
"Koq kita jalannya ini ke arah rumah Papa, Kak Ran?" tanya Lily saat mereka pulang dari kantor.
"Sebaiknya kita malam ini tidur di rumah Papa saja. Tadi pagi kan belum sempat bertemu Papa" jawab Ran.
"Sekalian Lily mau bicara tenang rencana lamaran Papa ke tante Gita"ucap Lily.
Jalanan belum terlalu macet. Karena masih agak siang belum waktunya jam pulang kantor. Lagipula jarak rumah Papa dari kantor tidak terlalu jauh.
Mobil mereka memasuki gerbang yang sudah dibukakan oleh pak Aji. Nampak teh Yuni sedang memetik buah mangga yang ada di halaman rumah. Begitu melihat Lily datang, teh Yuni langsung menghampiri.
"Tadi pak Agan bilang neng Lily mau pulang. Teh Yuni diminta buatkan rujak buat neng" kata teh Yuni sambil menenteng sekeranjang buah mangga yang mengkal.
"Besar-besar sekali buah mangganya, teh. Tadi pagi koq Lily tidak lihat ya kalau mangganya berbuah" ucap Lily.
Lily tertawa kecil kegirangan. Tadi saat Ran mengabari mau pulang ke rumah Papa, Lily menelepon Papa terlebih dahulu. Papa mengabari Lily bahwa pohon mangga sedang berbuah lebat.
"Aaah senangnyaa banyak buah mangga. Lily mau buat rujak nanti" kata Lily tadi sewaktu menelepon Papa.
Tapi rupanya Papa langsung mengabari ke rumah untuk membuatkan rujak mangga. Papa memang sangat perhatian.
"Neng Lily tadi mungkin tidak terlalu memperhatikan" sahut teh Yuni.
"Bisa jadi teh. Padahal buahnya selebat itu. Bisa-bisanya Lily tidak lihat" Lily bergumam seraya memandang pohon mangga yang buahnya lebat.
"Teh Yuni buatkan dulu rujaknya, Neng. Neng Lily kalau mau dibuatkan apa-apa telpon saja ke dapur ya" ucap teh Yuni membuat air liur Lily terbit di lidah seolah merasakan asam segarnya buah mangga.
Lily dan Ran segera masuk ke dalam rumah. Tidak lupa Lily ke dapur mengantarkan kotak bekal makan siang yang tadi dia dan Ran bawa. Pagi tadi saat sampai di rumah Papa, Lily sempat membuat salad sayuran dan telur rebus untuk bekal.
Sesampai di kamar, Lily mendengar suara air di kamar mandi. Rupanya Ran langsung mandi.
Lily mengambil baju Ran dan bajunya dari lemari lalu meletakannya di atas tempat tidur.
Sambil menunggu Ran selesai mandi, Lily duduk di sofa lalu menyalakan televisi. Dipilihnya saluran film kartun anak-anak. Acaranya adalah tayangan film Penguins of Madagascar. Lily memang penyuka film kartun. Meskipun sudah bukan anak-anak, tapi dia tetap menyukai semua film kartun.
"Lily...bangun sayang. Kamu belum shalat Ashar" Ran mengelus tangan Lily dengan lembut.
Lily membuka matanya perlahan. Rupanya dia tertidur sewaktu menonton televisi.
"Kamu ditonton para penguin tuh jadinya" seloroh Ran seraya menunjuk layar televisi yang menampilkan empat penguin yang sedang berlarian.
Lily tertawa dibuatnya.
__ADS_1
"Tuuh kan, Lily tuh kalau di rumah bawaannya nyender sedikit langsung tidur." ucap Lily malu.
"Tidak apa-apa, sayang. Justru aku senang kalau kamu cukup istirahat. Tadi tidak tega sebenarnya bangunkan kamu. Tapi kamu belum shalat Ashar" sahut Ran.
Lily segera bangun dari sofa.
"Terimakasih sudah bangunkan Lily, Kak. Lily mandi dulu ya" Lily bergegas masuk ke kamar mandi sambil membawa bantal sofa yang dia peluk sedari tadi. Lalu keluar lagi dari kamar mandi mengembalikan bantal ke sofa sambil terkekeh.
Ran hanya tertawa melihat tingkah Lily.
Lalu kembali tertawa ketika melihat film kartun di televisi. Istrinya itu memang sangat suka film kartun. Dan Ran pun lama kelamaan sering ikut menonton menemani Lily.
***
"Rujak mangganya enak sekali. Segar dan pedasnya pas" gumam Lily sendiran. Lily tengah menikmati sepiring rujak mangga di meja dapur. Karena Ran tadi ada zoom meeting dengan Papa Adam dan beberapa staff, jadi Lily memilih turun duluan ke dapur untuk makan rujak.
"Atuh neng Lily.....makannya masa di dapur?" teriak bu Lim yang muncul di pintu dapur. Dia baru saja pulang dari supermarket belanja kebutuhan dapur.
"Bu Lim buat Lily kaget, hehehehe.." Lily terkekeh padahal dia kaget dengan teriakan bu Lim. Tapi merasa lucu karena bu Lim berteriak seolah melihat sesuatu yang aneh.
