
"Dea, bangun." Masha mengguncang badan Dea pelan, berniat membangunkannya.
Membuka matanya berat, Dea dengan kesal menatap puas Masha yang kini duduk di sampingnya.
"Apa sih, ganggu aja." Dea menghempas kasar tangan Masha yang mengguncang tubuhnya, ia tidak suka jika disentuh seperti ini.
Sudah biasa dengan tingkah kasar Dea, Masha dengan kukuh membangunkan Dea.
"Ayo bangun De, waktunya sholat tahajud." Bujuk Masha sekali lagi.
Namun, kali ini Dea tidak merespon apapun dan tetap bersikeras mempertahankan tidurnya.
Brak!
"Maksud kamu apa-apaan sih-" Sontak Dea langsung terduduk dari acara berbaringnya, menatap sang pelaku yang telah dengan berani menendang ranjang tidurnya.
"Bangun!" Pelakunya adalah Diva, gadis cantik yang selalu menatap sebelah mata Dea.
Mengetahui bahwa pelakunya adalah Diva, lantas Dea tidak langsung meresponnya dan hanya duduk diam mengamatinya.
"Ini bukan rumah mu di kota dan seharusnya kau mulai membiasakan dirimu di tempat ini, nona kaya." Ejek Diva merasa di atas angin, apalagi teman sekamar mereka semuanya hampir memperhatikan Dea yang berekspresi datar.
"Diva, jangan memulai keributan lagi. Akan tidak adil rasanya jika ketahuan semua orang di kamar ini mendapatkan hukuman, lagipula Dea juga sudah bangun jadi kau tidak perlu memperpanjang masalah." Masha berseru panik, mencoba menenangkan kekesalan Diva kepada Dea.
Bagaimana Masha tidak takut jika Diva tidak pernah mengenal takut saat mencari masalah dengan Dea, apalagi setelah Dea terancam diusir dari pondok pesantren kemarin Diva merasa semakin di atas angin. Belum lagi dengan terbongkarnya rahasia Dea yang terlarang di pondok pesantren, semua orang yang membenci Dea termasuk Diva terus saja mengganggunya.
Akan tetapi anehnya, Dea tidak pernah melawan dan dengan patuh diam membisu mendengarkan cacian mereka. Dan entah ekspresi apa yang harus Masha tunjukan soal ini, apakah ia harus menangis atau bahagia melihat betapa sabarnya Dea.
"Oh, jika petugas kedisiplinan datang itu mudah saja bagi kami. Kami akan mengatakan awal mula permasalahan ini adalah karena Dea yang begitu sulit dibangunkan, bahkan ia sempat melawan saat dibangunkan." Ana, gadis yang tidur tepat disebelah Diva berucap, membela Diva dari kesalahannya.
Ririn yang menjadi wakil dari kamar ini tentu saja tidak terima dengan kondisi yang Ana dan Diva inginkan, ini namanya mereka dengan sengaja ingin menjatuhkan Dea.
"Kalian tidak boleh seperti itu kepada saudara sendiri, lagipula alasan seklise ini tidak dapat diterima oleh petugas kedisplinan." Ucapnya angkat bicara.
"Apa yang Ririn katakan itu memang benar, jadi percuma saja kalian memberikan alasan itu." Dukung Masha berusaha melemahkan keangkuhan Diva dan Ana.
"Saudara?" Tanya Ana dengan pandangan mencemooh.
"Bagaimana mungkin gadis serendah dia menjadi saudara kami, betapa tidak masuk akalnya." Ujar Diva mencibir, menatap rendah Dea yang masih tidak bereaksi apa-apa dan dengan diam membisu menatapnya.
Ini membuatnya semakin jengkel dan marah karena Dea sama sekali tidak termakan provokasinya. Dulu, awal Dea masuk ke sini ia sangat berontak dan sulit diatur. Bahkan ketika seseorang menegurnya ia akan langsung melawan balik, mencaci maki mereka yang menegurnya.
Tapi sekarang?
Mengapa Dea tidak melakukan apa-apa saat ia menegurnya?
Bahkan disaat ia merendahkannya, seharusnya Dea melawan bukan?
Tapi itu tidak terjadi.
