Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Jangan Menangis


__ADS_3

وَلَوْلَاۤ اَنْ ثَبَّتْنٰكَ لَقَدْ كِدْتَّ تَرْكَنُ اِلَيْهِمْ شَيْـئًـا قَلِيْلًا ۙ .


"Dan sekiranya Kami tidak memperteguh (hati)mu, niscaya engkau hampir saja condong sedikit kepada mereka,"


(QS. Al-Isra' 17: Ayat 74)


\*\*\*


"Mas Gio, baru saja aku mengatakan jika Saqila sudah mengakui Mas sebagai calon suaminya. Apakah Mas tidak bisa mengaitkan apa yang aku katakan?" Sudah ada petunjuk dan hanya perlu menelusuri semua kejadian-kejadian yang terjadi.


"Tolong jelaskan aku karena sungguh otak ku benar-benar sulit untuk berpikir jauh saat ini." Dia dalam keadaan tidak baik, masuknya Annisa ke rumah sakit sudah membuatnya hampir gila jadi untuk mengaitkan semua masalah Gio rasa ia tidak bisa melakukannya dengan cepat dan tepat.


Menghela nafas, "Begini, hari Annisa keluar adalah hari dimana Kak Saqila mengatakan ke Abi dan Umi tentang hubungan kalian. Ia mengatakan jika Mas adalah calon suaminya dan akan segera menikah setelah Kak Annisa menikah. Nah, yang menjadi permasalahannya pada hari itu adalah setelah Kak Saqila mengaku ia juga mengeluh kepada Umi dan Abi tentang kedekatan kalian berdua yang dengan sengaja ia abadikan dalam foto. Foto kebersamaan Mas Gio dan Kak Annisa membuat Umi dan Abi marah karena seperti yang ku katakan tadi mereka hanya tahu Mas Gio dan Kak Saqila adalah pasangan. Mengetahui kedekatan Mas Gio dan Kak Annisa membuat mereka sangat marah, bahkan aku mendengar Umi dan Abi sempat menampar Kak Annisa. Lalu, dengan murka mereka mengatakan bahwa Kak Annisa adalah sebuah kegagalan mereka dalam membesarkannya anak. Jadi, Mas Gio apa yang Mas Gio tangkap dari cerita ku?" Safira menjelaskannya dengan singkat dan hati-hati. Mengungkapkan secara perlahan bahwa ada sesuatu yang salah dari kejadian ini. Entah Gio menangkap atau tidak itu adalah kepekaan Gio jadi Safira tidak bisa memaksakannya untuk mencari tahu.


Sejenak, setelah mendengar apa yang Safira katakan Gio masih tidak bereaksi apa-apa. Pikirannya saat ini di penuhi dengan kebingungan dan rasa keterkejutan yang sangat besar.


"Safira, apa yang kamu maksud adalah Saqila sengaja melakukan ini agar Annisa di benci oleh orang tua mu?" Ini adalah kesimpulan yang bisa ia pikirkan. Saqila, ia tahu bahwa kegagalan pernikahan Annisa dan Dimas adalah karena Saqila tapi ia tidak pernah menyangka jika Saqila akan bertindak lebih kejam lagi. Menghancurkan kehidupan Annisa rasanya tidak cukup baginya sehingga ia memilih untuk menghancurkan kepercayaan orang tua mereka kepada Annisa.


"Tidak Mas," Bantah Safira terdengar serius.


"Tidak hanya itu yang ingin Saqila lakukan. Saqila ingin selain Umi dan Abi merasa kecewa kepadanya ia juga ingin Kak Annisa keluar dari rumah. Ini adalah tujuan sebenarnya yang Saqila inginkan." Safira sadar betul apa yang sebenarnya ingin Saqila dapatkan dari hari itu. Ia ingin membuat Umi dan Abi marah bahkan mengusir Annisa dari rumah itu.


Lagi-lagi Gio dibuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Ia sungguh tidak mengerti jalan pikiran Saqila yang begitu rumit dan kejam. Dari menghancurkan pernikahan Annisa sampai mendorong Annisa keluar dari rumah bahkan mendapatkan kebencian dari kedua orang tuanya, apa maksud dari motif semua ini?


"Kenapa, kenapa Saqila melakukan semua itu kepada Annisa?. Bukankah kalian adalah saudara tapi kenapa ia begitu kejam menyakiti Kakaknya?" Bagaimana pun juga mereka semua adalah saudara jadi mengapa hal sekejam ini dapat mereka lakukan kepada saudara mereka sendiri? Gio sungguh tidak mengerti hal ini.


Tersenyum tipis, Safira mengalihkan pandangannya ke arah luar. "Mas, bagaimana jika kita membicarakan hal ini di taman itu saja?" Ucap Safira menyarankan karena membicarakan hal sepenting ini begitu tidak wajar rasanya kalau harus berdiri.


Mengikuti petunjuk Safira, Gio langsung menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan. Lalu setelah itu mereka tanpa basa-basi lagi langsung berjalan ke arah taman rumah sakit yang untungnya sudah ada beberapa bangku santai untuk beristirahat.


Setelah duduk dengan jarak yang cukup jauh, Safira kemudian memfokuskan perhatiannya pada taman yang ada di depannya. Di sana beberapa pasien terlihat sedang jalan-jalan atau belajar berjalan bersama keluarga mereka tersayang. Oh, ini begitu membuat Safira iri dan cemburu.


"Apakah Mas mendengarkan rekaman yang aku kirimkan 3 minggu yang lalu?" Safira memulai pembicaraan lagi, perhatiannya masih fokus pada aktivitas yang ada di depannya.


Tertegun, Gio kembali diingatkan tentang rekaman suara yang yang Safira kirimkan 3 minggu yang lalu. Gio pikir itu adalah masalah yang tidak ada sangkut paut dengan dirinya karena saat mengirim rekaman tersebut Safira tidak mengatakan apa-apa.


"Rekaman itu masih ada di dalam laptop Mas dan sampai sekarang belum Mas apa-apakan." Jawab Gio jujur bahwa rekaman tersebut masih belum ia apa-apakan bahkan tidak pernah ada rasa penasaran sekalipun untuk mendengarkannya.


Menghela nafas, Safira tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar jawaban Gio. "Safira harap setelah ini Mas akan sempat meluangkan waktu untuk mendengarkan rekaman tersebut."


