Bunga Pengantin

Bunga Pengantin
Gadis Iblis


__ADS_3

"Mas sudah cukup.. ini sudah lebih dari perjanjian yang Mas katakan tadi." Tolak Annisa tidak kuat seraya menutup mulutnya takut.


Gio menghela nafas menyerah, menyuapi Annisa beberapa sendok bubur rasanya begitu mendebarkan dan menyenangkan. Jika saja ia tidak bisa mengontrol gerakan tangannya yang gemetar mungkin Annisa akan menertawakan kelumpuhannya.


"Lalu minum susu ini, jangan menolak karena aku tidak akan bernegosiasi dengan mu kali ini." Ancam Gio serius seraya memberikan Annisa segelas susu hangat.


"Biar ku bantu." Reina kemudian berdiri dari duduknya untuk menyelamatkan situasi lebih intim yang akan terjadi antara Gio dan Annisa.


Menyerahkan segelas susu hangat tersebut ke tangan Reina, Gio dan Annisa tahu betul jika Gio membantu Annisa meminum susu itu maka mereka tidak bisa mengelak dari sentuhan fisik.


"Terimakasih." Ucap Annisa canggung pada Reina yang kini membantunya minum.


Tersenyum ramah Reina hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon dan terlihat fokus membantu Annisa menyesap minuman susu hangat tersebut.


"Mas, gimana kabar yang lain di pondok." Suara Safira bertanya akrab pada Gio dan membuat Reina tanpa sadar memicingkan matanya ingin tahu. Dari awal kedatangan mereka ke sini Safira terlihat sudah akrab dengan Gio bahkan cukup tahu tentang situasi di pondok pesantren.


Apakah mungkin jika Safira dulunya tinggal di pondok pesantren dan menjadi salah satu santriwati di sini seperti halnya Adiknya. Yah, ini memang bisa jadi karena keluarga Annisa terkenal baik di kota tempat mereka tinggal.


Berjalan ke salah satu sofa, ia mendudukkan dirinya dengan gerakan alami. "Alhamdulillah, semua orang baik. Kamu bisa yakin setelah datang ke sana besok. Bahkan mungkin kamu akan sedikit terkejut dengan perubahan yang ada di sana, itu sedikit berbeda sejak terakhir kali kamu datang." Ucap Gio meyakinkan. Satu tahun yang lalu adalah kunjungan terakhir Safira juga menjadi hari terakhir ia mengajar di kota.


"Itu benar Safira, pondok pesantren adalah tempat yang indah dan sangat membuat orang begitu betah berlama-lama tinggal di dalamnya." Sahut Annisa menambah jawaban Gio. Sambil mengusap bekas susu di bibir tipisnya, ia dibawa kembali pada hari pertama ia berjalan-jalan di pondok pesantren. Tempat yang indah dan begitu mudah menarik kenyamanannya adalah kesan pertama yang bisa ia katakan karena memang seperti itulah adanya.


Keluarga mereka mungkin adalah keluarga yang berusaha dekat dengan Allah akan tetapi tidak ada satupun dari mereka yang pernah sekolah di pondok pesantren. Mereka hanya menimba ilmu dari pengajian rutin bahkan melakukan sekolah privasi untuk khusus pendidikan agama. Ini adalah langkah orang tua mereka guna menumbuhkan keimanan mereka terhadap Allah SWT dan mereka tidak lalai akan hal itu.


Tersenyum tipis, "Yah, aku harap akan menikmati hari-hari ku di sana untuk beberapa hari ke depan." Ucap Safira terdengar santai. Jangan terlalu bersikap antusias karena itu akan begitu mudah membuat mu kecewa pada kenyataan yang tidak sesuai harapan.


"Dari pembicaraan awal sepertinya Safira cukup tidak asing dengan pondok pesantren, aku penasaran apakah Safira pernah tinggal di pondok pesantren untuk belajar?" Meletakkan gelas susu yang bersisa sedikit, Reina kemudian membawa langkahnya kembali ke tempat duduk semula yang tentu saja mendapatkan perhatian khusus dari Safira. Akalan seperti ini begitu mudah ditebak niat sebenarnya, tentu saja ia ingin lebih dekat dengan Gio yang sedang duduk di seberang Annisa.


Hah, betapa busuknya!


"Safira tidak pernah tinggal di pondok pesantren sebagai salah satu santriwati akan tetapi ia pernah sesekali berkunjung ke sini karena kebetulan dulu di kota aku adalah guru yang mengajarinya tilawah di pondok bambu." Jawab Gio memberikan penjelasan. Bahkan saat mengatakan profesinya dulu Gio tidak malu melihat Annisa yang juga sedang memperhatikannya. Gio penasaran bagaimana respon Annisa ketika mendengar hal ini apakah ia akan bersikap biasa atau merasa sedikit terkejut?


"Mas Gio adalah guru Safira?" Tanya Annisa merasa terkejut. Bahkan tanpa sadar ia mendudukkan dirinya di atas ranjang karena perasaan antusias yang muncul berlebihan.


Tersenyum geli, "Itu benar Annisa, aku dulunya yang mengajari Safira dan Saqila tilawah di pondok bambu. Dulu kau sering mengantarkan Safira ke pondok bambu dan terkadang kita akan berpapasan secara tidak sengaja, apakah kau tidak mengingatnya?" Ketika Annisa datang mengantarkan Safira ke pondok bambu mereka sesekali akan bertemu dan berpapasan secara tidak sengaja. Bahkan karena pertemuan seperti itu Gio mendapati Annisa adalah gadis yang berbeda daripada yang lain. Ia bersikap biasa bahkan acuh saat bertemu dengannya dan tanpa sadar perlakuan seperti itu membuat Gio menjadi berambisi untuk menarik perhatian Annisa kepadanya. Menarik perhatian Annisa, Gio ingin melihat bagaimana respon Annisa jika mereka benar-benar saling memperhatikan. Namun sayangnya itu tidak pernah terjadi sehingga membuat Gio memutuskan untuk membawa masalah hatinya ke tempat yang lebih serius. Ia secara acak bertanya kepada Safira dan orang-orang terdekatnya tentang Annisa sehingga ia cukup tahu identitas Annisa dan keluarganya.


