Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Kekesalan Rayhan.


__ADS_3

aura gelap diseluruh ruangan terasa, udara yang harusnya dingin pendingin ruangan menjadi panas karena diaktifkan. bahkan lampu ruangan tidak menyala, hanya lampu meja yang menerangi seseorang sedang tidur nyenyak. Bunga terlelap tidur setelah dokter memeriksa keadaannya, keadaan gadis itu baik baik saja hanya mengalami shock akibat terkejut. aura gelap sendiri dihasilkan oleh Rayhan, pria itu duduk disofa dengan pandangan lurus kearah Bunga. pria itu gelap mata ketika ingat dirinya tidak bisa menyelamatkan sangat kekasih, dirinya hanya berdiri menyaksikan Bunga meminta tolong sampai seseorang datang menolong. sampai Bunga pun membuka mata, ia merasa cukup dengan tidurnya. dilihatnya kamar itu adalah kamar pribadinya, Bunga melihat sekelilingnua dan melihat Rayhan. pria itu masih diam tanpa bicara, tatapan matanya masih kosong entah siapa yang dipandang pria itu.


"Rayhan... " panggil Bunga lembut, sepontan Rayhan langsung berjalan cepat kearah Bunga. pria itu membantu Bunga duduk, dan lampu kamar itu menyala dengan sempurna. menampilkan Rayhan yang tampak tidak rapi, lebih tepatnya acak acak an dengan rambut berantakan. "ada apa, kamu menangis? " tanya Bunga, Rayhan menyentuh tangan lembut Bunga yang mengusap pipinya.


"tidak menangis, hanya melamun dan sekarang mataku pedas! " ucap Rayhan, Bunga tahu pria itu berbohong. Bunga tersenyum, karena ia pikir Rayhan khawatir padanya sampai melaum.


"Terima kasih sudah menolongku, aku sudah baik baik saja! " ucap Bunga, tentu hal itu membuat Rayhan kesal karena merasa bukan dirinya yang menolong. Rayhan berdiri dari duduknya, ia mengambil jasnya dan memakainya. Bunga melihat itu heran, karena wajah Rayhan seperti menahan sesuatu apalagi terlihat urat tangannya tampak jelas.


"istirahatlah, aku akan pulang sekarang ada urusan mendadak! " ucap Rayhan mencium pucuk rambut Bunga, tanpa mendengar gadis itu bicara Rayhan pergi dari sana. Bunga bangun dari duduknya, ia berjalan untuk mengejar Rayhan ingin menuntut jawaban. terlihat Rayhan sudah dibawah, pria itu berpamitan dengan orang tua Bunga dan berjalan kearah pintu utama.


"Rayhan! " panggil Bunga yang lemah, sang ibu menghampiri Bunga untuk menopang gadis itu.


"kamu harus istirahat, kamu sedang lemah Bunga! " ucap sang ibu, didudukannya gadis itu di sebuah sofa besar disana.


"dia tiba tiba pergi tanpa bicara, aku juga tidak tahu apa yang terjadi padanya! " jelas Bunga, sang ibu mengangguk dan meberikan air mineral didalam gelas.

__ADS_1


"heleh dia mau menjadi suamimu, tapi melihatmu hampir tenggelam malah diam saja seperti orang bodoh! " ucap sang kakak yang tiba tiba datang, ibunya memukul pelan untuk membuat kakak Bunga itu diam.


"bukan diam saja, Rayhan tidak bisa berenang. mangkanya dia bingung ingin menyelamatkan tapi dirinya tidak bisa berenang, pada akhirnya orang lain yang menolongmu. kami juga tidak tahu siapa yang menolongmu, kami juga menyesal datang terlambat dalam acaramu! " seketika membuat Bunga menoleh, ia sempat tertegun dengan penuturan sang ibu. Bunga pun berjalan pergi ke kamarnya, pantas saja Rayhan marah dan pergi saat dirinya mengatakan maaf. sekarang Bunga ingin menyusul pria itu, ia tidak tahu akan kemana Rayhan itu pergi.


Rayhan sendiri pergi dengan kecepatan tinggi, ia tidak melihat jalan ataupun sekitarnya menggunakan mobilnya. Rayhan kesal pada dirinya sendiri, sangking kesalnya ia tidak bisa mengungkapkan hal itu sampai akhirnya meneteskan air mata. ia mengusap air matanya dengan kesal, berulang kali memukul setir mobil. memaki dirinya sendiri, sumpah serapah ia keluarkan dari mulutnya. Rayhan langsung masuk kedalam kamarnya, membanting pintu tanpa perduli pada siapapun.


"ada apa denganku! " geram Rayhan, ia mencoba mengatur nafasnya dan meminum wine miliknya. Rayhan masuk kedalam kamar mandi, pria itu mengguyur tubuhnya sendiri dengan air dingin. bahkan pakaiannya masih lengkap, Rayhan merasakan air yang sangat dingin. demi menghilangkan rasa kesalnya dan juga rasa bersalahnya, ia terduduk dilantai dengan shower air dingin yang mengguyur tubuhnya. tidak lama kemudian Bunga datang, gadis itu menggunakan dress khas tubuhnya. Bunga memasuki rumah itu dan bertemu Riyan secara bersamaan, saling menyapa mereka lakukan.


