Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
21. Keluarga Ran


__ADS_3

Hati Ran bergemuruh begitu melihat Lily menghampiri. Lily sangat cantik memakai jilbab dan pakaian muslimah. Pemilihan warna yang lembut sangat cocok dengan kulitnya yang kuning langsat dan sangat manis. Ran seperti terhipnotis.


Mereka sedang berbincang dengan Papanya Lily. Lily duduk di sebelah Papa. Ran yang duduk di hadapannya terlalu gemas melihat pemandangan itu. Sesekali Lily menatapnya dengan senyum manisnya.


Nalurinya sebagai laki-laki membuatnya ingin memeluk gadis itu. Tapi tidak boleh. Dia segera memendam perasaan itu. Tunggulah dan bersabar, ucapnya dalam hati mengingatkan diri sendiri.


"Sampaikan salam Papa ke orangtuamu ya Ran. Papa titip Lily" ucap Papa saat mereka hendak berangkat.


"Baik, Pa" jawab Ran seraya mencium tangan Papa. Lily mencium tangan Papa. Papa mengelus kepala Lily.


"Berpakaianlah seperti ini setiap hari, Papa sangat senang" ucap Papa. Lily menatap Papa terharu. Lalu memeluk Papa. Lily mengangguk.


***


"Kamu sangat cantik berpakaian seperti itu" puji Ran, mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan menuju rumah Ran.


Lily tersenyum.


"Kak Ran seperti Papa? senang jika aku memakai pakaian seperti ini setiap hari?"tanya Lily.


"Tentu saja sangat senang"jawab Ran seraya tersenyum


"Aku juga lebih suka berpakaian seperti ini, Kak" ucap Lily.


"Mulai hari ini ya, bismillah" ucap Lily yakin.


"Alhamdulillah" Ucap Ran dengan senyum bahagia.


***


Di kediaman orangtua Ran


Lily disambut hangat oleh Mama Hana dan Papa Adam.


"cantik sekali, calon menantu Mama" Mama memeluk Lily dengan hangat. Lily mencium tangan dan kedua pipi Mama, Lalu mencium tangan Papa Adam dengan melapisi pasmina di tangan papa Adam. Membuat semua yang di sana melihatnya terharu. Lily belum jadi anak menantu papa Adam, jadi belum boleh menyentuh tangannya. Tapi Lily tetap memberikan rasa hormat kepada Papa Adam. Papa Adam mengacungkan jempolnya ke arah Ran seraya tersenyum.


"Jadi ini yang namanya Bunga Lily?" Nenek Yumi mencium pipi Lily. Lily mencium tangan nenek. Kepada Kakek Abdullah Lily bersikap sama seperti kepada Papa Adam. Kakek Abdullah pun nampak terharu dengan sikap Lily.


Semua memyambutnya dengan hangat dan ramah. Ran sangat senang melihatnya. Di sana berkumpul juga kakak-kakaknya Mama Hana, Om Hiro, Om Nandito dan Om Kaindra beserta anak-anak mereka dan beberapa cucu. Sangat ramai di sana. Dari semua cucu Kakek Abdullah, hanya Ran yang berparas dan berperawakan Eropa. Karena hanya Mama Hana yang menikah dengan orang Eropa. Ketiga kakak Mama Hana beristrikan orang Bandung dan Jakarta. Jadi Lily tidak terlalu kesulitan berkomunikasi dengan semua sepupu Ran.


Setelah acara perkenalan dan sambutan selesai. Acara inti dimulai. Dalam keluarga besar Kakek Abdullah, setiap acara pengajian diisi dengan sesi mengaji bersama secara bergiliran. Keluarga Kakek Abdullah adalah keluarga yang sangat kental dengan sisi keagamaan.

__ADS_1


Pertemuan kali ini membaca surat Al Kahfi. Dimulai dari Kakek Abdullah, lalu berurutan sesuai tempat duduk, Posisi duduk semua membentuk lingkaran. Masing-masing membaca dua ayat. Lily sangat terkesan dengan keluarga Ran. Selain hangat dan harmonis, mereka menjalankan ibadah dengan baik. Semua mengaji dengan fasih. Bahkan Papa Adam saja yang berkebangsaan Perancis fasih membaca ayat suci Alquran. Lily duduk di sebelah Mama Hana.


Tiba giliran Lily. Lily membaca ayat 19 dan 20. Semua memandang Lily dengan senang. Mama Hana mengusap tangan Lily dengan lembut saat Lily selesai mengaji. Mama Hana sangat senang mendengar bacaan mengaji Lily sangat bagus. Nenek Yumi tersenyum ke arah Lily. Sedangkan Ran menatap Lily dengan sangat bahagia.


Acara mengaji selesai. Mereka melanjutkan makan bersama. Ada banyak jenis makanan di meja. Ran memilih duduk di sebelah Lily yang duduk di lantai beralaskan karpet tebal dan lembut. Acara makan ini bebas di mana saja.


"Keluarga kak Ran sangat memegang kuat agama" ucap Lily.


"Kami melakukan yang terbaik yang kami bisa. Walaupun belum sepenuhnya dijalankan. Seperti kita, seharusnya tidak pergi berduaan kan? Walaupun kita tetap menjaga diri dan tidak bersentuhan" ucap Ran.


Lily mengangguk. Lalu melihat Ran tak percaya. Pria berparas bule ini........


Lily tak melanjutkan kata-kata yang dipikirkannya. Karena Ran terlanjur bicara "Aku sejak TK sudah dipanggilkan guru les agama ke rumah, Ly."


"sampai sekarang pun masih terus belajar"


"Aku sangat Indonesia, aku orang Bandung banget seperti Mama. Hanya tampilanku, caraku bicara seperti Papa. Karena memang Papa tetap mengajakku berkomunikasi dengan bahasa perancis di rumah sejak kecil" lanjut Ran.


