Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 10


__ADS_3

"Lho Dea, kamu kok balik lagi ke sini? Bukannya aku lihat kamu tadi ke masjid yah?" Di dalam perjalanan Dea bertemu dengan Masha yang sudah siap dengan mukenanya.


"Ah.." Dea tidak langsung menjawab, ia berusaha menetralkan suara detak jantungnya yang masih saja terasa menggebu. Ia juga bisa merasakan kedua tangannya mulai berkeringat dan sedikit gemetaran.


"Ada apa?" Tanya Masha merasa ada sesuatu yang salah dengan Dea.


"Apakah kamu baru saja berlari ke sini?" Pasalnya nafas Dea terdengar terburu-buru seakan baru saja melarikan diri dari suatu tempat.


Yah, bisa jadi kalau Dea terlalu takut tinggal sendiri di masjid sehingga memutuskan untuk berlari secepat mungkin ke sini.


Dea yang tadi sempat bingung ingin menjawab apa akhirnya mendapatkan ide dari Masha. "Em..yah, aku memang berlari ke sini. Tempat itu.." Melirik kubah masjid yang selalu tegak berdiri seakan-akan menembus langit.


"Terlalu sunyi dan aku sedikit takut." Lanjutnya memberikan alasan yang tentu saja langsung dipercayai oleh Masha.


Masha yang selalu polos menggeleng kan kepalanya tidak berdaya. Ternyata tebakannya tadi memang benar jika Dea sedang ketakutan.


"Kamu seharusnya tidak perlu takut karena waktu sebentar lagi akan masuk waktu imsak. Tidak hanya itu, sekarang sudah masuk bulan puasa yang dimana semua setan dibelenggu di dalam neraka. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan saat ini." Ini adalah bulan ramadhan, bulan yang mulia juga penuh Rahmat.


Bahkan saking mulianya bulan ini Allah sengaja membelenggu setan di dalam neraka agar hamba-Nya dapat beribadah dengan kusyuk dan tenang. Tidak hanya itu yang menunjukkan betapa mulianya bulan ini, bulan ramadhan ini juga yang penuh Rahmat di setiap detiknya adalah ibadah kepada Allah jika kita menjalankannya dengan sungguh-sungguh.


Bersungguh-sungguh untuk mendapatkan ridho Allah yang mana jika Allah meridhoi maka kita akan di peruntungkan dengan turunnya malam Lailatul Qadar. Malam dimana Allah bersama bala tentaranya turun ke bumi, membuat hari itu menjadi hari yang paling damai dan menenangkan. Setiap hamba-nya yang memohon kepada-Nya malam itu akan langsung Allah jabah, Allah kabulkan tanpa menunggu waktu yang lama.


Tahu, malam itu adalah bentuk betapa sayangnya Allah kepada hamba-Nya. Sayang sampai diluar nalar kita, yah.. seandainya kita semua menyadari itu semua.


"Ah, tahu darimana kamu jika semua setan dibelenggu dalam neraka?" Dea tentu saja meragukan hal ini karena sejujurnya ia tidak pernah mendengar tentang semua ini.


Apa ia pernah mempelajarinya di sekolah dulu?


Mendengar pertanyaan dasar Dea, Masha tentu saja sedikit shock. Ini adalah hal yang umum diketahui banyak orang namun mengapa Dea masih belum mengetahuinya.


"Tentu saja itu da-" Tiba-tiba suara lembut nan syahdu ustadz Aldi menginterupsi ucapannya.


"Sudah masuk imsyak Dea, jawabannya nanti aja ya menyusul setelah kita selesai sholat subuh." Berhubung waktu imsyak sudah masuk dan ustadz Aldi juga sedang mengaji di masjid maka Masha tidak ingin meneruskan pembicaraan ini lagi.


Baginya ia harus mengutamakan segala perhatiannya pada sang pujangga yang ia kagumi.


"Baiklah, itu terserah kamu." Dea mengangkat bahunya acuh seolah ia tidak perduli, padahal saat ini jantungnya sedan berdetak kencang setelah mendengar suara merdu nan mengagumkan dari seseorang yang sudah beberapa hari ini mencuri perhatiannya.


Astaga, diantara semua laki-laki yang ada di sini mengapa harus ustadz Aldi?