"hei kak kamu disini, bukannya kakak Ray sudah mengantarmu pulang! " ucap Riyan, Bunga menoleh ke kanan dan kirinya.


"tuan ada dikamarnya nona, setengah jam yang lalu beliau datang! " ucap seorang pelayanan yang membantu jawab, Bunga yang mendengar itu mengangguk dan tidak lupa mengatakan Terima kasih sebelum pergi. gadis itu menaiki anak tangga dengan kaki kecilnya, tentu saja diikuti oleh Riyan yang juga ingin tahu.


tanpa mengetuk pintu Bunga langsung membuka dan masuk kedalam kamar Rayhan, tidak ada pria itu hanya ada suara air layaknya orang mandi. Bunga berpikir Rayhan sedang mandi, Bunga berdiri di hadapan pintu kamar mandi siap mengetuk pintu. ketukan pintu berulang kali terdengar, tapi suara kran air masih terdengar oleh telinga Bunga.


"Rayhan aku disini, aku ingin bicara! " ucap Bunga lembut, tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi itu. sampai tiba tiba pintu kamar mandi itu terbuka dengan sendirinya, memang dari awal Rayhan masuk tanpa mengunci pintu tersebut. Bunga melihat Rayhan dari balik kaca besar yang tertutup, Bunga melihat bayangan Rayhan yang terlihat duduk dibawah. "Rayhan! " teriak Bunga saat melihat Rayhan terduduk dilantai, pria itu memejamkan mata dibawah guyuran shower. Bunga yang akan maju diminta mundur oleh Riyan, diangkatnya sang kakak yang terduduk lemas dengan pakaian yang sudah basah kuyup. Riyan terpekik dengan air yang sangat dingin, ia mengangkat sang kakak sampai diluar kamar mandi.

__ADS_1


"kakak apa kamu sadar? " ucap Riyan, Rayhan sadar tapi tidak sepenuhnya karena terlihat tubuhnya sangat dingin dan juga mengigil. "kak Bunga kamu telfon dokter, aku akan mengganti pakaian kakak! " ucap Riyan, Bunga mengangguk dan langsung keluar dari kamar Rayhan. disana Riyan segera membuka semua pakaian basah Rayhan, diganti dengan piyama tidur milik pria itu. secara bersamaan Reyvan dan Mira datang, mendengar kegaduhan suara Riyan dan Bunga.


Bunga duduk disamping Rayhan, pria itu terlihat pucat dengan badan mengigil. matanya terbuka, menatap Bunga dengan senduh dan gigi bergetar. Bunga menggosok telapak tangan Rayhan, memberikan senyuman hangat untuk pria itu. sampai dokter memberikan vitamin, dan memberikan resep pada Riyan untuk membelikan obat. semua pergi dari sana kecuali Bunga, gadis itu menemani Rayhan dan memeluk pria itu yang kulitnya terasa dingin.


"kamu kenapa seperti ini! " ucap Bunga, Rayhan mengelus rambut Bunga dengan lembut.


"maaf, aku... tidak bisa menyelamatkanmu! " ucap Rayhan terdengar sedih, Bunga langsung mendudukan dirinya. Rayhan yang sudah bisa bergerak, ikut duduk dibantu oleh Bunga.


"terus apa yang kamu lakukan dikamar mandi, kalau aku tidak datang tadi bagaimana! " saut Bunga dengan suara tinggi, Rayhan malah gemas melihat Bunga marah untuk pertama kalinya setelah mereka bertunangan.


"aku sangat malu, sangat bodoh sampai aku bingung harus menyembunyikan diriku dimana. ketika aku melihat kekasihku hampir saja tenggelam, aku malah berdiam diri meminta bantuan pada orang lain! " jelas Rayhan menunduk, Bunga menggelengkan kepala kemudian membawa wajah Rayhan menatapnya. Bunga mengecup bibir Rayhan sekilas, kemudian tersenyum dengan ketulusannya.


"itu bukan Rayhan yang aku kenal, Rayhan yang galak dan juga tegas. bukannya bodoh dan menundukkan kepala, tidak cocok dengan Rayhan yang berwibawa. dengar siapapun yang menyelamatkan ku itu sama saja, yang terpenting aku baik baik saja dan bisa bersamamu lagi! " ucap Bunga lembut, Rayhan tersenyum dengan itu. "dan satu lagi, jangan melakukan itu lagi. aku takut, bagaimana kalau terjadi sesuatu! " bibir Bunga dikecup oleh Rayhan, gadis itu terkejut dan menutup mulutnya.


"jika ada kamu, dijamin aku akan baik baik saja! " ucap Rayhan, pria itu menarik Bunga dalam pelukannya. seperti biasa Bunga menyukai harum minta pada Rayhan, ia memeluk pria itu dengan nyaman. "Bunga menginaplah hari ini, aku ingin kamu menemaniku tidur! " bisik Rayhan, Bunga mendorong tubuh Rayhan dan menatap pria itu yang berharap. layaknya anak kecil Rayhan langsung berganti posisi, membuat Bunga terbaring dan Rayhan berada dalam pelukan tubuh Bunga yang kecil. meskipun tubuh Bunga kecil, Rayhan sangat nyaman dengan belaian tangan Bunga. gadis itu akhirnya pasrah, ia tersenyum dengan Rayhan yang memeluk dirinya seperti anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2