
حِيْنَ يُمَزِّقُنِيْ الأَلَمُ وَحِيْنَ يُقَيِّدُنِيْ الحُزْنُ يَزْدَادُ عِصْيَانُ الحَنِيْنِ والجُرْحِ والوَجَع
Ketika rasa sakit mengoyakku, ketika kesedihan membelengguku, semakin memuncak kerinduan akan luka dan penderitaanku
***
"Kenapa kau bilang?" Suaranya dingin.
Ia menatap Abi dengan pandangan muak dan lelah, bahkan wajah halus yang lembut dan cantik tidak ada lagi di sana. Padahal pribadinya yang rapuh begitu menonjol ketika ia menggunakan ekspresi lembut itu.
Namun, sekali lagi itu hanya topeng belaka. Sesungguhnya ia tidak serapuh yang terlihat karena ia tumbuh dengan kuat, ah, mungkin dengan hati yang kuat. Hati yang sudah terbiasa merasakan sakit dan ketidak berdayaan yang paling menyiksa.
"Apakah rasanya sakit?" Tanyanya terdengar mengeluh. Dengan mata penuh sayang dan kerinduan ia menatap Uminya yang terlihat kacau dan menyedihkan.
"Apakah rasanya sakit mengetahui bahwa orang yang menghancurkan kehidupan Kakak ku adalah adiknya sendiri?" Tanyanya sekali memperjelas pertanyaannya singkat tadi.
Terduduk lemas di lantai, Umi sudah tidak kuat lagi untuk terus berdiri. Tenaganya sudah habis dan rasa marah serta kecewanya membuat Umi tidak mampu untuk melampiaskannya.
"Kenapa kau melakukan ini, Nak? Bukankah kalian adalah saudara tapi mengapa kau tega melakukan semua itu?" Tanya Umi lemah dan hanya mengandalkan mata sembabnya untuk melihat Saqila yang juga sedang menatapnya sendu.
Mendengar pertanyaan Umi tanpa sadar Saqila menghirup udara dingin dengan kasar, melampiaskan amarahnya melalui gerakan singkat yang ia lakukan tadi.
"Lagi-lagi kalian bertanya kenapa, aku benar-benar jengkel setelah mendengarnya!" Kesal Saqila dirundung lagi dengan pertanyaan 'kenapa'.
Terkejut, Umi dan Abi sekali lagi dibuat terkejut dengan kekasaran Saqila. Walaupun kejahatannya sudah terungkap tapi tetap saja mereka berdua masih belum terbiasa dengan hal ini.
"Saqila.." Bisik Umi masih tidak mempercayai akan sikap putrinya yang kasar.
"Oo..jadi kau merasa jengkel dengan pertanyaan itu. Nah bagaimana dengan ini, aku akan mengganti pertanyaan itu dengan kata-kata yang tidak lagi membuat Kak Saqila jengkel." Berhenti tepat di depan Saqila, Safira dengan senyum main-mainnya memberikan provokasi samar kepada Saqila.
"Kak Saqila, semua yang terjadi menimpa Kakak kita Annisa, apa alasan mu melakukan semua itu?" Tanyanya terdengar lembut dan tidak tajam, tapi jika diperhatikan makna dari pengucapan lembut ini seharusnya Saqila bisa menyadari dengan jelas bahwa saat in Safira sedang mengejeknya.
Mengepalkan tangannya kuat, rasa bencinya pada Safira benar-benar sudah tidak dapat dibendung lagi. Mengapa?
Mengapa ia lalai terhadap kehadiran gadis ini?
Mengapa tidak sekalian ia hancurkan saja Safira sedari dulu bersama dengan Annisa. Karena dengan begitu kehidupan damainya tidak akan pernah terusik lagi dan hari penuh kesialan ini akan berakhir bahagia.
Itu jika ia tidak lupa menghancurkan kehidupan Safira. Tapi faktanya sekarang semuanya sudah lepas kendali dan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain melewatinya.
Terdiam lama, rasanya begitu enggan sekali Saqila menjawab pertanyaan Safira. Ia tahu bahkan jika ia menolak saat ini untuk menjawab maka kedua orang tuanya tidak akan pernah membiarkannya lolos dari pertanyaan yang lain.
