Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Pulang ke Rumah


__ADS_3

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ


“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadapnya …” [at Taghabun : 14].


 


\*


 


"Hoho..dia mulai ngamuk kawan-kawan." Mira mengejek senang seraya dengan sekuat tenaga menahan gerakan brutal Reina yang tidak suka dikekang.


"Diam, jangan main-main." Kesal Nanda karena Reina benar-benar tidak bisa diam dan terus bergerak tidak teratur. Bahkan sesekali ia akan merasakan sakit di tubuhnya karena kekuatan Reina yang memang tidak bisa dianggap remeh.


Karena di ruangan ini hanya ada mereka berempat jadi hal-hal pribadi bisa mereka lakukan dengan bebas dan santai. Bahkan Dea yang sebagai saudara Reina sudah tidak perduli lagi dengan mental Kakaknya yang sedang buruk karena baginya kepercayaan untuk keluarganya sudah tidak ada lagi.


Jadi biarlah seperti ini, terus seperti ini sampai Dea bisa menemukan hari dimana ia bisa dengan santai dan tenang melangkah keluar dari tempat ini. Berjalan ke depan untuk memulai sebuah kehidupan yang baru dan tentunya untuk mengejar cintanya lagi.


Ia yakin kekasihnya tidak benar-benar membuangnya. Yah, kekasihnya saat itu hanya merasa terpojok saja dengan intimidasi dari keluarganya jadi Dea tidak akan meninggalkan kekasihnya pergi.


"Kau masih bisa bertindak seperti ini setelah semua yang terjadi? Hah, betapa arogannya." Ejek Safira dengan nyaman mendudukkan dirinya di tempat Pak Kyai pernah duduk tadi. Duduk dengan anggun ia menatap Reina dengan tatapan menghina.


"Gadis iblis! Kelakuan mu sama saja dengan janda sialan-"


"Berani menyebut Kakak ku," Potong Safira dingin seraya mengangkat tangan kanannya untuk mengangkat handphonenya yang sedari tadi tidak pernah ia gunakan.


Tersenyum dingin, "Hari ini aku bisa pastikan nama mu ada di kantor polisi." Mata tajamnya fokus menatap wajah Reina yang sedari tadi memucat kini perlahan memerah menahan marah. Tidak terkecuali dengan mata cantiknya yang kini sudah membola, menatap Safira dengan ambisi kejam yang dalam. Akan tetapi semua itu tidak berguna karena ia tahu bahwa sekeras apapun ia menunjukkan kemarahan dan kebenciannya kepada Safira semua itu tidak akan berguna. Safira adalah gadis yang tidak normal di mata Reina, apalagi sekarang di tangan Safira ada sesuatu yang dapat mengancam masa depannya. Akankah itu sebuah rekaman?


"Diam berarti persetujuan jadi mulai detik ini segera kemasi barang-barang mu karena sebentar lagi keluarga terhormat mu akan datang menjemput mu. Oh manisnya, aku jadi iri." Lalu dengan begitu Safira bangun dari duduknya seraya membawa pandangan mengejek kepada Reina yang hanya menatap benci Safira.


"Safira!" Teriak Reina memanggil.


Menghentikan langkahnya, Safira mengalihkan pandangannya menatap Reina yang masih dikekang oleh Nanda dan Mira.


"Ah, apa ada kata-kata terakhir untuk ku?" Tanyanya dengan tatapan datar.


"Kau.. yah kau suatu hari nanti akan menemukan hari dimana kau benar-benar putus asa karena cinta. Karena cinta kau akan melupakan harga dirimu bahkan perbuatan hina pun kau anggap halal. Hari itu kau pasti akan menemukannya dan aku sudah tidak sabar melihat ketidak berdayaan mu terhadap perasaan manis itu!" Reina menyumpahi dengan penuh kebencian dan pengharapan. Ia ingin apa yang ia rasakan juga dirasakan oleh Safira agar ia tau bagaimana sakitnya mendamba dan agar ia tahu bahwa hasrat akan rasa manis itu tidak akan pernah bisa ia bendung.


Safira, gadis ini masih belum mengenal rasa ketidak berdayaan ini sehingga ia bisa bersikap arogan dan angkuh. Reina benci dengan gadis ini yang seakan mampu melihat kekurangannya tapi nyatanya ia sebenarnya tidak pernah benar-benar berpengalaman dalam urusan hati. Maka dari itu Reina menunggu hari itu tiba, hari dimana Safira menjadi tidak masuk akal seperti dirinya. Di buat gila oleh perasaan manis tersebut.


Menatap dingin, ada senyuman tipis yang muncul di wajah mulusnya. "Maka aku akan menunggu hari itu tiba." Jawab Safira tenang seraya membawa langkahnya kembali melanjutkan perjalanannya.


Apapun yang dikatakan oleh Reina sebenarnya Safira tidak benar-benar perduli itu jika ia tidak punya seseorang yang ia sukai. Tapi nyatanya saat ini ia telah menyukai seseorang- tidak, sebenarnya itu sudah ada sejak 3 tahun yang lalu. Tepatnya saat ia baru menginjak dunia SMA dulu. Sama seperti Gio, Safira juga menyukai laki-laki ini sejak pada pandangan yang pertama. Bertemu di pondok bambu tanpa sadar motivasi Safira untuk tetap belajar tilawah adalah karena laki-laki itu.


Akan tetapi itu tidak bertahan lama karena 2 tahun yang lalu laki-laki itu melanjutkan studinya di Mesir. Mendapatkan beasiswa di Universitas Al-Azhar Mesir, laki-laki itu pergi meninggalkan Safira dengan sebuah harapan yang terus hidup sampai dengan saat ini.


Safira tahu bahwa tidak pantas rasanya menghakimi masa depannya melangkahi kehendak Allah akan tetapi Safira tidak ingin bersikap naif karena ia tahu kelebihan dan kekurangannya.


Ia yakin dengan kualifikasinya saat ini Aldi akan menatapnya dan menetapkannya sebagai seseorang yang penting dihatinya. Sama seperti dulu saat mereka terkadang saling menatap, Safira yakin dan tidak akan ragu bahwa di hati ada namanya yang terselip indah di sana.


"Tidak seperti kamu perasaan ku dan Aldi bukanlah cinta bertepuk sebelah tangan." Gumam Safira antusias tidak mampu menutupi perasaan bahagianya. Mengingat sebentar lagi Aldi akan pulang ke Indonesia untuk mengabdikan diri di pondok pesantren Safira sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya!