Lalu setelah ia melakukan semua itu Gio kemudian memutuskan untuk melamar Annisa, ia membeli cincin pernikahan yang tidak terlalu menonjol dan cukup terlihat keberadaannya sebagai cincin yang sakral. Dengan tekad ia menceritakan semua kepada keluarganya dan bermaksud ingin menikahi Annisa yang tentu saja di sambut dengan baik oleh kedua orang tua Gio.


Di saat semua persiapan telah sempurna Gio tiba-tiba mendapatkan kabar bahwa Dimas, sahabatnya telah lebih dulu melamar Annisa. Bahkan tidak sampai di sana keterkejutannya, ia mendengar bahwa keluarga Annisa langsung menerima niat baik Dimas yang datang ke pintu rumah mereka.


Tentu saja mendengar semua itu membuat Gio langsung patah semangat, mengundurkan diri dari pondok bambu ia kemudian memilih fokus pada toko buku dan pondok pesantren yang akan ia pimpin suatu hari nanti.


Membolakan matanya, "Ya Allah, aku tidak tahu jika Mas Gio adalah guru Safira bahkan merasa pernah bertemu dulu dengan Mas Gio saja tidak pernah."


Tersenyum malu, Annisa kemudian dengan pelan membaringkan badannya yang sempat bergerak antusias tadi. "Annisa hanya ingat pertemuan pertama kita adalah pada saat Umi datang ke butik untuk mengambil pesanannya, Mas Gio juga ada di sana untuk menjemput Umi jadi Annisa pikir itu adalah pertemuan pertama kita." Pertemuan di butik begitu mengesankan bagi Annisa. Selain karena orangnya adalah Mas Gio itu juga karena Mas Gio adalah laki-laki pertama yang mampu menarik perhatian dan harapan Annisa.


Jadi wajar saja Annisa tidak bisa melupakan pertemuan itu karena di saat itu juga Annisa mulai merasakan hatinya berdebar pada laki-laki yang tentunya adalah Gio.


Tersebut senang, "Ya, aku juga masih mengingat pertemuan kita di butik. Saat itu aku ingat betul jika kau terlihat sangat kebingungan ketika melihat kedatangan ku dan sempat membuat ku berpikir apakah kau mengenali ku atau tidak. Tapi mendengar jawaban mu tadi aku pikir kau sama sekali tidak mengingat ku." Pada saat mereka di butik dulu Annisa cukup kebingungan dengan kedatangan Gio dan sempat membuat Gio berpikir apakah Annisa mulai mengingatnya?


Menarik selimut sampai ke dadanya, Annisa tidak berani memandang Gio lagi. Ia takut tidak bisa menahan debaran jantungnya yang sedari tadi sudah berlari maraton. "Annisa bersikap seperti itu karena Mas Gio dan Umi terlihat mirip jadi wajar saja Annisa merasa bingung." Bantah Annisa setengah berbohong. Berbicara tentang sikapnya saat itu mana mungkin Annisa jujur kepada Gio bahwa ia bersikap seperti itu karena pada saat itu ia memang terpesona kepada Gio. Apalagi saat melihat Umi di butik dulu Annisa selalu merasa pernah bertemu dengan Umi di suatu tempat karena wajah Umi terlihat tidak asing untuknya. Akan tetapi setelah ia tahu Gio dan Umi punya hubungan darah akhirnya Annisa mengerti mengapa ia merasa bertemu Umi. Itu bukan karena ia benar-benar pernah bertemu Umi tapi itu karena saat sarapan di kafe bersama Puspa ia sempat melihat Gio di seberang jalan.


Tertawa senang, "Apakah benar seperti itu? Aku pikir kau saat itu cukup terpesona dengan ketampanan ku." Ucap Gio percaya diri yang langsung di respon dengan malu oleh Annisa.


Itu benar sekali!


Ia memang terpesona dengan ketampanan Gio, ah.


Meremat selimutnya gugup, rasanya ingin sekali Annisa menenggelamkan dirinya ke dalam selimut ini. Akan tetapi ia takut jika melakukan itu maka Gio akan tahu bahwa apa yang ia katakan tadi memang benar!


"Sebenarnya saat aku menemani Safira ke toko buku aku sedikit terkejut ketika tahu bahwa Mas Gio adalah pemilik toko buku itu." Annisa mengalihkan pembicaraan dan mengingat kembali hari dimana ia ke toko buku bersama Safira. Hari itu ia memang cukup terkejut setelah mengetahui Gio adalah pemilik toko buku itu.


"Benarkah? Pantas saja waktu itu kau terlihat begitu gugup saat melihat ku." Ia juga ingat kedatangan Safira dan Annisa ke toko bukunya. Sama seperti Annisa, Gio cukup gugup mendapatkan kunjungan mendadak di hari itu sehingga ia tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan Annisa. Jadilah ia hanya menyapa Safira dan tidak menyapa Annisa.


Annisa seperti itu bukan karena gugup!


Tapi ia marah karena setelah beberapa kali bertemu Gio bahkan tidak mengenal dan menyapanya di toko buku hari itu. Ia sedih dan berpikir jika Gio tidak pernah menganggapnya ada dan adapun pertemuan yang mereka dapati itu murni karena tidak sengaja sehingga Gio tidak mempunyai kesan apapun kepada Annisa.


"Wah, jika Safira akan tinggal di sini maka aku akan mengenalkannya kepada adik ku yang juga tinggal di pondok pesantren." Tiba-tiba Reina mengalihkan topik. Marah rasanya jika ia harus mendengarkan nostalgia pertemuan mereka. Ini tidak seperti mereka akan benar-benar berjodoh saja, tidak ada hal yang menarik dari pertemuan mereka yang monoton.


