
وَمَا كَا نَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ وَ مَنْ يُّرِدْ ثَوَا بَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَا ۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَا بَ الْاٰ خِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَا ۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ
"*Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 145*)
\*
"Reina, Umi bertanya apakah kau merasa nyaman untuk ikut makan bersama di dalam?" Annisa kembali masuk ke dalam dapur dan langsung membawa langkahnya mendekati Reina yang masih beristirahat di kursi yang sama.
"Apakah Umi yang mengatakannya?" Tanya Reina terlihat bersemangat kembali, wajah letih dan lelahnya seketika hilang digantikan dengan wajah yang penuh suka cita.
Tersenyum ringan, Annisa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan antusias Reina. "Aku mengatakan keadaan mu yang kurang baik kepada Umi jadi ia-"
"Annisa apa yang sebenarnya kau rencanakan?" Potong Reina marah ketika mendengar Annisa melaporkan ketidak nyamanan kepada Umi.
"Apa yang ku rencanakan?" Annisa bertanya bingung dengan pertanyaan yang Reina lemparkan kepadanya. Pasalnya, ia tidak mengerti dengan pertanyaan tersebut dan sedikit bingung melihat perubahan sikap Reina kepadanya dalam beberapa detik saja.
Memutar bola matanya malas, Reina tidak menyembunyikan tatapan ketidak sukaannya terhadap Annisa yang kini sedang menatapnya bingung. "Kau pikir aku dapat dibodohi oleh wajah palsu mu? Ahaha.. kau salah besar Annisa, aku tidak sebodoh mereka yang mau saja kau mainkan."
Tertegun, Annisa semakin bingung di buat Reina. Ia masih belum mengerti apa yang Reina coba katakan kepadanya. Mereka yang mau saja ia bodohi?
Mereka siapa?
Annisa tidak pernah merasa membodohi siapapun di sini jadi mengapa Reina bisa mengatakan hal sekejam itu kepadanya?
"Maksud mu apa Rein, aku tidak mengerti sama sekali dengan ucapan mu." Annisa bertanya bingung.
Tersenyum dingin, Reina begitu muak dengan wajah tidak bersalah yang Annisa buat-buat. Jika bisa ia ingin sekali merobek topeng tidak tahu malu yang terus melekat pada wajah kotornya.
"Annisa, jangan berpura-pura bodoh. Aku tahu tujuan mu mengatakan hal ini kepada Umi agar aku tidak dapat bergabung bersama kalian untuk makan bersama. Maksud dan tujuan mu ini kan? Menyingkirkan ku dari pandangan Umi dan Abi!" Marah Reina mengungkapkan kekesalannya kepada Annisa yang kini sedang menatapnya kosong.
"...." Annisa tidak tahu harus merespon apa untuk menenangkan amarah Reina. Ini... apakah Annisa harus berpikir segila ini untuk mendapatkan wajah Umi dan Abi?
Mengelus dada, diam-diam Annisa beristigfar dengan perasangka buruk Annisa kepadanya.
"Tidak bisa menjawabnya bukan, aku sudah tahu Annisa jika niat mu memang seperti ini. Kau ingin menjatuhkan ku!"
Menghela nafas, Annisa mencoba menjelaskan secara baik-baik tentang alasannya memberi tahu Umi. "Tidak, aku tidak pernah berpikir seperti yang kamu katakan tadi jadi aku mohon hilangkan perasangka buruk terhadap ku dulu. Lalu masalah Umi, aku mengatakan kondisi mu kepada Umi agar kau segera mendapatkan perawatan dari medis untuk mengobati luka lebam yang ada di pergelangan tangan mu. Aku khawatir melihat mu seperti ini maka aku melaporkan hal ini kepada Umi, dan seperti yang ku katakan tadi Umi dan yang lain begitu khawatir kepada mu karena kau mengalami hal buruk yang tidak di inginkan. Maka dari itu Umi bertanya kepada mu apakah kau nyaman untuk ikut makan bersama mengingat kau dalam keadaan yang tidak baik-baik saja?" Annisa menjelaskannya dengan jujur dan tanpa menyembunyikan apapun. Bahkan ia tidak melebihkan atau mengurangi cerita yang ia sampaikan kepada Reina jadi penjelasan tersebut benar seperti apa adanya.
Mendengar penjelasan Annisa, warna wajah Reina perlahan berubah. Sedikit demi sedikit ia mulai memperbaiki ekspresi setenang mungkin di depan Annisa. "Apakah yang kau katakan itu benar?" Tanyanya dengan ragu-ragu.
