Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Lamaran itu Pesta?


__ADS_3

رَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِكُمْ ۗ 


"Tuhanmu lebih mengetahui tentang kamu."


(QS. Al-Isra' 17: Ayat 54)


                                     ***


"Nak, kamu benar-benar laki-laki sejati." Bisik Abi ke telinga Gio yang sudah memerah menahan malu. Mendengar kebanggaan Abi terhadapnya Gio dengan bangga pula menegakkan duduknya, memperlihatkan betapa kokohnya badan yang tegap lagi membuat iri itu.


"Gio, Umi pikir lamaran mu ini terlalu memaksa?" Bisik Umi menahan malu yang langsung membuat down semangat Gio.


Ini bukanlah sebuah paksaan akan tetapi suatu usaha untuk meraih masa depan, ah!


Batuk, "Nak Dimas, mungkin.. mungkin di sini terjadi kesalah pahaman. Putri kami yang seharusnya kamu lamar bukankah ini adalah Saqila?" Abi mencoba menerangkan kesalahpahaman yang Gio katakan.


Menetapkan keteguhan hati dan maksud kedatangannya, "Tidak Pak, tidak ada kesalahpahaman yang terjadi di sini dan benar bahwa kedatangan aku ke sini adalah untuk melamar Annisa." Teguh Gio yang sekali membuat keluarga Annisa masih belum bisa mengatakan apa-apa.


Terdiam, Abi dan Umi menatap kosong pada Gio yang masih dengan teguh menatap mata Abi yakin.


"Hei, apakah kau bisa menjelaskan semua ini?" Bisik Kayla menuntut. Ia mungkin tidak bodoh untuk tidak bisa mengerti apa maksud yang dikatakan Gio. Hanya saja, mengapa harus Annisa?


Apakah Gio salah memahami bahwa Annisa adalah Saqila?


Jika tidak mengapa Saqila mengatakan kepada semua orang bahwa Gio dan keluarganya akan datang untuk melamarnya?


Apakah ini hanya akal-akalan Saqila saja?, Tapi jika dipikir lebih dalam Saqila bukanlah orang yang seperti itu, justru orang yang berpikiran racun seperti ini lebih cocok untuk Annisa.


Merasakan benci, dengan ekspresi bersalah dan menyedihkan Saqila menatap Kayla yang terlihat begitu penasaran dengan jawabannya. "Aku..aku tidak tahu, Kayla. Aku bingung mengapa Mas Gio tiba-tiba merubah pilihannya." Suara Saqila terdengar linglung dan tidak berdaya.


Hati Kayla rasanya mengiba melihat sepupunya yang lembut dan cantik ini harus merasakan sebuah perasaan tidak berdaya. Ia cukup tahu bahwa kondisi hati juga mental Saqila sedang tidak baik dan yah, bisa dibilang sangat terluka. Ah, pikir saja hati perempuan mana yang terima jika kekasih yang ia tunggu dan cintai datang melamar Kakaknya, hah.. Kayla tidak pernah membayangkan betapa sakitnya itu.


"Hum, aku mengerti." Kayla mengelus punggung Saqila lembut, mengisyaratkan agar Saqila bisa menjadi lebih tenang dan dapat berpikir jernih.


Mengatur nafasnya, Abi melirik Saqila yang kini sedang menundukkan kepalanya bersedih. Jelas sekali bahwa putri keduanya menahan sakit di sana, sebagai seorang Ayah ia tidak tega melihat siksaan yang menimpa putrinya. Lalu, matanya kemudian jatuh pada Annisa yang terlihat begitu berseri-seri bahagia. Wajah cantiknya yang memerah menahan malu memberikan Abi sebuah cerita bahwa putri pertamanya kini sedang dilanda bahagia, sebagai seorang Ayah tentu ia juga bisa dengan lega melihat hal ini. Bahkan saat lamaran pernikahannya dulu Annisa tidak pernah terlihat semalu ini, mungkin hatinya sudah terpaut pada pemuda yang kini ada di depannya.


Tapi, berdiri di antara kesedihan putri kedua dan kebahagiaan putri pertama adalah hal yang tidak pernah ia pikirkan. Bagaimana bisa ada hari dimana kedua putrinya meletakkan harapan pada laki-laki yang sama?


Lantas kebahagiaan siapa yang akan ia pihak?


Mengatur nafasnya lagi, ia mencoba menjernihkan pikirannya. Berdeham, semua bisikan-bisikan simpang siur dari pihak keluarga Annisa akhirnya teralihkan oleh suara Abi. "Begini Gio, ada kesalahpahaman yang terjadi di keluarga kami dan berhubung sudah seperti ini maka aku sebagai kepala keluarga ingin memastikan langsung bahwa kesalahpahaman yang terjadi ini jelasnya seperti apa." Jelas Abi tidak berniat menyembunyikan permasalahan yang terjadi dalam keluarganya. Bahkan jika ia harus membuka privasi keluarganya maka itu tidak apa-apa selama putri-putrinya mendapatkan keadilan.


"Abi, coba pikirkan baik-baik. Ini terlalu privasi untuk pihak keluarga lain tahu." Bisik Umi mengingatkan. Pasalnya ini adalah rahasia terdalam mereka, konflik antara saudara yang tidak biasa adalah hal memalukan yang tidak pernah ingin Umi dengar dari orang lain. Karena tidak nyaman sekali rasanya harus mendengarkan hal buruk ini dari mulut orang lain yang sudah pasti akan menyakiti hatinya sebagai seorang Umi.


Masa lalu Annisa cukup menjadi pengalaman terburuk Umi di mata orang-orang.


"Kita tidak punya pilihan lain, lebih baik masalah ini kita buka saja agar jelas sebenarnya pilihan Gio sedari dulu adalah Saqila atau Annisa. Bukankah kau juga ingin masalah ini tidak membuat Saqila dan Annisa menjadi canggung?" Balas Abi berbisik yang mana dengan paksa di setujui oleh Umi meskipun apa yang dikatakan Abi ada benarnya juga.


"Sebelum kedatangan mu ke sini salah satu putri ku, Saqila telah menjelaskan kepada kami seperti apa hubungan kalian berdua beberapa bulan yang lalu. Jadi Gio apakah kau bisa menjelaskan kepada kami mengapa hari ini tiba-tiba pilihan mu berubah?" Tanya Abi dengan suara beratnya yang jelas dan jernih.