Berhasil mengalihkan pembicaraan, Reina kemudian melanjutkan aksinya. "Usia mu dan adik ku sepertinya tidak jauh berbeda atau mungkin kalian sebenarnya seumuran jika ku lihat dari tinggi mu." Lanjut Reina memberikan perhatian pada Safira yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan pembicaraan Gio dan Annisa.


Mengalihkan pandangannya, Safira mengangkat alisnya tertarik. Berhasil mengalihkan topik dengan panik sepertinya Reina sudah tidak sabar lagi mengakhiri pembicaraan Kakaknya. Hah, betapa menyebabkannya.


"Hem, apakah benar begitu?" Ia bertanya dengan ekspresi tertarik dan membuat Reina mengangguk antusias karena berhasil menarik perhatian Safira. Maka dengan begini ia bisa dengan mudah menyeret perhatian semua orang padanya. Terutama Gio, Reina ingin memperlihatkan betapa ramah dan antusiasnya ia menemukan teman yang baik untuk Adiknya.


"Ya, kau dan dia akan cocok jika bertemu nanti." Jawabnya yakin. Sepulang dari sini ia akan membicarakan ini kepada Dea. Ia harus bisa bekerja sama untuk menarik perhatian Safira selama di pondok pesantren agar tidak mengganggunya melakukan pendekatan dengan Gio. Bahkan ia harus merasa lega karena Annisa sedang tidak sehat jadi ia bisa memanfaatkan itu untuk berduaan dengan Gio.


"Aku akan lihat nanti, tapi ngomong-ngomong siapa nama saudara Kak Reina itu? Tidak lucu bukan aku tiba-tiba berteman dengannya namun namanya sendiri aku tidak tahu." Ia bersuara cemberut untuk mengekspresikan ketidakpuasannya.


"Habiskan dulu air susunya karena aku berjanji kepada Umi tidak akan pulang sebelum Kau memakan semua yang Umi masak." Suara keras kepala Gio menginterupsi percakapan Safira dan Reina.


"Tapi Mas aku sudah tidak kuat lagi untuk menghabiskannya, aku takut jika aku memaksakan diri aku akan memuntahkannya." Annisa menjelaskan rasa ketidaknyamanannya sehingga ia tidak bisa menghabiskan minuman susu hangat tersebut. Sebenarnya ia juga ingin menghabiskan semua yang Umi berikan kepadanya namun sayang perutnya saat ini tidak bisa di ajak berkompromi. Setiap kali ia mengingat makanan pasti perutnya akan terasa tidak nyaman bahkan jika itu sampai meminumnya maka ia yakin tidak bisa menelannya dan berakhir memuntahkannya.


Khawatir, "Apakah itu benar-benar tidak terasa nyaman?" Gio membawa gelas susu hangat tersebut ke dalam genggamannya dan mengurungkan tangannya untuk diberikan kepada Annisa.


"Maaf Mas, tapi Annisa benar-benar tidak bisa meminumnya." Annisa meminta maaf dengan penyesalan. Apalagi setelah melihat ekspresi khawatir Gio itu semakin membuatnya bersalah.


Berpikir lama, Gio akhirnya memutuskan untuk meminum sisanya langsung. "Maka aku akan meminumnya." Putus Gio seraya membawa gelas yang masih menyisakan setengah susu ke dalam mulutnya.


Mendengar keputusan Gio, 3 orang yang ada di dalam ruangan itu langsung menatap tidak percaya pada Gio yang sedang menikmati sisa susu hangat dari Annisa.


Bahkan Annisa yang menjadi tersangka pun tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang terasa panas dan berat. Gio meminum sisa susunya!


Annisa antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Jika Gio meminum sisanya maka itu berarti mereka melakukan ciuman secara tidak langsung. Memang Annisa tidak bisa menebak apakah Gio menyentuh bagian bekas bibirnya atau tidak tapi tetap saja itu namanya ciuman tidak kasat mata!


Annisa tidak tahu harus melakukan apa-apa selain tetap diam dan berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang terus menggebu-gebu. Ya Allah, bagaimana menggambarkan perasaan hatinya saat ini. Annisa tidak tahu, Annisa tidak tahu bagaimana mengatakannya karena hal yang ia rasakan saat ini adalah perasaan manis yang jauh lebih dan lebih lagi manisnya dari waktu-waktu yang lain.


Bahkan kepalanya tidak hanya terasa panas tapi juga berat!


Berat tapi entah mengapa ia merasa di bawa terbang, ya Allah.. Annisa tidak tahu harus melakukan apa dan mengatakan apa-apa.


Berbeda dengan Annisa yang merasakan manis, Reina justru ingin sekali memuntahkan darah!


Bersusah payah mengalihkan pembicaraan untuk menarik semua perhatian tapi itu sama sekali tidak berpengaruh pada mereka berdua!


Bagaimana menggambarkan suasana hatinya saat ini?


Yah, marah dan benci. Reina marah karena Annisa adalah wanita yang licik. Menghalalkan berbagai cara untuk menarik dan merebut perhatian Gio darinya!


Apa-apaan!


Reina tidak bisa menerima semua ini begitu saja, hei, Annisa adalah janda yang tidak terhormat tapi mengapa ia masih belum sadar diri juga?


Ya, ini adalah bagian terpentingnya bahwa Reina sangat membenci sikap Annisa yang tidak tahu malu. Mendekati Gio, laki-laki terhormat yang belum tersentuh siapapun. Apakah ia melupakan jati dirinya yang sudah tidak suci lagi?


Apakah ia melupakan jati dirinya yang menjadi seorang janda?


Tidak! Tidak!


Reina tahu bahwa wanita busuk ini sebenarnya tidak lupa dan tidak tahu tapi sengaja melupakan dirinya yang kotor, hah, betapa hinanya!


Sementara dua orang merasakan perasaan yang berbeda, Safira justru hanya bertindak sebagai pengamat yang baik. Mengamati perubahan emosi dua orang yang membuatnya tanpa sadar tersenyum samar.


"Apakah susunya terasa manis?" Tanya Safira santai yang langsung membuat Gio tersedak menahan sakit di tenggorokannya.


