Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
65. Pelajaran Berharga


__ADS_3

Ran tadi berangkat lebih awal untuk mengecek persiapan pembukaan outlet yang berada di hotel Ferien milik Rico.


Karena perjalanan ke Lembang memakan waktu sekitar 40 menit, makanya Ran tadi sengaja berangkat jam enam pagi. Dia juga sudah membuat janji dengan Rico pagi ini jam delapan. Lebih baik dia datang kebih cepat daripada dia harus datang terlambat. Jika berangkat agak siang, khawatir jalanan sudah macet. Rico juga kebetulan hari ini sudah ada di Lembang. Padahal biasanya dia ada di Bandung setiap hari Kamis sampai hari Minggu. Katanya sih sedang mempersiapkan acara pernikahannya dengan Wini.


Pengerjaan outlet di hotel Ferien sudah berjalan 50 persen. Hari ini rencananya akan dilakukan pemasangan display windows. Makanya Ran diminta datang untuk memastikan semua sudah sesuai di gambar rancangan.


Dia berangkat sendiri tidak mengajak Lily. Karena kali ini pertemuannya dengan Rico membahas konstruksi. Kasihan kalau Lily harus ikut, karena pasti banyak debu di sana. Lagipula Lily hari ini sudah mulai membantu Papanya di kantor.


Sedangkan Lily, pagi ini berangkat bersama Papa menuju kantor. Sepanjang perjalanan, mereka berbincang dengan seru membahas banyak hal. Seperti saat melewati gedung sekolah SD Lily, Papa bercerita tentang saat Lily sekolah di hari pertama yang tidak mau ditinggalkan Mama. Juga Lily yang harus membawa bekal buah potong ke sekolah.


Saat melewati restoran dan kedai makanan dengan makanan khas yang enak pun menjadi bahan perbincangan seru. Karena dulu saat Mama masih ada, setiap malam minggu mereka sering pergi makan malam bersama di luar.


Sampai akhirnya pak Min menghentikan mobil di depan sebuah kios kue dan roti. Lalu pak Min turun setelah menerima tiga lembar uang pecahan seratus ribu dari Papa.


"Setiap pagi jika Papa ke kantor, Papa bawakan kue dan roti untuk para pegawai. Sekalian membantu pemilik kios, dia seorang wanita dengan tiga orang anak yang masih sekolah. Suaminya sakit strooke sudah setahun ini. Jadi dia harus menafkahi keluarganya dan juga harus mencari uang untuk pengobatan suaminya" ucap Papa menjawab tatapan kebingungan Lily.

__ADS_1


"Papa tahu toko ini karena waktu Papa kontrol ke rumah sakit, sempat berbincang dengannya saat dia mengantar suaminya berobat" lanjut Papa.


"Semoga kuenya selalu terjual habis setiap hari" ucap Lily terenyuh. Dia tidak bisa membayangkan betapa kuatnya hati wanita itu. Betapa sangat sayangnya dia kepada suaminya.


Pak Min kembali menuju mobil dengan dua kotak kue. Lalu pak Min meletakkannya di kursi di sebelahnya.


"Salam buat Bapak kata mbak Sari. Terimakasih karena selalu memborong kue-kuenya" kata pak Min sesaat sebelum kembali menyalakan mesin mobil.


"Iya, Min. Ayo kita jalan lagi" ucap Papa. Terdengar helaan nafas Papa seolah membuang rasa sedih dalam hati. Papa memang hatinya sangat peka dan lembut.


Tidak lama kemudian mobil kembali berhenti di sebuah kios buah. Kali ini Papa yang turun. Papa disambut seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahun. Laki-laki itu memakai tongkat untuk membantunya berjalan.


Papa berbincang dengan laki-laki itu yang sambil melayani pesanan Papa. Tidak lama kemudian Papa keluar dari dalam kios dengan dua kantung kertas berisi buah-buahan. Lalu memeluk dan menepuk bahu laki-laki itu seraya tersenyum.


Lily melirik isi kantung itu. Ada sekitar 3 kilogram buah anggur hijau dan beberapa kilo buah jeruk dan apel.

__ADS_1


"Langganan Papa beli buah di sini. Pemiliknya masih muda. Dia mengalami kecelakaan lalulintas dua tahun lalu. Kakinya harus memakai tongkat untuk bisa berjalan. Karena kondisinya yang seperti itu dan dia diPHK oleh kantor tempat dia bekerja, istrinya menggugat cerai dan memilih menikah dengan pria lain" ucap Papa membuat Lily terperangah.


Bagaimana bisa seorang istri tega meninggalkan suaminya di saat kondisi suaminya terpuruk. Lily tidak dapat membayangkan betapa hancurnya hati laki-laki itu.


Disaat dia butuh dukungan dari orang terdekatnya, justru dia ditinggalkan.


"Semoga rumah tangga anak-anak Papa selalu dalam kebaikan. Saling setia dan saling menyayangi dalam keadaan apapun" gumam Papa.


Lily jadi melihat dua keadaan yang berbeda pagi ini. Sebuah pelajaran baginya. Kios roti tadi, sang istri tetap setia kepada suaminya meskipun suaminya dalam keadaan sakit dan tidak berdaya. Dia tetap mendampingi suaminya dalam kondisi tersulit.


Pria pemilik kios buah, istrinya malah meninggalkannya di saat dia terpuruk. Itu menandakan pasangannya hanya bisa menerima keadaan senangnya saja. Beruntungnya laki-laki itu masih bisa bangkit dan tetap semangat menjalani hidupnya.


"Papa yakin dari dua contoh tadi, kamu bisa mendapatkan pelajaran berharga. Tetap sayangi suamimu bagaimanapun kondisinya. Selama dia tidak menyakitimu , tetaplah bersamanya" ucap Papa seraya tersenyum menatap Lily.


Lily menyenderkan kepalanya di lengan Papa. Selalu ada pelajaran berharga yang Papa sampaikan melalui berbagai hal. Papa memang ayah terbaik bagi Lily.

__ADS_1


***


__ADS_2