
masih malam yang sama, Rayhan membawa Bunga kesebuah apartemennya yang tidak jauh dari tempatnya berhenti. keduanya basah kuyup akibat hujan deras yang mengguyur, Bunga diminta untuk mandi membersihkan dirinya sambil menunggu pakaian yang dipesan khusus oleh Rayhan. pria itu juga masuk kedalam kamar mandi lain, ia mulai mengganti pakaiannya dengan kaos oblong yang tersedia di lemarinya. sampai pintu kamar mandi tiba tiba terbuka, menampilkan Bunga yang keluar dari kamar mandi. gadis itu menggunakan piyama mandi dan rambutnya terbalut handuk, ia berjalan mendekat kearah Rayhan tanpa menggunakan alas kaki. Rayhan menatap kaki mulus dan putih Bunga, sampai ia melihat sebuah memar merah sebelumnya.
"duduklah, aku akan bantu mengganti perban ini! " ucap Rayhan memaksa Bunga untuk duduk, belum Bunga berucap Rayhan berkutik mengambil kotak obat yang tidak jauh dari sana.
"aku akan lakukan sendiri, tidak perlu kamu! " ucap Bunga saat Rayhan mengangkat kakinya, bukan Rayhan jika tidak keras kepala. pri itu mengangkat kaki Bunga, dan mulai membuka perban bekas yang masih terbalut itu. memar itu terlihat merah melepuh, kulit Bunga yang putih menjadi terlihat jelas dan pasti itu rasanya perih.
"aku ingin bertanya sesuatu, apa boleh?" ucap Rayhan, Bunga mengangguk tipis tanpa mengeluarkan suara. Rayhan sendiri ragu, bibirnya keluh karena takut jika dirinya bertanya Bunga akan merasa tidak enak hati padanya.
"kenapa diam, katanya mau bertanya? " ucap Bunga, Rayhan pun tahu kemudian menggelengkan kepalanya.
"lupakan, apa kakimu ini sakit? " tanya Rayhan mengalihakan pembicaraan, Bunga mengangguk tipis. karena memang rasanya perih, tapi tidak seberapa terlalu sakit. "mau pulang atau menginap saja? " hal itu membuat Bunga melotot, Rayhan yang salah bicara menggelengkan kepalanya. "maksudku diluar masih hujan, mobilku juga sedang diperbaiki. daripada naik taksi, bagaimana kalau menginap disini semalam. kau bisa tidur ditempat tidur, aku bisa tidur disofa. jika tidak setuju, aku bisa menyewa kamar yang lain! " jelas Rayhan, Bunga menatap sofa yang ia duduki dan menatap tempat tidur yang cukup besar. ia mencoba sofa itu, dan merasakan lumayan empuk dirasakannya. ia pun melihat jam di dinding, memang waktu menunjukkan pukul dini hari dan tidak baik jika dirinya kembali dengan seorang pria.
"baiklah, aku akan kembali saat pagi tiba. dan jangan lupa pakaianku, besok harus sudah ada! " ucap Bunga, Rayhan tersenyum kemudian mengangguk.
"siap tuan putri, sekarang istirahatlah kakimu sudah diperban dengan baik! " ucap Rayhan, ia membantu Bunga berdiri dan membawa gadis itu untuk tidur dikasur. Bunga menatap Rayhan yang menyelimuti nya, dengan senyuman Rayhan mematikan lampu meja agar tidak menganggu tidur Bunga.
"selamat tidur tuan Rayhan! " ucap Bunga, Rayhan tersenyum dan mengangguk.
"selamat tidur, mimpi indah! " sautnya, Bunga tersenyum kemudian menutup matanya. Rayhan sendiri berbaring diatas sofa, ia juga mulai memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya.
tidak terasa waktu sudah pagi, sinar matahari dari balik jendela menganggu tidur Rayhan. ia merenggangkan ototnya, kemudian melirik kearah tempat tidur. disana gadisnya sedang tertidur pulas, bagaimana seorang anak kecil yang tidak mengerti apapun. Rayhan tersenyum memandang wajah Bunga, wajah cantik natural khas dari diri Bunga.
__ADS_1
"kau mengubah segalanya, kau mengubah Rayhan yang tidak peduli menjadi peduli! " gumam Rayhan, suara bel pintu berbunyi segera Rayhan berjalan kearah pintu dan membuka pintu. Rayhan terkejut saat melihat Reyvan, pria itu memberikan sebuah kunci mobil untuknya.
"jadi kalain bermalam disini? " ucap Reyvan, pria itu melirik tempat tidur. ia melihat punggung Bunga yang tertidur, Reyvan tersenyum dan menatap Rayhan.
"pergilah, Terima kasih kuncinya! " ucap Rayhan, Reyvan tertawa tipis kemudian pergi dari sana. secara bersamaan pakaian yang dipesan Rayhan datang, beberapa baju dipesan oleh Rayhan sendiri untuk Bunga. tidak lama sarapan yang ia pesan juga datang, dan lumayan cukup banyak untuk dirinya dan juga Bunga. gadis itu yang terlelap mendengar suara bising, ia pun terbangun dan mengumpulkan semua nyawanya yang pergi jalan jalan. Rayhan tersenyum, ia membuka lebar gorden jendela yang menampilkan langit cerah. "pagi, bangunlah pakaianmu sudah datang! " ucap Rayhan, Bunga duduk dengan senyuman.
