
Ran dan Lily baru saja tiba di kamar ketika Jamie meneleponnya.
"Halo, Jamie. Ada apa kamu menelepon malam-malam?" tanya Ran seraya melirik jam di atas nakas. Jam 21.45.
"Maaf mengganggu pak Ran. Saya ingin menyampaikan pesan dari Dina. Katanya dia ingin bertemu dengan bu Lily untuk mengembalikan uang" jawab Jamie.
"Saya sudah sampaikan ke Dina kalau bu Lily dan pak Ran sekarang sedang sibuk di Bandung" lanjut Jamie.
"Saya coba bicarakan dengan istri saya terlebih dahulu. Nanti saya kabari lagi, Jam" sahut Ran seraya melirik Lily yang menoleh ketika Ran menyebutnya.
"Ada apa, Kak?" tanya Lily ketika Ran sudah mengakhiri sambungan teleponnya.
"Jamie bilang, Dina ingin bertemu kamu untuk mengembalikan uang. Kamu mau menemuinya?" Ran menatap Lily.
"Aku mau menemuinya. Aku harus menghargai itikad baiknya. Mungkin sebaiknya dia datang ke Bandung saja. Karena untuk saat ini kan kita belum bisa ke Jakarta" jawab Lily membuat Ran mengangguk dan tersenyum. Lily memang selalu baik. Dia tidak sedikitpun menyimpan rasa dendam atau marah kepada Dina. Dan Ran yakin saat ini Lily bersedia menemuinya juga pasti bukan karena Dina akan mengembalikan uangnya. Tapi karena menghargai niat baik Dina.
"Seharusnya kan yang bertanggungjawab itu Rakha. Tapi karena Dina tahu bahwa uang dan barang yang dia terima dari Rakha adalah uangku, Dina mau bertanggung jawab untuk mengembalikannya" ucap Lily.
"Rakha justru menghindar dari tanggung jawab dan tidak merasa menyesal sedikitpun"
"Berarti Dina itu orang yang baik sebenarnya" ucap Lily lagi.
"Nanti bertemu di kantor Papa saja mungkin ya, Kak?" tanya Lily meminta pendapat Ran.
"Boleh juga. Kalau bertemu di kafe atau restoran nanti tidak terjaga privacynya. Kalau di kantor Papa kan bisa bertemu di ruang meeting. Privacy terjaga dan banyak petugas keamanan juga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan" jawab Ran.
"Memangnya apa yang bisa dilakukan Dina? Bertemu kak Ran saja dia sudah takut" ucap Lily terkekeh. Menurutnya ucapan Ran tadi agak berlebihan.
"Namanya kita berjaga-jaga, Ly. Kita kan tidak kenal Dina dengan baik. Kejadian dia memaki-maki dan hendak menampar kamu di kafe waktu itu bisa saja terjadi jika dia tiba-tiba merasa kesal" sahut Ran.
Istrinya itu memang mudah percaya dengan siapapun. Menganggap bahwa semua orang baik memang sangat bagus. Tapi waspada itu harus.
__ADS_1
"Baiklah. Aku kabari Jamie untuk sampaikan ke Dina" Ran meraih ponselnya.
"Halo, Jamie. Tolong sampaikan ke Dina, jika mau menemui Lily silahkan datang ke Bandung. Tapi sebaiknya jangan akhir pekan. Datang di hari kerja saja. Nanti jika dia sudah ada kepastian kapan datang, saya akan kirimkan alamatnya" ucap Ran kepada Jamie.
"Baik, Pak Ran. Nanti saya sampaikan" sahut Jamie.
"Oke, Jam. Terimakasih" Ran mengakhiri sambungan telepon.
Ran berjalan ke arah Lily yang sedang duduk di sofa. Lalu duduk di sebelahnya.
"Terimakasih sudah bantu Lily ya, Kak. Gara-gara kebodohanku di masa lalu, Kak Ran jadi ikut repot" Lily menyenderkan kepalanya di lengan Ran.
"Soal uang kamu yang dipakai Rakha itu bukan kamu yang bodoh, sayang . Tapi kamu terlalu baik dan dia jahat" Ran menepuk tangan Lily dengan lembut.
"Dan aku tidak merasa direpotkan. Aku justru senang bisa membantu kamu selesaikan masalah ini" ditatapnya Lily seraya tersenyum.
"Beruntungnya Lily punya suami sebaik kak Ran" Lily mempererat pelukannya di lengan Ran.
