Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
54. Berlibur di Hotel Ferien 1


__ADS_3

"Selamat datang di hotel Ferien. Hotel keluarga yang nyaman" dua orang staff menghidangkan welcome drink untuk Lily dan Ran saat mereka tiba di lobi hotel Ferien. Rupanya Rico menyambut khusus para tamu undangan yang menginap. Dua cangkir teh manis hangat dengan irisan lemon. Cukup membantu menghangatkan tubuh di suhu Lembang yang sangat dingin.


"Bagaimana tadi, macetkah?" tanya Rico menyambut kedatangan Ran dan Lily. Wini menyusul di belakang Rico.


"Tidak macet. Tadi lancar saja Sengaja tadi berangkat dari Jakarta selepas Dzuhur. Agar sampai sini masih sore" jawab Ran. Dia melihat sekeliling hotel. Suasana hotel Ferien sangat sejuk dan asri.  Cocok sekali untuk berlibur bersama keluarga. Hotel ini perpaduan antara gaya tradisional Sunda dan Eropa klasik.


"Duduklah dan minum dulu" Rico mengajak mereka duduk di sofa  lobi hotel.


Ran merasa nyaman. Suasananya mirip dengan kafe Blume. Itulah meskipun karakter dia dan Rico sangat berbeda jauh, tapi mereka bisa cocok bersahabat. Karena mereka sebenarnya punya selera yang sama.


"Kamu lelah, sayang?" tanya Ran mengajak Lily duduk. Lily mengulurkan ujung tangan sweaternya hingga menutupi semua tangannya. Menghindari rasa dingin yang mulai terasa seperti mencubit kulitnya.


"Tidak, koq. Justru Lily merasa segar sekarang walaupun suhunya sangat dingin tadi di luar. Mungkin bawaan bayinya ya, Kak. Memang mau liburan" sahut Lily seraya tersenyum senang.


Wini dan Rico menatap Lily dengan wajah terkejut. Rico memandang Ran penuh tanya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ran heran kepada Rico.


"Tidak usah heran kalau Lily hamil. Kan aku suaminya, Co" ucap Ran.


"Aku seperti mendapat surprise. Aahhh selamat ya, Ran. Aku sangat senang mendengarnya" Rico memeluk Ran.


"Terimakasih, Co. Kami juga baru tahu dua hari yang lalu. Saat pulang dari kantormu, Lily pingsan di lift kantorku. Akhirnya dibawa ke rumahsakit" ucap Ran. Dia menatap Lily dan Wini yang sedang berpegangan tangan lalu saling memeluk seraya tertawa pelan dengan riang.


"Aaaah senangnya. Aku mau punya keponakan" Bisik Wini dengan wajah sumringah.


"Kamu nih. Lily masuk rumahsakit tidak kabari kami" Rico berdecak.


"Kalian sedang sangat sibuk dengan persiapan hotel. Angga sibuk dengan Andin yang sudah hamil besar. Bahkan Papanya Lily saja tidak kukabari. Takut shock jika tahu Lily pingsan."


"Tenang saja, kami bisa atasi. Syukurlah, Lily tidak apa-apa hanya kelelahan. Saat itu jadinya kami tahu bahwa Lily hamil" ucap Ran.

__ADS_1


"Iya, memang beberapa hari ini sangat sibuk" Rico ikut mengalihkan pandangannya ke arah Lily dan Wini yang masih saja saling menggenggam tangan dan tertawa dalam bisik-bisik.


"Aaaah perempuan.....kalau bertemu sampai lupa dengan pasangan dan sekitarnya" gumam Rico diikuti tawa Ran.


"Biarkan saja. Jangan rusak kegembiraan mereka" kata Ran.


"Betul. Kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan kita" timpal Rico.


"Naah. Itu kamu tahu" Ran menepuk bahu Rico.


Lalu mereka berbincang tentang lukisan-lukisan yang menghiasi dinding hotel. Ran menawarkan beberapa lukisan karyanya kepada Rico sebagai hadiah. Karena di rumah sudah banyak koleksi lukisannya. Daripada didiamkan saja, lebih baik dimanfaatkan di hotel Rico.


"Jangan free donk, Ran. Kubayari saja. Aku memang masih mencari beberapa lukisan untuk di gedung tiga" Rico merasa tidak enak hati.


