Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Season II: Part 1


__ADS_3

"Mereka sudah sampai, ayo kita lihat anggota baru keluarga pondok pesantren kita." Para santriwati dengan tergesa-gesa berlari meninggalkan aktivitas yang sedang mereka geluti tadi. Mereka tidak perduli lagi dengan hal itu karena yang ada di dalam pikiran mereka hanya bergegas pergi dan melihat wanita yang akan melahirkan ahli waris pondok pesantren ini.


Mereka begitu antusias.


"Kemana mereka semua pergi?" Tapi ini tidak berpengaruh pada Dea, gadis yang baru beberapa bulan lalu pindah ke sini.


"Mereka semua pergi untuk menyambut Mas Gio dan Kak Annisa yang resmi menikah satu minggu yang lalu. Apa kau juga ingin menyusul mereka?" Saat menanyakan ini, ekspresi gadis itu jelas berharap agar Dea mau turut serta menyambut keluarga baru pondok pesantren itu.


Tertegun, Dea dengan kaku membawa pandangannya menatap mobil hitam yang dikerumuni para santri dan santriwati. Sejenak ekspresi yang begitu rumit tergambar jelas diwajahnya namun sedetik kemudian ekspresinya kembali seperti biasa.


Ia tidak tertarik.


"Aku tidak tertarik tapi jika kau ingin pergi maka pergilah, kau tidak perlu terus mengawasiku layaknya tahanan perang." Ucap Dea tidak perduli membawa kembali tatapan pada buku yang ia tidak sengaja jatuhkan beberapa saat yang lalu.


Gadis itu lantas tidak menjawabnya langsung karena ia sedang dilanda dilema sekarang.


Satu sisi ia ingin bergabung bersama teman-temannya yang lain namun satu sisinya lagi ia harus melaksanakan amanah yang Pak Kyai berikan kepadanya.


"Ak-"


"Tentu saja dia tidak akan menyambut kedatangan Kak Annisa karena orang yang dulu ingin menghancurkan nama Kak Annisa di sini adalah dia. Bukan hanya itu, Kakaknya si Reina yang sok cantik itu juga hampir saja membunuh anak Mbak Rumi. Jadi setelah semua kejahatan yang mereka lakukan tentu saja Dea akan malu bertemu dengan Kak Annisa, ah... tidak, aku tidak yakin jika orang ini punya sisi malu di wajahnya, Dea, apakah aku benar?"


Tiba-tiba gerakan tangan Dea terhenti, masih dalam keadaan menunduk, tidak ada yang tahu seperti apa sekarang ekspresi yang diwajahnya sekarang.


Tidak perduli dengan apa yang baru saja gadis itu katakan, ia dengan acuh kembali menggerakkan tangannya untuk memungut beberapa kitab yang masih tersisa di tanah.


"Aaa..jadi selain tidak punya urat malu kau sekarang menjadi tuli yah?" Ejek gadis itu begitu senang mempermainkan Dea yang selalu bertingkah sombong dan angkuh selayaknya bangsawan.


Ia begitu benci dengan sikap tidak bersahabat Dea semenjak ia menginjakkan kaki di sini.


Karena masih belum mendapatkan respon Dea, gadis itu akhirnya tidak bisa menahan kekesalannya lagi. Ia tidak perduli jika kata-kata yang akan keluar dari bibirnya nanti akan membuat marah Dea.


Tidak, justru itu yang ingin gadis itu lihat dari Dea. Sebuah kemarahan yang putus asa!


"Dea, kali ini aku yakin kau akan mau berbicara denganku ketika mendengar ini."


Tiba-tiba ada firasat tidak nyaman yang Dea rasakan ketika mendengar ancaman gadis keras kepala ini, ini membuat Dea tanpa sadar menahan nafasnya gugup.


"Diva, bukankah ini sudah keterlaluan? Kau tidak bisa memprovokasi seseorang di dalam pondok pesantren apalagi ini sesama santriwati, kita saudara di sini dan perbuatan seperti ini sangat tidak pantas." Gadis yang sedari tadi berdiam diri hanya melihat dan mendengar sikap Diva kepada Dea akhirnya bersuara juga


Ia tidak tahan melihat Diva terus-menerus memojokkan Dea dengan mengungkit segala kesalahan yang pernah Dea lakukan dulu.


