Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
59. Vivi Sang Sekretaris


__ADS_3

Seminggu ke depan jadwal kerja Ran sedang fokus di Bandung untuk mengurusi pabrik yang sedang dibangun. Karena Curtis Fashion akan mengeluarkan produk pakaian bayi dan anak dengan merk Curtis baby dan Curtis Kids. Untuk kali ini pabrik ditangani okeh Ran langsung, tentu saja tetap di bawah bimbingan papa Adam.


Jadi selama seminggu ini Lily dan Ran pun akan tinggal di Bandung. Tentu saja mereka bergantian tinggal di rumah Papa selama dan rumah Papa Adam.


Mereka tadi pagi pulang dari hotel Ferien langsung ke rumah papa. Papa dan kak Angga kemarin siang sudah pulang dari hotel Ferien.


Pagi ini begitu Lily sampai rumah, Papa sudah berangkat bekerja. Kata Papa tadi sewaktu Lily menelepon, karena ada jadwal kunjungan ke klien di Bekasi, jadi Papa berangkat lebih pagi.


Pagi ini Lily akhirnya janjian dengan kak Angga untuk bertemu di kantor untuk membahas persiapan lamaran Papa ke tante Gita.


Karena Lily tidak mungkin ikut kak Ran ke pabrik yang belum jadi. Ran juga pasti sangat sibuk hari ini. Jadi Lily membiarkan suaminya fokus dengan pekerjaannya.


Ran mengantar Lily terlebih dahulu sebelum berangkat ke pabrik.


"Nanti sore aku jemput jam tiga setelah selesai urusan pabrik. Tapi kalau sebelum jam tiga kamu mau pulang hubungi teh Yuni untuk jemput kamu ya, sayang" Kata Ran saat mereka sudah sampai di depan kantor Papa.


"Iya, Kak Ran. Kak Ran juga jangan lupa bekal makan siangnya dihabiskan" sahut Lily. Lalu mencium tangan Ran. Ran mencium kening Lily dan mengusap kepalanya.


Lily masuk dan bergegas ke lantai dua menuju ruangan Angga setelah menyapa petugas keamanan dan resepsionis. Mereka sudah mengenal Lily.


"Selamat pagi, Mbak. Saya mau bertemu pak Angga" ucap Lily kepada seorang staff wanita yang duduk di meja di depan ruangan Angga.


"Rupanya sekarang kak Angga punya sekretaris" Gumam Lily dalam hati sambil memperhatikan penampilan wanita tersebut.


"Apakah sudah buat janji? dari perusahaan apa ya?" tanya wanita itu dengan ketus dan penuh curiga menatap Lily.


"Aneh sekali. Masak sih seorang sekretaris berbicara ketus kepada tamu" pikir Lily.


"Saya Lily. Sudah janji dengan pak Angga langsung tadi pagi" jawab Lily.


"Tapi pak Angga tidak memberitahu saya. Tunggu sebentar saya coba hubungi pak Angga. Beliau sedang di di gudang" wanita itu berbicara seraya menatap Lily dari ujung kaki hingga ujung kepala. Membuat Lily risih.


"Baiklah. Saya tunggu di sini" Lily duduk di sofa ruang tunggu. Dia sengaja tidak memberitahukan bahwa dia adiknya Angga. Dia sedang malas saja menjelaskan siapa dia sebenarnya. Dan wanita itu sepertinya memang karyawan baru katena waktu terakhir kali Lily ke sini, belum ada wanita itu. Wajar saja wanita itu tidak mengenalnya. Yang tidak wajar adalah sikapnya yang tidak ramah kepada Lily selaku tamu.


"Heiii...kamu sudah lama, Ly?" Angga muncul di depan Lily sebelum sekretaris itu menghubunginya.


"Baru saja datang" jawab Lily langsung menggandeng tangan kak Angga. Sekretaris itu memandang Lily tidak suka. Angga heran dengan sikap Lily. Biasanya Lily akan mencium tangannya jika bertemu.


"Kak Angga sekarang pakai sekretaris?" tanya Lily berbisik.


