
"Ya Allah, ada sesuatu yang ingin aku ceritakan kepada Mu." Semilir angin malam yang dingin namun menenangkan menyelimuti tubuh gadis itu yang masih terbalut sempurna oleh mukena putih yang menyejukkan mata.
Meskipun dingin, gadis itu sama sekali tidak mengeluh karena bersimpuh dalam keagungan-Nya adalah hal yang paling memenuhi pikirannya saat ini. Bersimpuh dalam kasih-Nya, perasaan lelah, letih, marah, senang, dan kecewa seakan-akan tertarik keluar untuk ia ceritakan kepada Sang Pencipta. Ini seperti melepaskan beban hati dan meminta ketenangan untuk jiwanya.
"Aku sedang jatuh cinta ya Allah," Ia mulai bercerita, tanpa sadar menimbulkan riak di dalam matanya.
"Perasaan luar biasa manis dan hangat yang Kau ciptakan itu kini sedang merasuki hatiku. Membuat hariku jauh lebih berwarna dari hari-hari sebelumnya dan aku akui ya Allah, rasanya begitu indah." Tersenyum tipis, perasaan indah itu sekali lagi terngiang dalam ingatannya, apalagi saat mengingat hari dimana cinta itu tumbuh. Jantungnya sangat berdebar kencang.
"Namun, ternyata cinta yang ku rasakan ternyata akan membawa luka untuk Safira ya Allah. Laki-laki yang ku cintai faktanya juga yang Safira cintai. Bahkan mungkin mereka berdua sudah saling menyukai sejak lama dan aku pikir rasa ini... hanya akan menyakiti mereka." Tak terasa, cairan hangat penuh kesedihan itu mengalir sunyi di pipi n mengingat Mu ya Allah. Aku yakin rencana yang Kau siapkan ku jauh lebih indah dari yang aku bayangkan. Rabbana A'tina fiddunia khasanah wa'qina azabannar, Aamiin aamiin Allahumma aamin ya Allah." Dengan hati yang berserah diri Mira kemudian menangkupkan kedua wajahnya untuk mengusap wajahnya yang sudah sangat basah. Sejenak ia tetap dalam posisi itu untuk menenangkan perasaan sedihnya yang membara.
Beberapa menit kemudian, Mira lalu menurunkan kedua tangannya. Melirik jam, waktu sudah menunjukkan pukul 2 lebih dan sebentar lagi akan terdengar seruan untuk bangun dari tidur yang lelap.
Karena tidak ingin tidur lagi, Mira memilih menghabiskan waktunya untuk menatap diam wajah cantik Safira yang sedang tertidur lelap. Safira, gadis cantik yang luar biasa baik namun agak dingin ini adalah salah satu sahabat terbaik Mira. Keras kepala dan punya sisi yang tegas juga kritis adalah sisi dominan Safira. Akan tetapi sebagaimana pun kuatnya Safira, Mira tahu betul jika hati manusia sangat rapuh dan rentan terluka. Tidak terkecuali Safira, meskipun ia kuat secara fisik dan mental jauh dari Annisa, namun itu tidak bisa menampik jika hati Safira dan Annisa sama rapuhnya. Bahkan mungkin Safira lebih rapuh lagi karena masih belum mengenal apa itu patah hati.
Tentu saja Mira tidak ingin melihatnya sakit hati apalagi orang yang membuatnya patah hati adalah dirinya sendiri, ah, memikirkannya membuat Mira hampir gila. Namun untung saja Mira tidak seegois Saqila yang dengan mudah menyakiti orang-orang terdekatnya, daripada menyakiti Safira untuk perasaannya sendiri ia lebih memilih untuk mengalah dan diam-diam mencoba melupakan apa yang ia rasa.
Cinta bisa dicari kapanpun namun untuk sahabat, itu adalah harta Karun yang paling sulit. Lagipula Mira yakin jika cintanya masih belum muncul dan oleh sebab itu ia lebih memilih untuk menunggu sedikit lebih lama lagi.