"Kalau begitu ayo kita segera ke masjid, cari saf yang paling strategis agar kita dapat melihat imam sholat secara langsung." Semangat Masha seraya menarik tangan Dea yang terasa dingin dan lembab.


Meskipun merasa heran mengapa tangan Dea menjadi seperti ini namun Masha tidak terlalu membawanya serius. Ia pikir mungkin Dea masih merasa takut dengan hantu yang ada di fantasinya.


\*\*\*


"Lho, kok kita ke lantai dua?" Bingung Dea ketika mereka baru saja masuk ke masjid bukannya menggelar sajadah di tempat biasa namun Masha malah menariknya ke lantai dua.


Masha yang sangat bersemangat, "Iya kita sholatnya di lantai dua karena tempat itu adalah tempat yang paling strategis untuk melihat masa depan. Alhamdulillah..kita berdua adalah orang pertama yang masuk ke dalam masjid jadi kita bebas memilih tempat yang bagus untuk sholat." Jadi, di lantai ada sebuah pembatas yang melingkar menciptakan bolong di tengah-tengah lantai dua. Pembatas itu semuanya berbahan kaca yang memenuhi standar keamanan sehingga kita aman jika berdiri di dekat pembatas.


Dan apa kalian tahu hal yang paling diincar santriwati adalah saf terdepan yang berhadapan langsung dengan pembatas transparan tersebut. Karena dengan begitu santriwati dapat dengan jelas melihat imam sholat atau santri laki-laki yang kebetulan di sukai.


Itulah sebabnya mengapa Masha sangat antusias naik ke lantai dua, berhubung mereka adalah pertama jadi tempat itu akan menjadi miliknya.


"Masyaa Allah..." Gumam Masha namun masih bisa di dengar oleh Dea.


Penasaran dengan apa yang sedang dilihat Masha, Dea pun akhirnya mendekati Masha. Menyentuh pembatas dengan santai, lalu pandangannya jatuh pada sosok punggung tegap yang meneduhkan tertunduk membaca Al-Qur'an dengan khusyuk.


Ia begitu khusyuk tanpa menyadari ada seorang gadis menatapnya dengan penuh kekaguman. Dea dibawa masuk ke dalam arus yang ustadz Aldi ciptakan, menariknya ke sebuah ruangan yang nyaman dan penuh akan ketenangan.


Kapan terakhir kali Dea merasa senyaman dan setenang ini ketika bernafas?


Hanyut dalam kekagumannya, Dea tidak sadar jika ustadz Aldi sudah berhenti mengaji. Ia juga tidak sadar jika ustadz Aldi yang diam-diam ia tatap seperti ini membalikkan badannya, membalas tatapan kekaguman Dea secara langsung dan tepat di mata.


Deg


Dea langsung tersadar dibuatnya ketika mata mereka benar-benar bertemu. Merasakan pipinya mulai panas lantas Dea langsung mengalihkan pandangannya. Ia tidak berani lagi melihat ke arah ustadz Aldi karena ia baru saja ketahuan!


"Ya Allah, Dea!" Histeris Masha tidak bisa membendung kebahagiaannya. Ia mengguncang-guncangkan lengan Dea antusias, tidak perduli jika Dea memarahinya nanti karena merasa terganggu.


"Berhenti bersikap konyol, katakan kenapa kamu bisa bersikap segila ini." Dea yang mendapatkan bantuan pengalihan akhirnya memanfaatkan kekonyolan Masha untuk menghilangkan jejak malunya tadi.


"Ya Allah Dea, ustadz Aldi tadi ngeliat aku lho...dia ngeliat aku!" Ceritanya senang, bahkan jantungnya sudah berdetak cepat mengekspresikan betapa senangnya ia saat ini.


"O-oh, ya?" Tanya Dea ragu karena ia sangat yakin orang yang ustadz Aldi tatap adalah dirinya dan bukan Masha.


"Iya Dea, dia ngeliat aku." Yakin Masha seyakin-yakinnya.


"Oh, syukurlah kalau begitu." Respon Dea biasa. Setelah itu ia tidak perduli lagi dengan ocehan konyol Masha karena ia saat ini Dea diam-diam kembali menatap ustadz Aldi yang sudah tidak lagi menatapnya.


