
"Oh, Kak sejak kapan kau ada di sini?" Nanda melepas sayuran segar yang sudah di cuci bersih dalam air dan memperhatikan keberadaan Kakaknya yang sudah duduk manis di depan meja untuk mengolah bahan-bahan makanan kesukaan Naila.
"Bukankah beberapa waktu yang lalu aku baru saja berbicara dengan mu?" Tanya Rumi balik sedikit heran dengan Nanda.
Bukankah sejak awal ia masuk orang pertama yang ia ajak bicara adalah Nanda, lalu mengapa Adiknya bersikap seolah ia tidak pernah berbicara dengannya?
"Benarkah?"
"Itu benar, jika kau tidak percaya maka kau bisa bertanya pada kedua teman mu." Saran Rumi tidak angin ambil pusing.
Melihat Nanda yang masih menampilkan ekspresi kebingungan, Annisa yang sedari tadi diam tidak bisa mengenyahkan pikirannya tentang percakapan yang ia lakukan bersama Naila.
Saat itu Naila pernah mengatakan bahwa ia merindukan bibinya yang kabur karena sering di marah oleh Kakeknya, lalu apakah bibi yang Naila maksud adalah Nanda?
Karena seperti yang ia dengar tadi, wanita yang baru datang ini mengatakan bahwa Naila ingin makanan kesukaannya dan bahkan respon Nanda pun terlihat alami, ia memanggil wanita ini dengan panggilan 'Kak'. Jadi apakah Nanda dan wanita ini adalah keluarga juga apakah Naila adalah anak dari wanita ini?
Itu mungkin karena wajah mereka terlihat mirip dan tidak punya banyak perbedaan.
"Annisa, apakah kau baik-baik saja sekarang?"
"Eh?" Annisa langsung tersadar dari lamunannya yang dalam.
Tersenyum, Rumi tidak mengatakan apa-apa setelah melihat ekspresi linglung Annisa.
"Kak Rumi kenal Annisa dimana?" Tanya Mira penasaran karena ia tidak pernah tahu jika Kakak Nanda tahu tentang Annisa kecuali hal ini telah Nanda rencanakan tentunya.
"Kakak kenal Annisa kemarin waktu lagi masak untuk sarapan santri, saat itu Annisa terlihat pucat dan kurang enak badan jadi Kakak mengambil inisiatif untuk mengajaknya berbicara." Jawab Rumi jujur teringat akan hari dimana Annisa dikucilkan oleh orang-orang pondok di dapur.
Melihatnya yang lemah dan tidak berdaya membuat Rumi tidak bisa menyembunyikan keprihatinannya terhadap Annisa. Jadi, karena rasa simpati ia akhirnya memutuskan untuk menyapa Annisa dan menyelamatkannya dari kucilan orang pondok.
"Ooo, ternyata seperti itu." Gumam Mira mengerti.
Mendengar cerita Rumi, Annisa kemudian mengalihkan pandangannya pada Rumi yang sedang asik menyiapkan bahan masakannya. Katanya tadi itu untuk Naila.
"Em Kak, apakah Annisa bisa menanyakan sesuatu?" Tanya Annisa ragu dan hati-hati.
Tersenyum, "Tentu, apa yang Annisa ingin tanyakan kepada ku?" Ucap Rumi mengiyakan.
Melirik Nanda yang sedang sibuk, Annisa tidak mendapatkan gerakan apapun dari Nanda. "Apakah Naila dan Kakak punya hubungan darah, dan jika iya apakah itu hubungan Ibu dan anak?"
"Annisa, kau juga mengenal Naila?" Mira lagi-lagi di buat terkejut oleh Annisa. Naila adalah anak Rumi jadi agak sedikit mengherankan jika Annisa mengetahuinya karena Naila hanya beberapa kali ke pondok pesantren untuk berkunjung itupun selalu di rumah utama. Maka dari itu Mira merasa bingung mengapa Annisa juga mengenal Naila karena seperti yang dijelaskan Rumi pertemuannya dengan Annisa punya alasan khusus.
"Jadi kau juga mengenal anak ku?" Ada senyuman samar saat ia menanyakan hal ini.
Nanda menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Annisa yang terlihat sedikit gugup.
"I-iya, aku mengenal Naila saat aku tidak sengaja bertemu Mas Gio ke sungai kemarin." Jawab Annisa dengan suara yang semakin mengecil.
