
Dea menghela nafas panjang setelah menyelesaikan tugasnya. Menatap sekeliling dapur yang sudah rapi dibuat olehnya, dari dalam hati ia jauh sangat bersyukur karena dengan kesibukkan ini setidaknya waktunya bisa bermanfaat tidak seperti bulan ramadhan tahun kemarin.
"Dea, ustad Ali sedang menunggu mu diluar." Suara Mbak Rumi mengalihkan perhatian Dea. Tersenyum sopan, Dea mengucapkan terimakasih kepada Mbak Rumi sebelum membawa langkahnya keluar dari dapur.
Memang, hampir sudah 2 minggu ini ustad Ali datang mencarinya. Namun, karena kedatangannya selalu di waktu yang tidak tepat maka pertemuan mereka terus saja mengalami penundaan. Meskipun mengalami penundaan berulang kali ustad Ali tetap gigih mencarinya, membuat Dea bertanya-tanya mengapa ustad Ali begitu gigih ingin bertemu dengannya?
Ini bukan berarti ustad Ali ingin menikahinya'kan?
Astagfirullah Dea! Apa yang sedang kamu pikirkan ya Allah!. Mana mungkin ustad Ali mau menikahi kamu, lagipula hah..kamu baru saja patah hati jadi memikirkan hal ini apakah tidak membuat mu merasa malu?
Menstabilkan emosinya, Dea lalu melirik lingkungan sekitarnya guna mencari keberadaan ustad Ali.
"Assalamualaikum, Dea?" Suara berat ustad Ali menarik perhatian Dea.
Terkejut, Dea dengan gugup membawa langkahnya mundur beberapa langkah. Dia tidak tahu jika ternyata ustad Ali sedari tadi ada di sampingnya, ah!
"Waalaikumussalam, ustad." Dea menjawab dengan sopan seraya menjaga jarak yang pantas dengan lawan bicaranya.
Tersenyum lega karena akhirnya dapat bertemu langsung dengan Dea, ustad Ali tidak berbasa-basi lagi untuk membuang waktu dan ingin segera membicarakan hal penting yang sudah menjeratnya beberapa minggu ini. Ada perasaan takut dan gugup yang menghantui Ali saat ini karena ia tidak yakin dengan respon Dea ketika mendengarnya nanti.
"Bagaimana jika kita duduk di sini saja?" Tanya ustad Ali menunjuk kursi yang biasa digunakan santri untuk makan di sini.
Dea mengangguk langsung, ada baiknya berbicara di tempat yang ramai agar tidak menimbulkan fitnah. Apalagi ustad Ali termasuk orang yang terkenal dengan slogan jangan mendekat sebelum menghalalkan.
Mendudukkan dirinya di atas kursi yang agak jauh dari ustad Ali, diam-diam kedua tangan Dea saling meremat di atas meja sembari berpikir topik apa yang akan ustad Ali bicarakan dengannya.
"Sebelumnya, apakah kamu merasa terganggu dengan kehadiran saya?" Tanya ustad Ali gugup. Jika Dea menjawab ya, maka ustad Ali tidak ragu untuk membatalkan pembicaraan malam ini dan siap menunggu waktu dimana Dea benar-benar kosong.
"Saya sama sekali tidak terganggu, ustad." Jawab Dea sama sekali tidak terganggu. Ia hanya kaget saja karena ustad Ali begitu gencar ingin bertemu dengannya.
Ali menghela nafas lega, merilekskan tubuhnya, ia kemudian meluruskan posisi duduknya senyaman mungkin agar Dea tidak bisa melihat betapa gugupnya ia sekarang.
"Syukurlah kalau begitu," Leganya.
"Saya akan mengkonfirmasi sesuatu terlebih dahulu sebelum memulai pembicaraan yang serius dengan kamu." Lanjut ustad Ali lagi dengan nada sopannya yang hati-hati.
Dea balas mengangguk, tidak terlalu bisa menebak tentang hal apa itu.