Jadi hasil akhirnya sama saja sehingga tidak ada pilihan lain selain melayani mereka semua.
"Umi, Abi..lihat dan perhatikan betapa patuhnya putri yang kalian banggakan selama ini. Ia begitu patuh sampai menjawab pertanyaan sepele ku saja tidak bisa."
"Dia mengambil semuanya dari ku." Suara Saqila penuh dengan rasa kebencian. Ia benci mengingat waktu dimana ia hanya seorang bayangan bagi Annisa. Perasaan diabaikan karena tidak sesempurna Annisa, rasa itu adalah rasa yang paling Saqila tidak ingin ingat bagaimana rasanya.
Mengangkat alisnya, Safira dengan posisi malas menyandarkan tubuhnya di sisi tembok yang tidak jauh dari tempat kedua orang tuanya dan Saqila berada.
"Semuanya?" Tanya Safira mengulangi.
"Tentang apa itu, apakah kau bisa menjelaskannya?" Lanjutnya menuntut penjelasan Saqila lebih dalam lagi. Ia ingin menunjukkan kepada orang tuanya sisi terdalam yang tidak pernah mereka lihat karena percuma saja membiarkan orang tuanya bertanya langsung kepada Saqila, yah..kedua orang tuanya masih tidak sanggup untuk menghadapi Saqila. Mereka masih belum bisa mempercayai semua fakta yang baru mereka dengar, tentu saja itu pasti memastikan.
Mengepalkan kedua tangannya kuat, Saqila membalas tatapan penuh ejekan Safira dengan tajam.
"Ya semuanya." Mengalihkan pandangannya menatap kedua orang tuanya yang masih lemah di atas lantai yang sudah beralaskan karpet. Ada perasaan putus asa yang sedang menggerogotinya kini.
"Annisa mengambil semua kasih sayang Umi dan Abi dariku tanpa menyisakannya. Bahkan dulu aku sering merasa jika tatapan Abi pada Annisa sangat berbeda dengan ketika Abi menatap ku. Ini seolah-olah Abi memberikan sikap kepada ku bahwa aku hanyalah anak tirinya dan Annisa adalah anak kandungnya." Ucapnya mulai bercerita. Saqila kembali dibawa dalam ingatan masa lalunya, ketika tatapan lembut penuh kasih sayang kedua orang tuanya begitu melimpah diberikan kepada Annisa. Sedangkan ia... Saqila tidak punya apa-apa untuk didapatkan.
"Kalian begitu memanjakan dan membanggakannya di depan banyak orang. Keluarga yang lain pun tidak ketinggalan dengan perlakuan yang kalian berikan kepadanya. Mereka semua selalu mengagumi kesempurnaan yang Annisa dapatkan dan berlomba-lomba untuk menjodohkan Annisa bersama laki-laki yang tidak hanya mapan dan mampu, namun juga punya keimanan yang membuat yang lain iri." Lalu suara-suara kekaguman itu kembali bergema dalam telinganya, mengingatkan ia tentang hari dimana semuanya begitu terasa melelahkan bagi Saqila.
"Aku cemburu," Akuinya.
"Aku cemburu melihat Annisa yang begitu mudah mendapatkan semua itu tapi aku tidak. Aku cemburu melihat Annisa yang selalu bermandikan kasih sayang dari semua orang tapi tidak dengan ku. Aku cemburu.. cemburu karena Annisa tidak perlu mengeluarkan banyak usaha untuk mendapatkan sesuatu yang dinginkan. Tapi tidak dengan ku Abi, Umi...hiks.." Cairan bening mengalir lembut di atas kulit putihnya yang mulus dan lembut. Kini wajah itu terlihat pucat dan tidak baik-baik saja, ia terlihat begitu kesakitan.
"Berbeda dengan ku, aku tidak sama dengan Annisa dan Safira.." Sambungnya terdengar sekuat tenaga menahan isak tangisnya yang lebih besar lagi.