Melihat ini entah mengapa Dea merasa lega sekaligus kecewa karena Ustadz Aldi mengabaikannya. Ah, mengapa jatuh cinta serumit ini?


Berbeda dengan suasana campur aduk Dea, laki-laki yang menjadi objek kekecewaannya justru sedang tersenyum puas. Ia tidak bisa berhenti tersenyum ketika mengingat kucing kecil itu tertangkap basah sedang menatapnya. Mengapa kucing ini begitu menarik?


"Apakah ada sesuatu yang menyenangkan yang membuat ustadz muda kita sampai tersenyum seperti ini?" Suara Ali mengejek setelah mengakhiri acara mengajinya.


Ustadz Aldi tersenyum simpul, menyembunyikan alasan tersebut jauh di dalam hatinya.


"Ada, ini karena bulan yang sangat ku rindukan akhirnya datang juga." Mengalihkan pandangannya menatap Ali yang juga tersenyum.


"Allah sekali lagi mempertemukan ku dengannya di tempat ini, betapa indahnya skenario Allah." Lanjutnya lagi tidak bisa tidak membuat Ali merasa ada yang aneh dengan ucapan Ustadz Aldi.

__ADS_1


Tapi ya sudahlah, ini hanya perasaannya saja dan itu juga belum tentu benar sehingga tidak seharusnya Ali memikirkannya dengan serius.


\*\*\*


"Sekarang tanggal berapa?" Tanya Dea setelah tahu bahwa hari ini mereka libur. Pihak pondok memberikan mereka kesempatan untuk pergi ke kebun dan memetik beberapa sayuran yang memang seharusnya sudah waktunya dipetik meskipun bukan panen besar.


"Sekarang tanggal 24 April bertepatan dengan tanggal 1 ramadhan." Jawab Masha sambil memasang kaus kakinya, bersiap untuk pergi ke kebun pondok.


"Memangnya kenapa?" Tanya Masha penasaran, tumben sekali Dea bertanya tentang hal ini.


"Oh, hanya penasaran saja." Jawab Dea acuh.


"Ya udah, kita langsung ke kebun aja." Ajak Dea tidak ingin membuang waktu.


Sejujurnya ia tidak terlalu senang dengan pekerjaan yang menyibukkan seperti ini apalagi harus berpanas-panasan. Namun daripada harus terjebak di dalam kelas mempelajari pelajaran yang tidak masuk akal maka pergi ke kebun adalah yang terbaik.


Sesampai mereka di kebun, sudah banyak santriwati yang memenuhi kebun. Mereka dengan teliti mencari sayuran yang layak di petik atau tidak. Misalnya seperti cabai atau buah sayur terong yang memang mudah dikenali.


Ada juga mentimun yang meskipun masih muda tetap saja menjadi target karena mentimun ada baiknya dimakan saat muda dibandingkan sudah tua.


"Kita petik sayur yang mana?" Tanya Dea setelah memperhatikan dengan baik semua tempat sudah dikerumuni banyak orang.


"Kita ke kebun timun saja yang lebih gampang metiknya." Usul Masha terlihat yakin dengan apa yang ia katakan.


"Benarkah?" Dea tidak pernah melihat tumbuhan timun dan hanya pernah melihat buahnya saja.


"Itu benar Dea, timun lebih baik daripada memetik cabai. Kau tahu bukan jika tangan mu tidak terbiasa dengan memetik tanaman panas itu. Yah, takutnya nanti tangan kamu kepanasan dan berakhir kacau acara berkebunnya."


Dea menimbang dengan cermat jika apa yang dikatakan memang ada benarnya. Ia tidak terbiasa melakukan hal-hal kasar seperti ini jadi lebih baiknya ia cari aman saja.


"Baiklah, itu terserah kamu." Putus Dea lebih baik mengikuti kemana Masha pergi saja karena yang paling tahu dan mengenal kebun ini adalah penghuni asli pondok pesantren yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini.


"Baiklah, ayo kita harus segera ke sana." Ajak Masha senang karena Dea mau menerima sarannya. Biasanya Dea itu keras kepala dan sulit untuk menurut, jadi ketika ia tahu Dea saat ini patuh maka itu adalah sesuatu yang langka.