"In shaa Allah apa yang aku katakan benar." Ucap Annisa meyakinkan Reina.
Menghela nafas lega, Reina kemudian menatap wajah Annisa dengan ekspresi bersalah. Ia tadi tidak bisa mengontrol emosinya. "Annisa, aku minta maaf karena telah menuduh mu yang tidak-tidak. Aku sungguh tidak bermaksud seperti itu jadi, Annisa aku minta maaf tulus dari dalam hati ku." Reina meminta maaf dengan wajah memohon yang menyedihkan, bertindak seolah-olah ia sangat menyesali perbuatannya.
Tersenyum canggung, Annisa tentu saja masih belum bisa melupakan betapa terkejutnya ia mendapati perubahan sikap Reina beberapa waktu lalu. Baginya itu sedikit kasar menyakitinya tapi tetap saja Annisa tidak menganggap masalah ini dengan satu pandangan karena seperti yang Reina jelaskan tadi ini hanya salah paham. Lagipula Reina juga sudah meminta maaf kepadanya jadi mengapa ia menerimanya di saat Reina sudah mengakui kecerobohannya?
"Tidak apa-apa Reina, aku tahu bahwa ini hanya salah paham saja jadi jangan di pikirkan. Sudahlah, lebih baik kita melupakan saja kesalah pahaman yang terjadi hari ini dan bergabung bersama yang lain di meja makan. Aku yakin mereka sudah menunggu kita lama." Ucap Annisa dengan senyuman lembutnya yang ringan dan tulus. Lalu dengan gerakan terbiasa ia membawa bubur yang ada di dalam mangkuk porselin dengan santai.
"Ayo." Ucap Annisa seraya membawa langkahnya keluar dari dapur.
Melihat kepergian Annisa, senyuman permintaan maaf yang sempat menghiasi wajah Reina kini perlahan menipis dan hilang tanpa jejak. Mata yang tadinya menyiratkan rasa bersalah kini telah meredup di gantikan dengan mata tajam yang menyiratkan kebencian.
"Sial, aku kehilangan kontrol dan bersikap impulsif di depannya. Hampir saja aku menggagalkan rencana yang ku buat hanya karena kemarahan sesaat ku yang muncul." Kesal, ia hampir saja mendorong Annisa keluar dari jaringnya. Kemarahan tiba-tiba yang menyerangnya tadi memang di luar perkiraannya. Mendengar Annisa mengatakan kondisinya kepada Umi entah kenapa membuat Reina marah dan melahirkan pikiran yang buruk kepada Annisa.
Ia dengan bodohnya berprasangka dan menuduh Annisa tentang sesuatu yang memang muncul dari pikirannya. Hampir saja ia kehilangan kesempatan emas ini, jika tidak maka percuma saja ia selama ini mengontrol emosinya bersama orang-orang idiot yang mau saja menjadi budak Annisa.
"Sayangnya Allah menyelamatkan ku itu karena Allah tidak ingin melihat Annisa terus melakukan kejahatan. Allah ingin yang bersama Mas Gio adalah aku dan bukan janda sialan itu." Gumam Reina merasa lega karena Allah membantunya keluar dari situasi tidak terduga tadi.
Ya, yang Sang Maha Kuasa inginkan adalah ia dan Gio bersama tanpa ada Annisa sebagai penghalang. Itu karena Reina adalah gadis yang masih suci dan bersih sedangkan Annisa adalah janda kotor dan hina, jadi wajar saja Allah menginginkan Gio bersamanya dan bukan bersama janda sialan itu. Setidaknya inilah yang ada di pikiran Reina saat ini bahwa sadarnya ia dari tindakan impulsifnya adalah bagian dari pertolongan Allah untuknya.
Allah menolong rencananya agar tetap berjalan lancar, tapi apakah iya semua yang terjadi adalah pertolongan dari Allah?
Bukankah Allah sangat menyukai perbuatan baik?
***
"Kakak cantik!" Teriak Naila begitu bersemangat ketika Annisa datang sekali lagi sambil membawa bubur yang dari baunya saja Naila begitu yakin itu bubur kesukaannya.
"Sini duduk di samping Naila." Teriaknya sekali lagi membuat semua orang menjatuhkan perhatiannya pada Annisa yang merona menahan malu.