Diva tentu saja tidak terima dengan apa yang Masha katakan meskipun ia sendiri mengakui bahwa sikapnya ini tidak benar.


Ia tahu ini melanggar aturan namun ketika berhadapan dengan Dea entah kenapa perasaan marah dan bencilah yang menguasai hatinya.


Ia akan menduga-duga dan berperasangka buruk jika suatu hari nanti Dea akan mengulangi kesalahan yang sama atau bahkan kesalahan yang lebih fatal dan besar lagi.


"Keterlaluan kau bilang?"


"Bagaimana jika sekarang aku mengatakan bahwa gadis hina ini begitu kotor dan menjijikkan?. Bagaimana jika aku mengatakan bahwa gadis ini tidak bisa tinggal di sini karena dapat mengotori pondok pesantren kita, apakah kau masih menganggap ku keterlaluan sekalipun yang aku katakan tadi itu benar?"


"Lagipula, dia juga bukan saudaraku di sini dan aku merasa keberatan punya hubungan kekerabatan dengan hina ini namun jika itu kau maka aku tidak akan protes karena kau bersih juga berpendidikan. Ini berbeda dengannya yang hanya bisa menjadi sampah di tempat ini."


"Diva, kau keter-"


"Masha, aku sudah selesai jadi lebih baik sekarang kita segera mengirim buku ini ke perpustakaan kembali." Ucap Dea nada tidak tertariknya, bangun dari posisi duduknya tadi ia langsung membawa langkah kakinya berjalan menjauh dari Diva.


Ia bersikap seolah-olah tidak pernah mendengar apa yang Diva katakan. Ia juga bertindak seakan-akan apa yang Diva katakan tadi hanya angin lalu baginya, tidak membekas sama sekali.


"Tu-tunggu aku, Dea." Segera tanpa menunggu ocehan Diva lagi ia berjalan cepat menyusul Dea yang berjarak lumayan jauh darinya.


"Cih, dasar sampah." Umpat Diva kesal seraya membawa langkahnya menyusul teman-temannya yang lain, membawa langkahnya dengan cepat sebenarnya Diva juga sangat antusias ketika mendengar pasangan pengantin baru itu akhirnya kembali ke sini. Namun, perasaan antusiasnya tiba-tiba hilang ketika bertemu dengan Dea, gadis congkak yang berjalan dengan angkuhnya padahal ia tidak berbeda dengan sampah menjijikkan yang ada di jalanan.


Dan kepuasan hatinya itu tidak bisa ia dapatkan jika ia tidak membuang kata-kata penuh kebenciannya kepada Dea. Apalagi jika Dea sampai meresponnya maka alangkah menyenangkannya itu. Tapi yah... Dea tidak pernah meresponnya selama ini sekuat apapun Diva memprovokasi itu tidak akan berhasil.


Dea seolah tidak melihat ataupun mendengar apa yang ia katakan dan Diva benci diperlakukan seperti itu.


***


Saat diperjalanan menuju perpustakaan suasana diantara Dea dan Masha begitu canggung. Tidak ada suara yang tercipta di antara mereka berdua selain suara langkah kaki atau angin yang bertiup lembut.


Menatap lurus, "Setelah ini apakah kita punya kegiatan lain lagi?" Tanya Dea begitu tenang dan biasa.


"Kita tidak punya kegiatan apapun lagi sampai setelah sholat ashar kita akan mengaji bersama di masjid." Jawab Masha cepat tidak ingin membuat Dea merasa tidak nyaman saat bersamanya.


Diam.


Tidak ada respon lanjutan lagi dari Dea dan suasana diantara mereka pun kembali canggung.


"Itu..Dea?" Dengan gugup Masha mencoba memulai obrolan dengan Dea.


"Hem?" Respon Dea sebenarnya tidak perduli.


Ragu, Masha dengan hati-hati memperhatikan sosok Dea yang begitu tenang dan damai.

__ADS_1


Ia terlihat baik-baik saja.


"Tidak.. tidak ada, aku hanya ingin memanggilmu saja" Ucap Masha mencari alasan. Ia tidak ingin menanyakan masalah tadi dan berakhir membuat mood Dea hancur.


Ia tidak tahu tapi entah mengapa ia selalu merasa Dea hanya berpura-pura tenang di depannya, namun apakah iya?