"Mas tadi bertanya bukan mengapa Kak Saqila melakukan semua itu kepada Kak Annisa. Padahal mereka berdua adalah saudara kandung tapi mengapa Saqila melakukan hal sekejam itu kepada saudaranya?" Gio diam mendengarkan dan hanya sikap diamnya yang menjadi respon terbaiknya.


Tersenyum kecil-ah, mungkin lebih tepatnya ini adalah sebuah senyuman miris yang sudah biasa terukir di wajah cantik Safira. "Itu karena Kak Annisa mendapatkan semua perhatian orang-orang di sekitarnya, yah itu awalnya. Mas Gio percaya atau tidak Kak Annisa adalah seseorang yang sangat di kagumi banyak orang di tempat ku. Tidak terkecuali keluarga kami, bagi mereka Annisa adalah gadis panutan yang tidak ada duanya. Melihat semua perhatian dan kasih sayang semua orang jatuh kepada Kak Annisa, Kak Saqila kemudian menjadi iri dan cemburu. Ia iri dan cemburu melihat betapa beruntungnya Kak Annisa, lalu iri dan cemburu ini membuat Kak Saqila menjadi ambisi untuk merebut semua itu. Dan yah seperti yang Mas Gio tahu hancurnya pernikahan Kak Annisa dan Mas Dimas adalah karena rencana Kak Saqila. Pernikahan hancur saja tidak cukup baginya lalu ia menghidupkan api orang-orang. Membangun rumor akan ketidak sufian Kakak ku sehingga semua orang melihat Kakak ku seperti monster, wajah cantik dan sikap yang baik tidak bisa menjamin isi hati seseorang." Mengusap sudut matanya, Safira selalu merasakan sakit ketika mengingat hari itu. Hari dimana harga diri Kakaknya hancur di mata semua orang. Apalagi saat itu ia tidak melakukan pembelaan kepada Kakaknya membuatnya merasa benar-benar buruk dan kejam. Yah, jauh dari dalam hatinya iya sangat membenci ketidak berdayaannya saat itu. Oleh karena itu untuk menebus semua yang Annisa rasakan ia bertekad untuk menghancurkan semua orang yang menyakiti Kakaknya, bahkan jika orang itu Saqila sekalipun.


"Seperti yang Mas Gio tahu, kehidupan Kak Annisa yang hancur tidak bisa membuatnya puas dan lega. Apalagi kedekatan Mas Gio dan Kak Annisa beberapa bulan yang lalu membuat Kak Saqila semakin marah dan cemburu. Ia cemburu karena Mas Gio begitu perduli dengan Kak Annisa tapi tidak dengan Saqila. Ia marah dan benci karena orang yang ia cintai dekat dengan Kak Annisa jadi karena tidak bisa menahan ambisinya kepada Mas Gio ia akhirnya membuat sandiwara lagi. Ia menyulut kemarahan Umi dan Abi dengan mengatakan bahwa Annisa telah diam-diam mendekati Mas Gio, calon suaminya. Yah, pada saat itu Umi dan Abi sangat marah bahkan sempat menampar Kak Annisa tapi semarah apapun mereka, Umi dan Abi tidak pernah sampai melontarkan kata-kata pengusiran kepada Kak Annisa."


"Jadi Annisa kabur sendiri dari rumah?"


Menggeleng pelan, "Kak Saqila yang melakukannya." Jawabnya penuh kebencian.


"Kak Saqila mengatakan segala sesuatu yang buruk tentang Kakak ku hari itu sehingga Kak Annisa pikir ia seharusnya tidak berada di sana maka jadilah ia pergi dan berakhir bertemu dengan Mas Gio." Ucap Safira mengakhiri penjelasannya seraya mengalihkan perhatiannya ke samping, menatap Gio yang saat ini sedang menunduk menatap bubur putih yang ada di atas pangkuannya. Safira yakin bubur itu pasti sudah mendingin karena mereka terlalu lama mengobrol.


"Jadi ini sebabnya Annisa menjaga jarak dari ku saat pertama kali datang ke sini. Bahkan waktu itu ia bersikeras ingin keluar dari pondok pesantren jika saja tidak ku ancam dengan mengirimnya kembali ke rumahnya." Gio langsung tercerahkan setelah mendengar penjelasan singkat dari Safira. Dulu saat melihat Annisa yang begitu kaku dan ketakutan kepadanya, Gio menjadi bingung dan bertanya-tanya alasan mengapa Annisa bersikap seperti itu kepadanya. Tapi setelah mendengar penjelasan Safira akhirnya ia menyadari jika Annisa melakukan itu karena ingin menjaga jarak darinya. Hei, pada saat itu Annisa berpikir jika ia adalah calon suami Saqila jadi wajar saja ia ingin menjauhi Gio.


Tersenyum samar, "Mas, dari sejauh yang ku amati selama ini ku pikir Mas Gio mengenal Kak Annisa sudah cukup lama. Apa aku benar Mas?" Safira bertanya santai tentang rasa penasaran pada sikap Gio yang terlihat sudah cukup lama mengenal Annisa.


Mendengar pertanyaan Safira, Gio tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyuman manis. Mengenang kembali pertemuannya di hari itu, ah bukan pertemuan tapi lebih tepatnya hanya Gio yang selalu memperhatikan Annisa.


"Yah, kau benar. Sesungguhnya aku sudah mengenal Annisa sejak aku tidak sengaja memperlihatkannya saat ia datang bersama mu dulu. Yah, jika tidak salah saat itu kau dan dia datang menggunakan taksi, ia mengantar mu sampai ke depan pondok bambu tempat kau belajar tilawah. Dan pada saat yang sama hari itu aku juga baru datang dan sempat berpapasan dengannya tapi kami tidak saling menyapa atau menegur yang memberikan ku sebuah kesan bahwa Annisa adalah gadis yang berbeda. Maka dari sanalah aku berusaha datang lebih dulu dari mu dan selalu berdiri di depan jendela pondok bambu untuk mengawasi kedatangan kalian. Terkadang ia datang bersama mu dan terkadang ia tidak datang mengantar mu." Tersenyum hangat, ingatannya tentang senyuman manis Annisa yang begitu ringan hari itu terus berputar di kepalanya.