"Safira punya tempramen yang berbeda dari aku dan Annisa. Ia tidak butuh perhatian itu semua karena ia adalah gadis yang acuh terhadap sekitarnya. Baginya semuanya sama saja sehingga melihat Annisa yang bermandikan kasih sayang tidak membuatnya terganggu sama sekali.. hiks.." Safira tidak sama dengan mereka berdua karena Safira lebih menuruni sifat Umi yang keras. Inilah mengapa Saqila tidak pernah berpikir untuk menyentuh sisi Safira karena ia tahu..tahu jika Safira tidak akan pernah perduli dengan perhatian dan lingkungan sekitar mereka.
"Tapi aku berbeda..hiks.."
"Aku lemah dari sejak kecil, aku selalu butuh perhatian dan kasih sayang semua orang. Tapi..tapi kalian tidak pernah memikirkannya. Kalian tidak pernah berpikir jika selama ini aku selalu merasa kesakitan melihat Kakak ku mendapatkan semua perhatian kalian. Aku cemburu..aku cemburu karena aku harus bekerja keras untuk menarik perhatian kalian semua tapi tidak dengan Annisa. Ia mendapatkan semuanya.. mendapatkan semua yang aku butuhkan." Menaikkan tangan kanannya untuk menghapus cairan bening yang masih hangat.
"Apa kalian tahu disaat aku berdiri berdampingan dengan Annisa rasanya diriku ini sangat kecil dan tidak ternilai. Aku ada tapi kalian tidak bisa melihat ku, rasanya..." Menghirup udara dingin.
"Itu begitu menyakitkan, menyakitkan sekali rasanya hidup sendiri padahal kalian semua ada. Oleh karena itu aku kemudian memutuskan untuk melakukan sesuatu yang besar untuk mengubah hidup ku. Ya.. seperti yang kalian tahu sekarang aku memberanikan diri untuk menghancurkan Annisa. Mengubah posisi kami yang dimana kalian semua hanya menatap ku saja dan pura-pura tidak tahu terhadap kehadiran Annisa meskipun sebenarnya ia memang ada." Tersenyum miris, Saqila mengakhiri ceritanya akan masa lalu hidupnya yang begitu menyakitkan.
"Aku tidak akan mengatakan maaf karena aku tahu kalian semua akan menertawakannya. Dan memang benar kebencian ku terhadap Annisa sampai dengan hari ini masih tetap sama, aku tidak bisa memadamkannya." Ucap Saqila terdengar pasrah dan jujur.
Jauh dari dalam hatinya rasa sakit itu masih sama dan hidup, perasaan itu tidak pernah padam meskipun ia berusaha keras menghancurkan kehidupan Annisa. Ia tidak tahu harus berbuat apa karena meskipun ia berusaha menyakiti Annisa rasanya perasaan itu tidak pernah berkurang atau padam.
Ya, rasa sakit itu masih ada.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya secara langsung kepada kami berdua? Kenapa harus seperti ini anak ku..hiks.." Kenapa Saqila hanya diam dan lebih memilih untuk menghancurkan kehidupan saudaranya?
Bukankah lebih baik untuk mengatakannya secara langsung agar permasalahan ini tidak sampai ke tahap yang rumit. Dengan Saqila mengatakannya mereka berdua bisa merubah sikap mereka dan membagi kasih sayang tanpa ada rasa cemburu untuk yang lain.
"Mengatakannya?" Saqila tersenyum dingin, mengangkat tangannya untuk mengusap jejak air mata yang begitu menjengkelkan.
"Apa setelah aku mengatakannya kalian akan memperhatikan ku?" Tanya Saqila menahan sakit.
"Kami akan berusaha untuk memberikan kasih sayang yang adil untuk mu." Jawab Abi lagi mempertegas maksud ucapan istrinya. Ia berharap jika pembicaraan ini akan berakhir damai dan Saqila dapat melupakan masa lalunya.
Tapi sayangnya luka yang Saqila dapat begitu dalam, begitu dalam sampai dasarnya saja tidak dapat terlihat.
Tertawa kecil, Saqila mengangkat wajahnya menatap langit-langit ruangan ini. Lalu tangan bergetarnya terangkat mengusap sudut matanya yang berteriak ingin keluar dari sarangnya.
"Tapi sayangnya aku tidak membutuhkan rasa kasihan kalian." Suaranya pahit.
Menurunkan wajahnya kembali menatap kedua orang tuanya, "Aku tidak mau rasa kasihan kalian karena yang aku inginkan adalah kasih sayang kalian!"
