Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Tamu


__ADS_3

"Minum dulu, Nak." Ucap Umi seraya memberikan Annisa segelas air putih yang segar dan menyegarkan.


"Terimakasih Umi." Ucap Annisa berterima sambil mengambil alih gelas tersebut ke dalam lingkupan kedua tangannya. Membaca basmalah dengan lirih, ia kemudian meminumnya dengan khidmat dan hati-hati.


"Alhamdulillah.." Gumamnya bersyukur ketika haus dan dahaganya telah terpenuhi.


Meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja, Annisa kemudian dengan senyuman manisnya menatap Umi dan Abi yang sedari tadi memperhatikan semua gerakannya.


"Apakah ada sesuatu yang salah dari wajah Annisa?" Tanya Annisa khawatir dan dengan mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh sisi wajah kanannya.


Meraih tangan kanan Annisa, Umi dengan gelengan lembut menurunkan tangan Annisa."Tidak ada yang salah dari wajah mu, Nak. Kami hanya ingin memastikan sesuatu apak-"


"Ya Allah Kak Annisa?" Tiba-tiba suara terkejut Saqila memasuki pendengaran semua orang. Bahkan ucapan Umi pun terpotong oleh suara terkejutnya.


Terkejut, Saqila tidak tahu harus menangis atau tertawa melihat kepulangan Annisa yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh semua orang. Ini begitu mengejutkan!


"Sini Saqila, temui Kakak mu. Kau pasti sudah lama merindukannya dan sangat menantikan hari ini tiba. Sekarang Annisa sudah ada di sini jadi kau bisa bebas bertemu lagi dengannya." Dengan semangat, Umi bangun dari duduknya dan menarik tangan Saqila agar berjalan mendekati Annisa. Lalu dengan penuh perhatian Umi mendudukkan Saqila di tempat semula ia duduk.


"Kalian bertiga mengobrollah sementara Umi dan Abi menyiapkan makan malam dulu." Pesan Umi yang langsung diangguki cepat oleh Abi. Biarlah percakapan antara ia dan Annisa ditunda dulu karena Umi pikir mungkin Annisa dan Safira sedang kelaparan karena telah menempuh perjalanan jauh. Tidak itu saja, Umi juga berpikir bahwa Annisa butuh asupan makan-makanan yang bergizi dan lezat. Mendengar jika baru saja keluar dari rumah sakit, rasanya hati Umi benar-benar sakit. Bahkan kemarahan dan rasa kesalnya pada Annisa dulu langsung dilupakan olehnya. Memang, kasih sayang seorang Ibu tidak dapat dibandingkan dengan apapun.


"Perlu Safira bantu Umi?" Tanya Safira menawarkan bantuan namun langsung ditolak tegas oleh Umi.


"Jangan melakukan apapun kecuali duduk santai dan beristirahatlah, ini adalah perintah dari orang tua mu. Jika dilanggar maka Allah tidak akan senang, ingat?" Tolak Umi seraya mengingatkan Safira agar mematuhi perintahnya tanpa melakukan hal-hal yang menguras emosi.


"Ingat." Patuh Safira dengan berjanji tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh.


Setelah mendengar jawaban Safira, Umi dan Abi dengan tenang kemudian berjalan ke dapur untuk melanjutkan aktivitas mereka dengan pikiran yang ringan dan senang.


"Bagaimana kabar Kakak? Mengapa wajah terlihat begitu pucat seperti ini?" Tanya Saqila khawatir seraya meraih tangan Annisa dengan ekspresi yang hati-hati.


Mengalihkan pandangannya, Safira kemudian memfokuskan atensinya pada Saqila dan Annisa yang sedang berinteraksi.


Dengan senyum samar, Safira bersikap seolah-olah ia tidak perduli dengan kegiatan mereka berdua sehingga dapat mengurangi aura keberadaannya.


Canggung, kata-kata marah Saqila masih teringat jelas dalam memorinya dan entah kenapa ada rasa tidak nyaman berdekatan seperti ini dengan Saqila.


"Alhamdulillah kabar Kakak baik-baik saja dan mungkin karena terlalu lelah menempuh perjalanan jauh membuat wajah Kakak terlihat seperti ini." Jawab Annisa berusaha bersikap seperti biasanya.


Rasa ketidak nyamanan ini mungkin karena pertikaian mereka dulu, lagipula Saqila juga tidak melakukannya secara sengaja jadi ini mungkin hanya perasaan sekilas saja.


"Ya Allah Kak, Saqila senang banget melihat kepulangan Kakak hari ini. Saqila begitu lega dan bersyukur bahwa Allah masih memberikan Saqila kesempatan untuk hidup bersama Kakak lagi karena jika tidak Saqila tidak tahu harus membayar dengan cara apa rasa penyesalan ini." Saqila menggenggam tangan Annisa dengan erat-erat menyampaikan rasa sakit dan menyesalnya ia jika tidak bertemu Annisa lagi. Bahkan wajah lembut dan cantiknya terlihat begitu khawatir dan ketakutan pada waktu yang bersamaan.


Tertegun, Annisa dengan erat pula membalas genggaman tangan Saqila. Ia juga begitu ketakutan sebenarnya mengetahui fakta bahwa ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan keluarga tercintanya ini. Akan tetapi Allah ternyata mendengar ketakutannya sehingga mengirim ia pulang kepada keluarganya.


"Alhamdulillah Saqila, Kakak juga tidak pernah berpikir bisa kembali ke rumah ini sebelumnya. Akan tetapi ternyata Allah masih menyayangi dan melindungi Kakak. Allah mengirimkan orang-orang yang baik dan tulus untuk menolong Kakak. Memberikan Kakak tempat berlindung dan berteduh, mereka menganggap Kakak sebagai keluarga mereka. Alhamdulillah, sampai akhirnya Safira datang mereka semua masih menganggap Kakak sebagai bagian dari hidup mereka." Allah begitu bermurah hati kepadanya. Mengirimkan dirinya orang-orang yang baik dan tulus, mereka adalah kerabat terbaiknya. Mengingat mereka yang ada di pondok pesantren Annisa tidak bisa menahan rasa syukur dan senyumannya. Bagaimana ia tidak merindukan mereka semua jika kebaikan hati mereka begitu tulus dan menyentuh. Annisa tidak rela rasanya menghilangkan kenangan itu dari memori otaknya.