"Urus dia." Putus Nanda seraya melepaskan Reina dari kekanak-kanakanya.


"Lho kok gitu sih?" Protes Mira ikut-ikutan melepaskan Reina dari kekangannya.


"Aku alergi." Jawabnya singkat sambil berjalan menjauh dari Mira yang sudah memasang ekspresi cemberut.


Menghela nafas, ia membawa pandangannya menatap Reina yang sudah terduduk lemas di atas lantai yang beralaskan karpet.


"Jadi apa yang kau dapatkan dari semua ini?" Mira bertanya tenang seraya mendudukkan dirinya di salah satu sofa, melihat sikap putus Reina yang amat begitu terlihat jelas di ekspresinya.


Tersenyum tipis, "Jika aku menjawab menyesal apakah kau akan percaya padaku?" Karena faktanya ia sebenarnya tidak pernah menyesali perbuatannya.


Menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak akan mempercayainya jika konteks yang kau bicarakan adalah menyesali semua perbuatan mu. Akan tetapi jika konteks yang kau bicarakan di sini adalah karena menyesali usaha yang masih belum cukup keras untuk menyingkirkan Annisa maka aku akan katakan 'ya, aku mempercayai mu'." Jawab Mira jujur dari segi pandangannya.


Jika hal yang ingin ditanyakan Reina adalah menyesal karena telah menyakiti semua orang maka Mira bisa menjawab dengan jelas bahwa hal itu adalah sesuatu yang mustahil bagi Reina.


Akan tetapi jika hal yang dimaksud Reina adalah ia menyesali kurangnya usaha yang ia keluarkan untuk menyingkirkan Annisa maka Mira bisa dengan jelas bahwa ia percaya dengan apa yang dikatakan Reina.


Hal seperti ini Mira sudah hapal betul dengan tabiat Reina. Apalagi saat sedang di berikan hukuman oleh Pak Kyai, Reina masih saja membantah perbuatannya dan menganggap bahwa apa yang ia lakukan itu memang benar dan tidak bersalah.


Jadi dari sini Mira bisa melihat bahwa gadis ini sebenarnya terlalu ambisius dan yah... mungkin lebih seperti orang sakit atau gangguan mental yang cukup mengganggu.


"Seperti Annisa, ternyata kau juga licik dan mengerikan."


Menghela nafas, "Tidak, aku tidak licik tapi cukup cerdas untuk melihat dirimu."


Bangun dari duduknya, Mira dengan gerakan hati-hati mendekati Reina yang masih terduduk memandangnya sinis.


"Reina, sudah hentikan semua kebencian mu terhadap Annisa. Yakinlah gadis yang kau benci dan musuhi selama ini tidak pernah berpikir menganggap mu orang yang jahat bahkan setelah dirinya tahu bahwa bubur yang ia makan sengaja diracuni." Mira tidak berbohong untuk hal ini karena kenyataannya Annisa sampai dengan saat ini masih belum tahu apa-apa tentang Reina dan Dea. Jangankan tahu mencari tahu saja Annisa tidak pernah, gadis itu..yah Annisa hanya bersikap seperti biasanya dan bertindak seolah-olah tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya.


"Dia tidak tahu apa-apa tentang semua ini." Jelas Mira selembut mungkin mencoba masuk ke dalam pertahanan Reina.


"Jangan membodohi ku, kau pikir aku tidak mengenal Annisa seperti apa? Kau tidak tahu sama sekali tentangnya jadi jangan menceramahi ku!" Bahkan ia adalah teman sekolah saat SMA jadi di antara mereka berdua hanya dirinyalah yang paling berhak berbicara.


Jadi mengapa gadis ini begitu arogan dan ceroboh untuk menceramahinya tentang sesuatu yang ia ketahui?


"Justru ini yang aku sayangkan dari dirimu. Pernah satu kelas dengannya ternyata tidak bisa membuat mu benar-benar mengenal Annisa. Reina, tenangkan dirimu dan coba lepaskan rasa benci mu terhadapnya."


"Apa? Kenapa aku harus mengikuti perkataan tidak masuk akal mu itu!"


Sabar, "Karena jika kau tidak lakukan itu maka kau tidak akan pernah bisa melihat Annisa yang sebenarnya."


Reina diam tidak menanggapi.


Tersenyum kecil, "Mari kita membicarakannya. Reina, jika benar Annisa adalah seseorang yang kamu pikirkan hal jahat apa yang pernah ia lakukan kepada mu sehingga membuat mu semarah ini kepada mu?" Mendudukkan dirinya di samping Reina, Mira mulai serius membicarakan permasalahan yang sedang melanda hati Reina. Karena Reina adalah gadis yang cantik dan akan sayang rasanya jika dirinya harus hancur karena ambisinya sendiri.


Mira pribadi walaupun tidak menyukainya tetap saja ia tidak tahan melihat kehancuran Reina.


Mengenang rasa sakit hatinya, "Dia mengambil Gio dari ku." Jawab Reina lelah seraya menahan nafas agar rasa sakit yang tajam menyelimuti hatinya tidak berdenyut lagi.


Yah... rasanya begitu sakit dan menyesakkan.


Menggelengkan kepalanya ringan, "Tidak, itu tidak benar. Reina, bukankah kita sama-sama mendengarnya bahwa Gio memang menyukai Annisa dari awal mereka bertemu?" Ingat Mira selembut mungkin.


Tertegun, Reina dengan sedih mengeratkan genggaman tangannya yang sudah lama berkeringat. "Tapi Annisa mencoba memanipulasi perasaan Gio dan bersikap seolah-olah ia adalah gadis yang baik padahal sebenarnya Annisa adalah janda yang kejam." Elak Reina dengan rasa marah yang perlahan-lahan naik ke dalam hatinya.


Annisa itu kejam dan licik. Ia adalah janda akan tetapi bisa dengan mudah mendapatkan Gio, cara apalagi memang yang Annisa lakukan untuk menarik perhatian Gio kecuali dengan bersikap sok suci.


"Oh, itu mengenai status Annisa yang menjadi janda dalam waktu semalam. Reina apakah kau yakin Annisa seperti yang orang-orang luar sana katakan?"


Mengangguk yakin, "Aku yakin."


"Lalu apa kau melihat sendiri Annisa melakukan itu bersama laki-laki lain?"


