
Acara peresmian sudah selesai. Para tamu undangan yang tidak menginap sudah meninggalkan tempat acara. Sedangkan yang menginap di hotel, bisa menikmati aneka fasilitas hotel atau sekedar bersantai di kamar.
"Kak Ran, coba kue ini. Rasanya enak sekali" Lily menyuapkan sepotong kecil cake keju ke mulut Ran. Ran melahapnya dengan senyum lebar. Ini sudah suapan entah ke berapa. Lily mencoba semua kue yang ada di meja. Dia hanya makan sedikit, selebihnya dia menyuapi Ran.
"Sayang, aku sudah kenyang" Ran mengelus perutnya yang terasa penuh.
Lily baru tersadar kalau dia sedari tadi memaksa Ran menghabiskan kue yang dia coba.
"Maaf ya, Kak Ran. Soalnya Lily ngiler lihat macam-macam kue ini. Sangat menarik" ucap Lily malu.
"Tidak apa-apa. Tapi sekarang aku sudah tidak sanggup makan lagi" Ran terkekeh.
Dia memaklumi, ibu hamil memang tingkahnya kadang menakjubkan. Untungnya Ran sudah banyak mencari informasi di internet tentang ibu hamil. Jadi dia tidak kaget jika Lily tiba-tiba tidak seperti biasanya.
Selama bukan hal yang membahayakan, Ran pasti akan menurutinya semampunya.
"Kita berbincang dengan Rico dulu" Ran mengarahkan pandangannya ke arah Rico yang melambaikan tangannya dan berjalan menghampiri mereka. Entah kenapa, Ran merasa terselamatkan dari paksaan mencoba aneka makanan lagi. Karena dia lihat Lily sudah mulai melirik meja makanan oleh-oleh khas Jawa Barat
Rico baru saja selesai berbincang dengan beberapa awak media dan mempersilakan menikmati hidangan di tempat yang khusus disediakan untuk mereka. Karena selama acara berlangsung, para awak media bekerja meliput. Jadi setelah acara selesai mereka baru bisa berisitirahat dan menikmati hidangan.
"Selamat, Co. Acaranya sukses. Sangat keren tadi. Apalagi saat permainan alat musik angklung" Ran menepuk punggung Rico.
"Terimakasih, Ran. Syukurlah semua merasa terhibur" sahut Rico seraya tersenyum lega.
"Oh iya, jangan lupa nanti malam jam delapan dinner. Ada live music. Khusus nanti malam ada Uniq Band, band yang sedang naik daun dan trending dimana-dimana" ucap Rico.
"Iya, kami ingat koq. Tenang saja" sahut Ran.
"Wartawan masih standby, Co. Ada acara lagi kah?" tanya Ran. Karena peralatan shooting sekarang digeser menuju area taman dekat kolam renang. Di sana ada panggung kecil yang sudah dihias dengan cantik.
"Iya, untuk acara dinner nanti malam. Memang diadakan di area dekat kolam renang. Mereka dari Diamond TV. Seharian ini meliput semua hal tentang hotel ini. Sebagian nanti meliput tentang fasilitas-fasilitasnya. Sebagian lagi persiapan acara nanti malam. Kita juga live instagram nanti" Rico menjelaskan.
Diamond TV adalah stasiun televisi milik keluarga Rico.
Ran manggut-manggut sambil sesekali melirik Rico seperti sedang mencoba memahami sesuatu.
"Sorry, aku tinggal lagi ya Ran...Lily. Aku mau temui para staff. Memastikan persiapan acara live nanti malam. Kalian bersenang-senanglah" Rico pamit meninggalkan Ran dan Lily.
Lily dan Ran menghampiri Papa yang sedang berbincang dengan seorang wanita.
"Lily....sini, Nak. Ini tante Gita. Kamu masih ingat kan?" Papa memanggil Lily.
__ADS_1
"Tante Gita....apa kabar?" Lily mencium tangan tante Gita.
"Kabar tante baik. Waaah kamu sudah sebesar ini. Terakhir tante melihatmu kelas satu SMP sebelum tante pindah ke Bogor ikut om Handi waktu itu" Tante Gita memeluk Lily dengan hangat.
"Kamu cantik sekali, seperti Mama" tante Gita mengelus pipi Lily penuh sayang. Lily sangat merasakan ketulusannya. Tante Gita memang orang yang hangat dan penyayang.
"Ran, kenalkan ini tante Gita. Guru les mengaji Lily sewaktu SD" ucap Papa kepada Ran.
"Dek Gita, ini Ran suami Lily" Papa memperkenalkan Ran.
Ran menganggukkan kepala dan memberi salam dari tempatnya berdiri.
"Kalian sangat serasi...semoga selalu menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warohmah" ucap tante Gita yang diaminkan semuanya.
"Mohon maaf waktu kalian menikah, tante tidak bisa hadir. Saat itu tante sedang antar anak tante ke pesantren"
"Tidak apa-apa, tante" Lily dan Ran menjawab bersamaan.
Tidak lama Angga dan Andin bergabung dengan mereka.
Perut Andin sudah besar. Perkiraan melahirkan sekitar tiga minggu lagi. Namun Andin ingin sekali berlibur sebelum melahirkan.
Mereka berbincang. Ternyata tante Gita memiliki yayasan pendidikan tingkat SD di Lembang ini. Meskipun pemilik yayasan, sehari-hari tante Gita aktif mengajar juga di sekolahnya.
"Tadinya Papa mau ajak kalian ke rumah tante Gita. Tapi karena tante Gita siang ini ternyata ada acara di tempat lain, jadi malah tante Gita yang menyusul ke sini" ucap Papa.