Apalagi untuk cinta pertamanya, kesan yang beraneka ragam benar-benar dapat Annisa rasakan di sana. Ada rasa tidak berdaya pada status dirinya bahkan rasa cemburu ketika melihat Gio dekat dengan gadis lain. Annisa masih mengingat rasa menjengkelkan itu.


Mengangkat alisnya, Saqila dengan gerakan samar melirik ke arah Safira yang terlihat sedang sibuk mengotak-atik handphonenya.


Perasaannya saja atau apa Safira sedari tadi sedang memperhatikannya. Tapi itu tidak mungkin bukan? Karena faktanya Safira terlihat acuh tak acuh dengan pembicaraan mereka.


Ah, bukankah tadi Annisa sempat menyebutkan tentang kedatangan Safira menjemputnya?


Jika benar apa yang dikatakan Annisa maka seharusnya Safira sudah tahu tentang keberadaan Annisa, tapi mengapa Safira tidak pernah mengatakan apa-apa tentang Annisa kemarin-kemarin?


"Oh, jadi Kakak di jemput oleh Safira.." Mengalihkan pandangannya menatap Safira yang masih acuh.


"Tapi Safira mengapa kau tidak mengatakan apapun tentang keberadaan Kak Annisa dan lebih memilih menjemputnya langsung? Apakah kau tidak melihat jika kita semua begitu panik untuk mencari keberadaan Kak Annisa?" Ada nada selidik dan tuduhan yang terselip di sana.


Safira ini selalu punya kesan acuh tak acuh bagi Saqila sehingga membuatnya selalu berpikir bahwa lingkungan ini hanya sekedar lingkungan biasa untuknya. Tapi terkadang Saqila tidak bisa membodohi dirinya bahwa perasaan diawasi olehnya benar-benar samar.


Itu tidak mungkin bukan?


Safira tidak perduli dengan apapun jadi mengapa ia harus mengawasi Saqila?. Lagipula situasi apa yang memungkinkan Safira untuk mengawasinya?


Ini tidak seperti Safira tahu apa yang ia sembunyikan dan lakukan.


"Aku melihatnya," Jawab Safira tanpa mengalihkan perhatiannya dari handphonenya.


"Tapi bukankah aku sudah mengatakannya sebelum aku pergi?" Mengangkat wajahnya dari handphone yang ia pegang, sebuah senyuman puas tercetak manis di bibir tipisnya.


"Ini adalah kejutan dan hadiah spesial yang ku siapkan khusus untuk kalian semua." Lanjutnya dengan wajah murninya yang langka.


Tapi ini masih belum karena pesta yang ku buat khusus untuk mu adalah kejutan yang sesungguhnya. Lalu dengan begitu ia kembali menyibukkan dirinya kembali pada handphone yang ada di dalam genggamannya.


Tercengang, Saqila dengan bodohnya membalas senyuman Safira dengan senyuman pula. Tapi sayangnya senyuman ini adalah bentuk dari ketidak puasannya terhadap Safira. Bagaimana ia tidak puas karena beberapa hari yang lalu fantasinya tentang kejutan itu adalah kedatangan Gio ke sini atau sesuatu yang mencengangkan. Akan tetapi nyatanya itu semua tidak sesuai dengan harapannya karena hal yang datang justru bintang kesialannya.


"Wah, kejutan mu begitu luar biasa Safira. Kakak benar-benar senang dengan hadiah mu ini." Suaranya senang.


"Ah..yah, Saqila tadi dengar jika Kakak menyebut orang-orang yang baik. Jadi siapa mereka dan dimana Kakak tinggal selama ini?" Mengalihkan perhatiannya kembali pada Annisa yang sedari tadi mendengarkan interaksi Saqila dan Safira.


Mendengar pertanyaan Saqila, entah kenapa Annisa tiba-tiba menjadi canggung untuk menjawabnya. Ini ada kaitannya dengan Gio dan Annisa takut jika Saqila bereaksi seperti terakhir kali apabila ia menyebut Gio di sini.


Tapi jika Annisa tidak menjawab bukankah itu akan meninggalkan kecurigaan?


Atau jika ia berbohong bukankah itu akan membuat Allah murka?


"Ah..iya, Kakak selama ini tinggal di pondok pesantren Ar-Rahman." Dengan hati-hati ia memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Saqila.


Tapi Saqila tidak terlihat terkejut sama sekali, apakah Saqila tidak mengenal tempat ini?


Mengetahui jika Annisa sedang memperhatikannya, Saqila dengan usaha yang keras tetap menjaga ekspresinya agar terlihat senormal mungkin. "Pondok pesantren Ar-Rahman?" Tanyanya setenang mungkin.


"Iya, pondok pesantren milik keluarga Mas Gio..em, Kakak tinggal di sana." Jelas Annisa sekali lagi memperhatikan perubahan ekspresi Saqila.


Tapi itu masih sama seperti yang pertama, terlihat normal dan tenang.


"Ah, jadi Kakak selama ini tinggal di sana." Angguknya pelan seraya meraih gelas kosong dan menumpahkannya air putih ke dalamnya.


Lalu dengan gerakan alami ia mengangkat gelas tersebut untuk minum.


Meremat sisi gelas itu dengan kuat, kemarahan yang meluap-luap di dalam dadanya begitu terasa tidak nyaman dan menyesakkan. Jika bisa, jika bisa ia ingin sekali melemparkan gelas ini langsung ke wajah sok polos Annisa.


Tapi untung saja di sana ada Safira sehingga kali ini Annisa bisa tertolong dari kemarahannya.


Gadis sialan ini ia usir dengan segala usahanya yang begitu melelahkan. Bukannya pergi ke tempat yang seharusnya ia malah pergi ke tempat Gio. Sial, tidak ada gunanya ia melakukan hal gila itu jika Annisa malah mendapatkan untung besar.


Jika ia tahu akhirnya akan seperti ini maka mungkin ia akan memilih untuk membiarkan Annisa di rumah ini daripada mengusirnya.


Menenangkan gejolak amarahnya, Saqila kemudian menjauhkan gelas tersebut dari bibir tipisnya yang sudah basah dan lembab karena air tersebut. Memberikan senyuman manis pada Annisa, ia dengan sengaja menggeser tangannya ke sisi lain meja. Dan dengan santai menjatuhkan gelas tersebut ke lantai, ini adalah hal kecil yang dilakukan Saqila untuk melampiaskan amarahnya yang membakar.