"Astaga, jadi Kakak cantik yang di bicarakan tadi malam adalah kamu? Wah, aku tidak tahu jika kalian pernah bertemu." Rumi teringat dengan celotehan anaknya yang cerewet, tadi malam si kecil terus saja menceritakan pembicaraannya dengan Kakak cantik yang ia temukan di dekat sungai. Sekarang setelah tahu siapa orangnya Rumi tidak memusingkan hal itu dan menganggap semuanya adalah hal yang biasa.
"Wah, kau begitu tega Annisa tidak menceritakan hal ini kepada kami. Padahal kami berdua adalah sahabat mu tapi hal sepenting ini kau begitu enggan menceritakannya kepada kami berdua." Rajuk Mira yang langsung di sambut dengan malas oleh Nanda. Mira berulah lagi pikirnya.
"Tidak, tidak seperti itu." Annisa membantah panik karena ia memang tidak bermaksud menyembunyikan hal ini dari mereka berdua.
"Kau memang seperti itu." Rajuk Mira masih menggoda Annisa, senang sekali rasanya melihat Annisa sepanik ini.
"Tidak seperti itu, hanya saja..aku..hanya.." Annisa kebingungan untuk mengatakan alasannya. Di ruangan ini tidak hanya mereka bertiga jadi sedikit tidak pantas rasanya jika ia mengatakan bahwa karena rumornya telah menyebar maka semua orang di dapur umum saat itu mengabaikan dan asal memerintahkannya. Nah, ini adalah privasi jadi Annisa tidak gila mengatakan hal itu dengan gamblang kepada Mira dan Nanda. Annisa hanya bersikap pasif dan menunggu mereka berdua menemukan kejanggalan ini kemudian pergi mempertanyakan kebenaran dari apa yang mereka dengar. Inilah skenario yang Annisa pikirkan untuk mereka berdua.
"Hanya saja itu adalah privasi Annisa, cukup kau bayangkan saja bagaimana suasana romantis yang terjalin antara ia dan Mas Gio. Di tambah lagi ada Naila di antara mereka jadi itu lebih seperti keluarga kecil yang bahagia dan harmonis." Ucap Nanda gamblang mengungkapkan pikirannya. Ya, siapa yang tidak akan berpikir seperti ini jika orang lain mendengarnya. Bayangkan pertemuan yang tidak di sengaja dengan laki-laki yang kita sukai apalagi ada peran anak kecil sebagai pendukung munculnya suasana romantis. Ini lebih seperti kisah-kisah yang sering di tulis dalam novel. Begitu imajinasi dan menyenangkan.
"Oh, jadi seperti itu. Otak ku benar-benar tidak bisa memikirkannya." Sahut Mira puas setelah melayangkan provokasi kepada pihak lain yang tidak pernah ikut andil dalam pembicaraan tersebut.
"Sungguh, tidak seperti itu." Gumam Annisa tidak bisa menyembunyikan rona merah dari wajah cantiknya yang mulus dan lembut. Merasakan sensasi panas yang perlahan menguasai wajahnya, ia langsung mengalihkan wajahnya dan menundukkan secara alami seolah ia begitu fokus mengerjakan pekerjaannya padahal ia melakukan ini untuk menutupi perasaan malunya yang meluap-luap. Bahkan pekerjaan yang ia tekuni tadi sudah selesai dan siap untuk di cuci bersih, namun karena sempat mendapatkan godaan dari yang lain Annisa harus menyamarkan rona wajahnya yang Annisa yakini begitu jelas.
"Annisa benar, itu semua tidak seperti yang kalian pikirkan. Lagipula itu hanya pertemuan tidak di sengaja dan hal-hal romantis yang kalian pikirkan begitu mustahil untuk terjadi di antara mereka." Suara lembut dan bersahabat Reina memasuki pendengaran semua orang, berkata seolah-olah ia membela Annisa dengan suara yang tulus dan terdengar menyenangkan.
Annisa membeku, tidak tahu harus merespon apa ia hanya mengangguk dengan samar seraya membawa langkahnya membawa wadah yang sudah di penuhi oleh potongan daging sapi.
"Ah, aku mencium bau cuka ada dimana-mana. Apa kalian juga menciumnya?" Mira bertanya heran karena bau cuka yang menyengat begitu memenuhi area dapur ini.
