
"Apa kamu tidak apa-apa?" Aldo bertanya gugup seraya memperbaiki letak kacamatanya yang sempat bergeser saat menjangkau Safira yang hampir saja terjatuh.
"Alhamdulillah, aku tidak apa-apa." Jawab Safira sama gugupnya, menyembunyikan rona merah yang Safira tebak semakin jelas saja warnanya saat ini.
"Safira, apa-apa kamu gak apa-apa, dek?" Lalu suara terengah-engah Gio memasuki pendengaran mereka. Mereka berdua bisa menebaknya jika Gio baru saja berlari ke sini.
"Safira gak apa-apa kok Mas Gio," Mencuri tatap pada wajah tampan di sampingnya.
"Alhamdulillah, ada 'ustad Aldi' yang sempat menahan Safira agar tidak jatuh." Lanjutnya sengaja menekankan kata ustad Aldi. Ini adalah sebuah kode kepada Gio agar mau memperkenalkannya dengan Aldo, ah!
Dikira sebagai Aldi, Aldo tanpa sadar mengerutkan keningnya tidak nyaman. Bertanya-tanya, sudahkah gadis ini melupakan pertemuan mereka yang dua tahun lalu?
Atau selama ini Safira selalu menganggap Aldi adalah orang yang ia temukan dulu?
"Syukurlah jika kamu tidak apa-apa." Gio menghela nafas dengan lega. Bagaimana ia tidak panik dengan kondisi Safira, sebab kedua mertuanya menitipkan Safira untuk ia jaga di sini. Jadi, sebagai amanah dari sang mertua, Gio tidak akan pernah membiarkan Safira lolos dari pengawasannya.
"Ngomong-ngomong Safira, kenalkan ini adalah Aldo dan bukan ustad Aldi. Mereka memang mirip karena terlahir kembar, namun mereka berdua punya perbedaan yang cukup jelas. Kamu bisa membedakan mereka berdua dari matanya. Jika kamu perhatikan, kedua mata Aldo tidak terlalu hitam seperti milik Aldi. Ditambah Aldo juga menggunakan kacamata jadi di masa depan nanti kamu bisa dengan mudah mengenalinya." Dan sesuai dengan harapan yang ingin Safira dengar, Gio memperkenalkan Aldo untuknya.
Beruntungnya ia berjalan terburu-buru tadi karena dengan begitu Safira dapat bertemu kembali dengan orang yang ia tunggu-tunggu sedari dulu. Ia juga sangat senang setelah mendengarkan informasi penting dari Gio, Hem.. karena Gio, Safira bisa mendapatkan informasi yang sangat banyak!
"Nah, untuk Aldo, kenalkan ini adalah Safira. Adik ipar ku sekaligus murid ku yang ada di pondok bambu dulu, jika kau berpapasan dengannya nanti jangan ragu untuk menyapanya." Setelah memperkenalkan Aldo, kini Gio memperkenalkan Safira kepada Aldo yang sebenarnya sudah mengetahui semua informasi itu.
"Oh.. astagfirullah!" Gio menepuk jidatnya yang membuat Safira dan Aldo sontak menatap kearahnya.
"Kenapa diam sendirian di sana, kemarilah, ada yang Gus ingin kenalkan kepadamu."
Mira, yang sedari tadi diam mematung dan terabaikan langsung tersadar dari lamunannya. Tersenyum malu, ia dengan sopan menundukkan kepalanya dan mendekati Safira yang terlihat sangat gugup. Bahkan Mira bisa melihat betapa merahnya wajah sahabatnya ini, Hem... bukankah Safira menyukai ustad Aldi? Pikirnya bertanya-tanya.
"Nah, Mira ini adalah Aldo saudara kembar ustad Aldi. Lihat dari matanya yang menggunakan kacamata maka kau akan langsung bisa membedakan mereka berdua." Gio mengulangi hal yang sama kepada Mira. Mira yang terlihat polos dengan kosong memandangi wajah tampan Aldo yang sama sekali tidak punya perbedaan dengan ustad Aldi kecuali matanya yang menggunakan kacamata.