"Naila sayang, tadi bukannya kursi ini buat bibi yah kok sekarang malah di kasih Kakak Annisa sih?" Suara lembut Nanda mencoba menarik ingatan si kecil beberapa waktu lalu.
Mempoutkan bibirnya, "Bibi, Naila gak pelnah bilang kulsi ini untuk bibi. Naila malah bilang kalo kulsi ini untuk Kakak cantik, bibi ih udah gede juga masih aja pikun." Celoteh Naila yang langsung di sambut tawa mereka semua.
"Ini bubur kesukaannya Naila jadi di makan pelan-pelan yah." Ucap Annisa seraya menempatkan mangkuk porselin bubur Naila di depannya lengkap dengan sendok dan segelas air putih dengan suhu normal.
"Kakak cantik duduk sini yah." Pinta Naila dengan mata berbinarnya.
Merasa tidak nyaman, Annisa menggelengkan kepalanya menolak ajakan si kecil karena kursi ini memang awalnya milik Nanda. Lagipula Nanda dan Naila sudah lama berpisah jadi alangkah baiknya mereka berdua duduk bersama untuk mencurahkan rindu masing-masing.
"Tidak apa-apa Annisa, aku bisa duduk di samping Kakak ku. Jadi menolak permintaan Naila, okay?" Nanda berbicara terlebih dahulu sebelum Annisa mulai membuka mulutnya untuk menolak permintaan Naila. Sesungguhnya Nanda tidak mempermasalahkan hal ini karena ia pikir ini adalah pertama kalinya Naila mau dekat dengan wanita selain ia jadi untuk merayakan rasa senangnya Nanda rela menukar tempat duduknya dengan Annisa.
"Nanda, Naila begitu merindukan mu jadi tidak seharusnya aku menghalangi kalian berdua." Tolak Annisa dengan suara lembut dan tulus.
Tersenyum maklum Nanda tahu betul apa yang dipikirkan Annisa saat ini, "Benar, tapi kami berdua sudah bertemu sebelumnya jadi itu sama sekali tidak masalah jika itu yang kau pikirkan. Annisa, tidak apa-apa untuk duduk di sana. Aku dan Naila sama sekali tidak terganggu dengan pengaturan ini." Ucap Nanda meyakinkan Annisa yang terlihat masih ragu.
"Annisa, betul apa yang dikatakan Nanda. Kamu tidak perlu merasa bersalah hanya untuk sebuah tempat duduk, Nak. Lagipula kita semua ada di meja yang sama jadi semua orang akan tetap bersama dan bertatap muka." Sahut Umi ikut membujuk Annisa yang masih ragu.
"Ka-kalau begitu Annisa akan duduk di sini." Putus Annisa merasa gugup karena semua orang benar-benar memperhatikannya saat ini. Apalagi laki-laki paruh baya yang ada di samping Abi, ia terlihat begitu jelas saat memberikan pandangan menilai pada Annisa.
"Kakak cantik, ini adalah bibi ku yang jahat itu-" Seraya membawa tangannya untuk menunjuk Nanda yang kini sedang mengobrol dengan Rumi dan Mira.
"Naila lebih cantik bukan dalinya?" Tanyanya dengan ekspresi kemenangan.
Tersenyum lembut, Annisa tanpa ragu menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan. "Benar, Naila lebih cantik dari bibinya." Bisik Annisa pada Naila yang langsung di sambut dengan suara cekikikan khasnya yang lembut.
__ADS_1
"Nah, kalau yang itu nenek ku." Lagi, Naila membawa tangan gembilnya untuk menunjuk seorang wanita paruh baya yang terlihat anggun dan cantik secara bersamaan.
Ini pasti Ibu Nanda pikir Annisa.
"Dan itu adalah Kakek ku." Lanjutnya sambil menunjuk laki-laki paruh baya yang sempat menatap tajam Annisa dengan tatapan menilai.
Memandangnya dari tempat ia duduk, Annisa bisa melihat bahwa Ayah Nanda masih segar dan terlihat sedikit keras. Ini bukan tanpa alasan Annisa mengatakan hal ini karena semuanya dapat di temukan dari bentuk wajahnya yang tajam juga kedua alisnya yang hitam pekat dan tebal bahkan kedua matanya masih begitu jernih dan tajam. Ia memang mempunyai kesan yang kuat dan keras.
Menghela nafas, Annisa ingin sekali tahu permasalahan apa yang membuat Nanda dan Ayahnya suka sekali berdebat. Bahkan Nanda sampai melarikan diri ke sini hanya untuk bersembunyi dari Ayahnya.
