Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 7


__ADS_3

"Kamu kenapa Fir, kok dari tadi ngelamun terus. Ada masalah yah?" Tegur Mira karena sedari tadi Safira melamun terus.


Bahkan pekerjaannya menjadi terbelangkai karena keasyikan melamun. Jika bukan karena Aldi itu pasti karena keluarganya. Tapi kan keluarnya sudah damai dan tidak ada lagi perselisihan yang menyulut api seperti kemarin.


"Gak kok, ini bukan masalah." Tersadar dari lamunannya, langsung saja Safira mengelak pertanyaan Mira.


Ini.. bukanlah sebuah masalah. Hanya saja, Safira sedikit kebingungan karena orang yang ia lihat sore kemarin begitu mirip dengan seseorang yang ia kenal.


Tapi... Safira yakin itu bukanlah dia karena setahu Safira orang itu tidak akan bersikap sesopan itu. Lagipula mengapa?


Mengapa orang itu ke sini?


Apakah untuk mencari keberadaan Dea?, Bukankah mereka sudah tidak punya hubungan apapun dan Dea...dia sudah diputuskan bukan olehnya?


"Gak ada masalah tapi kok dari pagi ngelamun terus kamu, yakin nih kalau kamu masih gak ada masalah?" Tanya Mira tidak percaya.


Masa iya sih orang santai tanpa beban pikiran maupun hidup tiba-tiba bawaannya ngelamun gak jelas?


Anak kecil pun tahu kalau ini tuh gak masuk akal.


"Yah..ini sebenarnya bukan masalah. Aku hanya bingung saja dengan laki-laki yang bersama ustadz Aldi kemarin. Dia mirip dengan seseorang yang aku kenal, persis tidak ada bedanya." Dari wajahnya yang putih bersih dan alisnya yang menjuntai tebal, Safira yakin jika orang ini adalah orang yang sama.


Akan tetapi ketika laki-laki ini tersenyum segala firasat Safira langsung terbantahkan dan membuatnya berpikir bahwa tidak.. laki-laki ini tidak sama dengan orang itu.


Apakah mereka hanya mirip atau apa?


Jika benar mereka punya hubungan darah lalu mengapa.. mengapa mereka bisa punya sisi kehidupan yang berbeda?


"Benarkah?, Maksud mu dia adalah kenalan mu di kota tempat tinggal mu?" Tanya Mira antusias ketika berbicara tentang laki-laki yang kemarin.


"Bukan kenalan sebenarnya karena kami di sekolah dulu tidak saling mengenal. Tapi aku tahu orang ini..dia..dia persis seperti mantan Dea. Namun ketika aku perhatikan lebih jelas lagi sebenarnya tidak, mereka tidak mirip dan ini membuat ku bingung." Jelas Safira.


"Dia mantannya Dea?" Ucap Mira terkejut juga tidak terima.


"Ini masih belum pasti karena ada sesuatu dari laki-laki ini yang membuat ku berpikir jika mereka sebenarnya bukan orang yang sama." Bantah Safira karena jauh dari dalam hatinya laki-laki ini mungkin bukan laki-laki yang menghancurkan kehidupan Dea.


"Ya Allah, aku tuh bingung ya sama omongan kamu dari tadi kok poin plan banget. Sebenarnya itu mantan Dea atau enggak sih?" Kesal Mira tidak sabar karena omongan Safira dari tadi menurutnya kurang jelas.


Memutar bola matanya malas, "Dia emang kelihatan orang yang sama tapi bukan berarti dia adalah orang yang sama. Apalagi dari caranya senyum maupun bersikap dia jauh lebih baik dari orang yang aku tahu ini, paham?"


"O...bisa jadi mereka saudaraan?"


"Iyasih, tapi kalau emang saudaraan kan seharusnya mereka dijalan yang sama tapi mengapa mereka punya dua sisi yang berbeda?"


Kali ini bukan Safira yang memutar bola matanya namun Mira, "Kamu gak boleh berpatokan seperti karena mereka punya kehidupan masing-masing. Lihat aja tuh si Reina sama si Dea. Mereka kan saudaraan tapi jalan yang mereka ambil berbeda."


"Bisa jadi sih, ah tau-"

__ADS_1


"Assalamualaikum?"


Deg


Tiba-tiba tubuh Safira langsung terasa kaku, mengangkat kepalanya ia dapati Aldi bersama laki-laki yang kemarin sore ia lihat.


"Wa- waalaikumussalam, ustadz." Dengan gugup Safira menjawab salam ustadz Aldi.


"Dokumen santri yang akan saya bimbing bukankah anti yang mengurusnya?" Tanya ustadz Aldi dengan tenang seraya menjaga pandangannya agar tetap pada batasnya.


"Dokumen?" Safira tidak bisa berpikir cepat saat ini karena jantungnya masih belum bisa beradaptasi dengan serangan tiba-tiba dari ustadz Aldi.


"Benar, Gus Gio mengatakan bahwa antilah yang mengurusnya." Jawab ustadz Aldi langsung.


Sebelum datang ke sini ia dan Ali sempat mengunjungi kantor Gus Gio dan diperintahkan untuk mengambil dokumen peserta didik yang akan ia bimbing selama mengajar di sini.


