
"Mira..ya Allah hari ini aku senang banget tau." Safira berteriak-teriak heboh di dalam kamar dan dengan gembira ia melompat-lompat di atas ranjangnya.
Melihatnya seheboh ini Mira jadi ngeri sendiri karena takut sekali melihat ranjang itu tiba-tiba menjadi roboh. Walaupun tidak gendut tapi tenaga orang kurus tidak bisa disepelekan, faktanya orang yang tidak gendut jauh lebih kuat dari orang yang gemuk.
"Bisakah kau sedikit lebih tenang, kasian nanti ranjangnya roboh, Safira!" Mira berseru panik. Ia mencoba menarik tangan Safira agar segera turun ke bawah untuk mengamankan ranjang penuh nostalgia itu.
Safira tidak mengatakan apapun dan dengan patuh turun dari ranjangnya. Namun meskipun ia sudah turun, Safira masih tidak puas dengan perasaan senangnya yang ingin ia lampiaskan. Maka jadilah Safira memegang kedua tangan Mira lalu melanjutkan euforianya yang sempat tertunda.
Mira tidak ingin mengecewakan Safira dan dengan ikut berbahagia ia melayani euforia Safira. Mereka berputar-putar di sekitar kamar dan berakhir terkapar lelah juga pusing di atas ranjang masing-masing. Hem, ini adalah kegiatan yang sangat melelahkan namun entah mengapa ketika mereka tertawa bersama rasa lelah itu dengan sendirinya hilang.
"Kamu sangat aktif tadi aku jadi ragu jika kamu sedang puasa atau tidak." Energi dan Safira seperti seseorang yang tidak puasa dan itu membuat Mira menjadi kewalahan menghadapinya.
Safira tertawa konyol, jarang sekali melihatnya bertingkah konyol seperti ini. Mira pikir mungkin ada kabar gembira yang sangat luar biasa menghampiri sahabatnya ini, berbicara tentang kabar bahagia mungkinkah kedua orang tua Safira akan segera kembali?
Tapi bukankah ini belum 10 hari sejak kepergian mereka melaksanakan ibadah umroh.?
Nah, apakah Annisa sudah hamil? Tapi, bukankah ini terlalu cepat karena pernikahan mereka saja belum masuk 2 minggu. Tapi ini bisa saja karena sebenarnya Mira tidak terlalu tahu menahu tentang fase-fase kehamilan perempuan. Yah, meskipun ia perempuan tapi ia tidak sekepo itu untuk mencari tahu tentang hal privasi ini.
Lalu, Jika ini bukan karena kedua orang tuanya dan Annisa, apakah ini tentang Saqila?
Saqila, mungkinkah ia sudah bisa pulang dan bergabung bersama yang lain? Jika iya maka wajar saja Safira seheboh ini. Dia sangat berbeda ketika bahagia, seolah-olah topeng dinginnya yang menyebalkan ia buang entah kemana.
"Ah... entahlah, aku juga tidak yakin bisa punya tenaga sebesar ini." Menghela nafas lega, kedua tangannya terangkat untuk menyentuh bagian dadanya. Merasakan debaran jantungnya yang barpacu sangat cepat meskipun berulang kali ia mencoba menetralkannya. Itu akan terus berdetak cepat jika ia mengingat obrolan singkatnya bersama Aldo shubuh tadi.
"Ketika mengingat wajah tersenyumnya yang tampan jantung ini terus berdetak kencang. Ia tidak bisa berhenti sekalipun aku mencoba menetralkannya, dan apa kamu tahu Mira?" Safira mengalihkan pandangannya menatap Mira, mencoba menyalurkan betapa bahagianya ia sekarang.
"Hem?" Jawab Mira serasa kosong.
Jadi ia bahagia karena Aldo, ah.. bodohnya Mira tidak sempat memikirkan tentang hal ini. Mereka sedang dalam suasana jatuh cinta jadi untuk bertingkah konyol seperti ini sangat biasa.
"Meskipun jantung ku bergerak cepat tapi itu tidak terasa sakit sama sekali. Rasanya malah sangat manis dan menyenangkan, aku tiba-tiba rindu ingin bertemu dengannya lagi." Katanya lagi sambil membawa pandangannya menatap langit-langit kamar mereka.