"Astagfirullah, Saqila tidak melihatnya jika tangan Saqila menyimpang dari posisi meja." Histerisnya terkejut.


Ia tidak tahu jika tangannya menyimpang dari posisi meja sehingga gelas yang seharusnya ditaruh di atas meja malah jatuh ke lantai dan berakhir pecah.


Spontan, Annisa langsung menunduk untuk memungut pecahan beling gelas tersebut. Akan tetapi belum sampai tangannya menyentuh beling tersebut tangannya sudah di cegat oleh Safira yang sedari tadi duduk di sampingnya.


"Itu kotor dan berbahaya." Ucapnya seraya menarik Annisa agar duduk kembali ke tempatnya.


"Biarkan Kak Saqila yang terlanjur kotor melakukannya." Ucapnya melanjutkan tanpa melihat perubahan ekspresi jelek Saqila.


Walaupun kesal, Saqila dengan senyuman manis seperti biasanya menyetujui ucapan Safira. "Itu benar Kak Annisa, biarkan Saqila yang melakukannya berhubung Saqila sudah terlanjur kotor karena beraktivitas di dapur tadi." Apa yang dikatakan Safira memang benar jika tangannya masih kotor akibat beraktivitas di dalam dapur tadi. Akan tetapi entah mengapa Saqila berpikir jika apa yang Safira maksud berbeda dengan apa yang ia maksud.


Itu hanya perasaannya saja bukan?


Hem, hanya perasaannya saja!


"Ngomong-ngomong Kak Annisa, pondok pesantren ini bagaimana bisa Kakak bisa tinggal di sana?" Tanyanya terdengar santai namun sarat akan emosi sambil memungut pecahan beling yang berserakan di lantai.


Mengetahui bahwa Saqila tidak keberatan sama sekali maka Annisa pun akhirnya menjadi santai juga, ia tidak takut atau canggung membicarakan tentang Gio lagi di depannya.


"Mas Gio adalah orang yang menolong Kakak saat pingsan di pinggir jalan. Karena ia mengenal Kakak maka ia memutuskan membawa Kakak ke pondok pesantren untuk di rawat. Pada awalnya Kakak tidak berniat tinggal lama di sana dan berjanji akan segera pergi setelah sembuh. Akan tetapi ternyata Mas Gio tidak mengizinkan Kakak pergi jika Kakak tidak pulang ke rumah. Maka dari itu Kakak membuat kesepakatan dengannya bahwa Kakak bisa keluar dari pondok pesantren apabila keluarga di sini datang dan Kakak akan tetap tinggal di sana apabila keluarga di sini tidak datang. Yah, seperti yang terjadi Kakak tidak bisa pergi dari sana kecuali harus pulang ke sini maka jadilah Kakak memilih tinggal di sana. Ikut membantu orang-orang dapur memasak untuk asupan makanan para santri." Jelas Annisa menceritakan alasan mengapa ia tinggal di pondok pesantren selama ini. Sebuah perjanjian yang entah mengapa Annisa tidak bisa lupakan momentum dimana ia membaca surat tersebut. Sebenarnya itu memang bukan sebuah surat cinta tapi tetap saja Annisa akan selalu merasakan hatinya berdebar keras jika mengingatnya.


"Oo..jadi seperti itu." Gumam Saqila bersikap tenang. Setelah beres membersihkan pecahan beling tersebut Saqila kembali memperbaikinya posisi duduknya. Ia sempat berpikir mengapa Gio tidak menghubunginya untuk memberi tahu tentang keberadaan Annisa di sana.


Bahkan saat Saqila menghubungi saja Gio tidak pernah mau merespon, seakan no. yang selalu ia hubungi bukankah milik Gio.


"Mas Gio besok akan datang berkunjung ke sini." Suara manis Safira mengalihkan langsung pikiran Saqila. Tertegun, tanpa sadar ia mengalihkan pandangannya menatap ke arah Safira yang juga kini sedang menatapku.


"Benarkah?" Tanyanya tidak percaya seraya memperbaiki duduknya senyaman mungkin. Bahkan ia tidak memperhatikan perubahan wajah Annisa yang terlihat kurang nyaman.


Menganggukkan kepalanya, "Dia datang ke sini untuk bertamu bersama keluarganya." Lanjut Safira terlihat tenang dan cukup santai saat mengatakan hal ini.


"Bertamu? Keluarga besar?" Tiba-tiba suara Umi memasuki pendengaran semua orang.


"Itu benar Umi, besok siang Mas Gio dan keluarganya akan datang bertamu ke sini." Ucap Safira membenarkan pertanyaan Uminya.


"Maka kita harus menyiapkan penyambutan yang baik dan layak untuk mereka. Hem, kedatangannya ke tempat ini pasti punya alasan yang jelas." Suara Umi terdengar begitu senang dan antusias. Bagaimana tidak ia merasa seperti ini karena putri keduanya akan segera dibawa pergi oleh orang.

__ADS_1


Meskipun sedikit tidak rela memberikan Saqila pernikahan secepat ini akan tetapi ketika mengingat bahwa sang mempelai lelaki adalah seseorang yang luar biasa baik dan punya kedudukan yang tinggi secara agama dan sosial. Umi pikir bahwa melepaskan Saqila kepadanya adalah pilihan yang terbaik karena ia takut Saqila akan terjatuh seperti Annisa, putri pertamanya.


"Umi, apakah kita perlu memanggil keluarga yang lain untuk membantu kita membuat persiapan? Ini adalah acara yang besar jadi sepertinya keluarga yang lain harus ikut berpartisipasi." Saran Saqila lebih bersemangat dari Umi. Tentu saja ia bersemangat karena laki-laki yang selama ini ia kagumi dan cintai akan datang meminangnya hari esok. Katakan, perempuan mana yang tidak akan senang ketika mengetahui bahwa laki-laki yang ia cintai akan datang bertamu ke rumah.


"Ide yang bagus, Nak. Tapi Umi saranin kamu gak usah ikut campur dalam persiapannya karena kamu harus menyiapkan pakaian untuk dikenakan besok dan berusahalah tampil sebaik mungkin Saqila." Ini adalah acara Saqila jadi Umi tidak mau jika sesuatu yang tidak dinginkan terjadi padanya sehingga pilihan terbaik adalah membiarkan Saqila menyiapkan dirinya untuk hari besok. Karena besok adalah hari yang bersejarah bagi Saqila dan rasanya pasti akan terasa begitu gugup. Umi pernah berada di posisi ini jadi wajar saja ia mengkhawatirkan Saqila.


