Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 2


__ADS_3

"Sekarang keputusannya saya serahkan kepada para orang tua, namun saya sarankan alangkah lebih baiknya Dea dan Rio dinikahkan saja untuk menghindari fitnah diluar sana." Pak Romi selaku kepala sekolah dengan tulus memberikan jalan keluar demi kebaikan kedua belah pihak. Lagipula Dea dan Rio juga diketahui sudah berpacaran sehingga seharusnya menikah adalah keputusan terbaik untuk mereka.


"Terimakasih atas sarannya Pak, untuk hasil akhirnya kami akan memutuskan secara musyawarah." Papa Dea menyambut dengan hangat namun syarat akan pengusiran yang halus.


Mengangguk bijak, Pak Romi tahu jika kedua orang tua ini ingin ditinggal sendiri sehingga mereka semua bisa bermusyawarah.


"Ya, kalau begitu saya tinggal dulu agar kalian bisa mengambil keputusan dengan bijaksana." Pamit Pak Romi dengan sindiran yang lebih halus lagi.


Pak Romi tahu betul sifat para orang tua kaya seperti mereka. Demi gengsi dan kehormatan mereka tidak akan perduli dengan masa depan putra putri mereka.


"Sekarang kita bisa mendiskusikannya dengan serius." Mulai Papa Dea serius.


"Kami menolak menikahkan Rio dengan anak kalian yang murahan." Mama Rio dengan arogan menatap rendah Dea yang terlihat berantakan.


"Tant-"


"Diam Dea!" Potong Papa tidak suka Dea ikut campur masalah ini.


"Kenapa kamu bisa memutuskan begitu saja padahal kita semua tahu jika mereka berdua pacaran dan melakukannya dengan sama-sama suka." Mama Dea yang sedari tadi diam akhirnya buka suara.


"Kau jangan asal menuduh jika aku memutuskan secara sepihak. Aku mengatakan hal ini karena Rio sendiri yang mengatakan bahwa ia tidak ingin disandingkan dengan Dea, anak mu."


Lalu semua mata jatuh kepada Rio yang dengan khusuk menundukkan kepalanya.


"Mengapa begitu lancang memutuskannya? Bukankah laki-laki yang berzina dengan Dea adalah Rio. Rio, Tante harap kamu bisa menjelaskan ini." Dengan sabar Mama Dea menuntut penjelasan Rio.


Dengan enggan Rio mengangkat kepalanya, menampilkan wajahnya yang memar bekas tamparan dari Pak Romi.


"Tante, jika aku satu-satunya yang pernah berhubungan dengan Dea maka menikahinya tidak masalah bagiku. Tapi sayangnya laki-laki yang pernah meniduri Dea bukan hanya aku jadi tentu saja aku keberatan menikah dengannya. Laki-laki manapun pasti menginginkan sebuah pernikahan yang sakral Tante, menikah dengan perempuan baik-baik yang pantas dijadikan seorang Ibu untuk anak-anak ku dan bukannya menikah dengan perempuan murahan yang tidak bisa melakukan apa-apa." Seketika ruangan itu menjadi sunyi, meninggalkan suasana canggung yang menegangkan.


"Hiks.." Dea menangis sakit, menatap Rio dengan tatapan kecewa.


"Rio.. Rio, bukankah kamu tahu jika satu-satunya laki-laki yang pernah menyentuhku adalah ka-"


"Baiklah kami mengerti, setelah ini kami janji jika Dea tidak akan bisa mengganggu Rio lagi." Potong Papa suram.


"Pa..Pa, itu gak benar Pa! Papa harus percaya Dea-"


Plak


"Diam, anak sialan!"


"Pa?" Dea tidak bisa menahan rasa keterkejutannya setelah mendapatkan tamparan dari tangan Papanya sendiri. Dulu.. Papanya tidak pernah sampai menjatuhkan tangan semarah apapun ia kepada Dea, namun hari ini..hari ini tangan Papanya begitu ringan saat jatuh ke pipinya.