***


"Masha, kemana kau akan pergi?" Dea menarik ujung baju Masha dengan wajah kebingungan.


"Aku akan ke sebelah barat untuk mengembalikan kitab-kitab ini." Tunjuk Masha pada lorong perpustakaan yang terbentang panjang di depannya.


"Tapi bagaimana dengan buku yang ada di tangan ku ini, siapa yang akan mengembalikannya?" Jika Masha pergi maka siapa yang akan mengembalikan buku-buku yang ada di tangannya, Dea tidak bisa tidak merasa resah jika dihadapkan dengan posisi seperti ini.


"Bukankah kamu yang akan mengembalikannya?" Masha masih belum mengerti maksud dari pertanyaan Dea karena jika dipikir secara logis mereka sama-sama memegang kitab yang berbeda dan seharusnya mereka juga mengembalikan bagian masing-masing ke tempatnya.


Merasa malu, "Tapi..tapi aku tidak bisa membaca tulisan ini...aku tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan buku ini nanti." Dea masih dalam tahap belajar yang paling dasar dan belum sampai setinggi ini ilmunya.


Ia tidak bisa membaca tulisan Arab yang tidak mempunyai tanda seperti Al-Qur'an. Jangankan membaca tulisan Arab gundul, bahkan Al-Qur'an saja Dea masih belum lancar dan terkadang keliru melihat beberapa huruf hijaiyah yang menurutnya mempunyai bentuk dan cara bacanya yang sama.


Dea begitu dangkal dalam ilmu agama.


"Astagfirullah, maaf aku melupakan hal ini." Masha baru ingat jika Dea masih belum mengerti cara membaca tulisan Arab gundul.


"Tapi kau juga bisa melakukannya dengan mencocokkan warna sampul kitab ini, atau lihat huruf hijaiyah yang pertama dan cocokkan dengan tanda yang ada di depan rak perpustakaan ini. Aku yakin ini tidak terlalu sulit." Jelasnya memberikan jalan keluar untuk Dea.


"Ya, aku mengerti."  Ucap Dea mengiyakan lalu membawa langkahnya menjauh dari Masha yang juga kembali menjalankan tugasnya.


Dea tidak bodoh sebenarnya, ia tahu jika Masha hanya menjalankan tugas untuk mengawasinya dari Pak Kyai. Dea juga tahu dan merasakan jika Masha sama dengan mereka, ia juga enggan berteman dengan dirinya yang penuh cela.


Maka dari itu..maka dari itu ia lebih banyak diam saat diajak bicara. Ia menahan semuanya dengan kediamannya yang begitu menyebalkan bagi semua orang.


"Mungkin itu di sini." Ucapnya pada dirinya sendiri ketika melihat huruf Arab yang sama persis dengan buku-buku yang ada di tangannya.


Ia kemudian dengan hati-hati menyusun buku-buku itu dengan rapi, selayaknya buku-buku yang ada di dalam sebuah perpustakaan sekolah.


Setelah selesai Dea lantas tidak langsung kembali ataupun mencari keberadaan Masha, namun ia malah membawa langkahnya berkeliling di dalam perpustakaan lebih jauh lagi. Ia menelusuri lorong-lorong perpustakaan yang begitu sepi tidak seperti biasanya, tentu saja itu dikarenakan pengantin yang baru menyelesaikan satu minggu yang lalu akhirnya kembali ke sini.


"Siapa bilang aku tidak punya rasa malu?" Bisiknya sakit setelah mendudukkan dirinya di sebuah tempat yang sunyi dan jauh dari penjaga perpustakaan.


"Aku malu bahkan sampai ke tahap pesakitan, tapi kalian tidak tahu karena selama ini aku hanya diam dan tidak mengatakan apapun." Tangannya dengan lelah menghapus cairan hangat yang mengalir lembut di pipi merahnya.


Ia lelah, sungguh lelah.


Dan ia juga kecewa, begitu kecewa pada harga dirinya yang sudah tidak bernilai apa-apa lagi bagi keluarganya.