"Astagfirullah Diva, jaga bica-"
"Aku pergi duluan, assalamualaikum." Potong Dea tidak ingin mendengar mereka lagi. Bangun dari duduknya ia kemudian mengambil mukena yang terlipat rapi di sampingnya dan berjalan keluar dari kamar.
"Teman-teman, aku dan Dea duluan yah assalamualaikum." Pamit Masha buru-buru mengejar Dea yang sudah pergi menjauh keluar.
"Dea, tunggu!" Kejar Masha mendekati Dea.
Ia kemudian dengan gerakan alami mensejajarkan langkahnya dengan Dea, melirik dari sudut matanya apakah Dea terlihat sedih atau menangis.
Tapi tidak, Masha tidak menemukan apapun di wajah Dea. Ia terlihat biasa dengan pandangan mata lurus ke depan, menatap masjid yang jaraknya kian sedikit seiring langkah mereka mendekatinya.
"Dea lain kali jika mereka mengganggu mu, kau bisa melawannya dan jangan biarkan mereka terus saja menginjak-injak harga dirimu. Itu tidak masalah jika hanya beberapa kali saja." Ucap Masha memberikan saran, ia takut jika penyebab Dea menahan diri adalah karena Pak Kyai dan perjanjian mereka.
"Apa kau kasihan kepada ku?" Tanya Dea menebak.
Masha dengan kuat menggelengkan kepalanya membantah, "Aku tidak kasihan padamu tapi aku tidak ingin mereka terus merendahkan mu, aku tidak tahan mendengarnya." Ia tidak merasa kasihan, mungkin.
Ia tahu bahwa Dea pasti kuat dan bisa menghadapinya.
__ADS_1
Hening.
Dea tidak merespon lagi.
"Dea?" Panggil Masha tidak menyerah.
"Kau tidak mengerti Masha." Tiba-tiba Dea mengatakan ini.
"Mengerti apa?" Tanya Masha bingung.
Memeluk erat mukenanya, "Jika aku membalas mereka maka aku akan kalah, aku membalas ucapan mereka maka dipastikan aku sudah masuk ke dalam jebakan yang mereka buat. Lalu dengan alasan itu mereka akan melaporkan ku dan berakhir menyingkir ku dari pondok pesantren ini. Masha, saat ini aku sedang berperang dengan mereka. Entah siapa yang menang nanti bisa kita lihat dari siapa yang pertama menyerah, apakah itu aku atau mereka."
Benar, Dea tahu jika mereka sedang menjebaknya dan berniat mengusirnya dari tempat ini. Akan tetapi Dea sudah mengetahui akal busuk mereka sehingga ia dengan santai tidak membalas cacian mereka, meskipun rasanya sakit.
"Aaa..jadi seperti itu."
"Hem."
***
"Dea coba lihat ke kiri." Dea sontak mengalihkan pandangannya pada arah yang ditunjuk Masha.
Deg
"Assalamualaikum, Kak Annisa, Kak Mira..dan.."
"Safira." Ucap Safira seraya tersenyum standar. Mata tajamnya melirik Dea dengan pandangan was-was yang jelas.
Tentu saja Dea tahu diri dan dengan patuh menutup mulutnya, menyimak obrolan mereka.
"Waalaikumussalam, ini kalau tidak salah Masha yah, gadis yang Abi ceritakan semalam?" Tebak Annisa begitu melihat Masha secara langsung ia sudah bisa mengenalinya.
Abi bilang semalam gadis ini adalah salah satu gadis cerdas yang berprestasi. Abi juga bisa melihat bahwa gadis ini suatu hari akan melanjutkan pendidikannya ke Kairo, melihat betapa cakap dan cerdasnya ia di sini.
"Eh, iya Kak, saya Masha dan yang di samping saya adalah Dea, teman sekamar saya di asrama." Ujar Masha memperkenalkan dirinya dan Dea dengan rendah hati, tidak merasa sombong karena namanya disebut-sebut oleh Pak Kyai.
"Oh, ini Dea, adiknya Reina?" Mata Annisa membulat terkejut lantaran Dea dan Reina tidak mirip sehingga ia bisa menebak siapa gadis ini.
"Iya Kak, dia ini dulu teman kelas aku sewaktu SMA. Cuman karena ada masalah dia harus pindah ke sini dan terpaksa mengulang dengan pelajaran yang berbeda." Bagaimana pun juga Safira masih marah dengan Dea yang pernah menyakiti Kakaknya.