Ia yakin, selama apapun itu Allah akan mendatangkannya.
Menghela nafas, Mira kemudian menarik lacinya dengan hati-hati takut membangunkan tidur lelap Safira. Tidak sampai satu menit Mira sudah menemukan objek yang ia cari dan dengan mudah mengambilnya lengkap dengan alat tulisnya.
Mendudukkan dirinya senyaman mungkin, kali ini pandangannya jatuh pada langit malam yang menampilkan sebagian dari sisi bulan yang menampilkan cahaya terang. Ini adalah malam yang sangat indah, pikir Mira lega dan mulai menggerakkan tangan kanannya untuk menulis isi hatinya.
"Mira...ini udah jam berapa?" Terkejut, sontak Mira langsung menutup bukunya dan dengan sealami mungkin ia menaruh bukunya kembali ke dalam laci.
"Ah, 2 menit lagi masuk setengah 3." Jawab Mira cepat setelah melihat waktu sebentar lagi masuk setengah 3.
Mendengar jawaban Mira, Safira tidak menyadari adanya keanehan. Ia pun bangun dari acara tidurnya dan memutuskan untuk segera berkemas persiapan sholat tahajud berhubung waktu sholat dimajukan karena sahur.
"Apakah semalam kamu tidak tidur lagi?" Tanya Safira menebak, pasalnya kemarin malam Mira juga melakukan perilaku yang sama. Ia tidak tidur dan bergadang sampai waktu sahur.
Sepertinya Mira sedang banyak pikiran.
"Tidak, aku sempat tidur kok dan tiba-tiba bangun sekitar jam 1. Karena sulit tidur kembali aku sholat tahajud duluan saja daripada tidak ada kerjaan." Karena ia sudah sholat tahajud duluan jadi ia tidak bisa melakukan sholat tahajud berjamaah bersama yang lain.
Safira tidak tahu mengapa tapi beberapa hari ini ia sudah menemukan semangat Mira semakin menurun. Itu seakan ada beban berat yang menahannya untuk menjadi Mira yang biasanya.
"Mira, jika kamu punya masalah jangan ragu untuk menceritakannya kepada ku." Ucap Safira tulus. Sesama sahabat, ia ingin orang yang ia kasihi tetap ceria dan tidak murung. Safira berharap bahwa ikatan mereka tidak sembarang ikatan sehingga membuat Mira menjadi lebih terbuka.
"Ayolah, kamu terlalu banyak pikiran karena aku sama sekali tidak punya masalah. Jikapun ada maka kau sendiri bagaimana sifat ku, aku akan datang kepadamu sambil menangis dan mengeluh tentang masalah ku." Mira bercanda, mencoba menghilangkan tebakan benar Safira terhadap dirinya. Mau bagaimana lagi, ini karena masalah yang ia hadapi menyangkut Safira dan Aldo. Jadi, untuk menjaga persahabatan mereka Mira harus rela memendam sendiri seraya berusaha diam-diam melupakan perasaannya.
Hei, sebenarnya ini terasa sangat menyakitkan untuk Mira.
Bagaimana tidak sakit, ini adalah saat pertama ia jatuh cinta dan bersamaan dengan itu, ini adalah saat pertama ia patah hati.
"Kau benar, aku lupa jika kamu adalah Mira." Apa yang dikatakan Mira juga benar menurut Safira. Karena setahu Safira ketika Mira menghadapi suatu masalah orang pertama yang akan ia beritahu adalah Safira dan Nanda, Hem siapa lagi.
"Apa kamu sudah siap?" Tanya Mira setelah melipat rapi mukenanya.
Safira mengangguk puas, "Sudah, ayo kita langsung ke masjid." Ajak Safira sambil membawa barang bawaannya ke dalam pelukan. Malam ini sangat dingin jadi wajar saja ia memeluknya dengan gaya possesif.
Mira tidak mengatakan apapun dan menyikapinya dengan langsung berjalan keluar. Setelah mengunci pintu kamar, mereka kemudian secara beriringan berjalan ke masjid pondok pesantren. Tidak perduli betapa dinginnya malam, toh ini hanya semakin membuat mereka segar saja.