Tersenyum tipis, Annisa kemudian mengalihkan perhatiannya dari sosok Ayah Nanda tanpa sengaja jatuh pada sosok laki-laki muda yang kuat dan tampan secara bersamaan. Itu Gio dengan pakaiannya yang berbeda, mungkin setelah membantu memasak tadi ia pergi mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih bersih dan tidak berbau dapur tentunya.
Ah, melihatnya seperti ini Annisa akan selalu terperangkap dalam sihir pesona Gio. Ia tidak tahu mengapa tetapi melihat Gio seperti ini dengan diam-diam begitu menyenangkan dan mempesona.
Tidak bisa melepaskan perhatiannya dari Gio, tiba-tiba tanpa menunggu kesiapannya Gio mengalihkan pandangannya pada seseorang yang sedari tadi menatapnya.
Mata mereka bertemu, membeku, Annisa sejenak tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya dengan kaku menatap Gio yang juga sedang memasang wajah terkejut namun beberapa detik kemudian wajah tampan tersebut memberikan sebuah senyuman manis yang melelehkan hati.
**Dug
Dug
Dug**
Suara detak jantungnya berdegup kencang di dalam dadanya. Panas, bahkan kedua pipinya terasa menghangat dan Annisa tahu betul bahwa saat ini kedua pipinya pasti sedang merona!
Malu, Annisa dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Gio dan berpura-pura fokus pada si kecil yang sedari tadi berceloteh tanpa Annisa dengarkan.
Menghela nafas gugup, Annisa mencoba menetralkan suara detak jantungnya yang masih berdetak kencang merasakan perasaan senang yang terus meluap-luap.
Mencoba bertingkah normal seperti biasanya, ia berharap hati dan pikirannya juga mengimbangi usaha tubuhnya karena akan sangat memalukan jika ada seseorang yang memperhatikan keanehan yang terjadi pada wajahnya.
"Reina, sini duduk sayang. Gimana? Udah merasa baikan kan?" Tanya Umi khawatir seraya mendudukkan Reina dengan hati-hati di sampingnya.
Mendapatkan perlakukan manis dari Umi, Reina tidak bisa menyembunyikan rona kebahagiaannya karena 'Ibu mertua' terlihat begitu khawatir kepadanya.
"Alhamdulillah Umi, Reina baik-baik saja kok setelah beristirahat tadi." Jawab Reina mulai memainkan sandiwaranya. Dengan wajah lelah ia memaksakan sebuah senyuman di bibirnya, ia terlihat begitu jelas tidak baik-baik saja.
Umi menyentuh tangannya hangat, merematnya dengan sayang dan hangat tanpa menggunakan kekuatan penuh."Jika kamu tidak sehat maka jangan memaksakan diri, Umi tidak mau kamu jatuh sakit selama tinggal di sini." Ucap Umi menasehati Reina dengan sikap keibuan yang hangat dan manis.
Tersenyum manis, Reina dengan patuh menganggukkan kepalanya. "Umi jangan khawatir, Reina in shaa Allah akan selalu dalam lindungan Allah selama tinggal di sini. Jadi, Umi tidak perlu khawatir karena Reina akan selalu baik-baik saja selama bersama Allah." Ucap Reina lembut berusaha menghilangkan kekhawatiran 'Ibu mertua' kepadanya.
Mengatakan beberapa patah kata sebagai nasihat, Umi kemudian menghentikan kekhawatirannya pada Reina yang terus mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja selama ia menyerahkan semuanya kepada Allah.
Merasa puas dengan sikap 'Ibu mertua' kepadanya, Reina kemudian mengalihkan pandangannya pada Annisa yang terlihat sedang sibuk berbicara dengan Naila-target dari rencananya.
Tersenyum dingin, Reina tahu jika Annisa sedari tadi memperhatikan interaksi lembut dan intimnya bersama 'Ibu mertua'. Bahkan Reina sangat yakin jika saat ini Annisa sedang terbakar api cemburu setelah melihat betapa khawatirnya 'Ibu mertua' kepadanya.
Bersandiwaralah sesuka mu, aku tahu di balik topeng senyum mu saat ini kau sedang terbakar cemburu melihat betapa khawatirnya Umi kepada ku. Huh, Annisa hari ini aku akan menghancurkan dirimu secara utuh di depan semua orang. Lalu setelah semua kau tidak akan pernah punya tempat lagi untuk pulang. Janda licik ini, tunggu saja pembalasan ku. Tersenyum dingin, ia kemudian mengalihkan perhatiannya dari Annisa ke sosok kecil yang sedang berceloteh ringan di samping Annisa.