"Ehem, zinah mata." Gumam Safira yang hanya bisa di dengar oleh Mira. Namun, meskipun disindir seperti itu Mira sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan tersadar dari kegiatan mengamatinya yang sangat fokus. Hem... sangat-sangat fokus sampai jatuhnya melamun!
Kesal dengan niat Mira yang ingin segera mengangkat bendera tikungan, Safira tidak lagi menggunakan cara sopannya untuk menghadapi kekonyolan Mira di situasi yang tidak tepat.
"Astagfirullah, tundukkan pandangan mu wahai ukhti." Sindir Safira lagi namun dengan suara yang sedikit lebih besar. Hal ini sontak langsung membuat Mira tersadar dari sikapnya yang terlihat sangat konyol. Bukan hanya itu, Aldo yang sedari tadi mengamati tingkah laku mereka tidak bisa menahan senyumannya yang tampan.
Dia benar-benar tampan, ah!
"Ah...oh, maaf-maaf." Mira langsung menundukkan kepalanya merasa malu juga kesal, bagaimana bisa Safira dengan kejam mempermalukannya? Bukankah Safira bisa membisikkannya agar ia tidak terlihat sekonyol itu di depan Gus Gio dan Aldo!
Gio dan Aldo tidak terlalu mempermasalahkannya, "Mungkin Mira masih belum bisa mempercayainya jika Aldi dan Aldo itu kembar." Ucap Gio berniat menghilangkan perasaan canggung Mira di depan mereka.
"Aldo, ini adalah Mira. Salah satu staf dapur umum pondok pesantren yang sudah sangat cakap di dalam dapur. Jika kau butuh penelitian akan dapur bisa tanyakan langsung kepada Mira." Gio kemudian memperkenalkan Mira kepada Aldo. Sejenak, matanya yang tajam tertutupi kacamata memperhatikan dengan hati-hati wajah cantik Mira yang gugup perlahan memerah. Dulu, ia sempat berpikir jika Safira adalah gadis tercantik yang pernah ia temui. Namun, ketika melihat Mira, Aldo tahu jika pendapatnya akhirnya berubah dalam waktu beberapa menit saja.
"Baiklah, karena kalian berdua sudah mengenal Aldo maka kami tidak akan menunda waktu kami lagi. Apalagi Aldo baru saja sampai Indonesia jadi dia butuh waktu untuk istirahat." Setelah mengucapkan salam, Gio dan Aldo kemudian membawa langkah mereka meninggalkan Safira dan Mira yang masih belum beranjak dari tempat mereka berdiri.
"Mir, kita ke dapur yuk." Ajak Safira senang seraya seraya berjalan ke arah yang berlawanan dari Gio dan Aldo.
Mira yang sedari tadi menundukkan kepalanya kemudian diam-diam mengangkat kepalanya, menatap ke arah punggung tegap yang perlahan menjauh. Mira bisa merasakan, ada sebuah getaran halus yang tidak rela melihat kepergian Aldo. Mungkinkah ia saat ini ia jatuh cinta kepada Aldo?
Lalu, jika ini adalah cinta maka perasaan senang yang ia rasakan kepada Ali itu bukan cinta?
Memikirkannya tiba-tiba membuat bibir tipisnya tersungging indah, perasaan sepi yang ia rasakan akhirnya bisa terisi dengan perasaan manis yang asing namun bagaikan candu untuknya.
"Ayo cepat Mir, nanti waktu keburu magrib lagi." Teriak Safira dari jauh karena baru menyadari jika Mira tidak beranjak lagi dari tempatnya berdiri.