"Iya, baru sebulan. Karena memang sudah perlu ada sekretaris yang menghandle semua schedule" jawab Angga. Lalu mengajak Lily menuju ruangannya.


"Vivi, kenalkan ini Lily..." ucap Angga terhenti. Karena Lily mencubit tangannya.


" Tadi sudah berkenalan" ucap Lily menarik Angga untuk segera meninggalkan meja sekretarisnya.


"Tadi kami sudah berkenalan. Iya, kan mba Vivi?" Lily tersenyum manis kepada Vivi sang sekretaris. Vivi hanya mengangguk sambil tersenyum malas.

__ADS_1


Angga melihat Vivi dengan aneh. Dia hendak menegurnya karena sudah berlaku tidak sopan kepada Lily. Tapi Lily segera menarik tangan Angga lagi.


Mereka segera masuk ke ruangan. Lily duduk di kursi di hadapan Angga.


"Apakah tadi Vivi bersikap tidak sopan kepadamu?" tanya Angga.


"Aku tidak faham juga. Tadi sewaktu kubilang mau bertemu kak Angga, dia langsung berbicara ketus dan seperti tidak suka kepadaku" jawab Lily sambil memandang kakaknya itu.


"Nanti kutegur dia. Karena sikapnya tadi sangat tidak sopan" ucap Angga.


"Sebaiknya begitu, Kak. Khawatir nanti dia bersikap seperti tadi kepada tamu lain. Kan nanti berpengaruh juga untuk nama baik perusahaan"


"Tadi aku sengaja tidak bilang kalau aku adiknya kak Angga. Karena dia sudah ketus di awal, aku malas menjelaskan" ucap Lily.


Kak Angga sangat tampan dan berwibawa. Apakah mungkin Vivi sang sekretaris itu menyukai kak Angga?, pikir Lily.


"Kemungkinan dia cemburu padaku" gumam Lily pelan.


"Vivi? cemburu padamu?" tanya Angga mengernyitkan keningnya.


"Dia kan tidak tahu kakau aku adiknya kak Angga. Mungkin dia pikir aku hanya teman kak Angga" jawab Lily.


"Ah kamu nih ada-ada saja" Angga terkekeh.


"Aku ini perempuan, kak. Aku tahu gejala-gejala wanita sedang cemburu. Kak Angga jangan terlalu cuek dan anggap remeh soal perempuan yang kemungkinan suka ke kak Angga. Harus tetap waspada" ucap Lily kembali memandang kakaknya. Dia merasa khawatir.


Angga hanya mengangguk."Sudah, dia juga sudah pernah bertemu kak Andin" jawab Angga.


"Kalau bisa, kak Angga ganti sekretarisnya laki-laki saja, seperti Papa" saran Lily.


"Rencananya begitu. Hanya saja belum dapat kandidat yang cocok" sahut Angga.


"Sepertinya kamu khawatir sekali kakak tergoda dia. Tenang saja, di hati kakak hanya ada kak Andin yang tercinta" Angga menepuk dada kirinya seraya tersenyum.


"Iyaaa..Lily percaya kalau soal itu" sahut Lily.


"Oh iya. Kamu punya teman atau kenalan yang bisa mengisi posisi manajer keuangan, Ly? Disini posisi tersebut sedang kosong. Manajer sebelumnya kemarin resign mendadak karena sakit jantungnya kambuh dan harus dirawat intensif di rumah sakit." Angga menatap Lily.


"Nanti Lily coba cari tahu dulu ya, Kak. Siapa tahu ada yang berminat" jawab Lily.


"Semoga saja ada. Di sini sangat butuh untuk posisi itu secepatnya" ucap Angga.


Mereka kemudian membahas rencana lamaran Papa. Lily bahkan sudah mempersiapkan WO untuk acara pernikahan yang akan dilaksanakan seminggu setelah lamaran. Lily membawa beberapa brosur WO terbaik di Bandung. Meskipun bisa dilihat secara online di internet, tapi akan lebih memudahkan untuk membandingkan jika ada brosur cetaknya. Karena kemarin saat Lily menghubungi tante Gita. Tante Gita meminta tolong Lily mencarikan WO yang recomended.


