Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 5


__ADS_3

Mengambil nafas perlahan, Dea lantas tidak segera beranjak dari tempatnya berdiri. Namun ia menstabilkan dulu ekspresinya saat ini, lalu setelah merasa lebih baik ia kemudian berjalan menjauh dari kantor TU tersebut.


Berjalan ia terus saja berjalan, seakan tidak cukup ia pun berlari ke arah yang berlawanan dari asramanya. Ia berlari kemanapun kakinya pergi menuntunnya, sampai akhirnya ia tidak sengaja menabrak dada bidang nan kuat seseorang.


Grab


"Hati-hati.." Orang tersebut langsung menahan pundak Dea agar tidak terjatuh.


Terkejut, Dea dengan panik melepas kasar pegangan laki-laki tersebut. Menundukkan kepalanya cepat, kedua tangannya tidak tinggal diam saja dan dengan lihai menghapus air mata yang terus mengalir.


"Aku minta maaf-" Ucapan permintaan Dea terhenti ketika melihat sosok yang ia tabrak adalah laki-laki yang sama ia temui di masjid semalam.


"Maaf menyusahkan mu untuk yang kedua kalinya." Bisik Dea malu.


"Apa anti baik-baik saja?" Tanya laki-laki itu sopan, ia khawatir karena melihat air mata Dea yang masih mengalir.


"Ya..aku baik-baik saja." Jawab Dea canggung.


"Kalau begitu aku permisi dulu, assalamualaikum." Pamit Dea tanpa menunggu jawaban laki-laki itu ia langsung berlari menjauh. Membawa langkahnya secepat yang ia bisa sampai akhirnya sampailah ia di tempat ini.


Sebuah sungai jernih mengalir tenang bergerak di depannya dan luasnya hamparan sawah yang baru saja ditanami berbagai macam sayur menyambut kedatangannya.


Ia lalu terduduk lemas dipinggir sungai, membiarkan angin sesuka mereka menerbangkan ujung jilbab panjangnya.


"Jadi, selama ini aku selalu sendiri?" Bisiknya menebak.


Jadi, selama ini ia selalu sendirian di dunia ini . Ia pikir ada Rio yang akan setia menunggunya, tapi sayangnya orang yang ia percaya justru mengkhianatinya. Jika itu dengan wanita lain.. mungkin sakitnya tidak akan sesakit ini tapi sayangnya orang itu adalah sahabatnya sendiri.


Kekasihnya dan sahabat yang ia banggakan ternyata bekerja sama menusuknya, bermain dibelakangnya sesuka yang hati mereka mau.


Dea..kecewa dibuatnya.


"Aku pikir dia akan datang menjemput ku dan membawa ku pergi, tapi..tapi ia justru sedang asik bermesraan dengan Ayu. Ini begitu sulit ku terima hiks..." Ungkapnya kecewa.


Ia kecewa kepada rasa percaya dirinya yang tinggi dan ia juga miris karena setelah ini ia pikir, tidak akan ada seorang laki-laki yang mau menerimanya.


"Lagipula aku kotor.. hiks.." Isaknya sedih juga menyesal.


Jika ia tahu bahwa orang seperti apa Rio itu maka Dea tidak akan pernah mau mengenalnya di masa lalu. Apalagi jika itu sampai menyentuh tubuhnya, Dea tidak akan sudi.


"Patah hati adalah cara terbaik Allah untuk memberitahu manusia bahwa mereka tidak akan pernah berakhir baik jika menghamba pada sesama manusianya. Manusia itu mahluk lemah sehingga menghamba kepadanya sama saja pergi berperang tanpa senjata." Tiba-tiba suara berat nan lembut menginterupsi kegiatan Dea, membuatnya dengan panik menghapus cepat air matanya.


"Kenapa kamu bisa mengatakan seperti itu?" Tanya Dea tidak terima juga penasaran seraya membawa matanya yang memerah menatap laki-laki yang tetap diam berdiri menatap hamparan sawah.


Teringat dengan kisah cinta Ali dan Fatimah, "Bukankah Ali dan Fatimah juga sebelum bersatu saling mendamba hati masing-masing?" Sambung Dea tidak sabar karena setahunya cinta Ali dan Fatimah juga seperti zaman ini, penuh damba dan hasrat akan tetapi karena itu di zaman Rasulullah Saw, ada bumbu manis agama didalamnya.