"Orang-orang sering salah menilaiku. Terutama wanita. Mereka berpikir bahwa aku tertarik dengan wanita seksi dan menggoda" Ran terkekeh.


"Awalnya aku juga bingung, setiap kali didekati wanita tidak ada rasa tertarik. Mereka cantik, tapi aku tidak tertarik sedikitpun. Mama dan Papa saja bingung. Sampai akhirnya aku bertemu kamu. Rasa tertarik itu muncul, aku langsung suka. Aku langsung yakin bahwa kamu wanita yang aku cari" Ran berucap.


Lily tersenyum. Dia merasa beruntung dipertemukan dengan Ran dan keluarganya yang sangat baik.


"Kamu yang tercantik buatku. Tidak pernah ada wanita yang bisa membuat jantungku berdebar, yang membuatku salah tingkah saat pertama bertemu dan membuatku susah tidur karena tak sabar untuk berjumpa lagi"ucap Ran membuat Lily tersipu.


"Aku bukan sedang menggombal. Tapi memang kenyataanya seperti itu" ucap Ran lagi.


Acara makan sudah usai. Beberapa sepupu Ran yang perempuan mengajak Lily berbincang.


Ran bergabung dengan Papa, Kakek dan para Om, juga sepupu laki-laki.


"Kakek tadi agak terkejut tapi senang. Tidak mengira kalau calon istrimu pandai mengaji, bacaannya sangat baik" Ucap Kakek kepada Ran setengah berbisik.


'Dia memang gadis yang sangat baik, Kek" Ran berbisik


ke Kakek. Kakek tersenyum.


"Syukurlah, Kakek senang kau memilih calon istri dengan baik" ujar Kakek.


"Oh iya, Kek. Lily adalah adik dari Anggara Suryanegara. Dia pernah stay di rumah kakek sewaktu dia lanjut kuliah di Jepang" Ran baru teringat tentang Angga.

__ADS_1


"Ooh ya??? Anggara yang temannya Rico Hoover?" Tanya Kakek terkejut. Ran mengangguk.


"Orangtua Lily adalah orangtua angkat Rico di Bandung" jawab Ran kembali membuat Kakek terkejut.


"Bagaimana kabar mereka?" tanya Kakek.


"Kabar mereka baik, Kek. Tadi pagi Ran bertemu mereka di rumah orangtua Lily"


"Ajaklah kemari bertemu Kakek dan nenek" ucap Kakek.


"Nanti kusampaikan ke mereka ya, Kek" ucap Ran.


Ran mencari Lily yang sudah tidak ada di tempat duduknya yang tadi. Ran berkeliling rumah. Rupanya Lily sedang berbincang dengan Nenek dan Mama di ruang kerja Mama alias mini kafenya Mama. Tempat mama membuat berbagai macam menu baru untuk kafe dan restorannya. Mereka duduk di sofa. Lily duduk di tengah.


"Kalau varian minuman baru ini, Ran yang punya ide. Dia terinspirasi dari Lily" Mama memperlihatkan beberapa foto minuman itu.


"Menurutnya, Lily itu sangat istimewa. Lembut seperti smoothies susu, unik seperti rasa yoghurt, manis seperti madu dan kurma" Ucap Mama. "Jadi dia meminta ke Mama untuk mengijinkan smoothies racikan dia disajikan di Kafe"


"Padahal waktu itu dia baru bertemu Lily dua kali. Dan belum tahu juga perasaan Lily ke dia. Tapi dia sangat yakin bahwa Lily adalah belahan jiwanya dan yakin bahwa dia akan bertemu Lily lagi" Mama Hana bercerita membuat Lily tersipu malu.


"Lily sudah mencobanya, Ma. Rasanya enak"ucap Lily.


"O iya, Terimakasih untuk croissant keju kismisnya waktu itu, Ma" ucap Lily lagi.


"Sama-sama, Ly. Menurut Ran, ternyata Lily adalah pelanggan Kafe Blume. Sampai-sampai dia sangat ingin mengirimkan croissant keju kismis kesukaanmu. Mama meminta karyawan di kafe Fluer yang di sini untuk menyiapkannya".


"Bagaimana kabar Papamu, sudah sehat?"Mama bertanya.


"Alhamdulillah, sudah. Ma"jawab Lily


Ran mendengarkan pembicaraan para wanita dari balik lemari kayu sebelah pintu masuk yang terbuka. Kafe mini Mama ini memang pintu masuknya tidak memakai daun pintu. Dia tertawa sendiri mendengar Mama menceritakan dirinya ke Lily.


"Masuklah Ran. Jangan menguping" Nenek Yumi berkata. Ran masuk dan duduk di kursi kecil didepan mereka.


"Kamu membuat lukisan tentangmu dan Lily. Tentang perjuangan pangeran yang berhasil mendapatkan bunga Lily. Nenek lihat waktu itu sudah selesai dibuat" ucap Nenek membuat Ran tersenyum malu.


"Aku memasangnya di Kafe Blume, Nek. Lily pasti sudah melihatnya"Jawab Ran.


'Itu Kak Ran yang melukisnya?" Tanya Lily. Ran mengangguk dan masih tersenyum.


"Awalnya memang aku sudah membuat lukisan pangeran berkuda, namun pada saat aku bertemu Lily. Aku menambahkan bunga Lily di lukisan itu"jelas Ran.

__ADS_1


Mereka berbincang banyak hal. Lily merasa nyaman berada di tengah mereka. Rasanya seperti di rumah sendiri. Semua saling terbuka, saling menjaga dan saling mendukung.


***


__ADS_2