
Dina memutuskan menjual rumah untuk bisa kembalikan sebagian uang Lily yang sudah dia pakai secara tidak langsung. Meskipun awalnya dia tidak tahu jika uang dan hadiah-hadiah yang Rakha berikan adalah uang hasil memperdaya Lily. Waktu itu dia berpikir bahwa Rakha sangat royal. Meskipun rumahnya masih harus dicicil selama lima tahun ke depan, setidaknya rumah minimalis type 45 dengan 2 lantai yang dia miliki sangat keren dengan desain yang memang sesuai keinginannya. Sewaktu dia mengajukan kredit kepemilikan rumah, memang atas namanya sendiri saat itu. Dan saat pengajuan KPRnya disetujui pihak Bank, Rakha langsung memberikan uang mukanya. Karena supaya rumah cepat selesai dan bisa ditempati ketika mereka sudah menikah. Makanya sekarang dia bisa menjual rumah itu tanpa perlu persetujuan Rakha. Karena rumah itu atas namanya sendiri.
Dia sudah mendapatkan calon pembeli rumahnya dari kenalan Angel. Seorang selebgram. Katanya sih kekasihnya yang akan membelikan untuknya. Dia sangat tertarik dengan rumah Dina. Selain akses yang mudah karena dekat dengan pintu jalan toll, rumahnya juga keren dan dekat dengan kantor kekasihnya. Dia bahkan mau membeli cash. Setidaknya jika dibeli cash, Dina bisa langsung melunasi sisa kredit ke Bank. Calon pembelinya juga bisa memahami situasinya. Bahwa sertifikat akan diurus setelah proses pelunasan kredit ke bank selesai. Tidak masalah katanya, karena kekasihnya seorang pengusaha kaya. Jadi uang senilai satu milyar untuk rumah yang ditawarkan Dina tidak masalah. Rencananya senin depan akan dilakukan perjanjian jual beli bawah tangan terlebih dahulu.
Dia sekarang sadar bahwa dia salah. Dulu dia memang memaksa Rakha menikahinya. Rakha harus bertanggungjawab karena sudah tidur dengannya. Lagipula kedua orangtuanya selalu memaksanya untuk cepat menikah. Dia harus memaksa Rakha dengan mengancam akan memotong urat nadinya jika Rakha tidak menikahinya. Mungkin karena waktu itu Rakha juga masih mencintainya, makanya ancamannya pada Rakha berhasil.
Seharusnya setelah mereka berpisah dua tahun lalu, dia tidak usah menerima Rakha kembali ke kehidupannya. Waktu itu dia pikir Rakha sudah punya banyak uang lagi seperti dulu. Karena Rakha sudah mulai sering datang ke club saat itu. Dirinya memang matre. Menilai sesuatu dari uang. Dia juga meminta dibelikan rumah, mobil dan pesta penikahan yang mewah. Karena dia harus bisa membuat bangga keluarganya di mata keluarga besar, para sepupu yang selalu saja bersaing dalam hal apapun, relasi orangtua, teman-temannya dan para tetangga.
Tapi sekarang justru dia merasa malu setelah mengetahui perbuatan Rakha. Rakha juga sudah tiga bulan tidak tinggal di rumah bersamanya.
"Lalu nanti kamu mau kembali tinggal bersama orangtuamu?" tanya Angel di telepon. Dia sudah kembali ke Surabaya. Pengajuan kepindahannya ke Jakarta masih dalam proses persetujuan dari pihak manajemen hotel Hoover.
"Sementara iya, mungkin seminggu atau dua minggu. Selanjutnya aku akan menyewa kamar kos dekat kantor saja, Ngel. Malu kalau aku harus tinggal lagi di rumah orangtuaku. Pasti akan jadi bahan gunjingan tetangga" Dina menjawab telepon Angel saat jam istirahat bekerjanya. Dia duduk di sofa di ruang makan karyawan. Di hotel Hoover, ruang makan karyawannya diberi fasilitas lengkap. Makanan yang enak-enak, minuman segar yang selalu tersedia dan fasilitas hiburan seperti televisi dan playstation.
"Lalu Rakha apa kabarnya sekarang?" tanya Angel lagi.
" Aah, entahlah. Dia sudah tidak jelas dimana rimbanya. Bertanya kabarku saja sudah tidak pernah. Aku kirim pesan whatsapp pun hanya dibaca, tidak pernah dibalas" jawab Dina.