"Sebelum masuk ke pondok pesantren ini apakah kamu pernah sekolah di SMA kota S?" Tanya Ali gugup, begitu takut melihat ekspresi wajah Dea yang mungkin saja sedikit tidak nyaman ketika mengingat masa lalu kelamnya di sekolah itu.
Dea sedikit mengernyit, menilai ustad Ali dari pandangannya apakah ustad Ali pernah menjadi Kakak kelasnya atau ustad Ali termasuk orang yang mengenalnya. Dea tidak bisa memungkiri betapa takutnya ia ketika memikirkannya, seakan-akan ustad Ali dapat melihat betapa menjijikkannya Dea.
"Ya ustad, saya sekolah di sana sebelum pindah ke sini." Jawab Dea hati-hati seraya menilai perubahan ekspresi ustad Ali diwajahnya. Benar saja, ketika mendengar jawaban Dea, ustad Ali terlihat agak bersemangat dan sedikit tegang?
Mengapa ustad Ali berekspresi seperti itu?
"Dea, Rio adalah adik saya." Kemudian, ustad Ali mengungkapkan identitas aslinya di depan Dea. Seakan menjatuhkan vonis yang amat sangat kejam untuk Dea.
Membeku adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan betapa terkejutnya Dea sekarang. Ia memang pernah menebak jika ustad Ali mengenalnya namun tidak pernah sampai sejauh ini. Rio dan ustad Ali, terjawab sudah mengapa Dea awalnya sempat keliru ketika melihatnya pertama kali. Itu karena mereka mempunyai hubungan darah dan karena mereka mempunyai hubungan darah maka otomatis ustad Ali juga tahu alasan Dea masuk ke sini.
Memang itu bukan rahasia umum lagi di pondok pesantren karena dulu Safira sudah membocorkannya di depan banyak orang, akan tetapi ketika itu keluar dari mulut seseorang yang luar biasa seperti ustad Ali entah mengapa rasanya sangat menyakitkan.
Jika ustad Ali tahu maka tidak perlu ditanyakan lagi jika ustad Aldi pun tahu. Yah, wajar saja jika 2 minggu yang lalu ustad Aldi sangat marah kepadanya. Ia sudah melukai orang suci yang ia cintai, dan Dea?
Dea adalah gadis kotor yang menjijikkan, menjijikkan sampai rasanya ia sendiri begitu muak dengan dirinya.
Sinar kedua matanya perlahan meredup, menyiratkan betapa sedihnya ia saat ini. "Ustad, aku sungguh tidak lagi mengejar Rio. Aku juga sudah melupakannya sejak aku beberapa bulan yang lalu karena aku ingin menjadi orang yang lebih baik lagi." Ia menundukkan kepalanya sedih, mengatakan dengan jujur bahwa ia tidak pernah lagi mengharapkan Rio semenjak ia tahu Rio berselingkuh di belakangnya.
__ADS_1
Lagipula, saat ini hatinya sudah menjadi milik orang lain. Orang yang lebih baik lagi dari Rio tentunya namun tetap saja Dea harus berakhir patah hati.
Ah, pengalaman cintanya benar-benar menyedihkan. Dulu ia jatuh cinta dengan laki-laki yang salah dan berakhir dikhianati, sekarang ia jatuh cinta dengan laki-laki yang alim dan soleh akan tetapi ia tetap saja berakhir patah hati karena laki-laki itu mencintai wanita sempurna yang sebanding dengannya.
"Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu." Tentu saja ustad Ali tahu bagaimana perasaan Dea setelah ditolak oleh Rio untuk bertanggung jawab, pasti rasanya sangat sakit.
"Aku datang ke sini karena aku mencari keberadaan mu." Ustad Ali mengakuinya dan tidak ingin menyembunyikan apapun kepada Dea.
Namun Dea tidak menjawabnya dan hanya duduk diam membisu.
"Aku minta maaf karena adik ku sudah menghancurkan masa depan mu tapi aku juga berjanji untuk bertanggung jawab menggantikan Rio. Dea, aku ingin menikahi mu dengan tulus, apakah kamu bersedia?" Ustad Ali sudah tidak bisa menahannya lagi, ia tahu semakin banyak ia bicara hati Dea akan semakin terluka. Oleh karena itu ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini lagi dan langsung mengatakan maksud kedatangannya ke sini. Ia ingin menikahi Dea.