Awalnya ia sedikit terkejut karena dulu yang mengurus dokumen santri adalah para Ikhwan namun mengapa sepulangnya dari Kairo orang yang mengurus dokumen santri adalah para akhwat.


Ini membuat Aldi secara pribadi bertanya-tanya mengapa ada perubahan secepat ini di sini?


"Dokumen yang Gus Gio titip kemarin." Bisik Mira membantu Safira keluar dari kelinglungannya.


"Ah..jadi dokumen itu." Dengan malu ia membawa langkahnya menuju laci khusus tempat dokumen baru-baru di simpan.


Ada beberapa map kuning yang memang secara khusus pondok pesantren labeli sebagai dokumen santri laki-laki dan map merah yang pondok pesantren labeli sebagai dokumen santriwati.


"Ini ustadz dokumennya, maaf sebelumnya jika saya tidak cepat tanggap dengan permintaan ustadz." Ucapnya malu-malu seraya memberikan ustad Aldi beberapa map kuning yang sudah tersusun rapi sejak awal.


"Tidak apa-apa mungkin sayanya yang terlalu terburu-buru saat berbicara." Angguknya sambil membawa dokumen tersebut ke tangannya.


Memeriksanya dengan teliti, mata sipit Safira diam-diam melirik Ali yang sedang asik menundukkan kepalanya.


Meskipun sedang menunduk untungnya Ali ini adalah orang yang tinggi sehingga Safira masih bisa melihat seperti apa wajah pemuda ini lebih dekat.


Memperhatikannya secara diam-diam sejenak Safira tidak bisa mengatakan apa-apa.


Tidak,


Tidak!


Mereka bukan orang yang sama dan laki-laki ini jauh lebih baik dan sempurna dari orang itu!


Sekarang dugaannya benar jika laki-laki ini bukanlah orang itu dan logikanya jika itu memang dia mana mungkin ia datang ke sini?


Lagipula tinggi mereka sangat jauh, yah..bisa dibilang laki-laki ini lebih tinggi dari orang itu.


"Alhamdulillah..ini sudah rapi," Mengangkat pandangannya rendah.

__ADS_1


"Terimakasih atas bantuannya kalau begitu kami pamit dulu, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Salam ustadz Aldi seraya membawa langkahnya dan Ali menjauh dari Safira dan Mira.


Semakin menjauh, pandangan penuh rindu Safira dan Mira memperhatikan dua punggung tegap dan meneduhkan laki-laki ini dengan khusyuk.


Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing dan urusan hati mereka yang penuh rahasia.


"Masyaa Allah, dia begitu tampan." Gumam Mira masih senang memandangi punggung tegap Ali.


"Hem, mereka bukanlah orang yang sama." Gumam Safira menyimpulkan penilaiannya.


***


"Dea, tolong temani aku ke ustazah Nur sebentar saja. Ustadzah Nur bilang ingin membicarakannya sesuatu dengan ku." Ajak Masha tidak tahan melihat Dea sedari tadi terus saja tidur tanpa ada kegiatan apapun.


Bahkan tadi pagi pun ia dengan berani bolos sekolah sehingga membuat ustazah yang mengajar menegur Masha sang pihak yang berkewajiban menjadi wali Dea.


Dea yang enggan melakukan apapun tidak perduli dengan urusan Masha, apalagi jika bawa-bawa nama ustazah, Dea hapal betul jika ia akan menjadi sasaran kemarahan mereka.


Dea bosan.


"Ayo De, nanti kalau kamu gak temenin aku ke sana sama siapa?" Mohon Masha mencari simpati Dea meskipun ia tahu sendiri jika Dea bukanlah orang yang mudah didekati.


"Kamu kan punya banyak teman di sini kenapa gak ajak mereka aja sih?" Dea gak habis pikir dengan pikiran Masha.


Jika ingin meminta bantuan seharusnya dia ajak saja teman-temannya yang lain dan kenapa harus dirinya?


"Dea, aku kan gak-"


"Ya udah cepetan gak usai pakek lelet." Kesal Dea seraya memperbaiki jilbabnya dan berjalan keluar dari kamar asrama mereka.


"Ya Allah, Dea tunggu!" Teriak Masha mengejarnya.


Dea tentu saja tidak mendengarkan dan terus saja membawa langkahnya menuju kantor staf atau mungkin bahasa sekolah ruang guru.


"Pelan-pelan Dea.." Keluh Masha setelah ia bisa berjalan sejajar dengan Dea.


"Idih, kok ngatur sih padahal yang minta tolong kan kamu." Ucap Dea sinis karena ia tidak suka diatur apalagi orang yang mengaturnya adalah orang yang meminta bantuannya.


Dea benar-benar benci dengan orang yang seperti ini.


"Iya deh, maaf-" Langkah Masha terhenti karena baru menyadari jika sedari tadi ia hanya berjalan sendirian saja di sini.


"Lho Dea, kamu kok berhenti sih?" Bingung Masha setelah melihat ke belakang Dea sedang berdiri membantu.


Wajah Dea berwarna pucat seperti mayat, kedua tangannya bergetar menahan marah dan sakit. Sedangkan kedua matanya yang sedari kemarin kini menatap seseorang dengan tatapan sendu yang kosong dan kecewa.


"Rio?" Gumamnya tidak percaya sekaligus kesakitan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2