke...pasta dan teman-temannya ya. Berarti kita makan di sini saja" Rico meraih tangan Wini, mengajaknya memasuki restoran makanan Italia yang tidak jauh dari butik tempat mereka mengambil pesanan pakaian.
Tiba-tiba tangan Wini berkeringat. Dia mendadak gugup karena Rico mengenggam tangannya.
"Kenapa tanganmu berkeringat?" tanya Rico dengan wajah agak panik menatap Wini.
__ADS_1
"Kamu mungkin kecapean. Terlambat makan siang juga. Maaf ya" Rico bergegas mengajak Wini menuju meja di sudut ruangan. Lalu menarik kursi dan mempersilakan Wini duduk.
"Kamu pusing?" tanyanya khawatir. Wini menggeleng.
"Aku tadi gugup karena bang Rico pegang tanganku" jawab Wini terus terang. Rico tertawa pelan.
"Aaah ...iya. Maaf tadi aku reflek saja memegang tanganmu" ucap Rico jadi serba salah.
"Tidak apa-apa , bang. Tadi hanya kaget" ucap Wini tersenyum.
"Kamu pilih dulu mau makan apa. Kalau telat makan, nanti kamu tambah gugup" Rico bercanda seraya tertawa. Masalahnya, dia tidak sanggup melihat senyuman Wini tadi.
"Bang Rico...." panggil Wini pelan. Rico yang sedang membaca buku menu mengangkat wajahnya menatap Wini.
"Terimakasih untuk blazer dan gaunnya" ucap Wini.
"Sama-sama. Semoga kamu suka. Blazernya dipakai untuk acara peresmian di pagi hari. Gaunnya kamu bisa pakai malamnya di acara dinner" Rico menatap Wini dengan tulus.
"Kalau kamu tidak suka atau tidak cocok dengan modelnya, kamu tidak harus memakainya" Rico menambahkan. Dia khawatir caranya seolah memaksakan Wini memakai gaun yang dia belikan.
"Aku suka, koq. Model dan warnanya sangat cocok dengan seleraku" sahut Wini.
"Syukurlah kalau kamu suka. Aku senang" ucap Rico tersenyum dengan perasaan lega.
"Bang Rico baik sekali kepadaku. Terimakasih, bang" Wini menatap Rico.
"Sama-sama, Wini. Sudah jangan terimakasih terus. Sekarang kita makan dulu ya. Kamu mau apa?" Kata Rico membuat Wini tersenyum malu.
"Mungkin menurut bang Rico membelikan pakaian dengan harga belasan juta hal biasa. Tapi buatku itu sangat luar biasa. Harganya sama dengan setengah gaji sebulan" gumam Wini dalam hati.
Seorang pramusaji menghampiri mereka dan mencatat pesanan. Wini memperhatikan nuansa kafe yang semi outdoor sehingga kesan segar dan menyenangkan berada di dalamnya sangat terasa.
__ADS_1
Wini dan Rico tidak tahu bahwa ada dua pasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka. Dan dua pasang mata itu tidak tahu bahwa ada sepasang mata milik Aryo yang sedari tadi memperhatikan mereka juga.
***