"Benarkah? Tapi aku tidak menciumnya." Dan dengan bodohnya Reina mengendus sekelilingnya, mencari bau cuka yang mengganggu Mira.
Menggelengkan kepalanya, Rumi begitu takjub dengan berbagai provokasi yang Mira layangkan kepada Reina. Namun anehnya, sang pelaku yang di provokasi terkadang tidak menyadari niat Mira sehingga membuat Mira semakin terpacu untuk melakukan provokasi yang lebih keras lagi.
"Hem, apa penciuman mu bermasalah sehingga kau tidak dapat menciumnya?" Meletakkan pekerjaannya yang sudah selesai, Nanda kemudian berjalan ke arah meja yang di penuhi berbagai macam sayuran yang masih segar dan belum di cuci bersih.
Memasukkannya ke dalam wadah, ia mulai lagi melakukan pekerjaan yang baru. "Bau cuka di sini sangat keras, aku yakin seseorang pernah menjatuhkan cuka di sini sehingga baunya begitu menyengat." Kemudian ia melanjutkan perannya untuk membuat Reina semakin bingung.
"Apa iya, di sini aku tidak mencium apapun." Gumam Reina masih belum menemukan bau cuka yang mereka permasalahkan.
"Annisa, apa kau juga mencium bau cuka yang mereka maksud?" Penasaran, ia mempertanyakan masalah ini kepada Annisa yang kini sibuk mencuci bersih wadah yang berisi potongan daging segar.
Menghentikan gerakan tangannya, Annisa juga mencoba mengendus udara di sekitarnya dan hanya mendapati bau anyir darah dari daging yang sempat ia pegang dan bau amis ikan tawar yang sangat kuat.
"Aku tidak mencium bau cuka di sini, hanya ada bau anyir dari daging sapi ini dan bau amis ikan tawar yang Abi bawa." Ucap Annisa berterus terang tanpa menyadari kalimat intim yang keluar dari bibirnya.
"Oho, sekarang Annisa benar-benar mengakui Pak Kyai sebagai Abinya. Bagaimana perasaan Mas Gio ketika mendengar ini yah?" Mira lagi-lagi menggoda Annisa yang baru saja menyadari perkataannya spontan menyebut Pak Kyai sebagai Abi.
Ini semakin membuatnya malu.
"Hei, hentikan. Jangan menggoda Annisa lagi, apa kau tidak menyadari bahwa cuka ini semakin menyengat saja baunya." Nanda tertawa kecil karena beberapa waktu yang lalu ia sempat melihat respon Reina yang berwajah buruk.
Ekspresinya terlihat tidak baik setiap kali mendengar Mira terus menggoda Annisa dan Reina tidak bodoh jika selama ini keberadaannya di sini dipermainkan oleh mereka bertiga. Betapa liciknya!
Sialan, aku baru mengingatnya sekarang jika bau cuka yang mereka maksud adalah rasa cemburu ku pada Annisa. Sungguh licik, mempermainkan sandiwara sialan untuk melawan ku. Huh, lihat saja nanti sampai kapan mereka akan terus memprovokasi ku, aku tidak akan tinggal diam!
"Mira, apakah daun bawangnya sudah selesai kau potong?" Tanya Annisa setelah selesai mencuci daging tersebut.
"Sudah..sudah..aku sudah menyelesaikan." Jawab Mira cepat seraya berjalan mendekati Annisa dan memberikannya sebuah wadah ukuran sedang yang berisi daun bawang dipotong rapi.
"Terimakasih." Ucap Annisa seraya mengambil alih wadah tersebut dan mulai mencucinya dengan air bersih.
"Kalau begitu aku akan membersihkan ikan tawar dari Ayah mertua mu." Ucap Mira seraya menekankan suaranya di akhir kalimat.
__ADS_1
"Jangan seperti ini lagi, orang akan salah paham jika mendengarnya." Tegur Annisa merasa malu yang di sambut dengan tawa kecil Mira.
"Hei, aku juga akan membantu mu membersikan ikan ini." Suara Reina sudah berdiri di sampingnya.
Terkejut, Mira sebelumnya tidak pernah mendengar suara langkah kaki di belakangnya. "Apa kau yakin bisa melakukannya?" Memperbaiki ekspresi terkejutnya dengan alami.
Tersenyum manis, ia menganggukkan kepalanya dengan yakin. "Tentu saja, aku biasa melakukannya di rumah." Jawabnya dengan wajah manis namun terlihat mengerikan di mata Mira.