Kali ini yang menjadi sumber suara bisikan-bisikan dan suara kebingungan lainnya bersumber dari keluarga Gio. Mereka bertanya-tanya sejak kapan Gio menjalin hubungan dengan gadis lain?


Tidak, ini bukanlah sesuatu yang wajar bagi keluarga pondok pesantren untuk memulai hubungan sebelum menikah lantas mengapa Gus Gio kepercayaan mereka menjalin hubungan dengan gadis lain?


Mendengar pertanyaan Abi sesungguhnya Gio sudah mengerti sejak awal maksud dari pertanyaan itu. Akan tetapi untuk tidak menimbulkan kecurigaan lebih baik ia bersikap pura-pura tidak tahu saja. "Maaf Pak, ini hubungan apa yang Bapak maksud terjadi antara aku dan Saqila?" Tanya Gio yang sekali lagi membuat keluarga Annisa semakin kebingungan.


Bahkan Saqila yang sedari tadi tertunduk tidak bisa menahan kesedihannya setelah mendengar Gio mempertanyakan hubungan seperti apa yang mereka jalin.


Ragu, "Bukankah itu adalah sebuah hubungan antara kekasih, kau berjanji kepadanya akan segera menikahi Saqila." Abi menjelaskan dengan hati-hati agar Gio dapat memahami maksud yang coba ia katakan.


Pura-pura terkejut, "Apakah benar begitu?" Tanya Gio memastikan kepada Abi dan langsung diangguki.


"Saqila... sejujurnya aku dan dia memang mempunyai hubungan. Akan tetapi hubungan yang terjadi di antara kami adalah hanya sebatas guru dan murid. Satu tahun yang lalu Saqila pernah menjadi salah satu murid ku di pondok bambu dan itu hanya beberapa bulan saja karena satu tahun yang lalu aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Adapun hubungan sepasang kekasih yang Bapak maksud saya tidak tahu apa-apa tentang ini. Aku tidak pernah menjalin hubungan yang romantis dengannya ataupun dengan orang lain sebelum terikat pernikahan karena itu dilarang oleh agama. Bahkan menjanjikan sebuah pernikahan saja untuknya aku tidak pernah karena bagiku Saqila adalah sebatas murid untuk ku." Jelas Gio yang langsung membuat suasana menjadi hening.


Abi dan Umi yang sedari tadi mendengarkan dengan jelas dan jernih di depan pemuda ini tidak bisa merespon apapun. Mereka tidak bisa mengatakan apapun karena pikiran mereka dibawa melayang pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Hari dimana Saqila dengan sebuah tangisan yang memilukan mendatangi mereka berdua. Ia menangis dan terlihat begitu teraniaya di depan mereka berdua dan mengatakan bahwa Annisa telah mencoba menggoda calon suaminya, Gio.


Timbul sebuah pertanyaan di kepala mereka berdua, hari itu mengapa Saqila tiba-tiba mengakui bahwa Gio adalah calon suaminya?


Mengapa Saqila dengan kepercayaan diri yang tinggi menuduh Annisa telah menggoda kekasihnya?


Umi dan Abi tahu kesimpulannya namun mereka begitu takut untuk mengucapkannya di bibir, karena Saqila sama sekali tidak terlihat seperti itu.


"Kenapa harus Annisa?" Tiba-tiba terdengar suara pahit Saqila memasuki pendengaran mereka.


Saqila mengangkat kepalanya, memperlihatkan wajah cantiknya yang lembut dan halus sudah berubah warna. Itu terlihat begitu pucat dan rapuh.


Memandang lurus Gio, Saqila tidak terima jika gadis yang masih suci dan terhormat seperti dirinya harus kalah oleh janda kotor dan hina itu.


Ia tidak terima!


"Kenapa harus Annisa? Bukankah aku saja sudah lebih dari cukup?" Tanyanya mengulangi lagi. Bahkan ia sudah tidak perduli kehilangan wajah dihadapan semua keluarganya karena yang ia mau hanya sebuah keadilan!


Ia ingin Gio adil terhadap dirinya dan mengenyahkan Annisa dari pandangannya.


Menatap balik, tidak ada ekspresi simpati yang lembut di kilatan mata tajam Gio. Ini adalah ekspresi ketika ia bertemu dengan orang asing.


"Karena hati ku sepenuhnya adalah miliknya." Hatinya sudah lama dimiliki oleh Annisa. Bahkan sudah sejak dari awal mereka bertemu hatinya sudah milik Annisa sepenuhnya.


Tidak terima, "Mas Gio harus memikirkannya dengan baik-baik apakah pilihan yang Mas Gio ambil adalah yang terbaik atau tidak. Karena jika dilihat baik-baik antara Saqila dan Annisa pilihan terbaiknya adalah Saqila sendiri." Tentu saja yang akan menang adalah dirinya karena jika dilihat dari sisi manapun Saqila lebih unggul dibandingkan dengan Annisa.


Ia masih gadis dan belum pernah disentuh, bahkan di depan semua orang ia begitu dikagumi dan dihormati. Jadi mengapa Gio tidak memperhitungkan hal ini kepadanya?


Karena yah.. Annisa adalah seorang janda dan kotor, bagi semua orang ia tidak ada bedanya dengan gadis-gadis diluar sana yang begitu murah dan rendah.


Menyedihkan.


"Pilihan terbaik adalah kamu?, Katakan kualifikasi apa yang menyebabkan Saqila berpikir bahwa Saqila adalah pilihan terbaik untuk ku?" Begitu percaya diri, Gio tidak pernah berharap bahwa Saqila begitu berani menampilkan sisi rendahnya di sini. Bahkan setelah mendengar cerita yang Safira sampaikan kepadanya Gio sebenarnya begitu sulit mempercayai bahwa gadis selembut Saqila ternyata menyimpan duri yang beracun dibalik topeng lembutnya.


Tapi hari ini semua keraguannya langsung terjawab setelah melihat sikap Saqila yang seperti ini. Bahkan Annisa yang orang-orang tuduh menjadi wanita yang tidak benar tidak pernah bersikap seperti ini.


"Saqila, hentikan, Nak. Tidak baik bersikap seperti ini-"


"Biarkan Umi, biarkan semua orang tahu bahwa Saqila lebih baik dari Annisa." Hari inipun ia begitu berani memotong ucapan Uminya. Tentu saja hal ini Umi perhatikan karena biasanya Saqila tidak berani melakukan sikap sekasar ini. Ia akan bersikap lembut dan sangat menghormati Abi dan Umi sebagai orang tua yang sudah berjasa besar melahirkan dan membesarkannya.