"Iya, sabar-sabar." Balas Mira terdengar kesal namun sebenarnya hatinya saat ini sedang berbunga-bunga. Ia memikirkan masa depannya dengan Safira dimana mereka berdua akan bersanding dengan seseorang yang mereka sukai. Tentu saja, itu seperti Safira bisa bersatu dengan Aldi dan ia sendiri akan bersatu dengan Aldo. Kemudian mereka akan menjadi saudara ipar yang sangat menyebalkan, menyebalkan sampai membuat Mira tidak bisa untuk tidak tersenyum.
"Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba menjadi konyol begini?" Tanya Safira dengan suasana hati yang sangat baik.
Mira yang terlihat konyol menyangkal, "Aku ingin segera berbuka puasa." Jawabnya asal-asalan yang mana langsung dipercayai oleh Safira.
"Cih, ini baru saja masuk jam 5 sore." Suara Safira mengejek.
Merasa senang, Safira kemudian meraih tangan Mira untuk ia genggam. "Mira, setelah kita selesai memasak untuk makan sahur nanti ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepadamu." Mira adalah sahabatnya dan sebagai seorang sahabat Safira juga ingin berbagi tentang hatinya. Safira rasa menceritakan hal ini kepada Mira bukanlah hal yang buruk.
Mira tidak bisa menahan rasa penasarannya, "Wah, tentang apa itu?" Tanyanya antusias.
Safira tidak langsung menjawab dan hanya tersenyum penuh makna, "Nanti juga kamu akan tahu." Jawab Safira santai seraya mempercepat langkahnya menuju dapur umum.
Melihat Safira yang lagi-lagi berjalan cepat, mau tidak mau Mira berteriak keras juga untuk memberi tahu Safira. "Kalau begitu, aku juga ingin memberitahu mu sesuatu juga." Teriaknya tanpa sadar membuat seseorang mengalihkan pandangannya, tersenyum tipis, laki-laki itu menatap geli tingkah konyol Mira yang terlihat seperti anak kecil.
Tersenyum tipis, ia kemudian kembali mengalihkan perhatiannya untuk merespon pertanyaan Gio.
Setelah Gio berhenti bertanya kepadanya, Aldo pun mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada Gio. "Gus Gio, gadis yang bernama Mira itu sudah berapa lama ia tinggal di pondok?"
🍃🍃🍃
"Kita duduk di sini aja, Dea." Masha menarik tangan Dea pada sebuah kursi kosong yang belum dihuni oleh siapapun. Melirik sekitarnya, sekilas Dea dapatkan simpulkan jika semua kursi hampir ditempati yang lain maka mau tidak mau ia akhirnya mengikuti saran Masha untuk duduk di sini. Posisinya memang tidak terlalu strategis tapi karena tidak punya pilihan Dea tidak bisa mengatakan apa.
"Ini kurmanya satu berdua yah." Suara lembut staf dapur mengalihkan perhatian Dea dari lingkungan sekitar.
"Alhamdulillah, terimakasih ukht." Ucap Dea berterima kasih seraya menempatkan satu gelas air minum di depan Dea dan dirinya.
"Ini...kurma satu berdua?" Tanya Dea ragu setelah melirik paket kecil kurma yang hanya berisi 6 biji saja.
Dea yang yakin akan pendengarannya, "Benar, satu berdua." Jawabnya yakin.
"Tapi bukankah ini terlalu sedikit?" Jiwa kritis Dea mulai berayun ingin mengkritik. Iyakah mereka harus makan tiga biji setelah satu harian tidak makan apapun?
__ADS_1
Padahal, Dea sangat yakin jika pondok pesantren ini sangat mampu untuk memberikan lebih. Lihat saja pemiliknya, bukan hanya mengurus pondok pesantren namun juga mendirikan sebuah perusahaan. Jadi, Dea ragu kalau kemampuan pondok pesantren hanya sebatas ini.
Mendengar kebingungan Dea, Masha langsung mengerti arah pembicaraan Dea. Hem, sepertinya Dea memang harus belajar dari awal untuk soal agama.