"Apa?" Bingung Safira ketika mendapati tatapan ambigu dan tajam dari Reina dan Annisa.


"Yah..rasanya seperti biasanya, manis." Jawab Gio setelah meredakan rasa sakit mencekik di tenggorokannya.

__ADS_1


Tersenyum manis, ia membawa fokusnya menatap Reina yang terlihat tidak nyaman.


"Jadi siapa namanya? Aku ingin tahu apakah kecantikan Kak Reina akan menurun pada saudaranya." Tanya Safira mengembalikan percakapan mereka yang sempat terabaikan.


Memperbaiki ekspresinya, Reina memasang senyuman manis yang tidak bisa sampai ke mata Safira. Yah, senyuman ini palsu dan terlihat memuakkan di depan Safira. "Namanya adalah Dea, kebetulan kami tinggal di kota yang sama dengan mu dan Annisa." Jawab Reina ramah menyebutkan nama Dea, saudara terkasihnya yang sedang berjuang hidup di pondok pesantren.


Mengangkat alisnya, "Ouh, jadi kita sebenarnya adalah kerabat dekat." Ucap Safira senang.


Mengangguk sabar, mata cantik Reina sesekali melirik Gio yang kini kembali fokus mendengarkan pembicaraan mereka.


Bermain sedikit sepertinya tidak apa-apa.


"Iya, bahkan aku dan Annisa dulunya adalah teman sekelas saat SMA dulu. Aku juga datang di acara pernikahan Annisa yang mewah dan menyenangkan tapi sayangnya acara pernikahannya tidak mengungkapkan kegembiraan yang terlihat. Aku turut sedih di malam itu ketika mengetahui suami Annisa pergi meninggalkan Annisa di kamarnya sendiri." Ucapnya terdengar sedih.


Huh.. memberikan bumbu sedikit saja tidak apa-apa bukan?


Lagipula sudah saatnya Gio tahu jika wanita busuk yang sedang bersamanya sekarang adalah janda hina yang sudah kehilangan akal. Di tinggal suaminya tidak bisa membuatnya menyadari akan posisinya yang rendah di mata semua orang.


Seketika suasana di ruangan itu langsung menegang, menyisakan rasa sakit yang teramat sesak dan pedih untuk Annisa yang kini menatap kosong Reina.


Di sini ada Gio bersama mereka jadi apa maksud Reina mengatakan hal ini kepada Safira?


Apakah ia bermaksud agar Gio tahu ada masa lalu yang kelam dan kejam dalam kehidupannya yang rumit, tapi mengapa?


Annisa tidak bisa menerima dan mengerti semua ini.


Tersenyum tipis, "Yah, sayang sekali jika laki-laki itu bertindak bodoh dengan meninggalkan Kakak ku di malam itu." Memperbaiki duduknya, ia menatap Reina dengan pandangan yang rumit. Reina pikir jika perasaan yang diberikan Safira kepadanya sedikit tidak nyaman.


"Karena satu-satunya yang tahu kebenaran dibalik semua itu hanya Allah SWT. Jadi aku tidak merasa sedih melihat laki-laki itu pergi, malah aku cukup senang karena sebenarnya ada laki-laki luar biasa yang sedang menunggu Kakak ku dan sedang bersiap membahagiakannya segera." Melirik Gio yang tidak menunjukkan respon apapun, ada senyum kepuasan yang tercetak di sana.


"Tapi Kak Reina tentang saudara mu yang tinggal di sini aku juga mengenalnya." Mata yang cantik dan tajam itu bergerak indah, memperlihatkan bulu mata yang panjang dan hitam terang.


Terkejut, ada firasat buruk yang terus berdering dalam kepalanya. "Bagaimana bisa kau mengenalnya?" Tanya Reina hati-hati namun walaupun begitu senyum ramah tamah yang manis masih melekat di bibir tipisnya.


"Bukankah kami seumuran? Yah, seperti yang kau duga kami memang seumuran bahkan pernah bersekolah yang sama dengannya." Safira menjawab tanpa ragu. Perlahan ia mulai menarik emosi yang terselip rapi dalam topeng Reina.


"Benarkah?" Reina bertanya takut.


Tersenyum puas, "Tentu saja. Seperti yang kau bilang tadi Kakak menjadi janda hanya karena mantan suaminya pergi meninggalkannya di malam pergantian tapi kau lupa jika semua itu hanyalah salah paham. Berbeda dengan kasus saudara mu yang terbukti bersalah melakukan kesalahan seharusnya itu menjadi pertimbangan mu untuk menjaga lidah mu saat berbicara." Begitu melawan, Safira ingin serangannya bisa tepat mengenai ulu hati lawannya. Membuatnya putus asa, tidak berdaya, marah dan benci itulah yang ingin Safira capai.


Tersenyum canggung, Reina tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini lagi. Ia pikir Safira tahu sesuatu tentang Dea sehingga tidak baik rasanya membicarakan ini lebih lama lagi. "Safira, aku pikir kamu lapar. Apakah kamu ingin makan sesuatu?" Reina bertanya santai dan bersikap seolah Safira adalah kerabat dekatnya yang sudah lama tidak bertemu.


Tersenyum dingin, Safira tahu kedok apa yang sedang dimainkan Reina. Perilaku rubah seperti ini sudah biasa Safira hadapi jadi untuk menghancurkannya lebih baik tidak usah berpikir panjang karena sekali saja diberikan kesempatan maka ia akan selalu merasa di atas angin.


"Beberapa bulan lalu Dea terbukti melakukan hubungan suami-istri dengan kekasihnya di dalam kelas. Saat itu semua siswa sudah pulang ke rumah sehingga mereka berdua bisa dengan melancarkan aksi mereka. Akan tetapi sayangnya saat sedang asik melakukan kegiatan mereka ada kepala sekolah bersama dengan beberapa guru yang memergoki kegiatan terlarang mereka. Adapun mengapa kepala sekolah dan guru-guru itu bisa memergokinya karena mendapatkan laporan dari anggota OSIS yang sedang berpatroli." Lagi, semua orang yang ada di ruangan itu diam membisu. Bahkan Gio dan Annisa memilih untuk tidak memberikan komentar pada apa yang Safira katakan. Ini karena mereka mengerti bahwa pada saat ini Reina pasti merasakan pukulan fatal yang amat sangat menyakitkan.