"Awalnya aku ingin datang ke rumah mu untuk mempersunting Annisa bahkan cincin pernikahan sudah ku beli sejak jauh-jauh hari untuk mempersiapkan lamaran ku. Akan tetapi sayangnya saat itu aku kurang cepat dan kalah dari Dimas. Dimas datang melamar Annisa dan bahkan langsung di terima olehnya. Melihat semua itu membuat Mas begitu sakit hati sehingga Mas memutuskan untuk berhenti mengajar dan kembali ke pondok pesantren untuk menenangkan serta memulai lembaran baru lagi. Tapi Safira seperti yang kau lihat sekarang Allah ternyata tidak membuat ku patah semangat, Allah memberikan ku kesempatan untuk menebus penyesalan ku karena begitu lambat untuk datang memiliki Annisa. Sekarang Annisa sudah ada di sini dan tidak punya ikatan dengan siapapun lagi jadi aku bisa memiliki Annisa kali ini. Safira, tolong restui kami dan tolong yakinkan Annisa bahwa ia bisa bahagia bersama ku."


Melihat betapa tulusnya Gio, Safira kemudian menyunggingkan sebuah senyuman tulus yang tersirat akan kelegaan. "Mas Gio, tolong bahagiakan Kakak ku. Jangan membuat ia bersedih bahkan sampai menjatuhkan air mata karena sungguh aku tidak akan pernah memaafkan mu jika itu sampai terjadi."


"Safira, terimakasih dan yakinlah air mata yang akan mengalir di wajah Kakak mu adalah air mata penuh kebahagiaan."


"Mas Gio, sepertinya pembicaraan kita sampai di sini dulu karena aku ingin sekali bertemu dengan Kak Annisa. Satu bulan lebih tidak bertemu dengannya membuat ku sangat merindukannya jadi aku permisi dulu Mas Gio, assalamualaikum." Tersenyum puas, Safira pun melangkahkan kakinya menjauh dari tempat mereka duduk tadi. Hati yang begitu berat kini sudah meluap dan terasa ringan. Sebenarnya Safira sudah cukup yakin jika Gio mengenal Annisa sudah dari dulu bahkan ia juga sangat yakin jika gadis yang disukai Gio adalah Annisa. Yah, mulai dari buku dan sikap yang Gio berikan kepada Annisa adalah sebuah petunjuk yang penting bagi Safira. Sikap yang lembut dan penuh kehati-hatian itu tidak pernah Safira lihat Gio berikan kepada Saqila atau pun gadis lainnya. Sikap hangat itu hanya Safira lihat saat Gio bersama Ibunya dan bersama Annisa, jadi wajar saja Safira mengetahui hal itu karena Gio sendiri yang menunjukkannya.


Adapun Annisa yang menyukai Gio itu Safira ketahui saat mereka berkunjung ke toko buku. Saat itu meskipun pandangan Safira acuh tapi sebenarnya ia begitu memperhatikan sikap Annisa apalagi saat berada di depan Gio, Safira tahu bahwa saat itu Annisa begitu gugup dan gelisah. Jadi dari saat itu Safira pun tahu bahwa Annisa juga menyukai Gio.


Melihat punggung Safira menjauh dan menghilang setelah di telan gedung rumah sakit, Gio pun menghembuskan nafasnya lega. Beban yang terus membuatnya tegang akhirnya ia lepaskan juga.


Menundukkan kepalanya, Gio memperhatikan bubur yang ada di tangannya kini sudah tidak lagi hangat dan kurang cocok untuk dimakan orang sakit. Bahkan meskipun cocok sekalipun Gio tidak akan pernah memberikan Annisa bubur yang dingin seperti ini karena baginya kenyamanan Annisa adalah yang di utamakan.


"Annisa, jika kamu tahu bahwa saudara terkasih mu yang telah membuat hancur seperti ini apakah kamu akan membencinya?" Gio bergumam khawatir ketika mengingat percakapannya bersama Safira tadi. Annisa adalah gadis yang pemalu juga lembut, Gio takut Annisa akan bersedih ketika tahu bahwa di balik semua yang terjadi pada saat itu adalah Saqila. Gio juga tidak ragu menyimpulkan bahwa Annisa akan sangat mudah memaafkan Saqila tapi bagaimana jika konteksnya adalah semua kejahatan yang Saqila lakukan kepada Annisa benar-benar terungkap sepenuhnya, apakah kata maaf itu masih ada untuk Saqila?


                                      ***


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum, Umi?" Safira memberikan salam hangat yang sopan dan lembut ketika pintu kamar rawat inap Annisa di buka oleh seorang wanita paruh baya yang lembut dan cantik.


"Safira?, Waalaikumussalam. Ayo silakan masuk, Nak." Terkejut, Umi tidak pernah menyangka jika Safira akan langsung datang ke rumah sakit.


Mengangguk sopan, Safira membawa langkahnya masuk mengikuti instruksi Umi. Di dalam ia dapati Mira yang terlihat tidur di salah satu sofa di kamar rawat inap Annisa, ia terlihat kelelahan dan sedikit pucat di wajahnya. Cara tidurnya yang tidak biasa membuat Mira terkadang bergerak gelisah, bahkan wajahnya yang sedikit pucat mengkerutkan keningnya tidak nyaman.


Lalu pandangan Safira ia bawa pada sisi ranjang rumah sakit. Di sana perempuan yang selama ini ia coba lindungi sedang tertidur lelap, wajah pucatnya yang jelas dan selang infusnya yang terus mengalirkan cairan tidak bisa mengganggu tidur lelapnya.


Melihatnya seperti ini tidak bisa tidak membuat Safira menggeram marah. Hei, betapa berani orang yang ada di balik semua ini. Apakah rasa takut dan bersalahnya sudah mati tidak bersisa di dalam hatinya?


Tersenyum dingin, Safira benar-benar tidak sabar untuk memulai pesta ini. Yah pesta yang sesungguhnya dan itu akan di awali dari tempat ini.


"Umi, bagaimana dengan keadaan Kakak ku sekarang?" Safira bertanya dengan suara kecil, takut mengganggu tidur mereka berdua.