Bahkan Mamanya yang selalu membelanya kini memalingkan wajahnya dari Dea. Ia tidak mengatakan apapun namun sikapnya menjelaskan bahwa Mama juga sudah tidak perduli kepadanya.


"Setelah hari ini jangan pernah bermimpi memanggil ku sebagai Papa."


"Tidak-"

__ADS_1


Brak


"Mimpi buruk.." Gumam Dea lega seraya mengusap matanya yang masih mengantuk.


"Sudah berbulan-bulan tapi mimpi ini begitu enggan meninggalkan ku." Gerutu Dea kesal.


Padahal ia tahu bahwa Rio tidak sejahat itu kepadanya namun tetap saja mimpi itu terus menghantui malam-malamnya yang menyebalkan.


"Jam bera-"


"Ya Allah! Ini sudah lewat ashar, mati aku pasti kena hukuman petugas sialan itu." Dengan buru-buru Dea bangun dari acara duduknya. Berlari cepat ia tidak perduli jika suara langkah kakinya membuat penjaga perpustakaan terganggu.


Untung saja ia sudah menghapal tempat-tempat di sini sehingga ia tidak takut untuk tersesat.


Pondok pesantren ini sebenarnya lebih luas dari yang ia bayangkan, selain ada gedung untuk sekolah dan tidur, pondok pesantren ini juga punya lahan yang sangat luas. Lahan itu khusus digunakan oleh pondok pesantren untuk bercocok tanam. Tentunya yang melakukan cocok tanam di sini adalah para santri yang bergotong royong.


Makanya setiap tahun pasti dirayakan hari panen massal yang dimana hasil panennya sebagian disumbangkan untuk orang yang membutuhkan juga sebagiannya lagi untuk keperluan pondok pesantren.


"Dea!" Masha berlari cepat mendekati Dea sudah menghentikan langkahnya.


"Masha?"


"Alhamdulillah ya Allah akhirnya aku bisa menemukan kamu juga, kamu tahu gak De, dari tadi aku tuh nyariin kamu keliling pondok pesantren. Kamu habis kemana sih sebenarnya? Di cari ke sana kemari gak ketemu-ketemu." Dumel Masha karena setelah mengembalikan buku ia tidak menemukan Dea dimana-mana.


Masha bahkan sempat berpikir jika Dea kabur atau melarikan diri, membuat masalah untuk pondok pesantren seperti kemarin-kemarin saat ia memfitnah Annisa.


"Aku ketiduran di perpustakaan tadi." Jujur Dea karena percuma saja berbohong, ia tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.


Pikiran seperti ini, Dea sudah bisa menebaknya.


"Ya Allah aku-"


"Ini sudah lewat ashar dan sudah dipastikan kita telat, apa kau tidak takut mendapatkan hukuman lagi dari petugas kedisplinan?" Potong Dea jenuh. Berada di samping Masha lama-lama membuat hatinya terasa dingin. Dingin sampai ia begitu muak terus-terusan di dekatnya.


"Ya Allah aku lupa jika kita belum sholat ashar, hah..pasti kita akan mendapatkan hukuman lagi karena telat. Ya udah kita langsung ke asrama saja untuk mengambil mukena dan ikut bergabung bersama yang lain di masjid." Jika ditanya takut tentu saja Masha merasa takut dihukum petugas kedisplinan.


Bagaimana tidak takut jika petugas kedisplinan menghukumnya sudah berkali-kali. Hampir setiap hari malah mereka berdua dihukum karena sering telat dan itu semua selalu karena Dea yang sulit diatur.


Kesabaran Masha benar-benar diuji oleh Dea.


"Ya, tapi kau lepas dulu tangan mu dariku." Ucap Dea tidak suka seraya melepaskan tangannya dari genggaman tangan Masha.


"Oh, maaf." Ucap Masha canggung.


Melanjutkan perjalanan ke asrama tiba-tiba perhatian mereka berdua teralihkan dengan kerumunan santri yang lagi-lagi sedang mengelilingi sebuah mobil putih.