"Kamu tidak coba datangi rumah orangtuanya? atau mungkin ke outlet JNI atau toko suku cadangnya?" Angel memberi ide yang membuat Dina menggelengkan kepalanya, padahal dia tahu Angel tidak akan melihat apa yang dia lakukan.
"Buat apa aku datangi dia? dia juga sudah tidak peduli padaku" Dina berkata dengan nada putus asa.
"Tapi kamu harus selesaikan masalah kalian berdua. Jangan berlarut-larut. Jika masih mau pertahankan pernikahan, kalian harus berbaikan. Kalau memang sama-sama sudah tidak mau bersama, sudahi saja" Angel menasehati Dina. Seketika dia juga teringat nasibnya dengan Jamie. Dia tertawa miris sok menasehati orang lain, padahal dirinya juga tidak menerapkan nasehat itu untuk dirinya sendiri. Ternyata menasehati orang lain jauh lebih mudah dibandingkan menasehati diri sendiri. Dirinya bahkan pergi meninggalkan Jamie dan memilih tinggal di apartemen sewaannya. Jamie beberapa kali bertanya kabarnya, tapi dia malah mengabaikannya. Tidak pernah membalas pesan atau menjawab panggilan dari Jamie. Dia menghela nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Iya, sih. Kamu benar juga. Aku akan memikirkan soal hubunganku dengan Rakha secepatnya. Supaya aku jelas statusnya" jawab Dina seraya bangkit dari sofa menuju area makan.
"Aku mau makan siang dulu, Angel" Dina memutuskan sambungan teleponnya. Lalu memilih beberapa makanan yang tersaji untuk menu makan siangnya
Ponselnya bergetar lagi. Nama Rakha muncul di layar. Dina dengan perasaan berat menjawabnya.
"Iya Rakha. Kamu kemana...." Dina belum selesai bertanya, tapi Rakha sudah memotongnya.
"Aku tadi pagi ke rumah. Perhiasan yang kuberikan padamu. Dimana kamu simpan? Aku mau menjualnya" tanya Rakha tanpa basa basi.
"Aku sudah menjualnya" jawab Dina berbohong.
__ADS_1
"Eh apa maksudmu ? menjualnya tanpa seijinku? berani sekali"tanya Rakha setengah berteriak gusar.
"Kamu sudah memberikannya padaku. Terserah aku mau apakan" jawab Dina tidak kalah gusar seraya menyingkir dari area tempat makan.
"Aku sudah tahu semua yang kamu perbuat ke Lily. Sebaiknya kamu kembalikan uangnya, Rakha" ucap Dina lagi.
"Maksudmu soal apa yang kamu tahu tentang aku dan Lily?" tanya Rakha mencibir.
"Tentang uang yang kamu pinjam dari Lily, pencu-likan terhadapnya dan memaksanya tandatangan surat lunas hutang" sahut Dina membuat Rakha terkejut. Tapi dia mengusir rasa keterkejutannya dengan cepat.
"Jangan mengarang cerita sembarangan!" Rakha berkata sinis.
"Aku tidak mengarang" sahut Dina.
"Kamu mendatangi Lily mencari tahu tentang aku? dan dia menceritakan itu kepadamu?" tanya Rakha masih gusar.
"Aku bahkan mendengar dengan jelas rekaman suaramu saat menculik Lily dalam mobil taksi onlinemu" sahut Dina. Rakha terkesiap mendengarnya.
"Mereka punya rekaman suaramu, Rakha. Sebaiknya kamu kembalikan saja uangnya Lily. Masih beruntung mereka tidak menuntutmu"
"Kamu tidak usah ikut campur urusanku. Lagipula aku sudah memegang surat lunas. Dan asal kamu tahu, semua itu terjadi gara-gara kamu" bentak Rakha membuat Dina menjauhkan ponsel dari telinganya.
Rakha mematikan sambungan teleponnya. Dina menarik nafas dengan kesal. Bagaimana bisa Rakha tidak merasa bersalah sedikitpun. Apa karena dia sudah kenal karakter Lily yang sangat baik dan mudah memaafkan? Tapi bagaimana jika Ran Curtis dan Rico Hoover tidak bisa memaafkannya. Bisa saja mereka melakukan hal apapun ke Rakha. Karena yang Dina lihat, Ran Curtis dan Rico Hoover sangat menjaga Lily.
Di bagian lain di pusat kota Jakarta.
Rakha sedang duduk berdua dengan Luisa di sebuah kafe di sebuah mall. Mereka berbincang sambil sesekali tertawa lepas dan menikmati kopi mereka. Mereka semalam bertemu di Blue planet namun hanya sebentar, karena daddynya Luisa sudah datang, sehingga dia terpaksa meninggalkan Rakha. Makanya hari ini mereka janjian di sini untuk mengobrol. Sudah lama juga mereka tidak berjumpa.