Mendengarnya seketika membuat Dea langsung tertegun, ia tersenyum tipis dan dengan tenang mengangkat wajah lelahnya yang sendu.
"Ustad Ali, aku sudah memaafkan Rio dan tidak ingin mengingatnya lagi. Karena meskipun Rio tidak ingin bertanggung jawab aku juga ikut andil bersalah di sini, aku terlalu murah saat itu. Tapi mengenai pernikahan yang ustad tawarkan, aku pikir aku tidak bisa melakukan itu. Kamu tidak bersalah di sini dan kesalahan Rio tidak bisa menjadi kesalahan ustad. Jadi, aku menolak untuk menikah dan ingin fokus dengan belajar ku di sini." Dea menolak dengan halus seraya menjelaskan kepada ustad Ali bahwa kesalahan itu tidak bisa dilimpahkan kepadanya meskipun mereka bersaudara. Lagipula, meskipun bisa Dea juga tidak ingin menikah dengan orang setulus ustad Ali. Baginya, orang yang baik pantas mendapatkan orang yang baik pula. Dan tentu saja, itu sama sekali tidak berlaku untuk Dea.
"Aku sungguh-"
"Ali, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
Perkataan ustad Ali terpotong dan spontan ia mengalihkan perhatiannya menatap ustad Aldi yang kini sedang berdiri di depannya. Belum sempat ia menyapa ustad Aldi tiba-tiba Dea bangun dari duduknya.
"Maaf ustad, ada sesuatu yang harus aku lakukan di asrama jadi saya harus kembali. Assalamualaikum." Setelah mengatakan itu Dea langsung berjalan cepat meninggalkan ustad Ali dan ustad Aldi yang masih berdiri mematung di sana.
Ada ustad Aldi, bisik hatinya merasa sedih. Karena di sana ada ustad Aldi maka ia harus segera menjauh dari pandangan ustad Aldi. Apalagi setelah tahu ustad Ali mengenalnya membuat Dea semakin takut jika ustad Aldi semakin membencinya. Membencinya karena ia terlalu kotor untuk masuk ke dalam garis penglihatannya.
Dea juga sudah berjanji untuk menjaga jarak dengan ustad Aldi. Ia ingin segera melupakan ustad Aldi untuk memulai kehidupan yang baru lalu dengan hati-hati mencari cinta yang baru lagi. Tentunya ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan terlalu berharap pada orang yang sesempurna ustad Aldi karena baginya hanya cukup sekali ia merasakan betapa sakitnya jatuh dari harapan yang tidak nyata.
"Dea?" Panggilan semangat dari teman-teman kamarnya langsung membuyarkan lamunannya. Melihat ke arah asrama, teman-teman sekamarnya sudah menunggunya dengan senyuman manis seperti biasanya. Ah, melihat mereka semua tersenyum lepas seperti ini seakan-akan menjadi obat untuk perasaan lelah Dea.
"Kamu terlambat lagi." Keluh mereka perihatin karena sudah beberapa hari ini Dea selalu pulang telat.
"Maaf, tadi ada urusan yang harus aku selesaikan dengan ustad Ali." Dea meminta maaf dan menjelaskan alasan mengapa malam ini ia sedikit telat.
Mendengar nama ustad Ali disebut, sontak mereka semua berseru heboh. "Urusan apa yang kamu sibukkan dengan ustad Ali, jangan bilang jika hatimu sudah berpindah ke ustad Ali?" Ucap mereka asal menuduh yang langsung dihadiahi pukulan ringan di masing-masing pundak.
"Jangan berpikir yang macam-macam, ini hanya urusan sepele dan sudah kami selesaikan." Dia tidak ingin jujur bahwa ustad Ali ingin menikahinya. Jika Dea jujur maka sudah dipastikan malam ini ia tidak akan tidur karena dicerca pertanyaan.