Jadi, mengapa putri mereka bisa bersikap seperti ini?


Apakah karena kemarahannya yang masih tidak bisa terbendung?


"Saqila adalah gadis yang masih suci dan belum menikah, jadi wajar saja Saqila lebih cocok bersama dengan Mas Gio. Sedangkan Kak Annisa, ia adalah seorang janda yang diceraikan dalam beberapa jam pernikahannya. Apakah Mas Gio tidak pernah bertanya-tanya mengapa Annisa diceraikan seperti itu oleh mantan suaminya yang dulu? Atau apakah Mas Gio tidak pernah mempermasalahkan tentang status Kak Annisa yang tidak cocok untuk Mas Gio?" Suara jernihnya yang lembut sekali lagi bergema di ruangan itu. Ia merobek topeng Annisa dan menghidupkan kembali rasa sakit yang Annisa coba lupakan. Bahkan rasa malu dan perasaan kurang percaya dirinya kembali menguasai Annisa.


Ia malu pada keluarga Gio dan keluarganya karena masa lalu hitamnya yang begitu kelam dan kejam membuat Umi dan Abi pasti tertekan. Ia takut jika keluarga Mas Gio memandang sebelah mata keluarganya hanya karena ketidak beruntungnya dalam berumah tangga.


Annisa tidak ingin keluarganya bahkan kedua orang tuanya dipandang rendah seperti itu.


Annisa tidak ingin.


Akan tetapi Annisa lupa jika sebenarnya masalah ini sudah diketahui oleh keluarga besar Gio. Bukan hanya keluarga besarnya saja akan tetapi orang-orang yang ada di pondok pesantren pun sudah tahu tentang hal ini dan mereka semua juga sudah tahu kebenaran dibalik semua cerita-cerita itu. Kemarin saat Annisa dan Safira pulang pihak keluarga pondok pesantren langsung mengklarifikasi masalah itu dihadapan semua warga pondok pesantren. Bahkan Dea yang menjadi dalang pun ikut bersaksi tentang kebenaran rumor tersebut sehingga ia bisa diizinkan kembali untuk tinggal di pondok pesantren itu.


Jadi kesimpulannya, keluarga Gio tidak mempermasalahkan hal ini meskipun rumor itu benar. Karena urusan baik atau tidaknya seseorang biarkan Allah yang menentukan. Mereka hanya menjalani dan berdoa agar langkah yang mereka ambil dapat diridhoi oleh Allah SWT.


"Jadi apa bedanya jika Annisa janda dan kamu tidak?" Suara tenang Gio memenuhi saraf tegang semua orang yang sedari tadi asik mendengarkan.


Bahkan Pak Kyai dan Umi Gio malah menyempatkan diri untuk memakan makanan ringan yang ada di depannya. Seakan-akan ketegangan ini adalah sesuatu yang biasa bagi mereka.


"Ini tidak seperti kamu lebih baik darinya. Dan untuk pembuktian bahwa ia tidak suci lagi hal ini tidak bisa aku katakan sekarang karena kami masih belum menikah. Tunggu sampai aku menikah dan jawaban yang kau inginkan akan segera aku katakan secara jujur dan tanpa menyembunyikan apapun darimu."


Tercengang, sekali lagi semua orang dibuat terkejut oleh Gio. Bagaimana mereka tidak tercengang bahwa hal seperivasi ini dikatakan dengan gamblang oleh Gio. Yah, walaupun ia sebenarnya ada benarnya juga bahwa keraguan tentang kesucian Annisa hanya bisa dibuktikan setelah mereka menikah.


Akan tetapi tetap saja ini terlalu terbuka, ah!


"Kak, calon suami mu begitu berani. Aku jadi iri...pfft." Bisik Safira menahan tawanya. Ia tidak tahu harus berkata apa bahwa laki-laki seserius Gio juga punya humor yang bagus.


Safira tidak tahu harus tertawa atau menangis untuk Gio yang sedang asik bermain di sana.


"Jangan katakan lagi.." Bisik Annisa malu-malu. Seketika kesedihan yang melandanya tadi langsung tersapu habis oleh jawaban Gio yang begitu singkat dan sedikit...yah mengejutkan.


"Tidak..tidak.. Mas Gio harus percaya padaku bahwa pilihan terbaik adalah bersama ku dan bukan bersama Kak Annisa. Ini..ini sudah terbukti sejak kegagalan pernikahan Annisa yang pertama. Jika Mas Gio tidak percaya maka bertanyalah langsung kepada keluarga ku yang ada di sini.. mereka pasti akan mengatakan yang sejujurnya tentang keburukan Kak Annisa yang tidak Mas Gio ketahui." Bersikeras, Saqila masih tidak mau mengakui kekalahannya. Ia sempurna jadi tidak ada alasan bagi Gio untuk menolak hidup bersamanya. Tapi Annisa penuh cacat dan keburukan lalu mengapa Gio bisa bersamanya?


"Mengapa aku harus bertanya kepada mereka jika jawabannya selalu sama dengan apa yang kamu katakan? Lagipula sekuat apapun kamu meminta ku untuk bertanya jawabannya akan tetap sama, kedatangan ku ke sini untuk meminta Annisa membangun rumah tangga dengan ku dan tidak ada yang lain." Kukuh Gio terlihat begitu tenang dan sabar. Padahal jauh dari dalam hatinya ia sudah berteriak keras ingin sekali mengakhiri kekeras kepalaan Saqila.


Wanita memang keras kepala tapi apakah wajar sampai harus memaksa seperti ini?


Tersentak, senyum tipis Saqila perlahan menghilang dari bibir tipisnya. Memperlihatkan wajah tertegun yang begitu kosong dan tidak berdaya. Mengangkat tubuhnya, ia jadikan lututnya sebagai tumpuan. Membuatnya bisa melihat semua orang yang juga sedang menatapnya kasihan?


Huh, ekspresi macam apa yang mereka lemparkan?


Saqila tidak butuh dikasihani, lagipula ekspresi yang paling ia benci seumur hidupnya adalah tatapan yang sedang mereka layangkan saat ini. Apakah ia begitu menyedihkan sampai membuat mereka begitu angkuh memberikannya tatapan seperti ini.


Kemudian, pandangan kosongnya mengedar ke sembarang arah. Deretan barisan keluarganya yang sedang berbisik-bisik dan sesekali menatapnya simpati.