"Tapi kalian tidak mengerti bukan?" Tanyanya miris.
Semua orang yang ada disekitar Saqila terdiam, sebagian dari mereka memperhatikan kemarahan Saqila yang langka dan sebagian lagi mengelilingi Annisa yang masih menangis pilu.
Hanya keluarga mereka saja yang ada di sini karena keluarga Gio mengungsi keruangan yang lain, mengasingkan diri dari urusan dalam keluarga Annisa.
"Yang kalian lihat dari apa yang telah aku lakukan adalah sebuah rasa kasihan, kalian berpikir bahwa aku butuh dikasihani tapi sebenarnya bukan itu yang aku inginkan. Aku hanya ingin perhatian kalian yang tulus selayaknya yang Annisa dapatkan! Tapi kalian tidak mengerti.. hiks.." Isaknya mencoba sekuat tenaga menahan tangisan rasa sakitnya.
"Kalian bertanya mengapa aku tidak mengatakannya langsung kepada kalian agar semuanya tidak serumit ini?" Tersenyum tipis,
"Aku ingin tapi aku tahu bahwa kalian tidak akan perduli. Aku adalah putri kalian juga, ini sama dengan Annisa tapi mengapa kalian menempatkan kami berdua dengan posisi yang berbeda?"
"Aku tidak mengerti." Suaranya putus asa.
"Jadi kenapa aku harus mengatakannya di saat aku dan kalian punya ikatan batin?" Tanyanya pahit. Saqila dan kedua orang tuanya punya ikatan batin tapi mengapa ia perlu memberi tahu kedua orangtuanya tentang keluhan ini?
Bukankah mereka bisa merasakannya sendiri?
Dan bukankah mereka seharusnya bisa melihat bahwa mereka berdua sudah terlalu keterlaluan sehingga begitu aneh rasanya menceritakan keluhan itu kepada mereka berdua.
"Kalian seharusnya bisa merasakan apa yang aku rasakan, kalian seharusnya bisa melihat bahwa aku tidak pernah baik-baik saja selama ini!. Berdiri di samping Annisa membuat ku benar-benar tenggelam dari perhatian kalian, padahal aku ada..tapi kalian sengaja tidak memperhatikan ku." Dia ada tapi jika di samping Annisa, Saqila sama saja dengan orang asing bagi keluarganya.
Saqila benci perasaan ini!
Saqila benci harus mengingat kembali rasa sakit menjadi orang asing bagi semua orang!
Mengapa jarak diantara mereka semua seakan mengatakan bahwa ia tidak lebih dari orang asing untuk keluarganya sendiri.
Mengapa mereka sekejam itu?
"Meskipun alasan mu cukup masuk akal akan tetapi melakukan rencana sefatal ini apakah kamu tidak merasa menyesal sedikit pun?" Tanya Safira yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
"Karena Annisa adalah saudara kita, apakah perasaan tidak nyaman itu ada dalam hatimu?" Sambung Safira lagi mencari ruang di hati Saqila yang masih hidup untuk kasih sayang.
Terdiam, Saqila membeku dalam diamnya.
Apakah ia menyesal?
Menghancurkan kehidupan saudara sedarahnya, apakah ia sama sekali tidak menyesal?
"Aku..tidak.." Setelah sekian lama akhirnya ia menjawab pertanyaan Safira dengan suara yang goyah.
"Aku tidak menyesal sama sekali telah menghancurkan kehidupan Annisa." Ulangnya lagi mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang telah dilakukan semua ini adalah keinginan hatinya.
Dan tidak ada ruang untuk menyesal di dalam hatinya, namun apakah ia sudah puas?
Saqila rasa ia masih belum puas, ia butuh waktu lebih banyak lagi untuk mengambil semua yang Annisa punya. Mengambil Gio, laki-laki yang selama ini selalu mengganggu tidurnya dan membuatnya berfantasi tinggi akan masa depan yang belum pasti.
Mengambil Umi dan Abi lagi dari Annisa, membuat orang tuanya melupakan Annisa sepenuhnya agar satu-satunya yang ada di mata mereka adalah dirinya sendiri.