Umi kemudian bergerak mendekati tempat duduk Safira, lalu dengan gerakan alami ia duduk di samping Safira. "Alhamdulillah, Annisa sekarang baik-baik saja. Dokter bilang jika kita menunda sedikit saja waktu maka kemungkinan besar nyawa Annisa tidak bisa di selamatkan." Umi menjawab tanpa menutupi apapun, ia juga mengatakan apa yang dikatakan Dokter kepada mereka sehingga Safira dapat mengetahui jelas bagaimana keadaan Annisa saat ini.


Meremat tangannya kuat, Safira tidak bisa membayangkan jika nyawa Annisa tidak bisa di selamatkan. Karena jika itu terjadi orang yang paling pantas disalahkan di sini adalah dirinya sendiri. Karena dirinya, Annisa harus ikut dalam rencana Nanda.


"Syukurlah Annisa masih dalam lindungan Allah, Umi." Ucap Safira tulus. Jauh dari dalam hatinya Safira sangat bersyukur jika Allah masih mau memberikannya kesempatan untuk menebus semua yang terjadi kepada Annisa.


"Racun yang ada di dalam tubuh Annisa, apakah sudah di konfirmasi?" Tanyanya terdengar serius tanpa mengalihkan perhatiannya. Karena mata dan perhatiannya hanya tertuju pada Annisa yang masih tertidur lelap. Yah, ia tidak bisa menyembunyikan bahwa betapa ia merindukan Kakaknya yang malang.


Dari samping, Safira bisa mendengar Umi menghela nafas. Itu ia rasakan dari pipi kanannya yang terasa hangat sesaat bahkan ia juga bisa mendengar ada kelelahan di sana.


"Hasil tes darah Annisa masih belum keluar sehingga kita masih belum tahu racun apa yang ada di dalam tubuhnya. Kami sebenarnya juga mencurigai jika bahan makanan yang mereka pakai memasak bubur Naila sudah kadaluarsa sehingga mereka makanan tersebut menjadi beracun seperti ini." Mereka masih belum tahu hasil tes darah Annisa dan juga hal yang paling mungkin di sini adalah bahan yang mereka gunakan memasak ada yang kadaluwarsa sehingga membuat makanan tersebut beracun dan berbahaya.


Adapun masalah seseorang yang sengaja ingin meracuni Naila mereka masih meragukannya karena sejauh yang mereka lihat tidak ada orang yang pernah tersinggung karena Naila. Apalagi Naila adalah anak kecil jadi mengapa mereka bisa merasa dirugikan oleh seorang anak kecil?


"Hem, jadi bahan makanan itu kadaluarsa." Safira bergumam dingin menyiratkan rasa marahnya yang tersembunyi.


"Safira pikir Umi kelelahan karena menjaga Kak Annisa, sekarang lebih baik Umi dan Mira pulang saja untuk beristirahat. Masalah Annisa di sini biar aku saja yang jaga." Safira mengalihkan perhatiannya menatap Umi yang memang terlihat sedikit kelelahan.


Menggeleng pelan, "Nak, ini masih belum apa-apa jadi tidak masalah sama sekali Umi tinggal di sini lebih lama lagi." Tolak Umi masih ingin menjaga Annisa.


Melirik Mira yang terlihat pucat dan tidak nyaman, "Jangan seperti ini Umi, Safira tahu jika Umi merasa kelelahan karena sudah menjaga Kakak ku dari tadi siang. Dan juga aku lihat Safira terlihat tidak nyaman di sana, aku khawatir ia tidak enak badan karena terlalu kelelahan di sini. Wajahnya terlihat pucat dan tidurnya pun tidak cukup nyaman di sana jadi aku pikir Umi dan Mira harus kembali ke pondok pesantren untuk beristirahat dulu. Jika Umi masih keras kepala untuk tetap tinggal seharusnya Umi mempertimbangkan keadaan Mira yang kurang baik." Dengan hati-hati Safira membujuk Umi dan Mira untuk kembali ke pondok pesantren, ia tidak bermaksud lain dan hanya merasa khawatir karena wajah kelelahan Umi tidak bisa disembunyikan sekalipun ia menutupnya dengan sebuah senyuman hangatnya. Bahkan kondisi Mira juga terlihat tidak baik jadi ada baiknya Mira di bawa pulang saja.


Umi kemudian mengalihkan perhatiannya melihat Mira yang memang terlihat kurang baik. Menghela nafas, Umi menganggukkan kepalanya tanda menyetujui.

__ADS_1


"Kalau begitu besok Umi akan berkunjung ke sini lagi." Ucap Umi mengalah yang langsung di angguki cepat oleh Safira.


Bangun dari duduknya, Umi kemudian mendatangi Mira yang masih tertidur. Lalu dengan gerakan hati-hati ia mengguncang Mira agar terbangun dari tidurnya.


"Iya, Umi?" Tanya Mira dengan pandangan mengantuknya.


Tersenyum seperti biasa, "Ayo kita pulang, besok pagi kita bisa datang lagi ke sini." Jawab Umi seraya membantu Mira bangun dari posisi tidurnya.


Bingung, "Tapi Annisa yang jaga nant- Safira?" Mira menatap terkejut pada sosok Safira yang terlihat duduk santai di samping ranjang Annisa.


Safira tersenyum tipis dan mengangguk pelan sebagai sapaan.


"Sejak kapan kau ada di sini dan kenapa tidak membangunkan ku saat kau datang tadi?" Mira bertanya kesal karena Safira sama sekali tidak melihatnya. Setidaknya ia harus membangunkannya bukan untuk sekedar sapaan dia datang tapi Safira sama sekali tidak melakukan itu bahkan mengeluarkan suara saja ia begitu pelit.


Entahlah, Mira benar-benar bingung dibuatnya. Mengapa Annisa begitu pemalu dan lembut nan ramah sedangkan Safira begitu beku dan cuek?


Begini, bukankah mereka punya darah yang sama lalu mengapa sifat dan sikap mereka begitu berlawanan?


"Kau terlihat kelelahan jadi aku enggan untuk membangunkan." Jawab Safira jujur yang langsung membuat Mira menatap kosong.


Benar-benar irit bicara!


"Kita harus bicara besok!" Kesal Mira seraya membawa beberapa barang yang ada di atas meja ke dalam pelukannya.


"Hem." Respon Safira acuh seraya mencium tangan Umi yang pamit keluar.