"Tante sudah lama tidak bertemu Lily. Kangen rasanya bertemu Lily yang sangat pintar dan selalu mau menambah waktu belajar mengajinya. Kalau belajar tidak mau sebentar" Tante Gita menatap Lily yang dibalas dengan pelukan hangat oleh Lily. Tante Gita mengelus punggung Lily membuat Lily merasa sangat nyaman.
"Kalau Angga kan sudah beberapa kali mampir ke sekolah Tante bersama Papa" lanjut tante Gita.
"Iya, kebetulan kan ada klien yang kantornya dekat dengan sekolah tante Gita. Jadi sekalian bisa silaturahim. Setelah sekian lama tidak bertemu" Papa menjelaskan. Karena Lily menatap Papa dan Angga bergantian seolah meminta penjelasan kenapa Papa dan kak Angga bisa mampir ke sekolah tante Gita.
Angga berbincang dengan tante Gita mengenai anak tante Gita yang sedang sekolah di pesantren. Angga sudah sangat akrab dengan tante Gita.
Sementara Lily sibuk dengan pikirannya. Ran meraih tangan Lily lalu mengusapnya dengan lembut. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran Lily. Lily nampak khawatir sesuatu yang dia pikirkan terjadi.
Sampai akhirnya tante Gita berpamitan. Karena harus menghadiri acara di tempat lain.
Setelah kepergian tante Gita. Lily menatap Papa meminta penjelasan. Lily merasa Papa sengaja mempertemukannya dengan tante Gita karena ada maksud dan tujuan.
"Baiklah. Papa akan bicara sekarang. Supaya Lily tidak bertanya-tanya dalam hati" Papa tersenyum.
__ADS_1
"Mungkin Ran pergi dulu, Pa?" tanya Ran. Khawatir apa yang akan dibicarakan Papa belum boleh dia dengar.
"Ran di sini saja temani Lily. Kamu kan sudah jadi anak Papa" jawab Papa.
"Jika Papa berniat menikahi tante Gita. Apakah Angga dan Lily mengijinkan?" tanya Papa membuat Lily merasa tubuhnya beku. Ucapan Papa seperti bola salju besar yang menggelinding dari ketinggian dan menghantamnya.
Ran menggenggam tangan Lily erat di bawah meja. Mengusapnya perlahan agar Lily tenang.
Lily menghela nafas. Mencoba menenangkan dirinya. Lalu menatap Angga yang terlihat santai saja.
"Angga mengijinkan Papa menikah lagi dengan tante Gita. Angga tidak merasa keberatan. Supaya Papa tidak sendirian di rumah, Papa ada teman berbagi suka duka setiap hari. Angga percaya, meskipun Papa menikah lagi. Bukan berarti Papa melupakan Mama. Apalagi yang akan Papa nikahi adalah orang yang Mama sayang dan juga sayang ke Mama"
"Angga hanya ingin Papa bahagia dan tidak kesepian" ucap Angga dengan tenang.
"Angga juga sudah tahu rencana Papa ini setelah beberapa kali Papa mengajak Angga bertemu tante Gita setiap pulang dari klien. Namun Angga tidak mau bertanya apa-apa. Angga hanya menunggu Papa menyampaikan niatan Papa kepada kami" lanjut Angga. Lalu menatap Lily yang masih terdiam seperti shock.
Lily bangun dari duduknya lalu menghampiri Papa. Duduk di samping Papa lalu memeluknya erat. Lily menangis.
Angga dan Papa saling bersitatap. Papa menghela nafas. Angga juga hanya menatap Lily tidak tega. Dia tahu Lily pasti shock. Lily pasti berpikir bahwa Papa sudah melupakan Mama. Tapi Lily belum memahami bahwa Papa butuh pendamping yang bisa mengurus Papa dengan baik. Sementara Angga dan Lily sudah tidak tinggal bersama Papa lagi. Tapi Angga tidak bisa memaksakan pemikirannya kepada Lily.
"Asalkan Papa bahagia, Lily setuju. Lily hanya mau Papa bahagia" ucap Lily dalam isaknya.
Papa menghela nafas lega. Matanya berkaca-kaca menahan haru dalam dada. Begitupun Angga, Ran dan Andin.
Papa membelai kepala Lily seolah Lily masih anak balita.
"Terimakasih ya, Nak" Ucap Papa dengan suara agak serak menahan haru.
Ran mengambil tissue dan membantu Lily menghapus airmatanya. Lalu memberikan segelas air untuk menenangkan perasaannya.
Lily tersenyum kepada Papa.
"Kapan Papa akan melamar tante Gita?" tanya Lily.
"Kami akan siapkan semua untuk Papa" Angga menambahkan.
"InsyaaAllah bulan depan. Untuk tanggalnya nanti Papa kabari kalian" jawab Papa.
Nampak raut bahagia di wajah Papa. Lily dan Angga memegang tangan Papa dengan penuh rasa sayang. Mereka sayang Mama. Mereka juga sayang Papa. Tugas Mama di dunia sudah selesai mendampingi Papa dengan baik selama ini. Papa harus melanjutkan hidup dengan bahagia dan tidak merasa kesepian.
Lily sudah mempersiapkan jawaban sejak kemarin. Ketakutan akan adanya calon ibu baru membuatnya harus mencoba memahami keadaan dan perasaan Papa. Dia tahu Papa butuh pendamping yang bisa menemaninya di saat Angga dan Lily sudah punya kehidupan masing-masing. Alangkah egois dirinya jika berani melarang Papa menikah lagi, sementara dirinya tidak ada setiap saat untuk menemani Papa.
__ADS_1
***