Lalu mengambil semua perhatian keluarga maupun orang-orang yang ada di luar sana. Ia ingin semuanya dan tidak mau menyisakan apapun untuk Annisa yang serakah.
Ia menginginkan semuanya yang ada ada pada Annisa!
"Hem, Kak Saqila aku mengerti jika kau sangat terluka dengan ketidak Adilan kedua orang tua kita dalam membagi kasih sayang mereka akan tetapi tindakan yang kau lakukan ini juga tidak adil untuk Kak Annisa. Kak Annisa bagaimanapun tidak tahu menahu tentang semua ini bahkan setelah kau menghancurkannya, berpikir untuk mencurigai mu adalah hal yang paling tidak masuk akal untuknya. Jadi aku pikir kau salah dalam mengambil tindakan dan apa yang telah kau lakukan ini memang patut untuk tidak dimaafkan." Ucap Safira setelah menyimpulkan semua ini.
Mengalihkan pandangannya menatap Safira yang juga sedang menatapnya, tajam. "Kau mengatakan ini karena kau tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan." Ucap Saqila marah. Siapa dia yang begitu gamblang mengatakan ini?
Safira tidak berada di posisinya tapi ia mengatakan semua ini dengan gamblang padahal ini amat begitu tidak adil untuknya.
"Justru kaulah yang tidak mengerti posisi mu, Kak." Ucap Safira tenang.
"Kau menyakiti orang yang tidak bersalah di sini, apa kau menyadari hal ini?" Sambung Safira lagi.
Tersenyum dingin, "Orang yang tidak bersalah? Jika benar Annisa tidak salah lalu mengapa dia begitu menikmati semua yang orang berikan kepadanya? Dia itu serakah Safira, kau harus tahu itu." Bantah Saqila merasa benar. Annisa itu serakah dan tamak itulah mengapa Saqila benar-benar membencinya.
__ADS_1
Menatap dalam Saqila, "Percaya atau tidak orang yang paling serakah di sini adalah Kak Saqila. Aku tahu Kakak tidak akan pernah menyadari hal ini karena hati Kakak sudah tertutupi kabut setan. Jadi hal terbaik yang bisa kami lakukan untuk menyadarkan Kakak adalah dengan cara memberikan Kakak sebuah tindakan yang jelas."
"Tertutupi apa sialan! Apa kau tidak bisa membuka mata mu bahwa orang yang selama ini kau bela dan lindungi adalah monster serakah yang tamak! Dia serakah, sialan!" Teriak Saqila tidak terima hatinya dicap tertutupi kabut. Tidak, ia tidak bisa menerima itu karena satu-satunya orang yang seperti itu adalah Annisa.
Janda busuk sialan itu adalah monster yang sebenarnya!, Kenapa?
Kenapa mereka tidak bisa menyadari hal ini dan malah menuduh dirinya yang menjadi monster?
"Astagfirullah..ya Allah.." Umi bersuara putus asa, tidak lagi berniat ingin menatap putri yang selama ini ia banggakan.
Betapa hancurnya hati ini setelah tahu bahwa Saqila bukanlah seperti yang mereka duga dan harapkan. Saqila bahkan lebih dari pada orang-orang yang ada di luar sana. Ia begitu kejam dan menunjukkan seolah-olah hatinya sudah tertutup tanpa ruang untuk bernafas.
"Kalian mendengarnya bukan?" Suara Safira memecahkan keheningan.
Berdiri tegak, Safira dengan langkah pasti mendatangi kedua orang tuanya yang terduduk lemas di atas lantai berlapiskan karpet.
"Setelah menghancurkan kehidupan saudaranya, hati Saqila ternyata tidak merasakan penyesalan. Mengapa hal ini bisa terjadi?" Tanyanya seraya mendudukkan dirinya di depan kedua orang tuanya.
Terdiam, Umi dan Abi tidak bisa mengatakan apa-apa selain hanya bisa menatap malu pada Safira yang ada di depannya.