Bagaimana tidak, ini adalah masalah pribadi saudaranya dan kurang pantas rasanya itu dibicarakan dengan gamblang.


"Safira-"


"Dan yah, kedatangan Dea di sini adalah karena kesalahannya sendiri. Keluarga mu mengirimnya ke sini karena ingin mendidik ulang karakter saudara mu, tapi mengapa? Mengapa kalian tidak menikahkan langsung Dea dengan kekasihnya dan lebih memilih mengirim Dea ke sini?" Dengan halus Safira memotong ucapan Reina yang mungkin adalah sebuah pengelakkan yang cukup memuakkan.


"Ah, maaf aku melupakan bagian yang paling penting. Aku dengar katanya kekasih Dea menolak untuk menikahinya dengan alasan bahwa yang pernah menyentuh Dea bukan hanya dia tapi teman-temannya juga pernah." Tersenyum manis, di mata Reina senyuman ini lebih terlihat seperti iblis dan cukup memprovokasinya. Bahkan kedua tangannya yang bersembunyi di balik jilbab besarnya saling meremat dengan kasar dan kuat.


Ia benci gadis ini!


"Safira, bukankah tidak baik rasanya membicarakan aib Adik ku di depan banyak orang. Lagipula Allah juga tidak menyukai orang yang telah membuka aib orang kepada orang lain. Jadi perbuatan ini sedikit kasar untuk kami." Ucap Reina dengan tatapan kurang nyamannya yang samar. Bersikap seperti ini orang akan mudah salah paham karena Reina akan terlihat rapuh bila seperti ini.


Mengangguk mengerti, Safira dengan gerakan alami memperbaiki cara duduknya sealami mungkin. "Kak Reina memang benar, tidak seharusnya kita membicarakan aib orang kepada orang lain. Tapi apakah Kakak lupa pembicaraan kasar ini orang yang memulainya duluan adalah Kakak sendiri." Safira mengingatkan dengan ekspresi penyesalan yang main-main. Membuat Reina yang sedari tadi memperhatikannya menggeram kesal.


"Aku? Kenapa bisa aku?" Reina bertanya bingung karena jelas-jelas orang yang pertama memulai duluan pembinaan tidak berbobot ini adalah Safira sendiri!


Lalu mengapa bocah sialan ini melemparkan masalah ini kepadanya yang bahkan tidak melakukan apa-apa!


Safira menganggukkan kepalanya dengan antusias dan bersikap seolah di ruangan ini hanya ada ia dan Reina.


Melihat senyuman kepuasan Safira, Reina tidak bisa tidak berpikir jika gadis yang ada di depannya ini adalah iblis dan bukan manusia.


Bagaimana bisa ia tahu semua tindakan ceroboh Adiknya yang bodoh. Bahkan Reina juga tidak bisa hanya menyalahkan Safira karena dalang dari semua kehancuran ini adalah Adiknya sendiri yang tidak berotak. Ya Allah, bukannya berhasil menjatuhkan Annisa ia malah dibuat kalah telak oleh gadis iblis ini.


Mengerikan, Reina tidak tahu harus tertawa atau menangis untuk menghadapi situasi menjengkelkan ini. Ia akui..ia menyesal telah memprovokasi Safira dan ia juga akui bahwa gadis ini tidak sama dengan Annisa.


Yah.. walaupun sebenarnya mereka berdua sama-sama licik dan hina.


"Aku..aku minta maaf untuk apa yang aku katakan tadi. Maaf, sungguh aku tidak bermaksud menyinggung perasaan mu terutama Annisa. Annisa..aku sudah bersikap kasar kepada mu jadi sungguh aku sangat merasa menyesal." Reina dengan wajah bersalah meminta maaf kepada Annisa yang menatapnya dengan pandangan tidak nyaman.


"Tidak apa-apa lagipula ini hanya salah paham." Annisa menggelengkan kepalanya pelan dan tidak punya keinginan sama sekali untuk menegur perkataan Reina padanya tadi.


Yah..ia tahu bahwa sebenarnya Reina tidak bermaksud untuk menyakitinya jadi tidak perlu memperpanjang masalah ini.


"Benar, aku juga minta maaf atas apa yang aku katakan tadi. Kak Reina, aku sangat menyesalinya." Ucap Safira dengan wajah menyesal yang main-main. Melihat ini bukan tidak mungkin jika Reina tidak menyadari bahwa gadis ini sebenarnya tidak tulus. Ia hanya berpura-pura saja!


"Tidak apa-apa..ini hanya karena salah pahaman saja." Namun walaupun begitu ia masih tetap melayani permainan gadis iblis ini.


"Safira, kemari lah. Temani Kakak ke kamar mandi." Annisa bersuara lemah, ada kesedihan yang tersirat di matanya yang sudah menyendu.


Ia takut dan bingung bagaimana menghadapi Gio karena tanpa ia sadari dirinya sudah sepenuhnya menginginkan Gio.


Mengalihkan pandangannya, Safira bisa melihat mata Annisa yang menyiratkan kesedihan dan ia benci ini.


"Apakah Kakak ingin buang air kecil? Atau ada sesuatu yang dirasa tidak nyaman?" Tanya Safira khawatir seraya bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Annisa yang menatapnya sendu.


"Istirahatlah, aku akan datang mengunjungi mu besok pagi bersama dengan yang lain." Ucap Gio merasa tidak nyaman seraya mengucapkan pamit kepada mereka berdua.


Annisa dan Safira menjawab salamnya dengan sopan, mengirim Gio dan Reina agar berhati-hati saat pulang nanti.


Setelah melihat kepergian mereka berdua, Annisa langsung menumpahkan air matanya. Ia menangis dengan perasaan sesak yang menyakitkan. Menyakitkan sampai rasanya ia ingin meremukkan jantungnya.