Menatap dalam, ia kemudian menyeringai samar lalu dengan gerakan alami menjauhkan pandangannya dari mereka berdua dan fokus pada piringnya yang masih kosong dan bersih. Di sana ia dapat melihat cerminan wajah cantiknya dengan puas, bahkan senyuman tidak bersahabat itu tidak menganggu kekagumannya pada wajah cantiknya yang tanpa cela.
***
Hah, bersikaplah seakan tidak ada yang akan terjadi. Batin Reina tenang seraya menundukkan wajahnya antusias. Ia tidak akan bersikap mencolok dan bertindak sempurna seolah ia sangat menikmati makanan yang sudah ada di atas piringnya.
Awalnya ia tidak bernafsu untuk memakan bahkan melirik makanan ini karena sebagian besar makanan yang ada di atas meja merupakan makanan buatan Annisa. Tapi ketika ia memikirkan hasil yang akan ia dapatkan nanti, rasa jijik dan tidak bernafsunya sontak meluap di gantikan dengan perasaan antusias yang terus membakarnya sedari tadi.
"Makannya pelan-pelan saja Naila dan jangan terburu-buru." Peringat Naila seraya membawa tangan mungil Naila memegang sendok kecil yang nyaman masuk ke mulutnya.
"Kakak cantik, yang masak bubul ini pasti Mama kan?" Tanyanya dengan suara berbisik. Ini ia lakukan karena terbiasa tidak mengganggu kenyamanan orang lain saat di meja makan.
Tersenyum ringan, Annisa mengabaikan makanan yang sudah ada di atas piringnya. Jika di lihat lebih dekat maka akan sangat membangkitkan selera dan nafsu makan. "Hem, ini Mama Naila yang masak jadi harus di habisin okay dan jangan sampai meninggalkan sisa." Bisik Annisa mengikuti jejak Naila. Bubur kesukaan Naila memang di buat sendiri oleh Rumi jadi wajar saja Naila bisa dengan mudah mengenalinya.
"Sepelti yang Naila pikil ini pasti di buat Mama." Gumamnya senang sambil mengaduk-aduk buburnya dengan gerakan teratur dan santai.
"Kakak cantik halus cobain bubul buatan Mama yah bial Kakak cantik tahu kalau bubul ini sangat enak." Bisik Naila antusias seraya mendorong mangkuk porselinnya ke depan Annisa tanpa ragu.
Mendapati sikap Naila yang begitu polos dan murni, Annisa tidak bisa menahan senyum kehangatannya tulus. Gadis kecil ini begitu murni dan polos ketika berinteraksi dengannya sehingga apa yang Annisa rasakan kepadanya lambat laun semakin dalam. Ya, ini seperti Annisa sedang berinteraksi dengan anak kandungnya.
"Kakak gak bisa Naila karena bubur ini khusus di buat oleh Mama Naila hanya untuk Naila tersayang, jadi jangan sia-siakan usaha Mama Naila yah." Tolak Annisa lembut seraya mendorong pelan bubur tersebut kembali ke depan Naila.
Cemberut, ia menatap Annisa dengan tatapan memohon. "Kakak cantik gak sayang Naila yah?" Tanyanya dengan ekspresi yang menyedihkan.
Melihat Naila yang sedang merajuk, Annisa mau tidak mau menganggukkan kepalanya tanpa daya. Toh makanan ini juga di berikan oleh Naila jadi tidak apa-apa rasanya jika hanya satu suap.
"Baiklah, gadis kecil aku kalah." Ucap Annisa mengalah seraya mengambil satu sendok bubur hangat tersebut ke dalam mulutnya.
Memakannya Annisa tidak perlu waktu lama untuk langsung menelannya karena ini hanya bubur biasa dan bukan nasi yang harus di kunyah.
"Hem, ini sangat lezat." Gumam Annisa begitu merasakan bahwa bubur ini sangat kaya rasa rempah dan sayuran yang ringan untuk anak kecil. Sangat membantu pencernaan si kecil apabila dibiasakan untuk di konsumsi.
"Hehe.. Naila benel bukan kalau bubul ini enak." Suara Naila puas yang langsung di angguki jujur oleh Annisa.