"Kau..jangan tersenyum seperti ini." Bisik Mira hati-hati.
Mengernyitkan dahinya bingung, "Memangnya kenapa, apa ada yang salah dengan wajah ku?" Tanyanya bingung seraya menyentuh wajahnya panik.
"Tidak ada yang salah, hanya saja kau terlihat mengerikan ketika tersenyum seperti itu." Jawab Mira berbisik, lalu setelah mengatakannya ia langsung membawa fokusnya pada ikan tawar yang sudah ia pegang. Melarikan diri dari ekspresi Reina yang pasti semakin memburuk setelah mendengar jawaban jujurnya.
"...." Reina tidak bisa berkata-kata di buatnya, meraba wajahnya kesal ia pun memperhatikan sekelilingnya. Melihat orang-orang yang ada di dapur tidak melihat atau pun mendengar pertanyaan tak berbobotnya dengan manusia tidak masuk akal di sampingnya!
Gadis ini, ia benar-benar menguji kesabarannya di sini. Berlama-lama bersama gadis sialan ini membuat dadanya semakin terbakar, ia harus membuatnya kapok karena telah berani mempermainkannya!
"Lalu, bagaimana dengan yang ini?" Reina tidak ingin mengakui kekalahannya pada gadis bodoh yang ada di sampingnya. Harus, ia harus mematahkan mental gadis bodoh ini.
Mira mengangkat wajahnya, menatap Reina yang kini juga menatapnya. Wajah Reina yang cantik kini menampilkan sebuah senyuman manis yang terlihat polos dan murni, betapa cantiknya.
"Tidak, kau..semakin memperburuknya. Kau terlihat semakin menyeramkan." Tapi senyuman ini bahkan tidak sampai ke mata Mira. Bagi Mira senyuman yang Reina tampilkan sekarang begitu palsu dan di buat-buat. Membuatnya tanpa sadar bergidik ngeri karena wajah Reina terlihat begitu kejam!
"...." Reina sekarang tersadar bahwa gadis ini benar-benar sakit dan bodoh. Ia kini yakin bahwa gadis ini butuh pertolongan pertama dan harus cukup rajin untuk mengkonsumsi obat saraf untuk memperbaiki mentalnya yang sakit.
Lalu, Reina tidak perduli lagi dengan sikapnya yang idiot dan memilih untuk menjalankan rencananya. Ya, tentu saja ia berambisi untuk menyenangkan calon Ayah mertua.
"Assalamualaikum?" Suara bariton Gio memasuki pendengaran semua orang yang sontak langsung mendapatkan perhatian dari mereka semua.
Tersenyum tampan, "Aku kembali untuk menyelesaikan tugas yang sebelumnya ku tinggalkan." Ucap Gio santai langsung membawa langkah kakinya mendekati Annisa yang lagi-lagi membeku melihat kedatangannya.
Mengangguk paham, semua orang tidak mengatakan apapun dan diam-diam saling memberikan tatapan pengertian ambigu yang samar.
"Apakah bawangnya sudah di kupas?" Tanya Gio mulai menyibukkan dirinya mencari bawang yang sempat ia tinggalkan tadi.
Menetralkan suara detak jantungnya, "Alhamdulillah sudah Mas." Jawab Annisa gugup seraya mengambil sebuah wadah kecil yang di penuhi bawang merah dan putih yang sudah di kupas bersih.
"Jadi apa yang bisa ku bantu untuk menebusnya?" Tanya Gio merasa tidak nyaman karena tadi tidak sempat menyelesaikan tugasnya.
Menggeleng pelan, Annisa tidak mau membuat Gio kerepotan. "Ini..Mas Gio tidak perlu menebusnya karena semuanya sudah selesai di kerjakan." Tolak Annisa lembut tidak berani memandang wajah Gio.
Tidak terima, "Tidak, aku harus membayarnya. Ini kelalaian ku karena meninggalkan tugas." Ucap Gio bersikap seolah ia baru saja melewatkan misi penting yang begitu berharga untuknya.
Ragu, Annisa menatap sekelilingnya yang terlihat bersikap acuh terhadapnya. Hanya Reina yang di ujung sana menatapnya dengan pandangan memohon?