"Dea, Rasulullah menganjurkan kepada kita ketika berbuka puasa ini makan kurma sejumlah ganjil. Nah, seperti yang kamu lihat kurma ini kita bagia dua bersama yang artinya kita makan sama-sama 3 biji. Bukan hanya itu, berbicara tentang kualitas kurma yang kita makan apakah kamu tahu jenis kurma apa ini?" Dea mulai menguji pengetahuan Dea.
Dea mengalihkan pandangannya menatap kurma yang terletak pasrah di atas paket mini, Hem.. bentuknya kecil dan tidak seperti kurma biasanya yang ia lihat. Lalu, warnanya juga tidak coklat seperti kurma yang sering ia lihat di rumah, tapi ini seperti hitam pekat dan terlihat sangat manis.
"Ini bukan kurma yang sering aku lihat dan sejujurnya aku tidak terlalu perduli dengan namanya. Toh, rasanya sama saja." Jawab Dea jujur.
Masha lantas langsung menggelengkan kepalanya bermaksud membantah jawaban terakhir Dea. "Pertama, kamu benar jika ini adalah kurma yang berbeda dari yang biasanya kita temukan di luar. Kedua, kamu salah jika semua kurma itu rasanya sama saja karena faktanya mereka punya keunikan sendiri." Jelas Dea seraya menarik paket itu di depan Dea agar ia bisa melihat dengan jelas perbedaannya.
"Apa kamu tahu Dea, kurma ajwa adalah kurma yang sangat di sukai Rasulullah karena khasiatnya yang tinggi. Biasanya, kurma ini dikenal karena pengaruhnya yang mampu menangkal sihir dan racun. Tidak hanya, kurma ini juga mempunyai tekstur yang kenyal dan sangat manis namun anehnya sangat rendah gula. Itulah mengapa jika kurma ini menjadi salah satu kurma yang paling mahal diantara jenisnya. Dan seharusnya kita bersyukur bisa menikmatinya pasalnya pondok pesantren lain mungkin akan sangat jarang menggunakan kurma ajwa saat berbuka melihat harganya yang mahal." Kurma aja adalah kurma kesukaan Rasullullah sehingga dikategorikan sebagai kurma dengan kualitas premium. Itulah mengapa Masha sangat bersyukur jika kurma Nabi bisa mereka nikmati bersama-sama.
"Oh, jadi seperti itu." Dea dengan takjub memandangi kurma yang paling disukai kekasih Allah. Bahkan kedua matanya yang persik tidak bisa mengalihkan pandangannya dari kurma tersebut.
"Alhamdulillah.." Tiba-tiba suara penuh syukur dari para santri mengalihkan perhatiannya.
"Ayo Dea kita membaca doa sebelum berbuka puasa." Ajak Masha bersemangat seraya mengangkat kedua tangannya seperti postur berdoa. Bukan hanya Dea saja yang melakukan itu namun semua orang yang ada di sini mengangkat kedua tangannya, jadi sebagai bagian dari mereka Dea dengan sadar diri ikut mengangkat kedua tangannya.
Lalu, suara lembut dan penghayatan penuh syukur mulai bergema di sini.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
"اللهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ فَتَقَبَّلْ مَنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَمِيْعُ الْعَلِيْمُ"
"Aamiin ya Rabbal Alaamiin." Setelah mengakhiri doa mereka mengusapnya ke wajah masing-masing.
"Ayo Dea, sebelum kita ketinggalan saf sholat." Ajak Masha setelah meminum air gelasnya.
Saf sholat? Pikir Dea bingung. Bukankah mereka harus berbuka dulu?
Mengikuti jejak Masha, Dea juga meminum air putihnya dan mulai menggigit kurma yang beberapa menit lalu membuatnya takjub.
Yah, seperti yang Masha katakan dagingnya sangat empuk dan manis. Bahkan rasanya jauh berbeda dari kurma yang sering Dea makan dulu.
