Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Garam dalam Sup


__ADS_3

Bunga mengajar seperti biasanya, profesinya sebagai dosen masih ia jalankan. sekarang dirinya sangat jarang memakai mobil, karena setiap harinya Rayhan akan datang menjemputnya. tidak ada yang tahu jika dirinya kini memiliki kekasih, bahkan yang disebut sebagai kekasih itu akan menjadi suaminya. malam tahun baru akan segera datang, bersamaan dengan itu pertunangan antara Bunga dan Rayhan juga akan dilaksanakan. keluarga Bunga sangat senang karena putri mereka akan mengadakan acara penting, setelah bertahun lamanya Bunga hidup sendiri dan tidak menerima siapapun.


Bunga ditemani Mira di sebuah butik, disana mereka mencari gaun yang akan digunakan untuk malam pesta pertunangan Bunga. sebenarnya Bunga merasa canggung jika bersama Mira, karena gadis itu istri Reyvan tapi mau bagaimana wanita itu adalah adik ipar Rayhan dan akan menjadi adiknya juga. sebelum mereka dibutik, Mira mengajak Bunga ke sebuah pusat perbelanjaan besar di kota itu. membuat Bunga sedikit nyaman dengan Mira yang baik dan juga lembut padanya, bahkan Mira mudah akrab pada seseorang yang belum lama dikenal olehnya.


"kakak ipar sepertinya gaun ini cocok untukmu, cobalah! " ucap Mira, Bunga menerima setiap pakaian yang dipilihkaan oleh Mira.


"ini sudah ke delapan aku mencoba, tolong cari yang benar benar pas untukku! " ucap Bunga yang lelah, Mira tertawa dengan itu.


"aku bingung, semuanya cocok denganmu! " saut Mira, keduanya saling tertawa karena pernyataan itu. tapi pandangan Bunga melihat sebuah gaun cantik berwarna biru, ia memutari gaun itu yang terlihat berkilap. "wah ini cantik, mau kau coba? " ucap Mira, Bunga menoleh dan ia sedikit ragu untuk memberi jawaban.


"ini adalah edisi terbaru kami, jika mau silahkan dicoba terlebih dahulu! " ucap seorang pelayan disana, Mira langsung mengangguk dan mendorong Bunga masuk ke ruang ganti. sembari menunggu Bunga, Mira menelfon Rayhan untuk memberi kabar gadis itu. seperti biasa Rayhan tidak akan menjawab panggilannya, pada akhirnya Mira pun menghubungi Reyvan untuk disambungkan dengan sang kakak.


"halo Reyvan katakan pada Rayhan, cepat datang ke butik seberang kota. Kak Bunga mencoba gaun pertunangannya, Rayhan pasti suka! " ucap Mira, hanya dijawab dengan kata iya kemudian panggilan berakhir. Mira tersenyum kemudian menunggu Bunga, gadis itu masih mengukur tubuhnya dan juga mencoba pakaiannya.


Bunga yang mencoba gaun biru itu, membuatnya kagum karena dirinya sangat cantik di hadapan cermin. tidak seperti dirinya, kali ini gaun itu mempercantik tubuh dan wajahnya. Bunga pun merasa senang, ia tidak sabar memberitahu Mira untuk memilih gaun itu. ia juga sudah lelah, memilih beberapa gaun yang tidak ditemukan Mira. Bunga keluar dari ruang ganti, ia mencari Mira dengan gaun cantik melekat ditubuhnya. Bunga heran tidak melihat Bunga, memang waktunya mengganti pakaian itu sangat lama karena memang gaunnya susah untuk dilepas sebelumnya. tubuh Bunga yang kecil membuatnya kesusahan berjalan jika tidak memakai sepatu hak tinggi, ia mengakat gaunnya untuk mengambil ponselnya diatas.


kaki kecilnya itu menginjak sebuah keset, dan hampir saja membuatnya terjatuh ke lantai jika tidak ada yang memegangnya. Bunga menghela nafasnya, tubuhnya menggantung karena seseorang menepong tubuhnya. Bunga mendelik menatap orang itu, pasalnya ia tidak menyangka Reyvan ada disana dan menopang tubuhnya yang akan jatuh. Bunga mencengkram lengan Reyvan, gadis itu seperti menahan sesuatu sampai ia memaksa Reyvan melepaskan tubuhnya. Rayhan datang secara bersamaan, menahan tubuh Bunga yang akan terhuyung kebelakang.


"kamu baik baik saja? " ucap Rayhan, Bunga menoleh dan terkejut lagi. kemudian ia melihat Mira, gadis itu tersenyum dan mengalungkan tangannya pada lengan Reyvan.


