Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
61. Dia Sangat Menawan


__ADS_3

Dua orang yang sedang duduk saling menyender itu menatap layar ponsel masing-masing. Mereka melihat tayangan yang sama.


"Pantas saja dia dipilih oleh Ran Curtis. Dia memang cantik dan berbakat. Sederhana tapi mahal" kali ini Luisa yang bergumam. Dia tetap saja fokus ke harga outfit Lily.


"Ternyata calon istri Rico Hoover tuh sahabatnya Lily" Luisa kembali berucap.


"Mungkin seharusnya kemarin-kemarin aku bersahabat saja dengan Lily, jadi bisa dekati Rico Hoover" Luisa seperti menyesal baru terpikirkan ide itu.


"Sepertinya sulit kalau kamu mau jadi sahabat Lily, karena dunia kalian berbeda" celetuk Rakha membuat Luisa mendelikkan matanya.


"Maksudmu? memangnya aku hantu beda dunia dengan Lily" sungut Luisa kesal.


Rakha tertawa melihat kekesalan Luisa.


"Aku kira kamu sedih gara-gara sudah ditinggalkan oleh Doni Sumarno. Tapi koq sepertinya kamu malah tidak merasa sedih sedikitpun" Rakha menatap Luisa yang malah sibuk melihat-lihat video acara peresmian hotel milik Rico Hoover.


"Kenapa harus sedih? aku dan om Doni Sumarno itu tidak ada rasa cinta. hubungan kami hanya sebatas ikatan yang saling menguntungkan. Lagipula dia meninggalkanku dengan memberikan banyak kompensasi. Apartemen baru, mobil baru dan rumah kos dengan dua puluh kamar untuk menambah penghasilanku setiap bulan juga uang di tabungan"sahut Luisa balas menatap Rakha dengan wajah bangga.


"Woow..kalau seperti itu sih, kamu menang banyak. Pantas saja kamu tidak sedih sedikitpun" Rakha berdecak kagum.


"Kamu sudah punya harta banyak. Untuk apa lagi mengejar Ran atau Rico?"tanya Rakha.


"Sebenarnya sekarang sudah tidak berminat mengejar-ngejar mereka. Aku hanya tertarik saja dengan kehidupan Lily" sahut Luisa.


"Loh koq jadi tertarik dengan Lily? waaah kamu jangan aneh-aneh, Lui" Rakha menggelengkan kepala.


"Bukan tertarik seperti ke lawan jenis. Tapi aku rasanya tertarik ingin seperti dia. Jadi perempuan baik-baik. Supaya dapat laki-laki yang baik juga" gumam Luisa menjawab pertanyaan Rakha.


Luisa merenung. Dia juga sebenarnya merasa lelah dengan gaya hidupnya selama ini. Hidup yang penuh dengan hura-hura, seperti tidak punya tujuan. Di usianya ke-29 ini rasanya dia ingin hidup dengan teratur.


"Hahahaha...kamu sehat, Lui?" Rakha meraba kening Luisa seraya tertawa.


Luisa menghempaskan tangan Rakha.


"Justru sekarang aku sedang sehat. Dan aku mau sehat terus. Aku mau berubah, Rakha. Lelah seperti ini terus" ucap Luisa.

__ADS_1


"Mmmh...yakin bisa meninggalkan kesenanganmu di club?" Rakha seperti ragu. Dia juga khawatir jika Luisa menarik diri dari pergaulan club tidak ada lagi mau menemaninya bahkan sekedar ngobrol seperti saat ini. Hanya Luisa satu-satunya teman yang masih mau menemaninya di saat dia tidak punya uang. Bahkan makan dan minum di kafe setiap mereka bertemu saja selalu Luisa yang bayar.


"Yakin. Aku mau hidup tenang dan teratur. Umurku sudah dua puluh sembilan tahun, rasanya malu masih seperti ini" sahut Luisa.


"Kamu sendiri masih mencari pekerjaan?" tanya Luisa kepada Rakha.


Rakha menghela nafas berat.


"Masih...tapi sulit banget mendapatkan pekerjaan. Bisnisku pun setiap hari semakin sepi" Rakha meletakkan ponselnya di meja. Dia meneguk kopinya.


"kalau kamu ada info lowongan pekerjaan. Kabari aku, ya" ucap Rakha lagi.


"Setahuku ada lowongan di kantor Om Doni Sumarno untuk posisi sales and marketing. Kamu siapkan saja berkas lamarannya. Nanti kucoba minta tolong untuk menerimamu kerja di sana"ucap Luisa.