Sekarang Gio tahu, Gio tahu jika ia adalah perempuan yang tidak baik. Gio tahu ia adalah seorang janda, janda yang malang dan penuh cemoohan.


Lalu apa sekarang?


Annisa tahu.. yah, ia memang sempat menebak jika suatu hari Gio akan tahu tapi walaupun begitu ia masih saja belum siap.


Ia takut dan sedih. Ia takut jika Gio menjauhinya bahkan memandangnya rendah dan itu membuat Annisa menjadi sedih.


Ia tidak bisa memikirkan bagaimana perasaannya jika Gio mulai menjauhinya karena ia yakin rasanya pasti akan sakit sekali.


"Jangan menangis..itu tidak seperti yang kamu pikirkan." Hibur Safira seraya menepuk-nepuk punggung Annisa dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Safira tahu jika Kakaknya sedang bersedih karena Gio akhirnya tahu masa lalunya. Tapi Annisa tidak tahu jika sebenarnya Gio sudah mengetahui ini sejak dulu dan ia tidak mempermasalahkannya sama sekali. Baginya Annisa adalah orang yang ia cintai dan akan selalu begitu sampai kapan pun.


"Safira.. jantung Kakak rasanya sakit.." Keluh Annisa seraya memukul dadanya tidak kuat. Tidak memberikannya kesempatan untuk memukul dadanya lagi, Safira langsung meraih tangan Annisa dan menggenggamnya dengan kuat.


Dengan kuat tapi tetap bersikap hati-hati agar tidak menyakiti tangan Kakaknya.


"Kak Annisa.. jangan dengarkan apa yang dikatakan Kak Reina karena aku percaya bahwa Kakak tidak seperti itu. Lagipula aku yakin Mas Gio adalah orang yang dewasa dan tahu bagaimana harus bersikap untuk ke depannya jadi jangan sedih, ia tidak akan menjauhi mu." Hibur Safira selembut mungkin.


Dan benar saja, Annisa menghentikan perlawanannya seraya mengangkat kepalanya menatap Safira yang juga sedang menatapnya sedih.


"Safira.. apakah kau benar-benar percaya kepada ku?" Tanyanya terdengar berbisik. Ia takut jika apa yang di dengarnya tadi hanya salah paham saja.


Tersenyum hangat, Safira kemudian mendudukkan dirinya di samping ranjang Annisa dengan senyuman kelegaan. "Aku percaya kepada Kakak bahkan saat malam dimana orang-orang menolak untuk percaya kepada Kakak, aku masih dan tetap mempercayai Kakak." Jawab Safira meyakinkan yang langsung direspon tatapan tidak percaya dari Annisa.


Lalu dengan perasaan yang meluap-luap ia menumpahkan air matanya lagi. Tidak seperti tadi air mata ini adalah air mata kelegaan dan kebahagiaan.


Annisa tahu bahwa Allah selama ini tetap bersamanya.


Terimakasih ya Allah.

__ADS_1


                                      ***


Reina mengikuti langkah Gio dengan diam. Entah mengapa ia merasakan bahwa suasana yang ada di sekeliling Gio sedikit terasa tidak wajar. Ini seperti Gio mengeluarkan udara dingin untuk menjaga jarak darinya.


Tapi tetap saja, ini hanya perasaannya saja bukan?


Perasaan tidak nyaman yang sebenarnya milik gadis itu yang masih melekat padanya. Jadi wajar saja itu akan mempengaruhi emosinya saat bersama Gio.


"Mas Gio gak mampir makan malam dulu di luar?" Tanya Reina mencari peluang. Seharian berada di luar pasti membuat Gio melupakan makan dan berakhir lapar saat ini. Bahkan Reina pribadi juga mengakui bahwa dirinya saat ini benar-benar kelaparan karena sedari siang nafsu makannya telah hilang dan sebagian waktunya tadi ia habiskan untuk menunggu kedatangan Gio maka jadilah ia tidak makan apapun hari ini.


Gio meliriknya sebentar lalu kembali membawa mata hitamnya fokus memandangi lorong rumah sakit yang akan mereka lalui.


"Aku tidak lapar juga tidak punya nafsu untuk makan, tapi jika kau lapar maka aku bisa mengantarkan mu ke salah satu restoran yang ada di sini." Jawab Gio dengan nada biasa. Jawaban langsung ini langsung membuat Reina merasa terbang melayang. Ia tidak bisa menyanjung keberuntungannya yang manis.


Hei, jika mereka pergi makan malam bersama dan hanya berdua maka bukankah ini sama saja mereka pergi berkencan?


Ahahahah.. memikirkannya membuat Reina merasa puas. Karena di saat Annisa terbaring tidak berdaya di atas ranjang Reina justru pergi berkencan dengan Gio, betapa bahagianya!


"Tapi Reina tidak nyaman rasanya merepotkan Mas Gio, apalagi Mas Gio terlihat begitu kelelahan sekarang." Menundukkan kepalanya, Reina menolak tawaran Gio dengan suara yang lembut penuh keraguan. Terlihat rapuh dan lemah, bagi orang lain Reina adalah harta yang begitu berharga.


Menatap lurus, Gio tidak memperhatikan sikap Reina yang sedang menunduk malu-malu. "Tidak apa-apa, lagipula kita sudah ada di sini maka tidak ada salahnya untuk mengantar mu makan di luar." Ucap Gio tidak merasa dirugikan sama sekali. Lagipula restoran yang akan ia pilih sekarang adalah restoran yang kebetulan berjalan satu arah dengan tempat pondok pesantren jadi tidak ada salahnya ia mampir sebentar.


Mengangguk malu, Reina tidak bisa menahan senyuman manisnya. Tersenyum manis, kali ini ia jauh lebih terlihat cantik dan tulus. "Baiklah jika Mas Gio sama sekali tidak merasa keberatan." Putus Reina dengan suara yang masih ragu-ragu.


"Assalamualaikum, Gus." Salam seorang laki-laki paruh baya yang sedang berdiri di samping mobil Gio.