"Itu karena kalian yang terlalu imfulsif dalam bersikap. Memberikan kasih sayang tanpa takaran yang benar, lalu ketika salah satu anak yang kalian lahirkan dan besarkan membuat kesalahan fatal kalian malah mengasingkannya. Mengasingkan anak kalian seolah-olah ia adalah orang asing dan tidak pantas berdiri bersama kalian. Inilah mengapa aku bersikeras mengungkap semua kejahatan ini, selain untuk membuat Saqila jera aku juga ingin membuktikan kepada kalian berdua bahwa cara kalian selama ini salah. Kalian sendiri yang telah menghancurkan kehidupan anak-anak kalian, sekarang setelah semua aku ingin tahu langkah apa yang akan kalian ambil untuk Saqila dan Annisa?" Suara Safira terdengar miris dan prihatin. Bagaimana ia tidak merasa miris jika kehidupan Kakak-kakaknya yang malang berawal dari kelalaian kedua orang tuanya.
Jika Safira ingin jujur mengatakannya sesungguhnya ia juga ikut merasa sedih dengan apa yang dirasakan Saqila. Sedari kecil hanya bisa menjadi bayang-bayang untuk Kakaknya hati siapa yang tidak akan merasa terluka.
Akan tetapi meskipun Saqila adalah korban sedari kecil tetap saja melakukan semua ini rasanya terlalu berlebihan. Mengapa memilih menghancurkan kehidupan Annisa yang tidak tahu apa-apa dibandingkan dengan memulai kehidupan baru?
Safira tidak dapat mengerti ini.
Merenung, Abi berpikir keras tentang langkah apa yang akan ia berikan kepada Saqila karena seperti yang ia lihat percuma saja mengatakan hal-hal yang baik untuk membuat Saqila sadar, ujungnya Saqila akan menolak dia salah dan tetap teguh akan kebenaran bahwa orang yang paling benar di sini adalah dia.
Orang yang paling tersakiti di sini adalah dia dan orang yang paling patut merasakan bahagia adalah dia.
Menghela nafas dengan berat, Abi dengan hati-hati menyandarkan tubuh Umi dalam pelukannya. Menimbang-nimbang dengan hati-hati bahwa keputusan yang ia akan ambil hari ini bisa berdampak baik untuk Saqila dan Annisa.
Tentunya ini akan sangat berdampak baik bagi Saqila terutama, putri yang tidak sengaja mereka sakiti saat kecil.
"Saqila, Abi dan Umi minta maaf jika selama ini kau merasa di abaikan. Kami minta maaf untuk semua yang terjadi sehingga membuat mu membenci Annisa, untuk semua itu kami minta maaf. Dan untuk menebusnya kami tahu bahwa mungkin ini akan sedikit sulit untuk mu tapi tidak ada jalan lain selain langkah ini. Saqila, mulai hari ini kami akan mengirim mu ke pondok pesantren Abu Hurairah, kau akan menetap di sana bersama dengan santriwati-santriwati yang lain. Jangan takut karena pondok pesantren itu adalah milik sahabat Abi dan Umi sehingga untuk datang mengunjungi mu tidak akan sesulit pondok pesantren yang lain. Adapun keputusan untuk Annisa, Abi dan Umi memutuskan untuk menerima lamaran Gio. Tidak perduli secinta apa kamu dengan Gio, Nak, ia tidak akan pernah menjadi milik mu karena hatinya sudah dimiliki oleh Kakak mu. Jadi, Saqila hari ini Abi-"
"Omong kosong macam apa ini!" Sela Saqila marah dan kecewa.
Mengapa harus membuangnya ke tempat itu?
Ia baik-baik saja padahal, ia juga mengerti dan tidak kekurangan agama lalu kenapa kedua orang tuanya mengirim ia ke tempat itu?
"Aku tidak kekurangan agama dan aku juga mengerti lebih dari siapapun di luar sana mengenai agama kita tapi mengapa? Mengapa aku harus ke sana di saat pengetahuan ku akan agama tidak serendah orang-orang di luar sana?" Tanyanya tidak terima. Akan sangat rendah rasanya ia dikirim ke tempat itu di saat ia mengerti semuanya.
Ia paham dan mengerti lalu mengapa orang tuanya mengirimnya pergi?