"Tidak, aku tidak melihatnya." Gumam Reina melemah.


"Jika tidak maka apakah kau melihat sendiri apa yang terjadi di kamar pengantin Annisa malam itu?"


Menundukkan kepalanya, "Aku tidak melihatnya."


Tersenyum puas, "Jadi mengapa kau begitu yakin jika Annisa adalah gadis yang tidak baik?" Bingung Mira dengan pandangan penasaran.


"Orang-orang yang mengatakan itu." Jawab Reina bingung.


Menaikkan alisnya, "Jadi apakah orang-orang yang mengatakan itu melihat Annisa melakukannya dengan laki-laki lain?"


"Aku tidak tahu."


"Oh, jika kau tidak tahu ini apakah orang-orang yang mengatakan itu menjadi saksi langsung di kamar pengantin Annisa?"


Semakin bingung, "Aku.. tidak tahu."


"Maka seharusnya kau tidak bisa membenci Annisa, Reina. Karena jika dilihat dari segi manapun orang yang paling menderita di sini adalah Annisa. Bahkan rumor yang menghantui Annisa selama ini masih belum terbukti benar jadi mengapa kau harus memusuhinya?"


"Benar, seharusnya aku tidak memusuhinya tapi..tapi hatiku sakit dan tidak rela melihat Annisa bersama dengan Gio karena.. karena Gio hanya milikku."


Menghela nafas sabar, "Baik, jadi hatimu yang paling tersakiti? Kalau begitu pernahkah kamu berpikir bahwa Gio memang ditakdirkan oleh Allah untuk Annisa?. Melihat semua lika-liku ini bukan tidak mungkin jika Annisa dan Gio adalah takdir."


"Tapi..aku mencintainya." Gumam Reina sedih.


"Reina, jodoh dan mati sudah Allah gariskan di lauhul mahfuz. Jika jodoh mu tidak ada di sini mungkin ia ada di tempat yang lain. Jika masih belum muncul sekarang mungkin itu suatu hari nanti, percayalah janji Allah itu pasti bahwa setiap mahluk-Nya di ciptakan berpasang-pasangan."


"Tapi Gio.."


"Bukanlah yang terbaik untukmu, yakinlah." Ucap Mira meyakinkan.


Terdiam, Reina kemudian tidak merespon apapun kecuali mata sembabnya yang kembali memerah menahan air mata kesedihan.


Gio, jika Gio bukan untuknya maka apakah jodohnya akan begitu kecewa melihat dirinya yang semenyedihkan ini?


"Aku mengerti." Gumam Reina memutuskan. Walaupun sakit ia harus tetap menjalankan semua ini dan memulai lembaran baru lagi untuk hari yang lebih ringan dan menyenangkan. Ia harus memperbaiki dirinya untuk imamnya yang entah dimana karena ia tidak ingin suatu hari jika mereka bertemu sang calon imam merasa kecewa terhadapnya.


Bangun dari duduknya, Reina dengan kaku memandang wajah cantik Mira yang sedang menatapnya bingung. Ada rasa khawatir dan gugup di matanya yang hitam jernih.


"Terimakasih." Ucap Reina singkat seraya memeluk Mira dengan cepat. Beberapa detik kemudian Reina melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Mira yang masih menatap kosong kepergian Reina.


Tidak bertahan lama wajah cantik Mira yang tadinya tercengang perlahan menjadi rileks. Kemudian sebuah senyuman kepuasan yang manis tulus menghiasi wajah mulusnya.


"Pastikan untuk tidak melihat ke belakang dan tetap berjalan ke depan. Adapun jika kau melihat ke belakang aku yakin itu kau lakukan untuk mengenang kecerobohan mu. Reina, kejarlah kebahagiaan mu bersama yang lain, okay?" Bisik Mira puas seraya membalik badannya dan berjalan berlawanan arah dengan Reina.


                                       ***


"Pulang?" Annisa benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya tadi.


Menganggukkan kepalanya yakin, "Benar, kita pulang." Jawab Safira lembut seraya mendudukkan dirinya di depan Annisa yang masih terlihat linglung dan bingung.


"Tapi.. tempat ku bukan di sana Safira." Ucap Annisa dengan suaranya yang mengecil. Jangan terlalu banyak berharap karena Annisa sudah sadar akan posisinya di rumah itu. Mereka akan bahagia dan tenang jika ia sudah tidak ada lagi di sana. Karena bagi mereka keberadaannya tidak lain adalah sebuah aib yang memalukan jadi daripada mengganggu lebih baik ia diam saja di sini karena hanya tempat ini yang mau menerimanya.


Tersenyum tipis, miris rasanya melihat Annisa yang putus asa seperti ini. Dilema yang dirasakan Kakaknya Safira tahu betul tentang apa itu. Rasa asing yang menyakitkan, Annisa pasti berpikir bahwa mereka yang ada di rumah membenci kehadirannya padahal itu sepenuhnya tidak terjadi karena seperti yang Safira lihat saat di rumah kedua orang tuanya lebih banyak linglung.

__ADS_1


Safira yakin bahwa hati kedua orang tuanya sedang goyah.


"Kakak tidak boleh mengatakan itu karena bagaimanapun juga mereka adalah keluarga kita dan tempat Kakak selalu ada di sana."


Menggelengkan kepalanya tidak yakin, "Safira, mungkin kamu tidak tahu ini.. mereka sama sekali tidak membutuhkan Kakak."


"Justru Kakak yang tidak tahu ini bahwa selama Kakak pergi Umi dan Abi terlihat begitu kehilangan dan bersedih." Umi dan Abi jarang berdebat lagi karenanya tapi Safira tahu bahwa sebenarnya mereka sedang tidak baik-baik saja. Mereka justru seperti itu karena mereka saling menyalahkan atas kepergian Annisa.


"Aku tidak yakin.." Gumam Annisa tidak percaya.


"Maka ayo kita pulang dan Kakak akan lihat sendiri seperti apa mereka."


"Aku tidak mau, Safira."


"Kenapa?"


"Karena aku takut." Jawabnya tidak berdaya.


"Kenapa harus takut bukankah ada aku di samping Kakak?" Tanya Safira tidak habis pikir.


Menatap mata hitam Safira, Annisa terdiam cukup lama dibuatnya.


Beberapa detik kemudian, "Mereka tidak bahagia jika aku di sana sekalipun kau bersamaku."