"selamat pagi tuan Rayhan, apa aku kesiangan? " ucap Bunga, Rayhan melihat jam dan sedikit tersenyum.
"bangun nanti siang juga tidak masalah, aku bisa menemanimu sampai kau bangun! " ucap Rayhan, Bunga tersenyum kemudian melihat beberapa pakaian dan makanan disana. "pergilah mandi, aku tidak tahu pakaian apa yang cocok untukmu jadi aku meminta beberapa pakaian! "
"sederhana saja, kenapa harus merepotkan seperti ini! " ucap Bunga, Rayhan menggelengkan kepalanya. Bunga pun memilih pakaiannya, kemudian masuk kedalam kamar mandi. Rayhan menunggu dengan sabar, ia sesekali memainkan ponselnya untuk melihat pekerjaannya. beberapa menit kemudian Bunga keluar dari kamar mandi, gadis itu memilih pakaian berwarna biru dan pas untuknya. Rayhan yang melihatnya sampai tertegun, kemudian sadar saat Bunga melangkahkan kakinya mendekat kearahnya.
"aku akan bilang pada orang tuaku, dan juga Riyan pasti menungguku nanti. anak itu sudah giat belajar, jadi jangan sampai dilepas! " ucapnya, Rayhan mengangguk dengan itu. keduanya sudah sama sama rapi dengan pakaian mereka, keduanya melakukan sarapan pagi bersama dengan obrolan kecil. melupakan masalah sebelumnya, dan berharap masalah itu tidak terjadi lagi.
...****************...
siang hari Reyvan tidak kembali ke rumahnya, ia kembali kerumah sang kakak. Reyvan ingat kalau sang adik melakukan kegiatan belajar dirumah, Reyvan penasaran pada seseorang yang membuat sang adik cocok begitu juga dengan kakaknya. ia berpikir gadis seperti apa dia, dapat merubah Rayhan dalam waktu yang cepat. Reyvan menghampiri Riyan yang duduk sendiri, Riyan tersenyum saat melihat Reyvan datang.
"bagaimana kabarmu, kenapa sendirian? " ucap Reyvan duduk disamping Riyan, dengan tersenyum Riyan menoleh kearah kakaknya.
"baik kak, iya belajar ku sudah selesai. dosenku sedang kekamar mandi, setelah itu pergi pulang! " ucap Riyan, Reyvan mengangguk dengan itu. "biasanya dia akan pulang setelah kakak Rayhan datang, tapi hari ini sepertinya dia ingin pulang! " ucap Riyan lagi, Reyvan mengerti dengan yang dimaksud adiknya itu.
__ADS_1
Reyvan pun meninggalkan Riyan, ia berjalan kearah dapur. benar saja ia melihat seorang wanita yang membelakangi nya, wanita itu seperti sedang membuat minuman. Reyvan ingin menyapa wanita itu, karena memang rasa penasaran nya belum tuntas karena masih ingin tahu siapa gadis itu. sejenak ia berpikir, nampak tidak asing pada bagian belakang gadis itu. Reyvan merasa seperti pernah bertemu sebelumnya, tiba tiba jantung berdegup dengan kencang tidak terkendali.
Reyvan mundur beberapa langkah, sampai dirinya menyenggol sebuah gelas. Bunga yang mendengar itu menoleh, bersamaan dengan beberapa pelayan yang membantu Reyvan. Bunga mencoba melihat keributan itu, tapi air yang ia rebus telah matang dan ia memilih untuk mengabaikan. setelah selesai Bunga melihat keributan itu sudah hilang, ia pun pergi dengan membawa minuman hangat yang ia buat untuk Riyan dan juga dirinya.
"apa anda bertemu kakakku miss? " ucap Riyan, Bunga menggelengkan kepalanya. "tadi dia
menjatuhkan gelas dimeja, sekarang tangannya terluka."
"oh jadi tadi kakakmu, aku sempat lihat tadi tapi aku tidak membantunya karena beberapa pelayan sudah datang! " saut Bunga, Riyan pun mengangguk untuk mengiyakan.
"aku rindu kampus, huhu! " ucap Riyan, Bunga tersenyum dengan itu. karena sebenarnya dirinya juga rindu, sangat lama tidak mengajar disana.
"aku pergi dulu ya, salam untuk kakakmu! " ucap Bunga, Riyan pun mengiyakan hal itu dan melambaikan tangan pada Bunga yang menaiki taksi. dari dalam kamarnya Reyvan menatap taksi Bunga pergi, tiba tiba saja reaksi Reyvan tertegun melihat taksi Bunga. dengan cepat Reyvan berlari menyusuri tangga, ia berlari cepat sampai ke hadapan pintu. taksi Bunga sudah hilang dibalik pagar besar rumah itu, Riyan bingung melihat sang kakak yang menghela nafas berulang kali.
"kakak ada apa? "
"siapa tadi itu? " ucap Reyvan, ia masih mengatur nafasnya yang tersenggal.
"tadi itu dosenku kak, kenapa? " Reyvan menghela nafas berulang kali, ia menggelengkan kepalanya pada Riyan dan meminta adiknya itu untuk segera masuk kedalam rumah.
"ada apa denganku, semalam aku bermimpi tentang wanita itu. sekarang aku membayangkan wajahnya, tidak benar ini tidak benar! " gumam Reyvan sebelum masuk kedalam rumah, ternyata ia melihat seseorang yang dikenalnya tapi ia pungkiri karena berpikir dirinya sedang berhalusinasi.
__ADS_1