Biasanya Safira akan merasa sangat bosan dengan pemandangan yang itu-itu saja tapi saat ini entah mengapa pemandangan ini justru sangat menarik penglihatannya. Jika jatuh cinta bisa membuat hari-hari lebih berwarna maka Safira berdoa agar Allah membuatnya merasakan jatuh cinta setiap hari.
Hari-harinya pasti akan sangat menarik dan tidak membosankan!
Mira tersenyum ringan, ikut menatap langit-langit kamar mereka. "Rasanya pasti sangat menyenangkan, bukan?" Ia tahu rasa itu karena beberapa hari yang lalu ia sempat merasakannya. Perasaan senang yang tidak tertahankan, dunia seakan membuat segalanya lebih mudah.
"Yah rasanya sangat menyenangkan dan aku yakin kau sekarang sedang merasakannya juga." Safira tahu jika Mira juga sedang jatuh cinta dengan Ali, ustad baru yang ditugaskan untuk bagian kedisiplinan. Karena mereka sedang berada di posisi yang sama entah mengapa rasanya jauh lebih bersemangat untuk Safira.
Mengerjap pelan, Mira tidak langsung merespon tebakan Safira karena seperti yang Safira katakan tadi ia memang merasakannya tapi itu kemarin dan hari ini tentu saja tidak.
"Jadi ada apa dengan Aldo?" Tanya Mira mengalihkan pembicaraan mereka berdua.
Safira tentu saja tidak tahu jika topik ini untuk mengalihkan perhatiannya, "Sebelum sahur tadi kami sempat mengobrol singkat." Cerita Safira mulai mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
Karena terlalu asik mengenang tanpa sadar tangannya meraih bantal guling empuk yang selalu menemani hari-harinya di pondok pesantren.
"Kami membicarakan tentang kejadian 2 tahun yang lalu dan aku juga saat itu mengungkapkan perhomonan maaf ku yang belum sempat aku katakan pada saat itu. Kemudian Aldo bilang itu bukan salahku tapi salahnya yang tidak hati-hati saat berjalan." Tertawa kecil penuh kesenangan, Safira memeluknya gulingnya dengan sangat erat.
"Aku sebenarnya sangat terkejut saat tahu ia masih mengingat detail waktu itu karena aku pikir Aldo akan melupakannya dengan mudah. Tapi ternyata Aldo sama sekali tidak melupakannya dan mengingatnya dengan sangat detail!"
Mira tersenyum kecil, dalam hati ia berkata bahwa tentu saja Aldo akan mengingatnya karena itu adalah awal pertemuannya dengan Safira. Awal mereka bertemu dan diam-diam saling menyukai, siapa yang ingin melupakan awal yang indah itu?
"Dan apakah kamu tahu Mira, dia bilang kepadaku bahwa selama dua tahun ini ia sudah banyak mendengar tentang ku dari Mas Gio. Ah... Mira, ini terlalu banyak...aku benar-benar dibawa melayang tinggi. Mira.. bagaimana ini, selama dua tahun ini dia sudah mencari tahu tentang diriku dari Mas Gio. Aku sangat gugup ketika mengetahuinya dan lagi, mengapa Mas Gio tidak pernah mengatakan apa-apa tentang Aldo? Bukannya menjelaskan kepada ku siapa Aldo, Mas Gio malah membiarkan ku berkubang dalam kesalahpahaman." Safira berkata panjang lebar antara suka cita dan keluhan terhadap Gus Gio. Tapi Mira tahu meskipun Safira kesal dengan Gus Gio jauh dari dalam hatinya ia sangat senang dengan kejutan itu.
Mira juga tidak terlalu terkejut ketika tahu Aldo diam-diam mencari informasi Safira dari Gus Gio karena yah jelas saja itu akan terjadi karena normalnya orang yang sedang jatuh cinta pasti akan bekerja keras mencari informasi orang yang ia sukai.
"Syukurlah Safira, mendengarnya aku jadi tenang karena Aldo juga selama ini mencari secara diam-diam informasi mengenai kamu. Hah, setelah Annisa dan Nanda pergi ke atas pelaminan, sekarang kamu pun akan menyusul mereka sebentar lagi. Aku agak kesepian." Dan sedikit cemburu.
Sayangnya kata terakhir ini hanya ia katakan di dalam hatinya. Ia cemburu dan itu sangat wajar, melihat sahabat dan cintanya bersatu tentu saja menciptakan riak yang dalam di hatinya.
