Bunga Lily Untuk Pangeran

Bunga Lily Untuk Pangeran
46. Merasa Bersalah dan Permintaan Maaf


__ADS_3

Dina mengetuk pintu ruangan manajernya, Bu Ismi. Bu Ismi menyuruhnya duduk. Lalu menatapnya tajam.


"Kamu ada masalah apa dengan pak Rico?" tanya Bu Ismi penuh selidik. Dina terkesiap. Dugaannya benar, Ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin.


"Saya juga tidak tahu, Bu" jawab Dina ragu. Dia merasa malu juga jika harus bercerita kejadian kemarin kepada bu Ismi.


"Saya rasa ini tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Tapi kemungkinan ada sikap atau kelakuan kamu diluar pekerjaan yang diketahui pak Rico dan dia tidak menyukainya. Yang secara tidak langsung berdampak ke nama baik perusahaan" ucap bu Ismi. Matanya masih menatap Dina penuh selidik.


"Saya sudah hafal dengan hal-hal seperti ini. Namun biasanya hanya saya yang turun tangan. Tapi kali ini sampai pak Rico yang turun langsung, sepertinya masalahmu berat"


"Ya sudah. Kalau kamu tidak mau cerita kepada saya. Tapi saya tidak bisa membantu kamu jika pak Rico sendiri yang sudah membuat keputusan" kata Bu Ismi. Dia menghela nafas.


"Kamu dipanggil ke ruang meeting. Disana ada pak Rico dan keluarganya menunggumu" bu Ismi melipat kedua tangannya seraya menatap Dina yang semakin gugup.


"Bersikap baiklah. Jika memang kamu bersalah, meminta maaf saja. Semoga saja pak Rico masih memberimu kesempatan bekerja di sini" kata bu Ismi lagi.


"Saya dipanggil pak Rico, bu?" Dina nampak ketakutan.


Bu Ismi mengangguk. Lalu berdiri.


"Ayo saya antar ke ruang meeting" kata Bu Ismi.


Dina berjalan dengan perasaan was was. Kakinya melangkah serasa tidak bertenaga. Jika menurut bu Ismi bahwa ada keluarga pak Rico juga. Mungkinkah ada Lily dan Ran Curtis? tanya Dina dalam hati. Jangan-jangan dia akan dipermalukan dan dipecat. Lalu apa yang harus dia lakukan? Mungkin benar kata Angel, dia harus meminta maaf kepada Lily.


"Masuklah!" suara Rico dari dalam ruangan meeting ketika bu Ismi mengetuk pintu. Bu Ismi mengisyaratkan kepada Dina untuk ikut masuk.


Di dalam ruangan sudah ada Rico, Ran, Lily dan Wini. Dina menatap mereka sekilas bergantian, lalu menundukkan kepalanya. Dia merasa ketakutan dan malu.


"Duduklah. Bu Ismi boleh tinggalkan kami. Kami hanya akan berbincang saja" ucap Rico.

__ADS_1


Dina segera duduk di kursi yang paling dekat dengannya. Bu Ismi segera undur diri dengan rasa penasaran yang masih menggelayuti pikirannya.


"Aku tahu yang didalam tadi selain calon istri pak Rico, ada juga pak Ran Curtis pemilik brand terkenal yang sedang trend saat ini dan istrinya. Aneh sekali..bahkan Dina juga sangat ketakutan. Pasti Dina berbuat yang tidak-tidak kepada pak Ran Curtis dan istrinya" bu Ismi mencoba menebak kemungkinan yang telah terjadi.


Di dalam ruangan meeting.


Dina duduk terdiam tidak berani menatap orang-orang di depannya. Saat ini rasanya dia ingin tiba-tiba menghilang entah kemana.


"Kamu tahu? sikap kamu kemarin membuat saya marah. Tadinya saya mau memecat kamu saja. Tapi kamu masih beruntung karena adik saya melarang saya memecatmu" Rico bicara to the point. Dia tidak mau bertele-tele. Lalu mempersilahkan Lily berbicara.


Lily menjelaskan secara detail kejadiannya. Sampai akhirnya Ran memperdengarkan rekaman perbincangan saat Lily dibawa pergi Rakha.


Dina sangat terkejut mendengar semua kenyataan yang dia dengar. Dia juga sangat malu. Rakha memakai uang Lily sebesar satu miliar lebih. Itu dipakai Rakha untuk menyenangkannya. Dia teringat dengan uang muka rumah yang dia tempati sebesar tiga ratus juta, pesta pernikahan senilai hampir tiga ratus juta dan segala hadiah berupa barang-barang mahal dan perhiasan yang dibawa Rakha untuknya ternyata semua memakai uang Lily.