Sesampainya di kebun timun, rahang Dea benar-benar jatuh dibuatnya. Ia rasanya ingin sekali muntah darah setelah melihat apa yang disebut itu mudah oleh Masha.


"Apa kau serius memetik timun itu mudah?" Tanya Dea tidak tahu harus tertawa atau menangis. Mengapa rasanya memetik cabai jauh lebih mudah?


Masha yang juga cukup terkejut dengan apa yang ia temukan, "Aku.. tidak tahu jika pohon timun seperti ini." Suaranya lemah mengakui.


"Jika aku tahu bentuknya kasar dan terasa berduri maka lebih baik aku mengajak mu mencari kebun yang lain." Lanjutnya lagi takut-takut jika Dea akan menyemprotkannya sebuah amarah


Menghela nafas tidak berdaya, Dea juga tahu bahwa Masha sama dengan dirinya yang tidak tahu apa-apa di sini jadi ia tidak akan berpikir untuk memarahinya.


"Baiklah, karena kita sudah masuk ke tempat ini maka memang sudah seharusnya kita juga bergabung bersama yang lain untuk memetik timun." Ucap Dea menerima saja sambil melangkah mendekati pohon timun dengan buah yang cukup banyak dan besar-besar.


Berhubung tidak terlalu banyak orang yang ada di kebun ini maka Dea tidak merasa terlalu canggung dalam beraktivitas, ia lebih santai jika orang-orang tidak sebanyak kebun-kebun yang lain.


"Masha, bagaimana cara memetik-" Begitu mengalihkan pandangannya, tidak ada sosok Masha di dekatnya.


"Kemana anak ini pergi?" Bingung Dea karena sekarang hanya ia seorang di tempat ini dan bodohnya lagi Dea tidak punya pengalaman apapun saat berurusan dengan kebun.


"Baiklah, karena sudah seperti ini maka sendirian juga tidak apa-apa." Ia mengangkat bahunya tidak perduli, toh Masha juga akan kembali lagi nanti.


Kembali, tangan putih bersih Dea terulur menyentuh batang timun yang kasar. Lalu dengan hati-hati ia menarik mentimun yang badannya juga ditumbuhi bulu-bulu kasar yang masih saja terasa tidak nyaman di telapak tangan Dea.


"Jangan lakukan seperti ini." Tiba-tiba suara berat menghentikan usaha Dea, membuatnya sontak melepaskan timun saking terkejutnya mendapati kehadiran ustadz Aldi.


"U-ustad Aldi, mengapa bisa di sini?" Tanyanya gugup, merasakan jika jantungnya lagi-lagi berpacu cepat.


Ustadz Aldi tersenyum ringan, ikut mendudukkan dirinya di samping Dea dengan jarak yang cukup jauh sehingga tidak menimbulkan fitnah.


"Apakah aku tidak boleh berada di tempat ini?" Tanya ustadz Aldi merasa lucu setelah mendengar pertanyaan Dea.


Dea yang baru sadar dengan pertanyaan konyolnya diam-diam menundukkan kepalanya, menutupi rona merah yang terus saja mekar di pipinya.


"Maaf ustadz, aku tidak bermaksud seperti itu." Ucap Dea malu, kecewa pada dirinya sendiri yang impulsif.


"Aku tahu dan aku juga tidak membawanya masuk ke hati." Ucap ustadz Aldi lembut, tidak ingin lagi membuat Dea semakin malu.


Lihat saja tadi, ia sekilas melihat jika wajahnya benar-benar merah.


"Gunakan ini di tangan mu." Ucap ustadz Aldi seraya melepaskan sebuah sarung tangan kain dari tangan kanannya. Lalu ia dengan santai mengulurkan tangannya kepada Dea untuk ia ambil.


"Untuk apa ini, ustadz?" Tanya Dea dengan pikiran yang masih linglung, ia masih belum bisa mengatasi betapa cepatnya jantung ini berdetak dan betapa manisnya perasaan yang ia rasakan.


"Pakai itu agar tangan mu tidak terluka saat memetiknya." Ulang ustadz Aldi sekali lagi memberikan arahan agar Dea langsung bisa mengerti apa yang ia ucapkan.


"Ah.." Dea kini mengerti dan dengan tangan gemetaran ia memakai kaus tangan yang diberikan Ustadz Aldi. Ia juga baru menyadari jika kaus tangan tersebut sebelumnya pernah dipakai ustadz Aldi.