"Mengenai acara lamaran Papa nanti apakah ada yang bisa kubantu, sayang?" tanya Ran. Dia tadi tidak ikut membahas soal lamaran karena ada panggilan telepon lagi dari Papa Adam membahas pekerjaan.
"Tadi Lily sudah kasih ke Papa beberapa nama WO yang recomended. Selanjutnya nanti tante Gita dan WO yang urus. Kata Papa, nanti kita tinggal datang saja. Tante Gita tidak mau merepotkan kita. Khawatir karena Lily sedang hamil dan kak Angga sedang sibuk menjaga kak Andin yang sedang hamil besar mempersiapkan kelahiran babynya" jawab Lily.
"Tidak ada pesta di gedung. Hanya pesta sederhana di rumah tante Gita. Dan hanya mengundang paling banyak tiga ratus tamu saja" lanjut Lily.
"Kita hanya bawa beberapa bingkisan yang penting saja, Kak"
"Syukurlah kalau memang sudah ada WO yang menangani. Semoga semuanya diberikan kelancaran"ucap Ran yang diaminkan oleh Lily.
Mereka kemudian bergegas siap-siap untuk tidur. Karena Lily sudah merasakan kantuk menggelayuti matanya.
***
__ADS_1
Di sebuah kamar kos di selatan Jakarta.
Dina sedang merapikan barang-barang yang baru saja dia bawa dari rumahnya. Hanya pakaian dan beberapa barang penting saja.
Rumah yang baru dia tempati beberapa bulan ini sekarang sudah laku terjual. Begitu juga perhiasan dan barang-barang yang Rakha berikan padanya, sudah dia jual. Dia akan menggembalikan uang tersebut kepada Lily. Meskipun tidak semua jumlah uang yang Rakha pakai bisa dia kembalikan. Setidaknya dia bisa kembalikan semua yang ada di tangannya.
Karena dia tidak punya nomor Lily atau Ran, akhirnya dia meminta tolong kepada Jamie untuk menyampaikan kepada Ran mengenai keinginannya untuk bertemu Lily. Dia tahu, Jamie adalah karyawannya Ran. Dan sepertinya Jamie lumayan dekat dengan bossnya itu.
Pesan masuk dari Jamie.
'Bu Lily bersedia menemuimu. Tapi dia memintamu yang datang ke Bandung. Karena saat ini bu Lily dan pak Ran memang sedang stay di Bandung. Usahakan datangnya di hari kerja saja, jangan di akhir pekan'
'Hari Kamis aku libur kerja. Aku ke Bandung Kamis besok'
Balas Dina.
'Oke, nanti kukabari lagi jika sudah dapat alamat untuk kamu datangi' Balas Jamie lagi.
'Oke, Jamie. Thanks ya sudah bantu'
'Oke Din . Semoga urusanmu segera beres'
Dina merebahkan tubuh lelahnya di kasur. Merasa lega karena Lily mau menemuinya. Dia ingin segera terlepas dari segala hal yang berkaitan dengan Rakha. Dia tidak mau terlibat apapun lagi.
Hubungan dengan Rakha juga sudah hampir selesai. Dia sudah mengajukan gugatan cerai di pengadilan agama. Tinggal menunggu hasil putusan saja nanti. Karena kemarin saat mediasi pertama, Rakha tidak hadir. Kemungkinan mediasi berikutnya juga tidak akan hadir. Sulit membedakannya apakah Rakha pengecut atau tidak peduli. Atau memang keduanya benar.
Dina beberapa kali pernah melihat Rakha sedang bersama Luisa di kafe atau di mall. Rakha dan Luisa memang berteman sejak lama, tapi sekarang mereka terlihat lebih akrab. Sepupunya itu pasti sudah tahu mengenai keadaan rumahtangganya dengan Rakha yang akan berakhir. Dan dia pasti senang. Karena memang sejak dulu mereka selalu berusaha saling menjatuhkan satu sama lain.
Dina yakin setelah putusan cerai keluar, kabarnya akan langsung tersebar di keluarga besar. Dirinya akan jadi bahan pergunjingan semua saudara di setiap acara keluarga sebagai janda yang tidak punya harta apapun. Bahkan rumahnya saja dijual.
"Tapi setidaknya aku tidak menjual diri. Aku bekerja mencari uang sendiri. Bukan meminta kepada lelaki tua hidung belang" gumam Dina berusaha menenangkan hatinya.
__ADS_1
***