Dan yang lebih memalukan lagi adalah Rakha menc-ulik Lily dan memaksanya menandatangani surat lunas.


"Bu Lily, saya minta maaf atas kejadian kemarin. Saya sadar, saya sangat salah. Saya marah karena di saat terakhir Rakha kabur meninggalkan saya, dia sedang marah melihat berita pernikahan anda dan pak Ran di sosmed dan berita. Dia juga menyalahkan saya. Gara-gara saya dia tidak bisa menikah dengan anda. Dia juga menghina saya dengan mengatakan bahwa anda jauh lebih baik dari saya" ucap Dina.


"Malah curhat.." gumam Rico dalam hati. Kalau tidak ada Lily dan Ran, mungkin dia sudah memaki-maki Dina. Tapi Lily dengan sabar mendengarkan curhatan Dina.


"Sekali lagi saya minta maaf, bu Lily. Saya merasa bersalah dan sangat menyesal" ucap Dina menatap Lily penuh harap.


"Baiklah. Saya maafkan. Yang penting sekarang sudah jelas" jawab Lily.


"Terimakasih, bu Lily" Dina merasa lega. Perlahan dia merasakan detak jantungnya mulai normal kembali.


"Oh iya, mbak Dina harus tahu. Saya tidak punya perasaan cinta kepada Rakha. Yang terjadi waktu itu hanya karena saya respect atas kebaikan dia kepada saya. Setelah kebaikannya hilang, respect saya juga hilang. Apalagi setelah saya mengetahui bahwa dia mendekati saya hanya karena uang. Lagipula sekarang saya sudah menikah dengan laki-laki yang saya cintai dan yang mencintai saya dengan tulus" Lily menatap Ran seraya tersenyum dengan penuh rasa syukur dalam hatinya. Ran membalas senyum Lily dan menggenggam tangannya.


"Saya faham, bu" jawab Dina.

__ADS_1


"Mengenai uang yang Rakha pinjam. Sebagian memang dipakai untuk memenuhi keinginan saya. Tapi saya tidak tahu kalau uang itu adalah uang bu Lily. Saya akan berusaha mengembalikannya, bu" lanjut Dina.


"Soal uang itu. Itu tanggung jawab Rakha. Lagipula dia sudah memegang surat lunas yang saya tandatangani. Meskipun caranya dia salah dengan memaksa dan mengancam saya" sahut Lily.


"Kami meminta bertemu anda bukan untuk meminta pembayaran hutang suami anda. Tapi supaya anda berhenti mengganggu istri saya dan menuduh yang tidak-tidak" Ran ikut bicara.


"Baik, pak Ran. Saya juga meminta maaf kepada pak Ran dan pak Rico atas perlakuan saya kepada bu Lily kemarin" ucap Dina memandang Ran dan Rico sekilas secara bergantian.


"Karena istri saya sudah memaafkan anda. Saya juga maafkan. Saya anggap masalah ini selesai" sahut Ran.


Rico menghela nafas dalam. Ditatapnya Dina dengan kesal.


"Saya terpaksa memaafkan kamu karena adik saya sudah memaafkan. Tapi kalau sampai sekali lagi kamu mengganggu adik saya, saya tidak akan segan-segan menindak kamu" ucap Rico.


"Saya janji tidak akan mengulanginya, Pak" ucap Dina cepat.


"Saya ucapkan terimakasih, pak Ran dan pak Rico" Dina meneruskan ucapannya.


"Ya sudah. Berarti masalahnya sudah selesai. Kamu boleh kembali bekerja" Rico berdiri dari duduknya mempersilahkan Dina pergi.


"Baik, Pak. Permisi " Dina pamit lalu beranjak keluar ruangan.


Sesampai di luar ruangan dia berjalan cepat menuju lift untuk turun ke ruangannya dengan perasaan malu yang masih terasa membebani hatinya. Tapi setidaknya dia sedikit lega karena Lily sudah memaafkannya dan pak Rico tidak jadi memecatnya.


Dia memikirkan beberapa hal. Dia tidak mau terlibat dengan apa yang sudah dilakukan Rakha kepada Lily. Meskipun Lily tidak memintanya mengembalikan uang tersebut, tapi dia akan berusaha mengembalikan sebisanya. Dia bisa menjual rumahnya secara over kredit ke orang lain. Karena rumahnya belum lunas, masih lima tahun cicilan lagi. Setidaknya dia bisa kembalikan uang muka sebesar tiga ratus jutanya kepada Lily. Dia juga bisa jual perhiasan dan beberapa barang pemberian Rakha.


Dia tidak mau menikmati yang bukan miliknya. Dia masih bisa kerja dan tinggal kembali di rumah orangtuanya atau tinggal di rumah kos dekat kantor.


***

__ADS_1


__ADS_2