"Astaga jangan sampai kau bersikap seperti ini saat bersama suami mu nanti." Gumam Mira kesal seraya pergi meninggalkan Safira sendiri di kamar rawat inap Annisa. Setelah melihat Umi dan Mira menutup pintu kamar rawat inap Annisa, ia kemudian mengalihkan perhatiannya menatap wajah pucat Annisa yang terbaring tidak berdaya di depannya.


Tidak ada perubahan yang luar biasa dari tubuh kurus Kakaknya, di depannya kini Annisa masih tetaplah sama seperti hari terakhir ia lihat di rumah.


Menundukkan kepalanya dengan gerakan kaku Safira meraih tangan kanan Safira yang tidak di aliri infus. Menyentuhnya, ada suhu hangat yang langsung menyambut kulit telapak tangannya. Ini terasa hangat, yah, sama seperti biasanya Annisa akan selalu sehangat ini.


Tok


Tok


Tok


Safira dengan enggan melepaskan tangan Kakaknya dari genggamannya. Ada suara langkah ringan yang memasuki ruangan tersebut, tidak hanya satu tapi ada beberapa orang yang Safira pikir.


"Permisi, apa ini dengan keluarga pasien?" Salah satu perawat cantik menyapa Safira dengan sopan dan ramah.


Bangun dari duduknya, Safira membawa pandangannya menatap dua perawat yang juga sedang menatapnya dengan senyuman. Di tangan mereka ada beberapa lembaran yang sepertinya adalah data pasien yang ia periksa.


"Benar, saya adalah keluarga dari pasien ini." Jawab Safira langsung yang kemudian di angguki puas kedua perawat tersebut.


"Dokter Anzo bilang ia ingin bertemu dengan keluarga pasien. Jadi karena keluarga pasien sudah ada di sini maka Anda bisa langsung berjalan ke ruangan Dokter Anzo." Ucap perawat tersebut kini mulai sibuk memeriksa infus Annisa. Bahkan salah satu dari mereka baru saja menyuntikkan cairan bening ke dalam cairan infus Annisa. Semua kegiatan dua perawat tersebut tidak bisa lepas dari perhatian Safira.


"Lalu dimana ruangannya?" Tanya Safira masih fokus memperhatikan kegiatan mereka berdua.


"Ruangan dokter Anzo ada di lorong bunga edelweis, di depan pintunya akan ada tertulis 'Dokter Bagian Umum.' " Jawab perawat itu cepat dan lugas.


Safira mengangguk tanpa ragu, melirik Annisa yang masih tertidur ia pun mengucapkan pamit kepada kedua perawat tersebut seraya membawa langkahnya keluar dari kamar rawat inap Annisa.


Berjalan sebentar tidak sulit bagi Safira untuk menemukan lorong tersebut. Melangkah pelan matanya tidak pernah meninggalkan pandangannya pada ruangan-ruangan dengan nama-nama berbeda. Sepertinya lorong ini khusus untuk para dokter yang bekerja di sini.


"Dokter bagian umum." Gumam Safira membaca plat yang ada di atas pintu.


Tok


Tok


Tok


"Keluarga dari Annisa?" Tanya Dokter paruh baya orang yang pertama kali Safira lihat ketika membuka pintu ruangan ini.


Mengangguk sopan Safira tidak ragu lagi membawa kakinya masuk dan duduk di kursi depan meja dokter tersebut.


"Dokter," Panggil Safira terdengar serius.


"Ya?" Dokter tersebut mengangkat kepalanya dan kembali menatap Safira yang sudah terduduk patuh di depannya.


"Apakah Kakak ku keracunan karena makanan kadaluarsa?" Safira langsung masuk ke topik permasalahan mereka.


Dokter tersenyum ramah, lalu menggelengkan kepalanya dengan yakin. "Pasien memang keracunan tapi ini bukan karena bahan makanan tersebut kadaluarsa. Ini bisa kami lihat dari laporan hasil tes darah Annisa yang menunjukkan ada racun yang sengaja di tumpahkan ke dalam makanan yang ia konsumsi terakhir kali." Memasang kacamatanya, dokter tersebut membuka map biru yang menunjukkan laporan hasil tes darah Annisa yang menggunakan bahasa yang cukup sulit di mengerti Safira lantaran laporan tersebut menggunakan bahasa yang aneh. Maka jalan satu-satunya adalah tetap diam mendengarkan dokter tersebut.


"Dari hasil tes darahnya kami temukan ada kandungan racun Nate yang hampir tersebar ke segala tubuhnya. Racun ini setahu kami para medis digunakan untuk membunuh hama atau serangga pada tanaman di daerah pertanian. Bahkan keberadaan racun ini tidak bisa sembarangan ada kecuali untuk orang-orang yang suka bertani atau berkebun bukan tidak mungkin mereka mempunyainya." Jelas dokter tersebut seraya melepaskan kacamata yang sempat ia gunakan tadi.


Mendengar penjelasan dokter, Safira tidak bisa menahan senyuman dinginnya.


Racun?


"Jika kita lihat situasinya lebih dalam sesungguhnya Annisa cukup beruntung bisa tepat waktu sampai ke sini karena jika terlambat kami tidak bisa menjamin keselamatan nyawanya. Racun yang dikonsumsi Annisa adalah jenis racun berat yang termasuk dalam mematikan. Bahkan jika racun ini tidak sengaja dikonsumsi oleh anak kecil saya pikir tidak butuh waktu lama untuk membuat anak tersebut meregang nyawa."


Safira mengangguk mengerti dan terlihat cukup tenang dengan penjelasan dokter. Berbeda dengan permukaan, hatinya kini sudah berdegup kencang menahan sakit. Bayangan hitam itu begitu sulit ia singkirkan.


Ia tidak akan sanggup jika Annisa benar-benar pergi meninggalkan mereka semua.


Menutup pintu kamar ruangan dokter tersebut, Safira mengingat dengan baik jika dokter bilang bahwa Annisa beberapa hari lagi bisa dibawa pulang karena kondisinya sekarang sudah membaik dan hanya perlu memulihkan diri di sini untuk beberapa hari lagi.


                                       ***


Dengan gerakan hati-hati Safira mendorong pintu kamar Annisa agar tidak menggangu istirahat Annisa. Menutupnya, ia kemudian dengan langkah hati-hati pula mendudukkan dirinya di kursi yang terakhir ia tinggalkan.