Nah, yang paling beruntung adalah pondok pesantren sangat baik memfasilitasi jalan yang ada di dalam pondok dengan lampu penerangan. Jika seperti ini maka tidak ada kesan seram yang mereka jumpai selama melewati jalan.
"Aku dengar Nanda dan Dimas akan segera pulang." Setelah sekian lama terdiam, Safira akhirnya memulai pembicaraan mereka. Safira ingat jika beberapa waktu yang lalu Nanda sempat memberi tahu akan segera pulang ke Indonesia.
"Iya, Nanda akan segera pulang. Tapi meskipun pulang Nanda akan tinggal bersama suaminya dan tidak kembali tinggal di sini, jadi aku tidak terlalu antusias." Karena Nanda sudah berumah tangga maka itu akan sulit bagi mereka untuk kumpul bersama seperti dulu lagi. Oleh karena itu Mira tidak terlalu bersemangat ketika mendengarnya.
"Bukankah itu wajar? Seharusnya kamu bahagia karena Nanda tinggal bersama suaminya. Jika ia kembali lagi ke sini maka itu seakan-akan Dimas tidak perduli dengan Nanda." Jawaban ini seakan menjadi pengingat untuk Mira tentang perselisihan Annisa dan Dimas dulu. Tentu saja apa yang Safira katakan benar, jika Nanda sampai ditinggalkan Dimas maka orang yang akan paling terluka adalah mereka semua.
"Hem, kau benar seharusnya memang mereka tinggal bersama, hanya saja aku masih belum menerima kepergian Nanda karena sebentar lagi aku yakin kau akan segera menyusul." Syawal, itu tidak akan lama datang dan Mira yakin jika jika Safira akan segera mengejar cintanya.
"Ah...jangan terlalu banyak berpikir. Meskipun nanti aku akan menyusul Nanda, tapi kami berdua akan berusaha mengunjungi mu ke sini. Nah, daripada mengkhawatirkan tentang kami sebaiknya kamu segera mencari jodoh mu karena kelamaan menjomblo itu tidak baik." Kekeh Safira senang, tidak sabar menunggu gilirannya tiba.
Mira tersenyum lembut, menggelengkan kepalanya tanda tidak mau terlalu berpikir banyak. Jika sudah datang maka datang, justru Mira ingin sekali mempercepat Syawal tiba agar Safira segera menikah dan pergi bersama Aldo. Karena jika itu terjadi, Mira yakin motivasinya untuk melupakan Aldo akan berjalan lancar.
"Baiklah, aku rasa kita harus berpisah di sini sementara kamu pergi ke masjid." Mira menghentikan langkahnya yang diikuti oleh Safira.
"Apa kamu langsung ke dapur umum?" Tanya Safira sebenarnya sudah tahu, mana mungkin Mira ke masjid karena ia sudah melakukan sholat tahajud duluan.
__ADS_1
"Iya, aku akan langsung ke dapur umum untuk membantu yang lain menyiapkan makan sahur. Pergilah, sholat yang khusyuk agar Allah meridhoi segala hal baik yang akan kita lakukan hari ini."
"Wah, mengapa malam ini kamu terdengar bijak?" Ejek Safira yang langsung disambut tawa kecil oleh Mira.
"Itu karena aku tinggal bersama kamu." Jawabnya balik mengejek.
"Baiklah, aku akan pergi." Mengucapkan salam, mereka berdua kemudian berpisah dan berjalan ke arah tujuan masing-masing. Safira dengan tujuan ke masjid sedangkan Mira dengan tujuan ke dapur umum.
Suasananya lumayan ramai karena para santri yang sedang bergegas menuju masjid. Adapun yang sedang berhalangan ikut membantu dapur umum menyiapkan makanan dan tentu saja sangat jarang ada lelaki.
