Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 11


__ADS_3

"Assalamualaikum ustad Aldi," Senyumnya mengembang manis secara alami. Lalu, pandangannya beralih menatap Dea yang berdiri kaku di samping ustad Aldi.


"Dea." Lanjutnya masih dengan wajah tersenyum yang tenang.


Dea mengangguk ringan sebagai respon kepada Safira yang kemudian membuat matanya jatuh pada Mira yang sedang menatapnya tidak senang. Mira seperti sedang menodongkan pisau di atas kepalanya, itu sangat mengerikan dan tidak nyaman.


Sadar akan pihak lain yang terganggu akan kehadirannya, Dea lantas diam-diam mendudukkan dirinya di tempat semula ia memetik timun. Berpura-pura fokus dan tidak mengenal mereka bertiga, perlahan kedua kakinya terus bergeser menjauhi mereka. Seolah-olah kedua mata dan tangannya menjadi sibuk mencari buah timun yang sudah dewasa dan sudah waktunya untuk dipetik.


"Dea, jangan bergerak lagi." Suara Masha memasuki pendengarannya.


Melihat ke samping kanan memang ada Masha yang sedang menatapnya sedih. Bingung, Dea bertanya-tanya mengapa gadis ini tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba muncul pula dihadapannya?


Okay, Dea tidak akan pernah berpikir konyol jika Masha adalah Jin yang kuat dan mampu hidup normal bersama manusia. Ia tidak akan lagi berpikir sebodoh itu!


"Lho, dari tadi kamu duduk di sini yah?" Melihat lingkungan sekelilingnya Dea masih bisa melihat dengan jelas ustad Aldi, Safira dan Mira yang asik mengobrol. Dan Dea juga yakin jika dari tempat ia sebelumnya Dea masih bisa melihat Masha dengan jelas dari sana.


Tapi Dea tidak menemukannya, apa mungkin Masha sebelumnya tidak duduk di sini?


"Dea ayo bangun, aku ingin bicara dengan mu." Ajak Masha sambil bangkit dari duduknya ia menepuk-nepuk pakaiannya yang sempat bersentuhan dengan tanah.


"Kemana?" Tanya Dea merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Masha.


"Kemanapun asalkan jangan di sini." Jawab Masha cepat masih fokus menatap Dea yang tidak bergerak dari acara duduknya.


"Lalu bagaimana dengan semua timun-timun ini?" Tanyanya sambil mengarahkan pandangannya menatap timun-timun yang ada di dalam keranjang plastik.


"Tinggalkan saja di sini." Jawab Masha lagi-lagi membuat Dea semakin yakin jika ada sesuatu yang salah dengan Masha.


"Baiklah, aku ikut saja." Toh ia juga tidak ingin menjadi nyamuk diantara ustad Aldi dan Safira, rasanya begitu tidak nyaman.


Oh, tentang itu tentu saja Dea tahu karena ia juga seorang perempuan. Ia tahu bagaimana sinar mata seorang perempuan yang sedang jatuh cinta dan ia juga tahu bagaimana sinar mata perempuan yang sedang cemburu.


Safira meskipun tersenyum kepadanya tadi tapi Dea masih bisa melihat ada kecemburuan samar dimatanya. Ia jelas terganggu dengan keberadaan Dea di samping ustad Aldi, Dea melihat hal ini. Oleh karena itu Dea tadi dengan sadar mundur ke belakang dan berusaha tidak terlihat di antara mereka.


Ia tahu betul siapa dirinya di antara mereka sehingga daripada merasakan sakit hati lebih baik pergi menjauh saja.


"Bagus, ayo ikuti aku." Masha puas dengan sikap langsung Dea.


Memimpin jalan pelarian mereka, Masha membawa Dea secara sembunyi-sembunyi masuk ke wilayah yang rindang pepohonan dan tidak menarik perhatian para santri atau staf patroli.


"Kenapa aku tidak tahu jika ada tempat setenang ini di sini." Gumam Dea takjub juga senang akhirnya ia menemukan sebuah tempat yang tenang untuk menyendiri.


Lihat saja, tidak hanya rindang dan teduh namun di sini juga ada sungai jernih yang mengaliri perairan di pondok pesantren ini. Ada banyak bebatuan yang bisa kamu duduki jika ingin bersantai sambil merendam kaki kalian. Mendengarkan suara air yang bergerak teratur dan jernih, ini adalah terapi terbaik bagi Dea.