"Hem, tapi ini semua juga karena kamu Mira. Jika saja tadi saat sahur kamu tidak memanggil ku maka mungkin aku tidak akan mendapatkan kesempatan yang lebih baik lagi dari ini. Mira, terimakasih." Mira adalah penolongnya dan karena Mira, Safira bisa bertemu dengan Aldo sahur tadi. Hem, meskipun mereka mengobrol singkat namun makna yang Aldo sampaikan kepadanya sangat dalam. Safira sungguh merasa senang setiap kali memikirkannya.
Mira tersenyum tipis, "Kamu tidak perlu berterima kasih kepada ku karena sebagai sahabat itu adalah kewajiban ku." Ucapnya terdengar sangat tenang, tenang sampai rasanya aneh ketika sampai ke pendengaran Safira.
🥀🥀🥀
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 3 siang dan sudah waktunya bagi mereka untuk memetik sayur di kebun pondok. Awalnya banyak orang menentang ide ini karena cuaca sangat panas pada hari biasanya. Namun, hari ini cuaca sedang bersahabat untuk semua orang karena mulai mendung dan udara menjadi lembab.
"Cuaca hari ini sangat bagus, tidak panas juga tidak hujan." Ucap Safira menilai dengan santai yang langsung disetujui oleh Mira juga.
__ADS_1
"Hem, dengan begini kita akan mudah memetik sayurnya."
Karena tidak ingin menunggu lama lagi Safira dan Mira akhirnya mulai melaksanakan tugas mereka. Karena kebun pondok sangat luas dan para santri sudah mulai sibuk bekerja maka mereka berdua memilih mendatangi tempat yang belum atau jarang santrinya. Jika sebagian besar santri kumpul di satu kebun maka sudah dipastikan 2 atau 3 hari ke depan makanan berbuka mereka adalah sayur yang itu-itu saja.
"Hei Safira, kenapa kita tidak menangkap ikan saja di sungai? Aku pikir itu setidaknya akan sangat menyenangkan apalagi sungai kita jernih dan dangkal." Jadi mereka seharusnya tidak takut turun ke sungai karena aliran sungai pondok pesantren sangat bersih dan jernih, ditambah itu sama sekali tidak dalam dan sangat dangkal.
"Ide bagus Mir, berhubung yang lain banyak mengambil lalu kita akan mencari ikan di sungai." Safira tidak menolak bahkan cukup senang dengan saran Mira. Sebagai perempuan rumahan ia merasa tertantang untuk mencoba menangkap ikan, entah itu dapat atau tidak itu tergantung usahanya jadi dia sangat ingin mencoba.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kita segera ke sungai sebelum waktu terbuang sia-sia."
Mereka kemudian langsung bergerak ke arah sungai yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. Berjalan mendekati sungai, mereka bisa mendengar aliran lembut nan tenang sungai yang menenangkan hati pendengarannya.
Sudah diduga, ke sungai adalah pilihan terbaik untuk Mira. Di sana ia bisa menenangkan dirinya yang sempat merasakan suasana tidak nyaman di dalam hatinya. Bermain dengan aliran air adalah tujuan Mira sebenarnya, namun karena ini masalah pribadinya ia dengan samar menggunakan alasan menangkap ikan sebagai penyamaran untuk menarik minat Safira. Tidak disangka, Safira ternyata juga setuju tanpa menunggu waktu yang lama.
Langkah demi langkah mendekati sungai, mereka berdua bisa mendengar suara beberapa orang yang sibuk mencari ikan di sungai. Tak disangka, ternyata bukan hanya mereka yang ingin menangkap ikan tapi ternyata banyak juga yang mempunyai ide ini. Membuat Safira yang mendengarkan keributan ini menjadi semakin tertarik untuk turun ke sungai.
Dan benar saja, ketika mereka sampai di depan sungai sudah mereka temukan banyak orang yang heboh menangkap ikan. Sebenarnya tidak sebanyak orang di kebun namun tetap saja ini masih terlihat cukup ramai. Yah, sebenarnya jarang ada orang yang ingin bermain dengan air sehingga hanya beberapa orang yang ada di dalam sungai. Itupun kebanyakan dari mereka adalah staf pondok pesantren dan beberapa santri yang merelakan pakaian mereka basah.
