Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 3


__ADS_3

"Ustadz.." Panggil Safira lembut, merasa malu juga senang karena akhirnya mereka bisa bertemu lagi setelah sekian lama tidak bertemu.


Ustadz Aldi mengangguk ringan sebagai respon ramah. Kedua matanya yang terukir tajam dengan hormat menurunkan pandangannya, ia tetap menjaga batasannya sebagai seorang laki-laki yang memuliakan perempuan.


"Nama anti kalau tidak salah adalah Safira?" Tanya ustadz Aldi memastikan karena ingatannya akan gadis yang ada di depannya ini sedikit samar.


"Lho, ustadz Aldi udah gak ingat lagi sama Safira?" Ini Mira yang merespon bukan Safira. Mendengar ini lantas Safira dengan kejam mencubit pinggang belakang Mira seraya memberikan senyuman malu-malu kepada ustadz Aldi.


"Ish!" Ringis Mira menahan sakit.


Mengabaikan Mira, Safira hanya fokus pada sosok ini. "Iya ustadz, nama saya Safira. Apakah ustadz lupa jika dua tahun yang lalu, ustadz adalah mentor saya saat belajar mengaji dulu di pondok bambu?" Safira mencoba mengingatkan ustadz Aldi akan kenangan waktu itu.


Saat itu, Ustadz Aldi adalah mentor tetapnya yang mana mengajarkan Safira mengaji dari dasar.


"In shaa Allah saya tidak lupa dengan anti, apalagi anti adalah salah satu didikan saya yang paling semangat mempelajari Al-Qur'an. Masyaa Allah, anti adalah wanita yang mulia dan hebat." Puji ustadz Aldi tidak membual.


Ini adalah fakta karena ia masih ingat waktu itu Safira begitu semangat belajar Al-Qur'an, ia bahkan tidak pernah absen sehari pun untuk datang belajar. Seakan-akan Safira sudah menantikan saat-saat dimana ia pergi ke pondok bambu.


"Alhamdulillah.. terimakasih atas pujian ustadz, saya harap Allah akan terus membimbing saya menjadi yang lebih baik. Agar saya layak dan pantas untuk mendapatkan gelar yang ustadz berikan kepada saya, Aamiin."


Tersenyum kalem, "Aamiin Allahumma Aamin ya Allah." Doa Ustadz Aldi tulus.


Besar sekali harapannya melihat semua wanita di dunia ini punya semangat yang sama dengan Safira. Tidak pernah pantang menyerah mempelajari Al-Qur'an dan terus memperdalamnya.


"Kalau begitu saya ke dalam dulu, Pak Kyai dan yang lain sudah menunggu saya " Pamitnya sopan seraya berjalan masuk ke dalam rumah.


"Iya ustadz, silakan." Ucap Safira mempersilakan seraya memberikan jalan untuk ustad Aldi lewat.


"Ya Allah, Safira! Pinggang aku sakit tahu kamu cubit gitu, mana cubitannya keras lagi. Niat amat deh kamu nyakitin aku." Kesal Mira seraya menggosok-gosok lembut pinggang yang Safira cubit tadi.


Safira tentu saja tidak merasa bersalah melakukan itu karena baginya Mira memang pantas mendapatkannya.


"Siapa suruh main asal ngomong aja, lain kali kalo kamu ulangi gak ada cubit-cubitan lagi. Tapi aku akan lempar kepala mu dengan sendal cantik dan mahal ku." Ancam Safira tidak ingin kejadian tadi terulang lagi.


Apalagi ia harus menjaga sikap dan perilaku untuk mendapatkan hati sang pujaan, jadi kewaspadaan Safira sudah tingkat tinggi akan hal itu.


"Astagfirullah.. jahat banget sih jadi temen. Lagian juga kamu gak takut apa ustad Aldi jadi ilfil gara-gara sikap keras mu ini?"


Mira gak bisa membayangkan bagaimana ekspresi ustadz Aldi jika melihat kelakuan asli Safira yang keras dan sadis. Apakah ia akan ilfil?