Lantas Dea tidak berdiam diri melihat hal ini, ia secara alami berjalan menuju ke bebatuan yang ditata cantik oleh alam. Menurunkan kedua kakinya yang sudah tidak menggunakan alas ia langsung disambut dengan perasaan dingin yang menyejukkan kulit telapak kakinya. Ia tanpa sadar menghela nafas lega merasakan perasaan lembab juga suara nyanyian sang sungai yang begitu merdu. Wajah Dea yang biasanya acuh tidak acuh perlahan melunak di terpa angin pagi yang menyejukkan. Hatinya merasa damai juga tenang di sini dan ia berjanji di dalam hatinya bahwa ia akan sering mengunjungi tempat ini. Bersantai jika ada waktu luang berikutnya, Dea tidak akan pernah menyia-nyiakan waktunya.


"Bagaimana perasaan mu sekarang?" Tanya Masha seraya mendudukkan dirinya di samping Dea, merendam kakinya di dalam air sungai yang jernih dan menyejukkan.


"Aku merasa baik." Jawab Dea jujur dengan kedua mata yang masih asik melihat aliran sungai yang jernih dan menenangkan.


"Syukurlah jika kamu merasa jauh lebih baik." Suara Masha lega, akhirnya ia bisa merilekskan tubuhnya dengan dengan santai lagi.


"Masha, apakah kamu ingin mengatakan sesuatu kepadaku?" Dea tidak tahu mengapa tapi intuisinya mengatakan seperti itu.


Masha tersenyum simpul secara tidak langsung ia mengakui hal itu. "Jika aku mengatakannya apakah kamu mau menceritakan semua masalah mu padaku?" Tanya Masha masih tenang, kali ini ia tidak lagi memandangi sungai yang mengalir lembut dibawah kakinya tapi sudah berpaling menatap wajah pucat Dea yang tirus.


Dea bingung, "Mengapa aku harus mengatakannya?"


Masha sekali lagi tersenyum simpul namun kali ini ada cahaya samar di matanya.


"Dea, aku adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Sedangkan kedua kakakku adalah seorang laki-laki yang terlahir kembar." Masha tidak menjawab pertanyaan Dea dan lebih memilih langsung menceritakan tentang keluarganya.


Dea tidak mengerti mengapa Masha menceritakan ini karena menurutnya cerita Dea tidak punya hubungan apapun dengannya.


"Mereka terlahir kembar dan tidak banyak orang yang tahu tentang ini kecuali orang-orang terdekat kami. Bahkan gadis yang mereka cintai pun tidak tahu jika mereka kembar sehingga menciptakan-" Menatap Dea dengan senyuman misteriusnya.

__ADS_1


"Sebuah kesalahpahaman yang cukup lucu dan menggelitik." Lanjutnya berbisik, menciptakan sebuah firasat aneh yang masuk ke dalam pikiran Dea.


\*\*\*


"Ustad Aldi memang luar biasa, ketika menjelaskan tadi kami langsung mengerti dalam sekali dengar saja." Puji Safira dengan malu-malu, ia tidak berani menatap langsung wajah tampan ustad Aldi.


Ustad Aldi tentu saja merasa tidak nyaman mendengarkan pujian langsung dari Safira, menurutnya ini terdengar sangat aneh.


"Terimakasih, tapi aku pikir setiap orang juga bisa melakukan hal ini atau mungkin mereka lebih bisa dibandingkan dengan ku." Elak ustad Aldi tidak tahan mendengar pujiannya lagi.


"Oh ya, apa kalian datang ke sini untuk memetik buah timun?" Tanya ustad Aldi mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin berlama-lama di topik yang sama lagi.


Teringat dengan misi mereka, Safira dengan tenang mengakuinya. "Benar ustad, kami ke sini untuk memetik buah timun." Jawab Safira membenarkan.


"Itu bagus kalau gitu karena aku juga saat ini sedang memetik buah timun." Sambut ustad Aldi antusias seraya mengedarkan pandangannya menatap pohon timun yang tumbuh subur disekitarnya.


"Bekerja sama untuk memetiknya bisa menyelesaikan pekerjaan ini lebih cepat, ayo." Ajak ustad Aldi seraya mendudukkan dirinya kembali di tempat semula ia duduk dan mulai mencari timun yang sudah layak petik atau dewasa.


"Itu benar us-" Suara Safira berhenti, bahkan tubuhnya tiba-tiba terasa kaku.


Mengapa?


Mengapa ustad Aldi tidak punya tanda lahir dibelakang telinganya?


Ia ingat dulu pernah melihat tanda lahir itu dibalik telinga ustad Aldi tapi mengapa tiba-tiba sekarang sudah tidak ada di sini?


Tidak, Safira yakin jika itu ada ditelinga sebelah kiri!


Iya, ada tanda lahir kecil berbentuk bintik merah dibelakang telinganya yang ada di sebelah kanan. Ia ingat sejelas-jelasnya jika ustad Aldi dulu punya itu.


Tapi mengapa hari ini tiba-tiba menghilang?