Terkejut, ini bukanlah harapan Mira untuk datang ke sini. Ia pikir sungai tidak seramai ini namun nyatanya lumayan ramai. Itupun kebanyakan dari mereka adalah anggota staf pondok pesantren sehingga membuat pikiran Mira tertuju pada sosok Aldo.
Itu... tidak mungkin bukan Aldo ada di sini?
Memikirkannya membuat Mira takut dan tanpa sadar ingin memutar badannya untuk kembali ke kebun saja. Namun, sebelum ia bisa melakukannya sebuah suara berat namun terdengar tenang mengintrupsi pikirannya.
"Kalian di sini juga?" Tanya suara itu berhasil memacu detak jantung Mira bergerak cepat dan panik. Bahkan kedua lututnya entah mengapa tidak bisa digerakkan dan terasa lemas.
"Eh.. Mas Aldo.." Safira juga terkejut melihat kedatangan orang yang ia sukai namun secepat kilat ia langsung memperbaiki ekspresi wajahnya menjadi lebih tenang.
Aldo tersenyum menanggapi panggilan malu Safira, menganggukkan kepalanya sebagai respon pandangan tenang Aldo kemudian beralih menatap wajah merah Mira yang ada di depannya.
"Ingin bergabung menangkap ikan bersama?" Tanya Aldo dengan ringan ke Mira.
Mira awalnya cukup terkejut, mengangkat kepalanya dengan malu juga takut, Mira kemudian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tapi, itu tergantung Safira." Ragu Mira seraya mengalihkan perhatiannya menatap Safira, meminta pendapatnya.
Safira tentu saja tidak menolak dan malah cukup senang dengan tawaran Aldo kepada mereka berdua.
Ah, melihat sisi Safira yang pemalu ini membuat Mira langsung tersadar. Kehadirannya di sini adalah sebagai pihak ketiga dan mengganggu, jadi untuk kenyamanan mereka berdua Mira berencana untuk menjaga jarak dari mereka.
Aldo tersenyum lagi, "Bagus, kalau begitu turunkan kaki kalian dengan hati-hati ke dalam sungai. Ada banyak batu licin di dalam jadi kalian harus hati-hati saat melangkah." Peringat Aldo memberi tahu seraya membawa langkahnya mundur untuk memberikan Safira dan Mira tempat menapaki kaki mereka ke dalam sungai.
Mendengar peringatan Aldo, Mira dan Safira sontak menurunkan kaki mereka dengan hati-hati pula. Membawa kaki mereka menapaki dasar sungai yang tepat agar tidak terpeleset. Awalnya, tidak ada masalah dengan mereka berdua saat baru turun ke sungai dan Aldo pun ikut merasa lega melihatnya. Akan tetapi, ketika Mira menyeret kakinya melangkah ke depan dan bermaksud ingin memulai rencana kecilnya tiba-tiba kakinya terpeleset dari batu licin yang ia pijaki dan sontak membuatnya akan terjatuh ke dalam sungai.
Grab
Namun sebelum itu terjadi ada tangan kuat yang menangkap pinggang ramping Mira, mencoba menahannya agar tidak terjatuh ke dalam sungai. Itu adalah rencana Aldo, akan tetapi nyatanya fakta yang ada berkata lain. Meskipun berhasil meraih Mira itu tidak bisa membuat Mira terjatuh namun malah ikut menyeret Aldo juga masuk ke dalam air sungai.
Jburr
Mereka berdua secara bersama-sama masuk ke dalam air sungai, membuat seluruh pasang mata yang ada di sana mengalihkan perhatian mereka menatap Mira dan Aldo yang basah kuyup oleh air sungai.
Mira terkejut dan tanpa sadar meraih lengan Aldo sebagai tanda mencari perlindungan. Saat jatuh ke dalam sungai pun Mira sama sekali tidak merasakan sakit karena badannya ditimpa oleh Aldo, tapi justru ia merasa terlindungi karena meskipun jatuh ia tidak langsung menimpa bebatuan dasar sungai yang pasti rasanya akan sangat sakit ketika bersentuhan.
"Mira, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Aldo panik seraya menarik pinggang Mira dengan hati-hati dan membantunya bangun dari air. Namun gerakan itu dihentikan oleh Mira sebelum Aldo berhasil menariknya bangun.
