
"Senangnya acara hari ini bisa terlaksana dengan baik dan lancar" Rico berdiri di atas panggung. Sesaat setelah lagu dari Unique Band berakhir.
"Kesuksesan acara ini tidak lepas dari peran seluruh staff hotel Ferien dan pastinya sosok yang selalu mendampingi saya dengan penuh kesabaran, Wini" ucap Rico mengarahkan pandangannya ke Wini. Diikuti pandangan semua hadirin dan sorot kamera. Wini yang duduk di kursinya berdiri dan membungkukkan badannya sedikit.
"Silakan naik ke atas panggung, bu Wini" pembawa acara mempersilakan Wini. Wini agak bingung, lalu dia menatap Rico. Rico menghampiri Wini dan membimbingnya ke atas panggung.
"Aku tidak diminta ucapkan sambutan kan, bang?"bisik Wini bertanya.
"Aku tidak punya persiapan soalnya" lanjut Wini.
"Tidak...tenang saja" Rico menepuk tangan Wini pelan.
Sementara itu, Lily sudah tidak dapat menahan rasa harunya. Dia menantikan detik-detik Rico melamar Wini. Di atas meja di depannya sudah tersedia mic untuk bernyanyi.
Tiba-tiba lampu padam. Para tamu menjadi panik.
"Koq mati lampu?. Tapi seharusnya sebentar lagi beralih ke genset. Semoga para tamu tidak panik" Wini berkata kepada Rico. Tapi tidak ada suara. Samar-samar Wini melihat Rico berjongkok. Wini kebingungan melihat Rico berjongkok.
"Apakah ada sesuatu milik bang Rico terjatuh?" tanya Wini dalam hati.
Lampu menyala kembali. Rico berjongkok di depan Wini dengan sebuah kotak berisi cincin bertahtakan berlian.
Wini terkesiap menatap Rico.
"Adinda Wini Renata, maukah menjadi istriku?" Rico menatap Wini penuh harap.
Pada tamu riuh gembira dan haru. Membuat Wini merasa membeku di tempatnya.
"Mauu....maaaauuu..maaauuu" pembawa acara diikuti para kru televisi dan sebagian tamu yang masih muda riuh menyemangati Wini. Lalu semua kembali terdiam menunggu jawaban Wini.
Wini menghela nafas dalam. Dia tidak menyangka Rico akan melamarnya. Terlebih di depan banyak orang dan diliput televisi, juga saluran live akun instagram hotel. Rasanya dia ingin menangis dulu menikmati rasa haru bahagianya. Tapi dia harus menjawab. Bukan karena Rico memiliki banyak kekayaan. Tapi selama hidupnya, dia tidak pernah menemukan laki-laki yang memperlakukannya sebaik Rico. Selain Papa dan adiknya.
"Iya, saya mau" Wini menganggukkan kepalanya. Lalu Rico meraih tangannya dan menyematkan cincin di jari manis tangan kiri Wini. Semua bertepuk tangan. Suasana haru dan bahagia sepertinya menular ke semua tamu yang hadir.
__ADS_1
"Terimakasih, ya" ucap Rico menggenggam tangan Wini erat. Mata Wini berkaca-kaca. Tiba-tiba dia merasa takut jika ini semua adalah mimpi. Karena semua ini sangat istimewa untuknya. Jika ini hanyalah mimpi, dia berharap tidak bangun dari mimpi ini.
Seluruh hadirin bertepuk tangan dengan meriah. Lily meneteskan airmatanya. Orangtua Wini nampak menahan haru melihat putri mereka diperlakukan dengan sangat istimewa oleh laki-laki yang benar-benar mencintainya. Orangtua Rico merasa lega karena akhirnya anak bungsu mereka sekarang semakin baik dan menemukan wanita yang tepat.
"Aku bukan mimpi kan, bang?" Wini mencubit tangannya. Rico terkekeh melihatnya.
"Aku sayang kamu, Wini" ucap Rico dengan tulus. Wini mengangguk malu.
"Terimakasih, bang Rico. Aku juga sayang bang Rico" sahut Wini masih tertunduk malu.
Alunan musik mulai terdengar lagi. Lampu kembali padam. Sebuah lampu menyorot ke arah area di bawah panggung. Lily berdiri di sana sambil tersenyum menatap Wini dan Rico. Tadi Ran membantu Lily berjalan menuju dekat panggung.