Namun tidak sampai rasa senangnya bertahan, tiba-tiba tubuh Annisa terasa dingin dan lemas secara bersamaan. Kemudian dadanya terasa sesak seakan ada beban berat yang sedang menghimpitnya tidak kenal ampun. Matanya menjadi tidak fokus dan buram bahkan kepalanya juga terasa berputar-putar hebat, memberikan rasa pusing dan sakit secara bersamaan pada kepalanya.
"Ra-racun.." Gumam Annisa kesusahan saat berbicara, ya, Annisa yakin jika bubur ini sudah di racuni sehingga membuat badannya selemah dan sesakit ini.
Menahan rasa sakit dan kesadarannya yang semakin menipis, Annisa mencoba sekuat tenaga untuk mengangkat tangannya yang terasa sangat berat. Berusaha keras akhirnya ia berhasil meraih mangkuk porselin Naila dan dengan kekuatan penuh ia mendorongnya jatuh dari meja.
Prank
Suara pecahan piring membuat semua orang terfokus pada Annisa, sang pelaku yang mendorong mangkuk porselin tersebut. Setelah berhasil menyingkirkan mangkuk porselin tersebut, Annisa tidak bisa lagi menahan kesadarannya lebih lama dan membiarkan rasa sakit yang amat menusuk dan menyesakkan menyelimuti tubuh lemasnya.
Brugh
Ia terjatuh dari tempat duduknya dan tertidur lemas di atas dinginnya lantai. Tidak ada rasa sakit yang merangsang Annisa ketika tubuh kurusnya membentur lantai, tidak itu sama sekali tidak sakit karena saat ini seharusnya Annisa sudah menghilang dari kesadarannya.
"Kakak cantik!" Naila berteriak histeris dan menangis keras ketika melihat Annisa jatuh dari kursi dan pingsan. Bahkan melihat wajah Annisa yang sangat pucat dan kekurangan darah seperti ini membuat Naila kecil ketakutan. Naila tidak bisa menahan rasa terkejut dan takutnya ketika melihat Annisa tidak merespon teriakannya. Bahkan Rumi, Ibu yang ada di sampingnya tidak kuasa melihat Naila seperti ini sehingga ia langsung memeluknya dan membawa Naila menjauh dari Annisa.
Gemetaran, Rumi tahu bahwa ada yang tidak beres dengan Annisa.
__ADS_1
"Annisa..Ann-"
"Menjauh Nanda!" Teriak Rumi panik seraya menarik Nanda menjauhi Annisa yang masih tidak sadarkan diri.
"Kak, Annisa-"
"Biarkan yang lain mengurusnya, saat ini kamu emosi mu tidak stabil dan itu tidak baik jika kau di dekat Annisa. Nanda dengar, Kakak tahu ini mungkin gila tapi Annisa sepertinya mengalami keracunan." Potong Rumi menahan Nanda yang terlihat sangat khawatir. Bahkan tangan gemetarnya tidak bisa menyembunyikan ketakutannya jika apa yang ia katakan tadi memang benar.
"Kak Rumi benar, Nanda, kita tidak seharusnya mengganggu penyelamatan Annisa. Biarkan mereka mengurus Annisa." Mira ikut memegang lengan Nanda untuk menjaga jarak Nanda dengan Annisa yang kini sedang di pangku Umi.
"Astagfirullah, detak jantungnya terasa lemah bahkan nafasnya terdengar putus-putus. Ini tidak baik, kita harus segera melarikan Annisa ke rumah sakit." Panik Umi ketika memeriksa denyut nadi Annisa yang berdetak lemah dan lambat.
"Biar aku yang membawa Annisa ke mobil Umi karena Abi dan Om sepertinya tidak bisa membawa Annisa dengan cepat." Ucap Gio terdengar khawatir seraya mendekati Umi dan tanpa menunggu persetujuan dari Uminya ia langsung membawa Annisa ke pelukan hangatnya dan dengan ringan ia mengangkatnya dengan hati-hati.
"Biarkan Abi yang membawa mobil." Putus Abi seraya berlari cepat ke arah luar dengan kunci mobil yang sudah ada di dalam kantong bajunya. Tidak mau ketinggalan, Papa Nanda beserta istrinya juga mengikuti mereka dari belakang. Menggunakan mobil masing-masing, mereka langsung melajukan dengan cepat ke arah rumah sakit yang memang berjarak lumayan jauh dari lokasi pondok pesantren.
