Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
26. Wini dan kisahnya


__ADS_3

Hari ini Lily sudah pulang dari rumah sakit. Karena keadaannya sudah membaik. Sakit di kepala dan perut Lily sudah tidak terasa. Namun Rachel menyarankan agar Lily nanti memeriksakan keluhan sakit di perutnya jika terasa lagi. Lily pulang ditemani teh Yuni dan kak Angga.


Tadi ada Wini menjenguk Lily ke rumah sakit, Wini sudah seminggu pindah ke Bandung. Karena suaminya ditugaskan ke Surabaya dari kantor, sedangkan Wini masih belum bisa memutuskan akan ikut atau tidak ke Surabaya. Jadi sementara Wini kembali tinggal di Bandung di rumah orangtuanya. Saat Wini menceritakan itu, Lily merasakan ada yang disembunyikan Wini. Tapi karena tadi sedang di rumahsakit, Lily memilih percaya saja dengan apa yang dikatakan Wini.


Setelah mengantarkan Lily dan Teh Yuni sampai rumah, kak Angga dan Papa langsung berangkat ke kantor. Karena hari ini ada meeting bersama Papa dan calon pelanggan dari Medan. Ka Andin sedang menginap di rumah orangtuanya di Jakarta. Karena semenjak hamil, Ka Andin memang butuh didampingi oleh Mamanya. Rumah sepi. kebetulan Wini sedang tidak ada kegiatan dan ingin menemani Lily. Jadi tadi Wini menyusul ke rumah mengendarai mobilnya sendiri.


Lily sedang duduk di balkon kamarnya menikmati suasana sore. Wini duduk di depannya. Keduanya menikmati angin sore dalam diam. Masing-masing sedang sibuk dengan pikirannya.


"Sebenarnya ada apa antara kamu dan suamimu?" tanya Lily memecah hening. Wini menoleh sebentar, lalu tersenyum.


"Kenapa kamu selalu sepeka ini sih, Ly? seolah kamu bisa merasakan apa yang sedang terjadi padaku" tanya Wini bergumam, seraya menahan air mata yang hendak tumpah.


Lily meraih kotak tissue dari rak di sebelahnya disamping pot tanaman hias.


"Menangis saja jika kamu sedih"ucap Lily


"Kadang kamu harus mengakui bahwa kamu tidak selamanya kuat menyimpan beban hati" Ucap Lily lagi.


"Jamie selingkuh, Ly" Wini terisak."Sudah ke sekian kalinya. Kali ini dia sudah menikahi wanita itu secara diam-diam"


"Sewaktu aku pulang ke Bandung tiga bulan lalu, itu sebenarnya untuk mengurus proses perceraian di pengadilan Agama. Dan aku pulang sendiri, tidak bersama Jamie. Karena dia tinggal di Surabaya" Wini menunduk sambil menghapus sisa air mata di pipinya.


Lily bangun dari duduknya lalu memeluk Wini.


"Kemungkinan minggu ini sudah keluar putusannya" lanjut Wini.


"Aku tahu kamu pasti sudah sabar banget menghadapi Jamie. Tetap sabar ya Wini. Pasti suatu saat ada lelaki baik yang sudah disiapkan oleh Yang Maha Kuasa untukmu"


"Kami memang tidak saling mencintai, kami menikah karena dijodohkan orangtua. Dia bahkan belum pernah menyentuhku sekalipun selama kami menikah" Wini berucap dengan pandangan nyaris kosong. Lily terhenyak mendengar kata-kata Wini. Lily bahkan tak mampu berkata-kata lagi.


"Aku tidak sedih bercerai dari dia. Aku hanya malu, Ly" ucap Lily.


"Malu kepada keluarga dan teman-teman. Aku menikah sudah dua tahun lebih, Ly. Belum memiliki anak. Pasti semua mengira perceraian ini terjadi karena aku tidak bisa memiliki anak"

__ADS_1


"Jangan pikirkan hal yang belum pasti. Kamu pikirkan kebahagiaanmu saja, Wi"ucap Lily.


"Keluarga dan teman-teman semua sayang kamu. Tidak akan berpikiran yang menyalahkan kamu"Lanjut Lily.


"Tapi orangtua Jamie sudah tahu permasalahannya. Waktu itu Jamie memaksa menikahi wanita itu, Ly. Karena orangtuanya tidak setuju, akhirnya dia menikah diam-diam dan menetap di Surabaya bersama istri barunya sejak setahun yang lalu" ucap Wini.


"Awal-awal menikah, Jamie sering memukulku jika aku mengingatkannya untuk berhenti mabuk dan bermain perempuan. Lama-lama aku sudah tidak perduli lagi dengan apa yang dia lakukan" Wini berkata, matanya menerawang jauh.


Selama ini Lily mengira pernikahan Wini sangat harmonis. Karena Wini selalu ceria. Dia juga sering memposting hadiah-hadiah pemberian suaminya di medsos.


"Aku berusaha terlihat bahagia di mata semua orang. Tapi itu sangat melelahkan, Ly. Saat ini aku sudah tidak sanggup" Wini menatap Lily.