Pasalnya laki-laki tidak berhalangan dan mereka juga sangat pelit mengorbankan waktu emas sholat tahajud mereka, maka dari itu yang mengurus semuanya saat sahur adalah para perempuan.
"Mira, tolong sebarkan semua paket kecil ini ke setiap meja." Seorang perempuan yang akrab meminta bantuan kepada Mira dengan sopan.
"Baiklah!" Semangat Mira seraya mengambil alih semua paketan mini kotak-kotak ke dalam pelukannya.
"Eh, Mas Aldo juga ingin membantu?"
Deg
Gerakan tangan Mira tiba-tiba menjadi kaku. Berusaha mengatur debaran jantungnya senormal mungkin, Mira kemudian membawa seluruh paketan mini kotak-kotak menuju meja-meja untuk disebarkan.
Awalnya Mira tidak mendengarkan suara apapun sampai suara langkah yang berat namun halus mengikuti langkahnya.
Dug
Dug
Dug
Jantungnya semakin tidak terkontrol dan darahnya seakan menjadi panas, mengalir panik keseluruh tubuhnya. Awalnya ia sempat berpikir malam ini sangat dingin namun ketika merasakan aliran darah panasnya, Mira tiba-tiba mengubah keluhannya menjadi sangat panas!
Ia gerah tapi anehnya itu sama sekali tidak mengganggunya!
"Jadi, namamu adalah Mira?" Tanya suara berat yang menenangkan di belakangnya, Mira sangat takut mengalihkan pandangannya!
Mira pikir untuk melindungi motivasinya ia tidak akan menimpali Aldo, akan tetapi perilaku itu mungkin tidak terlalu baik sehingga ia memutuskan untuk menjawabnya dengan syarat itu hanya sedikit!
"Hem, namaku adalah Mira." Jawab Mira singkat dan sangat gugup.
Mira sangat takut dan sedikit.... bahagia?
Lalu, suasana menjadi sunyi di antara mereka. Bekerja secara diam-diam dan dengan pemahaman yang diam-diam pula.
Mira menyebarkan paket dan Aldo dengan cepat mengisi paket kecil tersebut dengan 6 biji kurma ajwa.
"Apakah kamu lulusan pondok pesantren ini?" Tanya Aldo ingin tahu, sebenarnya ia bisa saja mencari tahu kebenaran ini karena ia sekarang juga menjadi staf di pondok pesantren. Akan tetapi anehnya, Aldo berpikir itu mungkin akan sangat menyenangkan jika keluar dari mulut Mira langsung.
Mira bingung, "Sebenarnya aku tidak tahu karena pada dasarnya aku tiba-tiba pindah ke sini dengan mendadak dan beruntungnya pihak pondok langsung menerima ku tanpa harus melewati persyaratan yang rumit." Iya, Mira masuk ke sini secara mendadak dan langsung diterima oleh Pak kyai.
Memang, secara usia pada saat itu mungkin ia seharusnya kelas XII SMA dan pihak pondok juga langsung memberikannya pelajaran yang setingkat kelas XII SMA. Jadi Mira sebenarnya tidak tahu dan bingung apakah ia lulusan pondok atau hanya menumpang ujian saja di sini?
Senang dengan kalimat panjang yang Mira buat, Aldo lantas tidak ingin membiarkan peluang ini lepas darinya dan dengan cepat menanyakan kembali keingintahuannya.
"Apa itu 2 atau 3 tahun yang lalu?" Tanya Aldo lebih penasaran.
Gerakan tangan Mira tidak berhenti meskipun kepalanya sedang berpikir keras, "Mungkin seharusnya hampir 4 tahun yang lalu." Jawab Mira dengan suara kecilnya. Entah mengapa Mira tiba-tiba berpikir bahwa ini adalah aibnya, ia berpendidikan rendah namun menginginkan laki-laki yang berpendidikan tinggi. Sekali lagi Mira tersadar jika Safira memang sepadan dengan Aldo.