"Justru karena itu aku bilang kamu harus jaga sikap karena aku juga sedang berusaha melatih kesabaran ku untuk menghadapi wajah-wajah kayak kamu. Biar nantinya kalau kamu berulah lagi gak akan aku banting langsung tapi langsung dikubur hidup-hidup!" Kesal Safira tidak tahan seraya mengikuti jejak ustadz Aldi masuk ke dalam rumah Gio. Lebih tepatnya, rumah Kakaknya juga sekarang.


"Astagfirullah..ngelus dada aku sama Safira, ya Allah... lindungilah hamba selama Safira tinggal di sini, Aamiin."


                                           ****


Malamnya, seluruh penghuni pondok pesantren mengadakan acara makan bersama yang sebenarnya tidak dilakukan secara besar-besaran sehingga beberapa tamu yang ikut serta menjadi nyaman.


Namun disaat orang sedang bergembira, orang yang disambut kedatangannya justru ada di sini. Ia sekarang ada di dalam masjid penuh kenangannya bersama para sahabatnya dulu yang sama-sama berjuang mempelajari Al-Qur'an. Kini mereka semua sudah kembali ke daerah masing-masing untuk menyalurkan ilmu yang mereka dapatkan sedangkan ustadz Aldi lebih memilih mengabdikan hidupnya di sini untuk membagi ilmu yang ia dapatkan selama beberapa tahun ini.


Di sela-sela matanya sedang asik mengagumi keindahan masjid ini, pandangannya pun terjatuh pada sosok gadis yang tidak berdiri jauh darinya. Gadis itu sedang menatapnya bingung juga bertanya-tanya, adalah hal yang wajar gadis itu seperti ini karena orang yang disambut kedatangannya ke pondok pesantren malah di sini, pikir ustadz Aldi menebak pikiran gadis itu.

__ADS_1


"Aku kok tumben lihat kamu di pondok pesantren ini?" Tiba-tiba gadis itu bersuara, membuat dahi ustadz Aldi mengkerut samar.


Gadis ini tidak sopan, pikirnya.


Diam, ustadz Aldi tidak merespon dan hanya memperhatikan gadis ini pandangan samar.


Tentu saja gadis itu merasa kesal karena diabaikan laki-laki tampan ini. Ia bahkan berjalan ringan berniat mendekati ustadz Aldi namun ustadz Aldi secepat yang ia bisa terus menjaga jarak dengan gadis itu.


Gadis itu melangkah 4 langkah, ustadz Aldi mundur 4 langkah. Gadis itu melangkah 6 langkah, ustadz Aldi mundur 6 langkah dan terus saja begitu sampai akhirnya ekspresi gadis itu tiba-tiba menjadi suram kemudian menyendu.


Ustadz Aldi sekilas bisa melihat kedua mata gadis itu berkaca-kaca tanda ingin menangis. Namun secepat kilat gadis itu langsung mengalihkan pandangannya menatap kaca masjid yang hampir sepenuhnya menjadi bagian masjid. Bagaimana tidak mengatakan ini karena dinding masjid terbuat dari kaca, memang tidak sepenuhnya namun dominannya adalah kaca.


Diam memperhatikan, ustadz Aldi menyimpulkan mungkin gadis ini sedang ada masalah. Berpikir seperti ini akhirnya ia pun memutuskan untuk tidak ikut campur dengan masalah gadis tersebut dan mengalihkan pandangannya menatap keluar. Menatap kaca yang menampilkan bulan dengan ukuran penuh dan cahaya yang tidak menyakiti mata.


Begitu indah.


"Hei, aku punya sebuah pertanyaan kepada mu. Maukah kau menjawabnya untuk ku?" Tiba-tiba gadis itu bersuara lagi, bertanya kepada ustadz Aldi namun matanya masih bersinar terang menatap sang rembulan yang indah.