"Ba-baju ku basah semua, jadi aku tidak bisa bangun dalam keadaan seperti ini." Ucap Mira gugup bercampur malu sambil menurunkan tangannya dari lengan Aldo. Ia sadar betul jika situasinya saat ini sedang diperhatikan oleh banyak pasang mata sehingga tidak baik rasanya bangun dalam keadaan pakaian yang menyusut menempeli tubuhnya sehingga memberikan kesan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seharusnya rahasia!
Mira juga takut jika Safira salah paham terhadapnya dan Aldo sehingga tadi ia dengan cepat melepaskan tangannya dari lengan kuat Aldo.
Mendengar penolakan Mira, Aldo dengan pengertian melepaskan tangannya dari pinggang Mira dan segera bangun untuk meminta bantuan kepada yang lain.
"Ah, kain..aku akan mencari kain dulu." Tersadar dari lamunannya, Safira kemudian dengan panik ingin segera mencari kain untuk menutupi Mira dari perhatian banyak orang. Namun sebelum ia bisa membawa langkahnya naik ke atas sudah ada orang lain yang melemparkan Aldo sebuah handuk besar.
"Hati-hati saat bangun." Instruksi Aldo pada Mira agar mengangkat badannya sedikit lebih tinggi dari air. Aldo melakukan ini agar handuknya jangan terlalu banyak bersentuhan dengan air, sudah cukup pakaian Mira yang akan membuatnya basah.
Mengikuti perintah Aldo, Mira kemudian dengan hati-hati bangun dari duduknya dan langsung merasakan sebuah kain menutupi punggungnya. Menundukkan kepalanya, Mira terlalu takut untuk menatap wajah Aldo karena rasanya wajah itu terlalu dekat untuknya.
"Safira," Panggil Aldo cepat setelah menutupi Mira dengan handuk yang ada di tangannya tadi.
"Eh, ya?" Jawab Safira terlihat agak linglung.
__ADS_1
"Tolong bantu Mira naik ke atas dan bawa dia kembali ke kamarnya untuk segera berganti pakaian." Aldo meminta bantuannya agar Mira bisa segera mengganti pakaiannya. Hal ini ia segera ingin lakukan karena Mira saat ini dalam keadaan berpuasa yang otomatis bisa ditebak jika perutnya kosong. Basah dalam perut kosong tentu saja mudah terserang flu.
"Ya, tentu saja." Safira langsung menyanggupi. Memegang lengan Mira, Safira kemudian dengan hati-hati membimbing Mira naik ke atas daratan lagi. Meninggalkan sungai dalam keadaan kebingungan dan panik.
Safira gelisah dibuatnya karena secara logika Mira tidak mungkin melangkahinya sebagai sahabat bukan?
Mira tidak mungkin sejahat itu ingin menusuknya dari belakang tapi mengapa saat melihat interaksi Mira dan Aldo tadi di sungai Safira merasakan perasaan yang aneh dan terancam? Seakan-akan Mira punya maksud tertentu kepada Aldo. Bukan hanya itu saja, ketika Safira perhatikan saat di sungai tadi mata Aldo akan selalu bersinar lembut ketika berbicara dengan Mira. Sangat lembut dan memberikan kesan jika hanya ada Mira saja di dalam pandangannya, tapi...ini hanya perasaan Safira saja bukan?
Karena cemburu melihat kedekatan mendadak Mira dan Aldo di sungai membuatnya tanpa sadar panik dan meragukan sahabatnya sendiri, itu adalah hal yang paling buruk. Hem, untuk apa Safira ragu?
Bukankah Aldo sudah memberikan sinyal jika ia juga menyukai Safira?, Benar, tidak seharusnya Safira bersikap aneh seperti ini!
Berbeda dengan Safira yang berpikir panik, Mira justru diam-diam tenggelam dalam pikirannya yang pahit manis. Ia masih bisa mengingat dengan jelas bahkan perasaan tangan yang kuat menyentuhnya pun masih bisa ia rasakan di pinggangnya. Bukan hanya itu saja, Mira juga masih ingat dengan lengan kuat yang sempat ia pegang tadi dan Mira juga masih sangat ingat dengan wangi menenangkan milik Aldo. Itu seperti wangi pohon Pinus yang menyegarkan dan menenangkan.
Mengingat semua yang terjadi di sungai, Mira tanpa sadar mengeratkan handuk yang ada di tangannya. Melirik Mira yang terlihat linglung dari sudut matanya, diam-diam kebahagiaan yang sempat berkobar tadi mengecil dan padam dengan sendirinya.