"Umi ngomong apa sih, ini seperti Mas Gio datang meminang Saqila." Keluh Saqila dengan wajah yang sudah merona merah, menampilkan wajah cantik dengan sifat malu-malu yang manis dan menggelitik.


"Udah, gak usah malu-malu. Sekarang hubungi Mbak Yana dan minta ia membawakan mu beberapa pakaian untuk dikenakan besok. Oh yah, Safira dan Annisa juga harus menggunakan baju yang seragam dengan mu nanti agar keluarga kita terlihat harmonis dan bahagia di depan mereka." Perintah Umi setelah berpikir cepat untuk merencanakan persiapan untuk hari besoknya.


"Astagfirullah, waktunya begitu mepet untuk acara besok. Bantuan keluarga yang lain harus segera datang untuk membantu malam ini." Gumam Umi seraya mengambil alih telepon rumah dan mencoba mendial no. keluarga yang akan ia hubungi.


Meninggalkan Umi yang sibuk menghubungi keluarga yang lain, Saqila justru tidak ingin ketinggalan dan ikut mengambil langkah menghubungi kontak Mbak Yana. Pemilik butik tempat Annisa kerja dulu yang juga menjadi keluarga mereka.


"Kak Annisa, ayo kita ke atas. Kakak harus istirahat malam ini karena perlu menggunakan tenaga yang lebih besar untuk besok." Safira bangun dari duduknya dan membantu Annisa juga bangun dari duduknya. Walaupun dalam suasana hati yang buruk Annisa tetap memberikan senyuman terbaiknya kepada Safira.


"Tapi bagaimana dengan makan malamnya, Safira?" Tanya Annisa merasa bersalah kepada kedua orang tuanya yang telah bekerja keras memasak untuk dirinya akan tetapi tidak ia makan.


Tersenyum lembut, "Jangan khawatir, Safira akan mengirimnya ke kamar Kakak nanti setelah mereka selesai dengan urusan mereka." Ia tidak ingin melihat Annisa seperti ini, merasa tidak berdaya dan sakit karena Umi dan Saqila yang punya kesalah pahaman terhadap kedatangan Gio. Jadi, pilihan terbaik saat ini adalah membawa Annisa pergi dari radar mereka dan bertindak acuh tak acuh terhadap kegembiraan mereka. Biarlah seperti ini karena pasti rasanya akan menarik ketika hari esok datang.


"Hem, Annisa ikut saja." Putus Annisa mengikuti saran Safira. Sebenarnya Annisa tidak punya nafsu untuk makan malam ini apalagi setelah melihat kebahagiaan Umi dan Saqila mengenai kedatangan Gio, rasanya tidur adalah pilihan terbaik untuknya.


Tidak, ia tidak membenci Umi dan Saqila. Pikiran sekejam ini jauh dari apa yang Annisa rasakan karena sesungguhnya ia sama sekali tidak membenci mereka. Hanya saja Annisa masih belum dapat melupakan rasa manisnya saat bersama Gio sehingga begitu tidak nyaman rasanya melihat Gio dengan Saqila karena biar bagaimanapun Annisa juga berharap besar pada Gio.


Menutup pintu kamar Annisa, Safira membiarkan Annisa langsung membaringkan dirinya di atas ranjang. Malah Safira juga membantu Annisa untuk menggunakan selimutnya yang hangat dan lembut.


"Jika Kakak mengantuk maka tidurlah." Suara Safira seraya mendudukkan dirinya di atas kursi meja rias Annisa.


Annisa tidak mengatakan apapun sebagai respon, ia malah memilih memejamkan matanya dengan damai. Mencoba bekerja keras untuk menutup matanya agar perasaan tidak nyaman di hatinya segera lepas dan menghilang. Tapi rasanya begitu sulit dan melelahkan, Annisa tidak bisa memejamkan matanya lagi.


"Apa Kakak percaya pada takdir Allah?" Tanya Safira mencari topik, mengerti akan ketidak berdayaan Annisa yang begitu sulit tidur.


Menatap langit-langit kamarnya yang terlihat samar, "Aku percaya pada takdir Allah." Jawab Annisa yakin tanpa merasakan keraguan pada hatinya.


"Kenapa Kakak mempercayai takdir?"


Tersenyum lembut, "Karena aku mempercayai Allah, Safira." Saat mengatakan ini sejenak pikiran Annisa berkelebat pada perasaan rindunya kepada Allah. Kekasih yang sebenarnya dan Dzat yang Maha Romantis, Annisa begitu rindu pada-Nya.


"Meskipun kau mendapatkan masalah seperti kegagalan pernikahan mu, apa kau yakin takdir itu adalah sesuatu yang nyata?"


"Safira, kegagalan pernikahan yang menjadi masa lalu ku adalah bagian dari skenario-Nya. Bahkan dulu saat Mas Dimas datang melamar ku ada perasaan yang tidak nyaman pada saat itu, aku yakin perasaan itu datangnya dari Allah. Allah memberi tahu ku bahwa bersama dengan Dimas bukanlah yang terbaik dan aku merasakannya. Aku merasakan jika aku menerima Dimas maka mungkin jalan yang akan ku lewati adalah jalan penuh duri dan kerikil yang tajam, namun jika aku tidak menerimanya mungkin kebahagiaan ku sudah lama datang. Dan yah, seperti yang kau lihat Safira, ternyata jalan ku memang tajam dan tidak mudah untuk dilalui." Suara lembut Annisa menjelaskan tentang perasaan yang ia rasakan ketika menerima Dimas dulu. Perasaan tidak nyaman dan gelisah yang langka membuat Annisa pada saat itu berpikir bahwa mungkinkah ini adalah pertanda bahwa Allah tidak menginginkan Annisa menerima Dimas?


Dan yah, dalam satu malam perasaan tidak nyaman itu memang terbukti bahwa Dimas bukanlah laki-laki yang baik untuknya. Mereka berdua bukanlah orang yang ditakdirkan untuk hidup bersama.


Mengangguk pelan, "Safira mengerti." Suara Safira seraya memperhatikan mata Annisa yang perlahan meredup dan tertutup. Lalu tubuh rampingnya yang tertutupi selimut kemudian bergerak teratur dan memberikan kesan bahwa Annisa sepertinya memang sudah tertidur.