"Apa mereka sendiri yang mengatakan ini kepada mu?" Safira yakin jika Umi dan Abi tidak akan sejahat itu mengatakan hal ini kepada Annisa. Adapun jika iya maka itu pasti adalah Saqila sendiri yang mengatakannya.


"Tidak, Umi dan Abi tidak mengatakannya secara langsung akan tetapi mereka mengatakannya melewati Saqila." Jawab Annisa merasa sakit karena ingatannya akan hari itu kembali berputar di kepalanya.


"Apa kau yakin apa yang Saqila katakan adalah apa yang Umi dan Abi inginkan?" Safira bertanya lembut.


Tertegun, Annisa dengan ragu menggelengkan kepalanya namun beberapa detik kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Annisa, kau ingin tahu bukan jawaban dari semua ini?" Safira bertanya dengan lembut.


"Aku..yah aku ingin tahu."


Tersenyum lembut, "Maka ikutlah pulang dengan ku. Jawaban yang kamu cari ada di sana, aku janji kau tidak akan menyesal pulang bersama ku." Rayunya dengan ekspresi yang lembut.


Ragu, "Namun jika mereka menolak ku?"


"Itu tidak akan terjadi, Safira janji." Janji Safira terus membujuk Annisa agar mau ikut pulang bersamanya.


"Baiklah, kita pulang." Putus Annisa masih ragu. Ia bukannya tidak merindukan keluarganya apalagi sampai melupakan mereka... Annisa tidak pernah berpikir sampai sejauh dan sekejam itu.


Annisa hanya takut bahwa mereka masih membenci dan menolak kehadirannya karena akan sangat sakit sekali rasanya dibuang untuk kedua kalinya oleh mereka yang ia sebut sebagai keluarganya.


"Alhamdulillah.." Syukur Safira seraya memberikan senyuman kepuasannya yang begitu lega.


"Aku akan membantu Kakak untuk membereskan semua barang Kakak." Ucap Safira bersemangat seraya bangun dari duduknya.


"Hei, jangan lupakan kami! Kami juga ingin mendapatkan bagian." Kemudian Mira dan Nanda yang sedari tadi berdiri di luar pintu akhirnya menampakkan wajah mereka yang terlihat begitu lega dan bahagia.


Terkejut, "Kalian...sejak kapan kalian ada di sini?" Tanya Annisa tidak percaya melihat keberadaan dua sahabatnya selama ia ada di sini.


Tersenyum, "Sejak Safira memasuki kamar ini." Jawab Nanda tanpa berniat menyembunyikan apapun.


"Jadi..kalian mendengar semuanya?" Tanya Annisa gugup walaupun ia sudah tahu betul jawabannya.


"Hem, kami mendengar semuanya." Kini giliran Mira yang menjawab pertanyaan Annisa yang tampak mulai bersedih.


"Apa kalian tidak marah?"


Nanda dan Mira saling pandang, beberapa detik kemudian mereka mengalihkan pandangan mereka menatap Annisa yang terlihat begitu gugup.


Tersenyum, "Jadi kenapa kami harus marah?" Tanya Nanda lembut.


Diam, Annisa tidak tahu harus mengatakan apa karena jika mereka benar-benar menyayangi Annisa pasti mereka berdua tidak rela melihatnya pergi.


Tapi yang Annisa dapatkan adalah wajah tersenyum penuh kebahagiaan mereka.


"Annisa, kami tidak marah kau kembali pada keluarga mu karena pada dasarnya kau pulang hanya untuk memperjelas kebahagiaan mu. Adapun tentang kami berdua kau tidak perlu khawatir karena kami akan selalu merindukanmu. Bahkan kepulangan mu ke rumah juga tidak lama karena beberapa hari kemudian kau pasti akan kembali ke sini lagi, tidak, bukan sebagai tamu tapi sebagai keluarga besar pondok pesantren ini. Jadi mengapa kami harus risau?" Jelas Mira santai seraya memperhatikan perubahan ekspresi yang terjadi pada wajah cantik Annisa.


"Apa..apa yang sedang kau katakan, aku tidak mengerti." Gumam Annisa pura-pura tidak mengerti seraya berjalan menjauhi mereka dan berdiri di samping Safira. Mencoba mencari perlindungan.


Tersenyum hangat, "Maka berhentilah menggoda Kakak ku dan segera lakukan tugas kalian." Perintah Safira bermaksud menyelamatkan Kakaknya dari situasi memalukan ini.


"Hei, kenapa harus kami?" Protes Mira tidak terima.


Mengangkat alisnya, "Bukankah tadi kau meminta bagian?" Tanya Safira dengan ekspresi kemenangan.


Tersadar, "Benar, tapi bukankah kau juga harus membantu dan ikut ambil bagian?" Mira masih belum mau menerima kekalahannya dari Safira.


"Lalu apa gunanya kalian berdua?" Tanya Safira mengejek.


"Ya untuk membantu tapi kau juga harus membantu." Keluh Mira masih tidak mau mengalah.


Menyipitkan matanya yang tajam, "Apa kau serius hal sesepele ini kau harus mengerjakannya bertiga? Lagipula aku juga membantu untuk mengurus Kakak ku yang begitu ketakutan saat melihat mu."


Kesal, "Sialan." Umpat Mira seraya mulai memilah pakaian Annisa yang akan dibawa pulang.


"Aku tidak mengatakan apapun." Elak Mira dengan wajah polosnya.


"Ah, kau tidak mengumpatkan?"


Kesal, "Aku tidak pernah mengumpat!"


"Hei, jika ada yang ketahuan mengumpat di sini maka pondok pesantren akan mengurusnya dengan tegas."


"Sialan, aku bilang aku tidak pernah mengumpat mengapa kau masih saja tetap tidak percaya?" Kesal, ia rasanya ingin sekali membanting tumpukan pakaian ini ke wajah penuh menjengkelkan Safira yang begitu sok murni.


"Bukankah kau baru saja mengumpat?" Kini giliran Nanda yang datang mempermainkan Mira yang terlihat begitu kesal.


"Katakan, kalian ingin bergelut dimana? Lapangan atau kamar ini, pilih!"


"Baiklah, aku pilih kamar ini." Safira langsung menjawab tanpa menunggu Mira bernafas lebih banyak.


"Astagfirullah..." Sabar Mira seraya mengusap dadanya dengan lapang.