"Yuni dan bik Ijah kemana? neng Lily sendirian di dapur?" Bu Lim celingukan.
"Teh Yuni sedang mandi, bu. Kalau bik Ijah sedang bereskan ruang makan" jawab Lily.
Bu Lim melihat piring rujak di hadapan Lily. Lily makan rujak dengan lahap tanpa merasa asam sedikitpun.
"Neng Lily sedang 'isi' ?" tanya bu Lim penasaran.
Lily tersenyum seraya mengangguk.
"Alhamdulillah, iya bu Lim" jawab Lily.
"Alhamdulillah. Bu Lim senang banget dengarnya" ucap bu Lim dengan mata berkaca-kaca.
"Pantesan neng Lily gemukan sekarang. O iya, kata Yuni belakangan ini neng Lily suka cepat ngantuk, sering ketiduran di sofa, di karpet katanya. Jadi doyan makanan yang enggak biasa neng Lily makan katanya. Berarti memang bawaan hamil ya itu mah" ucap bu Lim.
"Semoga selalu sehat sampai nanti lahiran" ucap bu Lim lagi.
"Aamiin. Terimakasih, bu Lim" sahut Lily.
Sepertinya besok-besok jika dia mulai belerja dia harus bawa bekal rujak mangga setiap hari. Pikir Lily sambil melirik buah mangga yang belum dikupas di dalam keranjang dekat lemari es. Karena setelah makan rujak mangga, rasanya seperti bersemangat.
__ADS_1
Dan saat ini Lily malah merasa lapar ingin makan. Apalagi wangi empal goreng yang tadi dimasak bik Ijah masih memenuhi ruangan dapur.
"Bu Lim. Lily mau cobain empal gorengnya" ucap Lily. Bu Lim tidak menunggu lama langsung mengambilkan empal goreng di piring.
"Terimakasih, bu Lim" ucap Lily lalu bergegas menikmati sepotong empal goreng yang diletakkan di hadapannya oleh bu Lim. Itu adalah empal goreng yang sering dibuat mama. Salah satu makanan favorit semua anggota keluarga. Bu Lim yang sudah bertahun-tahun ikut dengan Mama, sudah hafal semua resep masakan yang biasa Mama buat.
Saat lidahnya memgecap rasa bumbu empal yang khas, seketika rasa rindu yang selalu tersimpan di hati Lily menyeruak dalam isak tangisnya.
Ran yang baru sampai di pintu dapur terkejut melihat Lily yang sedang terisak dengan tangan memegang garpu yang menancap di potongan daging empal goreng. Begitu juga dengan bu Lim yang sedang menyiapkan air putih hangat untuk Lily.
"Kamu kenapa menangis, sayang?" Ran memeluk Lily yang semakin kencang isakannya. Ran membantu Lily meletakkan garpu ke atas piring.
"Neng Lily kenapa? barusan habis makan rujak, katanya mau nyobain empal goreng. Kenapa atuh tiba-tiba nangis?" tanya bu Lim khawatir.
Lily malah semakin kencang isakannya menjadi tangisan tersedu-sedu.
"Kita ke kamar saja, ya. Mungkin kamu perlu istirahat" Ran menggandeng Lily membawanya ke kamar.
"Bu Lim, minta tolong bawakan air minum hangat untuk Lily, ya" ucap Ran kepada Bu Lim.
Ran sangat faham apa yang terjadi dengan Lily karena pengaruh dari kehamilannya yang membuat perasaannya lebih sensitif dan sentimental atau sangat perasa.
Sesampainya di kamar, Ran medudukan Lily bersandar di tempat tidur dan membiarkannya menyelesaikan luapan rasa sedihnya.
Satu-satunya alasan yang bisa membuat Liky menangis sesedih itu adalah rasa rindunya kepada Mamanya. Ran sudah hafal. Dan dia sangat mengerti dengan kesedihan yang Lily rasakan, apalagi di saat sedang hamil.
Ran membantu menenangkan Lily dengan memeluk dan mengusap lembut punggungnya. Lily membenamkan wajahnya dalam pelukan Ran. Tidak lama bu Lim membawakan segelas air putih hangat dan meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur.
Perlahan isakan Lily menghilang. Kemudian terdengar tarikan nafas yang teratur. Dia tertidur.
Ran dan bu Lim hanya saling pandang kemudian sama-sama tertawa pelan melihat Lily yang sudah tertidur seperti bayi.
"Ibu hamil memang kadang bawaannya kyak begini, Den" ucap bu Lim.
"Iya, bu Lim. Saya mengerti" sahut Ran.
Bu Lim bergegas kembali ke dapur. Sementara Ran masih mengusap lembut punggung Lily dan membiarkannya tetap tertidur dalam pelukannya. Dia khawatir jika dia pindahkan ke bantal, akan mengganggu tidurnya Lily.
***
Readers sayaaang.....
__ADS_1
Terimakasih untuk yang selalu setia membaca karya ini 🌹🌹🌹