Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Kekhawatiran nya.


__ADS_3

Bunga masuk kedalam kamarnya, tanpa bicara pada siapapun. ia menangis dibalik bantal, menghempaskan tubuhnya diatas kasur. menangis dengan pernyataan cinta Rayhan, karena dirinya tidak pernah berpikir Rayhan akan memiliki perasaan padanya. dirinya juga tidak bisa membuka hati pada siapapun, sejatinya Bunga mencari prianya yang masih tidak tahu pergi kemana.


"kenapa... kenapa jadi seperti ini... cuman mimpi... kuharap cuman mimpi...! " tangis Bunga pecah didalam kamar, ia mengingat wajah Rayhan yang menyatakan cinta. entah itu membuatnya merasa sedih, merasa sakit Rayhan harus menerima kenyataan kalau dirinya tidak bisa menerima pernyataan Rayhan.


Bunga diam dirumah tanpa keluar sedikitpun, ia menyendiri didalam kamarnya tanpa menyapa seseorang. bahkan untuk makan seorang pelayan membawa ke kamarnya, dan makanan itu tidak sentuh oleh Bunga. gadis itu sibuk melamun, memikirkan hidupnya bagaimana untuk kedepannya. banyak pesan masuk didalam ponselnya, pesan itu dari Riyan yang bertanya kapan dirinya datang. Bunga sendiri tidak berinteraksi dengan siapapun selama dua minggu, tubuhnya yang berisi pun terlihat berkurang dan sedikit mengurus. Bunga duduk di sebuah kursi, ia menatap atap rumahnya tanpa berkedip. kini sikap pendiam nya itu terjadi lagi, dan tidak ada yang berani untuk mengajak bicara gadis itu.


"Bunga... ada seseorang yang datang, temanmu! " ucap ibunya datang, Bunga hanya diam tanpa menjawab. sampai ibunya menepuk pundak gadis itu, kemudian Bunga menoleh menatap tanpa senyuman. "sayang ada apa, kamu tidak bicara apapun selama dua minggu terakhir! "


"benarkah, berarti aku harus mengajaknya bicara! " ucap seorang wanita, keduanya saling menoleh dan melihat seorang wanita cantik disana. Bunga tertegun melihat itu, teman lamanya datang setelah sekian lama. "jangan sampai kau lupa padaku, aku akan memukulmu! "


"Ana... kamu Berliana! " ucap Bunga, temannya Ana itu pun tersenyum dan mengangguk. Bunga berlari kearah Ana, gadis itu memeluk sahabat lamanya dengan kerinduan. sang ibu pun tersenyum, kemudian meninggalkan mereka berdua.


"kenapa dirimu, kenapa sedihmu masih berlarut larut! " ucap Ana, Bunga menggelengkan kepala dan masih memeluk sahabatnya.


"aku merindukanmu, kenapa kau tidak bilang jika akan datang! " ucap Bunga, Ana tersenyum menghapus air mata gadis itu.


"tidak kejutan jika aku mengatakannya, bagaimana kau terkejut kan. ada lagi, aku sudah bilang ibumu akan menginap disini selama sebulan! " ucap Ana, Bunga tersenyum dan merasa senang dengan itu.


"baiklah aku akan atur lemari untukmu, duduklah! " Ana pun duduk dikasur, ia melihat Bunga yang mengatur lemarinya untuk diisi pakaian Ana. beberapa menit kemudian terlihat ponsel Bunga berdering, terlihat nama Riyan disana dan Anna pun mengangkat telfon itu.

__ADS_1


"miss Bunga anda dimana, dua minggu tidak mengajar aku membutuhkanmu! " Ana terkejut dengan itu, kemudian menghampiri Bunga dan memberikan ponsel itu. tentu Bunga terkejut, karena Ana menjawab panggilan diponsel nya.


"kenapa kau angkat! " ucap Bunga, Ana menggelengkan kepalanya. Bunga menghela nafasnya, ia mulai menempelkan ponselnya pada telinganya. ia mendengar suara Riyan yang terus mengoceh, dan Bunga pun merasakan rindu. "halo... "


"miss kamu kemana... saya butuh bantuan untuk sebuah soal huhuhu... "


"maaf saya sedang sakit Riyan... tidak bisa datang untuk mengajar. mungkin besok juga tidak bisa, jadi kamu belajar sendiri saja ya... " ucap Bunga tersenyum, hatinya merasa tidak tega mendengar Riyan yang merengek membutuhkannya.


"kakak... lagi lagi kamu minum,,, ya ampun sampai mabuk seperti ini, berapa banyak yang kamu minum... " suara Riyan itu membuat Bunga tertegun, ia terdiam mendengar suara dari seberang telpon itu. "kau... siapa yang kau telpon... antar aku... dan.. pesan kan minumanku... " Bunga mendengar suara Rayhan, ia terkejut suara pria itu sedang mabuk. "miss ku tepon lagi nanti, sampai nanti! " belum dijawab panggilan itu terhenti, Bunga masih tertegun menatap ponselnya.