Safira lega setelah melihat Kakaknya tertidur dengan nyaman.


Bangun dari duduknya ia kemudian dengan langkah hati-hati membuka pintu kamar Annisa, keluar dari sana dengan hati-hati pula ia menutup kamar Annisa.


Sunyi, tidak ada lagi suara dari pihak lain kecuali suara pernafasan teratur dari Annisa. Perlahan mata yang terpejam tadi akhirnya terbuka lebar, mengeluarkan cairan bening dan hangat yang sedari tadi ia tahan kemunculannya.


Meringkuk, ia kemudian memeluk dadanya dengan mata sendunya yang sudah basah oleh cairan hangat yang terus saja mengalir.


"Tapi tetap saja rasanya begitu sakit..hiks.."


                                      ***


"Ini aku, Safira."  Suaranya malas seperti biasa.


"Ah..jadi kau sudah pulang, lalu bagaimana dengan keadaan Annisa sekarang.. apakah ia baik-baik saja?" Orang yang ada di seberang sana bertanya dengan suara canggungnya yang terdengar jelas.


Tersenyum tipis, "Kau baru menanyakannya sekarang?, Puspa kemana saja simpati mu saat mendorong Kakak ku jatuh?" Melangkah pelan, mata tajam Safira jatuh pada pemandangan taman yang ada di depannya. Menarik tirai lebih jauh lagi dari sisi jendela, Safira tidak ingin tirai tipis ini mengganggu pandangannya.


Meneguk ludahnya kasar, "Aku minta maaf, aku tahu bahwa aku salah." Suaranya terdengar tertekan.


Tersenyum dingin, "Tidak berguna sama sekali, maaf mu tidak punya arti apapun untuk ku." Ucap Safira sarkas. Bahkan jika gadis ini sampai jatuh bersujud di hadapannya kata maaf tidak akan pernah jatuh sampai menyentuh relung hatinya.


"Aku tahu kesalahan ku tak kan pernah dapat ditoleransi, tapi ma-"


"Jangan katakan apapun lagi karena yakinlah aku tidak pernah perduli dengan apa yang kau ucapkan. Saat ini aku menghubungi mu karena ingin memastikan kedatangan mu besok siang. Adapun jika kau ingkar aku juga tidak akan perduli karena rekaman suara mu masih ada di dalam genggaman tangan ku. Aku tidak akan merugi sekalipun kau melarikan diri." Bahkan jika Puspa melarikan diri atau mengelak, Safira sesungguhnya tidak akan dirugikan sama sekali karena bukti suaranya masih ada di tangannya jadi mengapa harus takut?


"Aku tahu Safira, aku tahu. Melarikan diri tidak pernah sama sekali terbesit dalam pikiran ku jadi percayalah besok aku akan ikut menjadi saksi di acara mu. Aku berjanji demi Allah, Safira." Walaupun hatinya sempat menghitam akan tetapi itu dulu, ketika hatinya ditutupi oleh kasih sayang pertemanan. Dan sekarang, semuanya tidak akan pernah terjadi lagi karena ia akhirnya sadar bahwa apa yang telah ia lakukan dulu adalah sebuah perbuatan yang tidak akan pernah termaafkan. Puspa begitu menyesali perbuatannya.


Mengangkat bahunya acuh, "Maka aku akan melihatnya." Safira tidak mengiyakan ataupun meragukan sumpah Puspa. Ia hanya ingin bukti maka dari itu ia mengatakan hal ini. Adapun benar atau tidaknya janji yang Puspa katakan maka biarkan Safira melihatnya besok.


Betapa melelahkannya, Safira pikir semua ini harus segera di akhiri sesegera mungkin.


Hem, akhiri semuanya.


                                     ***


Paginya, suasana kediaman keluarga Annisa begitu ramai dan sibuk. Bahkan kehadiran Annisa yang baru pulang semalam tidak banyak yang menyadarinya, ah.. mungkin lebih tepatnya mereka tidak perduli sebenarnya.


Memperhatikan gamis yang begitu cantik dan anggun di cermin depannya, Annisa tidak yakin jika gadis cantik yang ada di sana adalah dirinya sendiri.


"Kak Annisa begitu cantik, Safira jadi iri melihat Kakak sekarang." Gumam Safira yang juga sedang menatap Annisa.


Merasa tidak percaya diri, "Tapi Safira, bukankah pakaian ini sedikit berbeda dengan pakaian mu dan Saqila, apa tidak apa-apa?" Dalam acara lamaran biasanya gadis yang dilamar akan memakai pakaian yang sedikit berbeda dari keluarga dan saudara-saudaranya. Akan tetapi hari ini justru berbeda, Saqila yang mendapatkan lamaran terlihat cukup sama pakaiannya dengan Safira sedangkan ia sendiri berbeda dari Saqila dan Safira.


Jadi sebenarnya di sini yang dilamar siapa, Annisa atau Saqila?


Mengangguk santai, "Tidak apa-apa kok Kak, lagipula yang Mas Gio lamar masih belum jelas bukan? Yah, bisa saja itu adalah Kakak dan bukan Saqila." Di sini kedatangan Gio masih belum jelas bagi keluarga Annisa, apakah datang melamar atau karena apa?


Jikapun mereka datang melamar maka satu-satunya orang yang berhak dilamar bagi keluarga Annisa adalah Saqila.


"Yah..tapi aku tidak yakin." Karena kualifikasi apa yang Annisa punya sehingga membuat Gio menetapkan nama Annisa di dalam hatinya?


Annisa pikir ia tidak punya apa-apa untuk menarik perhatian Gio.


Tersenyum maklum, Safira mengerti jika kepercayaan diri Annisa perlahan terkikis sejak kegagalan pernikahannya. Yah, wajar saja Annisa bersikap setakut ini.


"Maka kita akan melihatnya nanti." Gumam Safira dengan suara lirih. Menarik tangan Annisa keluar dari kamar, dengan hati-hati ia membimbing Annisa menuruni tangga.


Di bawah sudah mereka temukan beberapa keluarga yang sedang sibuk menata makanan prasmanan dan bunga-bunga cantik yang menjadi dekorasi sederhana namun terlihat begitu anggun.


"Kak Annisa?" Terkejut, Saqila menatap takjub juga cemburu pada pakaian yang Annisa kenakan. Begitu cantik dan terlihat anggun. Mengapa tadi malam ia tidak menemukan pakaian secantik ini saat Mbak Yana datang dengan barangnya?