"Sekarang siapa lagi yang datang?" Bingung Dea tidak habis pikir mengapa orang-orang ini begitu antusias melihat setiap orang yang datang ke sini.


Apalagi orang-orang ini rela membolos dan berkumpul di sini hanya untuk menyambut tamu itu.

__ADS_1


"Wah, sudah sampai ternyata. Masyaa Allah, mereka begitu semangat menyambut kedatangannya." Jika tidak bersama Dea mungkin ia sudah membawa kakinya berlari ikut bergabung bersama dengan yang lain.


Menyambut kepulangan ustadz muda yang sudah dua tahun ini mereka semua idam-idamkan, apalagi ia sudah resmi mengabdi di sini maka bukan tidak mungkin bukan jodohnya di antara para santriwati.


"Itu siapa lagi yang datang?" Tanya Dea mengulangi pertanyaannya.


"Itu adalah Ustadz Aldi yang baru pulang dari Mesir setelah menyelesaikan studinya. Tidak hanya cerdas tapi ustadz Aldi juga tidak kalah tampan dengan Gus Gio sehingga banyak dari kami yang berharap dijodohkan dengannya. Apalagi usianya masih terbilang muda untuk ukuran sesukses ini, siapa yang tidak berharap coba jika orangnya sesempurna Ustadz Aldi." Saat mengatakan ini mata Masha penuh dengan kekaguman.


Mungkin apa yang ia katakan memang benar jika ustadz itu cukup tampan.


Apalagi jika dibandingkan dengan ketampanan Gio yang luar biasa maka Dea pikir ustadz ini memang tampan.


"Pergilah jika kau mau, lagipula sepertinya tidak ada kegiatan apapun di dalam masjid karena semua penghuninya kabur ke sini."


"Lalu bagaimana dengan mu?" Tanya Masha ragu namun tetap tergoda.


"Jangan khawatirkan aku karena setelah ini aku ingin langsung bersih-bersih lalu istirahat sebentar di asrama. Tidur di perpustakaan membuat leherku terasa tidak nyaman."


"Apa kau butuh ku pijatkan?" Khawatir Masha takut jika Dea kenapa-napa.


"Tidak perlu berlebihan karena ini hanya pegal biasa, tidur sebentar saja pegalnya akan hilang." Tolak Dea tidak ingin menghalangi kesenangan Masha.


Jarang sekali melihat Masha sebahagia ini ketika bersamanya oleh karena itu ia tidak akan mengganggu Masha untuk melihat ustadz itu.


"Jika memang benar begitu maka aku pergi dulu menyusul yang lain, Dea, jangan lupa untuk beristirahat di kamar." Pesan Masha sebelum meninggalkan Dea.


Melihat langkah terburu-buru Masha,  Dea pun dibawa kembali ketika ia pertama kali mengenal Rio. Rasanya..yah, mungkin seantusias Masha.


Mungkin..


Ia juga ingin sekali lagi merasakan manis itu, manis sampai ia dibawa terbang ke tempat yang paling tinggi juga menyenangkan.


Dea ingin merasakannya.


                                           ****


"Ekhem...ada yang sedang berbunga-bunga nih.."


"Diam, jangan merusak image ku di depannya nanti." Bisik Safira kesal karena sedari tadi Mira terus saja menggodanya.


"Ahaha.. benarkah? Ustadz Aldi ini ada yang nyariin lho~" Suara Mira lantang berniat hanya menggoda Nanda saja. Namun siapa yang tahu jika ustadz tampan itu benar-benar merespon panggilannya dan mengangguk ringan sebagai sapaan.


Beberapa detik kemudian ia kembali fokus pada para santri berebut menyalami tangannya.


"Ya Allah...Fir, kita direspon tahu.." Bisik Mira senang di telinga Safira.


Sama halnya dengan Mira, Safira pun tidak bisa menutupi perasaan manisnya di hati. Orang yang ia tunggu-tunggu selama ini akhirnya mau meresponnya..


Ya, sapaan yang bagus dan Safira tidak sabar menunggu saat-saat yang manis lainnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2