Memikirkan hal ini entah mengapa Dea seakan dibawa melayang, ia merasa sangat malu juga senang diwaktu yang bersamaan, ah!


"Aku sudah memakainya, ustadz." Lapor Dea sambil menunjukkan telapak tangan kanannya yang tertutupi kain kaus tangan.


"Nah, sekarang lihat bagaimana caraku memetik timun ini dengan benar dan aman." Suaranya seraya mendemonstrasikan kepada Dea bagaimana caranya memetik buah timun muda yang ada di depannya.


Setelah melihat gerakan sederhana ustadz Aldi, kepala Dea pun tanpa sadar mengangguk mengerti. Mengangkat tangannya meraih buah timun, lalu dengan hati-hati ia menarik timun tersebut agak menungkik ke atas sehingga membuat batangnya langsung melepaskan buahnya.


"Ternyata ini sangat sederhana." Gumam Dea merasa terkejut jika hal yang tadinya ia anggap sulit ternyata itu sangat sederhana.


"Benar, itu sesederhana ini." Ucap ustadz Aldi santai yang lagi-lagi membuat Dea semakin malu.

__ADS_1


Menundukkan kepalanya, Dea mencoba mencari topik pembicaraan karena saat ini dadanya sedang berdegup kencang. Ia takut jika ustadz Aldi bisa mendengarnya oleh karena itu ia ingin mencari pengalihan untuk mengurangi kegugupannya.


Berpikir terus, ia akhirnya ingat pembicaraannya dengan Masha yang sempat tertunda subuh tadi. Sebagai seorang yang tidak pernah mendalami agama tentu saja ia penasaran apakah hal itu benar atau hanya memang omong kosong belaka orang tua jaman dulu.


"Ustadz Aldi, apakah aku boleh bertanya?" Tanya Dea meminta izin. Jika itu kemarin, mungkin Dea akan lancang dan langsung bertanya tanpa meminta izin. Tapi sekarang ia sudah tidak lagi bersikap seperti itu karena orang sempurna yang ada di sampingnya kini adalah ustadnya dan ustadnya ini sudah diam-diam ia sukai.


Jadi, saat berdekatan dengannya otomatis dirinya akan merasa gugup dan senang secara bersamaan. Segala tindakannya akan terasa canggung dan mendebarkan.


Ustadz Aldi tersenyum simpul, entah mengapa ia selalu punya intuisi jika gadis ini punya rasa ingin tahu yang tinggi. "Boleh, sebisa mungkin aku akan menjawabnya dengan jelas." Jawabnya memperbolehkan sambil memetik buah timun yang ada di depannya dengan lancar.


Seperti yang diharapkan, ustad Aldi selalu baik.


"Ustad, apakah benar dengan apa yang dikatakan orang-orang jika saat bulan ramadhan semua setan dibelenggu dalam neraka oleh Allah?" Tanya Dea sedikit gugup.


"Dan jika itu benar lalu mengapa di bulan ini banyak orang melakukan maksiat? Bukankah sudah tidak ada setan yang mengganggu kita?" Ini juga pengalaman pribadinya dulu. Ketika bulan ramadhan tiba ia sering melakukan maksiat, entah itu tidak mengerjakan sholat atau pergi kelayapan ke suatu tempat yang tidak lazim, Dea pernah melakukannya.


Dan itu di saat bulan puasa, ia tidak canggung sama sekali bertindak segila itu.


Ustad Aldi mengangguk ringan, dalam hati ia kagum dengan pertanyaan gadis ini. Mungkin bagi banyak orang pertanyaan ini adalah remeh dan terkesan gampang, tapi mereka tidak menyadari jika sebenarnya mereka cukup keliru dan tidak tahu pada saat yang bersamaan.


Mereka hanya mengikuti apa yang orang-orang katakan tanpa perlu mencari tahu apa itu benar atau salah. Seperti Dea, ia berani mencari tahu tentang kebenaran perkara ini.


"In shaa Allah hal ini memang benar karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa ketika datang Ramadhan, setan-setan dibelenggu. Apakah berarti hadis ini sudah tidak berlaku atau hadisnya tidak benar melihat masih adanya maksiat di bulan yang mulia ini?" Suara ustad Aldi tenang mulai menjawab keingin tahuan Dea.