"Aku bodoh..bodoh karena tidak melakukan apa-apa ketika dipisahkan dari Rio. Jika saja waktu itu aku tidak melawan kepada orang tuaku, mungkin.. mungkin keluarga Rio akan mau menerima ku. Tapi.. semuanya sudah terlanjur seperti ini dan harapan satu-satunya yang ku punya adalah menunggu Rio datang menjemput ku dan membawa ku pergi bersamanya." Dea begitu menyesali hari itu, hari dimana ia begitu keras kepala ingin tetap bersama Rio tanpa mempertimbangkan kondisi Rio pada saat itu.


Dan karena kecerobohannya itu kini ia benar-benar mengalami jalan yang rumit dan terjebak dalam kebusukan Kakaknya.


Ia memang bodoh, sekali lagi sangat bodoh.


"Besok adalah hari minggu." Seketika wajahnya menarik sebuah garis harapan yang mendebarkan.


"Orang-orang pondok pesantren akan diberikan 10 menit untuk menelpon keluarga mereka..tapi aku sudah dilupakan oleh kedua orang tuaku dan satu-satunya orang yang bisa ku hubungi adalah Rio..ya, aku akan menghubungi Rio..dan..dan ia akan datang menjemput ku, membawa ku pergi ke tempat yang hanya kami berdua saja tahu dimana itu."


Ia yakin..Rio akan datang menjemputnya.


                                            ***


"Kamu istirahat dulu saja di sini, nanti kalau sudah mendingan kamu bisa keluar lagi berkumpul dengan yang lain." Gio dengan hati-hati membaringkan tubuh lemah istrinya yang terlihat begitu pucat dan kelelahan.


Kemudian ia mendudukkan dirinya di samping sang istri yang terlihat tidak setuju.


"Itu sama saja aku bersikap tidak sopan kepada keluarga yang ada diluar, aku tidak bisa Mas-"


"Jangan memaksakan diri sendiri karena Umi dan Abi juga tidak ingin melihat kamu berakhir semakin kurang sehat." Mengelus lembut pipi kemerahan Annisa.


"Istirahat sebentar saja di sini, Mas tahu jika kamu tidak tahan melakukan perjalanan panjang." Rayu Gio tidak ingin melihat Annisa memaksakan dirinya.


Ia tahu jika sang istri tidak bisa tahan melakukan perjalanan jauh karena akan mudah kelelahan dan berakhir jatuh sakit.


Gio tidak bisa melihat Annisa kesakitan karena orang pertama yang akan paling merasakan sakit adalah Gio.


"Hem..tapi tetap saja rasanya kurang nyaman." Baru sampai tapi langsung tepar di rumah suami, bayangkan saja bagaimana perasaan bersalah an malu yang Annisa rasakan saat ini.


Tersenyum lembut, Gio bisa mengerti perasaan sang istri yang begitu lembut dan penuh kasih.


"Tapi ini adalah perintah dari suamimu, wajib hukumnya kau menaati perintah dariku." Bisik Gio seraya menundukkan kepalanya, mencium penuh kasih sayang kening Annisa.


"Apakah masih ingin menolak lagi?" Tanya Gio sambil menjauhkan wajahnya dari kening Annisa. Akan tetapi itu justru hanya beberapa sentimeter saja karena faktanya Gio masih terlalu dekat dengan wajah Annisa.


Tersipu malu, Annisa dengan gugup menggelengkan kepalanya ringan. "Annisa akan mematuhi perintah suaminya, Mas Gio." Ucap Annisa lirih, membuat pipinya semakin panas dan kemerahan.


Tersenyum puas, "Annisa sangat berbakti, Mas makin cinta dibuatnya."

__ADS_1


"Mas..ihh.." Rajuk Annisa mengalihkan wajahnya malu.


"Kenapa, sayang?" Goda Gio memancing Annisa.


"Annisa malu..." Jujur Annisa membuat Gio semakin berambisi menggoda istrinya.


"Malu kenapa sih, kita kan suami istri jadi kenapa harus malu?"


Menarik dagu Annisa dengan lembut, perlahan mata persik Annisa menatap takjub pada ketampanan sang suami. Padahal setiap hari wajah ini adalah wajah pertama dan terakhir yang ia lihat namun tetap saja ia selalu dibuat takjub dengan wajah tampannya.


"Mas ih.." Annisa merajuk lagi, tidak tahan berdekatan sedekat ini dengan Gio.