Ting-


Suara notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatiannya. Meraihnya ia langsung membuka pesan tersebut yang berasal dari Saqila.


Begitu tahu itu darinya, ia kemudian tidak ragu untuk mematikan handphonenya dan dengan kejam memasukkannya ke dalam tas-


"Sa-safira?


Gerakan tangan Safira berhenti, kemudian dengan kaku ia mengangkat wajahnya untuk melihat wajah pucat Annisa yang kini sedang menatapnya terkejut. Bahkan kedua matanya yang terlihat sayu mengeluarkan sebuah cairan bening nan hangat yang begitu mengiris hati Safira.


Mengapa Kakaknya terlihat begitu menyedihkan.


"Jangan menangis lagi, di sini...aku akan selalu di sini bersama Kakak." Ia dengan hati-hati membawa tangannya untuk mengusap lembut air mata Annisa.


Annisa masih dalam keadaan terkejut dan tanpa sadar tangan kanannya terangkat untuk menyentuh tangan lembut Safira yang menjadi bagaikan mimpi untuknya.


"Jangan..benci Kakak.." Suaranya terdengar berbisik.


Safira tertegun, sejenak ia tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya bisa menatap wajah kesakitan Kakaknya.


"Ma-maafkan Safira.." Hanya ini satu-satunya kata yang ingin Safira katakan untuk saat ini. Ini adalah suara hatinya yang paling dalam.


"Safira janji gak akan meninggalkan Kakak lagi, okay.. sekarang Kakak bisa beristirahat dengan tenang bersama ku." Ia meremat tangan bergetar Annisa dengan kehangatan dan dengan hati-hati.


"Safira.. apakah kamu masih marah dengan ku? Jangan benci Kakak Safira..Kakak janji-"


"Aku tidak pernah membenci mu dan berhentilah mengatakan hal itu karena setiap kali aku mendengarnya aku akan berpikir jika aku adalah manusia terjahat di dunia ini. Jangan katakan itu lagi karena aku tidak pernah membenci mu..aku tidak pernah marah kepada mu." Potongnya kesal. Ia kesal dengan kerendahan hati Kakaknya yang menyiratkan bahwa selama ini Annisa selalu dibebani dengan pikiran ini.

__ADS_1


"Safira.. hiks.." Annisa terisak sesak, entah mengapa dadanya terasa begitu menyakitkan saat ini. Orang yang ada di depannya adalah saudaranya yang tersayang jadi bagaimana bisa ia mengatakannya...yah, ia sangat merindukan orang ini.


"Berhentilah menangis, jangan seperti ini lagi.. karena mulai dari sekarang aku akan selalu bersama Kakak." Safira mencoba menghibur Annisa yang kini bertingkah seperti anak kecil.


"Assalamualaikum?" Tiba-tiba suara Gio menginterupsi percakapan mereka. Mendengar suara yang cukup tidak asing, Annisa langsung mengusap wajahnya dengan tangan kanannya yang bebas. Ia membersihkan air mata yang sempat mengalir dari sudut matanya dengan gerakan tergesa-gesa.


"Waalaikumussalam, Mas Gio." Safira menjawab salam Gio dengan sopan.


Mendapatkan respon Gio akhirnya membawa langkahnya masuk mendekati ranjang Annisa. Akan tetapi kali ini ia tidak sendirian karena ada seorang gadis cantik yang seumuran dengan Annisa di belakangnya.


"Alhamdulillah Annisa sekarang sudah bangun. Jadi apa yang kamu rasakan sekarang? Apakah badan mu masih terasa tidak nyaman atau bagaimana?" Tanya Gi hati-hati seraya meletakkan bawaannya di atas meja samping ranjang Annisa.


Tersenyum malu, Annisa menggelengkan kepalanya pelan. "Alhamdulillah Mas, tidak ada yang terasa tidak nyaman. Hanya saja badan Annisa masih terasa sedikit lemas jadi lebih enak berbaring seperti ini." Annisa menggenggam erat tangan Safira yang kini sudah berada dalam genggamannya. Entah sejak kapan Annisa menggenggam tangannya Safira tidak begitu perduli karena hal terpenting yang rasakan sekarang adalah bahwa Annisa merasa nyaman berada di sampingnya.


"Annisa, aku minta maaf karena baru datang sekarang. Keterlambatan ku datang ke sini juga karena Mas Gio yang baru saja pulang sekarang. Jadi, setelah menunggu Mas Gio istirahat kami akhirnya bisa datang ke sini membawakan mu bubur hangat dan beberapa makanan yang sangat baik kau untuk tubuh mu." Reina berjalan mendekati Annisa dengan ekspresi penyesalannya yang terlihat jelas. Bahkan sikapnya yang penuh kehati-hatian membuat orang akan berpikir bahwa gadis ini begitu baik.


Namun sayang, ekspresi penyesalan dan sikap kehati-hatian ini tidak bisa sampai ke mata Safira. Dalam sekali lihat ia bisa tahu bahwa gadis yang ada di depannya ini hanya berpura-pura saja. Betapa naifnya!


"Ah..lalu siapakah ini, aku baru datang jadi aku tidak mengenalnya. Mungkinkah ini adalah calon istri Mas Gio yang santer dibicarakan orang-orang pondok?" Safira bertanya bingung, menatap penasaran pada gadis cantik yang ada di depannya ini.


"Astaga, aku lupa mengenalkan kalian berdua. Safira kenalkan ini adalah Reina, salah satu tamu yang tinggal untuk sementara waktu di pondok pesantren dan Reina kenalkan ini adalah Safira, adik Annisa yang baru datang dari kota." Gio tertawa kecil setelah mengenalkan mereka berdua. Ia bahkan tidak memperhatikan ekspresi gadis yang ada di sebelahnya.


Melirik Annisa yang terlihat gugup, Safira kemudian menampilkan senyuman hangatnya yang langka. "Oh, apakah ini hanya tamu biasa atau sebenarnya Kakak Reina yang cantik ini adalah calon istri Mas Gio?" Safira mengejar jawaban Gio yang masih belum dikatakan dengan jelas. Bahkan ia begitu menikmati perubahan ekspresi Reina yang kini menjadi tidak nyaman dan kaku.