"Allah SWT pernah berfirman di dalam Al-Qur'an,   yaitu terdapat di surat Al-Insyirah ayat ke 8, وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَارْغَبْ. Ayat ini menjelaskan tentang hanya kepada Allah lah kita seharusnya berharap dan tidak ada yang lain selain Dia. Kemudian salah satu Imam besar, yaitu Imam Syafi'i berkata bahwa Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya." Laki-laki itu mulai menjawab pertanyaan Dea tanpa mengalihkan sedikit pun perhatiannya dari hamparan sawah hijau yang ada di depannya.


Dea tidak bersuara, menunggu jawaban selanjutnya dari laki-laki ini.


"Dari sini seharusnya anti mengerti bahwa patah hati yang anti sedang rasakan sekarang adalah bentuk kecemburuan Allah kepada mu. Allah tidak suka jika hamba-Nya berharap kepada selain Dia. Apalagi itu adalah manusia yang amat sangat lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, Allah sangat mencemburuinya. Dengan patah hati Allah ingin anti kembali kepada-Nya, selayaknya kekasih yang sangat anti cintai dan rindukan. Itu lebih baik daripada menghamba kepada ciptaan-Nya." Lanjut laki-laki itu menjelaskan kepada Dea bahwa hanya Allah lah yang pantas kita harapkan.


"Selanjutnya, kisah cinta Ali dan Fatimah tidak sama dengan apa yang anti maksud. Mereka berdua memang saling mengharapkan dan ingin memiliki namun mereka berdua tidak menunjukkannya sama sekali sehingga syeitan pun tidak tahu jika kedua orang ini saling menyukai. Mereka tidak memberitahu siapapun tentang perihal hati mereka, namun ketika semua orang tertidur lelap mereka berdua akan bangun dan menunaikan shalat malam yang khusyuk. Di sana mereka berbicara kepada Allah dan menceritakan perasaan masing-masing, melangitkan nama yang mereka kasihi saat gelap namun paginya mereka bertindak seolah tidak ada rasa apapun di hati masing-masing. Inilah yang membuat kisah cinta mereka begitu mulia dan suci, mereka memendam rasa dalam diam dan hanya Allah lah yang tahu bagaimana perasaan mereka sebenarnya. Maka dari itu Allah pun mengikat nama mereka di surga dan menikahkannya di dunia melihat betapa murninya hati mereka." Laki-laki itu kemudian mengalihkan pandangannya menatap Dea, beberapa detik kemudian ia menundukkan pandangannya samar. Menjaga kemuliaan Dea dihadapannya.


"Jika anti menyukai seseorang alangkah lebih baiknya dipendam saja dan ceritakan itu hanya kepada Allah, percayalah Allah akan mendengarnya. Ia akan membalik hati orang yang anti sukai jika itu yang terbaik, namun Allah akan membalik hati anti dari orang anti sukai jika laki-laki itu tidak pantas untuk mu. Lalu, jadikanlah patah hati hari ini sebagai pelajaran untuk diri sendiri agar jangan sampai di lubang yang sama. Berpikir lah positif bahwa Allah memberikan anti rasa pedih ini untuk menunjukkan kepada mu bahwa laki-laki itu bukanlah yang terbaik, dan akan ada suatu hari nanti seorang laki-laki yang mendatangi anti. Laki-laki yang Allah jadikan pantas untuk mu, jadi anti harus bersabar untuk hari itu seraya memperbaiki diri." Ucapnya mengakhiri penjelasannya.


Laki-laki itu lantas mengalihkan pandangannya kembali menatap hamparan hijau yang tertiup angin, meninggalkan Dea yang menatapnya dengan pandangan tertegun juga terpesona.


Apa itu kesempurnaan?


Kesempurnaan adalah laki-laki yang ada di depannya ini. Entah itu secara fisik juga sikap, laki-laki ini seolah tanpa cela. Gaya bicaranya halus nan bijak, seolah ia adalah orang yang berpendidikan tinggi.


Bukan hanya itu, pengetahuannya pun luas. Ia seharusnya sekarang menjadi pengajar di sini, akan tetapi laki-laki ini terlalu muda pikir Dea. Untuk seumuran laki-laki ini, ia seharusnya masih seorang santri di sini.


Hanya saja, Dea tidak pernah melihatnya kecuali hari ini dan semalam.


Melihatnya seperti ini entah mengapa Dea berharap menjadi salah satu gadis beruntung yang akan mendapatkannya. Namun iyakah?


Jika dilihat dari sisi manapun laki-laki ini dan dia punya perbedaan yang jauh. Mereka berasal dari dunia yang berbeda, laki-laki ini penuh akan nilai-nilai Islam yang bersinar terang.


Sedangkan ia?

__ADS_1


Ia masih berkubang di tengah lumpur dosa dan akan selalu diposisi ini karena ia kotor. Sangat kotor untuk bisa berdiri ditempat yang sama dengan laki-laki ini.