Andai yang Dea sakiti bukan Kakaknya, mungkin kata maaf itu lebih mudah terucap dari hatinya. Namun ini Annisa, Kakaknya yang terlalu baik dan penyabar sehingga kata maaf untuk Dea begitu sulit terlontarkan dari hatinya.
"Aduh, adik sama Kakak sama aja yah, sama-sama biang masalah." Suara Mira santai, tidak terlalu mencolok untuk orang-orang disekitarnya namun tanpa sadar membuat suasana menjadi tegang.
"Jangan seperti itu, Mira." Tegur Annisa tidak suka karena biar bagaimanapun perubahan itu butuh proses bukan?
Apalagi Dea dari kota dan terbiasa hidup di kota maka untuk terbiasa dengan lingkungan ini mungkin sangat sulit untuknya. Apalagi Dea harus mengulang dari kelas sepuluh lagi yang mana membuatnya pasti depresi.
"Dea, perubahan butuh proses dan Kakak sangat mengerti betapa depresinya kita saat itu. Namun walaupun sulit itu lebih baik daripada tidak sama sekali karena Kakak yakin, Dea yang sekarang jauh lebih baik dari Dea yang dulu jadi tetap istiqamah ya, dek." Annisa juga mendengarnya saat itu di rumah sakit. Reina dan Safira membicarakan tentang Dea, gadis yang dikeluarkan secara tidak hormat oleh pihak sekolah. Sang pihak laki-laki juga menolak untuk bertanggung jawab kepada Dea, meskipun jelas-jelas beberapa guru yang menjadi saksi melihat Dea dan laki-laki itu berzinah.
Annisa sebagai perempuan tahu betapa sakitnya itu, apalagi disaat orang dengan mudah menggunjing kesalahan mereka yang fatal. Perasaan itu tidak akan mudah Annisa bisa lupakan.
"Aku mengerti, terimakasih Kak Annisa." Angguk Dea sopan berterima kasih.
Entah mengapa ketika mendengar ini hati Dea tiba-tiba terenyuh, ia tersentuh karena orang yang pernah dzolimi ternyata orang yang baik dan pemaaf.
"Ya sudah, kita langsung naik yuk ke atas ikut bergabung dengan yang lain." Ajak Annisa seraya beranjak dari tempatnya berdiri berjalan ke dalam masjid.
"Mir, aku dengar yang jadi imam malam ini adalah ustadz Aldi, bener gak sih?" Safira berbisik ringan ditelinga Mira, tidak sadar jika suaranya juga dapat di dengar oleh Dea.
"Kayaknya iyasih, soalnya semalam kan kita semua kan udah berusaha keras teriak-teriak kek toa biar malam ini yang jadi imam sholat tahajud ustadz Aldi." Bisik Mira balik, antara yakin dan tidak yakin jika ustadz Aldi mau memenuhi permintaan mereka.
Yah, berhubung Gus Gio sudah punya istri dan mereka tidak punya harapan untuknya maka jadilah harapan mereka bertumpu pada sosok ustad muda yang mengetuk jiwa.
"Rapatkan saf, tolong yang lain rapatkan safnya agar syeitan tidak bisa masuk diantara kita." Tiba-tiba suara berat, teduh nan menenangkan itu bergema di dalam masjid. Membuat Mira, Safira dan Masha sontak ingin berlari mencari saf paling depan agar bisa mengintip dari balik skat gorden.
Namun, Dea justru sedang berpikir keras setelah mendengar suara ini. Ia pikir suara ini sedikit familiar, tapi Dea tidak yakin dimana pernah mendengarnya.
Ini terlalu samar untuknya.
__ADS_1
"Dea sholat di samping Kakak aja yah, yang lain soalnya udah pada kabur gak tahu kemana." Ucap Annisa langsung membuyarkan lamunan Dea.
"Ah...iya, Kak." Angguk Dea canggung. Lalu setelah itu mereka berdua pun menggelar sajadah mereka menghadap kiblat bersama dengan ribuan santri yang berseri menghadap Allah.