Beberapa menit kemudian para santri bangun dari duduknya dan berjalan menjauh dari stan makan menuju ke masjid.
"Apa yang sedang mereka lakukan?" Tanya Dea bingung karena ia baru saja mengunyah kurma kedua dan tiba-tiba harus pergi?
Meletakkan gelas air putihnya yang sudah kosong, "Kita akan melaksanakan sholat magrib dulu sebelum makan makanan berat." Jelas Masha seraya menunggu dengan sabar Dea menghabiskan kurmanya.
Masha agak merasa geli dengan ekspresi Dea yang terlihat tidak terima, mau bagaimana lagi ini juga sangat baik untuk kesehatan agar tidak terlalu terkejut menerima gelombang makanan besar setelah 16 kosong.
"Aku benar-benar tidak bisa menikmati kurma ku!" Keluh Dea setelah menelan kurma ketiganya dan mengakhirinya dengan air putih yang langsung tidak tersisa di dalam gelas. Gara-gara melihat orang-orang pergi ke masjid ia harus terburu-buru untuk memakan kurmanya dan bahkan untuk menikmati rasanya saja ia tidak bisa karenanya!
Masha terkekeh melihat sikap Dea yang selayaknya anak kecil kehilangan permennya, mengapa dia begitu polos?
"Oo..pantas saja kamu meminta ku untuk membawa mukenah sebelumnya, ternyata ini toh alasannya." Iya, tadi ia sempat bingung saat Masha menyuruhnya membawa mukenah. Ia pikir di sini mereka harus berbuka sambil menggunakan mukenah tapi ternyata ini untuk sholat magrib.
"Iya, ini adalah kebiasaan pondok ketika bulan ramadhan tiba." Sahut Masha menjelaskan. Lalu, mereka hanya sesekali bercakap-cakap karena mulai fokus untuk berwudhu dan mencari saf sholat.
Dea dengar hari ini yang akan menjadi imam shalat adalah Gus Gio, sang pewaris pondok pesantren yang dulunya sempat menjadi rebutan para santriwati. Tapi setelah menikah kini itu semua hanya menjadi cinta terpendam mereka, lalu setelah sang tokoh utama bahagia dengan keluarga barunya maka muncullah sosok-sosok tampan yang juga menarik perhatian para santriwati.
Dea tidak tahu harus berkata melihat fenomena ini karena setelah beberapa bulan di sini ia sama sekali tidak menemukan perbedaan dari tingkah anak pondok dengan anak bukan pondok saat melihat laki-laki tampan. Respon mereka sama yaitu mengejar sang laki-laki. Namun, di sini agak lebih malu-malu atau bagi Dea mereka terlalu pengecut. Hem, mereka pengecut sama seperti dirinya yang menyukai secara diam-diam ustad Aldi.
Ustad Aldi, laki-laki sempurna yang menjadi incaran para gadis. Dea juga menyadarinya jika laki-laki yang ia sukai pasti disukai oleh banyak gadis yang terhormat juga beragama tinggi, itu berbeda dengan dirinya yang 'kotor'. Tidak perlu dikatakan lagi betapa sedihnya hati Dea saat tahu bahwa akan datang hari dimana ia mendambakan laki-laki yang terlalu sempurna untuk dirinya.
🍃🍃🍃
Kedua matanya sesekali mengintip ke arah kerumunan laki-laki yang sedang berbincang. Saat ini ia sama sekali tidak menyembunyikan betapa tertariknya ia pada laki-laki yang menggunakan baju koko dan celana kain hitam.
Jangan lupakan senyum tampannya yang terlihat sempurna dengan kaca mata bening kolot yang memberikan kesan sosok yang teliti dan cerdas. Hem, pesona itu adalah hal yang paling membuatnya tidak bisa berpaling sedari tadi.
"Mira, apa yang sedang kamu lakukan?" Suara seorang gadis yang cukup tidak asing membuatnya tanpa sadar terkejut.