"Jika dilihat dari bicaramu, kau seperti termasuk santri yang cerdas dan berprestasi. Tapi, mengapa selama di sini aku tidak pernah melihat mu sekalipun kecuali baru-baru ini?" Bingung Dea menyuarakan keingin tahuannya.


Namun sebenarnya Dea juga berpikir mungkin laki-laki ini tidak suka keramaian atau Deanya saja yang tidak pernah beruntung bertemu dengannya. Santri di sini kan ribuan jadi kecil kemungkinan untuk berpapasan dengannya.


Lalu, Dea kemudian teringat dengan pertemuannya bersama laki-laki ini semalam di dalam masjid. Bukankah itu terlalu janggal ia sendirian di dalam masjid?


Mungkinkah laki-laki ini bukan manusia?


Dea lantas memperhatikan laki-laki ini dari ujung kepala sampai kalinya. Tidak ada yang aneh, kaki laki-laki ini menapaki tanah dengan sempurna, kok.


Tapi jin zaman sekarang kan sudah mulai berevolusi membohongi manusia. Bisa saja laki-laki ini adalah jin tingkat tinggi yang bisa keluar masuk dua alam dengan mudah. Yah, ini pasti adalah penjelasannya.


Mengingat di setiap pertemuan mereka selalu di tempat yang sepi.


"Kau.. apakah kau bukan manusia?" Tanya Dea hati-hati tidak ingin menyinggungnya.


Karena jika laki-laki ini tersinggung mungkin bisa-bisa Dea dibawa pergi ke alamnya, oh no! Dea tidak menginginkannya se'sensara apapun dia di sini. Alam manusia tetaplah yang terbaik.


Laki-laki itu lagi-lagi tidak merespon pertanyaan konyol Dea. Entah ekspresi apa yang sekarang ada di wajahnya, Dea tidak dc bisa melihatnya karena laki-laki itu begitu senang menatap hamparan sawah yang luas.


Lalu, beberapa detik kemudian laki-laki itu bersuara tanpa menatap Dea yang masih fokus memperhatikannya.


"Ada yang harus diurus di kantor, maka dari itu aku pergi dulu, assalamualaikum." Pamit laki-laki itu seraya berjalan menjauh dari pandangan kebingungan Dea.


"Dia manusia?" Gumamnya merasa bodoh dan konyol secara bersamaan.


Bagaimana mungkin dia sebodoh itu?


Astaga laki-laki itu pasti pergi ke suatu tempat untuk menertawakan kekonyolannya. Jika bertemu lagi Dea tidak tahu harus bersikap bagaimana dimasa depan. Hilang sudah wajahnya di mata laki-laki ini. Padahal ini adalah pertemuan kedua mereka namun ia sudah membuat malu saja.


Tapi..tapi entah bagaimana Dea merasa ini lucu. Ia juga terbawa suasana bersama laki-laki ini dan dengan mudah melupakan tentang pengkhianatan Rio kepadanya.


Tapi ada masalah lagi,


Benarkah ia menyukai suasana nyaman bersama laki-laki ini?


Sekali lagi, ia adalah gadis yang kotor. Benar bukan?


\*\*\*\*


"Ini udah lama banget ustadz Aldi pamit pergi ke kantor tapi kok belum balik-balik, apa iya yah berkasnya sebanyak itu?" Bingung Safira karena ini sudah lama ustadz Aldi pamit ke kantor.


Apa iya berkas yang diurus ustadz Aldi sebanyak dan serumit itu?


"Safira.. Safira, kamu teh belum jadi istrinya aja udah gak tahan ditinggal beberapa jam sama dia, apalagi besok kalo udah halal terus ditinggal 2 tahun sama ustadz Aldi, gak kebayang gimana kondisi kamu saat itu." Mira gak habis pikir jika Safira yang ia kenal cuek ternyata dalamnya penuh akan kebucinan yang haqiqi.


Annisa saja dulunya saat pdkt dengan Gus Gio tidak pernah seagresif ini, Annisa orangnya sabar dan selalu kurang percaya diri jika memikirkan Gus Gio.


Tapi adiknya malah beda, dia mah selalu percaya diri jika bersangkutan dengan ustadz Aldi. Cuma ya itu, kalau di depan ustadz Aldi pasti dia pemalu orangnya. Safira seolah-olah menjadi muslimah lemah lembut yang penuh akan kasih sayang dan rapuh, padahal kalau dibelakang ustadz Aldi dia orangnya agresif banget.