Lagipula yang akan lamaran adalah dia tapi mengapa pakaian Annisa berbeda dengannya dan Safira?


Ini seakan Annisa yang dilamar oleh Gio saja.


"Yah, ada apa Saqila?" Canggung, Annisa tidak begitu nyaman di sini karena beberapa orang hanya menatapnya tanpa menyapanya seperti yang Saqila lakukan kepadanya.


"Aku ke Umi sebentar yah, Kak." Pamit Safira yang langsung diangguki oleh Annisa dengan cepat.


"Ah..tidak.. tidak ada apa-apa." Dengan susah payah Saqila menahan mati-matian kemarahannya pada Annisa.


Seharusnya yang menjadi pusat perhatian di sini adalah dirinya dan bukan Annisa! Tapi mengapa saudara sialannya ini begitu pamer dan sok cantik!


"Ah.. begitu." Annisa bingung mencari topik apa yang akan mereka berdua bicarakan.


"Lalu dimana Puspa, Saqila? Apakah ia tidak datang?" Sahabatnya ini belum pernah ia temui selama beberapa bulan dan meninggalkan kerinduan yang dalam bagi Annisa.


Mengingat Puspa yang juga sudah lama tidak bertemu dengannya, "Ah, dia pasti datang..cuman mungkin sedikit terlambat."


"Apakah dia ada urusan?" Annisa khawatir jika sesuatu terjadi pada Puspa.


Merasa bingung, Saqila juga berpikir jika sikap Puspa kepadanya beberapa waktu ini sedikit berbeda dari biasanya. "Entah-"


"Ya Allah, Saqila! Kamu teh cantik pisan." Tiba-tiba suara bersemangat seorang gadis menginterupsi percakapan mereka.


Mengalihkan pandangannya, Saqila dan Annisa sudah menemukan sepupu mereka yang baru datang dari kota sebelah yang memang cukup jauh dari rumah mereka.


"Hei Kayla, lama tidak bertemu. Tidak bertemu dengan mu satu tahun menciptakan perubahan besar pada penampilan mu." Saqila menyambut kedatangan Kayla yang sudah terlihat sedikit berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Ia kini terlihat lebih cantik dan dewasa dari satu tahun yang lalu.


"Ahaha.. yang mengalami perubahan besar itu siapa, aku atau kamu? Satu tahun tidak bertemu tahu-tahu kamu sudah lamaran saja. Huh, kalah start aku nih dari kamu." Mendengar tentang acara lamaran Saqila hari ini membuat Kayla dan keluarga yang ada di kota sebelah benar-benar terkejut sekaligus tidak menyangka.


Bagaimana tidak terkejut karena kabar yang mereka dapatkan begitu mendadak dan tiba-tiba.


"Merasa keberatan?" Canda Saqila begitu senang dengan kedatangan Kayla yang tiba-tiba terdengar seperti merajuk.


Melirik Annisa yang sedari tadi diam dengan terang-terangan, "Aku sih tidak keberatan asalkan niat mu menikah itu suci, bahkan tubuh mu pun masih terjamin suci maka semuanya akan baik-baik saja. Tidak seperti seseorang yang begitu tidak tahu diri, menikah dengan laki-laki yang baik bukannya memberikan kesuciannya malah ia memberikan suaminya bekas orang. Haduh Saqila, kamu jangan sampai seperti orang itu! Itu mengerikan kau tahu, bagi kami seseorang itu lebih pantas di panggil monster daripada manusia." Dengan halus dan terang-terangan ia menyindir Annisa yang hanya berdiri diam mendengarkan dan tidak bersuara.


Pura-pura tidak tahu, "Apakah aku terlihat seperti monster itu? Katakan bagian mana dari diriku yang terlihat seperti monster itu?" Tanya Saqila mengikuti permainan yang Kayla buat. Bahkan wajah polos ingin tahunya benar-benar menipu semua orang.


"Saqila..aku..aku ingin ke dapur dulu jadi berbincang-bincanglah dengan Kayla dulu." Suara canggung Annisa memasuki obrolan mereka.


Mendapatkan anggukan dari Saqila, Annisa dengan sekuat tenaga tetap menjaga senyuman lembutnya seraya membawa langkahnya berjalan menjauhi Saqila dan Kayla yang sedang asik berbincang.

__ADS_1


Bahkan rasa sakit yang terus menerus menekan hatinya begitu perih dan menyesakkan, sesungguhnya Annisa kuat menahannya. Saat ini ia hanya ingin masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu dan melepaskan rasa sakit yang ia rasakan melalui sebuah tangisan diam-diam.


Bahkan meski Kayla menyamarkan siapa sosok yang ia bicarakan Annisa dapat dengan jelas dapat mengetahui bahwa orang itu adalah dirinya, monster sok suci yang mereka benci.


"Bahkan meskipun monster itu menjijikkan tapi orang yang menceritakan dan menyebarkan aib monster itu bukankah lebih menjijikkan?" Tiba-tiba suara main-main Safira memasuki pendengaran Saqila dan Kayla yang sedang asik berbincang-bincang.


Tertegun, mereka kemudian mengalihkan perhatian mereka pada Safira yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka sambil memegang segelas susu yang masih hangat.


"Maksudnya?" Tanya Kayla tidak mengerti. Sebenarnya tidak seperti Saqila, Kayla malah begitu canggung saat berbicara dengan Safira. Safira adalah seseorang yang begitu sulit untuk diajak bicara maka dari itu Kayla tidak terbiasa dengan Safira.


Tersenyum tipis, ia kemudian berjalan mendekati Saqila dan Kayla. "Kita ini sama-sama pernah belajar agama jadi jangan bersikap seolah kamu tidak pernah mempelajarinya. Kayla, hal yang paling dasar kita pelajari dari agama adalah bahwa Allah begitu membenci orang yang suka menyebarkan aib orang lain. Bahkan sampai membicarakannya seolah-olah itu adalah topik yang menyenangkan, Allah benci dengan sifat orang yang seperti ini. Jadi saran ku adalah belajar untuk tidak bersikap seperti ini lagi kepada yang lain karena apa kau tahu dihukum Allah itu rasanya begitu... menyakitkan." Tersenyum dingin, ia kemudian membawa langkahnya berjalan kembali mengikuti jejak Kakaknya pergi.