Lagi-lagi ustadz Aldi tidak mengatakan apapun dan hanya diam sebagai respon. Ia hanya melirik gadis itu dengan sudut matanya dan benar-benar tidak berniat dengan masalah gadis itu.


"Aku..aku pernah membaca kisah cinta Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Az-Zahra. Mereka menulis perjalanan kisah cinta mereka dengan begitu indah, seakan-akan kisah cinta mereka begitu suci dan mulia. Hei.. katakan, apakah kisah cinta itu sungguhan ada? Atau benarkah kisah cinta mereka seindah yang dikatakan buku-buku itu?" Lanjut gadis itu menyuarakan keingin tahuannya yang tunggi.


Pertanyaan ini sudah lama ia pendam, yaitu sejak ia tidak sengaja membacanya di perpustakaan satu bulan yang lalu. Gadis ini menjadi iri sekaligus mendambakan kisah cinta yang sama dengan Ali dan Fatimah. Kisah cinta suci yang begitu mulia dan membuat cemburu.


Hening.


Ustadz Aldi tidak menjawab dan masih fokus menatap rembulan yang begitu menyenangkan mata. Ia takjub dengan pemandangan yang ia dapatkan di tempat semula ini, sebuah sinar rembulan yang lembut.


Gadis itu sontak menjatuhkan pandangannya, tahu jika ustadz Aldi tidak akan mau menjawabnya. Ia pikir lagipula mengapa laki-laki ini harus menjawab pertanyaannya?


"Itu benar, kisah cinta Ali dan Fatimah memang ada dan benar bahwa kisah cinta mereka seindah yang buku-buku itu katakan. Bahkan mungkin lebih indah dari yang buku-buku itu ceritakan dan hanya Allah lah yang lebih tahu akan hal itu semua." Ustadz Aldi mengalihkan pandangannya, menatap sosok gadis yang termenung menatap sinar rembulan. Entah mengapa melihatnya seperti ini ustadz Aldi merasa jika gadis ini terlihat begitu kesepian.


Apakah itu benar?


Gadis itu tidak bersuara lagi setelah mendengar jawaban ustadz Aldi. Ia diam membisu memperhatikan sinar rembulan yang indah, lalu beberapa menit kemudian ia membawa pandangannya menatap ustadz Aldi yang juga sedang memperhatikannya.


"Kenapa kau tidak bergabung bersama mereka menyambut kedatangan ustadz baru itu?" Tanya gadis itu penasaran.


Karena sedari tadi ia selalu mendengar orang-orang disekitarnya menyebut tentang sosok ustadz muda itu. Kata mereka akan ada acara makan bersama-sama untuk menyambut ustadz tersebut.


Menaikkan alisnya samar, ustadz Aldi bisa menebak bahwa gadis ini tidak mengenalnya.


"Lalu mengapa anti juga tidak pergi untuk menyambutnya?" Tanya ustadz Aldi balik ke gadis itu.


Menundukkan kepalanya, gadis itu terlihat kurang nyaman saat ditanya soal ini.


"Aku..aku tidak lapar jadi aku tidak ke sana." Jawab gadis itu dengan suara yang canggung.


"Ya.. terimakasih atas jawabannya, suatu hari jika kita bertemu nanti aku akan membalas mu." Gadis itu menegakkan kepalanya, mengucapkan terimakasih ia kemudian berbalik pergi keluar dari pintu masjid.


Meninggalkan ustadz Aldi seorang yang masih memperhatikan punggung lemah gadis itu menghilang. Menggelengkan kepalanya, ustadz Aldi lalu melanjutkan aktivitasnya tadi sebelum ada gadis itu. Mengelilingi masjid untuk bernostalgia sendiri.

__ADS_1


                                            ***


"Dea, ustadzah nanyain kamu lho tadi." Lapor Masha setelah kembali dari acara makan bersama pondok pesantren.


Dea tidak tertarik dan hanya berdeham saja sebagai respon.


"Hem."