"Tidak usah bayar. Kan kubilang ini sebagai hadiah. Nanti kamu bisa lihat dulu lukisan-lukisanku. Layak atau tidak dipasang di sini"


"Aku sudah tahu lukisanmu sangat bagus, Ran. Sering lihat kamu dan Nenek Yumi melukis sewaktu di Jepang" ucap Rico. Dia sangat senang. Karena beberapa hari ini dia memang masih mencari lukisan yang cocok untuk gedung tiga yang masih dalam proses akhir penataan ruang dan kamar.


"Thanks, Ran. Maaf jadi merepotkan Papamu"


"Tidak apa-apa. Mereka juga pasti senang"


Seorang staff memberitahu Rico bahwa kamar Ran dan Lily sudah siap.


"Baiklah. Kami antar kalian ke kamar. Supaya kalian bisa istirahat dulu" Rico berdiri. Mengajak Ran dan Lily ke kamar mereka yang ada di lantai tiga.


"Kamu setiap hari pergi dan pulang dari rumah ke sini, Wi? tidak capek? kan lumayan jauh" tanya Lily saat mereka berjalan menuju kamar.


"Aku tinggal di sini. Di lantai paling atas ada unit khusus yang tidak disewakan. Bang Rico juga tinggal di sini" jawab Wini.


"Unit kami berbeda, Ly. Bang Rico di gedung satu. Aku di sini di gedung dua" lanjut Wini karena Lily seolah mempertanyakan lebih detail.

__ADS_1


Lily mengangguk lalu tersenyum.  "Iyaaa...aku yakin bang Rico akan menjaga kamu dengan baik".


"Kamu suka dengan bang Rico?" bisik Lily. Mereka jalan bergandengan.


Wini tersenyum malu.


"Menurutmu, apakah terlalu cepat kalau aku suka padanya, Ly?. Dia sangat baik dan perhatian. Tapi kadang aku takut kalau perasaanku cuma bertepuk sebelah tangan. Takut kege-eran ku saja" ucap Wini.


"Menurutku tidak kecepetan koq, Wi. Wajar kalau kamu suka dengan bang Rico".


"Jadi kalau bang Rico menyatakan perasaannya dan serius denganmu, kamu mau menerimanya?" Lily berbisik lagi. Sengaja berjalan agak lambat supaya bisa mengobrol dengan Wini. Lily sangat penasaran, karena Rico terlihat sangat menyayangi dan menjaga Wini.


"Sepertinya tidak ada alasanku untuk menolak bang Rico, Ly" jawab Wini membuat hati Lily merasa tenang. Rasanya plong. Karena selama ini dia takut Wini punya rasa trauma akibat kegagalan pernikahannya dengan Jamie. Rupanya bang Rico bisa membuat Wini nyaman dan percaya, pikir Lily senang.


Ran dan Rico menunggu Lily dan Wini sampai di depan kamar. Rico menatap keduanya dengan perasaan bahagia. Melihat Lily dan Wini memang seperti melihat adik dan kakak. Walaupun memang Lily lebih muda satu tahun dibanding Wini. Tapi mereka tidak ada ikatan darah sampai bisa mirip seperti itu.


"Jika butuh apapun, jangan sungkan hubungi kami" ucap Rico setelah Lily dan Wini tiba di depan pintu kamar.


"Oke. Terimakasih, Co" sahut Ran lalu mengajak Lily masuk.


"Sekarang kamu istirahat, Ly. Mengobrolnya kita lanjutkan di chat saja" Wini memeluk Lily lagi. Lily mengangguk.


Sekarang dia mulai merasa lelah dan mengantuk. Mungkin karena nuansa di dalam kamar yang sangat nyaman untuk berisitirahat. Tapi sepertinya dia ingin berendam air hangat dulu untuk menghilangkan rasa pegal dan dingin yang menyerang.


Lily segera menuju kamar mandi.


Tadi menurut Wini di kamar mandi sudah disiapkan minyak esensial untuk berendam. Ada alat pengukur suhu juga. Jadi Lily bisa mengatur suhu air hangatnya agar tidak terlalu panas . Karena untuk ibu hamil muda trimester pertama, air hangat untuk berendam suhunya harus di bawah 35 derajat celsius. karena khawatir suhu panas dapat mengurangi cairan tubuh dan tekanan darah pada ibu hamil.


"Kak Ran mau mandi air hangat? biar Lily siapkan" Lily menawari Ran.


"Tidak usah, sayang. Kamu saja. Ayo kubantu siapkan airnya. Biar sekalian kupijat punggung dan kakimu supaya hilang pegal-pegalnya. Nanti aku mandi pakai shower saja" ucap Ran seraya menyusul Lily ke kamar mandi.

__ADS_1


***


__ADS_2