Menggeleng cepat, Gio mengalihkan perhatiannya pada Annisa yang terlihat sedikit gugup. "Tidak seperti itu Safira, Reina adalah tamu kami di pondok pesantren. Adapun calon istri Mas itu sudah ada di depan mata jadi Mas tidak perlu mencari perempuan yang lain." Ada senyuman samar ketika ia mengatakan hal ini.


Mendengar jawaban Gio yang terkesan ambigu bagi Annisa, tiba-tiba wajahnya terasa panas dan hatinya mulai berdebar kencang. Memberikan sebuah perasaan yang manis dan hangat ke dalam tubuhnya. Merasa malu, Annisa semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Safira seraya mengalihkan pandangannya dari Gio. Annisa benar-benar tidak kuat sedekat ini dengan Gio karena bibirnya pasti selalu ingin tersenyum kegirangan.


Melihat interaksi intim Annisa dan Gio tentu saja Safira menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari mereka. Ini malah membuatnya semakin senang karena Annisa akhirnya bisa merasakan kebahagiaan.


"Oh, hanya tamu biasa rupanya." Gumam Safira pelan tapi tetap saja bisa di dengar oleh Reina yang masih berdiri kaku di samping Gio.


"Tapi mengapa orang-orang pondok mengatakan bahwa Kak Reina adalah calon istri Mas Gio?"


Mengerutkan keningnya bingung, Gio tidak tahu mengapa hal itu bisa tersebar di pondok pesantren. "Mas juga tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi, yah selama itu tidak benar Mas tidak akan perduli. Lagi pula cepat atau lambat mereka juga akan tahu siapa perempuan yang akan menemani sisa hidup Mas." Ya, cepat atau lambat mereka akan tahu karena setelah menikahi Annisa, ia akan membawanya untuk tinggal di pondok pesantren. Menggantikan Abinya sebagai pengurus pondok pesantren selanjutnya lalu ia dan Annisa akan melahirkan dan membesarkan putra-putri yang hebat dan luar biasa untuk menggantikannya sebagai pengurus pondok pesantren selanjutnya. Ah, setiap memikirkan hal ini Gio selalu tidak bisa menahan senyuman kebahagiaannya.


"Hah aku akan menunggu hari itu tiba, bukankah seperti itu Kak Reina?"


"I-iya, tentu saja." Jawab Reina menahan marah. Tangan gemetarnya yang sudah mengepal kuat ingin sekali rasanya ia layangkan pada gadis ini. Adik apanya!


Menikmati kemarahan Reina, Safira kemudian melepaskan genggaman tangan Annisa darinya. Terlihat enggan, Safira hanya memberikan sebuah senyuman pengertian kepada Annisa yang menatapnya dengan pandangan cemberut. "Oh, Kak Reina duduk di sini saja bersama ku," Safira menunjuk sofa yang kosong tidak berpenghuni di kamar ini.


"Karena sudah lama tidak datang ke sini aku jadi melupakan beberapa hal yang penting. Nah, karena Kakak sudah lumayan lama menjadi tamu maka ceritakan lah aku beberapa pengalaman Kakak yang paling berkesan!" Safira tertawa kecil dan mendekati Reina dengan sikap sok akrabnya. Ini seakan-akan mereka adalah kerabat dekat yang sudah lama tidak berjumpa.


"Bukankah kamu bisa bertanya kepada Kakak mu?" Reina mempertahankan posisinya dengan keras kepala, ia tidak ingin menjauh dari Gio!


Menggeleng pelan, "Safira juga maunya gitu tapi coba Kakak lihat Kakak ku, bukankah ia dalam keadaan yang kurang baik untuk banyak berbicara?" Safira melirik Annisa yang juga memandangnya cemberut, ah sifat anak kecil Kakaknya muncul lagi!


Jika tidak dalam keadaan misi mungkin ia sudah membawa Kakaknya pulang!


Menghela nafas sabar, Reina kemudian menganggukkan kepalanya seraya mengikuti langkah Safira ke sofa yang ada di dalam kamar ini.


"Hah..nyaman sekali rasanya di sini." Gumamnya puas sambil membawa pandangannya melihat Annisa dan Gio yang terlihat canggung ditinggal berdua!


Ha!


Setidaknya ia harus memastikan keselamatan hati Kakaknya di sini!


Reina menatap dingin ekspresi kegirangan Safira ketika melihat Gio dan Annisa tinggal berdua di sana. Melihatnya seperti ini membuat Reina tidak bisa tidak meragukan Safira menjadi adik Annisa. Ini sungguh tidak masuk akal bagaimana bisa mereka berdua menjadi saudara namun punya sifat yang jauh berbeda, Reina tidak bisa mempercayai ini!


Memutar otaknya, Reina mencoba mencari cara untuk masuk ke dalam suasana canggung Annisa dan Gio.


"Mas Gio, mungkin sudah waktunya Annisa makan malam jadi bagaimana jika aku membantu Annisa untuk menyuapinya?" Saran Reina lembut seraya mencoba bangun dari duduknya namun sebelum ia bisa tersenyum lega Safira sudah lebih dulu bertindak. Ia menarik Reina agar kembali ke tempat duduknya semula.


"Sudah, Mas Gio bisa kok Kak kalau sekedar menyuapi Kak Annisa makan. Kakak gak usah repot-repot dan cukup temani Safira saja bercerita." Sanggah Safira tidak setuju.


"Tidak..aku tidak lapar. Rasanya sedikit tidak nyaman jika makanan masuk ke dalam mulut ku." Tolak Annisa tidak ingin menimbulkan keributan lagi.


"Tidak perlu banyak, hanya beberapa sendok saja tidak apa-apakan?" Tanya Gio khawatir seraya membawa mangkuk kecil ke hadapannya. Di sana ada bubur yang masih hangat dan terlihat membangkitkan selera untuk dilahap.


"Tapi itu sungguh tidak nyaman Mas." Keluh Annisa sambil mengangkat tangannya untuk menutupi mulutnya.


"Ini adalah masakan Umi ku Annisa, apakah kau benar-benar tidak-"


"Aku makan...tapi hanya 3 suap saja." Potong Annisa memaksakan dirinya. Jika bukan karena ini adalah masakan Umi mungkin Annisa tidak akan memakannya karena sungguh mulutnya benar-benar tidak terasa nyaman.