Aku bertingkah konyol lagi, hampir saja membangun harapan yang sia-sia dan merusak hubungan persahabatan ku dengan Safira. Lagipula, Aldo sangat menyukai Safira jadi seharusnya aku tidak perlu mengharapkan apapun dari kejadian ini.
🍃🍃🍃
Setelah selesai membersihkan dirinya, Mira kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang. Menarik selimut hangat yang sering ia gunakan untuk ia peluk agar bisa merasakan kehangatan.
"Safira maaf, aku mengacaukan pertemuan mu dengan Aldo." Setelah sekian lama berpikir, Mira mengucapkan permohonan maafnya kepada Safira mengenai kejadian tadi di sungai. Andai saja ia berhati-hati maka mungkin Safira dan Aldo bisa lebih dekat lagi untuk saling mengenal.
Safira tersenyum ringan, meskipun awalnya ia sempat terganggu namun ia mengerti jika Mira juga tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Kamu tidak perlu meminta maaf karena biar bagaimanapun ini terjadi karena tidak sengaja. Mungkin saat kami bertemu lain kali akan ada waktu untuk berbincang bersama seperti saat sahur tadi malam." Mungkin diwaktu yang lain ia bisa mendapatkan kesempatan yang lebih baik lagi. Adapun Mira, Safira tidak ingin terlalu memikirkan tentang kejadian hari ini karena jika dipikir-pikir dengan baik Mira sudah sangat membantunya untuk lebih dekat lagi dengan Aldo.
"Tapi aku-"
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum?" Suara ketukan pintu dan salam dari seorang wanita menghentikan ucapan Mira. Melirik Safira yang terlihat lesu, Mira memutuskan untuk membuka pintu sendiri.
"Biar aku saja." Ucap Mira mengambil inisiatif melihat Safira yang akan segera bangun dari tidurnya. Safira tidak mengatakan apa-apa dan hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.
Membuka pintu kamar, sudah ada perempuan muda berdiri di depannya. Sepertinya perempuan ini berasal dari staf bagian informasi.
"Waalaikumussalam, Mbak cari siapa?" Tanya Mira sopan.
Perempuan itu tersenyum ramah kepada Mira, "Saya mencari gadis yang bernama Mira, keluarganya ingin berbicara dengannya."
Keluarga?
Mungkinkah itu Mama atau Papanya?
"Oh, itu dengan saya sendiri Mbak. Kalau begitu saya pamit dulu sama teman sekamar saya sebelum pergi." Setelah mendapatkan persetujuan dari perempuan itu, lantas Mira kemudian masuk dan izin keluar kepada Safira. Setelah mendapatkan respon cepat Safira, ia segera keluar dan berjalan menuju kantor urusan informasi bersama perempuan itu.
Di dalam perjalanan ke sana, ada perasaan bingung dan pahit yang ia rasakan. Dalam hati ia bertanya-tanya, mengapa setelah 4 tahun mereka akhirnya menghubunginya ke sini? Biasanya Mira lah yang selalu berinisiatif menghubungi mereka di setiap tahunnya. Tapi kali ini mereka mengambil inisiatif duluan, apakah telah terjadi sesuatu di rumah?
"Silahkan." Begitu sampai di kantor, sudah ada perempuan lain yang menunggunya. Dengan senyuman yang ramah dan sopan perempuan itu memberikan Mira telepon yang sempat dipegangnya.
"Terimakasih." Balas Mira tidak lupa dengan senyum sopannya.
"Halo, assalamualaikum?" Ucap Mira memulai obrolan setelah menempatkan gagang telepon ke telinganya.
"Waalaikumussalam Mira, ini Mama." Suara lembut namun sarat akan kelelahan terdengar dari seberang sana.
"Iya Ma, ada apa?" Mira bertanya canggung, aneh rasanya ia bersikap penuh kasih sayang selayaknya seorang Ibu dan anak kepada Mamanya.
Karena hubungan mereka tidak sebaik itu.
"Mama tidak ingin berbasa-basi dan seharusnya kamu tahu."
Mira memilih diam dan tidak menjawabnya.
"Mama menelpon mu kali ini karena ingin kamu segera pulang. Sudah waktunya kamu berhenti menjadi relawan di sana dan kembali ke rumah. Dengar, semua orang sudah kembali berkumpul sekarang dan mereka juga merindukan mu."
__ADS_1
🍃🍃🍃