"Safira, hei kamu jangan melamun sekarang!" Bisik Mira panik ketika menemukan Safira kembali melamun. Ini bukan waktu yang tepat karena saat ini adalah yang terbaik untuk bergerak dekat dengan ustad Aldi!


"Ah, maaf.. kepalaku sedikit linglung." Kaget Safira kembali tersadar dari lamunannya.


Safira tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya, "Aku tidak apa-apa." Jawabnya tenang sekali lagi membawa pandangannya melirik bagian belakang telinga kiri ustad Aldi yang tidak menunjukkan tanda apapun.


"Aku..aku ingin melihat bagian yang di sana dulu." Tunjuk Safira ke arah depan. Tanpa menunggu persetujuan dari Mira, ia langsung membawa langkahnya dengan hati-hati agar tidak mengganggu ustad Aldi.


Setelah berjalan agak jauh sekali lagi matanya dengan hati-hati melirik belakang telinga yang lain, mungkin saja tanda itu ada disebelah kanan dan bukannya di sebelah kiri. Tapi lagi-lagi Safira dibuat kecewa karena tanda lahir itu juga tidak ada dibelakang telinga kanannya.


"Mungkin aku harus menanyakan ini nanti kepada Mas Gio." Suaranya lesu, ia tidak pernah menyangka jika ustad Aldi adalah bukan orang yang sama dengan laki-laki yang ia sukai dulu.


Atau mungkin itu memang ustad Aldi tapi saat di Mesir kemarin ia menghapus tanda lahirnya. Tapi untuk apa dia menghapus tanda lahirnya?


Itu benar-benar tidak masuk akal!


\*\*\*\*


"Nah, daripada membantu semua orang memetik sayuran mengapa kalian berdua hanya bersantai di sini?" Tiba-tiba suara menyebalkan Ana menginterupsi obrolan mereka berdua.


Masha dan Dea tentu saja tidak terkejut dengan keusilan Ana dan Diva, malah Dea tersenyum hangat untuk merespon mereka berdua seakan-akan ia terganggu sama sekali dengan kedatangan mereka berdua.


"Memangnya kenapa jika kami bersantai di sini? Toh kami hanya istirahat sebentar saja." Jawab Masha malas, membuat semua orang tertegun sejenak.


Biasanya Masha akan bertutur kata lembut di sini dan selalu mencari aman, ia tidak akan mau memprovokasi secara sembarangan kepada kedua orang lain. Katanya sih Masha takut mendapatkan hukuman dari petugas kedisplinan.


"Dan karena kalian sudah ada di sini maka kami tidak akan perlu berlama-lama lagi di tempat ini." Bangun dari acara duduknya, Dea kali ini tidak lagi mau diinjak-injak oleh mereka berdua. Sudah ada Masha, ah tidak lebih tepatnya Masha yang menunjukkan wajah aslinya.


"Ayo kita pergi sebelum satu kebun dipanen habis yang lain." Ajaknya bercanda benar-benar tidak perduli dua orang yang sudah menatapnya nyalang penuh kemarahan.


"Eh..eh, main pergi aja. Kalian gak lihat apa masih ada kami di sini?" Marah Diva tidak terima diabaikan.


Padahal sudah jelas-jelas mereka berdua berdiri di depan Dea dan Masha.

__ADS_1


Masha mengerutkan bibirnya tidak perduli, memberikan kode agar Dea saja yang melayaninya.


"Kalau kami lihat terus apa?" Tersenyum mengejek, "Apa kami harus melayani pikiran idiot kalian?" Lanjutnya menatap Diva geli, mengapa gadis ini selalu bernafsu ingin mengganggunya?


Merasa lucu dengan kata-kata yang tertahan di tenggorokan mereka, Dea yakin jika kedua orang ini pasti sangat marah sekarang. Tapi Dea tidak perduli karena sejak awal mereka berdua adalah orang yang memulai masalah.


Jadi, untuk tidak memperpanjang masalah Dea tidak berniat tinggal lama di sini. Ia menarik tangan Masha mengikuti langkahnya melewati jalan yang terakhir kali mereka lewati. Namun sebelum Dea melangkah santai lagi-lagi Diva mencari masalah dengannya.


"Berbicara tentang idiot, siapa yang lebih idiot di sini?" Tanyanya mengejek.


"Kamu jelas tahu bukan bahwa diantara kita kamu adalah satu-satunya gadis idiot itu. Memberikan satu-satunya harga dirimu kepada laki-laki yang kau anggap sebagai kekasih tercinta, padahal laki-laki itu tidak ada bedanya dengan seorang buaya-"


"Diam." Potong Dea dingin, tidak perlu diingatkan lagi hatinya saat ini begitu campur aduk sakitnya. Namun perasaan malu yang amat sangat menusuk lebih tajam rasanya di dalam.


Tidak perlu diingat lagi karena ia tahu bahwa kesalahan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya yang tidak akan pernah bisa dilupakan!