"Alhamdulillah." Gumam Gio senang. Bagaimana tidak merasa senang jika Annisa menganggap penting posisi Ibunya.


Melihat interaksi manis mereka, Reina ingin sekali rasanya menggantikan posisi Annisa saat ini. Jika wanita yang berbaring di sana adalah dia lalu apakah mungkin Gio juga akan bersikap selembut itu kepadanya?


Reina harap itu lebih dari ini karena biar bagaimanapun dilihat dari posisi manapun Reina adalah gadis yang lebih unggul dan sempurna di mata semua orang. Bahkan ia pun masih lajang dan tidak menjanda seperti Annisa yang tidak suci lagi. Jadi kesimpulannya Reina lebih tinggi posisinya daripada Annisa yang sudah cacat di mata semua orang.


Tersenyum samar, Safira sedari tadi mengabaikan interaksi intim antara Gio dan Annisa. Ia lebih fokus memperhatikan perubahan ekspresi Reina yang ada di sampingnya. Persis, ini persis saat Saqila merasa dirugikan olehnya ketika Annisa masih di rumah dulu. Jadi menghadapi Reina bukanlah tantangan besar untuknya karena jika dilihat dari sisi manapun Reina dan Saqila punya sifat yang sama.


Hah.. begitu naif dan Safira benci dengan orang yang seperti ini.


Puas dengan ekspresi tidak nyaman Reina, Safira kemudian mengubah topik pembicaraan yang lebih serius lagi. "Mas Gio, aku baru mengingatnya sekarang. Bukankah di pondok pesantren ada tanah kosong yang digunakan untuk menanam beberapa tanaman. Apakah itu masih ada sampai sekarang?" Tanya Safira ingin tahu tapi ini hanya topeng saja karena sebenarnya ia sudah tahu jika tempat itu masih digunakan untuk menanam yang setiap panen mereka akan melakukan acara panen masal dan hasilnya akan dimakan bersama.


Memberikan Annisa tisu untuk digunakan mengusap wajahnya, Gio terlihat menikmati pekerjaannya. "Masih digunakan untuk menanam beberapa sayuran, jika kau ingin melihatnya pulang saja besok ke pondok pesantren." Jawab Gio tenang seraya menyuapi Annisa satu sendok lagi.


Mengangkat alisnya, ada senyum samar yang muncul di wajahnya. "Kalau begitu Mas Gio tahu dong beberapa racun hama dan serangga yang digunakan untuk membasmi hama dan serangga yang menyerang tanaman di pondok pesantren?"


Masih fokus pada kegiatannya, "Kami hanya menggunakan satu racun untuk beberapa tanaman yang bermasalah. Racun yang kami gunakan adalah racun nate. Racun sangat ampuh untuk membunuh hama dan serangga sehingga membuat kami begitu betah untuk menggunakannya." Jawab Gio menjawab pertanyaan Safira yang ia pikir sebenarnya sedikit jauh dari topik mereka. Mengapa Safira menanyakan hal ini?


Apakah ia berniat menanam tanaman sayuran di rumah atau tanaman sayuran yang ada di rumahnya di ganggu hama dan serangga sehingga ia ingin tahu racun yang paling ampuh membasmi mereka?


Berbeda dengan Gio yang sedikit kebingungan, Reina justru saat ini mulai merasakan dingin di punggungnya. Berbicara tentang racun bukankah racun yang diberikan Umi waktu itu adalah racun nate?


Umi bilang racun ini sangat ampuh untuk membasmi serangga tanaman jagung yang kadang masuk ke kamarnya jadi ia akhirnya mengambil racun tersebut. Akan tetapi semua itu tidak berjalan dengan baik karena saat itu Reina kesal dan cemburu pada Annisa yang begitu mudah mendapatkan perhatian Gio dan Abinya. Merasa marah ia tidak pernah memikirkan dampak buruk yang akan ia terima karena satu-satunya yang berputar dalam pikirannya adalah Annisa hancur dan Gio berpaling kepadanya. Akan tetapi yang ia dapatkan sekarang justru berbeda, bukannya dibenci Annisa malah mendapatkan semua perhatian dari semua orang. Bahkan Gio sampai rela menyuapinya seperti ini hanya karena Annisa keracunan.


Hah, jika ia tahu hasilnya akan seperti ini lebih baik bubur itu ia saja yang makan!


"Oh, racun nate yah. Kak Reina, apakah Kakak pernah melihat racun ini sebelumnya?" Sekarang Safira mengalihkan objek lawan bicaranya pada orang yang ada di sampingnya.


"Ya-tidak!" Gugup, Reina berusaha menetralkan suaranya setenang mungkin.


"Apakah ya atau tidak?" Tanya Safira terlihat kebingungan.


Menggelengkan kepalanya pelan, "Aku belum pernah melihatnya secara langsung akan tetapi aku sudah pernah melihatnya di internet dulu." Jelas Safira berbohong. Racun itu bukan hanya pernah ia lihat secara langsung akan tetapi ia juga masih menyimpannya di dalam kamar!


Ia tidak bisa menggunakan atau membuangnya karena takut meninggalkan kecurigaan. Dan hal terbaik yang bisa ia lakukan sekarang adalah menyimpannya terlebih dahulu ke tempat yang lebih aman, ya dimana lagi kalau bukan di dalam kamarnya tentu saja.


"Oo..aku kira Kak Reina pernah melihatnya atau bahkan menggunakannya, sayang sekali." Gumam Safira pada dirinya sendiri namun tetap saja masih bisa di dengar oleh Reina.


Mengernyit bingung, Reina merasa jika Safira bukanlah orang biasa. Karena setiap ucapan yang keluar dari mulutnya seakan punya maksud tersembunyi yang dalam.


Reina akui bahwa Safira sedikit mencurigakan.


*Apakah orang yang dimaksud Nanda adalah Safira? Hah, gadis tengil ini ingin memberikan ku pelajaran?. Apa-apaan!


Yah jika dia adalah orangnya maka aku tidak akan ragu menghancurkannya seperti apa yang terjadi pada Kakaknya. Bukankah sangat menyenangkan jika dua bersaudara hancur ditangan yang sama*?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2