"Berarti kamu sudah engga sama Dina lagi sekarang?" Luisa bertanya seraya melirik suami sepupunya itu dari ujung matanya. Dia tengah menyesap iced coffee dari gelas di tangannya. Rakha bahkan tidak tahu jika dia dan Dina adalah sepupu. Karena dia dan Dina sama-sama tidak mau mengakui di depan teman-teman club bahwa mereka berdua adalah sepupu. Sedangkan dia dan Rakha memang saling kenal di club sejak lama.
"Terlalu berisik. Mulai suka mengatur dan terlalu banyak menuntut. Mmmhhh...Tapi mungkin semua perempuan seperti itu ya? termasuk kamu?" Rakha menatap Luisa yang menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. Mereka duduk di bagian pojok kafe yang bisa dengan leluasa memandang ke bagian luar dimana pengunjung mall berlalu lalang.
"Tergantung situasi dan kondisi juga, Kha. Cuma selama ini aku memang lebih memilih saling membebaskan saja dengan pasanganku. Aku tidak terlalu suka mengatur dan tidak suka terlalu diatur juga" Sahut Luisa.
"Begitu lebih asik kurasa. Jadi tidak saling mengekang" Rakha menggigit sebatang churos. Dia melamun sebentar seraya menikmati renyahnya serpihan churos di mulutnya.
__ADS_1
"Baru saja aku menelponnya. Langsung mengajak ribut saja. Bikin emosi" gumamnya.
Luisa tertawa. Dia masih ingat betapa sombongnya Dina dan keluarganya ketika Dina mengundangnya di acara pernikahan. Mereka menyindir Luisa yang hanya menjadi simpanan pria tua. Tentu saja Dina yang menyebarkan gosip itu di keluarga besar. Itulah kenapa dia tidak sudi hadir di acara pernikahan Dina dan Rakha. Dia memilih menerima job di Bali waktu itu.
"Apa mungkin dunia pernikahan tidak semenyenangkan yang dibayangkan?" tanya Luisa.
Rakha mengangkat pundaknya. "Entahlah. Mungkin tergantung pasangan kita"
Tiba-tiba Luisa berdiri dari duduknya, matanya menatap pasangan yang baru saja melintas di depan kafe.
"Tunggu sebentar. Jangan kemana-mana. Aku hanya pergi sebentar" Luisa bergegas keluar kafe dengan gaya seperti seorang detektif amatir. Dia mengintai pasangan yang sedang berjalan bergandengan tangan.
"Rico Hoover dan seorang wanita yang mirip dengan Lily istri Ran Curtis???" gumam Luisa terperangah.
"Sangat mirip, hanya lebih dewasa dan tidak berhijab" gumamnya lagi.
Pasangan itu masuk ke sebuah butik pakaian yang harga pakaiannya selangit.
Luisa tidak habis pikir. Kenapa ternyata selera dua laki-laki kaya dan tampan incarannya adalah wanita seperti Lily dan wanita tadi? apa kabar dirinya yang sudah bersusah payah operasi hidung agar mancung bak orang eropa, filler bibir agar seksi dan meruncingkan dagunya agar terlihat menggemaskan? Apakah sekarang harus operasi wajah seperti Lily agar Ran Curtis atau Rico Hoover menyukainya? Luisa berjalan gontai dengan pikiran melantur dan hati yang kecewa.
Dia kembali duduk di samping Rakha yang menatapnya heran.
"Luisa, kamu kenapa?" tanya Rakha menepuk bahu Luisa.
"Apakah menurutmu aku cantik, Rakha?" tanya Luisa menambah rasa heran Rakha.
"Sejak kapan kamu merasa ragu dengan kecantikanmu?" Rakha bertanya balik. Karena selama ini dia mengenal Luisa sangat percaya diri dengan kecantikannya yang seperti foto model di eropa.
Belum hilang rasa herannya dengan sikap Luisa, Dina mengiriminya pesan yang membuatnya kesal lagi.
"Aku tinggal di rumah orangtuaku sekarang. Jika sampai hari senin kamu tidak menemuiku. Aku akan mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama".
Rakha tidak membalasnya. Terserah dia mau melakukan apapun. Aku sudah tidak peduli. Pikir Rakha. Dia menatap Luisa yang masih termenung dan sebuah ide muncul di kepalanya.
***
__ADS_1