"Ah, saat itu aku dan Aldi baru saja lulus di sini dan memutuskan untuk berpisah dengan karir masing-masing." Aldo menyunggingkan senyumnya, merasa malu dengan pertanyaannya sendiri. Jika Mira menjawab 3 tahun yang lalu bukankah itu artinya Aldo tidak akan tahu apa-apa tentang keberadaan Mira?
Hem, itu akan masuk akal jika ia bertanya dalam kurun waktu 4 tahun yang lalu.
"O-oh, jadi ustad juga lulusan di sini bersama ustad Aldi?" Gugup Mira. Mira tidak pernah tahu jika tahun itu adalah tahun dimana orang-orang hebat ini lulus. Jika ia tahu, mungkin saat ini ceritanya akan berbeda.
Hem...siapa yang tahu.
"Jangan panggil aku ustad, Mira. Aku di sini bukan sebagai staf pengajar tapi sebagai staf perpustakaan." Aldo dengan sopan menjelaskan posisinya di sini. Ia datang ke sini bukan karena mengajar seperti halnya Aldi, namun ia datang ke sini sebagai staf perpustakaan. Ia menyukai buku dan kitab pembelajaran yang sahih sehingga membuatnya lebih menyukai perpustakaan daripada tempat yang lain.
"La-lalu, aku harus memanggil apa?" Jika bukan ustad, maka sebutan apalagi yang Mira gunakan untuk memanggilnya?
"Panggil saja aku 'Mas Aldo' atau semacamnya." Jawab Aldo tenang, seakan-akan tidak ada efek apapun yang memompa jantungnya. Jelas, ketika mengatakan ini ada rasa malu akan tetapi karena ini adalah sebuah kesempatan yang berharga maka Aldo tidak akan membuangnya dengan sia-sia.
__ADS_1
Mas Aldo?
Lagi-lagi perasaan panas yang meluap-luap itu memenuhi dirinya, bahkan pipinya yang sempat panas tadi semakin jelas saja rasanya. Mira tidak tahu bagaimana wajahnya saat ini, pasti itu sangat merah dan memalukan!
"Mas Aldo," Panggil Mira malu.
"Mengapa Mas Aldo lebih memilih menjadi staf perpustakaan? Aku dengar dari banyak orang jika Mas Aldo dan ustad Aldi tidak jauh berbeda soal pendidikan. Jadi mengapa kalian bertindak secara terpisah?" Orang-orang tadi malam banyak menyebutkan jika laki-laki tampan kembar itu mempunyai pengetahuan yang sangat baik dalam hal pendidikan. Jangan bertanya perihal prestasi karena buktinya mereka berdua termasuk lulusan Kairo terbaik dari Indonesia, jadi itu tidak perlu dipertanyakan lagi.
Mereka kemudian bergerak ke deretan meja yang lain.
"Kamu benar Mira, secara prestasi kami berdua memang bertindak sama. Namun, dalam memilih jalan hidup ke depannya kami tidak sama. Aku dan Aldi memang sama-sama menyukai buku jadi tidak heran Aldi memilih mengajar karena ia ingin berbagi kepada banyak orang tentang pengetahuan dan hasil belajarnya. Itu berbeda dengan ku, menyukai bukan berarti aku ingin menjadi pengajar. Bukan karena aku tidak ingin berbagi tapi ini karena aku merasa bahwa ilmu ku masih dangkal dan perlu banyak waktu lagi untuk belajar. Suatu hari, jika aku sudah agak terpuaskan maka dengan sendirinya aku akan mengikuti jejak Aldi menjadi pengajar. Di samping itu aku juga punya cita-cita ingin mendirikan perpustakaan sendiri, memberikan kesempatan pada banyak orang memahami dan membaca buku apa saja yang sudah aku pelajari. Mira, apakah kamu sekarang mengerti?" Tanya Aldo dengan suaranya yang lembut. Entah mengapa setiap kali Mira mendengarnya akan ada harapan yang lain lagi tumbuh. Ini seperti Mira memotong rumput yang satu namun pada saat yang bersamaan rumput yang lain juga tumbuh.