"Aku tidak percaya itu, jangan memendamnya sendiri Dea karena itu sungguh tidak adil bagi kami yang bermuka pas-pasan." Yang lain mengeluh kepada Dea, mereka tahu betul jika urusan Dea tidak akan sesederhana itu. Mereka ingin Dea menceritakannya kepada mereka entah itu tentang hal yang menyenangkan atau tidak.
Dea tersenyum tidak berdaya menghadapi betapa besarnya keingintahuan teman-temannya, meskipun sedikit tidak nyaman tapi Dea akui ia menikmati perhatian samar teman-temannya kepadanya.
"Eh, kenapa di sini ada bau makanan?" Bingung Dea bertanya-tanya karena setahunya pondok tidak mengizinkan mereka membawa makanan dapur ke dalam kamar.
"Kalian, ayo masuk ke dalam. Tadi orang tua Ajeng dan Ririn datang berkunjung, mereka membawakan kita semua beberapa makanan khas daerah mereka." Begitu melihat kedatangan Dea dan yang lain, mereka sontak segera mengajak mereka untuk bergabung menghadapi makanan yang sudah sangat menggugah selera mereka.
"Wah, ini terlihat sangat lezat." Dea menatap penuh minat pada bungkusan minuman yang ia pikir pasti ada banyak campuran di dalamnya.
Setelah mereka semua berkumpul maka tidak perlu menunggu waktu lama lagi bagi mereka semua untuk menyantapnya secara bersamaan. Memang untuk ukuran 18 orang makanan ini tidak terlalu banyak akan tetapi meskipun mereka berjumlah banyak itu semua tidak mengganggu mereka. Malah ini adalah pengalaman yang seru karena mereka bisa makan makanan ini secara bersama-sama. Yah, tentu saja mereka melewatinya dengan perasaan senang dan canda tawa.
Ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan untuk Dea pribadi.
"Teman-teman, apakah kalian tahu jika Dea baru saja bertemu dengan ustad Ali?" Setelah mereka menyelesaikan makanan dan membereskan bekas mereka, kemudian mereka sedikit bersantai di ranjang masing-masing untuk menurunkan makanan yang baru saja mereka telan.
"Wah, apakah itu benar?" Tanya Ajeng antusias.
"Tentu saja benar, jika kamu tidak percaya langsung saja tanyakan itu kepada Dea."
__ADS_1
"Dea, apakah kamu keberatan untuk menceritakannya kepada kami?" Sekarang Ajeng mengalihkan perhatiannya pada Dea yang terlihat santai-santai saja.
"Aku tidak yakin." Ia bisa saja menceritakannya akan tetapi bukankah ini terlalu ekstrim? Ia tidak ingin rumor ini menyebar dan membuat nama baik ustad Ali rusak olehnya.
"Tenang saja,l rahasia mu adalah rahasia kita bersama. Kami tidak akan menyebarkan apa yang kamu katakan kepada siapapun." Janji Ajeng seakan bisa membaca keengganan hati Dea. Yah, Dea sudah banyak berubah dan ia sangat hati-hati terhadap reputasi orang lain.
Dea tersenyum lega setelah mendengar jaminan dari teman-temannya.
"Apa kalian sudah mendengarnya penyebab aku dipindahkan ke pondok pesantren?" Tiba-tiba kamar mereka menjadi sunyi, fokus mendengarkan apa yang akan Dea katakan.
"Ya, kami sudah mendengarnya." Ririn menjawab dengan hati-hati mewakili teman-temannya.
Dea tidak merasa tersinggung dengan itu karena ia sudah bisa menebak bahwa rahasianya bukan lagi menjadi rahasia untuk dirinya sendiri. Aibnya sudah tersebar sejak beberapa bulan yang lalu, "Mantan kekasih ku itu adalah adik dari ustad Ali." Ucapnya tenang, tidak terlalu ingin memperhatikan ekspresi macam apa yang akan diperlihatkan teman-teman sekamarnya karena Dea yakin satu-satunya ekspresi yang tepat adalah terkejut.
