Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 6


__ADS_3

"Masyaa Allah, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Sekarang bagaimana keadaan akhi, apakah sudah ada perubahan setelah dua tahun tidak bertemu?" Ustadz Aldi dengan hangat menyambut kedatangan salah satu sahabat seperjuangannya dulu.


Dengar-dengar sahabatnya ini tertarik mengajar di pondok pesantren sama seperti dirinya.


"Alhamdulillah kabar aku baik Al dan sejauh ini in shaa Allah hidup aku terus berjalan ke arah yang lebih baik lagi. Lalu, bagaimana dengan mu? Tinggal di Mesir selama dua tahun ini pasti membawa banyak perubahan dalam hidup mu. In shaa Allah, perubahan yang berbuah kebaikan." Ujar laki-laki itu tidak menampik bahwa hidupnya semakin baik selama dua tahun ini, bahkan hatinya semakin tenang dan damai jika menyangkut urusan spritual.


"In shaa Allah, perubahan yang aku alami tidak banyak. Hanya saja ilmu yang ku dapatkan lah yang semakin bertambah, sehingga begitu besar keinginan ku untuk membaginya di sini. Oh ya, Ali, bagaimana kabar adik mu Rio. Apakah ia sudah mulai tertarik mempelajari Al-Qur'an seperti kamu atau justru masih kukuh dengan jalan yang ia pilih?" Tanya Aldi penasaran.


Pasalnya Ali pernah menceritakan perihal adik laki-lakinya yang begitu dimanja kedua orang tuanya. Bahkan sekalipun adiknya melakukan kesalahan, kedua orang tua Ali pasti mengatakan bahwa Rio masih kecil dan belum dewasa. Jadi wajar saja dia bersikap ceroboh.


Mendengar pertanyaan Aldi, senyuman hangat Ali tiba-tiba meredup. Wajahnya tampak menyendu dan ada garis kesedihan yang melintas di sana. Begitu jarang melihat laki-laki setegas Ali menjadi bersedih seperti ini.


"Itulah sebabnya aku datang ke sini." Jawab Ali terdengar begitu sedih.


"Datang ke sini, maksud kamu apa Ali?" Bingung Aldi bertanya-tanya.


Bukankah kemarin sebelum ia datang ke pondok pesantren Ali menghubunginya dan mengatakan ia juga akan mengabdi di sini. Tapi mengapa tiba-tiba alasannya berubah?


"Rio, adik laki-laki ku itu beberapa bulan yang lalu pernah membuat kesalahan yang amat sangat fatal." Mulai Ali menceritakan tentang adiknya, Rio.


"Ia diberhentikan dari sekolahnya karena ketahuan melakukan perzinahan dengan pacarnya. Ia juga menolak bertanggung jawab kepada perempuan itu dengan alasan perempuan itu juga pernah ditiduri oleh laki-laki lain. Tentu saja perempuan itu menyangkalnya dan dengan keras kepala ingin tetap bersama Rio. Mama dan Papa marah dan tidak suka melihat Rio disudutkan seperti itu sehingga mereka pun menyetujui ucapan Rio, menolak Rio bertanggung jawab kepada perempuan itu. Aldi, setelah hari itu aku dengar gadis itu dipindahkan ke pondok pesantren, namun pondok pesantren mana itu aku masih belum jelas. Oleh karena itu, aku berada di sini untuk memulai pencaharian ku meskipun kemungkinan untuk bertemu dengannya sangat kecil, meskipun kecil aku tetap tidak ingin menyerah begitu saja." Ia pernah mencari tahu tentang gadis itu langsung ke keluarganya, namun bukannya diterima oleh pihak perempuan itu, mereka justru mengusirnya langsung.


Mereka tidak ingin membocorkan keberadaan perempuan itu kepadanya, sekalipun Ali berniat baik tentangnya.


"Astagfirullah.. kejahatan sekejam itu bagaimana mungkin kedua orang tuamu melepaskannya?, Sekalipun itu karena Rio yang manja tapi mereka tidak bisa bersikap seperti itu karena biar bagaimanapun ini adalah perbuatannya dan Rio harus mempertanggungjawabkannya secara langsung." Aldi masih belum mengerti jalan pikiran kedua orang tua sahabatnya ini.


Meskipun sangat menyayangi anaknya, namun sayang mereka juga tidak bisa membutakan mata hati mereka dari kebenaran. Salah harus salah dan benar haruslah benar.


Kedua hal ini tidak bisa disatukan atau disamakan karena mereka punya andil yang berbeda di dalam kehidupan.


"Aku juga sama bingungnya dengan mu, bahkan aku sempat berdebat dengan mereka tentang hal ini. Jika Rio tidak bisa menikahi perempuan itu maka aku rela menggantikan posisinya, menikahi perempuan itu." Tekadnya sudah bulat untuk menemukan perempuan itu lalu menikahinya.


Ia rela menggantikan posisi Rio meskipun Ali tidak melakukan kesalahan apapun, baginya kesalahan Rio sama dengan kesalahan mereka sebagai keluarga yang lalai akan sikap dan perilakunya.


"Allahuakbar.. jadi tujuan mu mencari gadis ini adalah menikahinya?" Aldi tentu saja terkejut karena masa depan rumah tangga sahabatnya sedang dipertaruhkan di sini.

__ADS_1


Bagaimana jika perempuan itu bukan perempuan yang baik-baik atau memang suka bermain dengan laki-laki yang ada diluar sana?


Jika itu benar, maka kehidupan rumah tangga Ali tidak akan berjalan lancar.


Menghela nafas tidak berdaya, "Tidak sebenarnya, aku ingin meminta maaf kepadanya atas nama Rio dan keluarga kami. Namun jika perempuan itu masih tidak menerimanya maka aku rela menikahinya."