Melihatnya, Annisa pikir Reina mengalami kesulitan saat membersihkan ikan jadi ia bermaksud mengucapkan sesuatu kepada Gio namun langsung di dahului oleh suara polos Mira.
"Mas Gio bantu Annisa iris bawang saja karena kami semua sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing jadi tidak bisa membantunya untuk mengiris bawang." Ucap Mira santai dengan wajah alaminya.
"Baiklah, terimakasih untuk sarannya." Ucap Gio seraya membawa wadah bawang tersebut lebih dekat dengannya.
Melihat gadis bodoh yang ada di sampingnya, Reina rasanya ingin muntah darah saja. Padahal kesempatan emas baru saja akan ia dapatkan akan tetapi gara-gara gadis idiot ini semua harapannya di sapu bersih oleh kebodohannya yang sudah menebal dalam saraf otaknya. Ia benar-benar habis kesabarannya!
"Apa? Jangan tatap aku dengan mata laser mu itu, sudah ku bilang kau terlihat begitu menyeramkan." Ucap Mira dengan wajah polos ketika mendapati Reina sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
"...aku mengerti." Ia seketika merasa bodoh menghadapi mahluk sakit ini.
"Tidak, Mas tidak boleh melakukannya dengan cara seperti itu." Suara khawatir Annisa kembali menarik perhatian Mira dan Reina.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh melakukannya dengan seperti ini?" Bingung Gio seraya memandang bawang merah sudah terpotong acak di atas talenan, lalu kebingungannya bertambah ketika ia melihat pisau kecil yang ia pegang dengan kuat di tangan kanannya.
"Mas tidak boleh melakukannya seperti itu karena akan melukai tangan Mas. Bukannya mengiris bawang yang ada Mas malah mengiris tangan Mas sendiri." Omel Annisa tidak tahan melihat tangan Gio yang begitu kaku saat mengiris bawang. Apalagi posisi tangannya yang salah saat mengiris bawang membuatnya ingin sekali memukul tangan Gio tidak berdaya.
Mengangguk paham, "Lalu aku harus bagaimana agar bisa mengiris bawang dengan aman?" Gio bertanya penasaran yang langsung di respon baik oleh Annisa.
"Mas jangan memegangnya seperti itu," Lalu ia menunjukkan tangannya kepada Gio cara memegang pisau yang benar.
"Tapi peganglah seperti ini." Lanjutnya seraya memperhatikan tangan Gio yang mengikutinya dengan patuh.
"Kemudian saat mengiris bawang tangan kiri Mas Gio harus memegang bawang merah yang akan di iris, jangan memegang semuanya dan cukup dengan memegang sisinya." Annisa memegang bawang merah di atas talenan dan dengan cukup lihai ia mulai mengirisnya santai. Karena ini untuk mengajari Gio, Annisa sengaja memperlambat gerakannya agar Gio dapat melihat dengan cermat dan memahaminya secepat mungkin.
"Aku mengerti, aku akan melakukannya seperti yang kau lakukan." Ucap Gio paham seraya mencoba langkah-langkah Annisa dengan hati-hati dan kiku. Mendapati betapa khawatir dan paniknya Annisa saat melihatnya mengiris bawang tadi, sesekali Gio akan tersenyum samar saat mengingatnya lagi. Bahkan senyuman lembutnya terkadang ia tidak bisa kontrol saat mengingat betapa tekunnya Annisa mengajarkannya mengiris bawang. Ini mungkin terlihat sepele, tapi bagi mereka berdua ini adalah momen yang penting dan berharga untuk di kenang.
Begitu manis.
Melihat suasana ambigu di antara mereka, Rumi dan Nanda dengan gerakan hati-hati menyingkirkan keberadaan mereka yang bisa saja mengganggu kenyamanan pasangan yang sedang di mabuk virus merah jambu. Jadi untuk kesejahteraan hati mereka yang sedang jauh dari sang pujangga hati, mereka lebih baik menyingkir dan cukup tahu diri untuk tidak mengganggunya.
Berbeda dengan Rumi dan Nanda yang bersikap bijak, Mira dan Reina justru sedari tadi menghabiskan waktu mereka untuk menonton acara memasak suami-istri secara live di depan mereka. Mata besar mereka yang terbuka lebar mempunyai sinar yang berbeda-beda. Jika Mira menyala dengan kegembiraan maka Reina menyala dengan api kecemburuan yang sarat akan rasa iri. Ia juga ingin ada di posisi itu, bisa dekat dan berbicara seintim itu dengan Gio. Laki-laki yang selama ini ia kagumi.
