
Lily membaca pesan masuk dari Rakha di email. Karena kontak Rakha di whatsapp sudah Lily blokir. Lily terganggu dengan chat Rakha yang semakin tidak jelas.
'Dear Lily,
Aku tahu aku salah dengan menikah dengan Dina dan meninggalkan kamu. Tapi kamu harus tahu bahwa aku tersiksa, Ly. Tolong tunggulah aku dalam waktu tiga bulan ini. Aku akan selesaikan urusanku dengan Dina. Kita sudah punya usaha bersama kan, Ly. Untuk masa depan kita.
Aku sungguh tidak bisa tanpa kamu, Ly.
Tolong berikan aku kesempatan, Ly.
Aku mau bertemu kamu, Ly. Tolong kabari jika kamu bisa bertemu denganku.
with love,
Rakha
Lily menghapus pesan itu. Lily semakin muak dengan Rakha. Apalagi jika Lily teringat kata-kata Dina sewaktu di di gelanggang olahraga. Bahwa menurut Rakha, Lily adalah kekasihnya Billy. Sungguh jahat Rakha. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu.
Yang masih mengganjal dalam pikiran Lily adalah uangnya yang masih di tangan Rakha. Sampai saat ini belum dikembalikan sedikitpun.
Uang satu milyar yang dia pinjamkan adalah uang simpanannya dari pemberian Mama sebelum Mama meninggal. Waktu itu Mama menjual dua rumah di Jakarta dan beberapa bidang tanah di Bandung warisan dari kakek. Lily diberikan sepuluh milyar, untuk tabungan Lily kelak jika ingin membuka usaha.
Dan uang yang seratus juta itu uang tabungan dari uang bulanan yang selalu Papa kirim meskipun Lily sudah bekerja.
__ADS_1
Menurut Kak Angga, Lily ikhlaskan saja uang itu. Tapi Lily merasa bersalah kalau sampai uang pemberian dari Mama malah dinikmati oleh Rakha. Lily harus memikirkan cara supaya uang itu kembali.
Meskipun Lily merasa uang itu sudah Rakha pakai.
Tapi setidaknya Lily bisa ambil yang tersisa. Lily juga mempunyai surat perjanjian hutang piutang dengan Rakha. Itu adalah bukti yang kuat. Nanti dia akan menghubungi Anna. sahabatnya itu memang seorang penasehat hukum dan kini sedang magang di kantor advokat milik ayahnya.
***
Lily merasa lapar. Dia turun ke dapur untuk mengambil beberapa potong buah.
Setibanya di dapur dia melihat Rico yang sedang duduk di kursi meja dapur. Dihadapannya ada secangkir teh.
"Bang Rico menginap di sini?"Suara Lily membuat Rico terlonjak.
"Kamu mengagetkan saja, Ly." Rico secepatnya bersikap biasa.
"Aku menginap, besok mau menemani Papa jalan pagi dan sudah janji mau main catur"jawab Rico
Lily dengan dandanan alakadarnya. Memakai piyama tangan panjang dan rambut yang dikuncir seadanya. Anak rambutnya dibiarkan berantakan. Tampilan Lily seperti itu membuat Rico gemas. Polos sekali gadis ini, pikir Rico.
Setelah mengambil sepiring kecil potongan buah Lily duduk di depan Rico. "Mau, Bang?"menawari Rico. Rico membuang tatapannya ke sembarang arah, tak kuat hatinya melihat Lily segemas itu.
"Aku sudah makan buah juga tadi, sudah kenyang" jawab Rico. Aaah ini anak, tidak tahu ya perasaanku lagi kacau malah sengaja duduk di depanku, pikir Rico .
__ADS_1
"Bang Rico sakit? koq pucat?" Lily berlari ke kotak obat dan mengambil thermo gun. Lalu menembak dahi Rico dengan alat pengukur suhu tubuh tersebut. Rico gelagapan salah tingkah.
"waaah panas nih, Bang. Tuuh 37,8 derajat. Minum obat yaa" Lily meraih obat penurun panas dari kotak obat.
"Minum obat, Bang. Lalu istirahat ya, jangan begadang." Lily meletakan sebutir obat di atas piring kecil.
Rico menurut. Diminumnya obat itu. Lily tersenyum."Naah, sekarang bang Rico tidur, ya. Supaya besok pas bangun pagi badannya sudah sehat lagi" Kata Lily dengan senyum yang membuat Rico ingin mengunyel-ngunyelnya saking gemas.
"Mau Lily buatkan teh lagi?" tanya Lily.
"Sudah cukup, Ly. Aku mau langsung tidur. Terimakasih ya." jawab Rico.
"kamu juga jangan tidur larut. Harus cukup istirahat ya" ucap Rico gugup, ketika menoleh Lily sedang merapikan rambutnya yang berantakan.
"Siaaap Abaaang" sahut Lily dengan senyum manis mengembang.
Rico lekas pergi ke kamar tamu. Lama-lama bisa gila dia di dapur. Pekiknya. Saking salah tingkahnya dia menabrak meja.
Sementara dengan tatapan meringis agak khawatir, Lily melihat Rico yang setengah berlari dengan wajah gugup tadi menabrak ujung meja.
"Semoga Bang Rico tidak apa-apa" gumam Lily seraya menghabiskan sisa potongan buahnya.
***
__ADS_1