"Ustadzah bilang kamu harus belajar bersosialisasi dengan teman-teman yang lain dan pesannya kamu jangan malas makan." Ucapnya menyampaikan amanah dari ustadzah sambil memberikan Dea nampan makanan.


"Aku tidak lapar, kau bisa memakannya." Dea mendorong nampan itu menjauh darinya.


"Dan juga, katakan pada ustadzah mu jika aku tidak butuh teman di sini." Lanjutnya seraya menarik selimut untuk menutupi badannya.


"Dea, menjalin pertemanan dengan teman-teman di sini gak buruk kok. Mereka semua sebenarnya baik dan selalu ingin menyapa mu, namun karena kamu terlalu cuek membuat nyali mereka menciut. Jadi usahakan perbanyak tersenyum besok agar teman-teman yang lain tidak ragu lagi mendekati mu." Masha tidak mau menyerah untuk menasehati Dea.


Seperti yang ia bilang tadi, sebenarnya banyak orang di sini yang mau berteman dengan Dea. Namun, karena Dea terlalu cuek dan tertutup membuat mereka menjadi ragu untuk mendekatinya.


"Jadi, bagaimana dengan acara tadi? Apakah seru?" Tanya Dea mengalihkan pembicaraan, begitu bosan mendengarkan celoteh Masha jika menyangkut permasalahan Dea.


Masha lebih mirip Ibunya lama-lama dibandingkan menjadi seorang 'teman'.


"Alhamdulillah seru banget acaranya, tapi sayangnya ustadz Aldi gak pernah nongol-nongol lagi setelah memberikan ucapan terimakasih karena diterima di sini lagi." Sesal Masha karena tidak bisa melihat pujaan hatinya.


"Maksud kamu?" Bingung Dea.


Jangan bilang jika ustadz itu langsung kembali ke kamar dan tidur setelah mengucapkan terimakasih?


Oh, no!


"Iya, setelah mengucapkan rasa terimakasihnya ustadz Aldi gak muncul-muncul lagi di acara itu." Ucap Masha memperjelas lagi ucapannya.


"Mungkin dia pergi istirahat karena telah menempuh perjalanan jauh kan?" Ucap Dea mencoba berpikir positif.


Masha langsung manggut-manggut mengerti, pikirannya tercerahkan.


"Ya, mungkin karena perjalanan jauh itu membuatnya kelelahan. Sangat masuk akal." Setuju Masha.


"Tapi walaupun ustadz Aldi tadi gak ada di sana, Gus Gio dan Kak Annisa hadir lho di sana." Mulai Masha bercerita dengan semangat tinggi.


"Terus kamu tahu gak, kita semua tuh hampir kering tenggorokannya karena keseringan teriak-teriak. Gimana gak teriak-teriak coba kalo pasangan pengantin baru itu sering bermesraan di depan kami. Haahhh..iri tahu, kita juga mau seperti mere-"


Setelahnya, Dea memilih menutup mata dan tidak mendengarnya lagi jika bersangkutan tentang Annisa. Ia merasa bersalah dan masih ingat dengan apa yang dikatakan Safira di hari itu.


Annisa tidak tahu jika yang membuat namanya hancur di sini adalah karena Dea dan Reina. Annisa masih belum tahu tentang semua itu dan karena itulah Dea amat sangat bersalah kepada Annisa.


Gadis baik dan polos yang kadang membuat mereka iri akan kebaikannya. Ia terlalu sempurna di dunia ini, ya, ini adalah pandangan Dea sebagai orang yang pernah menyakiti Annisa.


Lalu Dea benar-benar tertidur lelap, meninggalkan Masha yang terus mengoceh tentang banyak hal. Berkelana ke dunia mimpi yang penuh akan fantasi, berharap malam ini tidak ada lagi mimpi buruk karena besok ia akan menghubungi Rio, kekasihnya.


Meskipun tidak seindah cinta Ali dan Fatimah, namun cintanya dengan Rio sama manisnya dengan mereka.

__ADS_1


Mungkin.


Bersambung...


__ADS_2