Acara lamaran dan pernikahan juga akan dilaksanakan tidak terlalu ramai tamu. Hanya keluarga dekat saja yang akan hadir di acara lamaran dan sekitar 300 tamu saja yang akan diundang pada saat pernikahan, sesuai keinginan Papa dan tante Gita.


Tidak terasa waktu sudah jam 12 siang. Lily mengajak Angga makan siang dengan bekal yang dia bawa. Mereka makan di ruang makan dekat pantry.

__ADS_1


Saat mereka sedang makan, Vivi sang sekretaris masuk lalu meletakkan segelas jus jeruk di depan Angga.


"Saya pesankan di kafe langganan saya khusus untuk pak Angga" ucap Vivi tersenyum seraya melirik Lily.


"Terimakasih. Mmhhhh...sebenarnya kamu tidak usah repot-repot" ucap Angga.


"Tidak repot koq, Pak. Saya juga sekalian pesan untuk saya" sahut Vivi.


"Lily boleh mencobanya?" tanya Lily pada Angga. Dia merasa tergoda melihat jus yang segar itu. Angga menggeser gelas jusnya ke depan Lily. Lily menyeruputnya.


Sementara Vivi sang sekretaris menatap Lily dengan kesal. Lalu meninggalkan ruang makan.


**


"Tampangnya kalem, sok polos. Tapi menggoda pria bersuami" gerutu Vivi. Dia menghela nafas.


Dia tidak suka jika ada wanita lain yang mendekati Angga. Dia sangat mengagumi bossnya itu. Bahkan saat Angga membawa Andin ke kantor beberapa hari lalu dia sangat tidak menyukainya.


Menurutnya Andin terlalu biasa untuk menjadi istri Angga. Dia merasa bahwa dirinya jauh lebih pantas bersanding dengan Angga.


Tiba-tiba hari ini ada wanita muda yang sok polos dengan manjanya menggandeng tangan Angga. Mereka bahkan berdua mengobrol di ruangan Angga cukup lama. Dan yang lebih membuatnya kesal adalah gadis itu meminum jus jeruk yang sengaja dia pesankan untuk Angga.


**


Lily beranjak menuju toilet wanita untuk berwudhu. Di kantor Papa, setiap toilet letaknya berdekatan dengan tempat berwudhu dan ruangan khusus untuk shalat.


Saat hendak merapikan kerudungnya setelah berwudhu. Lily bertemu dengan Vivi yang sedang merapikan make upnya dan seketika memasang wajah tidak bersahabat begitu melihat Lily.


"Kamu simpanan pak Angga?" tanya Vivi to the point.


Lily terkesiap. Bisa-bisanya seorang sekretaris menuduh atasannya mempunyai simpanan.


"Asal kamu tahu, pak Angga itu sudah beristri. Apa kamu tidak malu mendekati pria beristri?" Vivi kembali bertanya.


Lily hanya diam. Dia menghela nafas perlahan.


"Kenapa Mba Vivi yang repot kalau saya dekat dengan pak Angga?" Lily balik bertanya.


"Kamu belum pantas dekati pak Angga. Lagipula saya yakin kamu masih kuliah. Sebaiknya kamu kuliah saja dengan baik. Daripada jadi simpanan" Vivi menatap Lily seperti tadi pagi saat Lily baru datang mencari Angga.


"Mbak Vivi, saya tidak ada waktu meladeni semua omong kosong ini. Permisi" Lily meninggalkan Vivi yang masih hendak berbicara dengan tangan memegang lipstick.


Lily merasa khawatir dengan sikap Vivi yang seperti terobsesi dengan Angga. Kalau dibiarkan, bisa menjadi-jadi. Semoga saja kak Angga secepatnya mendapatkan sekretaris baru, seorang laki-laki.


Namun, seketika Lily punya sebuah rencana. Tentu saja dia harus meminta ijin terlehih dahulu kepada Ran selaku suaminya untuk menjalankan rencana tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2