"Karena matan kekasihku itu menolak untuk menikahi ku maka ustad Ali datang ke sini untuk meminta maaf kepadaku karena penolakan adiknya yang tidak ingin bertanggung jawab. Ustad Ali juga mengajukan untuk menikahi ku untuk mengganti tanggung jawab adiknya tapi aku langsung menolak rencana itu karena aku juga sudah tidak memikirkannya sekarang. Lagipula, ustad Ali tidak bersalah di sini jadi akan sangat disayangkan ia menyerahkan masa depannya untuk bersama ku." Lanjutnya bercerita tanpa mengurangi atau melebihkannya. Dea menolak ustad l karena ia pikir masa depan ustad Ali sangat berharga. Itu tidak adil rasanya jika harus bersama Dea yang kotor. Lagipula, Dea juga tidak ingin dibayang-bayangi oleh sosok Rio dari figur ustad Ali. Yah, meskipun mereka tidak sama namun tetap saja mereka satu darah.
" Ya Allah, ustad Ali ingin menikah dengan mu?" Seru Ajeng tidak percaya, orang sebaik ustad Ali datang meminta maka siapa yang tidak ingin menerimanya!
Dea memperbaiki duduknya agar lebih nyaman, ia bukannya meragukan IQ teman-temannya tapi mengapa ia merasa jika teman-temannya ini menaruh pada fokus yang salah?
"Dea ini tidak bisa dipercaya, jika aku jadi kamu maka tidak akan ada kata penolakan yang aku rasakan untuk ustad Ali! Aku akan langsung menerimanya begitu ia menyebutkan tentang hal ini, tapi kamu ah, sangat-sangat tidak peka terh~"
Lalu, malam ini dihabiskan dengan ratapan tidak berdaya dari teman-teman sekamarnya yang sangat menyayangkan kesempatan berharga itu. Bagi mereka, jika tidak bisa bersama ustad Aldi maka tidak apa-apa bersama ustad Ali. Toh, mereka berdua adalah orang yang tampan dan sangat populer di pondok pesantren, ah!
Dea benar-benar gila sudah menolaknya!
🍃🍃🍃
"Safira, apakah kamu bertengkar dengan Mira?" Suara lembut Annisa mengintrupsi pikirannya, membuat Safira tersadar jika ada orang tambahan lagi di kamarnya.
Safira tidak ingin berbohong kepada Kakaknya dan dengan tulus menganggukkan kepalanya mengakui.
Menarik tangan sang adik untuk duduk di atas ranjang, Annisa ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk berbicara dari hati ke hati dengan Safira.
"Sudah 2 minggu ini dia terus mencari mu, keadaannya juga terlihat tidak baik-baik saja. Apakah kamu yakin ingin terus mengabaikannya? Dia adalah sahabat mu selama ini." Mira sering datang berkunjung ke rumah ini untuk mencari Safira. Bahkan keadaannya yang terlihat kacau dan tidak seperti Mira biasanya membuat Annisa bisa menebak jika ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua.
Safira diam membisu, terlihat sedang berpikir. Di sini meskipun ia masih marah dengan Mira namun hatinya terus mengingatkan bahwa persahabatannya dengan Mira adalah sesuatu yang lebih berharga dari perasaan cintanya. Safira juga mengakui jika selama menenangkan pikirannya di sini ia terus mengingat betapa lembutnya mata Aldo ketika melihat Mira, ini... bukankah Safira bisa menebak jika Aldo juga menyukai Mira?
Safira juga memikirkannya jika ia terus bertindak egois di sini maka Mira tidak akan pernah mau mengakui perasaannya kepada Aldo. Karena ia tahu betul bagaimana sahabatnya itu, ia akan lebih memilih menjauh seperti yang ia tulis di buku hariannya.
"Kak Annisa, apakah Safira salah di sini?" Tanyanya terdengar lemah dan tidak berdaya, menunggu selama 2 tahun ternyata tidak bisa membuat cinta memihaknya. Orang yang ia tunggu justru jatuh cinta kepada sahabatnya Safira juga seharusnya tidak menyalahkan Mira tentang itu karena biar bagaimanapun cinta adalah fitrah dari Allah sehingga ada atau tidaknya itu semua sudah ditulis.