"Ya Allah, kenapa Kau tidak nikahkan saja mereka langsung. Aku sudah tidak tahan lagi melihat kemesraan mereka yang bocor setiap saat tanpa ikatan yang jelas." Gumam Mira iri juga kesal dengan kedekatan Gio dan Annisa.
Ia iri dengan Annisa dan Gio yang di pertemukan secara tidak terduga oleh Allah dan ia juga kesal bahwa mengapa dua orang berbeda kelamin ini masih belum juga membuat ikatan yang jelas.
Ah, jatuh cinta kenapa begitu rumit....juga tentu saja manis. Ehe.
Tiba-tiba di sela acara menonton santainya ia merasakan punggungnya terasa dingin. Seakan ada sebuah senjata mematikan yang sedang di todongkan padanya.
"Ada apa lagi?" Tanya Mira polos begitu mendapati wajah tidak sedap Reina sedang menatapnya tajam.
Datar, "Tidak ada." Jawabnya dengan emosi yang tidak stabil.
Mengernyitkan dahinya tidak nyaman, "Kau..jangan lagi tampilkan ekspresi ini." Ucap Mira polos seraya menjaga jarak dengan Reina yang kini menatapnya kosong?
"...."
"Itu..terlalu menakutkan." Bisiknya pada wajah kaku Reina yang benar-benar terlihat bodoh di depan Mira.
"...aku mengerti." Ucapnya tidak berdaya seraya membawa pandangannya fokus pada ikan yang sempat ia abaikan. Di peringati berkali-kali oleh gadis idiot ini membuat Reina langsung mati rasa. Apakah gadis bodoh ini begitu idiot sehingga setiap kali mengatakan apapun harus begitu jujur?
Ini menyebalkan dan Reina sekarang menyesali pilihannya untuk berada sedekat ini dengan sang pelaku provokasi yang ternyata punya gangguan saraf berbahaya sehingga membuat otaknya sakit dan lumpuh secara bersamaan.
Reina ingin sekali mengebiri gadis sialan ini!
__ADS_1
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Mira ingin tahu.
Fokus pada ikannya, "Belum." Jawabnya terdengar acuh. Yah, gadis idiot ini sekarang mencoba akrab dengannya setelah memainkan emosinya berkali-kali.
"Hahah..aku juga." Ucap Mira seraya tertawa kecil.
"Aku ingin membunuhnya." Gumam Reina tidak tahan dengan Mira. Dengan kasar, ia mulai merobek ikan tersebut dan mengeluarkan segala organnya dengan kejam. Seakan-akan objek yang sedang ia bedah dan siksa saat ini bukanlah ikan tapi gadis idiot yang berdiri bodoh di sampingnya.
"Apa yang kau maksud ingin membunuh ku?" Tanya Mira terdengar bodoh dan sedikit ketakutan.
"... ikannya, aku ingin membunuh semua ikan ini." Jawabnya tidak berdaya. Ia benar-benar putus asa menghadapi kebodohan gadis idiot yang ada di sampingnya.
"Ah, ternyata pikiran kita sama. Aku juga ingin membunuh semua ikan ini..ahaha.."
"....." Reina tidak bisa lagi berkata-kata dan mulai mempertanyakan bagaimana bisa pondok pesantren ini bisa menerima begitu saja orang sakit ini?
Padahal yang lain terlihat baik-baik saja lalu mengapa gadis yang ada di sampingnya ini punya gangguan mental?
Apa karena pendidikan pondok pesantren ini yang terlalu keras?
Jika iya, maka Dea dalam bahaya tinggal di sini. Ah Adik ku tersayang, maafkan Kakak mu ini yang begitu tidak berdaya menyelamatkan mu. Dea, mengertilah apapun yang terjadi pada mu suatu hari nanti itu semua untuk masa depan Kakak mu. Ya, aku akan sangat menghargai usaha mu!
Lalu, dengan ekspresi penuh duka ia meratapi masa depan Adiknya yang berjuang di sini.
\\*
"Alhamdulillah semuanya sudah selesai dan siap." Syukur Nanda bersemangat seraya menatap segala macam hidangan yang berjejer rapi di atas meja.