"Annisa.. Annisa apa kau mendengar ku?" Dengan tangan gemetar Gio menepuk pelan pipi pucat Annisa, memanggilnya dengan lembut ia berharap bahwa Annisa dapat mendengar panggilannya.
Meraih tangan Annisa panik, ia menggenggam tangan pucat dan dingin Annisa dengan ketakutan. Bahkan mata yang biasanya memancarkan ekspresi ketenangan kini malah memperlihatkan sebuah tatapan sendu dan ketakutan.
"Hei, kau tidak boleh meninggalkan aku lagi karena kali ini aku tidak akan sanggup hidup tanpa mu lagi. Sudah cukup dulu aku dengan bodoh membiarkan mu bersama Dimas tapi jika itu sekarang.. Annisa, maaf aku tidak akan pernah menginginkan mu jauh dari ku lagi." Bisiknya putus asa pada Annisa yang hanya di balas dengan nafas putus-putus dari Annisa.
Annisa, gadis yang biasanya tersenyum malu-malu ketika melihatnya kini sedang tertidur lemas di dalam pelukannya. Bahkan kedua pipinya yang terkadang merona merah sekarang sudah tidak berwarna lagi. Hanya ada warna putih pucat dan bersuhu dingin yang membalut Annisa kini. Memeluknya sekuat ini tidak bisa merubah apapun dari tidur lelapnya, bahkan itu tidak berpengaruh sedikitpun pada wajah pucatnya. Padahal Gio sudah berusaha menyalurkan kehangatannya kepada Annisa tapi itu sama sekali tidak berguna untuk Annisa.
Dia masih tidak bangun, matanya yang cantik dan pemalu tidak memberikan reaksi apapun. Masih seperti ini, ya, sepertinya Annisa benar-benar menikmati waktu istirahatnya.
"Gio, tenangkan dirimu, Nak. Kamu harus menjaga pikiran mu tetap stabil karena dengan begitu kamu akan merasa lebih baik. Jangan panik karena Annisa pasti akan selamat." Umi mencoba menenangkan Gio sedang terlihat kalut. Kesedihan dari tatapan putranya begitu jelas yang mengisyaratkan bahwa Annisa, gadis cantik yang sedang ada dalam pelukannya ini adalah seseorang yang sangat berharga untuknya.
"Tapi...tapi bagaimana jika Annisa tidak bisa... bagaimana jika Annisa tidak bisa bangun lagi Umi?" Walaupun takut Gio tetap saja menyuarakan pikirannya yang tidak masuk akal.
Tidak, untuk saat ini pikiran seperti itu adalah hal yang masuk akal karena Annisa jelas-jelas dalam keadaan yang bahaya.
Ia antara hidup dan mati.
"Tidak Nak, percayakan semuanya kepada Allah dan hilangkan pikiran buruk itu dari dirimu. Adapun jika Annisa bangun atau tidak Umi yakin Annisa pasti akan bangun karena Umi percaya Annisa masih ingin hidup dan menjalankan kehidupannya dengan bahagia. Percayalah, Annisa akan berusaha keras memperjuangkan kehidupannya."
Tapi, bagaimana jika Annisa tidak melakukan apa yang dikatakan Umi?
Mengingat Annisa selama ini hidup dalam keadaan menderita bahkan semua orang yang ia kasihi mendorongnya pergi sejauh mungkin, apakah mungkin ia tetap ingin hidup?
Hidup hanya untuk penderitaan yang lebih berat lagi?
Mungkin tidak karena seperti yang Annisa harapkan dulu ia ingin pergi jauh dari orang terkasihnya, pergi sejauh mungkin sampai mereka tidak bisa melihatnya lagi karena dengan begitu kehidupan orang terkasihnya akan damai dan baik-baik saja tanpa ada dia.
Kemudian hal terbaiknya adalah bahwa Allah mengabulkan harapan Annisa hari ini. Allah memberikan jalan dengan membuat pilihan kepada Annisa.
Yaitu antara hidup dan mati.
Hidup artinya Annisa harus mendapatkan penderitaan yang lebih berat lagi dan kehadirannya yang disalah artikan dapat mengganggu kehidupan mereka yang ia sebut keluarga.
Lalu jika itu mati artinya Annisa bisa terbebas dari segala penderitaan dan tentunya membuat keluarganya bahagia karena ia akhirnya pergi ke tempat yang paling jauh dari mereka semua. Keluarganya tidak akan pernah merasakan sakit saat melihat ataupun bersamanya.