Dea tidak menjawab dan hanya fokus mendengarkan meskipun tangannya tidak berdiam diri dan sibuk memetik buah timun.


"Tentu saja, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bohong. Beliau as-Shadiq (orang yang benar) dan al-Mashduq (wajib dibenarkan). Hadisnya juga shahih. Riwayat Bukhari Muslim. Lalu, dimana sisi masalahnya?" Tanyanya lagi seraya memasukkan timun yang baru dipetik ke dalam keranjang yang ada di depannya.


"Ketika kita menghadapi hadis shahih, namun ada hal yang mengganjal sehingga masih kita pertanyakan, maka kedepankan pernyataan ini,


اتهم رأيك، اتهم نفسك


“Salahkan akalmu… salahkan dirimu”


Doktrin diri kita, al-Quran itu benar, hadis itu benar, Rasul itu benar, hadis itu tidak ada cacatnya. Selanjutnya, ini semua karena keterbatasan saya dalam memahaminya. Ini karena ketidaktahuan kita. Husnudzan (berprasangka baik-red) kepada hadis, dan suudzan (berprasangka buruk-red) kepada  diri sendiri. Sebelumnya, kita simak hadisnya:


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ


“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079).


Dalam lafazh lain disebutkan,


إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ


“Jika masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu rahmat dibukan, pintu-pintu Jahannam ditutup dan setan-setan pun diikat dengan rantai.” (HR. Bukhari no. 3277 dan Muslim no. 1079).


Selanjutnya, kita kembali ke pertanyaan di atas. Mengapa masih ada maksiat, jika setan telah dibelenggu?" Lagi, ia bertanya namun lagi-lagi Dea tidak menanggapi karena ia tahu ustad Aldi tidak sedang meminta argumennya.


"Ada beberapa pendekatan yang disampaikan ulama dalam memahami kasus ini, Pertama, sumber maksiat tidak hanya setan. Karena hawa nafsu manusia di sana berperan. Keterangan disampaikan Imam as-Sindi dalam Hasyiyah-nya (catatan) untuk sunan an-Nasai. Beliau mengatakan,


ولا ينافيه وقوع المعاصي، إذ يكفي وجود المعاصي شرارة النفس وخبائثها، ولا يلزم أن تكون كل معصية بواسطة شيطان، وإلا لكان لكل شيطان شيطان ويتسلسل، وأيضاً معلوم أنه ما سبق إبليس شيطان آخر، فمعصيته ما كانت إلا من قبل نفسه، والله تعالى أعلم


Hadis ‘setan dibelenggu’ tidak berarti meniadakan segala bentuk maksiat. Karena bisa saja maksiat itu muncul disebabkan pengaruh jiwa yang buruk dan jahat. Dan timbulnya maksiat, tidak selalu berasal dari setan. Jika semua berasal dari setan, berarti ada setan yang mengganggu setan (setannya setan), dan seterusnya bersambung. Sementara kita tahu, tidak ada setan yang mendahului maksiat Iblis. Sehingga maksiat Iblis murni dari dirinya. Allahu a’lam. (Hasyiyah Sunan an-Nasai, as-Sindi, 4/126)." Menarik nafas lembut.


"Kedua, setan dibelenggu tapi dia masih bisa mengganggu. Hanya saja, dia tidak sebebas ketika dilepas. Karena makhluk yang dibelenggu hanya terikat bagian tangan dan lehernya. Sementara kakinya, lidahnya masih bisa berkarya. Kita simak keterangan Imam al-Baji – ulama Malikiyah – dalam Syarh Muwatha’,


قوله وصفدت الشياطين يحتمل أن يريد به أنها تصفد حقيقة، فتمتنع من بعض الأفعال التي لا تطيقها إلا مع الانطلاق، وليس في ذلك دليل على امتناع تصرفها جملة، لأن المصفد هو المغلول العنق إلى اليد يتصرف بالكلام والرأي وكثير من السعي


Sabda beliau, ‘Setan dibelenggu’ bisa dipahami bahwa itu dibelenggu secara hakiki. Sehingga dia terhalangi untuk melakukan beberapa perbuatan yang tidak mampu dia lakukan kecuali dalam kondisi bebas. Dan hadis ini bukan dalil bahwa setan terhalangi untuk mengganggu sama sekali.  Karena orang yang dibelenggu, dia hanya terikat dari leher sampai tangan. Dia masih bisa bicara, membisikkan ide maksiat, atau banyak gangguan lainnya." Tangan Dea tanpa sadar dan ia juga tidak menyadari bahwa dirinya kini benar-benar hanyut dalam penjelasan ustad Aldi yang jelas dan menyenangkan.