Bungkam, Kayla tidak tahu harus merespon apa dan hanya bisa tersenyum tipis sebagai tanggapan. Bohong bila ia mengatakan jika tidak ada apa-apa yang ia rasakan setelah mendengar ucapan Safira. Ia ketakutan dan menjadi khawatir jika Allah benar-benar marah dan benci padanya. Karena jika iya maka ia tidak tahu harus kemana lagi mencari bantuan.


"Ah..maklumi saja Safira." Ucap Saqila mencoba mencairkan suasana.


                                      ***


"Ini, minum susu Kakak mumpung masih hangat." Serah Safira seraya mendudukkan dirinya di samping Annisa.


"Ah, terimakasih Safira." Tersadar, ia kemudian dengan cepat mengambil alih susu hangat tersebut dari tangan Safira.


Mengucapkan basmalah, Annisa dengan hati-hati menyesap susu hangat tersebut ke dalam mulutnya.


Diam, tidak ada yang bersuara di antara mereka berdua. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing sehingga untuk berbicara saja rasanya begitu enggan.


Di posisi Annisa, ia masih merasakan kalut setelah mendengar percakapan Saqila dan Kayla yang begitu tajam untuknya sehingga menyebabkan suasana hatinya menjadi buruk dan down.


Di posisi Safira, ia begitu jelas dapat merasakan suasana tidak nyaman Annisa setelah mendengar percakapan Saqila dan Kayla. Jadi untuk menjaga suasana hatinya yang sedang tidak baik Safira memutuskan untuk diam dan memilih memandangi orang-orang yang sibuk lalu lalang memeriksa persiapan.


Tiba-tiba sedang asik-asiknya menyelami pikiran masing-masing, seseorang berlari dengan tergesa-gesa dan memberi tahu bahwa keluarga Gio sudah datang.


"Ayo, Kak." Ajak Safira seraya bangun dari duduknya.


Ragu, "Tidak Safira, Kakak pikir duduk di sini lebih nyaman daripada mengganggu suasana baik hati orang." Annisa tahu bahwa keluarganya masih tidak menyukai keberadaannya meskipun mereka tahu bahwa ia baru pulang setelah beberapa bulan menghilang.


Menggeleng, "Apa Kakak lupa dengan janji yang Kakak buat kepada Mas Gio?" Peringat Safira kepada Annisa. Untuk apalagi Gio datang ke sini kecuali untuk meminta bayaran yang Annisa janjikan kepadanya.


Khawatir, "Apakah.. apakah Mas Gio datang untuk menagihnya?"


"Apalagi selain untuk ini?" Jawab Safira singkat.


"Tapi bukankah ia datang ke sini untuk melamar Saqila?" Lagipula mengapa harus membawa rombongan keluarga jika hanya untuk menagih bayarannya.


Masih sabar, "Apa Mas Gio mengatakan seperti ini saat ingin berkunjung?"


"Aku pikir..tidak pernah." Jawabnya ragu.


"Lalu mengapa Kakak yakin jika ia datang ke sini untuk melamar Saqila?" Gemas Safira pada keluguan Kakaknya.


"Tapi..mengapa harus membawa keluarga besarnya ke sini jika bukan karena untuk-"


"Untuk menagih janji mu, jika kau tidak percaya maka kau harus ikut dengan ku." Putus Safira seraya menaruh gelas tersebut di atas meja dan menarik tangan Annisa mengikuti langkahnya menuju kerumunan keluarga yang terlihat begitu antusias.


                                       ***


"Waalaikumussalam, mari silahkan masuk." Abi menyambut salam mereka dengan suasana hati yang begitu baik. Bahkan tanpa bertanya lebih lanjut tentang perihal kedatangan mereka Abi langsung mempersilakan mereka masuk.


Membawa mereka ke dalam ruangan yang sudah ditata rapi dan indah, dengan kebiasaan ciri khas orang Indonesia mereka kemudian mendudukkan diri mereka di karpet biru yang sudah digelar di atas lantai. Menampilkan berbagai macam corak dan keindahan karpet ini seolah memberikan kesan betapa berbedanya suasana hari ini.


"Silahkan, minum dan cicipi makanan ringan yang sudah dibuat dengan sepenuh hati oleh keluarga kami." Kemudian Umi mengirimkan beberapa makanan ringan yang sudah mereka buat dengan kerja keras sampai larut malam.


Keluarga Gio tidak sungkan, mereka dengan sikap yang sopan menyesap minuman yang sudah tuan rumah susah payah siapkan untuk mereka.


Dengan emosi yang sedang meluap-luap, keluarga Annisa mengedarkan pandangan mereka pada seluruh keluarga Gio yang datang ke sini. Memberikan tatapan penasaran dan menilai bahwa siapakah laki-laki yang berhasil menaklukkan hati Saqila. Karena bagaimana mereka tidak penasaran bahwa beberapa bulan yang lalu Saqila selalu menolak laki-laki yang mendatanginya dengan alasan Annisa harus bahagia dulu. Tapi hari ini tiba-tiba pendiriannya berubah dan mau menerima laki-laki tersebut, bukankah ini berarti bahwa laki-laki itu adalah sosok yang hebat sehingga mampu mencuri perhatian Saqila?


"Saqila, jadi tunjukkan aku siapa yang bernama Gio diantara pemuda-pemuda itu." Bisik Kayla yang juga sibuk mengedarkan pandangannya diantara pemuda-pemuda pihak keluarga Gio yang sedang serius menikmati makanan ringan yang tersaji di depan mereka.


Balas berbisik, "Dia belum datang, sepertinya akan sedikit terlambat." Memang Gio masih belum terlihat batang hidungnya di sini, mungkin ia akan sedikit terlambat.


"Astaga aku pikir-"


"Assalamualaikum, maaf saya sedikit terlambat." Tiba-tiba sosok pemuda tampan yang tinggi dan menarik perhatian mengalihkan perhatian semua orang.


Bagi keluarga Gio yang sudah biasa pada sosok ini mereka hanya sekedar melihat lalu sedetik kemudian kembali fokus pada kegiatan mereka semula.


Tapi ini berbeda dengan keluarga Annisa yang belum pernah melihat sosok pemuda ini, begitu melihatnya perhatian mereka seakan terpaku pada sosok ini.


Betapa tampannya!


"Jangan bilang bahwa laki-laki ini adalah Gio?" Bisik Kayla cemburu bercampur tidak rela. Hei, laki-laki setampan ini ia pun juga mau mendapatkannya!


