
"Ei, bentar lagi kita lebaran lho. Tebak, kali ini festival apa yang akan pondok pesantren buat untuk kita semua?" Berhubung mereka semua tidak bisa pulang maka pondok pesantren akan menghibur lara hati mereka selama hari lebaran. Sebenarnya mereka tidak bisa pulang bukan berarti keluarganya tidak bisa datang ke sini, mereka tetap diperbolehkan kok datang ke sini untuk bertemu anak-anak mereka.
Inilah yang membuat mereka merasa terobati dan tidak terlalu bersedih menghabiskan waktu lebaran mereka di pondok pesantren. Meskipun tidak pulang keluarga mereka pasti akan datang mengunjungi mereka.
"Jangan tanyakan itu dulu, apa kamu tidak panik bertemu kedua orang tua mu dalam keadaan yang gendut seperti ini. Selama puasa bukannya kurus kita malah bertambah banyak berat badannya." Keluh Ajeng tidak percaya diri bertemu dengan keluarganya. Bagaimana jika sepupu-sepupunya jauh lebih kurus dari dia?
Atau bagaimana jika mereka jauh lebih langsing?
Ah, Ajeng sama sekali tidak mempercayainya.
"Jadi orang tua kalian akan datang ke sini?" Tanya Dea terdengar lemah. Karena orang tua semua orang akan datang maka pasti mereka akan sangat terhibur dengan pelayanan kasih sayang itu. Tentu saja ini sangat membuat Dea iri karena sebagai seorang anak ia juga ingin bertemu dengan keluarganya. Ia sangat merindukan mereka semua.
Dea jauh tahu dari dalam hatinya bahwa orang tuanya sangat marah kepadanya. Mereka tidak bermaksud membuang Dea ke sini, hanya saja mereka cukup kecewa kepadanya sehingga tanpa belas kasih mereka langsung mengirimnya ke sini. Karena mereka saat ini sedang marah, Dea takut jika mereka tidak akan datang mengunjunginya.
"Benar, mereka akan datang 3 hari setelah lebaran. Meskipun hanya diizinkan beberapa jam saja namun itu sudah sangat mengobati rindu kami semua. Lagipula sebentar lagi kita semua akan lulus dari pondok pesantren ini dan pasti akan pulang kembali ke rumah. Jadi tahun ini tidak terlalu memberatkan kita semua." Beberapa bulan lagi mereka akan lulus dari pondok pesantren sehingga mereka tidak terlalu panik untuk bertemu keluarga. Setelah lulus sebagian dari mereka akan memilih untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi dalam negeri atau malah ke luar negeri. Semua sudah ada dipikiran masing-masing sekarang.
"Yah, Ririn benar. Sebentar lagi kita semua akan berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Lalu, sebagian dari kita akan mengejar mimpi masing-masing dan secara perlahan mulai menjadi orang yang sukses." Jika diingatkan akan tentang perpisahan, sejenak kebersamaan mereka kembali terbayang dibenak masing-masing. Ini tidak terkecuali juga untuk Dea.
Meskipun hanya beberapa minggu berteman dengan mereka namun perasaan dihargai dan disayangi dari mereka sangat Dea rasakan. Membuatnya menjadi sedikit tidak rela untuk berpisah, hah..ketika ia menemukan teman yang baik mengapa Allah menjauhkannya setelah merasa nyaman?
"Assalamualaikum?" Suara lembut ustadzah Fatimah menginterupsi lamunan mereka. Sejenak, mereka membeku karena kedatangan ustadzah Fatimah yang tiba-tiba dan berpikir mungkinkah kedatangannya ke sini untuk menuntut balik Dea?
Pasalnya setelah kejadian itu ustadzah Fatimah tidak lagi mengajar mereka dan yah, sebagai orang yang akan beranjak dewasa mereka semua mengerti betapa canggungnya suasana diantara ustadzah Fatimah dan Dea.
"Bisakah aku berbicara dengan Dea?" Tanya ustadzah Fatimah sopan masih dengan senyumannya yang cemerlang. Begitu anggun dan menarik penglihatan semua orang.
"Bisa." Dea langsung bangun dari duduknya dan bergegas mendatangi ustadzah Fatimah. Meskipun mendapatkan hukuman dari pondok pesantren namun itu bukan berarti ustadzah Fatimah mau memaafkannya. Nah, sekarang karena ustadzah Fatimah mencarinya maka mau tidak mau Dea harus meminta maaf dengan benar kepadanya.
Teman-teman sekamarnya ingin sekali melarang Dea pergi bersama ustadzah Fatimah, namun karena ada ustadzah Fatimah di sini maka mau tidak mau mereka hanya bisa menahannya dan menunggu kabar selanjutnya dari Dea.