Yah, itu tergantung perempuan itu. Jika hatinya lapang ia akan menerima maaf Ali namun jika hatinya tidak rela maka menikahinya adalah pilihan terakhir.


Lagipula, perempuan mana yang tidak sakit hati jika diperlakukan seperti itu?


Mustahil bukan?


Maka Ali hanya bisa menyerahkan semuanya kepada Allah SWT, biar Allah yang membimbing langkahnya nanti.


"Ali, aku pikir langkah ini tidak tepat untuk mu."


"Tepat atau tidaknya aku berserah diri kepada Allah SWT, biarkan Allah yang menuntunku menemukan jalan yang paling baik untuk ku."


Tidak berdaya, "Baiklah jika itu keputusan mu, aku sebagai sahabat mu tidak bisa mengatakan apa-apa lagi dan hanya bisa berdoa semoga kau selalu dalam lindungan Allah SWT." Aldi tidak bisa memaksa Ali untuk mendengarkannya.


"Hem, terimakasih atas pengertian mu." Membawa pandangannya menatap bangunan masjid yang untuk bernostalgia, ia ingat sebelum berangkat ke Mesir dulu Aldi telah menceritakan seseorang kepadanya.


"Aldi, gadis yang kau ceritakan dua tahun lalu apakah kau masih berkomunikasi dengannya?" Tanya Ali penasaran.


"Setelah aku pergi ke Mesir tidak pernah lagi, namun saat aku kembali ke sini aku bertemu lagi dengannya. Dia masih gadis yang luar biasa."


\*\*\*


"Ini adalah gamis yang akan kita gunakan bulan puasa ini dan gamis ini hanya boleh digunakan setiap hari Senin, kamis dan Jumat. Selain hari itu kita menggunakan gamis biasa." Teriak Ririn memberikan informasi kepada teman-teman sekamarnya.


"Sekarang kalian bisa mengambil gamis dengan ukuran badan masing-masing, jangan lupa tanda tangan dua kali setelah mengambil gamis ini. Jika ada yang mendapatkan ukuran yang salah diharapkan lapor secepatnya agar bisa langsung digantikan ke kantor." Teriak Ririn lagi memberikan informasi.


Ia tidak perduli jika mereka mendengar atau tidak saking sibuknya dengan gamis masing-masing.


Menunggu beberapa menit, ia tidak mendapatkan laporan apa-apa selain suara berisik khas gadis-gadis saat berbelanja dan mendapatkan diskon besar.

__ADS_1


"Kak Safira, Kak Mira, kamar kami tidak punya keluhan apapun tentang gamis-gamis ini dan terimakasih atas bantuan kalian." Ririn dengan sopan mengucapkan terimakasih kepada Safira dan Mira yang sedari tadi asik mengamati respon teman-teman kamarnya dari luar.


"Tidak perlu berterima kasih karena ini sudah menjadi tugas kami." Safira berucap sopan, berusaha seramah mungkin kepada Ririn yang menatapnya kagum.


"Ya sudah, kalau begitu kami pergi dulu ke kamar yang lain. Jika ada apa-apa jangan lupa hubungi kami di kantor staf." Pesan Safira seraya mengucapkan salam perpisahan bersama Mira.


"Wah, tinggal sehari di sini kamu sudah bisa beradaptasi dengan lancar dan baik. Untuk seukuran pemula kau lumayan juga."


Memutar bola matanya malas, "Kau memuji atau mengejek ku?"


"Sebenarnya sih mengejek mu, tapi jika kau merasa dipuji juga tidak apa-apa kok. Itu hak mu bagaimana menilai pendapat orang."


"Wah..wah..aku tidak menyangka jika kau semakin hari semakin berani dengan-"


"Ya Allah Safira!" Histeris Mira tidak tahan melihat pemandangan yang ada di depannya.


"Astagfirullah, Mira! Kamu bisa gak usah pakek acara teriak-teriak di depan kuping ku, sakit tahu!" Kesal Safira karena telinga kanannya langsung berdengung panjang akibat teriakan gak jelas Mira yang tentu saja membuat hati iritasi.


"Ya Allah Safira, kamu lihat itu dulu baru marah-marah gak jelas!" Mira dengan panik memutar kepala Safira agar bisa melihat apa yang dilihatnya.


"Ustadz Aldi?" Senyumnya langsung terbentuk manis, seakan-akan ia lupa jika Mira pernah membuatnya tadi marah.


"Jangan fokus sama ustadz Aldinya doang dong, tapi cowok yang satunya juga kenapa sih?" Mira rasanya ingin mencubit pipi Safira saking gemasnya.


Ya pikirkan saja bagaimana ia tidak gemas jika setiap waktunya nama Aldi terus memenuhi kepalanya.


"Ah, siapa itu?" Bingung Safira bertanya-tanya, pasalnya ia seperti pernah melihatnya namun ia yakin jika ini pertama kalinya ia melihat laki-laki itu.


"Masyaa Allah, Safira! Jodoh aku akhirnya datang juga, Allahuakbar. Gak nyangka kalau dia seganteng ini, Safira...dia jodoh aku tahu kamu jangan sampai nikung teman sendiri, okay!" Hatinya berdebar-debar kencang ketika melihat laki-laki itu. Ia juga jujur saat mengatakan ini dan ia benar-benar ingin memiliki laki-laki itu.


Apakah ini yang Safira rasakan ketika melihat Aldi?


Jika iya, maka Mira tidak heran melihat Safira sampai segila itu jika bertemu Aldi. Ternyata rasanya manis dan mendebarkan, Mira suka!


Bersambung...

__ADS_1


Awas Typo Bertebaran!!!


__ADS_2