Bersikap tidak perduli, ia malas menanggapi sikap keluarganya yang begitu menjengkelkan. Mencari-cari akhirnya mata Saqila jatuh pada sosok Annisa dan Safira yang kini juga sedang menatapnya.


Ia melihat Safira yang ada di samping Annisa menatapnya dengan pandangan menonjol.


Ah, lebih tepatnya Safira menatapnya dengan sebuah senyuman kepuasan yang tidak menyenangkan?


Saqila...bingung, ia seperti merasakan jika Safira sedang mengejeknya?


Tapi mengapa?


Tersadar, Saqila kemudian memfokuskan pandangannya pada sosok Annisa yang menatapnya kasihan?

__ADS_1


Hei, betapa lancangnya tatapan sialannya itu!


Orang yang harusnya memberikan tatapan seperti itu sebenarnya adalah Saqila dan bukan Annisa!


Yang dibuang semua orang adalah Annisa dan bukan Saqila, jadi mengapa Annisa begitu besar kepala setelah mendapatkan lamaran dari Gio?


Huh, betapa sombongnya!


"Dia," Menunjuk Annisa dengan jari telunjuknya, Saqila kemudian mengalihkan pandangannya menatap Gio yang masih kukuh sedang menatapnya.


"Apa yang kau lihat dari janda itu?" Lanjutnya bertanya dengan nada bencinya. Terserah, buat apa berpura-pura lagi di depan semua orang. Lagipula mereka juga tahu di sini yang tersakiti siapa, jadi bersikap seperti ini adalah sesuatu yang wajar dalam keadaan putus asa.


Dingin, "Sesuatu yang tidak ada dalam dirimu." Jawab Gio tanpa mengedipkan kepalanya.


Mengangkat alisnya, "Apa yang tidak aku punya dari dirinya?, Ah, mungkin lebih tepatnya dia tidak punya apa yang aku punya." Suara Saqila mencoba terdengar setenang mungkin.


"Aku..aku selalu mengalah ketika seorang laki-laki datang melamar ku, aku selalu menolak kehadiran mereka karena aku ingin dia lebih dulu bahagia. Tapi mengapa? Mengapa ketika aku meminta kebahagiaan ku, dia bersikap egois dan tidak perduli dengan kebahagiaan ku." Suara kepahitan memenuhi ruangan itu. Menarik simpati keluarga Annisa yang lagi-lagi memandang Annisa sebelah mata. Berpikir bahwa gadis ini sebenarnya tidak tahu malu dan terimakasih. Begitu serakah dan abai terhadap kebahagiaan Adiknya. Padahal Saqila sudah berjuang keras untuk membahagiakan Annisa, tapi sayang Kakaknya ini punya perasaan sehingga kebahagiaan Saqila tidak kunjung datang dan hilang arah.


"Maka apa yang kau inginkan akhirnya datang juga, Kakak kita Annisa akhirnya bisa mendapatkan kebahagiaannya. Ia akan menikah dan kau bisa mengejar kebahagiaan mu." Kemudian suara acuh tak acuh Safira menginterupsi bisikan-bisikan tidak menyenangkan dari keluarganya.


Ah, betapa rendahnya.


Tersentak, Safira dengan kaku mengalihkan pandangannya menatap Safira yang kini juga sedang menatapnya. Bahkan posisi duduknya sama persis seperti yang ia lakukan.


"Tapi laki-laki yang ingin ku nikahi direbut olehnya." Tuduh Saqila membela diri. Lagipula itu hanya akal-akalannya saja dulu ketika menolak semua laki-laki yang datang karena pilihan yang ia tunggu masih belum kunjung mendatangi rumah.


Tertawa kecil, Safira kemudian bangun dari duduknya. Ia berdiri di hadapan semua orang yang menatapnya bingung.


"Maaf, aku izin berdiri." Ucap Safira dengan percaya diri seraya memperbaiki pakaiannya yang sempat kusut.


"Safira, apa yang sedang kamu lakukan?" Panik Annisa ketika mendapati Safira sudah bangun saja dari duduknya.


Dan bodohnya mengapa ia tidak menyadari jika Safira sudah bangun dari duduknya?


"Menangkap tikus.." Bisik Safira tapi tetap saja dapat di dengar oleh yang lain.


Hah, drama apalagi ini?


Yang dua saling berebut laki-laki, yang satunya lagi Inging menangkap tikus.


Apakah keluarga ini bermasalah?


"Jika itu merebut Mas Gio darimu bukankah Mas Gio sendiri yang sudah mengatakan bahwa kau dan dia tidak punya hubungan apapun selain sebatas guru dan murid?"


Skak!


Ucapan main-main Safira langsung tepat mengenai sasarannya. Seharusnya ini sudah tepat menusuk target tapi Safira tahu bahwa orang semacam ini tidak akan pernah jera hanya dengan satu kali serangan.


"Apa maksud mu Safira? Kakak.. Kakak tahu Mas Gio memang tidak punya hubungan apapun dengan ku tapi bukan berarti Annisa bisa mendekati orang yang ku sukai." Geram, Saqila tidak tahu apa tujuan Safira seperti ini dan ia juga tidak bodoh tidak bisa mengartikan bahwa Safira sepertinya tahu sesuatu.


Memiringkan kepalanya, ia memberikan Saqila sebuah senyuman tipis..tipis sampai tidak bisa sampai ke mata. "Jadi apa hak mu mengatakan ini?"


"Safira, cukup! Tidak sopan ber-"


"Akan ku tunjukkan kepada Umi dan Abi seperti apa wajah putri yang selama ini kalian banggakan. Kakak ku ini-- ah, tidak, maksud ku monster yang sudah susah payah kalian besarkan ini sudah lama menggigit kalian semua. Meracuni dan menghitamkan hati kalian, yah tanpa kalian sadari tentunya." Potong Safira cepat, bahkan mata tajamnya begitu lurus dan fokus menatap mata merah Umi yang terlihat begitu terkejut.


Dia lancang?


Maka kita lihat siapa yang lebih lancang di sini!


"Safira-"


"Abi, sudah ku katakan bukan bahwa aku akan membuat mu menyesali semua yang telah kau lakukan hari itu. Nah, sekarang adalah waktunya jadi duduk dengan baik dan perhatikan poin apa yang kalian dapatkan dari acara ku." Abi pun tidak diberikan kesempatan untuk berbicara. Bagi Safira, Umi dan Abi hanya perlu duduk dan memperhatikan apa yang ia lakukan karena dengan begitu Safira dapat mengetahui dengan jelas bahwa penyesalan mereka begitu dalam.


