Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
4. Croissant Keju Kismis


__ADS_3

Lily berdiri di depan kaca ruangan ICU tempat Papa dirawat. Dokter sedang memeriksa Papa. Papa terlihat lebih segar. Sesekali papa tersenyum kepada dokter. Mereka berbincang, nampaknya papa senang karena dokter menjelaskan kondisi papa semakin baik.


dokter dan perawat keluar ruangan. Waktu kunjungan dokter sudah selesai rupanya. Sebentar lagi keluarga boleh menemui papa walaupun tidak boleh terlalu lama.


criiing..pesan masuk di ponsel Lily. Nomor yang tidak dikenal.


"Aku kirim croissant keju kismis untuk kamu. Semoga kamu suka. Yudhistira"


Lily termenung. Ya ampun. Bagaimana mungkin, seseorang yang baru dikenalnya begitu baik hati mengirimkan makanan kesukaannya.


"Aku sampai bingung harus berkata apa. Kamu baik sekali.Terimakasih ya" ketik Lily.


"Sama-sama. Cukup habiskan saja croissantnya supaya kamu tidak bingung lagi (emot senyum)" balas Yudhistira.


"Baiklah. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu dengan rejeki yang lebih banyak.Aamiin" Lily merasa terharu.


"Aamiin. Do'a yang sama untuk kamu" balas Yudhistira.


"pengantar croissantnya sudah sampai di lobby rumah sakit" ketik Yudhistira lagi.


"Baiklah. Aku akan ambil sekarang" Lily segera beranjak.


***


Lily duduk di kursi tunggu seraya memegang kotak kue. Kenapa besar sekali. Pikir Lily seraya membuka kotak perlahan. Mata Lily terbelalak melihat isinya. Banyak sekali. Dan sepertinya ini memang croissant buatan kafe Blume kesukaan Lily.


Ada sebuah kartu di dalamnya


'Dear Bunga Lily, Semoga suka yaa'


Yudhistira


Lily menggigit croissantnya. Waaah benar sekali ini adalah buatan kafe Blume.


Bagaimana caranya Yudhistira bisa mendapatkan croissant ini. Jangan-jangan dia sengaja memesan dari Jakarta.


Lily memotret kotak yang berisi banyak croissant beserta kartu ucapannya tersebut dan mengirimkannya di chat.


"Terimakasih croissantnya. Aku sangat suka. Tapi aku bisa kekenyangan kalau sebanyak ini (emot tersipu)" ketik Lily. Lalu segera menyimpan ponselnya di tas. Karena Pak Yan memberitahu Lily bahwa papa sudah boleh ditemui.


Lily bergegas masuk dan memeluk Papa setelah melakukan protokol kesehatan sebelum memasuki ruangan.


"Lily kangen Papaaaa"


Papa tertawa pelan. "Papa juga kangen gadis manja kesayangan papa"


"kata dokter, papa besok sudah boleh masuk kamar perawatan" ucap papa senang.


"Sekarang papa bagaimana? masih ada keluhan rasa sakitkah pa?" Lily mengusap tangan papa lembut.


"Papa sudah merasa lebih baik. Sakit di dada sudah tidak terasa. Hanya tubuh papa masih terasa lemas. Itu saja. Selebihnya tidak ada keluhan lagi" kata Papa.


"Papa jangan terlalu capek ya. Kan sekarang ada kak Angga yang bantu Papa mengawasi pabrik. Papa harus sehat yaaah" Lily meletakan tangan papa di pipinya.


"Pekerjaanmu bagaimana? kamu tidak masuk kantor sekarang?"


"Papa tenang saja soal pekerjaan Lily. Pak Bram yang menyarankan Lily untuk ajukan cuti sampai Papa pulih. Lagipula pekerjaan masih bisa Lily kerjakan dari sini"


"sampaikan salam Papa untuk pak Bram. Baik sekali dia ke Lily" ucap Papa.


"Baik, pa. Nanti Lily sampaikan"


"yang penting sekarang papa sehat"


Papa tertawa pelan.


"Rakha bagaimana kabarnya?"tanya Papa

__ADS_1


"Dia sedang ada tugas ke Bali hari ini, Pa. Sekitar seminggu. Jadi tidak bisa menjenguk Papa" Lily berusaha ceria.


"sudah ah. Papa fokus sembuh saja. Lily mau, papa sehat lagi" kembali Lily mengusap tangan papa lembut.


Seterusnya papa bercerita tentang menu makanan di rumah sakit, tentang dokter dan perawat yang baik.


Dan Lily senang papa sudah ceria lagi.


Kak Angga berdiri di depan kaca ruangan seraya tersenyum. Menunggu gantian masuk bertemu Papa.


"Padahal Lily masih mau nemenin Papa" Lily merajuk.


"Semoga Papa bisa segera pulang secepatnya. Jadi kalau ngobrol kita bisa bareng-bareng. Tidak usah bergantian" Papa tersenyum mendengar kata-kata Lily.


"seru banget ngobrolnya, sampai ga sadar kalau kak Angga dari tadi nungguin" Ucap Ka Angga saat Lily keluar ruangan.


Lily terkekeh. " Maaaaf, kakakku sayaang" Lily mencium tangan Ka Angga.


Sejak Lily sampai di Bandung belum sempat bertemu ka Angga. Selain sibuk dengan urusan pabrik, kak Angga juga sudah punya keluarga yang harus diperhatikan.