Mira tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti ustadz Aldi menemukan sifat asli Safira, entah respon apa yang akan diberikan ustadz Aldi kepada Safira.


"Udah Mir, aku lagi gak nanya pendapat kamu. Lagipula orang jomblo bin karatan kayak kamu mana ngerti urusan percintaan orang dewasa, udah fokus aja kerja kamu." Ujar Safira santai sambil mendata ulang kertas salah satu kamar asrama santriwati yang ada ditangannya dengan tumpukan gamis di depan.


Mira dengan jujur memutar bola matanya malas, entah kenapa ia merasa berdekatan dengan Safira membuat kesabarannya semakin diuji. Memang Mira mengakui secara nurani jika Nanda orangnya juga menjengkelkan tapi jika dibandingkan dengan Safira, maka Safira adalah orang yang paling menjengkelkan.


"Idih, aku jomblo juga karena fisabilillah yah bukan karena gak laku." Mira membela diri sebagai perempuan yang pernah dilamar beberapa kali oleh laki-laki.


"Bilang aja gak laku apa susahnya, sih."


"Dibilang juga jomblo fisabilillah kok ngeyel banget jadi orang." Kesal Mira menahan sabar.


"Lagipula nih, kenapa kamu gak lamar langsung aja sih ustadz Aldi? Kan kamu tinggal minta tolong Pak Kyai atau Abi kamu buat lamarannya. Apalagi puasa tinggal satu minggu lagi, apa gak sayang tuh puasanya gak bareng ustadz Aldi?"


Nah, bukankah di dalam Islam perempuan datang melamar adalah hal yang wajar? Lalu, kenapa Safira tidak melakukan langkah itu?


Padahalkan sahur dan buka bersama suami itu punya keistimewaan tersendiri yang tidak bisa didapatkan dari orang lain. Apalagi jika ini ramadhan pertama mereka, gak kebayang tuh asem-asem manisnya.


"Sebenarnya aku juga sempat kepikiran kemarin tapi aku ingat lagi kalau Abi dan Umi lagi sibuk urus masalah Kak Saqila. Gak enak bangetkan aku ngadain acara sakral kayak gitu disaat mereka lagi sedih dengan Kakak ku yang di pondok pesantren Abu Hurairah. Yah..aku juga mana tega ngelakuin itu makanya aku tunda dulu sampai masuk bulan Syawal besok."

__ADS_1


Sempat ada kepikiran untuk melamar ustadz Aldi, namun ia ingat lagi jika Saqila sedang butuh dukungan kedua orang tuanya. Ia juga tidak tega melakukan pernikahan di saat kondisi Kakaknya yang seperti ini. Maka dari itu Safira dengan tenang mencoba menenangkan hatinya seraya bertawakal kepada Allah agar jalannya dimudahkan.


"Hem, sekarang aku paham. Tapi diantara semua bulan kenapa harus bulan Syawal, apa itu gak terlalu kebelet nikah namanya?"


Kan Safira bisa saja menunggu dua atau tiga bulan lagi untuk melaksanakan pernikahan agar tidak terlalu terlihat terburu-buru tanggapannya.


"Aku milih bulan Syawal bukan karena keburu pengen nikah tapi karena bulan itu adalah bulan Rasulullah Saw menikahi bunda Aisyah Radhiyallahu Anha. Bulan dimana Jibril mengatakan kepada Rasulullah Saw bahwa Aisyah adalah istrinya di dunia juga di akhirat, kebayangkan bagaimana manisnya momen itu. Aku juga ingin seperti cinta mereka yang abadi, tidak hanya di dunia tapi juga aku ingin bersama ustadz Aldi di akhirat kelak. Mengikuti jejak Rasulullah Saw bersama istri tercintanya Aisyah, apakah kamu tidak ingin?" Ujar Safira dengan sinar mata penuh damba.


Ketika mendengar Syawal, hal yang pertama kali terlintas dibenak Safira adalah bulan dimana Rasulullah Saw menikahi Aisyah Radhiyallahu Anha. Sebuah momen penting yang manis, tertulis tidak hanya di dunia namun juga di akhirat. Betapa manisnya bukan?


"Astagfirullah, aku kok bisa lupain momen sepenting ini ya Allah.." Mira dengan panik menepuk jidatnya spontan.


"Bulan dimana Rasulullah Saw menikahi Aisyah Radhiyallahu Anha, aku juga mau ya Allah.." Gumamnya juga bertekad ingin mencetak momen penting sekali seumur hidupnya di bulan itu.


Bulan yang manis penuh dengan aroma romantis yang memabukkan, mereka juga ingin memilikinya.