Safira sudah tidak sabar melihat itu.


"Safira, mereka adalah kedua orang tua kita jadi sungguh tidak sopan bersikap seperti ini kepada mereka berdua." Ingat Saqila menyempatkan diri untuk mencari wajah dan simpati keluarganya.


Mengangkat alisnya, "Oh, kemana saja kau saat memotong ucapan Umi tadi? Apakah sikap mu yang sekasar itu cukup sopan untuk diberikan kepada orang tua kita?" Tidak mau kalah, Safira dengan senang hati menjatuhkan wajah Saqila di depan semua orang.


"Aku bersikap seperti itu karena dalam keadaan bersedih jadi wajar saja aku kehilangan kontrol." Elak Saqila mencari pembenaran.


Tersenyum miring, "Bahkan sekalipun kau gangguan mental sungguh tidak wajar rasanya memberikan kedua orang tua kita sikap yang sekasar itu. Lagipula sesuatu yang membuat sesedih itu adalah fantasi mu saja. Bersikap seolah Mas Gio adalah kekasih mu, mengatakan kepada semua orang bahwa ia adalah milik mu.. Saqila, bukankah itu terlalu menyedihkan?"


"Kau tidak tahu apa-apa.."


Tertawa kecil, "Aku bertanya apa hak mu melarang Annisa dan Gio bersama di saat kalian berdua tidak punya hubungan apapun, yah pertanyaan ini memang benar aku tidak tahu jawabannya...jadi tolong beritahu aku agar pengetahuan ku semakin bertambah." Mengejek, Safira dengan terang-terangan menatap sinis Saqila yang masih terlihat begitu linglung.


Dorongan hati, "Karena aku adalah satu-satunya gadis yang paling sempurna untuk Mas Gio. Sedangkan Annisa..dia penuh dengan cela dan kotor, juga ia sudah menjadi janda jadi tak pantas rasanya ia berdampingan dengan Gio." Sudah ia bilang bukan bahwa satu-satunya orang yang bisa hidup dengan Gio adalah dirinya sendiri. Mereka sama-sama sempurna dan cocok untuk hidup bersama jadi tidak ada kekurangan apapun yang diragukan dalam diri Saqila, ia adalah gadis yang sempurna.


Menegakkan kepalanya, senyuman tipis Safira kini semakin jelas di wajahnya. "Ah, jadi Kakak kita ini adalah orang yang penuh cela dan kotor?" Tanya Safira memastikan.


Mengangguk ringan, "Lalu bagaimana dengan dirimu?"


Bingung, "Apa?"


"Apakah sebutan itu sebenarnya tidak kebalik?"


"Maksud mu?" Saqila semakin bingung.


Melihat kebingungan Saqila, Safira tidak bisa menahan tawa kecilnya. Bertepuk tangan, ia bersikap seolah sedang memainkan sebuah drama opera.


"Baiklah, mari kita perjelas jika kau masih belum mengerti. Tercela dan kotor, mengapa Annisa bisa mendapatkan kesan ini kepada mu?"


Jujur, "Itu karena ia sudah tidak suci lagi dan saat malam pernikahannya, Annisa langsung diceraikan oleh mantan suaminya." Lagipula orang mana yang tidak akan memandangnya rendah setelah mendengar cerita ini, huh..itu mustahil.


"Lalu, apakah kau pernah memastikannya sendiri bahwa Annisa sudah tidak suci lagi?" Tanyanya menyelidik.


Terkejut, "Aku tidak, tapi dengan diceraikannya Annisa saat malam pertamanya bukankah ini sudah menjadi bukti bahwa ia sudah tidak suci lagi. Coba pikirkan permasalahan apa yang membuat Annisa bisa diceraikan dalam waktu beberapa jam saja jika itu bukan karena mantan suaminya telah menemukan Annisa dalam keadaan yang tidak perawan lagi." Penjelasan ini sangat masuk akal bagi keluarga Annisa dan dengan alami mereka akan mendukung argumen ini. Coba tebak siapa orang yang berani menjamin bahwa Annisa adalah gadis yang baik setelah semua?


"Ah, betapa naifnya." Gumam Safira malas. Meraih handphonenya ia kemudian mengotak-atiknya, beberapa detik kemudian pandangannya jatuh pada sosok Puspa yang sedari tadi hanya diam dan menonton dramanya.


Tersenyum manis, handphone yang tadi ia mainkan diletakkan lagi di dalam kantong pakaiannya.


"Tapi Saqila, seseorang pernah mengatakan kepada ku bahwa yang membuat mantan suami Annisa meninggalkannya malam itu adalah kamu. Ahhh.. bagaimana ini, apakah kau bisa menjelaskannya?" Ucapan ini sontak membuat suara-suara kembali terdengar. Bahkan ada beberapa keluarga Annisa yang memandang Safira aneh, menjatuhkan Kakaknya dihadapan keluarga lain bukankah ini sudah keterlaluan?


Menegang, kedua tangan Saqila tanpa sadar menegang. "Omong kosong apa yang coba kau katakan?" Tanyanya panik namun ditutupi dengan wajah tenangnya.


Tersenyum, "Apakah aku harus mengatakannya dihadapan semua orang?" Tanyanya meminta pendapat.


"Kau yang telah menghancurkan pernikahan Annisa!" Suara tenang namun tajam Safira memasuki pendengaran semua orang.


Terkejut, "Safira.. Kakak pikir ini terlalu berlebihan. Cukup, jangan diperpanjang lagi.." Annisa tidak tahu harus menangis atau senang setelah mendengar ini. Ia ingin tidak mempercayai apa yang telah dikatakan Safira tadi tapi ia juga tahu bahwa Safira tidak akan pernah asal berbicara apalagi ini dihadapan semua orang.


Mengalihkan pandangannya, Safira menatap Annisa dengan senyuman manisnya. "Kak, ini akan segera berakhir jadi tolong bersabarlah sedikit saja." Balas Safira tidak mendengarkan.


Lalu, wajah lembut yang sempat menaungi wajah lembut Safira lenyap digantikan wajah main-mainnya.


"Jangan asal bicara Safira, kau...Umi, Abi lihat Safira! Ia sedang memfitnah ku!" Adu Saqila mencoba mencari pertolongan.