"Waalaikumussalam, Pak Parjo sudah lama ya menunggu kami di sini? Tanya Gio merasa tidak nyaman seraya memberikan kunci mobilnya kepada Pak Parjo yang langsung sigap membawanya ke dalam genggaman tangannya.


Tersenyum sopan, Pak Parjo terlihat masih bugar di usianya yang sudah tidak muda lagi. "Saya baru saja sampai di sini Gus karena beberapa menit yang lalu ada kenalan saya yang ngajak ketemu di salah satu warung makan dekat sini." Bantah Pak Parjo jujur. Memang saat dihubungi Gio tadi Pak Parjo kebetulan berada di dalam perjalanan untuk bertemu kenalannya yang sudah lama tidak saling bertemu. Jadi setelah menyelesaikan silahturahmi mereka, Pak Parjo langsung membawa langkahnya ke rumah sakit ini dan secara kebetulan ia menemukan mobil Gio yang terparkir aman di tempat parkiran. Daripada mengganggu Gio lebih baik ia menunggunya saja di sini maka jadilah itu baru saja beberapa menit dan mereka sudah dipertemukan di sini.


Mengangguk lega, "Ya sudah kalau begitu kita langsung jalan saja. Pak Parjo nanti kalau liat ada restoran kita minggir aja sebentar ya Pak." Pesan Gio seraya masuk ke dalam mobil. Ia mendudukkan dirinya di samping kursi kemudi.


Pak Parjo langsung mengiyakan pesan Gio tanpa bertanya lebih jauh lagi. Lalu pandangan tuanya jatuh pada Reina yang masih diam berdiri tidak bergerak.


Reina yang sedari tadi mengamati percakapan mereka dibuat tercengang. Bukankah saat datang ke sini mereka hanya berdua saja lalu mengapa sekarang ada orang lain di antara mereka?


"Ayo non, silakan masuk." Ucap Pak Parjo seraya membuka pintu bagian kursi penumpang.


Terlihat enggan, "Terimakasih Pak." Ucap Reina berterima kasih seraya masuk ke dalam mobil. Duduk dengan nyaman, ia sesekali membawa pandangannya menatap Gio yang terlihat kelelahan di sana. Menyandarkan tubuh tegapnya, tangan kanannya terangkat untuk menutupi matanya. Yah, Reina mengerti jika Gio melakukan ini karena ia kelahan.


Tapi bukankah ia seharusnya menyerahkan tugas mengemudi kepadanya saja?


Maka dengan begitu kencan mereka akan terasa lebih romantis dan berkesan!


"Gus, kita sudah sampai restoran yang Gus minta." Tiba-tiba Reina baru menyadari jika mereka sudah sampai di sebuah restoran sederhana yang terlihat elegan dan menyenangkan mata.


Melihat ini Reina sekali lagi dibawa melayang tinggi, ia dengan mudah melupakan pengalaman buruk tadi dan mulai memfokuskan dirinya pada acara kencan pertama mereka.


"Pak Parjo temenin Reina makan malam di dalam yah, saya merasa sedikit lelah dan tidak lapar juga sehingga tidak nyaman rasanya ikut masuk ke dalam." Ucap Gio tanpa membuka matanya.


Mendengar pengaturan Gio, Reina rasanya ingin muntah darah dan bayang-bayang romantis yang tadinya sempat mendominasi pikirannya langsung hilang. Semuanya hancur dalam beberapa detik saja dan Reina tidak bisa menerima perlakuan seperti ini dengan hati yang sabar!


"Jika Mas tidak bisa ikut maka Reina pikir tidak usah saja makan di sini. Reina bisa makan di pondok pesantren setelah sampai." Dengan ekspresi pahit Reina mencoba memberikan tawaran kepada Gio. Makan malam bersama laki-laki tua?


Hei!


Orang-orang akan salah paham ketika melihat hal ini, mereka akan berpikir jika Reina adalah gadis yang tidak baik dan Reina tidak sanggup untuk cobaan itu. Apa-apaan, gadis secantik ia menghabiskan malam romantis dengan laki-laki tua miskin yang kumuh dan menyedihkan. Mau di taruh dimana wajah cantik dan sempurnanya?


"Tidak, kau tidak perlu sungkan karena aku tahu saat ini kau benar-benar lapar." Tolak Gio santai masih pada sikapnya yang acuh.


Tersenyum tipis, Reina tidak tahu harus tertawa atau menangis mendapatkan perhatian ini dari Gio. Tapi yang benar saja, ini seperti Gio mengatakan bahwa ia adalah pemakan besar yang rakus.


"Aku tidak selapar itu.. yah, aku tidak terlalu lapar sebenarnya." Bantah Reina ingin mencari peluang untuk kabur dari kegilaan ini.


"Pergilah, aku tidak ingin melihat Umi terlihat kesal karena telah mengabaikan mu." Suara Gio terdengar lelah, bahkan tangan yang sedari tadi menutup matanya tidak pernah bergerak seinci pun.


Menghela nafas, Reina akhirnya memilih berkompromi setelah mendengar Gio menyebutkan nama Umi. Jika benar Umi selama ini perhatian kepadanya maka mungkin saja jika selama ini Umi terus memperhatikan sikapnya. Jadi tidak nyaman rasanya menolak kasih sayang Umi kepadanya.


"Baiklah, aku keluar." Ucap Reina seraya turun dari mobil dan membawa langkah enggannya masuk ke dalam restoran bersama Pak Parjo.


"Aku harus menghargai kasih sayang dari Ibu mertua." Gumam Reina bersemangat mencoba menghilangkan keraguannya.


                                    ***


Saqila menatap handphonenya dengan diam membisu. Berpikir lama ini sudah lebih dari 6 jam Safira tidak membalas pesannya. Ini memang bukan masalah besar tapi entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang tidak wajar di sini.


"Safira mungkin kelelahan karena baru saja melakukan perjalanan jauh." Gumam Saqila menenangkan perasaan paniknya yang tidak beralasan. Lagipula Safira tidak sama dengan Annisa yang mau saja di bohongi. Jadi Saqila pikir Safira cukup bisa menjaga dirinya di luar sana.