"kamu pasti mencariku, aku meminta Rayhan untuk datang kesini. tentu dia harus meluangkan waktu untukmu, dia harus melihat gaun yang akan kau pilih! " ucap Mira tersenyum, Bunga mendirikan tubuhnya dengan benar kemudian melihat kearah Rayhan. ia tidak tahu Rayhan menatap dirinya, menatap gaun yang ia pakai juga membuat Bunga merasa malu. ia pun pergi dengan langkah kecilnya, Rayhan menahan senyumnya kemudian menatap Bunga sampai hilang dibalik pintu ruang ganti. disana Mira tertawa kecil, ia melihat kearah Reyvan yang tersenyum padanya.

__ADS_1


pada akhirnya mereka berempat pun jalan berdampingan, Bunga menggenggam tangan Rayhan yang juga menggenggamnya. untuk pertama kalinya mereka berjalan berdua, Bunga senang Rayhan meluangkan waktunya untuk dirinya. meskipun hatinya sedari tadi gelisah, ia tetap memasang senyuman kearah Rayhan dan juga Mira. matanya tidak melihat kearah Reyvan, ia berusaha menganggap Reyvan tidak ada disana.


"apa yang ingin kau pesan? " tanya Rayhan, Bunga melihat lihat kemudian mengatakan pilihannya. Rayhan yang malas memilih menu yang sama dengan Bunga, hal itu membuat Bunga tersenyum dan mengangguk.


"sepertinya Rayhan hanya menyukai makananmu sekarang, padahal ia tidak suka memakan sayur! " ucap Mira, Bunga pun menoleh dan Rayhan menatapnya.


"tentu saja, lidahku sudah cocok dengan masakannya! " ucap Rayhan, Bunga tersenyum dengan itu. kalau diingat ingat Bunga selalu memasak sayuran untuk Rayhan, dan pria itu tidak pernah menolak selalu saja masakannya habis tanpa tersisa. Reyvan melihat interaksi keduanya, entah kenapa Reyvan merasa kesal melihat Bunga yang menatap kakaknya seperti dulu menatapnya. tentu saja tatapan cinta, dan kini Bunga hanya menatapnya dengan kebencian yang dalam. mereka saling mengobrol satu sama lain, menyimpan banyak rahasia yang tidak bisa mereka ucapkan.


...****************...


Bunga termenung didepan kompor, melihat masakannya yang hampir saja matang. ia teringat dengan perkataan Rayhan, menyukai masakannya apapun rasa dan bentuknya. Bunga memasukkan sup kedalam mangkok kecil, ia sisihkan khusus untuk Rayhan. dan ia pun memasukkan garam satu sendok penuh, sempat mendelik saat ia mencicipi sup itu. ia membasuh lidahnya dengan air, kemudian tertawa kecil karena dirinya yang konyol ingin meracuni Rayhan. Bunga pun mengurungkan niatnya, secara bersamaan Reyvan berdiri disana dan Bunga membuang pandangannya kearah lain. Reyvan melihat tidak ada orang disana, ini kesempatannya untuk bicara dengan Bunga.


"aku ingin bicara, apakah bisa? " ucap Reyvan memberanikan diri, Bunga pun acuh ia menyibukkan diri dan Reyvan pun tetap menatap Bunga sampai gadis itu menghentikan kegiatannya.


"aku sangat ingin mengatakan ini padamu, aku mohon dengarkan aku. aku ingin meminta maaf padamu, mohon maaf yang sebesar besarnya! " ucap Reyvan, Bunga yang mendegar itu melepas tangan Reyvan dengan kasar.


"dengan kata maafmu itu, tidak akan mengubah semuanya. tidak akan bisa mengembalikan air mataku yang sudah kubuang, semuanya tidak akan kembali seperti yang kuinginkan. ingat itu baik baik, jangan pernah bicara denganku lagi karena aku sudah sangat membencimu! " ucap Bunga kemudian berlari dari sana, Reyvan hanya terdiam melihat kepergian Bunga. pria itu tidak menyerah, ia ingin mengatakan sebab kenapa dirinya tidak hadir dalam pernikahan saat itu.


Bunga melihat Rayhan duduk di meja makan, bahkan sup sebelumnya sudah dihidangkan oleh pelayan. Rayhan tersenyum melihat Bunga, gadis itu berjalan cepat kearah Rayhan dan mengambil mangkuk berisi sup ayam yang asin itu. Rayhan yang melihat itu menahan Bunga, membuat keduanya saling melihat dan Bunga menggelengkan kepalanya.