"Jawab pertanyaan Mas dulu dong kenapa istri Mas bisa malu, padahal kita kan hanya berdua di kamar ini sayang, jadi kenapa harus malu?" Gio bertekad tidak akan melepaskan sang istri jika ia tidak menjawab dan Annisa tahu bahwa Gio tetap akan seperti ini sampai ia menjawab pertanyaannya.


Pasrah, akhirnya Annisa memilih menjawab saja pertanyaan suaminya.


"Annisa malu sama Allah dan Annisa juga..masih belum terbiasa sedekat ini dengan Mas Gio." Bisik Annisa tersipu, wajahnya yang sudah memerah manis membuat Gio yang ingin menggoda lagi akhirnya menyerah. Ia takut jika terus-terusan seperti ini maka benteng pertahanannya akan runtuh. Jadi, keputusan terbaik darinya adalah menyelamatkan diri.


"Kenapa harus malu sama Allah?, Allah senang tau melihat hamba-hamba-Nya bersatu dalam cinta yang Dia ridhoi. Bahkan dengan bersatunya kita akan lahir generasi luar biasa yang mencintai Allah seperti halnya Ibu dan Ayahnya. Ini adalah ibadah Annisa dan kita seharusnya tidak perlu malu untuk menunjukkan kemesraan kita di hadapan Allah." Mengelus lembut wajah halus kemerahan Annisa.


"Lalu untuk yang kedua, jika Annisa masih belum terbiasa melakukan kontak fisik sedekat ini dengan Mas maka biasakanlah karena kita akan bersama tidak satu atau dua minggu tapi in shaa Allah selamanya. Entah itu di dunia ini atau di akhirat kelak, Mas hanya mau Annisa sebagai pendamping hidup dan Ibu dari anak-anakku. Apakah Annisa mau?"


Tersenyum lembut, "Annisa tentu saja mau Mas, bahkaen di setiap sholat Annisa selalu melayangkan doa dan harapan agar kita selalu bersama sampai di jannah-Nya, kampung kita sebenarnya."


Puas dengan jawaban tulus sang istri, Gio tidak bisa lagi menahan keinginannya untukh tidak mencium sang istri.


"Maka mulailah dari sekarang untuk terbiasa dekat dengan Mas," Mencium lembut bibir tipis merah muda Annisa, ini bukan ciuman yang intens atau panas seperti malam-malam mereka yang penuh damba.


Tapi ini adalah sebuah ciuman manis lagi lembut, menyiratkan sebuah ketulusan dari dalam hati mereka.


"Mas pamit keluar dulu yah, jika ada sesuatu panggil saja Mas di luar." Dengan begitu Gio langsung kabur tanpa menunggu suara persetujuan Annisa. Gio sebenarnya juga malu melakukan itu..tapi karena ia adalah seorang laki-laki dan suami maka sudah tugasnya untuk memimpin hubungan mereka yang awalnya canggung menjadi terbuka dan manis.


Menatap kosong, badan Annisa seolah kaku dan tidak bisa digerakkan. Ia begitu terkejut mendapat serangan mendadak dari Gio dan tidak sempat mengatakan apapun Gio sudah melarikan diri darinya.


"Mas Gio, ih!" Rajuknya sambil menarik selimut hangat menutupi wajahnya yang sudah terasa panas dan memerah merona.


"Manisnya~"


                                          ***


"Jadi kau benar-benar datang ke sini?" Ucap Mira terkejut. Tidak, sebenarnya ia sudah mendengar Safira mengatakan bahwa saat libur semester nanti ia akan tinggal di pondok pesantren bersama Annisa..


Ya.. Annisa sih wajar saja yah tinggal di sini karena setelah menikah dengan Gio tempat tinggal tetapnya ya di pondok pesantren mengikuti sang suami.


Tapi jika itu Safira... yah, tinggal di sini terlalu lama sejujurnya sedikit membuat orang penasaran.


"Tolong jangan berpura-pura bodoh di depan ku atau jika tidak sepatu cantikku ini akan melayang ke wajah mu." Peringat Safira tidak perduli.


Hei, bukankah mereka sudah pernah membicarakannya bahwa ia akan tinggal di sini selama libur semester?


Alasan apapun itu seharusnya ia juga tahu betul apa itu tapi masih saja bersikap seolah ia tidak tahu apa-apa.