Jadi, pilihan mana yang akan Annisa pilih?
Gio harap itu bukan mati, karena jika iya Gio tidak tahu bagaimana cara menjalankan hidup lagi karena seperti yang kalian tahu hatinya juga akan mati bersama Annisa.
Ya Allah berikan aku kesempatan untuk membahagiakannya, ku mohon.
***
Reina menatap kosong kepergian mereka semua yang begitu panik melihat kondisi Annisa yang tidak baik. Bahkan tubuhnya seakan mati rasa melihat tubuh yang sekarat itu adalah seseorang yang ia benci,
Tapi meskipun benci Reina tidak pernah sekalipun ingin menghilangkan nyawa Annisa.
Ini tidak seperti yang ia harapkan, tidak, bahkan sama sekali tidak!
Reina sangat ketakutan melihat rencananya kacau seperti ini, bahkan kedua tangannya tidak bisa berhenti gemetaran menahan rasa takutnya.
Ini..ini adalah salah Annisa, ya ini adalah salah Annisa yang asal makan sembarangan.
Ini adalah kecerobohan Annisa dan tidak ada hubungannya dengan dirinya karena yang ia targetkan itu Naila dan bukan Annisa. Jadi karena Annisa sudah melempar dirinya ke dalam jebakan maka Reina pikir ia tidak akan bertanggung jawab untuk semua yang terjadi pada Annisa.
Karena ia tidak bersalah sama sekali!
"Reina," Dengan kaku Reina mengalihkan wajahnya menatap Nanda yang kini sedang menatapnya marah.
Mengapa ia menatap ku seperti ini?
"Aku tidak pernah berpikir jika kau senekat ini." Suaranya dingin. Nanda tahu bahwa semua yang terjadi pada Annisa adalah karena perbuatan Reina. Kenapa ia bisa berpikir seperti ini?
Itu karena satu-satunya orang yang membenci Annisa di sini adalah Reina, gadis yang telah menyebarkan rumor masa lalu Annisa di pondok pesantren.
"Apa maksud mu?" Walaupun takut, Reina mencoba menstabilkan emosinya agar terlihat tenang. Bersikap dengan sempurna dan bertindak polos seakan ia tidak mengerti apa yang di maksud Nanda.
Tersenyum dingin, Nanda melirik pada mangkuk porselin bubur Naila yang sudah hancur di bawah meja. "Kau sebenarnya ingin meracuni Naila bukan?" Tanyanya basa basi tidak membutuhkan jawaban dari Reina.
Kemudian pandangannya jatuh pada Naila yang masih belum berhenti menangis di ruang tamu. Di sana Mira dan Rumi berusaha keras menghibur ketakutan Naila yang masih belum hilang.
"Tapi sayangnya sebelum itu terjadi Annisa terlebih dulu mencicipi bubur yang kau racuni dan seperti yang kau lihat sekarang, Annisa dilarikan ke sakit." Nanda memang gila memikirkan pemikiran ini tapi tetap saja bukti yang ada mengatakan bahwa orang yang sebenarnya Reina ingin racuni adalah Naila dan bukan Annisa. Ini membuat Nanda marah karena Naila adalah anak-anak dan belum pernah melakukan kejahatan apapun untuk menyinggung Reina jadi mengapa Reina ingin meracuni Naila?
Nanda tidak akan pernah memaafkannya!
"Apa mak-"
"Kau salah Reina!" Potong Nanda marah. Menatap dingin, rasanya ia ingin sekali menampar wajah yang bertopeng polos itu dengan sekuat tenaga.
Tapi, ini bukan saatnya karena orang yang pantas melakukannya adalah orang yang berhak dan itu bukanlah Nanda.
"Kau salah mengganggu Annisa seperti ini karena orang yang akan kau hadapi nantinya bukanlah aku atau pun Mas Gio. Tapi itu dia, orang yang akan membuat mu merasakan bagaimana rasanya jatuh ke tempat yang tidak pernah kau bayangkan. Reina, seharusnya kau mulai bersiap dari sekarang." Dan dengan begitu Nanda membawa langkah marahnya menjauh dari Reina yang masih menatap kosong punggung Nanda. Lalu, beberapa detik kemudian wajah cantik itu menyunggingkan sebuah senyuman samar.
"Hah, kau memanggil orang lain untuk melawan ku? Maka lakukanlah karena aku menunggunya."
__ADS_1
Bersambung...