Mira...takut, takut jika perasaannya semakin besar.
"Apakah kamu sangat menyukai ustad Aldi?"
"Ah...tidak..itu tidak mungkin, aku bertanya begitu karena awalnya karena merasa penasaran saja." Mengecilkan kepalanya, Mira sungguh bingung bersikap bagaimana di dekat Aldo!
Mengapa ia serumit ini?
"Ahahaha...jangan panik lagipula aku tadi hanya bercanda." Aldo tertawa ringan, namun meskipun tertawa sinar matanya menyiratkan hal yang berbeda. Untungnya, tidak ada yang terlalu memperhatikannya karena Aldo juga menggunakan kacamata jadi itu tidak terlalu jelas.
"Oh..." Sejenak, Mira tidak tahu harus mengatakan apa. Ia tidak pernah bermimpi untuk berada sedekat ini dengan Aldo bahkan bisa mendengar tawanya saja Mira sangat takut untuk memikirkannya.
Meskipun yah, ia tidak ingin munafik untuk sedikit mengharapkannya.
Setelah membereskan meja-meja santriwati, mereka pun bergerak ke arah stan makanan santri (laki-laki). Di sana sebagian dari mejanya sudah tertata rapi dengan makanan untuk sahur hari ini. Berhubung masalah makanan pokok sudah beres maka kelompok yang lain kemudian bergerak ke arah stan santriwati untuk segera memulai pembagian makanan pokok sahur.
"Sejujurnya, selama aku membantu persiapan sahur jarang ada pihak laki-laki yang datang membantu. Jikapun ada, itu terjadi ketika mereka sudah lebih dulu melaksanakan sholat tahajud agar tidak tertinggal kebiasaannya. Jadi, apa Mas Aldo juga lebih dulu melaksanakan sholat tahajud sebelum ke sini?" Karena pengalaman yang didapatkan juga seperti itu sehingga Mira menebak mungkinkah Aldo juga sudah melaksanakan sholat tahajud terlebih dulu sebelum ke sini?
"Aku belum sholat tahajud." Jawab Aldo membantah, ia sama sekali tidak menyembunyikannya dari Mira.
Terkejut, Mira tidak yakin jika Aldo orang yang seperti itu. "Lalu, kenapa Mas Aldo tidak datang ke masjid?" Seharusnya Aldo ikut bergabung bersama yang lain untuk melaksanakan sholat masjid berjamaah.
"Aku tidak pergi karena percuma saja, sholat tahajud sah dilakukan apabila kita terlebih dahulu tidur sebelumnya. Aku tidak bisa tidur dan tidak bisa juga melakukan sholat tahajud oleh sebab itu daripada mencoba tidur lebih keras aku datang ke sini untuk berniat membantu kalian." Ini memang kebenaran jika Aldo tidak bisa tidur. Sekuat apapun ia mencoba untuk tidur ia tidak bisa, jadi karena itu akan sia-sia Aldo lebih memilih meluangkan waktunya untuk membantu stan makanan setelah menyelesaikan tadarusannya.
Mira akhirnya mengerti mengapa Aldo ada di sini. Seperti yang Aldo katakan ia tidak bisa tidur dan juga tidak bisa menunaikan ibadah shalat tahajud, maka untuk mengisi kekosongan di sela-sela menunggu anak pondok kembali ia memilih membantu staf dapur.
Hem, dia benar-benar suami idaman.
Memikirkan tentang suami, Mira tiba-tiba teringat akan sosok cantik Safira yang jarang tersenyum. Jika dipikir-pikir Safira dan Aldo memang serasi, sang suami yang mudah tersenyum dan sang istri yang sedikit cuek. Ah, Mira tidak bisa membayangkannya...Hem, tidak bisa membayangkan betapa sakitnya ia besok.
"Mas Aldo," Panggil Mira meneguhkan hatinya, karena Allah memberikannya ujian maka ia akan secara tegas melewati ujian ini. Ini adalah bukti bahwa Mira bersungguh-sungguh dengan doanya.
