Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
60. Hanya Sementara


__ADS_3

Lily menghabiskan waktu sampai jam dua di ruangan Angga. Dia sesekali membantu Angga memeriksa beberapa dokumen. Sesekali juga Vivi masuk ke ruangan Angga untuk mengantarkan dokumen yang perlu ditandatangani oleh Angga. Dia selalu menatap Lily curiga.


"Kenapa dia tidak terpikirkan kalau aku ini adiknya kak Angga, sih?" tanya Lily dalam gumamannya sambil membaca dokumen pengajuan material untuk pembangunan gudang pendingin salah satu klien yang merupakan importir daging sapi.


"Vivi?" tanya Angga.


Lily mengangguk.


"Tadi di toilet aku bertemu dia. Dia menuduhku simpanan kak Angga"


Angga terkejut.


"Nanti kakak kasih tahu dia kalau kamu itu adikku. Supaya dia bersikap sopan" kata Angga.


"Seharusnya dari wajah kita yang mirip saja, dia bisa menebak kalau aku adiknya kak Angga"ucap Lily.


"Tapi kalau terlanjur cemburu mana sempet berpikir dengan benar" lanjut Lily.


"Kak Angga kurang peka nih. Jelas-jelas Vivi tuh suka sama kak Angga. Padahal sudah tahu kak Angga sudah punya istri" Lily berdecak sambil menatap Angga sekilas.


"Yang penting kan kakak tidak meladeni dia, Ly. Kakak tidak peduli apa perasaannya ke kakak. Yang penting dia kerja dengan baik dan bertanggungjawab" ucap Angga.


"Kak Andin bagaimana, Kak? menjelang persalinan sehat terus kan?" Lily mengubah topik pembicaraan.


"Tadi pagi katanya agak pusing. Syukurlah langsung membaik setelah beristirahat dan tidur. Beruntungnya ada mamanya menemani di rumah" jawab Angga.


"Semoga sehat selalu dan lancar hingga persalinan. Aamiin" ucap Lily.


Ponsel Lily berbunyi.


"Aku sudah di parkiran ya, sayang" ucap Ran di ujung telepon.


"Sudah selesai kerjanya? katanya sampai jam tiga. Ini baru jam dua sudah sampai di sini. Bukan karena buru-buru mau jemput Lily kan?" tanya Lily melihat jam di tangannya.


"Pekerjaan sudah selesai. Lagipula kalau karena mau buru-buru jemput kamu memangnya kenapa? kamu takut aku dipecat dari pekerjaanku?" Sahut Ran terkekeh.


"Ampuun pak Boossss. Lupa kalau pak boss anaknya Papa Adam yang punya kantor" Lily tergelak pelan.


"Kak Ran mau ke ruangan kak Angga?" tanya Lily.


"Mengganggu kak Angga atau tidak kalau kakak ke sana?"

__ADS_1


"Kata Kak Angga mampir dulu ke sini. Lily jemput ke bawah ya" ucap Lily ketika Angga memberikan isyarat agar Ran naik dulu ke ruangannya.


"Jangan, sayang. Kamu nanti capek bolak balik" cegah Ran. Dia khawatir dengan kondisi Lily yang sedang hamil muda.


"Vivi. Nanti ada pak Ran Curtis, suaminya Lily adik saya. Langsung persilakan masuk saja kalau sudah tiba" Angga menelepon Vivi.


"Haalllooo...selamat sore istriku yang cantik dan kakak iparku yang ganteng" ucap Ran saat Vivi membukakan pintu ruangan Angga. Ran memeluk Lily seperti tidak bertemu berhari-hari. Lalu bersalaman dengan Angga.


Angga terkekeh.


"Kamu ternyata sebucin itu ya, Ran"ucap Angga. Dia tahu kalau Ran sangat menyayangi Lily. Tapi tidak menyangka kalau sikapnya bisa seperti itu.


"Mungkin Kak Angga baru tahu saja. Dibalik wibawa dan sikap coolnya, kak Ran itu memang bucin" sahut Lily.


Ran tertawa pelan.


"Aku terlalu menyayangi dia. Tidak mau jauh-jauh rasanya" jawab Ran.


"Senang rasanya kalau adikku sebahagia ini punya suami kayak kamu, Ran" gumam Angga. Dia menyembunyikan rasa harunya.


"Tenang saja, Kak. Aku akan selalu menjaganya sekuat jiwa ragaku" ucap Ran. Meskipun Angga usianya hanya lebih tua delapan bulan dari Ran, karena Angga adalah kakak iparnya maka Ran tetap memanggilnya Kakak sebagai rasa hormat.