"Aku memesan bunga atau hadiah-hadiah untuk diriku sendiri dan seolah Jamie yang mengirimnya untukku. Kuposting di medsos. Kutulis caption betapa bahagianya aku memiliki dia. Rasanya capek seperti itu" Wini menghela nafas dengan berat.


Lily mengusap tangan Wini dengan lembut. Dia tahu betapa saat ini Wini merasa sedih.


Lily tadi masih merasakan sedikit ketakutan atas kejadian kemarin yang menimpanya. Tiba-tiba ketakutan itu seolah hilang saat mendengar cerita Wini. Masalah wini lebih berat. Betapa selama ini Wini hidup dalam kesedihan.


"Sekarang saatnya kamu memikirkan kebahagiaanmu, Wi" ucap Lily lagi. "Allah pasti akan berikan kebahagiaan kepadamu di waktu yang tepat" Lily tersenyum kepada Wini.


"Selalu semangat untuk meraih kebahagiaan ya, Wi" Lily memgambilkan sehelai tissue untuk Wini, karwna air mata Wini kembali menetes.


"Maaf ya. seharusnya aku kesini menghiburmu. Menemanimu. Malah curhat" Wini berkata pelan seraya menyeka airmatanya.


"Tenang saja, aku tidak apa-apa. Aku sehat, Wi"sahut Lily.


"Aku rasa Rakha juga tidak akan berani berbuat macam-macam lebih dari apa yang dia lakukan kemarin"ucap Lily.


"Tapi perbuatan dia kemarin itu sudah tindakan kejahatan, Ly. itu sama saja menculik kamu. Juga memaksa kamu menandatangani surat lunas hutangnya."Ucap Wini. Rasa sedihnya memudar.


"Menurut Bang Rico, Nanti bang Rico yang urus soal Rakha supaya dia tidak berani berbuat macam-macam lagi ke aku" Kata Lily.


"Bang Rico, siapa Ly? " tanya Wini.

__ADS_1


"Sahabatnya Kak Angga Wi. Juga teman dekatnya Kak Ran"Jawab Lily.


"Kan Ran, siapa lagi dia?"Wini masih bingung.


Lily tertawa. Dia lupa memberitahu.


"Kak Ran itu Yudhistira. Nama dia kan Pangeran Yudhistira, keluarga dan teman-teman dekatnya memanggilnya Ran. Jadi aku juga memanggilnya Kak Ran"Jawab Lily.


"Oooh begitu. Berarti Kak Ran mu itu seumuran kak Angga?"Tanya Wini. Lily mengangguk.


"o iya, kita semua penasaran loh dengan sosok Kak Ran mu itu. Lita dan Anna bahkan sampai menebak-nebak bahwa Kak Ran mu sepertinya seorang yang sangat dewasa, pintar, yang berkacamata dan berwibawa seperti seorang dosen"seloroh Wini. Wajahnya sudah tidak semendung tadi. Wini memang tipe ceria yang pandai menyembunyikan kesedihannya.


Lily tertawa. Dia memang tidak pernah mempublish foto Ran di medsosnya. Medsos yang dia miliki hanya Whatsapp.


Sebenarnya kemarin Ran bermaksud mempercepat kepulangannya dari Korea. Namun Lily melarangnya. Karena Lily juga sudah baik-baik saja. Lily tidak mau merepotkan Ran dan keluarganya. Lily juga berpesan agar kejadian kemarin tidak usah diceritakan ke keluarga Ran. Supaya tidak membuat khawatir banyak orang.


"Besok aku fitting baju pengantin, Wi. Kalau kamu tidak sibuk, maukah menemaniku?"tanya Lily ke Wini.


"Dengan senang hati, Ly. Kebetulan mama papaku sedang di Garut selama beberapa hari ini. Jadi rumah juga sepi. Lebih baik aku menemani kamu" jawab Wini


"Menginap di sini ya malam ini?" pinta Lily. Wini mengangguk. Lily tersenyum senang.


"sebentar aku telepon bik Nah untuk siapkan pakaian dan keperluan ku di rumah, biar diambil kurir online" ucap Wini lalu segera menelepon orang rumahnya.


"O iya, aku lupa. Tadi aku bawakan kue untukmu. Tapi kutinggal di mobil. Sebentar kuambil dulu"Wini bergegas keluar dari kamar Lily dan turun menuju mobilnya di halaman.


Suara klakson mobil di luar depan gerbang rumah. Lily mendongak. Itu mobil Bang Rico. Pak Aji, yang sedang memangkas rumput liar disela-sela tugas menjaga rumah, segera membukakan gerbang.


Berarti sebentar lagi Kak Angga dan Papa pulang. Bang Rico biasanya sudah membuat janji dengan Papa atau kak Angga. Pikir Lily. Lalu segera beranjak masuk. Lama lama dia merasa kedinginan duduk di luar.


Lily duduk di karpet di samping tempat tidurnya di depan televisi, menikmati segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng buatan Bik Ijah.


***

__ADS_1


__ADS_2