
Malam ini Ran sedang ada meeting dengan beberapa stafnya terkait rencana pembukaan outlet Curtis Man dan Curtis Lady di beberapa pusat perbelanjaan yang baru dibangun di wilayah jabodetabek. Mereka sekarang berada di ruang meeting di lantai dua kafe Blume. Lily menunggu di ruang kerja Ran.
Kafe Blume adalah salah satu kafe favorit untuk nongkrong di Jakarta Selatan. Tidak hanya anak muda, orang tuapun banyak yang menjadi pelanggan. Selain tempatnya nyaman, menu yang menarik dengan rasa yang sudah tak diragukan lagi kwalitasnya, juga ada penampilan live music di setiap Rabu malam dan Sabtu malam. Live music ini memang baru ada sejak kafe dikelola oleh Ran. Dan ini terbukti meningkatkan popularitas dan penghasilan kafe.
Sekarang adalah Rabu malam. Berarti ada Live music malam ini. Lily keluar dari ruangan Ran dan melihat ke bawah. Suasana di bawah cukup ramai. Setengah dari seluruh meja yang tersedia sudah terisi.
"Pesanlah apapun yang kalian suka. Semua free, saya sudah info ke para staf di sini. Have fun!!" Ran bersama para stafnya keluar dari ruangan meeting lalu mempersilahkan para staf untuk turun ke meja yang sudah dia pesan untuk mereka. Para staf nampak senang. Salah satu dari mereka ada Jamie. Jamie akan ditugaskan di area Tangerang kali ini. Jamie menatap Lily dengan canggung, karena dia sekarang tahu kalau istri bossnya adalah sahabat Wini. Namun Lily bersikap biasa saja. Lalu tersenyum kepada Jamie. Karena permasalahan antara Jamie dan Wini adalah urusan pribadi mereka. Lagipula mereka sudah menyelesaikan permasalahan mereka dengan baik-baik.
"Apakah temanmu sudah datang, Jamie? tadi kamu bilang mau bertemu temanmu di sini" Ran bertanya pada Jamie.
"Sebentar lagi sampai. Baru saja dia mengabariku" jawab Jamie.
"Oke, pak Ran dan bu Lily. Saya turun lebih dulu" ucap Jamie pamit.
"Silahkan.." sahut Lily dan Ran bersamaan.
"Rupanya kau bosan di dalam ruangan, sayang?" Ran menghampiri Lily.
"Bukan bosan. Aku tadi mau lihat penampilan live musicnya. Tapi ternyata belum mulai" jawab Lily.
"Sebentar lagi, jam delapan mulainya. Makanya aku selesaikan meetingnya sebelum jam delapan. Supaya kita semua bisa menikmati penampilan live musicnya" ucap Ran.
"Ayo, kita turun. Aku sudah memesan meja untuk kita" Ran menggandeng lengan Lily.
Mereka duduk di kursi favorit Lily, di meja dekat jendela.
"Apakah kak Ran tahu jika Jamie adalah mantan suami Wini?" tanya Lily.
"oh ya?" tanya Ran terkejut. Dia menatap ke arah Jamie yang sedang sibuk menjawab telepon di mejanya. Jamie memang tidak bergabung bersama teman-temannya yang lain. Karena dia ada janji dengan temannya.
"Aku dan Papa sebenarnya tidak mau terlibat dengan kehidupan pribadi para pekerja di luar jam kerja. Selama mereka tidak mencoreng nama baik perusahaan. Tapi berdasarkan apa yang kulihat selama ini, Jamie memang tipe pria yang senang hura-hura. Pergi ke club, minum alkohol dan bergaul bebas dengan perempuan. Sangat tidak cocok dengan Wini yang pendiam" ucap Ran berkata pelan di kuping Lily.
__ADS_1
"Mereka dulu dijodohkan oleh orangtua. Namun Jamie selalu berlaku kasar kepada Wini dan dia menikah diam-diam dengan istrinya yang sekarang. Akhirnya Wini sudah tidak tahan, akhirnya menggugat cerai Jamie. Karena mereka memang tidak saling mencintai" Lily menjelaskan.
"Sangat disayangkan. Pernikahan dilakukan karena paksaan" gumam Ran.
"Semoga saja mereka berdua segera menemukan belahan jiwa mereka yang sebenarnya" ucap Lily.
"Aku berharap Wini berjodoh dengan bang Rico" Lily berkata dalam hati. Dia rasa bang Rico dan Wini saling menyukai. Dan Lily yakin bahwa bang Rico akan menjaga Wini dengan sangat baik.
"Sayang, lihatlah temannya Jamie. Bukankah itu Rakha?" Ran mengarahkan pandangannya ke meja Jamie. Nampak Jamie bersalaman dengan Rakha yang baru saja tiba.
"Iya, betul. Itu Rakha" jawab Lily.
"Ternyata mereka saling kenal" bisik Ran kepada Lily.
"Biarkan saja selama tidak menganggu kita" lanjut Ran menenangkan Lily. Lily mengangguk
"Ayo kita nikmati hidangan makan malam kita, sayang" Ran memesankan baked salmon untuk mereka berdua. Beserta keripik kentang dan sayuran hijau yang tersaji di atas piring mereka.