"Iya..tahu kok yang pada mau nikah di bulan Syawal, tapi pekerjaannya jangan sampai dilupain dong soalnya besok sore akan didistribusikan ke semua kamar santriwati." Tiba-tiba sebuah suara lembut masuk ke pendengaran mereka, membuyarkan acara melamun mereka.


"Ya Allah Kak Annisa ngagetin aja, aku kira siapa-siapa tahu!" Panik Safira mengedarkan pandangannya menatap ke arah pintu yang ada di belakang Annisa. Takut jika ada santriwati yang mengikuti Annisa ke sini, karena jika ada maka tamatlah riwayatnya di sini.


Apalagi yang mengejar ustadz Aldi bukan hanya dia saja maka bisa dipastikan gadis-gadis itu akan menatapnya bak musuh bebuyutan yang ada sejak sebelum lahir.


"Lagian kenapa sih tadi waktu masuk gak salam?" Safira masih protes.


Annisa dengan kalem tersenyum, meraih kertas dengan daftar nama penghuni kamar salah satu asrama santriwati.


"Kakak udah salam lho tadi cuma kaliannya aja yang gak dengar." Jawabnya seraya fokus membaca nama-nama santriwati yang tertulis tapi di kertas tersebut beserta ukuran gamis mereka.


"Masa sih?" Gumam Safira tidak percaya jika dia akan setuli itu jika melamun.


"Tadi Mas Gio cerita lho sama Kakak kalo sudah ada tujuh santriwati yang memberikan ustad Aldi proposal lamaran." Lapor Annisa kepada Safira mengenai apa yang didengarnya dari sang suami.


Terkejut, "Serius An?" Tanya Mira karena tidak menyangka dalam waktu semalam ustadz Aldi sudah diburu dengan terang-terangan.


"Iya, aku serius." Jawab Annisa yakin.


"Terus proposalnya diterima Kak sama ustadz Aldi?" Tanya Safira panik, takut jika jawaban Kakaknya adalah iya.


Meskipun ia tahu jika ustadz Aldi tidak akan semudah itu menerima seseorang untuk menjadi pendampingnya. Namun tetap saja rasa takut itu masih ada.


"Iyalah, semuanya diterima ustadz Aldi." Jawab Mira cepat tanpa menunggu respon Annisa.


"Aku nanya Kak Annisa, yah." Kesal Safira tidak tahan.


"Kak Annisa, terus proposalnya diterima gak sama ustadz Aldi?" Safira mengulangi lagi pertanyaannya yang masih belum dijawab Annisa.


"Iya, proposalnya langsung diterima sama ustadz Aldi." Jawab Annisa membenarkan jawaban Mira.


"Kak Annisa bohong, yah?" Safira tidak percaya jika ustadz Aldi secepat itu menemukan pendamping hidupnya.


"Kakak gak mungkin bohong dek, kalau ustadz Aldi udah terima semua proposalnya. Tapi dia masih belum menentukan lamaran siapa yang akan ia terima, dek."


"Ya Allah Kak, bilang dong kalo dia masih belum menerima lamaran mereka. Kak Annisa, ih, itu nakutin tau!" Akhirnya Safira bisa menghela nafas dengan lega ketika mendengar penjelasan Kakaknya.


Nahkan, seperti yang ia duga ustadz Aldi tidak akan semudah itu menerima seseorang untuk menjadi pendampingnya. Mungkinkah ada seseorang yang sedang ia tunggu?


Apa itu Safira?


Atau justru gadis lain?


"Lho, yang nakutin kamu teh siapa Safira lha wong jawaban Annisa bener kok." Mira geleng-geleng kepala menghadapi Safira yang menjadi bucin karena ustadz Aldi.


"Kok bener?" Tanya Safira masih belum menyadarinya.


"Iya bener dong soalnya kan kamu nanyanya ustadz Aldi udah terima proposalnya belum, ya jelas dong udah diterima. Beda kalau kamu nanya ustad Aldi udah ada terima lamarannya belum, ini baru jawabannya masih belum ada." Gemas Mira dengan IQ Safira yang tiba-tiba menjadi tumpul jika menyangkut ustadz Aldi.


"Aah..jadi seperti itu, kok aku jadi gak ngeh ya?" Bingung Safira dengan dirinya sendiri.


Annisa dan Mira sontak saling pandang, mengirim sinyal pemahaman secara diam-diam dan dengan mengangguk secara bersamaan mereka telah menyepakati bahwa Safira sedang dibelenggu kebucinan.


Bersambung...

__ADS_1


Awas Typo Bertebaran!!!


__ADS_2