"ada apa Bunga, semuanya oke? " tanya Ana, Bunga pun tersentak kemudian menggelengkan kepalanya.


beberapa menit kemudian Bunga sampai dirumah besar Rayhan, satpam pun mengambil alih mobilnya untuk diparkir. Bunga lanlangsung berlari kedalam, seperti biasa pelayan langsung menghampiri dirinya. ia terdiam ketika melihat seorang wanita cantik turun dari tangga, wanita cantik itu bersama Riyan yang keluar dari kamar Rayhan.


"miss Bunga... " panggil Riyan kegirangan, remaja itu berlari kearah Bunga karena senang melihat gadis itu.


"tuan Riyan aku pulang dulu ya, tolong jaga kakakmu! " ucap wanita cantik itu, Riyan pun mengangguk untuk mengiyakan. wanita itu melirik Bunga, memberikan sapaan sopan dan Bunga pun tersenyum untuk membalas sapaan itu.


"siapa dia? " tanya Bunga, Riyan menoleh dengan senyuman.

__ADS_1


"itu sekretaris kakak, tadi kakak tidak sadar karena minuman. mungkin dia terlalu banyak minum, oh iya Miss katanya anda sakit? " ucap Riyan, Bunga tersenyum dan menepuk pundak Riyan.


"aku pikir kamu benar benar kesusahan, jadi aku harus datang! " saut Bunga ia membuat alasan, yang sebenarnya ia ingin melihat keadaan Rayhan dengan khawatir. Bunga pun mengikuti Riyan, tapi pandangannya melihat kearah kamar Rayhan yang tertutup rapat.


...****************...


Rayhan sendiri merasa frustasi dengan kesedihannya, ia sedih dengan penolakan Bunga yang terang terangan. setiap hari ia akan meminum alkohol untuk melupakan kejadian itu, ia akan pulang dengan keadaan mabuk. pekerjaan nya terbengkalai, ia pun sangat kesal dengan Bunga yang tidak datang selama beberapa minggu. pikirannya kacau semakin hari, Rayhan berubah karena cintanya telah ditolak.


merasa lelah tidur Rayhan membuka matanya, kepalanya seperti dihantam seribu kayu. berdenyut tidak karuan, ia ingat meminum banyak minuman sampai tidak sadarkan diri dan mengigau. Rayhan menatap dirinya yang kacau, penampilannya acak acak an dengan kantung mata yang sedikit hitam.


Rayhan keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri, ia masih merasa pusing dengan kepalanya yang berdenyut. ia berjalan kearah dapur, meminta seorang pelayan membuatkannya sup untuk mengurasi sakit kepalanya. Rayhan sedikit merasa kesal, ia ceroboh meminum hingga dua botol minuman.


"kenapa perasaanku gelisah begini!" ucap Rayhan pelan, ia merasa tidak enak dengan perut yang bergejolak. Rayhan tidak sadar dengan kehadiran Bunga yang duduk tidak jauh darinya, Bunga dan Riyan fokus belajar tanpa melihat Rayhan yang duduk di meja makan. tiba tiba saja Rayhan menyuarakan akan muntah, membuat semua orang terkejut begitu juga dengan Bunga dan Riyan yang tidak jauh darinya. Rayhan berjalan cepat kearah wastafel, ia memuntahkan semua isi perutnya. hanya air yang ia muntahkan, dan bau minuman sangat menyengat di hidung.


"kakak apa kau baik baik saja? " tanya Riyan yang datang, Rayhan mengangguk dengan wajah pucat dan berkeringat. "aku panggil dokter ya! "


"tidak perlu, aku baik baik saja! " ucap Rayhan, pandangannya melihat Bunga yang berdiri di belakang Riyan. Rayhan terpaku, ia tidak percaya melihat Bunga yang berdiri dengan menatapnya. "aku akan tidur lagi, sepertinya ada masalah dengan perutku! " ucap Rayhan, ia berjalan untuk pergi kekamarnya. tapi langkahnya goyah, ia tidak seimbang sampai tubuhnya terhuyung. Bunga yang di dekatnya itu langsung menopang tubuh Rayhan, pria itu melepaskan tangan Bunga menolak untuk disentuh. "tidak perlu! " ucap Rayhan, Bunga pun terdiam dan tidak berani menyentuh lagi.


belum sempat berjalan lagi, tiba tiba tubuh Rayhan ambruk. Bunga menopang tubuh besar Rayhan, dan ia pun terduduk membawa kepala Rayhan agar tidak menyentuh lantai. Rayhan yang sudah tidak kuat dengan kepalanya, akhirnya jatuh pingsan dalam dekapan Bunga. sebelumnya ia menatap Bunga yang memanggil namanya, senyum terukir kemudian matanya tertutup tidak sadarkan diri. Bunga memanggil namanya dengan sedikit isakan, Bunga meminta Riyan untuk cepat untuk membawa Rayhan kerumah sakit. Bunga merasa sakit melihat Rayhan seperti itu, menopang tubuh Rayhan yang lemah dengan suhu tubuh yang panas tinggi. kata maaf terucap dibibir Bunga, entah ia merasa bersalah melihat Rayhan sekarang.

__ADS_1


__ADS_2