"Eh Safira, aku tidak melakukan apa-apa kok. Ini...hanya bersih-bersih biasa saja." Safira dengan panik berpura-pura fokus membersihkan stan makanan yang harus digunakan kembali saat makan sahur.
Safira tidak langsung percaya karena ia tidak sebodoh itu untuk tidak bisa menilai tindakan konyol Mira yang sangat jelas terlihat.
"Benarkah, lalu apa yang sedari tadi kamu lihat di-" Safira mengalihkan pandangannya dan menemukan jika di seberang sana atau tepatnya di stan makanan anak santri (laki-laki) sedang berkumpul Gio, Ali, Aldi, Aldo dan beberapa orang yang ia ketahui sebagai staf pengajar.
Mereka terlihat sangat asik mengobrol, membuat Mira tanpa sadar menyunggingkan senyumnya.
"Ohh..jadi kau sedang melihat ustad Ali yah?" Tebak Safira karena setahunya Mira sangat tertarik ketika melihat ustad Ali.
Mira merasa malu, bukan karena tebakan Safira benar namun karena beberapa detik yang lalu matanya sempat bertemu pandang dengan Aldo. Yah, walaupun sekilas namun tetap saja membuat jantung Mira berdegup kencang. Bahkan kedua lututnya saat ini serasa lemas saking gugupnya.
"Aku..aku benar-benar tidak melihat ustad Ali." Sangkalnya jujur seraya berjalan masuk ke dalam dapur umum. Ia ingin bersembunyi dari Aldo tapi juga ingin melihatnya. Apakah cinta serumit ini?
"Eh, kenapa harus masuk ke dalam?" Kecewa Safira karena ia baru saja melihat keberadaan Aldo diluar. Jika dia tahu sebelumnya Aldo ada diluar maka sedari tadi mungkin ia akan memilih untuk membersihkan stan daripada dapur.
"Safira, ayo kita pulang." Ajak Mira setelah mencuci tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam dan Mira masih belum tadarusan jadi rugi sekali rasanya ia tidak menghidupkan malam penuh kemuliaan ini dengan Al-Qur'an.
Jadi, mumpung waktu masih ada ia ingin membaca Al-Qur'an di kamar mereka saja bersama Safira. Jika masuk ke dalam masjid juga itu akan sangat percuma jika hanya sebentar.
"Kenapa sudah mau balik saja?" Safira masih belum puas melihat Aldo jadi dia agak sedikit enggan untuk pulang ke kamar mereka.
"Aku mau tadarusan Safira, biasanya saat ada Nanda di sini kami pasti akan melakukan tadarusan di dalam kamar." Ceritanya bernostalgia.
__ADS_1
"Lagipula, bukankah kamu tadi mengatakan jika ingin mengatakan sesuatu kepadaku?" Ingat Mira jika setelah membereskan urusan dapur ada sesuatu yang ingin Safira bicarakan dengannya.
"Oh iya, ada sesuatu yang ingin ku katakan kepada mu. Baiklah, lebih baik kita segera kembali ke kamar saja." Putus Safira setelah menimbang jika ia bisa bertemu kapan saja dengan Aldo. Lagipula, ia juga bisa menanyakan apa posisi Aldo kepada Gio. Jadi Safira tidak terlalu gelisah lagi memikirkan pujaan hatinya itu.
🍃🍃🍃
"Kalau begitu saya permisi dulu Gus, ada sesuatu yang harus saya urus di kantor staf." Setelah mengucapkan pamit kepada yang lain, Aldi lalu membawa langkahnya menuju masjid yang masih sangat hidup dengan gema ayat-ayat suci yang indah.
Dalam langkahnya, ia merasa damai dibuatnya sampai ia benar-benar tidak sadar jika ia sudah sampai pada tujuannya.
"Lho, ustad Aldi teh ngapain ke sini?" Kaget Masha pura-pura terkejut dan berhasil membuat Dea mengalihkan perhatiannya dari peluhnya.