"Ketiga, sejatinya setan tidak dibelenggu secara hakiki. Sifatnya hanya kiasan. Mengingat keberkahan bulan ramadhan, dan banyaknya ampunan Allah untuk para hamba-Nya selama ramadhan. Sehingga setan seperti terbelenggu. Masih kita lanjutkan keterangan al-Baji,


ويحتمل أن هذا الشهر لبركته وثواب الأعمال فيه وغفران الذنوب تكون الشياطين فيه كالمصفدة، لأن سعيها لا يؤثر، وإغواءها لا يضر…


Bisa juga kita maknai, bahwa mengingat bulan ini bulan pernuh berkah, penuh pahala amal, banyak ampunan dosa, menyebab setan seperti terbelenggu selama ramadhan. Karena upaya dia menggoda tidak berefek, dan upaya dia menyesatkan tidak membahayakan manusia… (al-Muntaqa Syarh al-Muwatha’, al-Baji, 2/75)


Keempat, yang dibelenggu tidak semua setan. Tapi hanya setan kelas kakap (maradatul jin). Sementara setan-setan lainnya masih bisa bebas. Terjadi maksiat, disebabkan bisikan setan-setan kelas biasa. Dalam fatwa  syabakah islamiyah dinyatakan,


وقد ذهب بعض أهل العلم إلى أن الذين يصفدون من الشياطين مردتهم، فعلى هذا فقد تقع المعصية بوسوسة من لم يصفد من الشياطين


Sebagian ulama berpendapat bahwa setan yang dibelenggu hanyalah setan kelas kakap. Berdasarkan pendapat ini, adanya maksiat, disebabkan bisikan setan yang belum dibelenggu. (Fatwa  Syabakah Islamiyah, no. 40990).


"Nah, dari sini kita sudah tahu bahwa ada banyak pendapat ulama tentang hal ini dan atas kebenarannya kita serahkan semuanya kepada Allah SWT. Kita hanya perlu menguatkan iman saja dan memperbanyak ibadah kita kepada Allah SWT, buat Allah jatuh cinta kepada kita dengan menunjukkan betapa cintanya kita terhadap Allah SWT." Suara ustad Aldi mengakhiri penjelasannya, mengalihkan pandangannya mata tajamnya yang jernih dan gelap bertemu dengan mata penuh kekaguman Dea.


Sejenak ia tidak tahu harus mengatakan ketika dirinya benar-benar terhanyut dalam tatapan gadis ini.


"Masyaa Allah, penjelasan ustad Aldi sangat bagus dan jelas. Kami yang mendengarkan langsung mengerti dibuatnya." Suara seorang gadis tiba-tiba menginterupsi kesunyian ustad Aldi dan Dea.


"Sa-Safira?" Kaget Dea melihat ada Safira dan Mira di ujung sana.


Bersambung...


Minal aidzin wal faidzin semuanya 😘, mohon maaf lahir dan batin 🙏. Maafkan diriku yang baru muncul minggu ini karena satu minggu full kemarin dihabiskan bersama keluarga besar😊. Iyaaaa...gak apa-apa kok, aku juga udah maafin kalian semua 🤣🤣🤣.. gimana, author naikkan🤣🤣🤣..


Wkwkwkw..enggak kok becanda.. jangan dimasukkan ke hati, Minna😋..


Terakhir nih, semoga Allah mempertemukan kita semua lagi di bulan yang mulia ini. Disampaikan usia kita di tahun selanjutnya agar kita dapat bertemu lagi dengan bulan yang sangat Allah cintai ini. Aamiin Allahumma Aamin ya Allah.


Okay, segini aja... selanjutnya author mau nulis part Shooq (Kerinduan) dulu. Jangan lupa berkunjung ya, minna😘

__ADS_1


__ADS_2