Ustadzah Fatimah tersenyum puas, mengangguk ringan ia kemudian membimbing Dea mengikuti langkahnya keluar dari asrama. Berjalan ringan, tidak banyak orang yang memperhatikan kebersamaan dua orang yang dikatakan sempat dikatakan bersitegang beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1
"Ayo, kita duduk dulu di sini." Ajaknya sambil menarik tangan Dea untuk duduk di sampingnya. Sikapnya menunjukkan betapa akrabnya mereka selayaknya teman dekat meskipun kenyataannya tidak demikian.
Mendudukkan dirinya di samping ustadzah Fatimah, diam-diam Dea memperhatikan aliran sungai yang bergerak tenang di depannya. Airnya jernih dan terlihat sangat menyengarkan di waktu-waktu puasa seperti ini. Bagaimana Dea tidak terbuai jika saat ini masih sangat siang, waktu yang tepat untuk memenuhi dahaga dengan air putih yang segar. Namun sayangnya, mereka harus puasa lebih lama lagi untuk segera berbuka.
"Dea, sama seperti mu aku juga jatuh cinta dengan ustad Aldi." Ucap ustadzah Fatimah dengan ringan, bahkan ia tidak terlihat malu sama sekali ketika mengatakan ini kepada Dea.
Dea sudah tahu dan menebaknya sejak awal mereka bertemu.
"Akan tetapi sayangnya ustad Aldi sudah menyukai gadis lain." Lanjutnya kali ini membuat Dea terkejut. Jika ustadzah Fatimah bukan orang itu maka siapa yang ustad Aldi sukai?
"Dia bilang aku harus menjaga jarak dengannya karena gadis itu akhir-akhir ini selalu menjauhinya. Bahkan, gadis itu tidak memberikan ustad Aldi kesempatan untuk meminta maaf." Dea masih terdiam dan berpikir jika gadis itu terlalu banyak tingkah!
Bagaimana mungkin ia bersikap semenjengkelkan itu pada idol pondok pesantren yang terkenal?
Dea sama sekali tidak bisa mengerti itu.
"Oleh karena itu hari ini ia meminta bantuan ku untuk berbicara dengan gadis itu dan menjelaskannya bahwa orang yang ia sukai adalah gadis itu dan bukan yang lain."
"Jadi, apakah kamu sudah berbicara dengannya?" Tanya Dea penasaran karena sebagai sesama cinta yang hanya bisa bertepuk sebelah tangan, mereka harus saling menguatkan.
"Jadi Dea, apakah kamu sekarang mengerti siapa yang ustad Aldi sukai? Tanya ustadzah Fatimah lembut seperti biasanya, namun kali ini sinar matanya menunjukkan betapa sedihnya ia.
Dea dengan sedih menganggukkan kepalanya dan beberapa detik kemudian ia menggelengkan kepalanya, "Siapa gadis itu?" Tanya Dea ingin tahu, setidaknya dia ingin melihat seperti apa wajah gadis yang sudah mampu membuat ustad Aldi merasa sedih seperti itu.
"Itu kamu." Jawab ustadzah Fatimah langsung.
Aku? Batin Dea terkejut.
Sejenak Dea tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis untuk menanggapinya karena ia yakin bahwa gadis itu bukan dirinya. Memang ia sedang menjauhi ustad Aldi dan tidak ingin berbicara dengannya, tapi bukan berarti gadis itu adalah dirinya-eh, Dea rasa ini memang penggambaran tentang dirinya!
"Bagaimana itu bisa aku?" Gumam Dea masih merasa tidak nyata. Orang yang ia sukai selama ini juga menyukainya. Maka gadis mana yang tidak terkejut ketika tahu bahwa orang yang ia sukai ternyata juga menyukainya?
__ADS_1
Ustadzah Fatimah tersenyum tipis, mengalihkan pandangannya kembali menatap sungai selama beberapa detik kemudian pandangannya jatuh pada sosok tampan yang cemas di sana. Hem, laki-laki itu ternyata sangat menyukai Dea.
"Kamu bisa langsung bertanya kepadanya." Jawab ustadzah Fatimah seraya bangun dari duduknya dan langsung meninggalkan Dea yang masih duduk tidak tenang di sana.
"Bagaimana bisa ia menggantung ku di saat-saat penting seperti ini?" Gumam Dea tidak mengerti dengan sikap ustadzah Fatimah yang plin plan. Beberapa waktu yang lalu ia memanggilnya dan setelah mendapatkan petunjuk ia malah ditinggalkan. Mengapa Dea harus bertanya langsung ke ustad Aldi?