"Mmmhhh...enak sekali. Aku suka" ucap Lily pelan setelah selesai menelan makanannya.
Mereka tidak tahu bahwa Rakha memperhatikan mereka dengan penuh rasa cemburu. Rakha tidak menyangka bahwa akan melihat mereka di sini.
Rakha tahu, Lily memang sangat menyukai makanan di kafe ini. Kafe ini tepat di sebelah kantor tempat Lily dulu bekerja. Dia sering bertemu dengan Lily di sini jika janji makan siang bersama, atau menunggu Lily pulang kerja
"Itu bossku bersama istrinya. Mereka sangat serasi" Jamie memberitahu Rakha. Ketika dia melihat Rakha menatap Ran dan Lily tanpa berkedip. Hati Rakha terasa panas dibuatnya.
"Selama ini kalau memilih wanita, aku pasti memilih yang seksi seperti Angel. Tapi melihat istri bossku, aku seperti disadarkan bahwa wanita yang ideal menjadi istri yang baik adalah yang seperti itu. Bicara sopan dan lembut kepada suaminya, yang memberikan ketenangan hati dan mendinginkan kepala saat bersamanya. Yaaa dengan syarat, kita sebagai laki-laki juga harus baik. Harus menjaga istri dan sayang kepada mereka dengan tulus" ucap Jamie. Dia teringat Wini. Mantan istrinya yang pendiam dan tidak banyak tingkah. Selalu bersikap baik dan tulus padanya meskipun dia sangat buruk memperlakukan Wini.
"Bossku seumuran dengan kita. Tapi dia sangat berwibawa. Orang yang sangat kaya. Tapi dia tidak pernah hura-hura. Tidak sombong. Hidupnya sangat teratur dan normal. Begitupun istrinya, sudah kaya sejak lahir. Tapi sikapnya sangat sederhana. Aku sangat mengagumi mereka" kata-kata Jamie membuat Rakha merasa malu.
"Selamat malam semuanya..semoga semua yang ada di sini sedang dalam keadaan sehat dan bahagia yaaa" suara wanita menggunakan mikrophone. Rupanya live music akan dimulai. Dia adalah Sarah Dea, penyanyi yang biasa tampil di kafe Blume.
__ADS_1
"Seperti Pak Ran Curtis dan Ibu Lily, pengantin baru yang pastinya selalu bahagia...selamat malaaam" Sarah berbicara kepada Ran dan Lily. Semua mata tertuju kepada mereka. Ran dan Lily tersenyum.
"Naaah...untuk pelanggan setia kafe Blume tercinta. Khusus malam ini, semua menu diberikan secara gratis oleh pemiliknya, Pak Ran curtis" ucap Sarah lagi disambut tepuk tangan riuh dan wajah gembira para pengunjung.
"Terimakasih pak Ran..saya mewakili semuanya. Tapi fee saya bernyanyi tidak gratis kan pak???" Sarah berseloroh, para pengunjung tertawa.
Ran berdiri dan menatap semua pelanggan dengan senyum hangatnya.
"Terimakasih sudah menjadi pelanggan kafe Blume. Semoga anda semua suka dengan menu yang kami sediakan di sini. Selamat menikmati" ucap Ran menganggukkan kepalanya.
Semua bertepuk tangan.
Rakha nyaris terlonjak. Dia sangat terkejut mengetahui bahwa kafe ini adalah milik suaminya Lily. Bagaimana mungkin kafe ini juga miliknya? Bagaimana mungkin...bagaimana mungkiin...Dia jadi merasa stress.
"Lihatlah, dia sangat baik. Bossku memang hebat" Jamie kembali memuji Ran. Rakha merasa menjadi manusia paling menyedihkan saat ini.
"Ayo, pesanlah apa saja yang kau mau. Setelah selesai makan. Nanti kau cerita permasalahanmu" ucap Jamie. Temannya ini sepertinya sedang banyak masalah. Terlihat dari wajahnya yang kusut dan sangat stress. Duduk saja seperti tidak nyaman.
"Sebuah lagu untuk anda semua . Lagu ini permintaan pak Ran Curtis untuk istri tercintanya....True colors dari Cyndi Lauper" ucap Sarah.
Suara merdu Sarah membuat suasana menjadi romantis.
"I see your true colors....And that's why I love you..So don't be afraid to let them show...Your true colors, true colors.....True colors are beautiful....Beautiful, like a rainbow" penggalan lirik lagu tersebut.
Ran menggenggam tangan Lily seraya tersenyum penuh cinta. Lily merasa bahagia. Dicintai apa adanya oleh laki-laki yang juga dicintainya.
Di meja lain, Rakha nampak gelisah. Dia tidak dapat menahan rasa cemburu melihat Ran dan Lily yang sangat bahagia. Dia tahu, ini adalah lagu kesukaan Lily.
"Lagunya sangat tidak pas untuk kita berdua. Seharusnya kita ke sini membawa pasangan kita juga" Jamie tertawa. Apalagi beberapa teman kantornya yang duduk bersama-sama di meja lain juga menatapnya sambil menahan tawa. Tentu saja mereka ingin tertawa. Lihatlah, dia duduk satu meja dengan teman prianya diiringi sebuah lagu romantis. Aaah sangat menggelikan.
***
__ADS_1