"Aku akan ke dalam dulu untuk memberi tahu yang lain bahwa makanan hasil kerja keras kalian semua sudah siap." Ucap Gio memberitahu yang lain seraya mengelap bersih tangan kanannya yang baru saja selesai di cuci bersih.
"Mas, ajak dulu mereka mengobrol sebentar sebelum ke meja makan karena kami masih belum mengirim semua hidangan ini ke meja makan." Saran Nanda bermaksud memperlambat mereka yang ada di dalam. Ia ingin ketika semua orang memasuki ruang makan semua hidangan sudah tertata rapi di atas meja makan.
Mengangguk ringan, ia paham maksud dari ucapan Nanda. "Okay, Mas akan coba memperlambat mereka sebelum masuk ke ruang makan. Maka kalian urus sisanya." Ucap Gio seraya memberikan salam dan membawa langkahnya keluar dari dapur.
"Ya udah, kalau gitu Kakak juga harus ke dalam. Naila mungkin udah nyari-nyari Kakak dari tadi, untuk buburnya Kakak serahin yang urus Annisa." Ucap Rumi seraya mengalihkan pandangannya menatap Annisa yang juga sedang menatapnya.
Tersenyum lembut, "Kakak cantik, bubur Naila jangan terlalu panas yah..kasian giginya masih belum rata tumbuh." Pesan Rumi santai berpura-pura acuh terhadap wajah Annisa yang kini merona hebat.
"In shaa Allah Kak, nanti akan Annisa pastikan buburnya dalam keadaan hangat." Ucap Annisa menyetujui yang langsung di angguki puas oleh Rumi. Setelah itu Rumi membawa langkahnya mengikuti jejak Gio ke ruang tamu, tempat semu orang berkumpul dan berbincang-bincang santai.
"Okay, yang lain ikut aku untuk memindahkan semua hidangan ini ke meja makan." Instruksi Nanda dengan semangat penuh yang langsung di setujui mereka semua.
Melihat yang lain sedang sibuk memindahkan hidangan, Annisa juga tidak ingin menganggur dan langsung menjalankan tugas yang diberikan Rumi kepadanya.
Dengan cepat ia memindahkan bubur yang masih panas ke dalam mangkuk porselin khusus untuk Naila. Setelah di rasa cukup untuk porsi anak kecil, ia kemudian mengambil wadah kecil untuk di isi dengan air dingin dari keran.
Setelah merasa cukup, ia kemudian membawa mangkuk porselin yang berisi bubur tersebut masuk ke dalam wadah yang berisi air dingin. Ini ia lakukan guna memindahkan panas yang berasal dari bubur ke dalam air dingin yang ada di dalam wadah.
"Annisa, apa yang sedang kau lakukan?" Tiba-tiba suara akrab Reina masuk ke dalam pendengarannya.
Mengalihkan pandangannya, ia kini mendapati Reina sedang menatap mangkuk bubur yang ada di dalam wadah berisi air dengan tatapan penasaran.
"Oh, aku sedang mengurangi panas bubur ini agar lebih cepat menjadi hangat." Jawab Annisa menjelaskan pekerjaannya kepada Reina.
Reina mengangguk patuh dan dengan wajah yang sedikit tidak nyaman mendudukkan dirinya di atas kursi samping Annisa.
"Reina, apakah kamu baik-baik saja? Wajah mu terlihat sedikit pucat." Tanya Annisa khawatir karena melihat wajah Reina sedikit pucat dan terlihat tidak nyaman.
Aku begini karena mu sialan!
"Tidak aku baik-baik saja Annisa, aku hanya sedikit merasa tidak nyaman pada pergelangan tangan ku." Ucapnya lemah seraya menunjukkan pergelangan tangannya yang terlihat memerah.
Membawa tatapannya pada pergelangan tangan Reina yang terlihat tidak baik, Annisa dengan khawatir menjangkau tangannya. "Astagfirullah, ini seperti lebam. Tunggu sebentar, aku akan mencarikan mu obat penghilang-"
"Tidak perlu Annisa." Potong Reina terlihat lelah. Ia menarik Annisa agar lebih dekat dengannya dan tidak akan membiarkannya berlari kemanapun!
Ia harus menghancurkan wanita licik dan bermuka palsu ini dengan cepat dan sekali hantaman!
Hama harus musnah sehingga tanaman lebih cepat tumbuh dan subur.