"Tunggu dulu Abi, Umi... tunggu sampai aku menyelesaikan urusan ku maka kalian akan ku perbolehkan untuk membelanya sekuat yang kalian bisa." Ucap Safira menghentikan aksi kedua orang tuanya yang akan mengeluarkan kata-kata pembelaan.


"Malam itu Mas Dimas pergi bukan karena ia kecewa dengan Kak Annisa, tapi itu justru karena permainan yang kau lakukan bersama Puspa sehingga membuatnya tanpa pikir panjang langsung menceritakan Kak Annisa." Lanjut Safira tenang.


Mendudukkan dirinya lemas, ia dengan panik meraba tangan Puspa yang ada di sampingnya.


"Bohong! Bagaimana bisa aku dan Puspa berbuat sebejat itu? Safira, tolong jangan lakukan ini.. Kakak tahu bahwa beberapa hari tinggal bersama Annisa membuat otak mu menjadi seperti ini. Bahkan.. bahkan Mas Gio pun juga dicuci otaknya jadi aku akan memaafkan kamu dan Mas Gio jika kamu menghentikan semua omong kosong ini."


"Aa..jadi apa yang ku katakan ini bohong?" Terlihat berpikir, "Tapi Puspa, apakah benar yang aku katakan tadi itu sebuah kebohongan?" Mengalihkan target, kini Safira bertanya langsung pada Puspa yang sedari tadi diam.


Tertegun, dengan kaku Puspa mengangkat wajahnya menatap Safira yang pastinya sedang menatapnya.


"Tentu saja itu bohong kau tidak perlu la-"


"Aku bertanya pada Puspa, kau dengar bukan?" Potong Safira dingin.


Tidak mau mengalah, "Iya tapi jawabannya pasti akan selalu sama jadi kau tidak perlu menanyakannya kepada-"


"Tidak," Potong Puspa tenang tanpa melirik Saqila yang sedari tadi menggenggam erat tangannya.


"Kamu tidak bohong dan benar bahwa kami berdua telah menghancurkan pernikahan Annisa." Lanjutnya masih tetap acuh dengan suasana sekelilingnya yang mulai ribut. Bahkan mata teguhnya yang satu terlalu takut untuk melihat reaksi kedua orang tua juga Annisa.


Hancur, ia telah menghancurkan kehidupan sahabatnya dan membuat kedua orang tuanya menjadi kecewa.


Puspa tahu bahwa tiada maaf untuknya.


"Tidak..." Bantah Saqila tidak percaya.


"Jadi..jadi kau juga sudah dipengaruhi oleh Annisa, sadar Puspa! Annisa adalah monster. Dia buruk dan menjijikkan, kau tidak perlu menyembunyikan apapun lagi kebenarannya! Katakan Puspa, katakan jika selama ini kau telah dipengaruhi olehnya!" Desak Saqila panik. Bahkan mata merahnya yang sudah berair mengancam untuk turun dan mengalir lembut di wajah cantiknya.


"Cukup Saqila." Suara Puspa lemah. Dengan lembut ia menarik tangan Saqila dari genggaman tangannya. Menariknya menjauh ia tidak mau terus berdekatan seperti ini.


Apalagi ia juga ikut merasakan sakit melihat wajah panik Saqila yang ketakutan, akan tetapi kebenaran tetaplah sebuah kebenaran. Jika dipikirkan satu-satunya orang yang merasakan sakit di sini adalah Annisa.


Menerima semua cemoohan dan kata-kata hinaan yang sesungguhnya tidak pantas Annisa dapatkan.


Tapi nyatanya Annisa mendapatkan itu semua karena apa?


Karena semua yang telah mereka berdua lakukan. Tidak adil bukan?


Tidak adil rasanya mengacaukan skenario yang Allah buat untuk Annisa.

__ADS_1


Lalu dengan tenang ia menatap Saqila dengan pandangan yang sama menyakitkannya. "Sudah cukup, akhiri saja semua ini sampai di sini. Annisa sudah terlalu sakit dengan semua yang telah kita lakukan dan aku sudah tidak tahan lagi dengan kesakitannya." Ucap Puspa dengan suara yang lembut dan hati-hati.


"Puspa.. kenapa?"


"Aku lelah Saqila, aku lelah harus seperti ini selamanya. Terperangkap dalam rasa bersalah yang kejam, aku tidak ingin di sana lebih lama lagi."


Mengalihkan pandangannya, dengan yakin Puspa bangun dari tempat duduknya. Berdiri, ia kemudian menatap kedua orang tuanya yang terlihat begitu linglung. Mereka mungkin begitu shock mendengar pengakuannya dan kecewa pada putri satu-satunya yang selalu mereka banggakan.


Tapi ini masih belum cukup, ini masih belum pengakuan sepenuhnya dari dia jadi kekecewaan kedua orang tuanya pasti akan semakin dalam lagi nanti.


"Aku mengakui, aku mengakui bahwa kegagalan dari pernikahan Annisa dan Mas Dimas datangnya dari rencana ku dan Saqila. Bahkan menyebarnya rumor Annisa di malam itu berawal dari kami." Akuinya tenang.


Menutup mulutnya, tubuh Annisa tiba-tiba terasa dingin setelah mendengarnya. Bahkan untuk mengeluarkan suara saja rasanya begitu sulit bagi Annisa.


Benar, siapa yang tidak akan terkejut bila mendengar hal ini. Orang yang selama ini sudah ia anggap sebagai adik dan sahabat ternyata bekerja sama untuk menjatuhkannya.


Bukankah ini terlalu kejam?


"Malam itu aku yang menelpon Mas Dimas dan membuatnya langsung menceraikan Annisa. Mengapa Mas Dimas semudah itu menceraikan Annisa?"


"Itu karena aku adalah mantan kekasih Mas Dimas." Ucapnya menjawab pertanyaannya sendiri.


Merekat kuat pakaiannya, Puspa dengan sekuat tenaga mencoba menenangkan dirinya agar tidak lemas dan berakhir jatuh.


"Apakah Umi mengingatnya? Satu tahun yang lalu aku mengatakan kepada Umi bahwa aku akan menikah dengan seseorang yang sudah lama ku sukai?" Puspa dengan suara serak bertanya pada Umunya yang sudah bersandar lemas pada Abinya.