                                       ***


Annisa menatap penuh rindu pada Pak Kyai dan Umi yang ada di depannya. Terselip rasa enggan dan tidak rela meninggalkan tempat yang beberapa bulan ini mau menerima dan melindunginya. Di sini pula ia bertemu dengan orang-orang yang tulus dan baik hati, menampungnya dan menjadikannya seorang teman bahkan mereka bilang adalah bagian dari keluarga tempat ini.


Annisa rasanya akan sangat merindukan tempat ini suatu hari nanti.


"Abi, Umi, Annisa pamit." Suara Annisa lembut akan tetapi jika di perhatikan ada getaran samar di dalamnya.


Tersenyum hangat, Umi kemudian meraih tangan kanan Annisa yang sedari tadi menganggur. "Nak, Umi akan sangat merindukan mu nanti jadi sering-seringlah kabari kami di sini." Annisa adalah gadis yang baik juga beberapa hari mendatang akan menjadi putrinya. Melihat perpisahan hari ini Umi mungkin tidak rela dengan kepergian Annisa yang begitu mendadak. Akan tetapi ketika memikirkan keluarga Annisa yang juga membutuhkan Annisa di kota sana, Umi pikir ia terlalu egois sebagai orang luar bagi Annisa.


"In shaa Allah Umi, Annisa akan selalu mengabari Umi di kota nanti. Sebaliknya Umi harus tetap menjaga kesehatan di sini, jangan sampai membuat Annisa khawatir di luar sana." Nasihat Annisa dengan suara paraunya. Bahkan kedua mata cantiknya sudah memerah menahan cairan hangat yang bisa saja mengalir kapan pun jika Annisa lengah.


Mengeratkan genggaman tangannya, "In shaa Allah, Allah akan selalu melindungi Umi." Ucap Umi membuang kekhawatiran Annisa terhadap dirinya.


"Nak, jangan lupakan Allah kemana pun kamu pergi karena sesungguhnya Allah selalu bersama orang yang mencintai-Nya." Pesan Pak Kyai yang sedari tadi hanya diam mengamati interaksi istrinya dengan Annisa.


"In shaa Allah, Abi." Ucap Annisa lembut seraya mencium tangan Pak Kyai.


Lalu, tatapan rindunya jatuh pada sosok laki-laki yang sudah beberapa bulan ini mencuri hatinya. Annisa tidak bisa  jika pergi dari tempat ini sama dengan berpisah darinya jadi ada perasaan kuat yang begitu enggan menahannya di sini.


Ia yakin jika di kota ia akan sangat merindukan laki-laki ini dan Annisa tidak tahu harus melakukan apa untuk meredakannya suatu hari nanti.


"Mas Gio, Annisa pamit. Annisa berterima kasih kepada Mas karena sudah mau memberikan Annisa tempat untuk berteduh dan berlindung. Annisa sangat berterima kasih untuk hal itu." Karena Gio, ia ada di sini dan karena Gio, ia bisa mengenal berbagai macam orang yang baik di tempat ini.


Annisa begitu berterima kasih dengan Gio, laki-laki yang selama ini selalu menghantui tidurnya dan membuatnya menjadi mimpi indah yang tidak bisa dan rela ia lupakan.


Melihat wajah memerah Annisa, ingin sekali rasanya Gio melayangkan tangannya ke atas kepala Annisa untuk mengusapnya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tapi tidak sekarang karena ia harus menahannya untuk beberapa hari ke depan.


Jadi mau tidak mau ia hanya bisa tersenyum lembut sebagai gantinya, "Annisa, semua yang aku lakukan itu bukan apa-apa dan lagipula juga itu tidak gratis." Ucap Gio membuat Annisa tanpa sadar tersentak, menatap langsung wajah tampan Gio yang kini menatapnya dengan sebuah senyuman yang manis.


Mendongak, "Ti-tidak gratis..lalu apa yang harus aku lakukan untuk membayarnya?" Tanya Annisa pahit juga merasa gugup.


Jika Gio meminta uang tidak apa-apa tapi rasa pahit dan sakit yang ia rasakan begitu mengetahui fakta bahwa Gio tidak membantunya secara suka rela membuat Annisa tidak bisa menahan kesedihannya.


Mendengar kegugupan Annisa, Gio tanpa sadar menghilangkan senyuman manis yang ada di wajahnya. Lalu tatapan serius yang tajam dan mengunci menarik Annisa agar tidak dapat mengalihkan pandangannya dengan mudah.


"Apakah kau serius ingin membayarnya?" Tanya Gio penuh akan emosi yang berputar-putar di dalam dadanya.


"Y-ya, tentu saja." Jawab Annisa seakan terhipnotis.


"Maka suatu hari nanti aku akan berkunjung ke rumah mu untuk menagihnya. Aku harap kau mau memberikan apa yang aku minta dan tidak menolaknya karena kau sendiri yang menjanjikannya kepada ku." Ucap Gio serius namun wajahnya perlahan menampilkan sebuah senyuman kepuasan yang amat sedap di pandang.


Sejenak, Annisa tidak bisa mengatakan apapun selain menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Berkunjung ke rumah?


Annisa tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa ketika mendengarnya karena jika memang Gio datang berkunjung maka Gio akan bertemu dengan Saqila lagi.


Meskipun hubungan mereka sudah dikonfirmasi tidak ada apa-apa akan tetapi tetap saja Annisa merasa gelisah mengingat Saqila sudah mengatakan dengan jelas bahwa Gio adalah calon suaminya dihadapan Umi dan Abi.


"Baiklah, sebaiknya kami langsung berangkat saja. Semuanya, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Suara Safira memecahkan suasana ambigu yang berkelebat di antara Gio dan Annisa.


Tersadar, Annisa dengan canggung menganggukkan kepalanya dan memberikan salam kepada yang lain sebelum masuk ke dalam mobil.


Mobil pondok pesantren yang mereka naiki sekarang perlahan berjalan meninggalkan pondok pesantren. Meninggalkan segala macam emosi yang masih belum jelas kemana arahnya di hati Annisa. Ia tidak tahu apakah merasa gelisah dengan pertemuan Gio dan Saqila atau kesal karena pertolongan Gio yang tidak secara suka rela. Atau bahkan mungkin karena kepergian mendadak mereka dari sana dan harus pulang berhadapan langsung dengan keluarganya yang sudah sangat ia rindukan.