"Hem, coba jelaskan kepada Kakak bagaimana kondisinya?" Annisa meminta dengan hati-hati agar Safira bisa merasa lebih leluasa ketika mengatakan masalahnya.
"Kak, aku jatuh cinta dengan seorang laki-laki dan itu sudah berlangsung selama 2 tahun ini. Setelah dua tahun menunggunya tiba-tiba Allah mempertemukan kami lagi dan membuat Safira tanpa sadar terus mengharapkannya, akan tetapi di saat yang sama sahabat Safira juga jatuh cinta kepada laki-laki itu secara diam-diam. Meskipun sahabat Safira jatuh cinta tapi ia memutuskan untuk menjauhi orang yang Safira cintai karena ia tahu jika Safira mencintai laki-laki itu. Nah, tapi suatu hari Safira menemukan rahasia sahabat Safira di buku hariannya dan langsung menuduhnya karena sudah mengkhianati Safira. Padahal sahabat Safira tidak bermaksud melakukan itu dan dengan mengalah ingin melupakan laki-laki itu. Kak, bagaimana ini, apakah Safira benar-benar salah di sini?" Safira tidak bodoh untuk melihat semua ini, ia tahu jika sebenarnya ia terlalu berlebihan waktu itu. Akan tetapi ia juga tidak bisa mengontrol kemarahannya, siapa yang tidak terkejut melihat sahabat baiknya juga menyukai orang yang sama?
Itu sangat membuat Safira terkejut dan langsung lepas kendali!
"Jadi seperti itu ceritanya." Gumam Annisa mengerti.
Ia lalu meraih tangan adiknya untuk ia genggam dengan lembut, dulu adiknya sudah berjuang keras untuk membahagiakannya dan sekarang sudah saatnya ia untuk membalas adiknya. Ia harus menunjukkan adiknya jalan pulang agar tidak tersesat lagi.
"Safira, antara sahabat dan cinta memang sangat sulit untuk dibedakan. Lalu, ketika harus ditekan untuk memilih maka tak jarang kita akan dengan mudah memilih cinta daripada persahabatan. Safira, setelah mendengar cerita mu tadi apakah kamu tidak mengapresiasi betapa sayangnya sahabat mu kepada dirimu? Ia rela melepaskan perasaannya demi menjaga hatimu. Dia tidak ingin kehilangan persahabatan kalian karena baginya kamu adalah yang terpenting untuknya. Nah, mengenai cinta seharusnya kita tidak bisa menyalahkan sahabat mu karena cinta datang karena Allah. Entah itu ada atau tidak kita tidak bisa memaksanya, Safira. Kemudian bagaimana dengan laki-laki itu? Jika ia memang menyukai kamu maka ia akan tetap memilih mu sekalipun banyak gadis menyukainya. Tapi bagaimana jika ia menyukai sahabat mu? Marah dan memutuskan hubungan? Itu tidak akan pernah bisa menjadi solusi. Jika kamu memutuskan hubungan maka orang yang akan paling terluka adalah sahabat mu, Safira. Coba pikirkan baik-baik bagaimana jalannya sekarang."
Setelah dijelaskan seperti ini oleh kakaknya, entah mengapa hatinya tiba-tiba merasa nyaman. Kemarahan dan rasa bersalah yang ia rasakan beberapa hari ini akhirnya menemukan titik terangnya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghadapinya, ia tidak ingin karena cinta ia kehilangan orang-orang yang ia sayangi. Ia tidak ingin bertindak egois karena ia adalah Safira, orang yang sangat menyanyi orang-orang terkasihnya.
"Aku mengerti," Ucapnya lega seraya mengeratkan genggaman tangannya di atas tangan Annisa.
__ADS_1
"Terimakasih Kak, aku akhirnya bisa berpikir jernih."
🍃🍃🍃