Aldi yang sangat jelas sadar sedang dikerjai Masha dengan kaku menegakkan punggungnya, berusaha terlihat tenang.
"Saya datang ke sini untuk mengawasi kinerja kalian." Melirik samar Dea sedang memperhatikannya, tiba-tiba perasaan gugup itu berubah menjadi sebuah kebanggaan.
"Apakah kalian sudah menyelesaikan hukuman terakhir dari pondok pesantren?" Tanya Aldi bernada basi, pasalnya sekali lihat ia sudah tahu bahwa mereka berdua baru saja menyelesaikan hukuman yang diberikan ustad Ali.
"Alhamdulillah ustad, kami sudah menyelesaikannya. Benarkan Dea?"
Tertegun, Dea tanpa sadar mengeratkan genggaman tangannya. "Iya ustad, kami baru saja menyelesaikan hukumannya." Ucap Dea mendukung laporan Masha.
Ustad Aldi lantas mengangguk dengan sikap bijaksana yang mempesona, lalu tangan yang sempat berada di punggungnya ia turunkan dengan kantong keresek putih yang ia pegang dengan santai.
"Ini, minumlah lalu istirahat. Setelah itu kalian berdua harus kembali ke asrama kalian karena sebentar lagi para santriwati akan kembali ke asrama." Jika para santriwati pulang maka artinya asrama akan segera ditutup dan dibuka saat jam setengah dua pagi nanti.
"Tolong ambilkan De, tanganku tiba-tiba terasa keram." Sandiwara Masha seraya menggoyang-goyangkan kedua tangannya seakan-akan bermasalah.
Dea dengan kaku menganggukkan kepalanya dan mengangkat kedua tangannya untuk meraih kantong keresek tersebut. "Terimakasih, ustad." Ucapnya sopan tidak seberani awal mereka bertemu.
"Tidak perlu berterima kasih karena saya tahu kalian berdua pasti capek."
Mengalihkan pandangannya menatap ke arah masjid, "Adapun jika kalian benar-benar ingin tulus berterima kasih maka saya harap kalian tidak akan pernah lagi mengulangi kesalahan yang sama." Lanjutnya lagi yang mana membuat Dea menjadi malu.
Ia malu terlihat bermasalah di depan ustad Aldi. Jika saja Dea tidak punya perasaan kepadanya mungkin itu tidak apa-apa tapi faktanya sekarang adalah ia sedang menyukai ustad Aldi. Perempuan mana yang ingin terlihat cacat di mata orang yang ia sukai?
Dea pikir tidak ada, jikapun ada pasti itu hanya segelintir orang dan perlu dipertanyakan bagaimana kesehatan otaknya.
"Kami akan berusaha untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama di masa depan." Janji Dea berharap jika apa yang ia katakan tadi bisa dipercayai ustad Aldi.
Ustad Aldi lantas tersenyum sembari mengalihkan perhatiannya menatap wajah gugup Dea, "Maka aku akan melihatnya." Ucapnya tenang setelah itu ia mengucapkan salam dan membawa langkahnya masuk ke dalam masjid.
"Sepertinya dia serius." Gumam Masha setelah menilai ekspresi ustad Aldi.
"Apanya yang serius?" Tanya Dea penasaran.
Masha tertawa kecil, lalu dengan geli ia menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa." Jawabnya penuh makna.
🍃🍃🍃
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku Safira." Tanya Mira penasaran. Saat ini mereka sudah di dalam kamar lengkap dengan mukena masing-masing. Niatnya setelah menyelesaikan pembicaraan ini mereka akan tadarusan dan setelah itu tidur untuk istirahat.
Safira mendudukkan dirinya di depan Mira sambil memeluk Al-Qur'an di dadanya.
"Bukankah kamu juga ingin membicarakan sesuatu dengan ku?"