"Ya?"
"Apakah Mas ingat dengan Safira?" Tanya Mira menguji.
"Ingat, Safira adalah gadis yang dua tahun lalu aku temui di pondok bambu." Sejenak ingatannya kembali pada dua tahun yang lalu saat pertama kali ia bertemu dengan Safira. Setelah itupun ia banyak mendengar tentang Annisa, Saqila dan Safira dari Gio.
Mira sontak menunduk, tersenyum tipis ia kembali melanjutkan topiknya. "Menurut Mas Aldo, apakah Safira adalah gadis yang baik?" Siapapun tahu jika Safira adalah gadis yang baik.
Aldo sama sekali tidak menyadari perubahan suasana hati Mira dan dengan santai menyuarakan pendapatnya, "Menurutku Safira adalah gadis yang hebat, aku banyak mendengar tentangnya dari Gus Gio. Apalagi masalah yang terjadi beberapa waktu yang lalu, Gus Gio juga menjelaskan betapa penting peran Safira di dalamnya. Jujur, aku kagum dengan prestasinya yang tidak main-main." Safira adalah gadis yang berprestasi dan itu semua tidak hanya kata-kata kosong saja. Buktinya Gio dan yang lain mengakui hal itu oleh karena itu Aldo tidak ragu untuk memberikan apresiasi kepada Safira.
"Mas Aldo benar, dia sangat hebat." Menatap sekeliling meja yang sudah mereka lewati, sudah tidak ada lagi yang perlu dikerjakan.
"Apa Mas tahu jika Safira sangat kagum dengan Mas Aldo sejak dua tahun yang lalu?" Tanya Mira seraya mengalihkan pandangannya menatap Aldo yang baru selesai mengatur kurma ajwa terakhir.
Aldo tidak yakin, "Benarkah?"
Mira mengangguk yakin dan tidak ragu sama sekali dengan keyakinannya, "Ya, dia ingin mengenal lebih dekat Mas Aldo." Mira menjelaskan secara singkat namun makna di dalamnya seharusnya Aldo paham.
Aldo merasa ada sesuatu yang aneh dengan ucapan Mira, "Nah, berhubung kalian sudah bertemu jadi ada baiknya mengobrol sebentar." Putus Mira tanpa menunggu respon dari Aldo. Mira kemudian melambaikan tangannya ke arah belakang Aldi yang kebetulan ada Safira di sana. Mungkin Safira baru saja datang dan masih belum terlalu memperhatikan orang yang ada di samping Mira.
Oleh karena itu Safira tanpa ragu menghampiri Mira dan setelah beberapa langkah ia tertegun.
Mira tersenyum menatapnya seraya memberikan kode ada Aldo di dekatnya. Lalu, setelah melihat Safira tanpa ragu mendatangi mereka berdua, Mira dengan halus mengucapkan salam perpisahan dengan senyumnya yang manis. Berniat menggoda Safira yang kini wajahnya sudah mulai memerah.
Sebelum pergi, Mira seakan memberikan isyarat 'lekaslah-temui-suamimu!' dan diakhiri dengan senyuman ejekan.
Membawa langkahnya meninggalkan Aldo dan Safira berduaan, tiba-tiba senyuman menggoda yang sempat tersungging di bibirnya kini mulai meredup digantikan dengan senyuman tipis yang menyendu. Kedua matanya menatap sayu pada sisa kotak mini yang masih di dalam pelukannya. Mira bahkan tidak terganggu dengan pandangannya yang perlahan menjadi buram, ini seakan-akan pikirannya sedang tidak ada di tempatnya.
__ADS_1
"Ini memang sakit, tapi mau bagaimana lagi cinta tidak bisa dipaksakan." Menghapus cairan hangat yang menggenang di dalam matanya, Mira kemudian memperbaiki ekspresi wajahnya seceria mungkin. Menghela nafas panjang, Mira memasang senyum biasanya dan dengan semangat berlari masuk ke dalam dapur umum.
🥀🥀🥀