"Aku hanya ingin meminta bantuan mu sedikit saja." Melirik bubur yang mulai menghangat, Reina bersikap seolah-olah hari yang ia jalani sekarang begitu melelahkannya.
"Reina katakan saja, aku pasti membantu mu selama aku bisa." Ucap Annisa jujur tanpa pikir panjang. Ini adalah Reina, temannya saat sekolah dulu jadi ia tidak akan pernah tega membiarkannya seperti ini.
"Kau bisa, kau pasti bisa membantu ku." Ucap Reina dengan suara yang sedikit bersemangat.
"Apakah kau mau membawa hidangan terakhir itu ke dalam? Tangan ku terasa tidak nyaman saat mengangkat beban jadi aku takut akan menjatuhkannya dan membuat semua orang merugi." Ia memohon dengan ekspresi ketakutan yang terlihat nyata, membuat Annisa mengangguk tanpa melihat kejanggalan dari sikapnya.
"Aku bisa membawanya, ini sekalian saja aku bawa sambil mengantarkan Naila buburnya." Sanggup Annisa seraya membawa tangannya mengangkat mangkuk porselin berisi bubur yang sudah terlihat hangat.
"Tidak-tidak, ini masih belum hangat dan tidak baik untuk membawanya sekarang. Kau pergi dulu antarkan hidangan itu lalu kembali lagi untuk mengambil bubur Naila. Yakinlah saat kau kembali nanti bubur ini sudah hangat dan pas untuk Naila makan." Tolak Reina sehalus mungkin menghindari kecurigaan Annisa padanya.
Annisa terdiam, membawa pandangannya pada bubur tersebut. Lalu setelah berpikir lama ia akhirnya memutuskan untuk menyetujui saran Reina, lagipula Naila masih kecil dan ia takut jika suhu bubur ini tidak bisa diterima oleh Naila kecil yang ia rindukan.
"Kalau begitu kau istirahat saja di sini sementara aku akan mengirim hidangan terakhir ini ke meja makan." Putus Annisa seraya membawa langkahnya membawa hidangan yang tersisa keluar dari dapur. Meninggalkan Reina sendiri yang begitu tenang melihat punggung kurusnya perlahan menghilang dari pandangannya.
"Bodoh, kenapa kau begitu bodoh Annisa?" Ucapnya dingin seraya bangun dari duduknya. Memutar pergelangan tangannya yang terdapat luka lebam, ada ekspresi kesakitan yang tercetak manis di wajah cantiknya.
"Sialan, hanya untuk memancing mu keluar aku harus melukai diriku sendiri." Umpatnya marah sambil menatap dingin pada tangannya yang indah dan putih kini mengalami luka lebam yang merusak keindahan.
"Tapi tidak apa-apa karena hasil yang akan ku dapatkan setimpal dengan perjuangan ku, Annisa kebodohan mu harus berakhir sampai di sini." Gumamnya semangat, lalu dengan gerakan hati-hati ia mengeluarkan sebuah botol bening dan kecil yang memperlihatkan isi botol tersebut. Di dalam ada sebuah bubuk putih yang begitu halus dan lembut.
Melirik sekitarnya dengan tatapan waspada, ia kemudian dengan cepat membuka tutup botol tersebut dan menjatuhkan bubuk putih tersebut ke dalam bubur yang sudah menghangat.
Setelah di rasa cukup, ia kemudian menutupnya secepat kilat dan memasukkannya kembali ke tempatnya di balik jilbab besarnya.
Kemudian, ia dengan gerakan panik mengaduk cepat bubur tersebut agar bubuk putih yang ia tumpahkan tadi tercampur dengan rata dan terlihat alami.
Menghela nafas lega, sendok yang ia gunakan untuk mengaduk bubur tersebut ia lempar ke sembarang tempat dengan gerakan puas. Lalu, dengan santai ia kembali mendudukkan dirinya di atas kursi yang sempat ia gunakan tadi.
__ADS_1
Annisa, Naila kecil yang kau gunakan sebagai jembatan untuk mendekati Mas Gio harus menjadi korban dari keserakahan mu. Hah, mereka semua akan membenci mu karena telah membunuh orang yang tidak bersalah lalu Mas Gio akan membuka matanya dan meninggalkan mu seperti mereka yang kau sebut keluarga. Mas Gio akan beralih kepada ku dan membuang mu seperti sampah yang tidak berguna.
Bersambung...