Lily mulai bernyanyi. Para tamu bertepuk tangan. Lampu pun dinyalakan lagi.
A Thousand Years-nya Christina Perri.
๐ถ Heart beats fast (Jantungku berdebar kencang)
Seketika air mata Wini bergulir tak tertahan lagi.
๐ถ How to be brave (Bagaimana agar berani)
How can I love when I'm afraid to fall? ๐ถ (Bagaimana bisa aku cinta saat aku takut jatuh?)
๐ถ But watching you stand alone (Namun melihatmu sendirian)
All of my doubt suddenly goes away somehow ๐ถ (Segala bimbangku mendadak hilang)
One step closer ๐ถ (Selangkah lebih dekat)
"Lagu ini untuk sahabatku Wini dan abangku Rico...Semoga kalian selalu bahagia bersama" ucap Lily di sela-sela bernyanyi.
Wini menatap Lily dengan mata basah. Rico menggenggam erat tangan Wini. Lalu meraih tissue yang diberikan staffnya dan mengusap air mata Wini perlahan. Tanpa dia sadari matanya pun mulai terasa lembab dan sepertinya air mata sudah bertengger di sudut matanya. Kini Wini yang mengusap air matanya. Mereka saling bersitatap dalam senyuman bahagia.
__ADS_1
๐ถ I have died every day waiting for you (Tiap hari aku telah mati karena menantimu)
๐ถ Darling don't be afraid (Kasih jangan takut)
I have loved you... forย a thousand years ๐ถ (Aku telah mencintaimu ribuan tahun)
I'll love you for a thousand more ๐ถ (Aku kan mencintaimu ribuan lagi)
Ran, Papa dan Angga ikut terharu melihat Rico yang sekarang sangat dewasa dan bertanggungjawab. Mereka senang Rico memilih Wini. Mereka juga tenang karena wanita yang dipilih Rico adalah orang yang bisa membuat Rico semakin baik.
Ran juga sangat terkejut dan terpesona dengan suara Lily. Dia memang pernah mendengar Lily bernyanyi. Suaranya bagus. Tapi itu hanya nyanyian iseng di sela-sela waktu menunggunya pertama kali di kafe Blume. Dan sekarang istrinya yang mungil itu bernyanyi dengan suara yang sangat merdu dengan power yang bagus dan mampu menambah haru suasana.
Di salah satu meja, Jamie duduk bersama beberapa tamu lain. Orangtuanya tadi siang sudah pulang mendadak karena kakek dan nenek datang tiba-tiba dari Medan tanpa memberitahu. Jamie terpaku menatap pemandangan di atas panggung. Wini yang sangat cantik dalam balutan gaun hitamnya dengan wajah yang memancarkan kebahagiaan. Kenapa wajah cantik itu selama ini tidak pernah terlihat olehnya. Selama ini dia begitu membenci Wini dan baginya Wini sangat tidak menarik.
Lily sudah selesai bernyanyi. Lalu memeluk Wini erat. Mereka berdua berpelukan.
"Selamat ya, Wini. Aku sangat bahagia" bisik Lily.
"Terimakasih, Lily" Wini memamerkan senyum mengembangnya.
"Suaramu sangat merdu. Kenapa selama ini aku tidak tahu kalau kamu punya suara sebagus itu? aku juga baru tahu kalau kamu sewaktu kuliah sering ikut festival menyanyi" gumam Wini.
"Hei Wini...ayolaaah. Ini malam istimewa untukmu. Jangan bahas suaraku yang tidak penting. Kebahagiaanmu sekarang yang terpenting. Selalu bahagia ya" Lily kembali memeluk Wini.
"Selalu bahagiakan Wini ya, bang Rico" Lily menatap Rico.
Rico mengangguk.
"Akan selalu, Ly" sahut Rico.
"Terimakasih sudah bernyanyi dengan suaramu yang indah itu" ujar Rico sebelum Lily berjalan menuruni panggung.
Ran menyambut Lily di dekat tangga panggung, lalu meraih tangan Lily dan membimbingnya berjalan menuju kursi.
__ADS_1
Wini dan Rico juga turun dari panggung setelah Rico kembali mengucapkan terimakasih kepada semua tamu yang hadir.
***