Sejenak ingatan Umi Puspa jatuh pada obrolan singkatnya satu tahun yang lalu. Memang pada saat itu Puspa mendatanginya dan mengatakan bahwa ia akan menikah dengan laki-laki yang telah menarik hatinya.


Tapi setelah satu bulan kemudian Puspa mengatakan bahwa ia sudah tidak tertarik lagi dengan laki-laki itu sehingga rencana mereka menikah juga dibatalkan.


Apakah laki-laki itu adalah Dimas?


"Benar Umi, laki-laki itu adalah Dimas." Seolah bisa membaca pikiran Uminya, Puspa mengatakan siapa laki-laki itu.


"Aku awalnya akan menikah dengannya tapi terpaksa ku batalkan karena rencana yang Saqila siapkan untuk Annisa. Ia bilang aku harus putus dengan Dimas dan menjebak Dimas agar dapat bertemu dengan Annisa. Dan seperti yang kalian tahu kami berhasil menikahkan Dimas dengan Annisa, mengikat Annisa dalam sebuah rumah tangga semu. Rencana itupun semakin sukses setelah aku memainkan peran ku sebagai mantan kekasih Mas Dimas. Aku menelponnya setelah akad dan memintanya untuk menceraikan Annisa. Menariknya ke sisi ku lagi dan membuat Mas Dimas mempermalukan Annisa di depan banyak orang. Lalu akhirnya kami menyebarkan rumor Annisa, membuat semua orang percaya bahwa Annisa sudah tidak suci lagi. Ak-"


"Pembohong!" Bangun, Saqila menarik kasar pakaian Puspa agar berhadapan dengannya.


"Hentikan omong kosong mu ini! Apakah kau sudah gila, hah?" Marahnya menggeram.


"Wah..wah..ini baru saksi pertama lho tapi kau sudah mengamuk saja. Hem, ternyata otak mu lebih dangkal daripada yang ku duga. Bahkan dibandingkan dengan Reina, kau jauh lebih lemah." Ejek Safira senang sekali lagi menarik perhatian Saqila.


"Siapa yang kau pikir dangkal?" Tanya Saqila benci.


Tersenyum, "Tentu saja itu kamu, Kakak tercantik ku yang gila." Lagi, Safira mengejek Saqila dengan suara provokatignya.


"Safira! Cukup, hentikan semua ini jika tidak.."


"Jika tidak apa?" Tantang Safira tidak takut.


"Apa kau akan membuat hidup ku seperti Annisa? Hah, coba saja kau lakukan dan kau akan tahu akibatnya."


"Ah, tapi sebelum kau mencoba itu ada lebih baiknya kau melewati gelombang yang kedua dulu. Saksi kedua ini yang akan memutuskan apakah kau ini sebenarnya monster atau tidak."


"Ka-"


"Mas Dimas, ku persilahkan tempat dan waktu untuk mu." Sambut Safira terdengar main-main.


Lagi-lagi keluarga Annisa harus menahan nafas dengan setiap kejutan yang terjadi hari ini. Bahkan sedari tadi mereka tidak ingin bersuara keras untuk ikut campur dan memilih melihat drama ini saja.


Meskipun sebagai bagian dari keluarga ini membuat mereka sakit dan malu pada pihak keluarga tamu.


"Terimakasih, Safira." Tiba-tiba seorang pemuda yang ternyata selalu duduk di belakang Gio akhirnya berdiri dari tempat duduknya. Berdiri, semua orang akhirnya bisa jelas memperhatikan siapa laki-laki itu.


Dimas?. Bisik Annisa semakin terkejut. Luka lama sekali lagi ditarik keluar, mengingatkannya pada kenyataan yang amat begitu kejam. Peristiwa yang selalu ingin Annisa kubur sedalam-dalamnya karena ketika mengingatnya akan ada rasa sakit yang amat menyengat hatinya.


"Dia hanya datang untuk membantu Kakak.. sekaligus meminta maaf atas kesalahannya yang dulu." Suara Safira berbisik. Ia memenangkan Annisa dengan suara lembutnya yang meneduhkan.


Tentu saja akan sulit membuat Annisa tenang tapi untuk membuat Safira tidak merasa khawatir ia dengan sekuat tenaga mengontrol ekspresinya yang terlihat tidak baik.


"Hei..mengapa laki-laki ini juga hadir di sini?" Bingung, Saqila begitu linglung menghadapi setiap serangan yang diberikan Safira olehnya.


"Kedatangan ku ke sini untuk membenarkan apa yang dikatakan Puspa tadi. Benar aku adalah mantan kekasih Annisa dan benar aku menceraikan Annisa karena mendapatkan telpon dari Puspa. Semua yang terjadi adalah kecerobohan ku yang tidak menyadari bahwa ada jebakan yang disiapkan Puspa dan Saqila untuk ku. Bahkan, aku berani bersumpah atas nama Allah bahwa saat malam itu aku tidak menyentuh Annisa terlalu jauh dan aku bisa pastikan bahwa ia masih suci." Mengambil nafas yang panjang.


"Aku minta maaf karena telah lari dari tanggung jawab ku. Jika saja saat itu aku langsung kembali dan memberi tahu kalian apa yang telah dilakukan Puspa dan Saqila kepada Annisa.. mungkin semuanya tidak akan serumit ini. Tolong maafkan aku."


Tertunduk, Dimas tidak berani mengangkat wajahnya hanya untuk menatap respon yang keluarga Annisa layangkan kepadanya. Ia juga tidak berani melihat respon yang Annisa berikan kepadanya. Gadis cantik itu, jika waktu bisa diputar ia berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya. Mengabaikan panggilan dari Puspa dan dengan fokus membangun rumah tangga bersama Annisa.


Tapi sayang, bukankah itu hanya fantasi saja?


Yah, jika sudah menyesal seperti ini maka akan sulit untuk menjalani hidup yang damai.


"Umi, Abi, apakah kalian mendengarnya? Ah, tidak.. maksud ku kalian semua.. kalian semua yang mengaku keluarga tapi selalu menyudutkan Kakak ku! Mencemoohnya! Menatapnya seolah monster! Apakah kalian semua mendengarnya?" Teriak Safira marah. Ia begitu marah dengan ketidak berdayaannya dulu yang tidak bisa berbuat apa-apa.


Hanya bisa menonton Kakaknya disakiti, dihina, dicaci maki tanpa bisa berbuat apa-apa.


Safira benci hari itu!


"Apakah kalian semua sudah mendengarnya bahwa gadis yang selama ini kalian banggakan dan junjung tinggi," Menunjuk Saqila yang terlihat kosong.


