Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
49. Mudah Mengantuk


__ADS_3

Lily terbangun dari tidurnya. Dia diam sebentar seraya mengingat kenapa dia tidur di sofa. Dia melihat ponselnya terpasang di stand holder di atas meja. Kemudian melihat ke luar jendela kamar, matahari tampak cerah.


"Aaaah, tadi kan aku sedang video call dengan Mama Hana. Yaa ampuun ternyata aku ketiduran sewaktu menelepon" Lily meraih ponselnya. Lalu mengetik pesan ke Mama Hana.


Ma, maaf tadi Lily ketiduran sewaktu menelepon. Mata Lily tadi beraat sekali rasanya. Tulis Lily.


Mama Hana terlihat sedang mengetik pesan. Lily menunggu balasan Mama Hana masuk.


Tidak apa-apa. Tadi kamu sepertinya capek. Mama lihat tidurmu pulas sekali. Balas Mama Hana


Lihatlah. Kamu pulas sekali, kan?. Mama Hana mengirimkan hasil capture tadi saat Lily tertidur.


Lily tertawa melihat gaya tidurnya yang seperti lelah sehabis bekerja berat dengan tangan menjuntai ke bawah sofa.


Yaa ampuun. Sampai ada fotonya. Seperti kecapean habis apa. Padahal Lily tidak habis apa-apa. Tulis Lily lagi.


Hamil memang bawaannya macam-macam, sayang. Ada yang ngantuk terus, ada yang mual-mual. Yang penting kamu dan dede bayi sehat-sehat ya.


Jangan lupa makan siang. Tidak boleh telat makan dan minum susu ya, Ly. pesan Mama Hana.


Baik, Ma. Ini Lily mau makan siang. Mama dan Papa juga sehat-sehat di sana. Balas Lily mengakhiri percakapan.


Dia segera bangun dari tidurnya. Tapi begitu mau turun, kakinya menginjak bantal yang berjejer di samping sofa.


"Neng, Lily sudah bangun? Makan siang dulu neng" suara teh Yuni dari arah meja makan.


"Kenapa banyak bantal di lantai, teh?" tanya Lily seraya mengambil bantal satu persatu. Tapi teh Yuni bergegas meraihnya dan merapikannya.


"Tadi pak Ran telepon saya, katanya tangan neng Lily tadi pas tidur ngejuntai ke lantai. Pak Ran minta dibetulkan posisi tangan Neng Lily sama minta di taruh bantal di lantai takut neng Lily jatuh" jawab teh Yuni sambil tersenyum.


"Senang ya, Neng. Pak Ran sayang banget ke neng Lily. Sampai tadi minta teh Yuni meriksain neng Lily setiap sepuluh menit sekali" ucap teh Yuni.


"Iya, teh. Kak Ran memang baik banget. Sangat perhatian ke Lily. Kadang suka perlakukan kayak ke anak kecil aja" kata Lily.


"Beruntung banget, neng. Cocok sama neng Lily yang baik dan perhatian juga"

__ADS_1


"Ayo, neng. Makan siang dulu. Makanan sudah siap" teh Yuni mengarahkan pandangannya ke meja makan.


Lily beranjak ke ruang makan. Makanan yang dipesan Ran dari kafe Blume sudah disiapkan di meja oleh teh Yuni. Selain menu makan siang, ada juga croissant dan beberapa botol susu almond.


"Ayo teh, kita makan sama-sama" ajak Lily menarik tangan teh Yuni yang canggung.


"Aah, teh Yuni nanti saja makannya, neng" Dia merasa malu. Lagipula dia kurang suka dengan makanan yang ada di meja makan. Tadi dia masak tumis leunca sama goreng ikan mas. Sudah lama tidak makan makanan kesukaannya itu.


"Sekarang saja bareng sama Lily. Ayo duduk, teh" Lily memaksa teh Yuni duduk di kursi.


"Teh Yuni tadi sudah masak makanan lain, neng. Teh Yuni mah kurang suka makan beginian. Rasanya kurang pas di lidah teh Yuni" ucap teh Yuni sambil memandang isi meja makan. Nasi merah, jagung pipil kukus, kacang polong kukus, wortel dan buncis kukus juga, tim ikan salmon, dan buah berry.


"Teh Yuni masak apa?" tanya Lily penasaran.


"Tumis leunca dan ikan mas goreng, Neng" jawab Teh Yuni.


"Ya sudah, bawa ke sini. Kita makan sama-sama. Lily juga mau cobain tumis leunca" ucap Lily antusias.


Teh Yuni mengambil masakannya dan meletakkannya di meja dengan perasaan ragu.


