
Rico menatap kepergian perempuan itu dengan menahan tawa. Apalagi saat dia hendak menabrak pohon palem.
'Siapakah dia?" gumam Rico bertanya pada diri sendiri.
"Dia tahu parfum yang kupakai hehehehe" Rico terkekeh ingat kejadian tadi saat perempuan itu mengerjapkan matanya saat mencium aroma parfumnya.
"Pasti dia juga suka dengan parfum ini" pikir Rico.
Bu Halimah sedang memasak makanan untuk makan malam di dapur. Rico duduk di kursi sebelah meja tempat bu Halimah membersihkan sayuran.
"Eeh mister Rico jangan duduk di dapur atuh. Bau nanti kena asap makanan" teriak Bu Halimah.
"tidak apa-apa, Bu Lim" ucap Rico santai. Bu Halimah menyiapkan teh hangat di cangkir untuk Rico.
"Ada tamu ya, Bu? tadi saya lihat ada perempuan yang bawa mobil pink itu di carport" Rico bertanya ke Bu Lim.
"Ooh itu mah neng Wini temannya neng Lily. Eh Sahabat ketah, dari mereka SMA. Mau nginap di sini, besok mau nemenin neng Lily piting" jawab bu Lim. Rico mengernyitkan dahinya.
"piting?" tanya Rico
"iya itu ngepasin baju penganten di butik" jawab bu Lim
"ooh fitting baju pengantin. Fitting, bu. Bukan piting" ucap Rico seraya terkekeh.
Bu Lim ikut tertawa. "Iya pokona mah eta lah ngepasin baju."
"Mister ngantosan (menunggu) den Angga sama pak Agan (juragan)?"tanya bu Lim.
"iya, Bu. katanya sebentar lagi sampai"jawab Rico.
"Mister, ternyata calon suami neng Lily juga sama bulenya kayak mister Rico. sama-sama ganteng" Bu Lim meletakkan cangkir teh di depan Rico.
__ADS_1
"Calon suami Lily kan memang Papanya orang Perancis, Bu. Orang Eropa juga" sahut Rico.
"Ooh begitu....Bule begitu juga ternyata meuni sholeh. Kemarin itu waktu jadi imam shalat, iih Bu Lim mah sampai merinding. Paseh (fasih) bener bacaannya" kata Bu Lim dengan mata penuh kekaguman.
"Iya, Bu. Dia memang cocok dengan Lily. Dua-duanya sangat baik. Keluarganya memang sangat baik pemahaman agamanya" sahut Rico.
"Mister Rico kenal sama keluarganya?"
"Kenal baik, Bu. Saya dan Ran sama-sama kuliah si Jepang. Dia sahabat saya juga seperti Angga"
"Euleuuh..meuni bisa begitu yah. Saling kenal" komentar Bu Lim penuh keterkejutan.
"Mister Rico atuh geura cari calon istri, serius. Jangan main-main lagi. Yang mau sama Mister Rico mah pasti berderet" kata bu Lim. Tidak lama bik Ijah yang memasak di sebelah bu Lim menghidangkan sepiring pisang goreng di hadapan Rico.
Rico tertawa pelan."Nanti saya cari deh, Bu" sahut Rico. Dia menyeruput teh hangatnya. Aroma pisang goreng hangat di hadapannya menggoda lidahnya untuk mencicipi.
"Ini pisang tanduk, Mister. Enak, legit rasanya. Dicobain atuh. Bik Ijah yang bikin itu, pasti enak rasanya" kata Bu Lim.
"Bu Lim, aku mau buat teh ya. bolehkah?"suara perempuan memasuki dapur. Wini terlonjak melihat ada Rico di dapur. Rico memasang senyum andalannya. Membuat Wini salah tingkah walaupun memaksakan membalas senyumannya.
"Atuh bukannya minta dibuatkan saja bilang lewat telepon ke dapur. kan bisa dianterin ke kamar sama Yuni atau bik Ijah" kata Bu Lim.