Annisa tidak tahu berbagai macam emosi ini hal mana yang paling mendominasi karena perasaan yang ia rasakan hanya perasaan gelisah saja.


"Jangan dipikirkan, semuanya pasti baik-baik saja." Ucap Safira seraya menggenggam tangan lembut Kakaknya yang sudah berkeringat dingin.


Mengalihkan pandangannya, ia dapati wajah tenang Safira yang juga sedang menatapnya. "Yah, semuanya akan baik-baik saja." Gumam Annisa menenangkan dirinya agar tidak terlalu terbawa emosi.


"Kakak butuh istirahat setelah keluar dari rumah sakit jadi lebih baik sekarang Kakak tidur saja, untuk urusan ke depannya jangan dipikirkan karena ada aku bersama Kakak." Ucap Safira lembut yang mana membuat Annisa seakan terhipnotis oleh kata-katanya. Dengan patuh ia menganggukkan kepalanya dan perlahan membaringkannya di atas sandaran kursi yang empuk dan nyaman.

__ADS_1


Lalu, setelah beberapa menit kemudian mata sayu penuh kekhawatiran itu akhirnya bisa terpejam dengan nyaman dan santai.


Entahlah, Annisa tidak tahu apa yang membuat ia senyaman dan setenang ini. Apakah karena ada Safira di sampingnya atau karena sandaran kursi ini begitu empuk dan nyaman untuk digunakan. Annisa tidak tahu mana jawabannya akan tetapi yang pasti ada Safira membuatnya lebih terlindungi dan sandaran empuk ini membuatnya terasa begitu nyaman.


Lalu dengan tubuh lelahnya Annisa mulai memasuki dunia fantasinya, merasakan sebuah kehangatan yang sedang membelai puncak kepalanya dengan sayang dan penuh kasih. Kemudian sebuah bisikan yang hangat dan halus bergema ke dalam dirinya.


Tidurlah dengan nyaman dan lepaskan rasa lelah mu di sini karena setelah ini kau akan menemukan bahwa hari-hari mu hanya dihiasi dengan suara tawa dan kebahagiaan. Annisa, jangan takut lagi, okay?


                                       ***


Mengusap lembut puncak kepala Annisa, Safira perlahan mendekati telinga Annisa dan membisikkannya sesuatu. Setelah itu, sebuah senyuman kebahagiaan muncul di wajah cantiknya yang terbiasa berwajah datar.


Mengapa tidur Annisa yang begitu lelap, Safira kemudian menurunkan tangannya dengan selembut mungkin. Menjaga jarak dari Annisa agar tidak menggangu tidur damai Kakaknya.


Menghela nafas syukur, ia kemudian mengambil handphone genggamnya yang ada di dalam tas kecilnya.


Mengotak atiknya, ia mencari no seseorang yang sudah beberapa hari ini terus menghubunginya.


"Hallo, Kak Saqila ini aku." Suaranya begitu Saqila yang ada di seberang sana mengangkat telponnya.


"Hem, aku pulang dengan hadiah besar-" Melirik Annisa yang sedang tertidur pulas dan lelap, ada sebuah kelembutan yang terlintas di mata hitamnya yang jernih dan pekat.


"-pastikan Abi dan Umi ada di rumah untuk mendapatkan bagiannya karena tidak adil rasanya hadiah ini dinikmati kita berdua." Tersenyum sinis,  ada perasaan dingin yang perlahan merayapi kilatan matanya.  Haus,  ia sudah lama menanti hari ini datang.


"Hem, hadiah ini begitu besar dan spesial. Aku yakin Kakak akan sangat senang begitu melihatnya."


Hah, aku tidak tahu jika puncak pesta itu adalah besok. Tapi itu tidak apa-apa karena sekarang atau besok itu sama saja, menarik. Senyumnya puas.


                                      ***


"Umi." Panggil Saqila antusias seraya berjalan cepat menuruni anak tangga.


"Nak,  hati-hati.. Jangan berjalan tergesa-gesa seperti itu." Teriak Umi ketakutan begitu melihat Saqila yang berjalan cepat di atas tangga. Ngilu sekali rasanya Umi melihat pemandangan ini,  seakan-akan langkah Saqila bisa saja tersandung dan berakhir jatuh dari atas.


Memperhatikan wajah ketakutan Umi,  Saqila kemudian dengan hati-hati memperlambat langkah kakinya dan dengan pelan pula ia menelusuri anak tangga yang sedang ia tapaki.


"Kenapa terburu-buru begini, Nak? Apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Umi khawatir seraya menyentuh pundak tipis Saqila dan menuntunnya agar mengikuti langkahnya ke ruang keluarga. Karena jarang sekali Saqila berperilaku seperti ini jika bukan karena sesuatu yang begitu mengejutkan. Umi juga masih tidak tahu mengapa Saqila bersikap seperti ini apakah itu karena berita gembira atau justru berita buruk.


Tersenyum senang, dengan sepenuh hati Saqila mengikuti langkah Uminya.


"Umi hari ini Safira pulang." Ucap Saqila antusias memberitahu Umi tentang kabar gembira ini.


Merasa senang juga, "Benarkah?" Mendudukkan diri mereka di salah satu sofa, Umi dan Saqila melanjutkan perbincangan mereka lagi.


"Benar Umi, baru saja Saqila mendapatkan telpon dari Safira. Dia bilang masih dalam perjalanan ke rumah dan apakah Umi tahu?" Mengangguk semangat, Saqila memegang semangat kedua tangan Uminya yang masih halus dan lembut di usianya yang sudah tidak muda lagi.


Penasaran, "Tahu tentang apa, Nak?" Tanya Umi tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya setelah mendengar kabar kepulangan Safira. Padahal beberapa hari yang lalu Safira seakan hilang di telan bumi. Ia tidak pernah memberikan kabar semenjak kepergiannya, jangankan memberi kabar mengangkat telpon dari rumah saja Safira tidak melakukannya.


Ini membuat mereka yang ada di rumah panik dan khawatir, takut jika Safira kenapa-napa di luar sana. Akan tetapi Abi yang menjadi pihak kepala keluarga mengatakan bahwa Safira adalah gadis yang bertanggung jawab. Ia tidak mungkin melakukan semua ini jika tidak ada sesuatu yang mendesak, maka jadilah Saqila dan Umi mempercayai perkataan Abi karena di sini yang berhak memutuskan mengambil tindakan atau tidak hanya Abi seorang sebagai kepala keluarga. Adapun yang lain mereka hanya perlu menyuarakan pendapat mereka sebagai bagian dari keluarga ini.