"kenapa kau mengambil mangkuk ku, mengapa? " tanya Rayhan, Bunga menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"jangan makan ini, bukan untukmu! " ucap Bunga, Rayhan penasaran dengan itu. ia mengambil mangkuk dari tangan Bunga, gadis itu terus memohon agar Rayhan tidak menyentuh sup itu. tetapi Rayhan sudah memasukkan satu sendok kedalam mulutnya, dan benar saja wajah Rayhan langsung berubah dan menatap Bunga. "aku sudah bilang jangan makan ini, aku tadi memasukkan garam terlalu banyak! " ucap Bunga menyingkirkan mangkuk itu, ia memberikan air dalam gelas pada Rayhan. pria itu berdiri dan berjalan kearah wastafel, Bunga mengikuti langkah Rayhan dan tidak lupa membuang sup sebelumnya.


"kamu mau meracuniku? " ucap Rayhan, Bunga menggelengkan kepalanya dan mengusap mulut Rayhan yang basah dengan air.


"tidak... tadi itu aku kepikiran sesuatu! "


"katakan! " tegas Rayhan, Bunga memainkan ujung kain bajunya membuat Rayhan semakin penasaran. Rayhan mengangkat tubuh kecil Bunga keatas wastafel, Bunga reflek merangkul pundak Rayhan dan mereka berdua saling menatap satu sama lain. "apa yang kau pikirkan hm.. sampai memasukkan garam begitu banyak, padahal itu satu mangkuk? " ucap Rayhan lagi, Bunga memasang wajah melas dan menutup mulutnya.


"kau bilang suka dengan semua masakanku apapun rasanya, karena itu aku memasukkan banyak garam disana. dan kupikir itu terlalu banyak, aku sudah cicipi dan reaksi ku sama sepertimu! " ucap Bunga terbata bata, meskipun mulutnya ditutup suara gadis itu masih didengar Rayhan. "maafkan aku Rayhan, aku bersalah. aku tidak tahu pelayan itu membawa mangkuk supnya, dan aku telat mencegahnya! " ucap Bunga lagi, Rayhan memegang bibirnya sendiri karena merasa asin.


"rasanya masih membekas disini, bagaimana aku menghilangkannya! " ucap Rayhan, Bunga mengusap bibir itu kemudian menatap Rayhan yang sedari tadi menatapnya. Bunga mendorong Rayhan dengan spontan, tapi bukannya menjauh Rayhan menarik tubuh Bunga dan mereka pun sangat dekat.


"ada yang melihat nanti, ayo turunkan aku dan antar aku pulang ini sudah malam! " ucap Bunga, Rayhan pun tersenyum kemudian mengangguk.


"iyaa, ayo turun dulu! " saat akan menggendong gadis itu, Bunga malah mengecup pipi Rayhan dengan cepat. membuat Rayhan terkejut dan mengurungkan niatnya, Bunga menutup mulutnya dan memeluk Rayhan.


"jangan melihatku seperti itu, jantungku akan lepas nanti!" ucap Bunga menyembunyikan wajahnya, Rayhan tertawa kemudian membawa wajah Bunga menatapnya.


"apa itu tadi, sebuah keberanian? " ucap Rayhan, Bunga mengigit bibir bawahnya sambil mengangguk. wajahnya sangat merah karena menahan malu, Rayhan mendekatkan wajahnya sampai hidung keduanya saling menempel. Bunga memejamkan matanya, tangan mencengkram erat lengan Rayhan yang memakai jas hitam lengkap. "bolehkah? " bisik Rayhan, tentu ia akan bertanya demi kenyamanan Bunga. pria itu tidak ingin melakukan hal yang tidak disukai Bunga, dan ia sudah mengira Bunga akan menolak ucapannya. karena Bunga tidak menjawab apapun, Rayhan perlahan menjauhkan wajahnya tapi kali ini ditahan oleh Bunga. gadis itu memegang pipi Rayhan, dan tersenyum kemudian mengangguk tipis.


"boleh! " jawab Bunga lirih, Rayhan tersenyum dengan mengusap kedua pipi Bunga. mereka saling mengingat terakhir kejadian tidak kesengajaan membuat mereka berciuman, kali ini Rayhan sadar dan mendapatkan ijin. Rayhan pun mencium Bunga untuk pertama kalinya, begitu pun Bunga yang menerima ciuman lembut dari Rayhan. sesekali mereka tersenyum, dan melanjutkan kegiatan itu berharap tidak ada yang datang dan menganggu mereka.

__ADS_1


memang tidak ada siapapun, tapi Reyvan yang masih ada tidak jauh melihat interaksi keduanya. Reyvan terkejut melihat keduanya berciuman, pria itu mencengkram tangannya karena merasa kesal. ia membenci hal itu, dan hatinya masih mencintai Bunga meskipun dirinya dibenci sekalipun.


__ADS_2