Menghela nafas, "Abi mengerti Nak, jika kau merasa tersinggung dikirim ke tempat itu. Abi minta maaf tapi tidak ada jalan lain selain ke tempat itu. Sahabat Abi yang sekarang memimpin pondok pesantren itu adalah seorang ulama hebat dan in shaa Allah mampu membantu mu untuk terlepas dari penyakit syaitan ini. Jangan khawatir Saqila karena kami juga akan mendampingi mu di sana selama pengobatan mu, kami janji tidak akan mengabaikan mu lagi." Jelas Abi berjanji akan selalu di samping putrinya dan tidak akan pernah mengabaikannya.
Abi tahu bahwa dilihat dari sikap Saqila, ia dapat menyimpulkan bahwa putrinya terjerat perangkap syaitan. Menjerat putrinya dalam kebencian yang pekat dan tidak mendasar sehingga ia buta akan membedakan mana yang baik dan salah, Abi tidak ingin lagi melihat putrinya harus disiksa seperti itu oleh syaitan.
"Jadi, di pandangan Abi, aku ini adalah orang yang sakit?" Gumam Saqila miris.
Katanya ia akan membawa Saqila berobat di sana, jadi Abi menganggap bahwa ia sedang sakit?
Ia sakit!
"Nak, tidak seperti itu-"
"Lalu, lalu mengapa kalian menerima lamaran Mas Gio untuk Annisa di saat kalian tahu bahwa aku sakit? Seharusnya kalian menolaknya dan menjodohkan Mas Gio dengan ku agar penyakit ku bisa sembuh! Tapi kalian tidak melakukannya, mengapa! Mengapa Annisa bisa mendapatkannya dan aku tidak?" Potong Saqila putus asa, bahkan air mata hangatnya kini sudah mengalir deras tidak terkontrol di wajah putihnya yang mulus namun terlihat pucat.
Menatap putrinya yang kesakitan, "Itu karena Annisa berhak menerimanya, Nak. Pernikahan pertamanya adalah sebuah pengingat bagi kami bahwa Annisa juga berhak bahagia dengan pilihannya sendiri. Adapun tentang menolak lamaran Gio dan menjodohkannya dengan mu, Abi tahu bahwa semua itu adalah usaha yang sia-sia. Kau tidak akan sembuh, Nak dan pilihan terbaik adalah membawa mu ke tempat itu." Ucap Abi menjelaskan.
Ia tahu meskipun ia mengabulkan keinginan Saqila penyakit hati yang menjeratnya tidak akan pernah sembuh dan akan semakin menjadi-jadi. Maka pilihan terbaik adalah mengasingkan Saqila ke sana dan menyibukkannya dengan berbagai metode pengobatan ruqyah.
Membantu Umi berdiri, Abi dengan tenang menatap wajah pucat Saqila.
"Katakan kepada keluarga Gio bahwa kita menerima lamarannya, katakan juga pernikahan mereka akan dilaksanakan satu Minggu lagi." Ucap Abi memerintahkan Safira yang sedari tadi menonton mereka.
"Baik, Abi." Ucap Safira antara percaya dan tidak percaya. Sesungguhnya ia tidak pernah menyangka jika Abinya akan seberani ini mengambil langkah untuk memutuskan apa yang terbaik untuk mereka berdua.
Yah..secara keseluruhan ia puas dengan semua ini.
"Lalu Saqila, siang ini kita akan langsung berangkat mengantar mu ke pondok pesantren Abu Hurairah jadi tolong bersiaplah." Putus Abi tak ingin mendengar suara putus asa Saqila lagi. Ia dengan teguh memapah tubuh Umi menuju kamar mereka, mengistirahatkan sang istri yang begitu shock dengan kejutan hari ini.
"Tidak! Aku tidak mau pergi..Abi gak boleh seper-"
"Ayo Saqila, kemasi barang-barang mu." Ucap Umi Kayla seraya menuntun Saqila berjalan menuju ke kamarnya.
"Aku tidak mau...kenapa kalian se'egois ini hanya karena janda busuk sialan itu...aku tidak mau!"
Bersambung...
__ADS_1
Sebenarnya bingung mau nulis apa karena kebetulan beberapa hari ini suasana hati emak lagi gak enak. Kadang mau nangis karena gak bisa jalanin hari seperti biasanya, pokoknya ada aja yang bikin enak sakit hati terus jadi yah.. nulisnya sampai di sini saja, lanjutannya besok aja yah dan emak pastikan nulisnya in shaa Allah lebih panjang dari ini.