****
Paginya, Masha terus saja mengoceh tentang ustad Aldi yang luar biasa. Entah itu tentang suaranya, tampangnya, prestasinya. Semua Masha jabarkan dan terus ia ceritakan berulang-ulang kali.
Dea bidan mendengarnya dan berpikir bahwa ini terlalu berlebihan. Tidak ada laki-laki sesempurna itu di dunia ini, pikirnya.
"Lho De, kamu mau kemana?" Terkejut Masha melihat Dea tiba-tiba beranjak pergi dari duduknya.
"Aku akan ke kantor TU, ingin menghubungi seseorang." Jawab Dea acuh seraya mengepaskan jilbabnya.
"Kamu ingin menghubungi orangtua mu?" Tanya Masha menebak. Pasalnya ini sudah satu bulan lamanya Dea tidak menghubungi orangtuanya.
"Hem." Balas Dea acuh seraya berjalan keluar dari kamar asrama. Karena hari ini adalah hari minggu maka para santri bebas dan diizinkan menghubungi keluarganya.
Nah, kebetulan ini hari minggu dan Dea akan menghubungi seseorang yang ia rindukan. Namun, rasa senangnya tidak bertahan lama karena begitu sampai kantor sudah ia dapati antrian panjang yang menguji kesabaran.
Dea tanpa sadar mengelus dada dibuatnya.
Beberapa jam kemudian, Dea akhirnya mendapatkan gilirannya setelah sekian lama mengantri. Sebelumnya, Dea hampir saja menyerah pada antrian yang panjang. Namun ketika ia mengingat wajah tersenyum Rio, semangatnya kembali bertiup.
Mendial nomor telepon Rio yang sudah ia hafal diluar kepala, akhirnya telponnya pun tersambung. Ini menandakan bahwa Rio tidak pernah mengganti nomor teleponnya.
Menunggu beberapa detik, Rio tidak kunjung menerima telpon dari Dea. Ia pikir mungkin Rio tidak senang dengan adanya nomor tidak dikenal menghubunginya.
Tidak putus harapan, Dea mengulangi lagi panggilannya hingga panggilan ke empat akhirnya Rio mau mengangkat telpon darinya.
"Ri-"
"Sayang, itu siapa?"
Deg
Tubuh Dea seakan membatu, berdiri kaku menatap kosong tembok di depannya. Perasaan dingin bahkan ia rasakan perlahan merayap di belakangnya, mengaliri tulang punggungnya yang kesepian.
"Hallo?" Ini suara terganggu dari Rio.
"Sayang, kamu kesini aja...kita lanjutin yang tadi, aku udah gak tahan ini!" Ada suara genit yang lagi-lagi masuk ke pendengaran Dea, ia tahu siapa gadis ini.
"Rio, ini aku." Bisik Dea akhirnya bersuara setelah beberapa detik membeku karena shock menahan sakit.
Lalu, orang yang ada di seberang sana tiba-tiba tidak bersuara lagi, menyisakan kehampaan di wajah sedih Dea.
"Aku pikir selama ini kamu setia di sana, tapi ternyata aku salah karena kamu mengkhianati ku." Mengontrol Isak tangisnya yang akan keluar.
"Dan..dan orang yang bersama mu mengkhianati ku adalah Ayu, sahabat ku dari kecil." Sambungnya mengungkap kepedihan hatinya.
Ia tidak pernah menyangka bahwa suara hari kekasih dan sahabatnya akan bekerja sama mengkhianatinya, ia begitu terkejut dan merasa sakit diwaktu yang bersamaan.
"Rio-"
"Dea, kamu salah paham..aku dan Ayu gak ada hubungan apa-apa jadi tolong dengarkan aku, okay." Rio memotong panik, terdengar melangkah menjauh dari tempat duduknya. Suaranya begitu berisik, Dea berpikir mungkin Rio keluar dari tempatnya tadi.
"Aku..yah, karena semuanya sudah seperti ini aku tidak akan menghalangi kalian berdua lagi. Rio, jika suatu hari kita bertemu lagi bersikaplah seolah kita tidak pernah saling mengenal-"
"Gak! Gak! Gak boleh!." Potong Rio semakin panik.
"Kita masih sama, aku dan kamu-"
"Berakhir, selamat tinggal Rio."
"Dea, tunggu-"
Tut
Tut
__ADS_1
Tut
Bersambung...