"Ngga apa-apa, Bu Lim. Aku buat sendiri saja. Biar enggak ngerepotin" jawab Wini.
"Aah nggak repot, cuma bikin teh aja koq" Bu Lim dengan gesit langsung membuatkan teh di cangkir.
"Terimakasih, Bu Lim. Aku ke atas lagi ya." ucap Wini seraya meraih cangkir teh.
Wini menganggukan kepala seraya kembali tersenyum kepada Rico. Rico membalas senyumnya. Bahkan sampai Wini menghilang di balik pintu, senyum Rico masih mengembang. Aah gadis itu ternyata memiliki lesung pipi juga seperti Lily.
"Jangan sama neng Wini tapi ya. Neng Wini mah sudah punya suami" ucapan bu Lim seperti suara petir di telinga Rico. Ya Tuhaaaan. Baru juga mau coba membuka hati untuk melupakan Lily, tiba-tiba pintu hatinya sudah seperti dibanting untuk ditutup lagi.
__ADS_1
Berubah menjadi manusia baik ternyata tidak mudah. Harus banyak sabar. Gumam Rico dalam hati.
Jadi namanya Wini. Sahabatnya Lily sejak SMA. Pantas saja dia tak pernah melihatnya. Karena saat Lily SMA dia masih kuliah di Jepang dan masih sibuk berpetualang tidak jelas dengan teman-teman wanitanya.
Tapi Wini tidak boleh didekati. Karena sudah bersuami. Rico mengingatkan diri sendiri. Kalau dia sudah bersuami, kenapa dia menginap di sini. Ah mungkin suaminya sedang tugas di luar kota. Atau karena dia memang sangat ingin menemani Lily. Rico bertanya-tanya dalam hatinya.
Tapi kenapa dia masih seperti anak gadis. Kikuk bertemu dengannya. Masih malu-malu. Biasanya perempuan jika sudah bersuami, akan bersikap cuek kepada laki-laki lain. Tidak kikuk seperti sikap Wini kepadanya tadi. Atau mungkin tadi sewaktu di carport, Wini terlalu shock karena dirinya membuat kuenya hancur? pikir Rico.
"Oh iya....aku harus memesan kue" pekik Rico dalam hati.
Kue itu pasti dibawa Wini untuk Lily. Mmmh sudah pasti gara-gara kue itu hancur, Wini sampai kikuk.
Rico menelepon Aryo-pengawal pribadinya untuk membeli kue di toko kue yang sedang hits di Bandung. Tadi dia sempat lihat nama tokonya di box kue. Isinya sepertinya ada selai strawberrynya.
Dia minta Aryo mengirimkan kuenya ke rumah Angga.
Rico segera menuju teras ketika dia mendengar Angga dan Papanya sudah tiba.
Malamnya dia ikut makan malam bersama Angga dan Papanya. Lily dan Wini makan di kamar Lily. Karena Lily sedang dalam masa pingit, jadi tidak boleh bertemu orang lain selain keluarga dan teman wanitanya. Tapi Rico sempat bertemu lagi dengan Wini, saat gadis itu mengambil kiriman paket dari kurir.
Saat kuenya tiba. Rico menitipkannya kepada Bu Lim untuk diantarkan ke kamar Lily.
Tidak lama, Lily meneleponnya.
"Bang Rico. Kata Wini terimakasih atas kuenya. Bang Rico baik sekali" kata Lily.
"Iya Lily. Sama-sama. Aku yang minta maaf karena gara-gara aku, kuenya tadi sore hancur" jawab Rico.
"Kata Wini iya, bang Rico" kata Lily sebelum sambungan telepon berakhir.
Rasa penasaran dalam hati Rico tidak bisa dibendung lagi. Dia menugaskan Aryo, untuk mencari informasi tentang Wini.
__ADS_1
***