"Lalu bagaimana sekarang? Dia menolak menikahi dan berakhir keluarga tercinta mu melemparkan mu ke tempat ini. Oh, pasti rasanya sangat sa-"


"Diam!." Teriak Dea tidak tahan, ia benci mendengarnya dan ia bahkan membenci dirinya yang dibenci oleh semua orang tidak diterima di manapun meskipun mereka adalah keluarganya sendiri.


Namun Diva seolah tidak mendengarnya dan bertindak seolah-olah suara kemarahan Dea hanya ingin lalu baginya, "Apa kamu malu mengakui bahwa kamu ini adalah perempuan murahan, apa kamu malu mengakui jika kamu ini pela-"


Plak


"Bukankah Dea sudah mengatakannya tadi jika kamu harus menutup mulut kotor mu." Suara Masha dingin, menatap tajam pada gadis yang baru saja ia tampar dengan marah.


Diva dan Ana menatap terkejut dengan perilaku kasar Masha, ia bahkan berani memberikan tamparan kepada Diva! Rasanya tidak perlu dijelaskan karena itu sangat sakit dan memalukan!


"Ka-kau, mengapa kamu menampar ku!" Marah Diva tidak terima jika dirinya ditampar, pipinya terasa panas dan menyakitkan!


Masha mengangkat sebelah alisnya merasa lucu, "Bukankah sudah jelas? Aku membantu Dea untuk menutup mulut kotor mu ini." Jawabnya malas, terlihat berbeda dengan Masha yang mereka semua kenal.


Ana mendekati Masha dengan marah, sudah siap dengan cacian makiannya. "Kamu berani melakukan ini maka kamu memang ingin mencari mati-"


"Aaa!!!"


Jburr


Sebelum ia bisa menyelesaikan kata-katanya, Masha sudah lebih dulu mendorongnya masuk ke sungai. Seluruh pakaian Ana kita basah oleh air, bahkan jilbabnya pun sudah terlihat tidak serapi sebelumnya.


Tidak hanya Diva yang terkejut namun Dea juga. Ia tidak mengerti mengapa Dea sebrutal ini, padahal biasanya Masha adalah orang yang lembut.


Bisa dibilang yah.. Dea cukup terkesan dengan sikap langsung Dea.


"Berani-beraninya kamu!" Emosi Ana tidak bisa ditahan, ia bangun dengan bantuan Diva dan sudah bersiap untuk menyerang Masha. Akan tetapi sebelum mereka bisa beraksi suara dingin seseorang menginterupsi mereka.


"Ada masalah apa ini!"


Sontak mereka berempat mengalihkan perhatiannya dan mendapati ada ustad Aldi dengan beberapa orang berdiri di jalan masuk. Ia menatap semua orang yang bermasalah dengan pandangan mengintimidasi, terlihat tidak bersahabat.


Dea dan yang lain juga terkejut jika pertengkaran mereka akan dilihat banyak orang, tidak hanya ada staf namun banyak santri juga yang mengintip mereka dengan pandangan ingin tahu.


"Mereka yang memulai duluan ustad, lihat pipi kanan Diva sangat merah karena baru saja ditampar Masha. Baju ku juga basah kuyup karena didorong Ana ke dalam sungai.." Keluh Ana dengan wajah menyedihkannya, menunjukkan kepada ustad Aldi betapa teraniayanya mereka berdua.


Ustad Aldi tidak mengatakan apapun dan hanya menatap Masha dengan pandangan yang sulit diartikan. Mata tajamnya yang hitam pekat seolah mengintip kedalaman hati Masha, mencari apakah ada sesuatu yang salah dengan gadis ini. Ditatap seperti ini oleh ustad Aldi, Masha tentu saja tidak nyaman dan merasa bersalah pada saat yang sama. Namun egonya lebih tinggi sehingga ia tetap mempertahankan postur berdirinya yang tenang.


"Kalian berempat harus segera ke ustad Ali untuk melapor dan mendapatkan hukuman kalian, lalu Masha-" Panggilnya dingin.


"Datang ke kantor ku nanti." Lanjutnya dengan wajah yang berfluktuasi, tidak ingin tinggal lebih lama lagi lantas ustad Aldi langsung meninggalkan tempat ini dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia bahkan tidak perduli dengan keluhan Ana yang tidak terima jika mereka juga ikut mendapatkan hukuman.


Masha menghela nafas panjang, ia tahu setelah ini ustad Aldi tidak akan melepaskannya pergi dan entah mengapa justru ini membuat Masha senang. Setidaknya rencananya berhasil!


Kakakku yang lain pasti sangat marah, ah!


Bersambung..

__ADS_1


Ehem...Itu ada bocoran terselip dikit dong 😊


__ADS_2