Menggeleng pelan, Saqila kemudian memutuskan untuk menghubungi seseorang yang sudah lama tidak datang berkunjung ke rumahnya.


"Halo, Puspa." Ucap Saqila antusias ketika orang yang ia telpon di seberang sana mengangkat telponnya.


"Ya Saqila, ada apa?" Terdengar suara malas Puspa yang tidak biasa. Akan tetapi Saqila tidak berburuk sangka dengan kemalasan Puspa karena itu wajar saja mengingat ini sudah waktunya untuk tidur.


Tersenyum antusias, "Hei, bagaimana kabar mu dan mengapa akhir-akhir ini kau tidak pernah datang berkunjung ke rumah?" Saqila bertanya langsung, ada kekhawatiran yang terselip di dalamnya.


Mendengar pertanyaan Saqila yang sarat akan kekhawatiran, Puspa yang ada di seberang sana sejenak terdiam dan tidak tahu harus merespon apa.


"Aku..aku sedikit kurang enak badan akhir-akhir ini jadi sedikit sulit untuk berkunjung ke rumah mu. Tapi hari ini sepertinya sudah baikan." Jawab Puspa akhirnya, suaranya terdengar tidak seperti biasanya jadi Saqila pikir Puspa mengatakan hal yang sejujurnya.


"Lalu mengapa kau selalu mengurung diri di dalam kamar? Aku dengar Umi mu mengeluhkan hal ini kemarin." Tanya Saqila penasaran. Kemarin sore bibi Arum datang berkunjung dan terlihat berbincang-bincang akrab dengan Umi. Saat itu topik pembicaraan mereka adalah perilaku Puspa yang akhir-akhir ini terlihat berbeda dan suka mengurung diri di kamar. Padahal sebelumnya Puspa bukanlah orang yang akan bersikap seperti ini dan jarang baginya juga ketika menghadapi masalah seputus asa ini.


Terguncang, Saqila dapat mendengar deru nafas Puspa yang terburu-buru.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Saqila meragu. Bagaimana ia tidak ragu jika beberapa detik yang lalu ia baru saja menemukan ada yang tidak beres dari perilaku Puspa.


"Aku baik-baik saja.." Suara di seberang sana terdengar tenang.


"Aku mengurung diri karena aku pikir aku sedang merindukan seseorang dan aku juga berpikir bahwa semua kejahatan yang telah aku lakukan kepadanya selama ini begitu kejam dan menyakitkan." Sambung Puspa seraya bernostalgia dengan semua kejahatan yang ia lakukan kepada Annisa. Annisa..gadis baik yang dengan bodohnya ia hancurkan kehidupan dan masa depannya. Puspa pikir tidak ada maaf untuknya dan pemikiran ini membuatnya benar-benar frustasi!


Itulah mengapa ia begitu enggan keluar dari kamar karena ia takut dan tidak tahu bagaimana cara menghadapi kedua orang tua bahkan keluarga besar yang telah ia bohongi.


Bagaimana cara menghadapinya Puspa tidak tahu sama sekali caranya.


"Siapa orang ini, apakah aku mengenalnya?" Saqila merespon dengan cepat dan terdengar antusias. Ia begitu penasaran siapa orang yang telah Puspa mainkan sehingga membuatnya seburuk ini.


Tersenyum tipis, "Yah, kau mengenalnya. Mengenalnya dengan cukup baik." Jawab Puspa yakin.


Merasa penasaran dan sedikit gugup, "Siapa? Katakan pada ku siapa namanya?"


Mengalihkan tatapannya, mata sendu Puspa kini menatap bingkai foto yang menyemat abadi wajah cantik gadis malang itu. Gadis malang yang dengan bangganya ia hancurkan hidupnya, yah, itu Annisa. Wajah cantiknya yang sedang tersenyum lembut ini ia abadikan ketika mereka baru saja masuk menjadi salah satu karyawan di butik Mbak Yana.


"Aku tidak akan memberitahu mu." Jawab Puspa tanpa keraguan sedikitpun.


Bingung, "Kenapa?" Tanya Saqila menuntut.


Tersenyum miris, "Karena belum saatnya." Ia masih belum bisa membayangkan bagaimana perasaan Annisa ketika tahu dibalik semua kehancurannya adalah Saqila, saudara kandungnya sendiri.


"Memangnya kenapa? Bukankah itu semua sama saja ketika kau memberi tahu ku sekarang dan besok?" Lagi, Saqila tidak bisa mengerti mengapa harus menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Bukankah itu semua sama saja jika ia mengatakannya sekarang. Toh, ia juga sebenarnya tidak terlalu perduli dengan mainan Puspa karena yang ia tahu adalah bahwa cara Puspa bermain tidak sebaik dirinya.


"Itu tentu saja berbeda." Ada helaan nafas lelah di ujung sana.


"Jika aku memberitahu mu sekarang itu tidak seru sama sekali dan jika aku memberitahu mu ketika waktunya sudah tepat nanti akan ada kejutan lain yang akan kau dapatkan nanti. Dan aku yakin kau tidak akan pernah melupakan kejutan itu sampai kapanpun, bahkan mungkin selamanya." Bisik Puspa di akhir ucapannya. Berbicara waktu yang tepat itu tentu saja saat Safira pulang dari perjalanannya. Ketika hari itu tiba maka Puspa berjanji tidak akan menyembunyikan apapun bahkan berjanji akan mengatakan semuanya sesuai fakta yang ada tanpa mengurangi bahkan melebih-lebihkannya. Yah, pesta yang akan digelar Safira ia tahu betul apa maksud di balik semua itu.


"Baiklah aku pegang omongan mu, awas saja jika kau sampai mengecewakan ku." Ada senyum penuh harapan saat ia mengatakan ini. Ia berharap bahwa hadiah yang Puspa maksud adalah kedatangan Gio kembali ke sini dan tentunya untuk melamarnya bukan?


Yah apapun itu Saqila sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2