Mira mengalah, "Benar, tapi aku ingin kamu lebih dulu mengatakan apa yang ingin kamu bicarakan kepadaku. Baru setelah itu aku juga akan mengatakan sesuatu yang ingin aku katakan kepada mu."
Safira tidak terlalu memikirkannya, "Baiklah, maka yang lebih dulu." Putusnya sudah tidak sabar.
"Mira, apakah kamu tahu jika orang yang selama ini aku sukai bukanlah ustad Aldi tapi itu Aldo!"
Deg
Senyum antusias Mira tiba-tiba membeku, "Maksud kamu apa?" Tanyanya pura-pura tidak mengerti.
"Maksud ku adalah jika orang yang selama ini aku sukai bukan ustad Aldi tapi Aldo. Jadi, dua tahun yang lalu aku pernah bertemu dengan Aldo dan langsung menyukainya dalam hanya dalam waktu beberapa menit saja. Dan seperti yang kamu duga aku selama ini selalu berpikir jika Aldo adalah Aldi, tapi faktanya mereka bukan orang yang sama. Ah, pantas saja jika ustad Aldi tidak terlalu antusias ketika melihat ku ternyata alasannya karena dia bukan orang yang ku cari!." Cerita Safira penuh dengan semangat karena akhirnya setelah dua tahun menunggu ia dipertemukan lagi dengan orang yang ia sukai.
"Ja-jadi, bahkan sampai sekarang kamu masih menyukainya?" Tanya Mira hati-hati.
Safira dengan jujur mengakuinya, "Aku masih menyukainya dan bahkan semakin menyukainya. Jadi karena Aldo adalah milikku maka kamu tidak boleh merebut dia dariku. Ingat, aku adalah sahabat mu jadi sebagai seorang sahabat kamu dilarang mengibarkan bendera tikungan kepada Aldo!" Ancam Safira bercanda karena mana mungkin Dea menyukai Aldo karena jelas-jelas orang yang disukai Mira adalah ustad Ali.
Mira tanpa sadar mengeratkan pegangannya pada Al-Qur'an yang sedang ia pangku. Tersenyum tipis, ia dengan perasaan lemah menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, aku tidak akan pernah mengkhianati sahabat ku sendiri." Janjinya merasakan sakit karena hatinya seakan-akan diiris-iris saat ini.
"Hem, aku mempercayai mu. Lalu apa yang ingin kamu katakan kepada ku?" Kini giliran Mira yang akan menceritakan masalahnya.
Mira tersenyum lembut, menggelengkan kepalanya lemah. "Aku hanya ingin mengatakan jika...Mamaku akan datang mengunjungi ku." Ceritanya berbohong.
Namun Safira langsung saja mempercayainya tanpa memperhatikan jika kedua mata Mira saat ini sedang memerah menahan tangis.
"Itu adalah kabar yang baik, besok jika ia datang tolong perkenalkan aku padannya."
Mira sekali lagi tersenyum, "Tentu saja, aku akan memperkenalkan mu kepadanya." Janjinya palsu, ia tidak yakin jika Mamanya akan sempat mengingat keberadaan anak semata wayangnya di sini. Atau mungkin seperti terakhir kali ia bertemu, mereka tetap tenggelam dalam karir yang tiada hentinya terus menyita waktu mereka.
Entahlah, saat in hati Mira rasanya terombang-ambing.
"Nah, kalau sudah selesai lebih baik kita mulai saja tadarusannya-" Setelah itu, Mira tidak lagi mendengarkan apa yang Safira katakan karena saat ini satu-satunya yang ada dipikirannya adalah...apakah ia harus mengalah demi sahabatnya?
Lagipula Mira juga pernah bertemu dengannya dua tahun lalu maka bukan tidak mungkin jika Aldo menyukai Safira.
__ADS_1
Bersambung...
Author menerima keluh kesah dan kritikan. Iya, apa yang author tulis emang ngeselin tapi mau gimana lagi karena apa yang keluar di kepala author adalah ini.