"Kak Ran. Lily sekalian mau minta ijin"


Angga terkejut. Karena tadi Lily tidak bicara kalau dia ingin membantu di sini. Walaupun begitu dia sangat senang mendengarnya.


"Selama itu bisa membuatmu senang, aku mengijinkan. Dengan syarat, jangan terlalu capek dan tetap jaga kondisi kesehatan kamu dan bayi kita" jawab Ran membuat Lily tersenyum senang.


"Aaahhh...terimakasih, kak Ran sayaang" Lily memeluk Ran dengan erat.


"Hahahaha....iya...sama-sama, sayang. Tapi pelukannya jangan terlalu erat seperti ini. Tuuh, dilihatin kak Angga" Ran terkekeh. Karena dia nyaris sesak nafas juga.


Lily melepaskan pelukannya perlahan. Pipinya bersemu merah ketika dilihatnya Angga tergelak melihat tingkahnya.


"Aslinya dia memang semanja itu, Ran" ucap Angga diantara gelaknya.


"Serius kamu mau membantu perusahaan kita ini?" tanya Angga.


"Iya, tentu saja. Apakah Lily diterima bekerja di sini?" tanya Lily dengan tatapan menunggu jawaban.


"Aaah kamu ini. Tentu saja kamu sudah bisa bekerja kapanpun kamu mau. Ini kan perusahaan milik kamu juga. Kakak sangat senang. Papa juga pasti sangat senang mendengar berita ini"

__ADS_1


"Terimakasih, Ran. Sudah mengijinkan Lily bekerja" ucap Angga.


"Iya, sama-sama. Kasihan juga dia sering bosan sendirian kalau aku kerja. Apapun yang membuatnya senang, aku pasti dukung" sahut Ran.


"Lagipula kan kerjanya juga di sini, aman kan ada kak Angga dan Papa" ucap Lily.


"Jam kerja juga kan tidak ketat, tergantung mampunya Lily saja" tambah kak Angga.


"Senangnyaaaa. Mulai besok Lily bekerja ya. Nanti malam Lily telepon Papa. Karena malam ini Lily dan kak Ran pulang ke Mama Hana. Besok baru pulang ke Papa" ucap Lily.


"Nanti kak Angga juga hubungi Papa kalau Papa sudah sampai rumah. Kalau sekarang Papa masih dalam perjalanan pulang." kata Angga.


"Sekarang kalian pulanglah. Biar Lily istirahat" kata Angga lagi.


Lily dan Ran diantar Angga sampai lobbi kantor.


****


Vivi


Vivi termenung di mejanya menatap layar komputernya dengan nanar. Dia sangat shock. Ternyata Lily adalah adik bossnya. Yang artinya Lily adalah anak dari big boss, direktur Utama, Pak Dharmawan. Dia memang baru dua bulan bekerja di sini, jadi belum tahu banyak tentang keluarga bossnya.


Dan baru saja dia bertemu dengan suami Lily. Sangat tampan. Dari wajah dan cara bicaranya, sepertinya keturunan eropa. Dari penampilannya sangat terlihat aura kekayaan memancar. Kenapa Lily yang berwajah polos seperti anak kuliah itu sangat beruntung. Terlahir kaya dan bersuamikan pria yang juga pastinya kaya.


Dia membuka internet dan mengetikkan Ran Curtis di laman pencarian. Seketika muncul berbagai artikel.


"Ternyata dia CEO dari perusahaan pemilik brand Curtis Fashion. Pantas saja aura kekayaannya sangat terasa" pikir Vivi terkejut.


Dia juga melihat beberapa berita pernikahan Lily dan Ran lima bulan yang lalu. Juga ada penampilan Lily saat bernyanyi di acara lamaran Wini dan Rico dua hari yang lalu.


"Hhmmh circlenya ngeri sekali. Ternyata masih keluarga dari pemilik Hotel Hoover group dan Diamond TV" gumam Vivi resah.


Saat mereka keluar ruangan hendak pulang tadi, Vivi berdiri dan menganggukkan kepala dengan sopan seraya tersenyum.


"Sampai jumpa, mba Vivi" ucap Lily saat beranjak menuju Lift.


"Baik, bu Lily. Hati-hati di jalan" jawabnya. Dia terkejut karena Lily bersikap ramah padanya.


Dia jadi malu tadi menuduh Lily adalah simpanan Angga. Bahkan mengatainya anak kuliah yang harus selesaikan kuliahnya dulu.


"Semoga saja Lily tidak sering-sering mampir ke sini. Karena aku pasti akan serba salah bersikap jika bertemu Lily lagi. Apalagi dia pasti curiga kalau aku suka dengan pak Angga" gumam Vivi.

__ADS_1


***


__ADS_2