"Tentang Safira yang membawa hadiah untuk kita semua, Umi. Ini mungkin sedikit berlebihan tapi Saqila tidak bisa menyembunyikan perasaan senang Saqila karena menerima hadiah untuk yang pertama kalinya dari Safira. Hah, gadis itu begitu cuek sehingga Saqila tidak menyangka jika hatinya selembut kapas." Saqila tidak pernah menyangka jika gadis secuek Safira ternyata punya sisi lembut juga di dalam hatinya. Apalagi ini adalah yang pertama kalinya Safira memberikan hadiah jadi wajar saja Saqila begitu antusias dan senang.


Tersenyum lembut, Umi kemudian mengusap puncak kepala Saqila dengan sayang dan tulus khas keibuan.


"Maka kita harus menyambut kedatangan Adikmu nanti." Ucap Umi memberikan saran kepada Saqila. Berhubung Safira sudah beberapa hari ini tidak pulang, Umi berencana ingin memasakkannya sesuatu yang hangat juga lezat. Ia ingin memberikan penyambutan terbaik untuk Safira, putrinya yang beberapa hari ini mengganggu tidurnya.


"Ide bagus, Umi lalu bagaimana dengan Abi?" Setuju Saqila tanpa berpikir panjang. Akan tetapi ia teringat dengan keberadaan Abinya yang masih belum pulang bekerja. Saqila tidak ingin merasakan rasa senang ini sendiri, ia juga ingin Abi dan Uminya terlibat.


"Abi masih belu-"


"Assalamualaikum." Suara berat Abi menginterupsi ucapan Umi. Lalu dengan gerakan alami Umi dan Saqila mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara. Di pintu masuk ruang tamu ada Abi yang sedang melonggarkan dasinya.


"Nah, ini Abi." Suara Umi senang seraya membawa langkahnya mendekati Abi. Lalu kedua tangannya dengan gerakan terbiasa mengambil alih dasi tersebut dari tangan kuat Abi.


Hah, pemandangan semanis ini begitu biasa terlihat di dalam rumah ini namun tetap saja meninggalkan rasa iri di dalam hati Saqila. Ia iri dan ingin suatu hari nanti ia bisa melakukan ini kepada suaminya nanti, Gio.


"Abi hari ini Safira pulang, lho." Lapor Saqila yang langsung diangguki pelan oleh Abi.


"Hem, hari ini mereka akhirnya pulang." Gumam Abi terdengar lelah yang mana meninggalkan tanda tanya bagi Umi dan Saqila.


Mereka?


Bukankah hanya Safira saja?


Ah, mungkin Safira juga membawa temanya. Batin Saqila menebak.


"Kalian akan masak apa? Abi juga akan bantu kalian di dapur." Tanya Abi seraya menjatuhkan dirinya di atas sofa single.


Terkejut, "Abi akan ikut bergabung bersama kami? Tanya Saqila terkejut bercampur senang juga tidak percaya.


Mengangguk kalem, "Tentu saja, hari ini putriku kembali jadi untuk menyambutnya aku harus memberikannya sebuah kejutan." Jawab Abi dengan tatapan kosongnya yang mulai menyendu.


Yah, ini ia lakukan untuk menyambut putrinya yang kembali hari ini. Putri yang sudah beberapa bulan ini ia rindukan. Putri yang sudah beberapa bulan ini terus menjadi mimpi buruk untuknya dan putri yang sudah beberapa bulan ini membuatnya begitu menyesal dan merasa bersalah.


Betapa sakitnya ia setiap kali ia mengingat hari itu, hari dimana ia menjatuhkan tangannya dengan kasar ke wajah tirus dan pucatnya. Melemparkannya dengan kata-kata kejam yang ia sendiri sebagai pelaku yang mengatakan begitu ketakutan ketika mengingatnya.


Betapa kejamnya, mengapa ia sekejam itu pada putrinya yang selama ini selalu merasakan sakit dari kejamnya dunia?


Ia gagal bukan?


Sebagai Ayah, ia sudah gagal menjalankan kewajibannya untuk melindungi putrinya.


"Apakah Abi serius ingin membantu kami? Karena sejujurnya aku tidak pernah melihat Abi masuk ke dapur untuk memasak." Ragu Saqila takut jika Abinya membuat dapur berantakan.


"Kau akan tahu setelah masuk dapur nanti." Yakin Abi optimis dengan dirinya sendiri.


"Karena demi putriku, apapun bisa aku lakukan."


 


\*


 


"Ayo Kak, kita sudah sampai." Ajak Safira seraya menarik tangan Annisa berjalan ke depan pintu yang sudah beberapa bulan ini ia tidak masukin.


Gugup, Annisa dengan tatapan rindu memperhatikan corak pintu rumahnya yang sederhana namun terlihat begitu anggun dan keras. Lalu, dengan hati-hati tangan kanannya meraba sisi pintu itu dengan gerakan nostalgia. Tidak terasa kasar atau lembut, hanya ada perasaan nyaman dan nostalgia ketika menyentuhnya.


Annisa rasanya ingin sekali menangis ketika menyentuh tempat ini lagi, tempat yang ia tidak pernah pikirkan untuk datang kembali. Tempat yang ia tekatkan untuk dilupakan. Ah, tetapi hari ini Allah membalik doanya dan mengirimnya kembali ke tempat ini. Tempat yang ia ragu bisa menerimanya atau tidak karena pengalaman mengajarkannya tentang sebuah harapan yang nyata namun pada akhirnya itu semu.


Cklak


Pintu terbuka dan menampilkan wajah cantik Umi yang masih terlihat sempurna di umurnya yang sudah tidak muda lagi.


Deg


Umi dan Annisa sama-sama membeku, menyisakan wajah shock penuh emosi di hati masing-masing.


Tidak tahu harus berbuat apa, Annisa dengan gerakan kaku mengangkat kakinya untuk mundur dan berniat kabur dari sini. Namun sebelum itu terjadi Umi dengan cepat meraih tangannya dan tiba-tiba perasaan hangat yang langka dan penuh kenangan nostalgia membanjiri Annisa.


Tertegun, Annisa masih belum bisa mempercayai jika seseorang yang selama ini ia selalu sebut dalam doa penghambaannya kepada Allah kini sedang memeluknya.