***


Lily membuka ponselnya. Aaapppaaa???


Group chat empat sahabat ramai soal croissant. semua memanggil-manggil Lily sedari tadi.


Lily mengecek berkali-kali. Ternyata dia salah kirim foto tadi. Seharusnya dia kirim ke Yudhistira, kenapa kekirim ke group chat.


Mungkin karena tadi terburu-buru mau menemui Papa.


Aaah teledor sekali, batin Lily mentertawakan diri sendiri.


Lily kembali mengirimkan foto dan pesan ucaoan terimakasih ke Yudhistira. Kali ini sudah dipastikan dia tidak salah kirim.


Group chat:


Wini : Lilyyy salah kamar!!!!


Anna: Lily, aku mau donk...pls pls


Lita : Eeeh aku baru ngeh, itu pengirim kuenya namanya Yudhistira?


Anna: Lily koq menghilang siiih, ga tanggung jawab deeh bikin orang kepingin ajaaa


Wini : "Lilyyyyyy...siapakah Yudhistira????


Lita: Waaah ada penggemar baru sepertinya. sampai kirim croissant sebanyak itu


Anna: Sepertinya enak. Lily aku mau cobaaa


Wini : siapa itu Yudhistira??? ayo cerita. Aku penasaran


Wini: Rakha bagaimana, Ly? Jangan sampai dia patah hati


Anna: Oh iya, Tadi pagi aku antar adikku ke Bandara, sepertinya aku melihat Rakha. Tapi berdua dengan seorang perempuan


Lita: Anna jangan bicara yang aneh-aneh deh. Seram iiih


Wini: Serius, Na? Salah lihat mungkin Na.


Lita: iya, kita kan hanya beberapa kali saja bertemu Rakha. Siapa tahu hanya mirip


Anna: Tapi sepertinya itu benar Rakha. Dia juga melihatku, Tapi dia menghindar dan segera masuk ke ruangan check in. Langsung menghilang kabur dia


Wini: Semoga kamu salah lihat ya Na


Anna: Tadi aku sempat minta tolong adikku fotokan mereka kalau kebetulan melihat di tempat check in

__ADS_1


Lily: Maaaaf baru buka group. Aku tadi ke ruangan papa. Maaf juga salah kirim foto yaaa hihihi


Lily: croissantnya enak Na, beneran deh


Lily: Yudhistira itu temanku , Wini sayaaang


Lita: akhirnya yang ditunggu muncul juga. kekenyangan makan croissant, Ly? (emot terbahak)


Lily: Anna betul sepertinya, itu Rakha. Dia mau berangkat bulan madu ke Bali dengan istrinya. Kemarin dia bilang ke aku seperti itu


Lily: Seminggu yang lalu dia menikah dengan mantannya. Katanya terpaksa karena mantannya mengancan mau nekat memotong nadinya pakai gunting


Anna, Lita dan Wini bersamaan: Appaaaaa???


Anna: kenapa ga dibiarin aja potong nadinya. Kan yang dosa dia sendiri. Hadduuh dasar aja Rakhanya memang pengecut


Anna: Atau bisa jadi akal-akalan dia saja


Lita: Jahat banget Rakha ke Lily. Aku ga terima Lily diperlakukan begitu


Wini: Lily ini serius? soal Rakha?


Lily: Iya Win. Nanti kalau kita ketemu aku cerita


Wini: Lilyyyyyyy are you oke now??


Lily: Aku oke, harus selalu oke. Demi papa demi keluargaku, demi kaliaaan, dan pastinya demi diriku sendiri


Lita: Gila, ya. Rakha. Tega banget. Sumpah kalau ketemu mau aku hajar


Anna: Lilyy sayaaang. peluuk. Maaf yaa aku tadi keceplosan. Habis aku tadi kepikiran terus setelah lihat Rakha jalan sama perempuan lain.


Lita: Kamu kan memang kalau bicara seringnya ga disaring dulu Na


Anna: kan aku tadi sudah minta maaf


Lily: ga apa-apa, Na. Aku tahu koq , itu karena kamu sayang sama aku kaann???(emot kiss)


Anna: aku sayang kamu, Lily


Wini: Kenapa ga cerita ke kita, Ly?


Lily: rencananya sabtu besok kalau kita ketemu aku mau cerita. Tapi kalian sudah keburu tahu


Lily: Kalian tenang saja. Aku tetap baik-baik saja tanpa dia. Memang bukan jodoh. InsyaaAllah aku ga apa-apa


Lita: Ya Tuhaaan. Lily sekuat itukah kamu??


Lily: BTW, ini enak banget lhoooo (kirim foto selfie sambil gigit croissant)


Wini: Lilyyyy..bisa-bisanya masih bahas rasa croissant


Anna: Besok sabtu sisakan ya, Ly. aku mau coba


Lita: Annaaa kamu tuh yaaa


Lily: hehehehe..iya Anna. aku simpankan untuk kamu


Wini:Aku mau peluuukk sayang akuu si imuutt iniii


Lily mengusap perlahan air matanya yang jatuh di sudut mata.


Sulit menjelaskan tentang perasaannya saat ini. Bahkan kepada dirinya sendiri sekalipun.


Dia bukan sedih karena patah hati. Tapi soal harga diri.


***

__ADS_1


__ADS_2