Ah, betapa tidak adilnya!


Bangga dengan calon suaminya, "Hem, ini Mas Gio, calon suamiku." Suara Saqila pamer yang langsung direspon ekspresi tidak rela oleh Kayla.


Yah, tentu saja ia akan memilih menikah dengan laki-laki ini karena jika dilihat dari sisi manapun laki-laki ini terlalu sempurna, ah!


"Acaranya sudah mau dimulai." Bisik Puspa tanpa melirik dua orang yang sedari tadi berbisik ria.


Terkejut, "Puspa..sejak kapan kau ada di sini?" Tanya Saqila terkejut ketika melihat bahwa Puspa kini sudah terduduk manis di sampingnya.


"Baru saja." Jawab Puspa singkat lagi-lagi tidak melirik Saqila yang sudah menatapnya shock.


"Ta-"


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," Kemudian acara ini benar-benar dimulai dengan suasana yang sunyi namun khidmat.


"Kedatangan kami ke sini bertamu adalah untuk mengantarkan anak kami, Muhammad Gio Rafadillah untuk meluruskan urusannya bersama salah satu putri kalian yang berhasil menarik perhatiannya. Adapun selanjutnya kami serahkan kepada Gio untuk menjelaskan maksud kedatangannya." Setelah itu tetua dari keluarga Gio menyerahkan langkah selanjutnya kepada Gio yang sudah terduduk manis di antara Umi dan Abinya.


Sunyi, fokus semua orang benar-benar terpaku pada Gio yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya.


Beberapa detik kemudian Gio mulai mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah tampan yang tajam dan terlihat meneduhkan hati. Mata hitamnya yang pekat dan bersih mengedar menatap sekeliling.


Lalu, pandangan tajamnya kemudian berhenti pada sosok gadis cantik yang kebetulan juga sedang menatapnya. Mata mereka bertemu, hanya beberapa detik dan gadis itu kembali menundukkan kepalanya. Menyembunyikan wajah cantik kemerahan yang pemalu dan menyenangkan mata membuat Gio tidak bisa tidak menahan nafasnya sabar.


"Kedatangan ku ke sini adalah untuk menagih janji salah satu putri kalian yang sudah mengganggu tidur ku selama beberapa hari ini."


Terdengar suara bisikan-bisikan rasa penasaran dan tawa kecil yang menghidupi suasana sunyi tadi. Mereka pikir alasan Gio ini terlalu lucu dan terkesan menjadi laki-laki yang humoris.


"Apa kau pernah menjanjikan sesuatu pada Mas Gio?" Bisik Kayla penasaran.


Merenung, Saqila berpikir dengan keras apakah ia pernah menjanjikan sesuatu kepada Gio. Namun, sekuat apapun ia mencoba untuk berpikir ia masih saja tetap tidak menemukan apapun. "Aku pikir mungkin tapi aku tidak mengingatnya." Bisik Saqila terdengar linglung.


Berbeda dengan keributan yang terjadi, Annisa justru merasakan dadanya berdegup kencang. Meninggalkan rasa gugup dan gelisah yang datang secara bersamaan di dalam hatinya. Bahkan tanpa sadar tangan halusnya yang yang sudah bergetar tidak terkendali merekat kuat tangan Safira yang sedari tadi menggenggam tangannya.


"Kak Annisa, tolong jangan lupa bahwa kau pernah berjanji kepada Mas Gio untuk membayar kebaikannya." Safira berbisik jail, begitu puas dengan awal hari ini yang semakin menambah semangatnya mengakhiri semua ini.


"Aku..aku masih belum menyiapkan hadiah untuk membayarnya. Safira katakan apa yang harus Kakak lakukan untuk membayarnya?" Panik Annisa karena teringat bahwa ia belum sempat menyiapkan apapun untuk membayar kebaikan Gio.


"Kakak tidak perlu khawatir tentang hadiahnya karena Kakak sendiri adalah apa yang Mas Gio inginkan. Ingat, Mas Gio berpesan bahwa ia akan datang berkunjung ke sini dan jika ia benar-benar datang berkunjung maka Kakak harus mengiyakan apa yang Mas Gio pinta nanti."


Tertegun, wajah cantik Annisa yang masih tertunduk terasa panas dan menghangat. Ia yakin bahwa wajahnya saat ini pasti terlihat begitu merah dan memalukan.


"Aku tidak mengerti.." Tentu saja ini bohong, Annisa memang mengerti apa yang Safira maksud namun ia masih ragu apakah yang ia pikirkan sama dengan apa yang Safira pikirkan juga.


"Jangan berbohong Kak, aku tahu jika kau mengerti apa yang ku maksud." Bisik Safira tepat sasaran yang semakin membuat Annisa merona.


"Ia berjanji akan memenuhi apa yang ku pinta jika aku datang berkunjung ke sini. Dan sekarang aku telah datang berkunjung ke sini bersama keluarga besar ku, aku harap putri kalian dapat memenuhi janjinya." Lanjut Gio setelah mencoba menenangkan kegugupannya.


"Annisa, hari ini aku datang untuk menagih janji mu satu hari yang lalu. Di depan gerbang pondok pesantren kau telah berjanji kepada ku untuk mengabulkan segala keinginan ku jika aku datang berkunjung ke rumah mu. Sekarang kedatangan ku ke sini adalah untuk melamar mu dan menjadikan mu sebagai istri serta Ibu dari anak-anak kita nanti." Mengambil nafas panjang.


"Kau harus menerima lamaran ku, ini adalah tagihan ku." Lanjut Gio tenang berhasil membuat semua orang tercengang.


Lamaran macam apa ini?


Bukankah ini namanya pemaksaan?


Lagipula yang seharusnya dilamar di sini adalah Saqila dan bukannya Annisa, tapi mengapa justru lamaran ini jatuh pada Annisa?


Sejenak, ruangan itu menjadi sunyi. Sunyi lebih tepatnya karena pihak keluarga Annisa yang masih tidak bisa mengatakan apa-apa.


Bahkan, Saqila yang menjadi pemeran utama di sini tidak bisa menahan kemarahannya dan rasa malu yang ia dapatkan dari acara sialan ini.


Sial, lebih tepatnya semua kekacauan ini terjadi karena janda pembawa sial itu ada di sini.


Bersambung...


Pestanya part selanjutnya 😘

__ADS_1


__ADS_2