"Jangan salah paham dulu karena aku pikir kau berubah pikiran untuk tinggal di sini, yah siapa yang tahu jika ternyata kau benar-benar memegang omongan mu."


Apapun bisa terjadi selama 3 minggu kemarin jadi tidak menutup kemungkinan Safira membatalkan rencananya untuk tinggal di sini.


"Hem, awalnya juga aku sempat ragu untuk tinggal di sini karena Umi dan Abi tidak ada yang menemani di rumah. Namun ternyata itu tidak terjadi karena Umi dan Abi berencana menyusul Kak Saqila ke pondok pesantren Abu Hurairah. Mereka akan tinggal di sana menemani Kakak berobat sambil meluangkan waktu sebanyak mungkin bersama Kak Saqila."


Ini benar adanya bahwa Safira sempat tidak tega meninggalkan kedua orang tuanya di rumah berdua saja. Namun kekhawatirannya itu langsung hilang ketika Umi dan Abi mengatakan bahwa mereka akan menemani Saqila selama di pondok pesantren Abu Hurairah. Maka jadilah ia bisa dengan tenang ke sini bersama Annisa dan Mas Gio, Kakak iparnya.


"Aa..ya, aku baru ingat jika Nanda pernah mengatakan bahwa Saqila dibawa ke pondok pesantren itu. Syukurlah jika semuanya sudah aman terkendali." Syukur Mira merasa lega. Ia juga sebenarnya berharap jika Safira tinggal di sini karena ia sendiri pun tidak punya teman lagi karena kedua temannya sudah bersama kebahagiaan masing-masing.


"Oh benar, bagaimana kabar Nanda? Setelah menikah kemarin ia tidak pernah menghubungi ku lagi." Kesal Safira bercampur bahagia karena akhirnya sahabatnya itu bisa menikah dengan laki-laki yang ia dambakan.


Menghela nafas lelah, "Ia kemarin sore berangkat ke Madinah untuk memulai acara bulan madu mereka. Bahkan sebelum pergi ia sudah berpesan kepada ku untuk tidak menghubunginya jika itu tidak penting. Bahkan jika aku memaksa menghubungi ia bilang tidak akan merespon selama itu tidak penting, lihat sahabat mu ini benar-benar laknat, ah!. Mentang-mentang udah punya suami teman jadi dilupain, ya Allah betapa kejam hamba-Mu yang satu itu!" Mira tidak bisa menahan kekesalannya terhadap Nanda karena biar bagaimanapun mereka kan adalah sahabat jadi tidak apa-apa bukan jika mereka saling hubungi saat rindu?


"Yah, sebenarnya Nanda tidak benar juga tidak salah di sini karena satu-satunya yang ia inginkan adalah bisa menghabiskan banyak waktu bersama suaminya. Coba kau pikirkan jika kau yang ada di posisinya? Jika tidak menghabiskan waktu bulan madu bersama maka suaminya akan sibuk dengan pekerjaannya sehingga waktu untuk bermesraan pasti sangat sulit. Jadi, biarkan saja selama ia tetap memberikan kita kabar."


Mendengus kesal, Mira sudah tidak mood lagi melanjutkan pembicaraan tentang Nanda karena seperti yang Safira katakan Nanda juga butuh waktu untuk bersantai bersama Dimas.


Ia paham namun tetap saja ia sulit menerima.


"Oh, ya apa kau tahu jika sore ini Aldi akan pulang?" Mengalihkan pembicaraan Mira akhirnya ingat jika sore ini pulang ke pondok pesantren.


Tersenyum simpul, Safira tanpa ragu menganggukkan kepalanya senang.


"Aku sudah tahu karena Mas Gio sebelumnya sudah mengatakan hal ini kemarin." Ia sudah mendapatkan kabar ini kemarin saat Gio menerima telpon langsung dari Aldi.


"Yah, seperti yang diduga kau punya narasumbernya." Ejek Mira tidak tahan melihat senyuman Safira yang terlihat begitu langka.


"Hem, karena itulah aku setuju ia dengan Kakak ku."


"Dasar rubah licik, ternyata selama ini tujuan mu adalah ini!" Kesal Mira seraya membawa langkah kakinya menjauh dari Safira yang masih tersenyum puas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2