"Memang kamu masih bisa komunikasi dengan dia?" tanya Rakha.


"Masih lah. Dia kan orangnya baik. Lagipula ini kan urusan pekerjaan" jawab Luisa. Dia meraih ponselnya. Mengirimkan pesan singkat kepada pengawal pribadi Doni Sumarno. Karena mulai sekarang dia sudah tidak boleh menghubungi pria itu secara langsung. Jadi aksesnya hanya bisa melalui pengawal pribadinya.


Kemudian dia meraih gelas lemon teanya. Lalu menyesap minuman itu seraya melirik Rakha. Dia merasa kasihan pada temannya itu. Karena sepertinya sudah tidak punya uang sama sekali.


"Sebenarnya kamu dulu suka dengan Lily?" tanya Luisa. Karena sedari tadi dia lihat Rakha terus saja mengulang video Lily. Dia kembali menyesap minumannya.


"Aku pernah pura-pura suka dan mendekati dia hanya karena ingin uangnya" jawab Rakha membuat Luisa yang sedang minum tersedak.


"Gilaaaa... kamu serius?" Luisa membelalakan matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Rakha mengangguk.


"Memang jahat sih apa yang sudah kulakukan pada Lily. Padahal dia sangat baik. Tapi sekarang justru aku sangat menyukainya" ucap Rakha.


"Sebentar.....berarti kamu sempat dekat dengan Lily?"


Rakha kembali mengangguk.


Lalu dia menceritakan apa yang sudah dia lakukan kepada Lily.

__ADS_1


Luisa mendengarkan Rakha sambil sesekali mengerutkan keningnya dam menggelengkan kepala.


"Mungkin sekarang kamu sudah tidak mau mengenalku, Lui" ucap Rakha setelah menyelesaikan ceritanya.


"Kenapa kamu berpikir begitu?" tanya Luisa.


"Tindakan kamu ke Lily memang jahat. Tapi itu urusan pribadimu. Aku tidak ada kaitannya sama sekali"


"Semoga saja kamu tidak akan mengulangi hal serupa kepada siapapun lagi. Termasuk kepadaku" Luisa menatap Rakha.


"Lily mungkin tidak berbuat apapun untuk membalas perlakuanmu. Tapi tidak dengan orang-orang yang menyayanginya. Karena aku pernah mengalaminya" ucap Luisa.


Kali ini Rakha yang terkejut.


"Iya. Saking sukanya dan waktu itu terlalu senang karena bisa bertemu kembali dengan Ran Curtis, aku pernah memasang fotonya di feed instagramku. Kamu tahu apa yang terjadi?" Luisa menatap Rakha.


Rakha mengangkat bahunya, dia tidak tahu.


"Hari itu juga Rico Hoover memanggilku. Mengancam akan meminta Bryan untuk mengeluarkanku dari agency dan juga mengancamku tentang hubunganku dengan Doni Sumarno. Dia tahu banyak tentangku"


"Dia tidak mau ada yang menganggu Lily dan rumah tangganya. Itu baru Rico Hoover yang turun. Belum Ran Curtis"


"Mereka bisa menutup aksesmu untuk bisa bekerja dimanapun. Bahkan mungkin bisnismu pun bisa mereka hancurkan kalau mereka mau. Karena tindakanmu memang keterlaluan" Luisa kembali menatap Rakha yang terlihat ketakutan.


Rakha terdiam. Dia seketika merasa sepertinya outlet JNI dan toko suku cadang kendaraannya yang semakin sepi adalah bukti bahwa orang-orang di sekitar Lily membalas perlakuan buruknya kepada Lily selama ini.


"Tapi tenang saja. Aku akan menolongmu jika kamu memang mau bekerja di kantor om Doni. Setidaknya kamu punya penghasilan" ucap Luisa.


"Thanks ya, Lui. Kamu memang temanku yang baik" ucap Rakha.


"Aku juga manusia yang banyak berbuat salah. Jadi aku tidak berani menghakimimu. Bagiku kamu adalah temanku. Aku hanya menolongmu memdapatkan pekerjaan" sahut Luisa.


Rakha termenung. Entah kenapa saat ini dia agak sedikit lega setelah bercerita kepada Luisa. Saat ini dia memang sangat menyesali perbuatannya kepada Lily. Dia tahu bahwa dia harus meminta maaf kepada Lily dan juga mengembalikan semua uang Lily. Tapi saat ini dia tidak punya apa-apa lagi untuk dijual. Bahkan untuk menghubungi Lily dan meminta maaf pun dia belum berani.


***

__ADS_1


__ADS_2