"Hhmmh sepertinya enak, teh. Lily minta ya, boleh?" tanya Lily seraya meraih piring.


"Nanti pasti kumakan koq" sahut Lily. Dia mengambil sesendok tumis leunca. Lalu menyuapnya. Matanya berbinar dengan senyum mengembang.


"Enak banget, teh" komentar Lily setelah menghabiskan sesendok makanannya di mulut. Dia makan dengan tenang dan sangat menikmati.


"Kapan-kapan Lily minta dimasakin ya, teh. Lily suka. Berhubung Lily sudah dipesankan makanan oleh kak Ran. Jadi sekarang Lily makan ini dulu" Lily melanjutkan makanan yang sudah dipesankan Ran khusus untuk Lily.


"Beneran suka, neng?" tanya teh Yuni saat Lily mengambil sesendok lagi tumis leunca dan menaruhnya dipiring.


Lily mengangguk.


Teh Yuni menikmati makanannya sambil sesekali melirik Lily yang kembali menyendok tumis leunca. Lalu memakannya bersamaan dengan menu lainnya.


Seingatnya, Lily belum pernah makan tumis leunca. Kenapa makannya nikmat sekali. Padahal biasanya orang yang baru pertama kali makan leunca itu pastinya rasanya pahit dan aneh.

__ADS_1


***


"Kamu sudah makan siang, Ly?" tanya Ran di sambungan telepon.


"Sudah, kak. Baru saja selesai" jawab Lily yang sedang menikmati semangkuk kecil buah berry. Dia menghentikan makan buahnya saat menerima telepon dari Ran.


"Tadi aku mau telepon kamu begitu sampai kantor. Ternyata kata Mama kamu tertidur kecapean sewaktu mama menelepon. Mama sampai kirim fotomu" kata Ran seraya tertawa.


"Iya, tidak apa-apa, Kak. Hehehe...aku tidur seperti orang habis kerja berat saja ya" sahut Lily tertawa malu.


Pantas saja Kak Ran tahu kalau tangan Lily terjuntai ke lantai saat tidur di sofa tadi, rupanya mama Hana mengirimkan fotonya ke Ran. Lily tergelak dalam hatinya.


"Kak Ran jangan telat makan siang juga" pesan Lily ke Ran.


"Iya, tenang saja. Aku sudah makan juga barusan" jawab Ran.


"Sayang, kalau kamu sudah fit. Besok kita jadi ke Lembang ya. Menginap di hotel barunya Rico. Sekalian hadir di peresmiannya" ucap Ran.


"Sekarang juga sudah fit, Kak. Hanya saja sekarang cepat ngantuk. Kalau nempel ke bantal atau yang empuk-empuk, auto ngantuk berat dan langsung pulas" ucap Lily seraya menahan mulutnya yang sedari tadi menguap. Sepertinya dia sudah dikuasai rasa mengantuk lagi. Dia sedang duduk di karpet di lantai. Dia meraih bantal untuk bersandar. Sekuat tenaga dia mencoba menahan untuk tidak tertidur , tapi gagal. Matanya terasa sangat berat seperti ada benda besar bergelayut di kelopak matanya.


Padahal dia berencana menelepon Papa nanti. Tapi rupanya kali ini dia kalah lagi melawan sang kantuk.


"Ly. Kamu masih dengar aku, sayang?" panggil Ran. Namun Lily tidak menjawab. Ponselnya sudah tergeletak di atas karpet.


"Lily....sayang..?" panggil Ran lagi. Tidak ada sahutan.


Ran mematikan sambungan teleponnya. Lalu kembali menelepon teh Yuni untuk mengecek Lily di kamarnya.


"Neng Lily tidur, pak. Di karpet di kamar. Sudah pulas" kata teh Yuni.


"Tolong pakaikan selimut ya, teh. Soalnya kalau duduk di karpet kan pas di bawah AC. Takutnya Lily kedinginan" ucap Ran khawatir.


"Baik, pak. Ini saya pakaikan selimut"


"Ya sudah. Nanti tolong dicek setiap sepuluh menit ya, teh" pesan Ran.

__ADS_1


Ran sudah sempat bertanya kepada dokter tadi di telepon kenapa Lily mudah mengantuk. Menurut dokter itu juga karena adanya perubahan hormon yaitu peningkatan hormon progesteron yang memicu rasa kantuk pada ibu hamil. Makanya Ran tidak terlalu khawatir karena itu memang wajar terjadi pada ibu hamil. Apalagi di apartemen ada teh Yuni yang selalu menjaga Lily. Jadi Ran juga bisa terus mengecek keadaan Lily.


***


__ADS_2