Dimana harga dirinya jika datang terlebih dahulu mendekati ustad Aldi-
"Dea," Suara berat ustad Aldi sontak membuat Dea membeku. Mengalihkan wajahnya menatap ustad Aldi, senyum penuh kaku yang jarang ada kini sudah tercetak manis dibibir merahnya.
"Ya, ustad?" Suaranya kecil terdengar malu-malu.
"Aku minta maaf untuk masalah yang kemarin. Waktu itu aku sangat terkejut dan langsung bertindak impulsif." Ustad Aldi meminta maaf, menunjukkan betapa bersalahnya ia semenjak hari itu. Bahkan Dea secara terang-terangan menjauhinya dan tidak memberikannya kesempatan untuk berbicara dengannya.
"Tidak perlu meminta maaf ustad karena itu juga memang salahku." Hari itu ia sangat cemburu dan tidak cukup hati-hati sehingga membuatnya sangat mudah untuk melampiaskan kemarahannya. Maka jadilah, ia tidak sengaja melukai tangan ustadzah Fatimah dan berakhir salah paham dengan ustad Aldi.
Lalu, suasana tiba-tiba menjadi sunyi di antara mereka berdua. Membiarkan suara gemericik aliran air sungai sebagai latar belakang yang mengiringi perasaan canggung mereka. Ketika awal bertemu mereka tidak seperti ini, perasaan canggung tidak pernah melekat pada mereka meskipun mereka tidak saling mengenal. Namun hari ini, ketika sudah mengenal tiba-tiba perasaan canggung itu dengan kuat menempel pada mereka, membuat suasana menjadi tidak nyaman.
"2 bulan dari sekarang aku akan datang mengunjungi rumah mu." Tiba-tiba ustad Aldi mengatakan sesuatu yang hampir membuat Dea jantungan. Apa maksud ustad Aldi akan datang ke rumahnya?
Melihat sikap beku Dea, sudut mulut ustad Aldi tiba-tiba tertarik menjadi garis senyuman. Perasaan canggung itu entah mengapa langsung hilang dari hatinya.
"Aku akan datang untuk melamar mu secara resmi bersama kedua orang tua ku, jadi tolong bersabarlah sedikit lagi dan jangan pernah melirik pria lain karena jika kamu sampai melakukannya aku akan sangat marah." Ucapnya dengan jelas, tersenyum lembut ustad Aldi kemudian memberikan Dea sebuah surat yang terselip di jari-jarinya dan langsung pergi menjauh dari Dea. Dea yang masih mematung dengan hati-hati membuka surat tersebut dan menemukan sebuah tulisan tangan bahasa Arab yang sangat indah. Meskipun tidak bisa membacanya namun Dea tahu bahwa artinya pasti sangat bagus.
Merasakan perasaan senang, ia dengan bahagia memasukkan kertas tersebut ke dalam kantongnya dan menjaganya dengan sikap hati-hati.
Ah, cinta memang tidak mudah ditebak dan skenario Allah terlebih sangat indah. Dea tidak pernah menyangka jika ada hari dimana cinta memihaknya dan malah memberikan seseorang yang sangat luar biasa. Hem, dia sangat terkejut juga senang.
Setelah hari itu Dea memberanikan diri untuk menghubungi keluarganya yang ternyata langsung disambut baik oleh kedua orang tuanya. Dea melaporkan tentang kesehariannya kepada orang tuanya selama ia di pondok pesantren. Dea juga menceritakan bahwa di sini ia bertemu dengan teman-teman kamarnya yang sangat baik dan terakhir, Dea juga mengatakan bahwa ada seorang ustad yang luar biasa ingin datang melamarnya. Ketika mengatakan itu ternyata kedua orang tuanya sudah tahu dan menceritakannya kepada Dea bahwa beberapa hari yang lalu ustad Aldi datang ke rumah untuk menyatakan niatnya. Setelah itu ustad Aldi juga mengatakan kepada mereka bahwa ia akan melamar Dea secara resmi setelah Dea lulus dari pondok pesantren atau tepatnya 2 bulan lagi.
Mendengar kabar tersebut Dea benar-benar senang, ia tidak tahu jika ustad Aldi akan bergerak cepat untuk mendekati kedua orang tuanya. Tersenyum bahagia, Dea juga mendengar bahwa Reina akan melanjutkan sekolahnya di Malaysia setelah Dea menikah lagi. Kabar ini tentu saja membuat semua orang bahagia karena mereka kini berjalan pada jalan masing-masing.
__ADS_1
Hem, Mira dengan perjuangan cintanya dan Dea dengan cinta sejatinya. Lalu Safira, gadis kuat itu kini sudah memantapkan hatinya untuk terus melangkah maju mencari cinta yang lain. Cinta sejatinya yang ia tunggu.
TAMAT