"Adalah monster yang sebenarnya!" Lanjutnya dingin.


"Dulu ketika Kakak ku dengan berurai air mata menjelaskan kepada kalian apa yang terjadi sebenarnya, kalian bersikap tuli dan membantah Kakak ku dengan argumen-argumen sok benar kalian. Seolah tangisan kekecewaan Kakak ku hanya air mata buaya saja untuk kalian semua!." Kenangnya saat Dimas baru saja pergi dari rumah mereka. Annisa diseret keluar oleh keluarganya dan diinterogasi dengan pandangan menuduh.


Sebenarnya siapa yang paling terluka pada saat itu?


Bukankah itu seharusnya Annisa?


Tapi mengapa mereka seolah-olah yang paling menderita di sana?


Menjijikkan!


"Apa kalian bodoh? Apakah kalian tidak pernah berpikir bahwa satu-satunya orang yang paling menderita di sana adalah Annisa?. Pengantin malang yang ditinggalkan tanpa penjelasan yang jelas, kalian seolah abai dengan fakta ini. Kalian hanya berpikir bahwa Annisa bukanlah gadis baik-baik dan kalian malu punya hubungan darah dengannya!"


"Safira, cukup Dek..jangan diteruskan lagi hiks.." Mohon Annisa tidak kuat lagi mendengar semuanya. Masa lalu kejam yang begitu kelam, Annisa tidak ingin mengingatnya lagi. Karena pada masa itu tidak ada satupun orang yang mau mendengarkannya kecuali Abi. Itupun Abi perlahan mengikis kepercayaannya terhadap Annisa sehingga lambat laun Annisa hanya berdiri sendiri di sana.


Annisa tidak punya tempat bersandar di rumah ini, sebenarnya.


Melirik Annisa yang hanya bisa menangis menahan sakit, bagaimana mungkin Safira bisa membiarkan Kakaknya terus-menerus disakiti oleh mereka semua?


Tidak, tidak ada kesempatan lagi!


"Tidak Kak, sebelumnya aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk membuat malu mereka semua. Tolong..tolong jangan halangi aku untuk memenuhi janji ku ini." Pinta Safira balik dan tidak berniat menghentikan aksinya.


"Cukup.. lebih baik kita-"


"Abi, bagaimana bisa Abi se'egois ini?" Potong Safira dengan ekspresi yang main-main.


"Safira, ada keluarga lain di sini jadi lebih baik kita akhiri saja pertemuan ini." Ucap Abi menyarankan. Karena kebenaran sudah terungkap jadi ada baiknya jika mereka membahasnya dengan keluarga mereka saja.


"Ha.. apakah Abi merasa malu dihadapan keluarga Mas Gio?. Aku pikir Abi merasa menyesal telah membuang Annisa beberapa bulan yang lalu.."


Diam, Abi ingin membantah tapi apa yang Safira katakan punya kebenaran tersendiri. Ia sebagai kepala keluarga dengan kejamnya telah mendorong Annisa pergi dari rumah ini.


Tentu saja ia merasa menyesal.


"Tidak hanya Abi, tapi Umi juga selama ini selalu memojokkan Annisa. Memandangnya dengan pandangan orang asing yang dingin, Umi bagaimana perasaan Umi sekarang?" Tanya Safira ingin tahu kepada Umi yang sudah bersandar lemas di samping Abi.


Tidak dapat mengatakan apa-apa, Umi hanya bisa merespon Safira dengan sebuah tangisan pilu. Perasaannya sebagai seorang Ibu benar-benar telah diuji selama ini. Mengapa ia tidak menyadari ada sesuatu yang aneh diantara anak-anaknya?


Apakah ia sudah gagal menjadi seorang Ibu yang amanah?


Tersenyum puas, "Kalian berdua tidak bisa mengatakan apa-apa bukan?"


"Tentu saja kalian berdua tidak bisa mengatakan apa-apa karena kalian baru menyadarinya sekarang bahwa gadis yang selalu kalian banggakan adalah monster. Saudara, kami bertiga adalah saudara kandung tapi kejamnya hubungan darah tidak mempengaruhinya untuk menghancurkan kehidupan saudaranya sendiri. Katakan.. panggilan apa yang lebih cocok untuknya selain monster?"


Diam.. semua orang tidak mengatakan apa-apa. Hanya ada suara-suara isak tangis di ruangan ini. Bahkan beberapa anak-anak dan orang tua memeluk Annisa di sana. Memeluknya dengan perasaan bersalah dan permintaan maaf.


"Saqila.." Dengan hati-hati Abi membantu Umi bangun dari duduknya.


"Katakan, Nak, apakah semua yang Puspa dan Dimas katakan itu benar?" Walaupun ia sudah tahu jawabannya namun tetap saja Umi menanyakan hal ini kepada Saqila.


Mendekati Saqila yang sedari tadi hanya diam berdiri di samping Puspa dengan tatapan kosong yang menyendu.


"Katakan kepada Umi, Nak, apakah semua yang Puspa dan Dimas katakan itu benar!" Teriak Umi putus asa ingin menjangkau Saqila namun ditahan dengan kuat oleh Abi dan kedua orang tua Gio.


Tersadar, Saqila baru menyadari bahwa Uminya kini sedang menangis keras menatapnya. Dihalangi oleh Abi dan kedua orang tua Gio, Saqila melihat seakan-akan Umi ingin sekali menjangkau dan menamparnya dengan kejam.


Ah, melihat pemandangan ini tiba-tiba membuat Saqila merasakan dingin. Perasaan dingin yang sudah sedari kecil ia rasakan hari ini datang lagi.


Hah..Saqila benci perasaan ini.


"Benar, apa yang mereka katakan tentang ku benar." Kemudian suara tangisan keras Umi memenuhi ruangan itu. Berteriak keras ia dengan sekuat tenaga ingin meraih Saqila ke depannya.


"Kenapa kau melakukan itu, Nak.. astagfirullah.." Bahkan Abi tidak bisa menahan air mata kesedihannya. Ia menangis bersama rasa sakit yang memenuhi hatinya.


Tersenyum dingin, "Kenapa kau bilang?" Tanyanya mengejek.


Bersambung...


Gak tahu lagi mau nulis apa juga gak nyangka kalo part ini masih ada lanjutannya, Fiuh.. nulis lagi deh🙃

__ADS_1


__ADS_2