Memeluknya persis seperti satu tahun yang lalu, ketika ia masih dibanjiri kasih sayang dari semua orang.


"Annisa, kamu kembali, Nak." Bisik Umi terdengar terisak di samping telinga kanannya.


Terkejut, Annisa dengan penuh kerinduan langsung mengangkat kedua tangannya untuk membalas pelukan hangat Umi. Ia tanpa sadar menjatuhkan cairan hangat yang mengandung berbagai macam emosi. Ia tidak tahu harus mengatakan apa selain hanya bisa terisak dan memeluk Uminya erat-erat. Menyampaikan sebuah perasaan bahwa betapa rindunya ia kepada orang terkasihnya ini.


"Nak, Ya Allah..kau benar-benar kembali.." Tiba-tiba Abi muncul dari dalam, masih mengenakan celemek ia dengan tergesa-gesa mendatangi Annisa dan Umi. Ikut memeluknya dengan erat dan penuh kasih sayang. Bahkan wajah tegasnya yang tampan dan kuat tidak bisa menyembunyikan air matanya. Bagaimana caranya menjelaskan semua ini?


Ia tidak tahu harus mengatakan apa karena hanya perasaan bahagia dan senang yang terus meluap-luap di dalam dada mereka.


"Annisa..kamu kembali, Nak." Ucap Abi seraya mengeratkan pelukannya pada dua wanita yang ada di dalam pelukannya.


Mengangguk senang dan syukur, Annisa dengan sekuat tenaga mencoba menjangkau punggung tegap Abinya. "Annisa pulang..hiks..maaf..maaf karena telah mengecewakan Abi.."


"Nak..tidak.. jangan katakan itu lagi, Abi akan terus merasa bersalah jika kau terus mengatakannya." Larang Abi tidak kuasa menahan sakit hatinya ketika mendengar permintaan maaf Annisa. Putri yang sudah lama ia rindukan dalam hari-harinya.


"Umi, Abi, lebih baik kita masuk dulu ke dalam. Kak Annisa butuh istirahat karena sudah menempuh perjalanan jauh, apalagi kemarin sore Kak Annisa baru saja keluar dari rumah sakit." Ucap Safira memberikan saran, menengahi acara kangen-kangenan mereka. Bukan bermaksud memisahkan mereka, bukan seperti itu. Safira hanya bermaksud memberikan Annisa waktu istirahat karena ia baru saja sembuh juga menempuh perjalanan jauh. Jadi, tidak tega rasanya Safira melihat ketidak nyamanan Annisa. Sebenarnya Annisa adalah tipe orang yang akan menyembunyikan perasaannya jadi wajar saja Annisa tidak mengeluhkan rasa lelahnya kepada semua orang karena ia tidak suka mengumbar perasaannya.


Tertegun, Umi dan Abi langsung melepaskan pelukan mereka dan dengan hati-hati memperhatikan Annisa yang memang berwajah pucat dan sedikit sayu.


"Ya Allah, Nak, kamu teh kenapa sampai bisa masuk rumah sakit? Kenapa juga kamu tidak menghubungi kami untuk menjemput mu?" Sejenak, Annisa tidak bisa merespon apapun kecuali dengan sebuah tatapan rindu yang begitu berfluktuasi di dalam hatinya.


Uminya, ini adalah Uminya yang satu tahun lalu menghilang. Annisa pikir bahwa ia tidak akan pernah punya kesempatan untuk mendapatkan perlakuan hangat dan cerewet Uminya lagi, tapi nyatanya hari ini Allah memberikan kesempatan itu kepadanya.


Uminya kembali, kembali seperti Umi yang ia kenal.


"Annisa.. hanya lelah Umi makanya bisa masuk rumah sakit." Bohong Annisa tidak ingin membuat khawatir orang tuanya lagi.


"Annisa bohong Umi, Annisa masuk rumah sakit karena keracunan dan bukan kelelahan." Bantah Safira tanpa menunggu reaksi dari Umi dan Abinya.


"Apa-"


"Bagaimana bisa-" Suara Umi dan Abi berbarengan. Mereka begitu terkejut begitu mendengar kabar buruk ini dan lagi jika Annisa tidak bisa diselamatkan maka mereka berdua sebagai orang tua tidak akan pernah bisa mengampuni diri mereka sendiri. Karena seperti apapun Annisa adalah putri mereka, darah daging mereka.


"Ceritanya panjang dan akan Safira ceritakan nanti di dalam saja. Karena yang terpenting sekarang adalah biarkan Kak Annisa istirahat terlebih dahulu." Jawab Safira memberikan saran.


"Safira, itu tidak perlu karena Kakak sebenarnya baik-baik saja-"


"Baiklah ayo kita masuk." Putus Umi seraya menuntun Annisa masuk ke dalam rumah dengan sikap hati-hati. Bahkan Abi pun tidak mau ketinggalan dan dengan hati-hati pula menuntun Annisa masuk ke dalam rumah.


Di dalam dapur, Saqila merasa heran dengan Umi dan Abi yang belum kunjung-kunjung kembali ke dalam dapur. Penasaran, ia pun akhirnya memilih menyusul kedua orang tuanya ke halaman depan. Namun baru saja ia membawa langkah kakinya keluar dari dapur, ia dibuat terkejut juga tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"An-nisa?" Bisiknya tidak percaya pada sosok gadis yang dikelilingi oleh Umi dan Abi. Marah, kedua tangannya mengepal kuat menahan rasa gemetar karena murkanya yang bisa saja melonjak.


"Mengapa ia kembali ke sini lagi?" Tanyanya penuh kebencian. Padahal ia sudah berhasil menghasut Annisa agar pergi dari rumah ini bahkan sejauh mungkin. Tapi mengapa?


Mengapa Annisa kembali lagi setelah sekian lama menghilang?


Menghela nafas, ada perasaan marah dan benci yang kembali meluap-luap setelah sekian lama terpendam. Saqila tidak bisa menampik bahwa pelaku dibalik rasa tidak senang dihatinya ini adalah karena Kakak sialannya yang bodoh dan tidak berguna!

__ADS_1


Bersambung...


Hei..hei..Mak mau kasih bocoran yah kalo di pertengahan part ada sekuel untuk buku kedua dari buku ini. Bagi yang cermat pasti langsung sadar tuh🤣🤣🤣


__ADS_2